BANK LITERASI DAN KELAS BERBAGI DI SD NEGERI 3 BUDAKELING

Pengantar

Tidak terasa pagi itu telah menunjukkan pukul 09.00, saat waktunya menunaikan tugas sebagai Pengajar Praktik Guru Penggerak. Giliran hari ini saya berkunjung ke SDN 3 Budakeling yang merupakan sebuah sekolah yang berlokasi di Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem Karangasem. Desa Budakeling merupakan desa yang sangat khas yang masih tetap eksis menjaga adat dan budaya Bali. Desa ini merupakan penyangga kebudayaan Bali yang dari dulu hingga kini tetap menjaga kesusastraan Bali. Budakeling merupakan desa tempat lahirnya pujangga-pujangga Karangasem yang hingga saat ini tetap melestarikan budaya dan kesusastraan Bali.

Ketika datang di sekolah tersebut saya disambut oleh Kepala SD Negeri 3 Budakeling, I Wayan Darta, yang didampingi Calon Guru Penggerak I Wayan Surata. Suasana sekolah yang tetap hening, semenjak saya berkunjung pertama kali pada pendampingan perdana. Hal ini karena sekolah masih melaksanakan pembelajaran jarak jauh. “Situasi Pandemi Covid 19 ini membuat kami harus memutar otak menyelenggarakan pembelajaran dengan strategi PJJ, mengingat keterbatasan kepemilikan gadget dan kondisi jaringan yang tidak baik, memaksa para guru di sini melaksanakan kunjungan rumah” Ujar Pak Wayan Darta sambil mempersilahkan saya memasuki ruangan kantor kepala sekolah. Saya kemudian dipersilahkan duduk yang juga dihadiri oleh teman sejawat CGP atas nama I Gusti Gede Ariana.

Setelah mengawali pembicaraan, beberapa saat kemudian beberapa guru menyajikan dan mempersilahkan saya menikmati minuman. Pembicaraan awal dibuka oleh kepala sekolah, untuk mempertegas kembali komitmen dan harapan besarnya untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan di SD Negeri 3 Budakeling, melalui perjuangan bersama guru-guru terutama terhadap Bapak I Wayan Surata. Pembicaraan kemudian beralih ke CGP untuk mengkonfirmasi beberapa hal terkait aktifitas belajarnya dalam program Guru Penggerak.

Review Pembelajaran

Proses pembelajaran yang telah dilakukan CGP telah mengalami perubahan yang signifikan, terutama dalam upaya menerapkan prinsip ajaran filosofi Ki Hajar Dewantara. Hal ini diwujudkan dengan penerapan aksi nyata, dari prinsip-prinsip tersebut, yang menurut CGP telah banyak mengubah jalan pikirannya terkait proses pembelajaran yang memerdekakan. Tahapan kegiatan yang dilakukan mulai dari membuat perencanaan dengan selalu berkoordinasi dengan kepala sekolah, berkolaborasi dengan teman sejawat serta melihat potensi yang dimiliki oleh sekolah sebagai kekuatan untuk mewujudkan perubahan. Perubahan dimaksud adalah dengan merancang kegiatan pembelajaran yang berpihak pada murid, menyediakan media pembelajaran yang menarik minat murid dalam belajar serta penguatan pendidikan karakter anak disekolah.

Hal yang diterapkan dalam pembelajaran dalam rangka mengimplementasikan  Visi Murid Impian untuk Mewujudkan siswa yang literat cerdas berkarakter sesuai Profil Pelajar Pancasila dan Merdeka Belajar” melalui kegiatan Bank Literasi dan Kelas Berbagi (https://youtu.be/3umH-x9FDqM). Aksi nyata lain yang telah terdokumentasi adalah Upaya Melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid dan menguatkan Pendidikan karakter pada diri anak. (https://youtu.be/vnxZLzh0K7U) dan Menerapkan Budaya positif “ANAK DESA” dalam kegiatan pembelajaran tatap muka disekolah. (https://youtu.be/jUtjfyakii8). Dalam kegiatan belajar dan penugasan ruang kolaborasi, murid dituntun membentuk kelompok belajar sesuai dengan nilai dari Pendidikan Karakter yakni Kelompok Nasionalis, Religius, Mandiri, Gotong royong, Integritas dan Kreatif.

Hal yang menjadi tidak lanjut dari apa yang telah direncanakan sebelumnya adalah pada pembelajaran tatap muka, dimana CGP akan lebih mengoptimalkan peran serta/keterlibatan murid dalam pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran yang menarik minat anak dalam belajar. Dimana sebelumnya di masa PJJ anak kurang mendapat perhatian langsung dari guru.

Capaian apa yang diperoleh selama satu bulan terakhir adalah 1) Keaktifan anak dalam belajar meningkat, ini dibuktikan dengan keterlibatan anak dalam pembelajaran baik dalam penugasan individu maupun kelompok; 2) Sikap disiplin anak terhadap waktu dan munculnya karakter baik pada diri anak. Ini dibuktikan pada saat anak masih PJJ disiplin anak sangat kurang namun ketika sudah belajar tatap muka di sekolah satu bulan terakhir ini, anak menjadi lebih terkontrol dan menghargai diri, sesama dan lingkungannya; 3) Kebiasaan/budaya baik anak khususnya budaya baca anak meningkat, dibuktikan dengan keterlibatan anak dalam kegiatan literasi sekolah yang dulunya minim sekarang mulai membudaya. (melalui program (BANK LITERASI dan KELAS BERBAGI).

Sayang sekali capaian itu harus tertahan oleh karena Pandemi Covid 19 Varian Omicron kembali meledak. Hal ini menjadi penyebab pemerintah yang mengutamakan kesehatan warga sekolah kembali melakukan pembelajaran jarak jauh.

Umpan Balik Kepala Sekolah

Kepala sekolah sebagai pihak yang sesungguhnya paling berkepentingan untuk mewujudkan visi guru penggerak dalam rangka menggerakan proses pendidikan di SD Negeri 3 Budakeling telah mengkonfirmasi sejumlah aktifitas CGP sebagai berikut:  1) Modul 1.1 Filosofi Pendidikan KHD, dimana guru telah melakukan aksi nyata melalui inovasi pembelajaran di masa pandemi dengan pemanfaatan media daring seperti WAG, Google Class Room, dan melalui video pembelajaran di youtube. Bagi anak yang tidak bisa tergabung dalam pembelajaran daring maka guru memberikan bahan ajar berupa buku pelajaran dan lembar kegiatan peserta didik. Serta melakukan sistem kunjungan rumah; 2) Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak dimana CGP telah melakukan Aksi nyata yang menyesuaikan kebijakan PTM dan PJJ.  CGP kami melakukan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan IT sebagai media ajar, mengkombinasikan daring dan luring. Hal tersebut tentu sesuai dengan salah satu nilai dari guru penggerak yakni nilai inovatif dan kemandirian; 3) Sementara pada Modul 1.3 Visi Guru Penggerak CGP telah melakukan aksi nyata untuk mewujudkan murid literat cerdas berkarakter sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila dan merdeka belajar. Melalui kegiatan Budaya Literasi Sekolah, Bank Literasi dan Kelas Berbagi; 4) Terakhir adalah Modul 1.4 Budaya Positif, dengan aksi nyata membangun budaya positif, “ANAK DESA”( A = ber AKHLAK MULIA, N = ber NALAR KRITIS, A = AKTIF   K = KREATIF ,  D = DISIPLIN , E = EMPATI , S = SENYUM SAPA SALAM,  A = ADAFTIF ) sebagai kesepakatan yang dibuat oleh siswa itu sendiri dipandu oleh guru, untuk mewujudkan siswa yang cerdas berkarakter. Membumikan budaya literasi dengan program Bank Berbagi dan Kelas Berbagi.

Saya sebagai Pengajar Praktik kemudian mengkonfirmasi terkait proses pembelajaran yang dilakukan CGP, yang dijawab oleh kepala sekolah, “Sepanjang pengetahuan saya sebagai kepala sekolah dan melalui kegiatan kunjungan kelas, perubahan dalam proses belajar khusunya di kelas yang diampu oleh CGP sudah mulai terlihat”. Kepala sekolah kemudian menjelaskan hasil pantauannya ke kelas dimana beliau menemukan CGP telah berhasil menciptakan situasi belajar di kelas yang aktif, kreatif menarik dan melatih anak dalam berpikir kritis terutama pada sesi kegiatan diskusi kelompok. Disamping itu CGP dalam pembelajaran juga menggunakan media IT yang tentu akan membuat suasana belajar lebih menarik bagi anak.

Menurut Kepala Sekolah, hal-hal apa yang perlu ditingkatkan dari Calon Guru Penggerak, adalah kontinyuitas dan kesinambungan program kegiatan karena hal yang sudah baik harus tetap dilaksanakan dan yang masih kurang perlu ditingkatkan. Hal terpenting adalah melaksanakan kegiatan tersebut secara berkesinambungan, tidak selesai pada kurun waktu tertentu saja.

 

Umpan Balik Teman Sejawat

Saya sebagai Pengajar Praktik juga mendengar pendapat dan tanggapan dari teman sejawat yang kurang lebih menyampaikan hal yang sama. Pak Gusti Gede Ariana menyampaikan, “Saya sebagai teman sejawat saudara I Wayan Surata, telah melihat kegiatan aksi nyata selama mengikuti Program Guru Penggerak sangat baik dan positif. Artinya kegiatan aksi nyata yang sudah dilakukan terutama pada kegiatan pembelajaran tatap muka selama ini telah mampu merangsang kembali minat belajar anak yang selama Pandemi Covid-19 belajar di rumah mengalami kemunduran. Hal positif dari kegiatan aksi nyata tersebut adalah kegiatan Bank Literasi Sekolah, Budaya Positif dan Kelas Berbagi. Pada aspek penguatan karakter aksi nyata yang sudah baik adalah dengan membuat kesepakatan kelas sebagai pedoman berinteraksi dalam pembelajaran juga sebagai panduan penguatan karakter anak”.

Beliau menambahkan, “Sepanjang pengetahuan dan pengamatan saya selaku teman sejawat dari Bapak Wayan Surata khususnya pada proses pembelajaran selama ini sudah ada perubahan khusus pada aspek sikap anak mulai disiplin, kemudian mampu menarik perhatian, memunculkan ketertarikan dan motivasi belajar anak. Hal ini terlihat karena teman sejawat saya seringkali melaksanakan pembelajaran yang bervariasi baik dari media yang digunakan ataupun strategi pembelajaran. Anak merasa tertarik dan tertantang untuk mengikutinya”.

Saya kemudian mengajukan pertanyaan, “Apakah Saudara mendapatkan inspirasi dan motivasi dari aksi nyata yang dilakukan CGP di sekolah?” yang ditanggapi langsung oleh Pak Gusti Gede Ariana, “Apa yang sudah baik sebagai wujud aksi nyata dan telah dilakukan berdampak positif bagi anak tentu menginspirasi saya dan teman yang lain untuk selanjutnya bisa diterapkan di kelas yang kami ampu”, pungkasnya.

Umpan Balik Siswa

Selama perbincangan di ruangan kantor kepala sekolah, saya mendapatkan beberap hal positif terkait antusias dari kepala sekolah dan teman sejawat, dalam menanggapi beberapa pertanyaan yang saya ajukan. Nampak sekali hal ini sangat positif, yang sekaligus mencerminkan komitmen kepala sekolah dan teman sejawat dalam mendukung CGP dalam upaya terus belajar mengembangkan skillnya sebagai guru berdasarkan sudut pandang Program Guru Penggerak. Saya selanjutnya ingin tahu lebih jauh, perkembangan CGP dari perspektif siswa. Kemudian saya diajak ke sebuah ruangan kelas, dimana siswa di sana telah menunggu. Mereka sengaja dihadirkan dalam rangka memberikan responnya terhadap Program Guru Penggerak, dimana gurunya sendiri terlibat di dalamnya.

Pertanyaan pertama yang saya ajukan adalah, “Bagaimana guru kalian memosisikan diri ketika pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan? Awalnya siswa agak canggung, tetapi berkat motivasi dan ilustrasi yang saya berikan, untuk lebih memberikan pemahaman kepada siswa terkait pertanyaan yang saya ajukan, secara perlahan tapi pasti, anak melakukan konfirmasi. “Ketika belajar di kelas saya selalu diperhatikan, guru memberikan kebebasan untuk bertanya dan saya merasa senang karena guru mengajar kami dengan sabar dan menggunakan media video pembelajaran di youtube. Kalau di luar kelas kami sering diajak belajar di halaman sekolah ataupun di perpustakaan sekolah,” kata siswa.

Selanjutnya saya kembali mengajukan pertanyaan terkait perasaan siswa dengan guru pada proses pembelajaran di kelas. Siswa mengatakan bahwa dalam belajar kami selalu didampingi terutama kalau ada kesulitan atau masalah, “Saya belajar dengan senang tidak takut dan merasa tertantang terutama saat belajar di kelompok, Saya merasakan perubahan kalau sebelumnya ketika ada kesulitan saya kurang dibina tapi sekarang saya sering diperhatikan. Hal yang sama juga pada teman teman saya yang lain”, kata seorang siswa yang telah memperkenalkan dirinya bernama Pande Made Adi Wirawan.

Salah seorang siswa yang lain, yang bernama Ida Bagus Tito Pradnya Kencana, menjelaskan bahwa guru telah memberikan saya kebebasan membuat kesepakatan kelas, kebebasan dalam belajar, memberikan pelajaran dengan menggunakan media yang menarik bagi. “Kami merasa senang dan merasa diperhatikan oleh guru”, terangnya.

Hal senada yang disampaikan Ni Kadek Cintya Atmi Windayani, dengan malu-malu mengatakan “Perasaan saya sangat senang sekali karena guru kami sangat memperhatikan kami, menuntun kami belajar dengan sabar, menyajikan pelajaran yang menarik bagi kami”. Dia menambahkan, Saya berharap guru kami akan terus memberikan kami pelajaran yang menarik dan menyenangkan”.

Wawancara dengan CGP

Suasana kelas yang nyaman yang diperkaya dengan pernak-literasi, dapat saya bayangkan, jika saja ini tatap muka, dapat dipastikan, siswa sangat senang dalam belajar. Ditambah lagi, guru yang memiliki komitmen menyelenggarakan pembelajaran yang menyenangkan, dibawah pembimbingan Program Guru Penggerak yang berkesinambungan, maka ke depan, peningkatan mutu pendidikan bukan isapan jempol lagi. Sambil meninggalkan ruangan kelas, saya kembali bergabung dengan CGP, Kepala Sekolah dan Guru Teman Sejawat untuk mengajukan sejumlah pertanyaan kembali.

Saat ini, saya ingin mengetahui perasaan CGP setelah mendapatkan umpan balik dari teman sejawat. Saya mengajukan pertanyaan, “Apa pendapat rekan sejawat ketika Bapak/ Ibu meminta umpan balik mengenai praktik pembelajaran Bapak/ Ibu di kelas?” Pendapat dari teman sejawat tentang praktik pembelajaran yang saya lakukan di kelas adalah rata-rata semua teman sejawat merespon positif. Karena kegiatan pembelajaran yang saya lakukan setelah mendapat teori dalam program Pendidikan Guru Penggerak dan saya mencoba menerapaknnya di kelas, menurut mereka menarik bagi anak dapat memotivasi semangat belajar anak.

Pertanyaan berikutnya adalah “Bagaimana Bapak/ Ibu meminta umpan balik kepada rekan sejawat?” Pendapat CGP dalam upaya mendapatkan umpan balik adalah secara langsung yaitu dengan meminta pendapat masukan setelah melihat praktik pembelajaran yang dilakukan. Secara tidak langsung dengan cara memberikan tautan atau link youtube yang dishare di group WA sekolah yang berisi kegiatan pembelajaran anak di kelas.

Lanjut ke pertanyaan berikutnya, “Adakah tantangan yang Bapak/ Ibu hadapi dalam meminta umpan balik tersebut?” CGP menanggapi bahwa terdapat tantangan kecil adalah ketika share link pembelajaran, hasil karya anak-anak, materi yang saya terima di PGP yang coba dipraktekan di kelas, namun teman sejawat kurang merespons atau tidak membaca secara utuh. Sehingga ada kegiatan yang dilakukan kurang mendapat respons dan tidak tersambungkan dengan kelas yang lain.

Selanjutnya, “Bagaimana perasaan Bapak/ Ibu ketika mendapatkan umpan balik tersebut? CGP menyampaikan perasaannya ketika mendapat umpan balik positif dari teman sejawat adalah bersyukur karena apa yang lakukan sekiranya bermanfaat bagi orang lain. Namun demikian CGP menyatakan akan terus belajar dan berusaha meningkatkan kemampuan sehingga kegiatan pembelajaran dapat maksimal. Selain itu umpan balik dari teman yang perlu ada perbaikan ditindak lanjuti sebagai bahan evaluasi kearah yang lebih baik.

Terakhir saya sebagai Pengajar Praktik mengajukan pertanyaan, “Bagaimana Bapak/Ibu merespons umpan balik yang Bapak/Ibu terima dari rekan sejawat?  CGP menyatakan bahwa respon terhadap umpan balik dari teman sejawat dengan cara menyampaikan terimakasih, karena telah membantunya untuk membuat proses pembelajaran berikutnya lebih baik lagi.

Umpan Balik Siswa

Selain respon CGP terhadap umpan balik guru teman sejawat, saya sebagai pengajar praktik juga menanyakan respon CGP terhadap umpan balik yang diberikan oleh siswa. Sesuai Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara maka saya sebagai guru memposisikan diri sebagai penuntun bagi anak. Melayani kebutuhan belajar anak sesuai dengan kodratnya dan kodrat zaman. Kemudian menghamba kepada anak artinya menjadikan anak sebagai pusat dalam belajar dimana guru sebagai panutan dan fasilitator dalam membantu kesulitan belajar anak.

Ketika CGP ditanyai terkait perubahan apa yang Bapak/Ibu CGP rasakan dalam hal interaksi dengan siswa, guru menegaskan bahwa sikap hormat, disiplin, rasa percaya diri serta partisipasi anak dalam kegiatan belajar semakin aktif. Anak mulai berani mengajukan ide dan pendapatnya dalam diskusi kelompok. Tidak merasa tertekan ataupun merasa takut salah untuk memulai suatu kegiatan.

Ketika saya sebagai pengajar praktik menanyakan usaha apa  saja upaya yang sudah Bapak/Ibu CGP lakukan untuk mengembangkan cipta, rasa dan karsa dari siswa, guru menanggapi, “Upaya yang sudah saya lakukan untuk mengembangkan cipta, rasa dan karsa dari murid adalah melalui pembelajaran secara teori dengan memberikan praktek secara langsung sehingga anak akan termotivasi dari ide gagasan, perasaan dan tindakan menjadi selaras”.

Pertanyaan berikutnya, “Bagaimana respon murid Bapak/ Ibu ketika Bapak/ Ibu meminta pendapat atau umpan balik mereka terkait proses pembelajaran dan pengajaran yang dilakukan? Termasuk perubahan yang sudah Bapak/ Ibu lakukan sesuai pemikiran Ki Hadjar Dewantara bulan lalu?”. Guru menanggapi, “Ketika Proses pembelajaran yang saya sajikan atraktif maka seringkali anak-anak spontanitas merespons dengan kata “Besok lagi pak” maksunya mereka ingin besoknya saya menyajikan pembelajaran yang bermakna bagi mereka. Sebagian besar murid saya di kelas 4 dengan jumlah 39 orang menyampaikan perasaan gembira, senang dengan cara, strategi pembelajaran yang sudah saya lakukan. Mereka merasa diperhatikan, mendapat kebebasan dalam berkarya serta kondisi kelas yang aman dan nyaman membuat mereka betah untuk belajar. Dalam pembelajaran juga tidak selalu di kelas kadangkala anak diajak di perpustakaan dan halaman/lingkungan sekolah sehingga anak tidak bosan”.

Pertanyaan selanjutnya, “Bagaimana perasaan dan apa yang ada dalam pikiran Bapak/Ibu mendapatkan umpan balik dari murid Bapak/Ibu?” Guru menanggapi, “Setelah mendapat umpan balik dari anak, saya merasa senang dan termotivasi lagi untuk berbuat yang terbaik sehingga dalam pembelajaran anak didik betul-betul merdeka belajar”. Terus saya melanjutkan pertanyaan, “Bagaimana Bapak/Ibu CGP merespons umpan balik dari murid Bapak/ Ibu?” Guru menjelaskan bahwa caranya  merespon umpan balik dari anak  adalah dengan memberikan penguatan dan menyampaikan ucapan terimakasih. Apa yang sudah baik mari kita jaga dan tingkatkan lagi. Yang masih kurang kita perbaiki, karena belajar itu adalah proses mencari pencerahan ilmu yang membutuhkan waktu dan kesabaran.

Guru menjelaskan bahwa yang menjadi fokus tindak lanjut dari umpan balik yang diberikan oleh siswa kelas 4 adalah menciptakan kondisi belajar di kelas yang semakin menarik dan lebih banyak memberikan tugas aksi nyata pada murid sehingga murid akan lebih kreatif, disampaikannya ketika saya bertanya terkait tindak lanjut guru setalah mendapat umpan balik dari siswa.

 

Wawancara dengan CGP

Pada kesempatan berikutnya, saya melanjutkan meminta tanggapan teman sejawat ketika dimintai umpan balik terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan CGP.  Pertanyaan pertama yang saya ajukan adalah: 1) “Apa pendapat rekan sejawat ketika Bapak/ Ibu meminta umpan balik mengenai praktik pembelajaran Bapak/ Ibu di kelas?”, CGP menjawab, “Pendapat dari teman sejawat tentang praktik pembelajaran yang saya lakukan di kelas adalah rata-rata semua teman sejawat merespon positif. Karena kegiatan pembelajaran yang saya lakukan setelah mendapat teori dalam program Pendidikan Guru Penggerak dan saya mencoba menerapaknnya di kelas, menurut mereka menarik bagi anak dapat memotivasi semangat belajar anak”; 2) “Bagaimana Bapak/Ibu meminta umpan balik kepada rekan sejawat?” CGP menjawab, “        Saya meminta umpan balik kepada teman sejawat secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung yaitu dengan meminta pendapat masukan setelah melihat praktik pembelajaran yang saya lakukan. Secara tidak langsung dengan cara memberikan tautan atau link youtube yang saya share di group WA sekolah yang berisi kegiatan pembelajaran anak di kelas”.

Sambil menikmati suguhan yang diajikan guru di SD Negeri 3 Budakeling saya melanjutkan pertanyaan ke 3) “Adakah tantangan yang Bapak/ Ibu hadapi dalam meminta umpan balik tersebut?” CGP menanggapi, “Tantangan kecil yang saya hadapi adalah ketika saya share link pembelajaran, hasil karya anak-anak, materi yang saya terima di PGP yang coba saya praktekan di kelas, namun teman sejawat kurang merespons atau tidak membaca secara utuh. Sehingga ada kegiatan yang saya lakukan kurang mendapat respons dan tidak tersambungkan dengan kelas yang lain.  Tidak puas dengan jawaban itu, saya mengejar dengan pertanyaan berikut, 4) “Bagaimana perasaan Bapak/Ibu ketika mendapatkan umpan balik tersebut?” Guru menjelaskan perasaannya bahwa ketika mendapat umpan balik positif dari teman sejawat adalah  bersyukur karena yang dilakukan kiranya bermanfaat bagi orang lain. Namun demikian GGP menyampaikan akan selalu belajar dan berusaha meningkatkan kemampuan sehingga kegiatan pembelajaran dapat maksimal. Selain itu umpan balik dari teman yang perlu ada perbaikan akan ditindak lanjuti sebagai bahan evaluasi ke arah yang lebih baik. 5) Terakhir saya menanyakan, “Bagaimana Bapak/Ibu merespons umpan balik yang Bapak/ Ibu terima dari rekan sejawat?” yang dijawab singkat oleh CGP, “Saya merespon umpan balik dari teman sejawat dengan cara mengucapkan terimakasih karena telah menyampaikan hal-hal yang membuat saya lebih tergerak lagi untuk berbuat yang lebih baik lagi.

Refleksi Pendampingan

pada akhir kegiatan maka dilakukan refleksi pendampingan terhadap CGP, dimana beliau menjelaskan bahwa berdasarkan Filosofi Pendidikan Kihajar Dewantara guru harus memposisikan diri sebagai penuntun bagi anak, melayani kebutuhan belajar anak sesuai dengan kodratnya sebagai anak dan kodrat alam berikut zamannya. Memposisikan diri menghamba pada anak bukan berarti menempatkan diri kita menjadi tidak terhormat, tetapi lebih kepada pelayanan belajar dimana guru mengabdikan sepenuhnya jiwa dan raganya untuk menjadi penuntun, panutan dan fasilitator dalam membantu kesulitan belajar anak dalam situasi pembelajaran yang menyenangkan.

Berlandaskan atas pemahaman hal tersebut, dalam interaksi dengan anak perubahan yang paling mendasar adalah sikap hormat, desiplin, rasa percaya diri serta partisifasi anak dalam kegiatan belajar semakin aktif. Anak mulai berani mengajukan ide dan pendapatnya dalam diskusi kelompok. Tidak merasa tertekan ataupun merasa takut salah untuk memulai suatu kegiatan.

Selain itu upaya mengembangkan cita, rasa dan karsa siswa dilakukan melalui kegiatan pembelajaran memberikan praktek secara langsung sehingga anak akan termotivasi dari ide gagasan, perasaan beserta tingkah lakunya. Ketika Proses pembelajaran yang disajikan atraktif maka seringkali anak-anak spontanitas merespons dengan kata “Besok lagi pak” maksudnya mereka ingin besoknya saya menyajikan pembelajaran yang bermakna bagi mereka. Sebagian besar murid di kelas 4 dengan jumlah 39 orang menyampaikan perasaan gembira, senang dengan cara, strategi pembelajaran yang sudah saya lakukan. Mereka merasa diperhatikan, mendapat kebebasan dalam berkarya serta kondisi kelas yang aman dan nyaman membuat mereka betah untuk belajar.  Dalam pembelajaran juga tidak selalu di kelas kadangkala anak diajak di perpustakaan dan halaman/lingkungan sekolah sehingga anak tidak bosan.

Upaya mendapat umpan balik sangat penting dilakukan dalam rangka mengoptimalkan motivasi diri untuk berbuat yang terbaik sehingga dalam pembelajaran anak didik betul-betul merdeka belajar. Strategi lain dalam rangka refleksi diri adalah megupayakan respon terhadap umpan balik dari anak  adalah dengan memberikan penguatan dan menyampaikan ucapan terimakasih. Apa yang sudah baik mari kita jaga dan tingkatkan lagi. Yang masih kurang kita perbaiki, karena belajar itu adalah proses mencari pencerahan ilmu yang membutuhkan waktu dan kesabaran.

Umpan balik yang diperoleh selanjutnya menjadi fokus tindak lanjut yang diberikan kepada siswa kelas 4 adalah dengan menciptakan kondisi belajar di kelas yang semakin menarik dan lebih banyak memberikan tugas aksi nyata pada murid sehingga murid akan lebih kreatif.

3 thoughts on “BANK LITERASI DAN KELAS BERBAGI DI SD NEGERI 3 BUDAKELING”

  1. Paradigma Baru dalam pendidikan yang dikolaborasikan di CGP memberikan langkah cerdas untuk kemajuan pendidikan itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *