PROJECT PENGUATAN KARAKTER PROFIL PELAJAR PANCASILA PADA TAWUR AGUNG KESANGA DAN NYEPI

Kami keluarga besar SD Negeri 7 Subagan 
mengucapkan 
Selamat Merayakan Hari Tawur Kesanga dan Nyepi pada 
Tahun Saka 1944

Latar Belakang Pelaksanaan Program

Learning Loss, merupakan ancaman nyata sebagai akibat dari proses pembelajaran yang tidak optimal dari kegiatan pembelajaran daring untuk mengantisipasi penyebaran wabah Virus Covid-19, yang dari waktu ke waktu terus bermutasi. Perilaku virus yang cepat beradaptasi, sehingga sangat sulit dibasmi sampai beberapa tahun ke depan, karna perilaku tersebut merupakan salah satu sifatnya dalam menjaga keberadannya tetap eksis. Kemampuan virus beradaptasi yang cepat, akhirnya menjadi pelajaran berharga untuk kita di kalangan pendidikan, bahwa kita juga harus beradaptasi guna menyesuaikan diri terhadap perubahan, dengan tujuan untuk menjaga eksistensi mansusia dalam kehidupan.

Menimba dari fakta mutasi virus dalam rangka beradaptasi, maka upaya meminimalkan Learning Loss, juga merupakan bentuk adaptasi yang menjadi landasan dari kebijakan Kurikulum Merdeka, sesuai PP Nomor 4 Tahun 2022 tentang Standar Nasional Pendidikan. Standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan dasar yang diharapkan sesuai PP tesebut yang merupakan perubahan dari PP Nomor 57 Tahun 2021 memuat tiga hal penting yaitu:

    1. Persiapan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia
    2. Penanaman karakter sesuai dengna nilai-nilai Pancasila; dan
    3. Penumbuhan kompetensi literasi dan numerasi Peserta Didik untuk mengikuti pendidikan labih lanjut.

PP tersebut selanjutnya dijabarkan dengan Permendikbudristek No 5 Tahun 2022, tentang Standar Kompetensi Lulusan pada Pendidikan Anak Usia Dini,Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Kompetensi lulusan seperti uraian di atas selanjutnya dirumuskan secara terpadu dalam bentuk deskripsi kompetensi yang terdiri aras:

      1. Mengenal Tuhan yang Maha Esa melalui sifat -sifatnya, memahami ajaran pokok agama/kepercayaan, melaksanakan ibadah dengna bimbingan, bersikap jujur, menunjukkan perilaku hidup sehat dan bersih, menyayangi dirinya, sesama manusia serta alam sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, serta taat pada aturan;
      2. Mengenal dan mengekspresikan identitas diri dan budayanya, mengenal dan menghargai keragaman budaya dan mengklarifikasi prasangka dan setereotip, serta berpartisipasi untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia;
      3. Menujukkan sikap peduli dan perilaku berbagi serta berkolaborasi antar sesama dengan bimbingan di lingkungan sekitar;
      4. Menunjukkan sikap bertanggung jawab sederhana, kemampuan mengelola pikiran dan perasaan, serta tak bergantung pada orang lain dalam pembelajaran dan pengembangan diri;
      5. Menunjukkan kemampuan menyampaikan gagasan, membuat tindakan atau karya kreatif sederhana, dan mencari alternatif tindakan untuk menghadapi tantangan, termasuk melalui kearifan lokal;
      6. Menunjukkan kemampuan menannya, menjelaskan dan menyapaikan kembali informasi yang didapat atau masalah yang dihadapi;
      7. Menunjukkan kemampuan dan kegemaran berliterasi berupa mencari dan menemukan teks, menyampaikan tanggapan atas bacaannya, dan mampu menulis pengalaman dan perasaan sendiri; dan
      8. Menunjukkan kemampuan numerasi dalam bernalar menggunakan konsep, prosedur, fakta dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah yang bekaitan dengan diri dan lingkungan terdekat.

Penjabaran standar kelulusan dan isi sesuai Permendikbudristek No 5 dan 7 Tahun 2022 lebih lanjut di atur dalam Kepmendikbudristek Nomor 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran, untuk mengantisipasi Learning Loss, dengan nama Kurikulum Merdeka. Struktur Kurikulum Merdeka dibagi menjadi dua kegiatan utama, yaitu:

      1. Pembelajaran intrakurikuler, untuk setiap mata pelajaran yang mengacu pada pencapaian pembelajaran;
      2. Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila, ditujukan untuk memperkuat upaya pencapaian Profil Pelajar Pancasila yang langsung mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan.

 

KOMITMEN KELAS OK

Hal yang penting dari prinsip Kurikulum Merdeka adalah upaya mengembangkan karakter yang selaras dengan Profil Pelajar Pancasila dialokasikan 20% setiap tahun. Pelaksanaan project penguatan karakter dilakukan secara fleksibel baik muata maupun waktu pelaksanaannya.

Melihat arah Kurikulum Merdeka seperti dijelaskan di atas, maka perlu suatu upaya dalam rangka memberi kesempatan kepada guru dan siswa untuk memperoleh pengalaman mengerjakan pembelajaran berbasis project, sesuai dengan prinsip pendekatan Project Base Learning. Hal ini sangat penting dilakukan, sehingga guru memiliki kesempatan mencoba lebih awal untuk menemukan pengalaman sendiri dalam menerapkan Project Base Learning, dalam pembelajaran. Melalui upaya eksplorasi topik, strategi, media dan sumber belajar dalam rangka mengimplementasikan Project Base Learning tersebut dapat menjadi ajang refleksi dalam rangka penyempurnaan program itu. Melalui proses menemukan sendiri permasalahan berikut solusinya, maka pemahaman dan skill guru dalam upaya mengimplementasikan Project Base Learning melalui penerapan Project Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila akan semakin matang.

Dalam rangka mewujudkan upaya memberi pengalaman awal dan baru bagi guru dalam penerapan Project Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila dalam pembelajaran, maka di SD Negeri 7 Subagan telah diprogramkan beberapa kegiatan yang menunjang hal itu yaitu:

  1. Merancang RPP secara mandiri sesuai kebutuhan siswa sehingga lebih relevan dengan konteks dan memberi keleluasaan pada guru untuk berkarya
  2. Menyelenggarakan refleksi terhadap pelaksanaan supervisi pembelajaran secara berkelanjutan (Superfleksibel) untuk memastikan terjadinya perbaikan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran
  3. Mendorong guru untuk menyelenggarakan pendekatan Project Base Learning dalam pelaksanaan pembelajaran sehingga menghasilkan proses belajar yang bermakna dan kontekstual, serta produk belajar yang bermanfaat.
  4. Mendorong guru untuk berkolaborasi antar guru kelas dan mapel, untuk mengoptimalkan keselarasan pengembangan implementasi Project Base Learning dalam pembelajaran, sehingga siswa lebih memahami keterkaitan antar materi menuju pemahaman yang lebih bermakna
  5. Menugaskan guru berkolaborasi dengan guru lain untuk mendorong siswa dan orang tua membuat komitmen siswa bersama orang tua dalam menyelenggarakan kegiatan pembiasaan dirumah, sehingga siswa mampu mewujudkan karakter dan skill Abad 21, yang dilaporkan secara harian oleh siswa melalui jurnal.

Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Hakikat pendidikan sesungguhnya adalah bagaimana guru dalam menyelenggarakan pembelajaran dapat menggali bakat dan minat siswa yang didukung perilaku sehingga skill dan karakter siswa berkembang secara utuh dan optimal. Upaya menggali bakat dan minat lebih cenderung dilakukan dengan pendekatan konstruktivisti berbantuan literasi dan mumerasi, sehingga siswa mumpuni dalam hal landasan pengetahuan dan konsep. Sedangkan perilaku cenderung dilakukan dengan pendekatan behavioristik berbantuan kegiatan pembiasaan positif sehingga melahirkan budaya positif.

Skill Abad 21 merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa untuk dapat menghadapi tantangan masa depan yang voletile (tidak stabil), uncernternty (tidak pasti), complex (kompleks dan rumit) dan ambigu (membingungkan) yang disingkat VUCA. Maka siswa akan dapat berkembang adaptif secara optimal harus dibekali ragam hard skill (pengetahuan dan keterampilan) dan soft skill (sikap dan karakter). Upaya guru agar siswa memiliki pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni akan efektif jika siswa belajar menggali apa yang disukainya. Sementara guru, dalam upaya mengoptimalkan tumbuh kembang anak harus menyesuaikan dengan bakat dan minatnya melalui pendekatan pembelajaran berdiferensiasi berbantuan literasi dan numerasi.

Bagaimana seorang yang memiliki minat seni rupa, yang dikembangkan bersinergi dengan pengetahuannya dalam kegiatan literasi dan numerasi, sehingga melahirkan insinyur bangunan yang lebih tertarik dengan bidang desain interior. Ketika berkolaborasi dengan insinyur bangunan lainnya, akan mampu membangun gedung bertingkat dengan desain interior yang memukau, sehingga konsumen lebih tertarik untuk membelinya. Sehingga persaingan merebut hati pelanggan akan lebih berpeluang dari yang lain, yang minim literasi dan numerasi. Peluang bangunan tersebut laku keras adalah ketika mampu memprediksi melalui perhitungan tentang jumlah dan minat pembeli di kawasan itu, yang kesemuanya memerlukan kemampuan literasi dan numerasi yang mumpuni.

Sikap dan karakter sebagai sebuah soft skill akan dapat berkembang optimal melalui kegiatan pembiasaan sehingga menghasilkan budaya positif yang oleh guru lebih dilihat dari sudut pandang pendekatan behavioristik. Karakter yang layak dikembangkan melalui kegiatan pembiasaan agar kelak anak memiliki jiwa tangguh, adalah skill 4 C, yaitu critical thingking, creativity & inovations, colaborations & working group dan communications efectifly yang merupakan skill mendasar yang harus dimiliki anak-anak masa depan. Indonesia, sebagai sebuah bangsa yang memiliki ciri khas tersendiri, sehingga perwujudan skill Abad 21 yang dapat dimiliki sehingga mampu beradaptasi dalam tingkat lokal maupun global tercermin dari sikap dan karakter sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila yaitu bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia, Mandiri, Gotong Royong, Berkebhinekaan Global, Kritis dan Kreatif.

Bagaimana kemudian seorang insinyur dalam bidang desains interior berkontribusi dalam pembangunan sebuah gedung bertingkat dipercaya oleh sesama rekan kerjanya yang memiliki keahlian berbeda. Kepercayaan atau integritas adalah modal dari upaya beradaptasi, sehingga mampu berinergi mengerjakan proyek-proyek besar. Hal ini berpeluang terjadi ketika insinyur tersebut mampu menunjukkan sikap-sikap sesuai Profil Pelajar Pancasila seperti disebutkan di atas. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhkla mulia, merupakan hal mendasar untuk membangun kepercayaan terhadap orang lain dalam konteks Indonesia. Berkeyakinan kepada Tuhan sebagai pencipta sekalian alam sehingga mampu tetap bersyukur dan menempatkan pekerjaan sebagai sebuah ibadah (Muslim) dan Yadnya dalam perspektif Hindu, sehingga semua aktifitas dilakukan secara tulus iklas, berkomitmen dan tuntas. Ahklak mulia menjadi sarat dalam menjalin interaksi dengan pihak lain yang selalu mengedepankan etika dan sopan santun, sesuai konteks baik lokal maupun global. Mandiri merupakan sikap dan karakter mendasar yang menjadi pertimbangan bagi sebuah kepercayaan. Orang yang mandiri, selalu berupaya mengambil inisiatif berkreasi, berinovasi untuk dapat bekerja secara efektif dan efisien, menggunakan skill-skill yang terdapat padanya. Kepercayaan bukan semata-mata karena mandiri, kemampuan berkerjasama yang bersifat gotong royong merupakan unsur kepercayaan berikutnya. Kemampuan berkerjasama dengan mengedepankan semangat kebersamaan, akan menjalin interaksi positif dengan sesama rekan kerja, untuk mengendalikan konflik. Hal ini juga didukung oleh semangat Berkebhinekaan Global yang mampu melihat persamaan dan menghargai perbedaan. Mereka yang memiliki sikap ini cenderung melihat perbedaan sebagai sebuah keragaman yang niscaya harus ada pada setiap dimensi kehidupan manusia di bumi yang harus dihargai. Kritis merupakan wujud dari upaya seseorang mengkonfirmasi solusi atas masalah yang dihadapi, yang mengedepankan penggunaan nalar pikir yang logis dalam mempertimbangkan segala faktor sebagai dasar pengambilan keputusan. Sementara kreatif adalah wujud dari tindakan yang menghasilkan proses dan produk terntentu sebagai solusi dari suatu permasalahan.

Model Project Base Learning merupakan interaksi berbagai strategi dalam menyelesaikan suatu permasalahan sehingga menghasilkan proses nyata dan produk bermakna yang melibatkan siswa secara penuh  untuk mewujudkan karakter dan keperibadian siswa yang tangguh, utuh dan menyeluruh. Dampak nyata yang diharapkan dari pengembangan dan pelaksanaan Model Project Base Learning adalah karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila yang dikemas dan dikembangkan dalam pembelajaran dan kegiatan pembiasaan. Alternatif tindakan yang dilakukan dalam mengimplementasikan kegiatan ini adalah melalui Project Pengembangan Karakter Profil Pelajar Pancasila melalui kegiatan pembiasaan pada siswa. Pada kondisi pembelajaran yang serba dinamis, yang menyesuaikan dengan kondisi wabah Covid-19 ini maka baik pembelajaran dari rumah maupun di sekolah Project Pengembangan Karakter Profil Pelajar Pancasila sangat tepat dilaksanakan.

Strategi Project Base Learning dalam Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila adalah sebagai berikut:

  1. Penyusunan Program Rencana Kerja Kepala Sekolah yang mengintegrasikan Project Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila
  2. Menyusun kesepakatan kerja antara kepala sekolah dengan guru terkait Program Project Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila melalui Komitmen Bersama Kepala Sekolah dan Guru
  3. Guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang memuat tujuan yang mengintegrasikan pembelajaran dengan Project Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila
  4. Guru merancang Lembar Kerja Siswa terkait Project Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila sebagai bentuk penugasan kepada siswa
  5. Siswa dan orang tua membuat komitmen bersama dalam mengimplementasikan program Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila di tingkat keluarga
  6. Guru memantau pelaksanaan komitmen bersama siswa dengan orang tua pada program Project Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila
  7. Orang tua berpartisipasi membimbing anak dalam pelaksanaan program Project Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila
  8. Siswa melaporkan kegiatan Project Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila kepada guru melalui jurnal anak, yang di tandatangani anak setiap hari, dan pengiriman foto dokumentasi (jumlah pengiriman foto/video disesuaikan dengan kondisi anak).
  9. Guru melaporkan pelaksanaan program Project Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila, setiap minggu (paling lambat hari sabtu minggu berjalan)
  10. Kepala sekolah memantau pelaksanaan program Project Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila, minimal seminggu 3 kali.
  11. Kepala sekolah mereview dan memberi masukan Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran yang terintegrasi program Project Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila setiap minggu
  12. Kepala sekolah mensupervisi dan merefleksi pelaksanaan program Project Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila setiap minggu
  13. Kepala sekolah melaporkan hasil supervisi dan refleksi pelaksanaan program Project Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila setiap minggu kepada pengawas pembina

Pelaksanaan program Project Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila, minggu ini bertepatan dengan perayaan Hari Tawur Kesanga dan Nyepi Tahun Saka 1944, telah berjalan. Walaupun belum 100% memenuhi sesuai target, tetapi paling tidak sudah ada perkembangan positif ke arah tersebut. Pada pelaksanaan kegiatan program Project Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila tersebut telah terpantau, guru secara konsisten memotivasi siswa dan orang tua untuk menjalankan komitmen bersama. Guru pada beberapa kesempatan bahkan telah mencontohkan untuk menjadi teladan dalam mengimplementasikan kegiatan positif terkait pelaksanaan komitmen siswa dengan orang tua. Respon positif terhadap kegiatan ini juga telah disampaikan oleh beberapa orang tua, pengawas pembina dan koordinator wilayah Kecamatan Karangasem. Untuk sementara orang tua senang dan tidak ada respon negatif terkait kegiatan ini. Menurut pemikiran penulis, hal ini terjadi karena, kegiatan pembiasaan positif seperti ini yang mereka harapkan selama ini. Kekawatiran orang tua terhadap anaknya yang selama ini banyak sekali disampaikan ke penulis, terkait kecenderungan mereka untuk lebih menggandrungi menggunakan gadget. Semoga kegiatan ini dapat konsisten untuk dillaksanakan, sehingga harapan orang tua untuk menjadikan anak-anaknya berkarakter, dipercaya dan berguna di masa depan tercapai.

Link Sekolah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *