PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI

3.1.2 PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI

BACA JUGA

PENGORGANISASIAN PEMBELAJARAN DALAM KURIKULUM MERDEKA

Rasional

Pendidikan Agama Hindu memiliki berbagai konsep yang dapat memberikan kendali atau kontrol pada umatnya untuk mengendalikan diri dari pengaruh negatif pada perkembangan zaman. Kehidupan seabgai warga negara, umat Hindu memiliki konsep Dharma Negara dan Dharma Agama, yang telah tertuang dalam pesamuhan Agung Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, tersurat dan tersirat baik secara langsung maupun tidak langsung, mendukung keutuhan Neegara Kesatuan Republik Indonesia, di ataranya:

  1. Agama Hindu selalu mengajarkan konsepTri Hita Karana (hubungan antara mansia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam dan lingkungan;
  2. Agama Hindu selalu menanamkan pada setiap umat tentang ajaran Tri Kaya Parisudha (berpikir baik, berkata baik dan berbuat baik)

Tujuan

Tujuan dari pembelajaran pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti adalah peserta didik mampu:

  1. Menjiwai dan menghayati nilai-nilai universal pesan moralitas yang terkandung dalam Weda
  2. Menunjukkan sikap dan perilaku yang dilandasi sraddha dan bhakti (beriman dan bertaqwa), menumbuhkembangkan dan meningkatkan kualitas diri antara lain: percaya diri, rasa ingin tahu, santun, disiplin, jujur, mandiri, peduli, toleransi, bersahabat, dan bertanggung jawab dalam hidup bermasyarakat, serta mencerminkan peribadi yang berbudi pekerti luhur dan cinta tanah air;
  3. Menumbuhkan sikap bersyukur, ksama (pemaaf), disiplin, satya (jujur), ahimsa Itidak melakukan kekerasan), karuna (menyayangi), rajin, bertanggungjawab, tekun, mandiri, mampu bekerjasama, bergotong royong dengan lingkungan sosial dan alam;
  4. Berperan aktif dalam melestarikan budaya, tradisi, adat istiadat berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal Hindu, di Nusantara serta membangun masyarakat yang damai dan inklusif dengan menjungjung tinggi nilai-nilai toleransi, bergotong-royong, berkeadilan sosial, berorientasi pada pembangunan berkelanjutan, dan memenuhi kewajiban sebagai warganegara untuk mewujudkan kehidupan yang selaras, serasi dan harmonis.

Karakteristik Agama Hindu dan Budi Pekerti

1.  Elemen Kecakapan

ELEMEN DESKRIPSI
Kecakapan
Empati Empati adalah kepedulian terhadap diri sendiri, lingkungan dan situasi di mana dia berada. Hal ini diwujudkan dengan sikap saling menghormati dan menghargai orang lain serta alam di mana dia berada sehingga tercipta rasa kesetiakawanan tanpa batas dengan menunjung tinggi prinsip tat twam asi dan wasudhaiwa kutumbakam
Komunikasi Komunikasi merupakan interaksi baik verbal maupun non-verbal untuk menunjang hubungan baik personal, antar personal maupun intra personal. Hal ini ditunjukkan dengan pembelajaran agama Hindu yang berorientasi pada ajaran Tri Hita Karana (jalinan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia dan alam) dengan mengemban prinsip tri kaya parisudha (berpikir, berkata dan berbuat yang baik)
Reflektif Refleksi adalah melihat kenyataan sebagai bagian dari upaya pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan diri, kepekaan sosial dalam kaitannya dengan kemampuan personal. Hal ini tampak pada pembelajaran agama Hindu yang mengarahkan peserta didik untuk menjadi orang yang mulat sarira (introspeksi diri) dengan menasehati dirinya sendiri (dama) untuk kebaikan dan kualitas diri dalam kehidupan sehingga bisa mengatasi permasalahan hidup
Berpikir Kritis Berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir secara logis (nyaya), reflektif (dhyana), sistematis (kramika) dan produktif (saphala) yang diaplikasikan dalam menilai situasi untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang baik. Hal ini diwujudkan pada pembelajaran agama Hindu yang mengarahkan peserta didik untuk menganalisis sesuatu dalam situasi dan kondisi apa pun guna mencapai kebenaran baik dalam lingkup diri sendiri, orang lain dan masyakarakat luas sebagai bentuk penerapan nilai-nilai prasada atau berpikir dan berhati suci serta tanpa pamrih.
Kreatif Kreatif artinya dapat mengkreasikan atau memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Hal ini diwujudkan dalam pembelajaran Agama Hindu yang mengarahkan peserta didik untuk berkreasi dan mengupayakan agar nilai-nilai Agama Hindu dapat dipahami secara fleksibel sesuai kearifan lokal Hindu di Nusantara berdasarkan prinsip desa, kala, dan patra (tempat, waktu, dan kondisi).
Kolaboratif Kolaborasi merupakan suatu bentuk proses sosial, di mana didalamnya terdapat aktivitas tertentu yang ditujukan untuk mencapai tujuan bersama dengan saling membantu dan saling memahami aktivitas masing-masing. Hal ini tampak pada pembelajaran agama Hindu yang mengarahkan peserta didik untuk dapat hidup berdampingan satu dengan yang lain, saling bekerjasama dan bergotong-royong

 

2. Elemen Konten

Konten
Kitab Suci Weda (Sebagai Sumber Ajaran Hindu) Kitab Suci Weda adalah sumber ajaran agama Hindu yang berasal dari wahyu Tuhan (Hyang Widhi Wasa). Kitab Suci Weda ini bersifat sanatana dan nutana dharma (abadi dan fleksibel sesuai kearifan lokal yang ada), apauruseya (bukan karangan manusia), dan anadi ananta (tidak berawal dan tidak berakhir). Secara umum kodifikasi Kitab Suci Weda oleh Maharsi Wyasa terdiri dari 2 bagian utama yaitu: a.  Weda Sruti Weda Sruti adalah wahyu yang didengarkan secara langsung oleh para maharsi. Weda Sruti terbagi menjadi: Rg Weda, Yajur Weda, Sama Weda, dan Atharwa Weda, yang masing-masing memiliki kitab Mantra, Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad; b.  Weda Smerti  Weda Smerti adalah Weda yang berdasarkan ingatan Maharsi dan tafsir atau penjelasan dari Weda Sruti. Weda Smerti terdiri dari: Wedangga (Siksa, Nirukta, Jyotisa, Chanda, Wyakarana, dan Kalpa) dan Upaweda (Arthasastra, Ayurweda, Gandharwaweda, Dhanurweda), dan Nibanda. Peserta didik diharapkan dapat memahami dan menghayati alur sejarah kitab suci Weda, pembagiannya, pemahaman dari masing-masing kitab Suci Weda serta menerapkan nilai-nilai ajaran Weda dalam kehidupan sehari-hari.
Sraddha dan Bhakti (Sebagai pokok keimanan dan ketaqwaan Hindu) Sraddha dan Bhakti adalah pokok keimanan Hindu yang berisi ajaran tattwa atau ajaran kebenaran untuk meyakinkan umat Hindu agar memiliki rasa bhakti. Dalam berbagai teks Jawa Kuna dan bahasa daerah di Nusantara, istilah tattwa merujuk pada prinsip-prinsip kebenaran tertinggi. Tattwa agama Hindu di Indonesia merupakan hasil konstruksi dari ajaran filosofis yang terkandung dalam kitab Suci Weda. Peserta didik dalam proses pembelajaran diharapkan dapat: meyakini ajaran Panca Sraddha untuk menumbuhkan rasa bhakti serta mengamalkan nilai- nilai kebenaran, kesucian dan keharmonisan dalam masyarakat lokal, nasional, dan internasional.
Susila (Sebagai Konsepsi dan Aplikasi  Akhlak  Mulia  dalam Hindu) Susila adalah ajaran etika dan moralitas dalam kehidupan untuk kesejahteraan dalam tatanan masyarakat lokal, nasional, dan internasional. Peserta didik mampu menerapkan nilai-nilai Susila berdasarkan wiweka, prinsip Tri Tita Karana, Tri Kaya Parisudha, Tat Twam Asi, dan Wasudaiwa Kutumbhakam. Selain itu, peserta didik peka terhadap persoalan-persoalan sosial yang berkembang di bermasyarakat dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan yang berkelanjutan
Acara  (Sebagai  Penerapan Praktik  Keagamaan  atau Ibadah dalam Hindu) Acara merupakan praktik keagamaan Hindu yang diterapkan dalam bentuk pelaksanaan yajna atau korban suci sesuai dengan kearifan lokal Hindu di Nusantara. Peserta didik dapat memahami dan menerapkan nilai-nilai acara agama dalam berbagai bentuk aktifitas keagamaan Hindu sesuai kearifan lokal dan budaya setempat antara lain berupa ritual dan seni yang harus dilestarikan sebagai kekayaan budaya bangsa.
Sejarah Agama Hindu Sejarah adalah kajian tertulis tentang peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Peserta didik mampu mengenal, mengetahui, memahami dan menganalisis tokoh dan peristiwa pada masa lampau yang terkait dengan perkembangan agama dan kebudayaan Hindu. Selanjutnya peserta didik mampu meneladani nilai-nilai ketokohan Hindu yang relevan dengan kehidupan masyarakat lokal, nasional, dan internasional. Pembelajaran sejarah agama Hindu diharapkan dapat membentuk jati diri peserta didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang menjujung tinggi nilai luhur budaya lokal, nasional, dan internasional untuk mempererat jalinan persaudaraan, persatuan dan kesatuan bangsa tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antar golongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *