LITERASI DAN NUMERASI ANALISIS KRITIS KEBIJAKAN PENDIDIKAN

Literasi dan Numerasi Analisis Kritis Kebijakan Pendidikan, merupakan artikel opini sederhana untuk menganalisis situasi stagnasi pendidikan Indonesia di tengah masifnya upaya gerakan pendidikan menuju kemajuan.

Keterkungkungan pendidikan kita selama ini telah menjadi faktor yang paling menekan laju kemajuan pendidikan. Perkembangan mutu pendidikan beberapa tahun terakhir ini tidak mengalami perkembangan berarti. Survei tingkat literasi dan numerasi yang dilakukan oleh berbagai lembaga riset pendidikan seperti PISA menemukan rendahnya tingkat literasi dan numerasi anak-anak Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara pada tahun 2019. Bahkan menurut hasil penelitian seorang profesor pendidikan dari Amerika mengklaim bahwa tingkat pendidikan kita tertinggal 128 tahun dari negara lain. Apakah gerangan penyebabnya?

Baca Juga

PENDAMPINGAN INDIVIDU CALON GURU PENGGERAK

KOMUINITAS PRAKTISI DAN DISIPLIN POSITIF

KOMUNITAS PRAKTISI DAN DISIPLIN POSITIF DI SMA NEGERI 2 AMLAPURA

Menurut beberapa pihak melihat faktor guru yang  menjadi penyebab rendahnya mutu literasi dan numerasi anak-anak Indonesia tersebut. Saya sebagai guru mencoba berpikir, apakah layak kita dituduh sebagai satu-satunya penyebab? Mari kita ilustrasikan, andaikan hal itu adalah benar, maka guru yang ada saat ini adalah produk dari pendidikan juga, yaitu lembaga pencetak guru. Maka apakah lembaga pendidikan keguruan berkontribusi dalam masalah ini? Fakta berikutnya, guru bekerja di bawah sistem birokrasi pemerintah, dari pusat hingga daerah. Mungkinkah birokrasi menjadi kandidat penyebab utama? Jangan dilupakan juga otonomi daerah yang salah satu kewenangannya adalah mendistribusikan guru, tergantung dari dinamika politik di daerah. Sehingga tradisi reposisi guru merupakan langkah strategis pemerintah daerah dalam rangka memeratakan mutu pendidikan. Sayup-sayup terdengar sinyalemen bahwa kegiatan reposisi itu telah menjadi ajang berebut kepentingan  politik. Tetapi apakah kabar burung tersebut benar adanya?

Jika sinyalemen itu terkonfirmasi positif, maka guru sesungguhnya memiliki posisi tawar yang sangat rendah. Hal ini berbanding terbalik dengan besarnya peran guru dalam menentukan mutu sumber daya manusia baik di daerah hingga nasional. Posisi guru yang lemah tersebut, sangat mudah dimainkan oleh kepentingan pragmatis, yang mengabaikan kepentingan jangka panjang. Publik seolah melupakan kepentingan memajukan dan mencerdaskan yang menjadi bagian dari visi bangsa, menjadi terabaikan demi memenuhi hasrat pragmatis. Fenomena itu merupakan faktor yang menjadi beban psikologis guru dan kepala sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan.

Berdasarkan fenomena tersebut penyelenggaraan pendidikan terkesan memiliki fleksibilitas rendah dengan ruang gerak guru dan kepala sekolah yang terbatas, karena mencari zona nyaman. Alih-alih berinovasi dan melakukan perubahan, mereka lebih memilih untuk tidak terlibat dengan konflik kepentingan. Maka dari itu, mereka mencari posisi yang lebih aman dan nyaman dari pada memilih berbuat dan bergerak, tetapi dengan resiko gesekan dengan pihak lain. Fakta ini akan mendikotomikan kecenderungan perilaku guru yang dapat dibandingkan secara mudah. Perbandingan dimaksud, asumsikan ada guru aktif karena memiliki pemahaman yang benar tentang pendidikan, dengan guru yang hanya mencari aman, karena rendahnya pemahamannya terkait pendidikan, manakah dari keduanya itu akan berpeluang berhasil membelajarkan siswa?

Ilustrasinya selanjutnya seperti ini, menjadi guru adalah pekerjaan unik. Bandingkan saja, guru yang stres karena banyak tuntutan pekerjaan, dengan guru yang nyaman dalam mengajar. Anggaplah keduanya memiliki kemampuan dan skill yang sama-sama memadai. Kira-kira guru yang mana akan lebih berhasil mengajar?  Contoh lainnya, kedua guru ini memiliki skill dan kemampuan yang setara dalam mengajar, satu guru hanya dibebani tugas tambahan sebagai bendahara sekolah, sementara satu guru lainnya dapat fokus untuk mengajar saja. Kira-kira guru yang mana akan mampu berinovasi dan berhasil mengajar? Contoh berikutnya adalah dua orang guru dengan kemampuan setara, satu guru dipimpin oleh kepala sekolah yang hanya meminta gurunya menyetorkan administrasi kelas untuk memenuhi standar sesuai tuntutan akreditasi. Sementara guru lainnya, dibimbing secara berkelanjutan dalam memperbaiki perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Dari kedua guru tersebut, yang manakah akan lebih berpeluang berhasil dalam mengajar?

Kepala sekolah juga berperan dalam upaya meningkatkan capaian belajar siswa, terutama dalam hal memfasilitasi, memotivasi dan membimbing guru. Bayangkan juga ada dua orang kepala sekolah dengan kemampuan setara. Satu kepala sekolah selalu loyal pada atasan sehingga tuntutan administrasinya tidak pernah satupun yang nihil. Sementara kepala sekolah lainnya sering berseberangan dengan atasannya, pada hal-hal prinsip dan beralasan. Fokus utama kepala sekolah ini adalah melayani siswa dalam belajar, tetapi sering mengabaikan tuntutan administrasi atasan. Karena kepala sekolah ini mengerti, hakikat pendidikan adalah untuk melayani peserta didik, bukan melayani atasan. Kepala sekolah yang mana akan memiliki peluang lebih berhasil dalam melaksanakan pengelolaan sekolah? Bayangkan ada dua pejabat administrasi pendidikan yang satunya memilih untuk loyal pada atasannya dan mengabaikan kepentingan bawahannya yaitu kepala sekolah dan guru. Kemudian bandingkan dengan pejabat lainnya yang loyal melayani bawahannya yaitu guru dan kepala sekolah sehingga mereka mampu berinovasi dan berhasil mengajar. Manakah diantara kedua pejabat itu dikatakan berhasil melaksanakan tugasnya?

Guru, kepala sekolah dan pejabat pendidikan yang aktif berinovasi identik dengan mereka yang menggunakan nalar logisnya dalam pengambilan keputusan dalam hal melayani bawahannya. Mereka lebih tahu alasan, ketika melakukan sesuatu daripada hanya menuruti keinginan atasan. Maka mungkin saja suatu saat pemikirannya bertentangan dengan atasannya, dan lebih memilih melayani bawahannya. Kecenderungan mereka yang kritis karena mereka berpikir, membandingkan antara apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi. Atasan melayani bawahan adalah hal yang seharusnya terjadi, sementara atasan yang dilayani bawahan adalah hal yang justru menghambat. Mereka berpikir karena mereka rajin mendengar, membaca dan menganalisis fenomena-fenomena. Hal ini akan lahir dari tradisi budaya baca seseorang yang baik. Maka, budaya membaca melahirkan budaya kritis.

Mari kita hubungkan dengan ranking literasi dan numerasi Indonesia yang menempati peringkat 62 dari 72 negara di atas. Berdasarkan hasil itu kita berasumsi bahwa kemampuan rata-rata guru dan kepala sekolah dalam literasi dan numerasi tidak jauh dari hasil itu. Maka sudah dapat dipastikan, budaya kritis dan analisis kita juga kurang lebih di daerah itu. Maka hal ini akan berdampak pada penerimaan semua kebijakan yang bersifat top down tersebut, yang artinya, pihak pemegang kebijakan sangat mudah dalam mengendalikan arah pendidikan tanpa khawatir ada yang mengkritisi. Inilah yang disebut dengan lingkaran setan. Kebijakan baik lahir dari pemikiran positif, yang diimbangi dengan sikap kritis berdasarkan nalar logis, yang hanya dapat lahir dari kemampuan berliterasi yang tinggi. Kebalikannya, kebijakan tanpa kajian kritis, oleh praktisi yang memiliki daya literasi rendah akan menambah keterpurukan sistem pendidikan. Berdasarkan ilustrasi di atas, maka pencapaian ranking literasi Indonesia yang dari tahun ke tahun stagnan, masuk akal dan logis. 

Kapankah lingkaran itu dapat diputus? Jawabannya adalah ketika semua mau beranjak dan bergerak memposisikan diri dalam ranah kritis dan logis, baik dari pihak pengambil kebijakan demikian pula guru dan kepala sekolah yang juga harus kritis baik terhadap kebijakannya sendiri maupun terhadap kebijakan atasan. Sekali lagi, hal itu mungkin terjadi jika level literasi dan numerasi baik pengambil kebijakan, guru dan kepala sekolah ditingkatkan, bukan semata-mata kewajiban itu dibebankan pada siswa.

Sebagai cermin upaya berpikir kritis tersebut, berikut diilustrasikan beberapa poin yang menurut sudut pandang penulis juga bertanggung jawab dengan stagnannya mutu pendidikan kita. Hal pokok menurut penulis yang menjadi faktor penyebab dari keadaan itu adalah takutnya guru untuk menempatkan nalar logis dan kritisnya dalam rangka menngembangkan inovasi. Inilah alasannya:

  1. Standarisasi yang ketat terhadap proses keluaran yang mungkin baik diterapkan pada bidang yang lain, yang justru membatasi guru dalam mencari ide alternatif dalam upaya melayani peserta didik, yang terkadang dapat keluar dari batasan standar yang ditetapkan.
  2. Loyalitas birokrasi, yang mungkin tepat diterapkan pada kebijakan militer dan birokrasi penyelenggara administrasi, yang justru berdampak pada canggung dan takut dalam mengadakan perubahan, atau perubahan itu hanya boleh jika ada ijin.
  3. Inovasi yang bersifat top down, yang selama ini sering diterapkan, yang menutup upaya guru dalam mengembangkan kreativitas berinovasi berdasarkan konteks kearifan lokal, karena takut disalahkan jika tidak mengikuti program dimaksud
  4. Dinamika politik yang berkembang dalam reposisi guru telah berdampak pada terbatasnya keleluasaan guru dalam mengembangkan ide dan kreativitasnya, karena ketakutan berbeda pendapat dengan yang lain, takut tampil beda dari yang lain, dan takut memiliki pendapat alternatif dalam memajukan pendidikan, yang terkadang dianggap bertentangan dengan arah politik.

Penulis mengulas hal yang sedikit sensitif ini, melalui proses pemikiran yang mendalam, untuk mengumpulkan keberanian yang tersisa, dengan pengemasan bahasa yang santun dan tidak menjustifikasi pihak-pihak karena takut juga terkena delik-delik. Inti dari semua tulisan ini adalah rasa takut. Apakah itu terlalu didramatisir? Silahkan pembaca yang mencermatinya.

Tulisan ini mulai terpikir untuk dikemukakan berawal dari bagaimana sesungguhnya jurang pemisah atau gap antara impian dan harapan. Kita semua bermimpi, semua anak-anak didik kita memiliki kebebasan berinovasi dan berkreatifitas atas dasar pengetahuan yang mereka miliki dan karakter yang melekat padanya. Kita selalu memimpikan agar anak-anak kita kelak menjadi anak baik dan berguna baik bagi diri, keluarga dan masyarakat. Harapan itu selalu membayangi setiap langkah aktivitas kita dalam menunaikan tugas sebagai pendidik. Sementara faktanya, sangat jauh panggang dari api, alias, kesenjangan pikiran kita untuk menemukan keterhubungan antara realita dengan fakta membuat kita menggaruk-garuk kepala.

Link Sekolah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *