LATAR BELAKANG KURIKULUM MERDEKA

LATAR BELAKANG

Sebagai latar belakang penyusunan draft kurikulum merdeka ini secara spesifik akan dijelaskan beranjak dari manusia dan kebaradaannya. Kemajuan peradaban manusia seiring dengan perkembangan kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan karakteristik planet Bumi yang terus berubah. Kemampuan manusia menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungannya dapat dilakukan karena manusia memiiki daya cipta dan kreasi untuk bertahan hidup. Salah satu cara manusia beradaptasi adalah kemampuan mengalihgenerasikan pengalaman hidupnya kepada keturunan-keturunannya. Proses pengalihan pengalaman hidup dari generasi yang lebih tua ke generasi selanjutnya dilakukan secara sistematis seiring kemajuan zaman melalui proses pendidikan.

Baca Juga

Tantangan hidup manusia di masa depan terus mengalami perubahan seiring perubahan yang terjadi dan dibuat oleh manusia. Maka dari itu tantangan masa depan semakin rumit dan kompleks. Sebagaimana para ahli memandang tantangan masa depan itu adalah VUCA (Voletile, Uncernternty, Complexcity dan Ambigue). Ketidakstabilan (Voletile) situasi kerap terjadi dan tidak dapat terprediksi yang menimbulkan ketidakpastian (Uncernternty) yang menciptakan berbagai kerumitan (Complexcity) kehidupan, sehingga manusia kerap berada dalam kebimbingan/kebingungan (Umbigue) dalam menentukan tindakan selanjutnya.

Pendidikan merupakan strategi besar manusia untuk dapat menghadapi tantangan masa depan yang bersifat VUCA sehingga manusia dapat berbagi pengalaman belajar untuk mempertahankan eksistensi kehidupan manusia. Melihat hal itu, kacamata pendidikan jika dilihat dari perspektif universal menjadi sangat penting untuk tetap menjaga eksistensi manusia di tengah ancaman jangka panjang yaitu kepunahan. Maka dari itu, setiap elemen manusia dalam persepektif universal memiliki tanggungjawab untuk berpartisipas dalam penyelenggaraan pendidikan agar manusia tetap dapat merawat akal sehingga mampu mencipta dan berkreasi menghasilkan solusi atas ancaman global.

Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia memiliki kepentingan yang sama untuk tetap dapat berjuang, berkolaborasi serta bahu membahu untuk kepentingan pengalihgenerasian pengalaman mengatasi tantangan hidup melalui pendidikan. Solusi atas tantangan hidup universal sesuai karakteristik VUCA adalah bagaimana mewujudkan generasi penerus bangsa yang memiliki skill dan karakter Abad 21, yaitu critical thingking, creativity dan inovations, communications, dan collabotarions. Selanjutnya hal tersebut diselaraskan dengan karakteristik Indonesia yang teridentifikasi sebagai Profil Pelajar Pancasila, yang merupakan cerminan solusi atas tantangan Abad 21 ala Indonesia. Sesuai dengan itu, Profil Pelajar Pancasila dirancang untuk menjawab satu pertanyaan besar yaitu: “Pelajar dengan Profil (kompetensi) seperti apa yang ingin dihasilkan oleh sistem pendidikan di Indonesia” tergambarkan sebagai: “Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila”.

Landasan pemikiran pendidikan sebagaimana dikemukakan di atas berkaitan dengan dua hal yaitu kompetensi untuk menjadi warga negara Indonesia yang demokratis dan untuk menjadikan manusia unggul yang kreatif mencari solusi pemecahan masalah dan produktif menghasilkan sesuatu yang berguna bagi orang banyak di Abad 21. Demikian pula peserta didik Indonesia diharapkan dapat berpartisipasi dalam pembangunan global yang berkelanjutan serta tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan. Elemen solusi atas permasalahan global di Abad 21, oleh Indonesia sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila terdiri atas 1) Bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia; 2) Berkebhinekaan Global; 3) Bergotong Royong; 4) Mandiri; 5) Bernalar Kritis; dan 6) Kreatif.

Dimensi tujuan pendidikan Indonesia yaitu mewujudkan Profil Pelajar Pancasila tidak hanya fokus pada kemampuan kognitif, tetapi juga sikap dan prilaku sesuai jatidiri sebagai bangsa Indonesia sekaligus warga dunia. Untuk mewujudkan hal itu maka integrasi Profil Pelajar Pancasila perlu dikemas dalam kurikulum nasional yang diturnkan ke dalam kurikulum sekolah sebagai :

  1. Tujuan jangka panjang, pada seluruh proses pembelajaran di sekolah
  2. Kompetensi dan karakter yang perlu dikembangkan oleh segenap warga sekolah
  3. Benang merah yang menyataukan segala praktik penyelenggaraan pendidikan pada tingkat sekolah

Sebagai latar belakang kondisi pendidikan Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain yang lebih muda scara usia kemerdekaan, merupakan sebuah fakta yang tidak bisa kita pungkiri. Banyak negara-negara dengan sumberdaya alam dan manusia yang jauh lebih kecil dari kita, justru sangat maju peradabannya ditinjau dari sisi kualitas standar hidupnya. Cita-cita kita untuk mewujudkan masyarakat sejahtera sama dengan negara lain yang memiliki tujuan yang sama juga. Indikator masyarakat sejahtera adalah mereka mampu memenuhi kebutuhan fisik dan psikis secara berimbang atau dengan kata lain msayaraktnya berbahagia. Jaminan hidup mulai dari sejak dalam kandungan hingga lanjut usia menjadi perhatian negara, sehingga masyarakatnya berbahagia. Negara-negara eropa seperti Skandinavia adalah contohnya. Dengan mengandalkan sumberdaya alam yang sedikit dan sumberdaya manusia yang juga tidak sebanyak kita, mereka mampu menjamin kesejahteraan dan kebahagiaan warganya. Sementara kita dengan sumberdaya alam dan manusia yang melimpah, masih dalam tahap perkembangan menuju ke arah itu. Ternyata semua itu berpulang dari bagaiman strategi pemerintahnya menerapkan model pendidikan. Hal itu merupakan salah satu latar belakang mengepa standar kesejahteraan dan kebahagiaan masuarakat kita masih rendah. Maka dari itu tidak cara lain untuk mewujudkan hal itu, adalah dengan meningkatkan mutu pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *