PENDAMPINGAN 4 CALON GURU PENGGERAK

PENDAHULUAN

Seminggu sebelum dilaksanakan Lokakarya 5, pengajar praktik melakukan pendampingan individu 4 sekolah para calon guru penggerak. Adapun fokus kegiatan PI-4 adalah:

  1. Observasi dengan menggunakan lembar persiapan yang sudah disediakan
  2. Memfasilitasi refleksi dan memberi umpan balik hasil observasi
  3. Membimbing perencanaan perbaikan
  4. Follow up tugas hasil observasi kelas dari guru lain dan umpan balik dari siswa
  5. Diskusi tugas dan aksi nyata modul 2.1 dan 2.2

Baca Juga

Adapun tujuan dilaksanakannya PI-4 adalah sebagai berikut:

  1. Mendiskusikan praktik coaching yang telah dilaksanakan terkait rencana coaching, pelaksanaan hasil coaching, umpan balik dan refleksi
  2. Mendiskusikan hasil observasi praktik mengajar di kelas oleh CGP terhadap umpan balik guru dan siswa
  3. Mendiskusikan hasil belajar modul 2.1 tentang Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid menggunakan Pembelajaran Berdiferensiasi dan 2.2 tentang Pembelajaran Sosial Emosional
  4. Melakukan refleksi, motivasi dan evaluasi pendampingan

Adapun jadwal pendampingan yang disepakati untuk dilakukan kepada Calon Guru Penggerak adalah sebagai berikut:

  1. Pendampingan kepada CGP atas nama Ni Putu Tustiana Dewi yang dilaksanakan pada tanggal 11 Mei 2022
  2. Pendampingan kepada CGP atas nama Ni Luh Sumarliani yang dilaksanakan pada tanggal 12 Mei 2022
  3. Pendampingan kepada CGP atas nama I Wayan Surata yang dilaksanakan pada tanggal 13 Mei 2022
  4. Pendampingan kepada CGP atas nama Ni Made Dewi Radesi yang dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 2022
  5. Pendampingan kepada CGP atas nama Ngurah Dwika Kusuma Atmaja yang dilaksanakan pada tanggal 17 Mei 2022

PELAKSANAAN

Berdasarkan proses pendampingan yang dilakukan maka berikut laporan hasil pendampingan yang telah dilaksanakan adalah sebagai berikut:

1. Pendampingan kepada CGP atas nama Ni Putu Tustiana Dewi yang dilaksanakan pada tanggal 11 Mei 2022

  • Berdasarkan hasil komunikasi sebelumnya, maka pendampingan dilaksanakan disepakati tanggal 11 Mei 2022. Bersama CGP juga menyepakati untuk mengisi lembar observasi wawancara, yang berisi beberapa aspek pertanyaan coaching. Hal ini dilakukan untuk mengefektifkan pelaksanaan coaching yang dilakukan pada dua jalur, yaitu secara wawancara tatap muka dan tertulis.

Hal yang menjadi pertimbangan saya selaku pengajar praktik melakukan ini adalah mengingat, beberapa hal yang terkadang terlupakan disampaikan oleh CGP sewaktu wawancara, terkait pokok pertanyaan model Tirta yang diajukan kepada CGP, yaitu Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi dan Tanggung jawab. Kegiatan awal yang dilakukan baik tertulis maupun wawancara terkait penyampaian tujuan dari PP terhadap proses coaching yang akan dilaksanakan, Identifikasi permasalahan melalui pertanyaan dan menggali umpan balik CGP, memberikan pertanyaan terkait upaya memecahkan permasalahan yang akan dilakukan dalam mengatasi permasalahan yang dialami CGP dan bentuk tanggung jawab untuk melaksanakan solusi atas permasalahan yang dihasilkan dari tahapan sebelumnya.

  • Berdasarkan hasil wawancara pendampingan 4 dapat disampaikan beberapa kesimpulan pokok adalah:
    • Proses coaching sudah dilaksanakan oleh CGP bersama rekan sejawat secara komunikatif, dengan catatan hal yang perlu ditingkatkan adalah upaya CGP untuk lebih mampu dalam menggali pertanyaan-pertanyaan terbuka sehingga coachee bisa lebih mengeksplorasi kekuatan yang dimilikinya. Respon dari teman sejawat terkait hal yang perlu ditingkatkan dari proses coaching tersebut adalah upaya CGP dalam mewujudkan suasana yang lebih santai sehingga terhindar dari kesan kaku.
    • Proses observasi pembelajaran telah dilakukan dengan baik dimana rekan sejawat CGP menyatakan bahwa praktik pembelajaran telah berjalan baik. Secara umum praktik pengajaran sudah berjalan dengan sangat baik. Penyusunan RPP dan tujuan sudah dilakukan dengan baik sudah terlihat adanya pembelajaran berdiferensiasi yang berpihak pada murid dan sudah mengajak siswa untuk menerapkan pembelajaran sosial dan emosional di sela-sela kegiatan pembelajaran. Hal yang masih perlu diperbaiki adalah dalam merefleksikan pembelajaran agar dimulai dari murid yang memberikan refleksi guru hanya memberikan penguatan dalam refleksi pembelajaran tersebut. Sementara hal yang ingin saya perbaiki dalam kegiatan pembelajaran adalah saya akan memberikan murid untuk melakukan refleksi setelah proses pembelajaran berlangsung, saya akan lebih memfasilitasi kebutuhan belajar murid saya
  • Terkait pelaksanaan pembelajaran dengan fasilitator pada modul 2.1 dan 2.2, CGP mengatakan:
    • Tugas aksi nyata modul 2.1 dan 2.2 sudah dikerjakan dan sudah diupload dalam LMS dimana dalam aksi nyata modul 2.1 murid masih dalam pembelajaran daring, disana kendala saya dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi.
    • Perasaan saya dalam pengerjaan tugas tersebut sangat merasa antusias tertantang karena menerapkan teori yang telah dipelajari terutama dalam aksi nyata modul 2.2 dimana melakukan kegiatan praktek langsung pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional yang dilakukan dengan tatap muka.
    • Hal yang bisa diambil pelajarannya saat mengerjakan tugas adalah kita dapat mengatur waktu kita dengan sebaik mungkin antara tugas cgp dengan tugas di sekolah, kita harus mampu berkolaborasi dengan teman sejawat untuk saling membantu dalam penyelesaian tugas saya.
    • Rencana perbaikan kedepan adalah saya akan lebih memaksimalkan pembelajaran berdiferensiasi yang berpihak kepada murid, sehingga murid dapat belajar sesuai dengan kebutuhan yang mereka
  • Pada sesi akhir pendampingan CGP merefleksikan dirinya sebagai berikut:
    • Hal yang saya kuasi dari praktik yang telah dilakukan adalah kita dapat menciptakan budaya positif di lingkungan sekolah dan bagaimana cara kita mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dengan menerapkan 4 paradigma dalam pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah dalam pengambilan keputusan.
    • Hal yang saya rasakan masih bingung dan ingin dipelajari kembali adalah Pembelajaran berdiferensiasi dimana kita harus memetakan kebutuhan belajar murid, serta media pembelajaran yang digunakan harus disesuaikan dengan kebutuhan murid sehingga penilaiannya pun menyesuaikan dengan kebutuhan belajar murid hal tersebut yang ingin saya pelajari lebih dalam.

2. Pendampingan kepada CGP atas nama Ni Luh Sumarliani yang dilaksanakan pada tanggal 12 Mei 2022

Proses wawancara yang menggunakan strategi coaching model TIRTA telah disepakati bersama CGP atas nama Ni Luh Sumarliani. Termasuk topik materi yang dibawakan saat wawancara seperti 1) Strategi Coaching antara CGP dengan teman sejawat, 2). Observasi pembelajaran oleh teman sejawat dengan CGP dan 3) Capaian pembelajaran pada Modul 2.1 dan 2.2.

  • Coaching dengan Teman Sejawat atas nama Ni Komang Adriyani, S.Pd. AUD
    • Ni Luh Sumarliani dari TK Negeri Pembina Karangasem menyatakan bahwa, Praktek coaching yang sudah dilakukan mampu menggali potensi coachee melalui komunikasi asertif yang dilakukan oleh coach. Hubungan kemitraan antara coach dan coachee dijalin melalui proses kreatif untuk memaksimalkan potensi personal dan profesional diri coachee. Coach sudah mampu menggunakan teknik percakapan eksploratif dua arah untuk menggali ide dan memperkuat keyakinan coachee untuk mengenali potensi dirinya dan melakukan tindakan optimal dalam merancang sebuah pembelajaran yang berfokus pada pengoptimalan minat dan potensi murid.
    • Praktik coaching yang dilakukan sudah baik, yang perlu ditingkatkan dalam praktik coaching ini adalah kemampuan coach dalam menggali informasi melalui pertanyaan-pertanyaan efektif dan kemampuan mendengarkan aktif yang mampu mengarahkan coachee untuk merasa semakin nyaman bercerita dan menggali kekuatan dan kemampuannya sehingga tujuan utama dari proses coaching dapat tercapai melalui sebuah proses yang tidak terlalu formal tetapi sampai pada tujuan yang ingin dicapai.
    • Perasaan saya sangat antusias karena dengan semakin banyak melakukan praktik coaching tentunya kemampuan saya dalam mempraktekkan komunikasi asertif baik itu mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan efektif maupun menjadi pendengar yang aktif semakin terasah sehingga nantinya saya bisa melakukan praktik coaching dengan lebih baik lagi, baik bersama dengan murid ataupun dengan rekan kerja saya di sekolah.
  • Sementara tanggapan yang diberikan teman sejawat terkait proses coaching yang dilakukan CGP adalah sebagai berikut:
    • Ibu CGP sudah mampu menjadi coach yang baik. Pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh Ibu CGP sudah mampu mengarahkan saya dalam mengenali, menggali, dan memaksimalkan potensi dan kekuatan yang saya punya sehingga saya nyaman bercerita mengenai permasalahan yang saya hadapi tanpa ragu ataupun malu dan di akhir sesi coaching coach berhasil mengarahkan saya untuk menemukan solusi dari permasalahan yang saya hadapi
    • Melalui praktek coaching ini saya merasa potensi saya tergali, mengatakan dengan lugas tentang apa yang saya rasakan dan saya pikirkan juga membuat saya lega. Apalagi ketika saya diarahkan untuk membuat solusi sendiri dari permasalahan yang saya hadapi membuat saya sadar ternyata saya mampu dan tidak seburuk seperti pikiran saya sebelumnya.
    • Menurut saya sejauh ini sudah sangat baik, hanya kalau bisa ditingkatkan mungkin bisa dengan berlatih lagi lebih banyak melakukan praktek coaching sehingga lebih terasah lagi kemampuannya dalam mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih efektif lagi untuk menggali potensi coachee.
  • Observasi Pembelajaran oleh Teman Sejawat dengan CGP

Pada proses observasi pembelajaran, pengalaman CGP bersama teman sejawat terungkap sebagai berikut:

    • Saya meminta Ibu Komang Adriyani untuk mengobservasi praktik pembelajaran saya di kelas . Dalam praktek pembelajaran yang saya lakukan saya mengaplikasikan pembelajaran berdiferensiasi yang dipadukan dengan pembelajaran sosial emosional. Untuk pembelajaran berdiferensiasi saya melakukan diferensiasi konten dan produk yang sebelumnya didahului dengan pemetaan profil dan minat belajar yang saya lakukan. Untuk pembelajaran sosial emosional saya menggunakan Teknik STOP.
    • Praktik pengajaran saat observasi berjalan lancar, anak-anak tertib dan santai meskipun mereka melihat ada guru lain yang ikut dalam proses pembelajaran. Anak-anak menikmati proses pembelajaran. Mereka melakukan Teknik STOP dengan baik, mau mengungkapkan perasaan melalui emoticon yang saya gambarkan didepan kelas Dalam diferensiasi konten anak-anak juga melakukannya dengan baik dan memilih konten sesuai dengan apa yang mereka sukai dan berdiskusi dengan baik dalam kelompok mereka masing-masing. Saat melakukan Ice breaking pun anak-anak terlihat sangat gembira karena kegiatan tersebut membuat mereka rileks dan fokus kembali untuk mengikuti proses pembelajaran selanjutnya. Di akhir saat melakukan refleksi semua mengungkapkan perasaan mereka senang karena mereka belajar dengan santai, baik, dan menyenangkan.
    • Bu Komang Adriyani mengatakan ingin melakukan hal yang sama di kelasnya yaitu melakukan pembelajaran berdiferensiasi yang dikolaborasikan dengan pembelajaran sosial emosional karena beliau melihat anak-anak sangat termotivasi mengikuti proses pembelajaran. Terutama saat memainkan Ice Breaking, karena saat melakukan kegiatan ini anak-anak tampak bahagia dan gembira.
    • Tanggapan CGP lainnya terkait hal yang perlu diketahui dan diperbaiki adalah ingin lebih banyak melakukan kegiatan Ice Breaking di kelas karena saya lihat anak-anak menjadi sangat termotivasi dan focus kembali setelah melakukan Ice Breaking.
  • Capain Pembelajaran Modul 2.1 dan 2.2

Pada proses belajar di LMS yang dibersamai oleh fasilitator, CGP memberikan tanggapan sebagai berikut:

    • Kendala yang saya hadapi pada saat melakukan aksi nyata modul 2.1 dan 2.2 adalah msh ada anak yang belum tuntas menyelesaikan tugas tepat waktu
    • Saya merasa antusias karena saat melakukan aksi nyata inilah merupakan kali pertama saya mempraktekkan pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional di kelas. Dan lebih bersemangat lagi karena saya melihat respon murid yang sangat positif
    • Saat mengerjakan tugas ini saya belajar mengendalikan emosi melalui praktek Teknik STOP dengan murid-murid saya di kelas.
    • Kedepannya saya akan mempraktekkan pembelajaran berdiferensiasi konten, proses, dan produk di kelas yang dipadukan dengan pembelajaran sosial emosional dengan mempraktekkan Ice Breaking yang bervariasi sehingga murid-murid akan lebih termotivasi lagi mengikuti pembelajaran saya di kelas.

3. Pendampingan kepada CGP atas nama I Wayan Surata yang dilaksanakan pada tanggal 13 Mei 2022

Proses komunikasi yang dilakukan dengan CGP termasuk dengan Bapak I Wayan Surata yang saat ini telah menjabat sebagai Kepala SD Negeri 2 Buana Giri tetap dilaksanakan secara intensif. Hal ini dilakukan dalam rangka menjalin komunikasi yang efektif sehingga proses pendampingan berjalan lancar. Kesepakatan yang telah dijalin dengan beliau terkait tugas mendampingi proses coaching, observasi pembelajaran berdiferensiasi dan diskusi terkait hasil belajar modul 2.1 tentang Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid melalui Pembelajaran Berdiferendiasi dan modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional beserta refleksinya.

Berdasarkan hasil wawancara pada saat pendampingan dilakukan ditemukan bahwa:

  • Praktik Coaching

Pak Wayan Surata mengatakan bahwa:

“Menurut saya hal baik dari Praktek Coaching yang sudah dilakukan adalah :

    • Bagi diri sendiri mencoba mempraktekkan salah satu peran seorang guru yaitu sebagai penuntun sesuai Filosofi Pendidikan KHD .
    • Dengan membangun komunikasi yang efektif antara Coach dengan coachee dapat menganalisis masalah dan menggali solusi atas permasalahannya sendiri ataupun permasalahan yang dihadapi oleh coachee
    • Bagi Orang lain dapat membantu setiap orang untuk menemukan hal-hal baik dan penting yang diperlukan, yang bisa membangun empati, rasa memiliki, dan meningkatkan kualitas komunikasi antar individu serta akan mampu mencari solusi dari permasalahannya secara mandiri.
    • Hal baik lainnya adalah membangun komunikasi asertif dan ruang kolaborasi sederhana serta bermakna antara coach dan coachee.”

Beliau menambahkan, “Menurut saya hal penting yang perlu disiapkan dan ditingkatkan agar praktik coaching dikatakan berhasil adalah:

    • Meningkatkan pemahaman terhadap permasalahan yang dihadapi coachee sehingga tidak terjadi kesalahpahaman atau miskomunikasi. Coach harus benar-benar akurat dalam memahami aspirasi, kebutuhan, dan masalah-masalah yang dihadapi coachee. Bila diagnosanya salah, maka solusinya juga tidak tepat.
    • Meningkatkan gaya komunikasi/komunikasi yang asertif, yaitu kemampuan untuk menyampaikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain tanpa bermaksud menyerang orang lain”

Setelah praktik coaching dilaksanakan, beliau memberi tanggapan, “Perasaan saya setelah melaksanakan coaching:

    • Merasa senang karena bisa berbagi dan menjalin kolaborasi/komunikasi dengan teman sejawat dalam menentukan solusi terhadap masalah yang dihadapi
    • Merasa tertantang untuk melakukan proses coaching dengan permasalahan yang berbeda,karena karena proses tersebut saya akan dapat lebih banyak belajar khususnya berkomunikasi dengan orang lain.
    • Merasa termotivasi untuk melakukan proses coaching tersebut baik kepada siswa,guru dan teman sejawat

Sementara tanggalan teman sejawat yang diajak latihan coaching berpendapat, “bahwa Pak Wayan Surata selaku CGP melaksanakan praktik coaching kepada saya sebagai teman sejawat dengan terlebih dahulu menanyakan tujuan saya dalam proses coaching, mengidentifikasi dan mengajukan beberapa pertanyaan pemantik yang mengarahkan saya bisa menjelaskan permasalahan sekaligus membangkitkan motivasi dan keyakinan diri. Selanjutnya Pak wayan memberikan motivasi tentang apa yang harus saya lakukan dalam menyelesaikan masalah secara mandiri. Termasuk juga komitmen dan tanggung jawab saya dalam melaksanakan keputusan yang saya ambil. Intinya pak wayan sebagai CGP memberikan semangat kepada saya dalam proses coaching sehingga saya bisa belajar mengambil keputusan secara mandiri. Hal baik yang saya dapatkan dalam proses coaching ini adalah :

    • Saya merasa lebih percaya diri dalam menghadapi suatu masalah
    • Lebih fokus terhadap tugas yang dianggap bernilai positif
    • Termotivasi untuk melakukan komunikasi yang baik kepada semua orang
    • Dapat menggali potensi diri untuk kemajuan dimasa mendatang

Hal yang perlu dikembangkan adalah kerja team. Maksudnya apabila dalam suatu sekolah ada salah satu dari guru menghadapi permasalahan,mungkin kedepannya bisa secara kolektif diselesaikan Bersama melalui sharing/diskusi Bersama, dicarikan solusi Bersama sehingga yang menhadapi masalah akan lebih percaya diri dan termotivasi dalam melaksanakan tugas.

  • Praktik Pembelajaran

Pak Wayan Surata mengatakan bahwa merasa ada hal lain ketika teman sejawat ada di kelas ikut mengobservasi kegiatan pembelajaran saya sebagai seorang guru sekaligus CGP, dimana saya merasa melakukan kegiatan dengan hati hati sesuai alur pembelajaran yang sudah dibuat. Karena ada teman sejawat saya merasa senang ada yang diajak untuk berkolaborasi dalam menilai kekurangan dan kelebihan serta praktik baik yang sudah dilakukan di kelas. Yang paling menarik adalah pembelajaran dilaksanakan dengan sungguh sungguh seperti sedang melakukan ujian tapi kiranya sangat menyenangkan dan merasa bangga karena orang lain bisa mengoreksi dan menilai proses pembelajaran yang dilakukan, sehingga kedepannya biasa dijadikan bahan perbaikan tindak lanjut.

Praktik pembelajaran yang telah dilakukan telah sesuai dengan alur/perencanaan yang dibuat dimana sebelum kegiatan saya sebagai CGP sudah menyusun RPP berdiferensiasi yang ber KSE yang nantinya dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran. Respon siswa dalam pembelajaran sangat positif dan bisa mengikuti setiap langkah pembelajaran yang dilaksanakan. Berdasarkan observasi teman sejawat hal baiknya adalah pembelajaran sudah menggunakan media IT, mampu membangkitkan semangat dan motivasi belajar anak, membuat praktik baik berupa komunitas belajar sesuai nilai karakter yang tujuannya adalah untuk meningkatkan insan pelajar yang memiliki kemampuan dan karakter yang baik. Hal yang perlu diperbaiki adalah pengelolaan kelas dan menanamkan budaya positif di kelas sehingga anak secara mandiri ada kesadaran untuk menerapkan nilai-nilai disiplin positif tanpa diintervensi oleh guru. Karena di masa pandemi dengan pembelajaran PJJ tentu banyak perubahan yang dialami oleh anak tanpa bisa dikontrol langsung oleh guru. Dari respons murid tentang pembelajaran yang sudah dilakukan adalah: mereka merespon positif, merasa senang dalam belajar dengan strategi pembelajaran yang saya terapkan.Namun demikian tentu saya tidak berpuas diri, tentunya akan terus meningkatkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan belajar murid agar betul betul murid merasa nyaman dan mendapatkan pelayanan pembelajaran yang sesungguhnya

  • Hasil Belajar Modul 2.1 dan 2.2

Hasil belajar Modul 2.1 dan 2.2 Pak Wayan Surata mengatakan, untuk tugas aksi nyata pada modul 2.1 Pembelajaran berdiferensiasi dan Modul 2.2 PSE kiranya tidak ada kesulitan yang dihadapi. Tugas bisa dikerjakan sesuai dengan tagihan. Perasaan saya sedikit was-was apakah saya bisa menuntaskan tugas tugas tersebut. Selain was-was, saya juga merasa tertantang dengan tugas yang ada dengan belajar dari teman sesame CGP, Guru Pendamping termasuk juga dengan Fasilitator. Ingin berubah menuju kearah yang lebih baik. Kalau selama ini saya sebagai guru hanya melakukan hal yang biasa dengan belajar hal baru dan mendapat ilmu baru sebagai modal untuk melakukan perubahan dari hal kecil tapi bermakna bagi orang lain (murid). Untuk mewujudkan perubahan harus ikhlas menjalani dan sabar menekuninya, rela berkorban waktu dan tenaga. Kedepan saya akan mencoba menerapkan ilmu yang didapat melalui PGP ini khususnya materi yang didapat pada setiap modul. Khusus pada modul 2.1, dan 2.2 saya akan merancang pembelajaran yang betul betul berpihak kepada murid menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan mewujudkan “merdeka belajar”

4. Pendampingan kepada CGP atas nama Ni Made Dewi Radesi yang dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 2022

Pendampingan yang dilakukan terhadap CGP Ni made Dewi Radesi yang dijadwalkan tanggal 14 Mei dilaksanakan tepat waktu, sesuai dengan kesepakatan semula. Materi pendampingan hari itu adalah terkait dengan strategi coaching dengan rekan sejawat, observasi pembelajaran oleh teman sejawat terhadap CGP dan progres capaian belajar Modul 2.1 dan 2.2.

  • Kegiatan Coaching

Kegiatan coaching yang dilaksanakan telah berjalan baik. Berikut hasil wawancara dengan ibu Ni Made Dewi Radesi adalah sebagai berikut:

    • Praktek coaching yang sudah dilakukan mampu menggali potensi coachee melalui komunikasi asertif yang dilakukan oleh coach. Hubungan kemitraan antara coach dan coachee dijalin melalui proses kreatif untuk memaksimalkan potensi personal dan profesional diri coachee. Coach sudah mampu menggunakan teknik percakapan eksploratif dua arah untuk menggali ide dan memperkuat keyakinan coachee untuk mengenali potensi dirinya dan melakukan tindakan optimal dalam merancang sebuah pembelajaran yang berfokus pada pengoptimalan minat dan potensi murid
    • Praktik coaching yang dilakukan sudah baik, yang perlu ditingkatkan dalam praktik coaching ini adalah kemampuan coach dalam menggali informasi melalui pertanyaan-pertanyaan efektif dan kemampuan mendengarkan aktif yang mampu mengarahkan coachee untuk merasa semakin nyaman bercerita dan menggali kekuatan dan kemampuannya sehingga tujuan utama dari proses coaching dapat tercapai melalui sebuah proses yang tidak terlalu formal tetapi sampai pada tujuan yang ingin dicapai.
    • Perasaan saya sangat antusias karena dengan semakin banyak melakukan praktik coaching tentunya kemampuan saya dalam mempraktekkan komunikasi asertif baik itu mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan efektif maupun menjadi pendengar yang aktif semakin terasah sehingga nantinya saya bisa melakukan praktik coaching dengan lebih baik lagi, baik bersama dengan murid ataupun dengan rekan kerja saya di sekolah.

 Sementara tanggapan dari teman coaching adalah sebagai berikut:

    • Ibu CGP sudah mampu menjadi coach yang baik. Pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh Ibu CGP sudah mampu mengarahkan saya dalam mengenali, menggali, dan memaksimalkan potensi dan kekuatan yang saya punya sehingga saya nyaman bercerita mengenai permasalahan yang saya hadapi tanpa ragu ataupun malu dan di akhir sesi coaching coach berhasil mengarahkan saya untuk menemukan solusi dari permasalahan yang saya hadapi
    • Melalui praktek coaching ini saya merasa potensi saya tergali, mengatakan dengan lugas tentang apa yang saya rasakan dan saya pikirkan juga membuat saya lega. Apalagi ketika saya diarahkan untuk membuat solusi sendiri dari permasalahan yang saya hadapi membuat saya sadar ternyata saya mampu dan tidak seburuk seperti pikiran saya sebelumnya.
    • Menurut saya sejauh ini sudah sangat baik, hanya kalau bisa ditingkatkan mungkin bisa dengan berlatih lagi lebih banyak melakukan praktek coaching sehingga lebih terasah lagi kemampuannya dalam mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih efektif lagi untuk menggali potensi coachee
  • Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi oleh Ni Made Dewi Radesi selaku CGP yang telah diobservasi. teman sejawat guru di SMA 2 Amlapura atas nama Ketut Sawitri, S.Pd M.Pd memberi tanggapan sebagai berikut:

    • Saya meminta Bu Sawitri untuk mengobservasi praktik pembelajaran saya di kelas baik itu secara offline (PTM) maupun secara daring melalui pertemuan di Google Meet. Dalam praktek pembelajaran yang saya lakukan saya mengaplikasikan pembelajaran berdiferensiasi yang dipadukan dengan pembelajaran sosial emosional. Untuk pembelajaran berdiferensiasi saya melakukan diferensiasi konten dan produk yang sebelumnya didahului dengan pemetaan profil dan minat belajar yang saya lakukan melalui penyebaran kuesioner melalui Google Form. Untuk pembelajaran sosial emosional saya menggunakan Teknik STOP, mengenali perasaan melalui Padlet/ Sticky Notes, Ice Breaking (Symon Says, Claps Three, Numerical Math) dan terakhir di sesi penutup saya meminta anak-anak menuliskan refleksi di Padlet
    • Praktik pengajaran saat observasi berjalan lancar, anak-anak tertib dan santai meskipun mereka melihat ada guru lain yang ikut dalam proses pembelajaran. Anak-anak menikmati proses pembelajaran. Mereka melakukan Teknik STOP dengan baik, mau mengungkapkan perasaan awal sebelum memulai pembelajaran dengan jujur meskipun apa yang mereka tuliskan dibaca oleh teman sekelasnya. Dalam diferensiasi konten anak-anak juga melakukannya dengan baik dan memilih konten sesuai dengan apa yang mereka sukai dan berdiskusi dengan baik dalam kelompok mereka masing-masing. Saat melakukan Ice breaking pun anak-anak terlihat sangat gembira karena kegiatan tersebut membuat mereka rileks dan fokus kembali untuk mengikuti proses pembelajaran selanjutnya. Di akhir saat melakukan refleksi semua mengungkapkan perasaan mereka senang karena mereka belajar dengan santai, baik, dan menyenangkan.
    • Bu Sawitri mengatakan ingin melakukan hal yang sama di kelasnya yaitu melakukan pembelajaran berdiferensiasi yang dikolaborasikan dengan pembelajaran sosial emosional karena beliau melihat anak-anak sangat termotivasi mengikuti proses pembelajaran. Terutama saat memainkan Ice Breaking, karena saat melakukan kegiatan ini anak-anak tampak bahagia dan gembira.
    • Beliau juga mengatakan, bahwa ingin lebih banyak melakukan kegiatan Ice Breaking di kelas karena saya lihat anak-anak menjadi sangat termotivasi dan focus kembali setelah melakukan Ice Breaking.
  • Pembelajaran Modul 2.1 dan 2.2

Proses pembelajaran yang CGP lakukan di LMS yang dipandu fasilitator telah pula berjalan baik sebagaimana halnya yang beliau nyatakan sebagai berikut:

    • Kendala yang ada pada saat itu adalah kendala jaringan. Kebetulan saat saya melakukan praktek aksi nyata modul 2.1 dan 2.2 sekolah kami masih memberlakukan pembelajaran daring. Kendala jaringan ini sedikit mengganggu terutama karena signal di beberapa lokasi murid terganggu. Selain itu tidak ada masalah yang berarti.
    • Saya merasa antusias karena saat melakukan aksi nyata inilah merupakan kali pertama saya mempraktekkan pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional di kelas. Dan lebih bersemangat lagi karena saya melihat respon murid yang sangat positif
    • Saat mengerjakan tugas ini saya belajar mengendalikan emosi melalui praktek Teknik STOP dengan murid-murid saya di kelas. Murid-murid mengungkapkan bahwa dengan melakukan Teknik STOP mereka menjadi lebih fokus dan siap untuk belajar. Saya juga mendapat pelajaran yang berharga dari melakukan Ice Breaking bahwa meskipun murid-murid saya adalah murid yang sudah menjelang usia dewasa, mereka ternyata masih suka bermain, dan bermain dapat meningkatkan motivasi mereka untuk belajar.
    • Kedepannya saya akan mempraktekkan pembelajaran berdiferensiasi konten, proses, dan produk di kelas yang dipadukan dengan pembelajaran sosial emosional dengan mempraktekkan Ice Breaking yang bervariasi sehingga murid-murid akan lebih termotivasi lagi mengikuti pembelajaran saya di kelas

5. Pendampingan kepada CGP atas nama Ngurah Dwika Kusuma Atmaja yang dilaksanakan pada tanggal 17 Mei 2022

  • Pendampingan dalam hal proses coaching bersama teman sejawat harus terus ditingkatkan sehingga beliau kedepannya dapat benar benar dapat tergerak, bergerak dan menggerakkan orang lain.

    • Berdasarkan pengamatan sesi latihan coaching kegiatan mengemukakan tujuan sudah dilakukan namun masih samar dan perlu ditingkatkan dalam hal kelugasannya. Pak Ngurah juga sudah berhasil menggali permasalahan yang terjadi pada rekan sejawatnya pada sesi identifikasi permasalahan. Upaya menggali ide aksi nyata yang dilakukan sebagai sebuah solusi yang akan dilakukan juga telah berhasil diungkapkan oleh CGP. Sedangkan pada sesi tanggung jawab, masih perlu ditekankan lagi agar CGP benar-benar mampu mengungkapkannya secara tegas sehingga aksi nyata tersebut benar benar akan dilakukan akibat dari kesepakatan yang dilakukan dengan CGP.
    • Pendampingan terkait proses pemahaman dan prinsip penerapan pembelajaran berdiferensiasi sangat penting untuk ditingkatkan sehingga kelak ketika menamatkan program Guru Penggerak benar-benar menjadi model bagi yang bersangkutan dalam mengembangkan kemampuannya dalam kegiatan pembelajaran siswa. Berdasarkan hasil wawancara singkat baik kepada rekan sejawat dan CGP telah menunjukkan upaya dalam rangka mengimplementasikan prinsip-prinsip pembelajaran berdiferensiasi.
    • Pendampingan dalam hal capaian beliau dalam proses belajar di LMS bersama fasilitator secara berkolaborasi dapat dilakukan secara aktif sehingga semua dapat berjalan lancar.

REFLEKSI DAN TINDAK LANJUT

Atas kondisi capaian belajar dari para CGP tersebut di atas maka berikut refleksi yang dapat dikemukakan di sini adalah sebagai berikut:

1. Pendampingan Ni Putu Tustiana Dewi

Pendampingan Individu 4 terhadap Ni Putu Tustiana Dewi telah berlangsung dengan baik. Baik ketika mendampingi terkait proses coaching yang sudah dilakukan beliau, observasi pembelajaran yang dilakukan dan capaian belajar pada Modul 2.1 terkait Pembelajaran Berdiferensiasi dan 2.2 terkait Pembelajaran Sosial Emosional.

Hal yang telah baik teridentifikasi dari proses pendampingan, bahwa CGP telah menuntaskan tahapan kegiatan, proses coaching, dan respon guru teman sejawat yang positif terhadap proses tersebut.

Hal yang perlu ditingkatkan dari kegiatan tersebut adalah bagaimana yang bersangkutan dapat mengoptimalkan proses coaching melalui berbagai latihan berkesinambungan dalam prakteknya di lapangan. Demikian pula terkait bagaimana yang bersangkutan dapat meningkatkan cara mengajar dengan prinsip-prinsip berdiferensiasi. Pemahaman CGP terkait pembelajaran berdiferensiasi dan Pembelajaran Sosial Emosional juga dapat ditingkatkan melalui proses latihan yang berkesinambungan.

Serangkaian tindak lanjut yang dapat dilakukan oleh pendamping dalam pengimplementasian strategi coaching dan pembelajaran berdiferensiasi secara berkelanjutan akan dilaksanakan pada topik-topik pendampingan selanjutnya.

2. Pendampingan Ni Luh Sumarliani

Pendampingan Individu 4 yang dilakukan kepada CGP terkait strategi coaching, pembelajaran berdiferensiasi dan capaian belajar pada modul 2.1 dan 2.2 telah berjalan dengan baik. Yang bersangkutan sangat kooperatif dalam melakukan aktivitas pendampingan sehingga pendampingan berjalan lancar.

Hal yang teridentifikasi dari proses pendampingan dalam mengimplementasikan strategi coaching dengan model TIRTA, perlu peningkatan dalam hal keseriusan kegiatan, karena pada saat kegiatan masih nampak keraguan terutama dalam mengajukan pertanyaan.

Pada proses pembelajaran berdiferensiasi juga telah baik, dimana CGP telah menunjukkan prinsip-prinsip pembelajaran berdiferensiasi pada beberapa tahapan pembelajaran yang dapat ditingkatkan lagi di masa yang akan datang.

Capaian belajar pada modul 2.1 dan 2.2 berdasarkan pemahaman yang digali telah baik, dan perlu keberlanjutan dalam hal upaya yang bersangkutan dalam mengimplementasikannya.

3. Pendampingan I Wayan Surata

Pendampingan kepada I Wayan Surata telah berlangsung sangat baik, dimana beliau selalu kooperatif dalam setiap kegiatan pendampingan yang selalu aktif beride dan memunculkan gagasan-gagasan baru secara aktif dan komunikatif.

Hal yang teridentifikasi dari proses pendampingan pada implementasi coaching model TIRTA juga telah sangat baik yang mencerminkan penguasaan beliau terhadap topik ini, hingga menghasilkan solusi-solusi kreatif pada teman sejawatnya.

Pada saat implementasi pembelajaran berdiferensiasi, strategi pembelajaran yang diterapkan juga telah sangat baik, dimana beliau telah mampu menunjukkan cara mengajar yang baik untuk yang mencerminkan penguasaan pada tahapan pemahaman mengenali karakteristik peserta didik.

Demikian pula pada tahapan pemahaman dan capaian belajar modul 2.1 dan 2.2 telah sangat baik, sehingga beliau mampu menjelaskan secara sangat detail dalam prinsip-prinsip Pembelajaran Bediferensiasiai dan Pembelajaran Sosial Emosional.

Tindak lanjut yang dapat dilakukan adalah bagaimana agar menjaga konsistensi atas apa yang telah dilakukan sehingga dapat berkelanjutan secara konsisten

4. Pendampingan Ni Made Dewi Radesi

Pendampingan kepada Ni Made Dewi Radesi telah berlangsung sangat baik, dimana beliau selalu kooperatif dan kerjasama yang baik saat dilakukan pendampingan secara sangat komunikatif

Hal yang teridentifikasi dari proses pendampingan pada implementasi coaching model TIRTA juga telah sangat baik mulai dari sesi awal tahapan hingga akhir sehingga menghasilkan solusi dan rencana aksi kepada teman sejawat yang di coach-nya.

Saat kegiatan implementasi pembelajaran berdiferensiasi yang diterapkan CGP telah sangat baik dilakukan, yang mengakomodir keberagaman siswa dalam hal karakteristiknya. Apalagi jika dikaitkan dengan perannya dalam pembelajaran di SMA, hal ini menjadi penting untuk dilaksanakan dalam rangka memunculkan berbagai strategi pembelajaran yang nampak akan berbeda penerapan pada berbagai kondisi terkait karakteristik siswa.

Demikian pula pada tahapan pemahaman dan capaian belajar modul 2.1 dan 2.2 telah sangat baik, sehingga beliau mampu mengkomunikasikan hal-hal baik prinsip-prinsip pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional dengan baik yang telah tercermin dari proses pembelajaran yang telah beliau tunjukkan.

Tindak lanjut yang dapat dilakukan adalah adalah menjaga agar beliau tetap optimis dan konsisten dalam meningkatkan capaian pembelajarannya baik pada sesi belajar di LMS, pendampingan dan lokakarya.

5. Pendampingan Ngurah Dwika Kusuma Atmaja

Pendampingan Individu 4 yang dilakukan kepada CGP Ngurah Dwika Kusuma Atmaja terkait strategi coaching, pembelajaran berdiferensiasi dan capaian belajar pada modul 2.1 dan 2.2 telah berjalan. walau dengan sedikit permasalahan teknis tetapi tetap dapat berlangsung. Kesibukan beliau dalam pekerjaanya berkontribusi dalam aktivitas pendampingan yang dilakukan yang harus terus ditingkatkan, melalui motivasi berkelanjutan.

Hal yang teridentifikasi dari proses pendampingan terutama dalam hal coaching sangat penting harus ditingkatkan, baik bagi pemahaman dirinya tentang coaching dan perannya saat pelaksanaan pembelajaran di kelasnya.

Pada proses pembelajaran berdiferensiasi dimana beliau diobservasi oleh seorang teman sejawat, perlu ditingkatkan.

Capaian belajar pada modul 2.1 tentang Pembelajaran Berdiferensiasi dan Modul 2.2 terkait materi Pembelajaran Sosial Emosional juga harus sangat ditingkatkan.

PENUTUP

Demikianlah laporan singkat terkait proses kegiatan Pendampingan 4 yang saya lakukan selaku pengajar praktik. Selain berfungsi sebagai laporan, tulisan ini juga sekaligus untuk merefleksi terhadap apa yang telah saya kerjakan dalam rangka mengemban tugas bersama-sama belajar dengan guru penggerak yang diharapkan nanti mampu menggerakkan insan-insan praktisi pendidikan untuk menuju mutu pendidikan yang lebih baik. Melihat dari proses lamanya durasi program ini, telah memberi gambaran bahwa untuk melakukan perubahan tersebut, sangat dipentingkan sebuah niat untuk berubah dan mampu menjaga perubahan itu agar tetap konsisten. Apa yang telah kita mulai harus selalu dijaga atau secara bersama-sama menjaganya. Oleh karena perubahan yang dilakukan sendirian, tanpa ada orang lain yang melakukan hal yang sama, terkadang menjadi bumerang, yang nantinya menjadikan diri kita asing ditengah keberadaan kita bersama rekan sejawat lain. Maka upaya saling mendukung dalam berubah sangat niscaya selalu  menjadi atmosfer perubahan tersebut. Perubahan yang memang diniatkan dari diri, melaksanakan perubahan atas dukungan dan kerjasama saling membantu, yang akan memiliki efek mengembangkan ranah perubahan tersebut menjadi vibrasi yang meluas dan mendalam.

Link Sekolah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *