HABIS TRAUMA CGP BANGKIT LAGI

Pendampingan Guru Penggerak di SDN 2 Pertima

Program Guru Penggerak merupakan upaya mencari potensi pendidik dalam hal ini guru, untuk dipupuk dan dikembangkan sehingga mampu meggerakkan sistem pendidikan ke arah kemajuan. Bagaimana jadinya jika terdapat guru penggerak yang berpotensi, tetapi justru mengalami beban pengalaman traumatis terhadap sistem ?  Apa jadinya jika harapan besar untuk menggerakkan dan meringankan sistem justru menjadi beban sistem? Uraian berikut adalah pengalaman Pengajar Praktik dalam melakukan coaching terhadap salah satu Calon Guru Penggerak di Kabupaten Karangasem.

Sebagai Pengajar Praktik saya ditugaskan untuk memberikan bimbingan kepada Calon Guru Penggerak dalam format coaching. Hari itu giliran saya berkunjung ke salah satu CGP yang bernama Ngurah Dwika. Karena kesalah pahaman maka jadwal bertemu beliau dibatalkan maka hari itu juga saya mengubah jadwal kegiatan untuk bertemu CGP lain yang bernama Ni Luh Sumarliani, yang merupakan salah satu guru yang bertugas di TK Negeri Pembina Karangsem. Sebelumnya saya juga sudah mengunjungi salah satu CGP untuk mmemberi pendampingan belajar yang bertugas di SD Negeri 1 Tegallinggah atas nama Ni Putu Tustiana Dewi.

Penjadwalan ulang kunjungan kepada CGP atas nama I Ngurah Dwika Atmaja baru akan dilaksanakan pada Hari Senin 7 Pebruari 2022. Tetapi kunjungan tersebut terpaksa dibatalkan lagi karena yang bersangkutan sedang sakit. Sehingga jadwal kunjungan saya arahkan ke SMA 2 Amlapura atas nama Ibu Ni Made Dewi Radesi. Setelah menuntaskan kunjungan ke SMA 2 saya kemudian mendapat konfirmasi dari Fasilitator Guru Penggerak yaitu Ibu Mintarsih untuk meneruskan pesan kepada Bapak I Ngurah Dwika untuk menuntaskan tugas yang telah diagendakan kepada CGP.

Mengetahui keadaan CGP (I Ngurah Dwika Kusuma Atmaja) yang sedang sakit kemudian saya berinisiatif berkunjung ke rumahnya, tetapi rumahnya sedang dalam keadaan kosong. Pesan dari fasilitator yang hendak saya sampaikan kepada CGP selanjutnya saya sampaikan kepada kepala sekolah SD Negeri 2 Pertima atas nama I Gusti Bagus Agung Yuniantara atau akrab di sapa Pak Agung.  Beliau kemudian berjanji untuk meneruskan pesan Ibu Mintarsih kepada CGP. Beberapa point pesan tersebut adalah terkait masukan dan saran untuk lebih optimal lagi dalam berpartisipasi ketika program CGP dilaksananakan.

Pagi itu Rabu, 9 Pebruari 2022, saya berkunjung ke sekolah tempat CGP  (I Ngurah Dwika Kusuma Atmaja) yang bertugas di SD Negeri 2 Pertima. Saya tiba di lokasi sekitar Pulul 09.00, dimana di lokasi sudah nampak Kepala SD Negeri 2 Pertima menyambut saya dan mempersilahkan masuk ke ruangan kantornya untuk bergabung dengan beberapa guru yang nampak sedang mengelola pembelajaran online. Seperti diketahui bersama bahwa saat ini semua sekolah di Bali pembelajaran kembali dilaksanakan dengan moda pembelajaran jarak jauh.

Selanjutnya saya mengambil posisi duduk seperti dipersilahkan oleh salah seorang guru di sekolah tersebut. Ngurah sesuai nama panggilan CGP tersebut, selanjutnya membuka percakapan tentang permakluman keadaan beliau yang sedang sakit. Beliau menjelaskan bahwa sakit yang dideritanya adalah sekedar tekanan darah yang turun sehingga beliau jatuh di kamar mandi. Setelah saya komentari keadaan beliau saat ini, menurutnya tidak perlu ada yang dikawatirkan, “Sekarang saya sudah mendingan, dan sudah diperiksa dokter”. Kembali saya menekankan kesediaannya untuk saya dampingi dan beliau menyatakan bersedia untuk itu.

Kegiatan dilanjutkan dengan mencari informasi terkait dengan capaian belajar siswa setelah guru atas nama Ngurah Dwika mengkuti program guru penggerak. Sebelum saya menghampiri siswa yang sudah menunggu untuk di wawancara, salah seorang guru menyajikan minuman. Tetapi karena saya keburu melangkah ke dalam kelas, saya mengatakan, “Sebentar lagi bu, nanti sehabis saya bertemu siswa saya minum”, sambil saya melangkah menuju ruangan kelas dimana telah ditunggu oleh tiga orang siswa yang bernama masing-masing yaitu Bismantara, Thika Whelani dan Asti. Setelah berkenalan dan bercakap-cakap terkait instrumen yang saya bawa, sebagian besar tanggapan mereka sangat positif terkait kesan mereka setelah didampingi oleh guru yang mengikuti Program Guru penggerak.

 

Sesuai dengan keterangan siswa, bahwa guru telah berhasil memposisikan siswa sebagai subjek pembelajaran. Guru telah mampu mengaktifkan proses pembelajaran, dimana guru telah mampu menghadirkan pembelajaran yang bukan hanya berorientasi ceramah tetapi lebih kepada kegiatan positif berupa penugasan dan aktifitas yang menyenangkan. Siswa sangat merasakaan perubahan cara guru dalam mengajar yang dulunya hanya monoton dan suka memberikan tugas lalu meninggalkan kelas, sekarang lebih aktif untuk membimbing, memfasilitasi dan mendampingi siswa ketika mengalami kesulitan belajar. Siswa sangat berharap guru mampu melaksanakan pembelajaran seperti yang beberapa waktu ini sempat mereka rasakan.

Sementara guru teman sejawat I Ngurah Dwika atas nama Ni Wayan Suratni merasakan sangat beruntung dengan keberadaan Ngurah Dwika mengikuti kegiatan Guru Penggerak, karena beberapa kali telah berbagi terkait bagaimana cara membuat media pembelajaran. Ni Wayan Suratni juga mengatakan bahwa, menurut pengamatannya siswa kelas V telah aktif dan senang dalam belajar. Ni Wayan Suratni juga menyampaikan sangat terinspirasi dengan hal yang dilakukan Ngurah Dwika dalam pengelolaan pembelajaran di sekolah. “Hal ini telah memotivasi saya untuk mengubah cara mengajar selama ini, karena terinspirasi oleh Pak Ngurah Dwika”, Ujarnya. Ngurah Dwika juga melalui Aksi Nyatanya telah berhasil mengajak rekan-rekannya dalam membuat media pembelajaran dalam upaya mewujudkan nilai dan perannya sebagai guru penggerak. Hal lain yang menarik juga terkait aksi nyata yang telah dibuatnya adalah terkait strategi megibung yang pernah beliau terapkan dalam pembelajaran.

Demikian halnya dengan tanggapan Bapak Kepala Sekolah kurang lebih menyatakan hal yang sama terkait praktik aksi nyata yang dilakukan Pak Ngurah Dwika. Demikian juga terkait perubahan pemikiran dan mind set yang terjadi pada guru telah nampak dari sebelumnya. Perubahan dimaksud adalah dalam mengubah cara mengajar yang dulunya siswa sering ditinggal oleh guru sekarang lebih perhatian kepada siswa. Guru telah melakukan pendampingan, pembimbingan dan fasilitasi kepada siswa. Kepala sekolah menyampaikan bahwa hal yang perlu ditingkatkan dari guru adalah bagaimana guru lebih fokus untuk melaksanakan tugas-tugas mengajarnya di sekolah. Terutama tentang bagaimana keikutsertaan dalam Program Guru Penggerak agar lebih serius dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.

Ketika mendengar penjelasan dari kepala sekolah kemudian saya teringat tentang bagaimana kesan dari Fasilitator Guru Penggerak yang juga menyampaikan hal yang sama. Bahwa ada yang perlu ditingkatkan dari partisipasi Ngurah Dwika dalam kegiatannya mengikuti pelatihan Guru Penggerak. Saya kemudian tergerak untuk mengkonfirmasi informasi tersebut kepada yang bersangkutan. Selanjutnya saya diajak duduk sambil menikmati sisa minuman kopi yang masih tersisa sambil bercakap-cakap dengan Ngurah Dwika lanjut mengadakan coaching. Saat itu saya berpikir untuk mengubah strategi coaching, karena sepertinya situasi yang saya hadapi ini berbeda.

Saya telah berpikir, dari sekian kali penjadwalan yang batal pada saat pendampingan hingga mendengar Ngurah Dwika jatuh di kamar mandi, membuat perasaan saya ingin menggali lebih jauh terkait apa sesungguhnya yang terjadi pada sosok guru tersebut. Saya mencoba mengalihkan percakapan santai untuk lebih serius untuk mendorong guru menceritakan apa sesungguhnya yang terjadi pada yang bersangkutan sehingga terdapat kesan upayanya dalam mengikuti Program Guru Penggerak belum maksimal. Saya mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan keadaan kesehatan, keluarga dan lain lain sambil bercerita untuk membuat yang bersangkutan relaks dan tidak menjadi beban. Karena salah satu prinsip coaching adalah bagaimana yang bersangkutan dapat menyampaikan hal yang terjadi secara jujur dan iklas, sehingga antara Pengajar Praktik dapat menemukan jalan keluar untuk mengatasinya.

Ngurah Dwika selanjutnya menjelaskan bagaimana situasi pekerjaan yang beliau lakukan saat ini. Oleh karena saya dengan beliau adalah sudah kenal lama, dan saya mengetahui kiprahnya di luar jalur profesi guru yang beliau geluti. Beliau adalah seorang pekerja keras dan  wirausahawan muda yang mengawali aktivitas usaha sejak belum menjadi guru. Salah satu yang beliau sampaikan adalah bagaimana beliau pernah menjalani karir sebagai pemandu penyelam pada sektor pariwisata Diving di Singaraja. Beliau menyampaikan bahwa karir instruktur Diving beliau peroleh dengan cepat melebihi kawan-kawan lainnya. Bukan hanya itu, insting usahanya juga sempat beliau menjadi makelar ayam, membuka laoundray dan menyediakan jasa pengetikan. Hal ini beliau lakukan karena termotivasi untuk hidup mandiri, yang awalnya sekedar untuk bertahan hidup di perantauan.

Setelah terjun menjadi guru, beliau sejak awal telah banyak berkiprah untuk belajar cepat tentang suatu hal dan di saat yang sama menjadi andalan bagi kepala sekolah dalam pembuatan administrasi sekolah. Tidak hanya itu, keterlibatannya dalam organisasi Kelompok Kerja Guru telah sanggup melahirkan kegiatan inovatif seperti pelatihan membuat buku, pelatihan membuat cerpen, membantu kelompok kerja kepala sekolah dalam melaksanakan pelatihan. Posisi beliau adalah konseptor dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan KKG dan K3S Kecamatan Karangsem. Saya sebagai pengajar praktik tidak bisa memungkiri hal itu, karena saya sendiri pernah terlibat bekerjasama dengan beliau dalam hal ini. Termasuk pernah sekali membantu sekolah saya ketika bertugas sebagai kepala sekolah di SD Negeri 12 Karangasem saat melaksanakan program Aksi Nyata Gebyar Leterasi. Beliau sering menjadi teman diskusi saya terkait bagaimana mengupayakan inovasi sekolah dengan menggandeng salah satu perusahaan untuk bekerja sama.

Dalam kisah lain, beliau adalah penggagas dan memfasilitasi salah satu kelompok guru untuk bekerjasasama membuka sebuah usaha dalam format CV. Perusahaan ini bernama CV. Inska Paramarta. Permasalahan terjadi ketika perusahaan tersebut berjalan, karena perbedaan pandangan para pendiri maka sebagian besar anggota CV mengundurkan diri. Sehingga tinggal Ngurah Dwika yang masih tetap mengelola perusahaan tersebut hingga kini. Terbilang dua perusahaan yang di bawah kendalinya yang dibantu oleh istrinya yang bertindak sebagai menajer perusahaan, telah berhasil dibuat dan berhasil menjalankan usahanya dengan nilai omset brutto tahunan sebesar 4,8 miliar. Atas perusahaan yang beliau kelola tersebut hingga kini telah menyerap tenaga kerja sebanyak 40 orang yang tersebar bekerja pada berbagai bidang usahanya seperti furniture, retail, bengkel, komputer, percetakan dan pengelasan yang digerakan melalui induk perusahaan CV Insca Paramarta. Sementara PT Dwiramayobi bergerak pada usaha distributor alat kesehatan dan kecantikan.

Mendengar pengakuan tersebut, saya menjadi tarik nafas, dan berusaha untuk berpikir layaknya coach. Bagaimana seorang PNS dalam status guru aktif dapat menjalankan kegiatan usaha yang menurut ukuran saya adalah luar biasa. Walaupun beliau menekankan bahwa telah memiliki manajer pada masing-masing bidang usaha dan menyerahkan sepenuhnya pekerjaan tersebut pada yang bersangkutan, tetapi tetap membuat pikiran saya berputar. Masalahnya adalah ketika sebuah perusahaan yang berjalan mengalami masalah, pasti secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kinerjanya sebagai guru. Saya selanjutnya menggeser instrumen coaching yang telah saya bawa, karena menghapi masalah yang kompleks tersebut membutuhkan penanganan yang luar biasa.

Selanjutnya saya berpikir terkait kasus jatuhnya beliau di kamar mandi tadi, saya berasumsi bahwa hal itu pasti ada hubungannya. Walaupun ketika saya pancing, beliau tetap saja mengelak bahwa hal itu terjadi semata-mata karena faktor kesehatan semata. Tetapi saya juga tidak terlalu berkepentingan untuk hal itu, maka saya tidak terlalu tertarik untuk menggalinya. Saya berpikir dan tetap memposisikan diri menjadi seorang coach Program Guru Penggerak, yaitu bagaimana mengambil dampak positif dari apa yang telah beliau lakoni dan manfaatnya dengan dunia pendidikan. Di sela-sela percakapan beliau menyampaikan bahwa dalam melakoni proses merintis usaha, melalui lika-liku yang teramat sulit.

Saya selanjutnya mengajukan sebuah pertanyaan, “Apa sesungguhnya yang Ngurah Dwika inginkan atau capai dalam hidup ini? Hidup seperti apa yang menurut Ngurah ideal untuk dicapai? Trus bagaimana dunia pendidikan menurut pandangan Ngurah? Tanpa menunggu lama beliau menjelaskan bahwa, beliau sangat tertarik dengan tantangan dan telah mendapatkan umpan balik secara langsung, dari hasil yang dicapai dalam mengelola usaha. Ngurah menambahkan bahwa beliau memiliki ketertarikan yang kecil dengan rutinitas dunia pendidikan yang perjalannnya datar-datar saja. Reward yang diharapkan dari sebuah capaian tidak membuat kita telah mencapai sesuatu yang berarti. Bukan semata-mata finansial, tetapi lebih kepada kepuasan bahwa kita telah melampaui sesuatu yang melalui perjuangan yang berat. Selain dalam bentuk finansial, lelaki kelahiran Buleleng, 6 Juli 1987 ini menceritakan telah berhasil melahirkan usaha lain yang dijalankan sendiri oleh paling tidak  4 orang. Hal itu adalah sebuah keberhasilan dari proses interprenourship. Hal itu tidak kemudian membuat dia puas, tetapi ingin mencapai yang lebih lagi melalui pengembangan usaha yang sudah barang tentu dengan tingkat resiko yang lebih tinggi dan kompleks lagi.

Berbagai permasalahan yang dihadapi diantaranya perselisihan dengan teman yang sempat diajak berkolaborasi, memikirkan capaian target tahunan dari karyawan-karyawannya, memikirkan gaji karyawan bulanan paling tidak 70 juta sebulan, mencari peluang pemasaran, menanggapi keluhan para pelanggan, menghadapi karakteristik karyawan yang beraneka ragam, mencari modal usaha, membayar kredit pinjaman, mendirikan kantor dan outlet, hingga mengajukan penawaran tender proyek, menggambar mapping lokasi usaha, memonitoring kemajuan usaha dan pekerjaan lainnya. Kompleksitas permasalahan yang sebesar itu sudah barang tentu ada yang dapat terselesaikan dengan baik dan ada yang tidak. Saya sependapat dengan beliau bahwa hal seperti itu kalau dianalogikan dalam dunia pendidikan ada dalam ranah kewirausahaan sebagai salah satu kompetensi kepala sekolah. Sambil bercanda tawa beliau menyatakan tidak tertarik sebagai kepala sekolah, ketika saya mengharapkan, “Atas pengalaman Ngurah yang seperti itu pada dunia pendidikan cocoknya ya jabatan kepala sekolah”. Sambil tertawa beliau menyatakan tidak tertarik, lalu saya sangkal, “Lho itu kan sebuah harapan pemerintah bahwa guru penggerak nantinya menjadi mampu menggerakkan dunia pendidikan melalui jabatan kepala sekolah”. Beliau melanjutkan, “Tantangan seperti itu kurang merangsang dirinya untuk bergerak”.

Saya kemudian mengatur strategi percakapan untuk mecari titik temu dan benang merah antara pekerjaan beliau di ranah usaha dan keselarasannya dengan dunia pendidikan untuk memajukan pendidikan. Saya selanjutnya menghentikan proses coaching beralih dan memposisikan diri sebagai mentor. Kenapa seperti itu, karena saya menganggap ada sejenis lompatan berpikir telah terjadi. Karena sesungguhnya jiwa interprenouship sudah ada pada sosok Ngurah Dwika dapat diaplikasikan dalam dunia pendidikan, dengan kemampuan pengambilan keputusan yang cepat dan mau mengambil resiko merupakan sosok dari pemimpin pendidikan yang saat ini jarang ada. Tradisi dunia pendidikan yang loyalis, kurang mampu melihat peluang dan ingin selalu berada di zona nyaman adalah tantangan dunia pendidikan.

Karakter seperti itu terdapat pada sosok yang bernama Ngurah Dwika, yang sangat diperlukan oleh dunia pendidikan. Saya sebagai Pengajar Praktik melihat sosok Ngurah Dwika ini telah mencerminkan karakter abad 21, karena jiwa interprenourship seperti itu, hanya lahir dari pribadi yang tangguh, tidak putus asa, ingin mencari tahu, melalui serangkaian proses berpikir menggunakan nalar pada setiap kali proses pengambilan keputusan dan tindakan, kemampuan kolaborasi, empat dan simpati, serta komunikasi yang mapan, sehingga mampu merancang inovasi-inovasi. Sisi positif dari Ngurah Dwika ini merupakan cerminan generasi emas yang digadang-gadang pemerintah terwujud di Era Industri 4.0, pada tahun 2045 kelak. Belaiu sesungguhnya telah memberikan gambaran bagaimana teori pendidikan yang menjadi retorika selama ini, yang telah melahirkan produk SDM yang siap dan mampu bersaing di masa mendatang. Pertanyaan berikutnya yang ada di benak saya sebagai Pengajar Praktik, kenapa sosok ini terasa dipinggirkan. Selalu terasing dari pandangan birokrasi yang memandang bahwa sosok guru ideal adalah mereka yang selalu loyal dengan atasan, mereka yang manut, dan mereka yang selalu ikut dengan arus, sehingga minim inovasi dan trobosan, sebagaimana pendapat Ngurah Dwika tadi.

Topik di atas selanjutnya menjadi ajang diskusi kami. Diskusi yang berjalan dua arah ini, dimana saya sebagai Pengajar Praktik selalu berusaha menempatkan diri sebagai coach sekaligus mentor pada kesempatan yang sama. Saya berhenti sejenak dan membiarkan beliau menceritakan dalam strategi melakukan interprenouship, sambil berpikir tentang strategi saya sebagai pengajar praktik untuk menggiring pemahaman, karena walaupun hal itu baik dan benar dari sudup pandang Ngurah, tetapi sangat merugikan dari sisi dunia pendidikan. Bagaimana sosok Ngurah Dwika yang telah mampu menjalani pasang surut kehidupan dalam merintis dunia usaha yang penuh resiko tersebut justru tersesat pikiran untuk menggeluti sektor swasta sementara dunia pendidikan sangat memerlukan orang yang memiliki karakter seperti ini. Sambil mendengarkan Ngurah Dwika bercerita panjang lebar tentang lika-liku kehidupannya dalam merintis dan menggeluti dunia usaha saya berpikir tentang strategi membuka pintu hatinya agar bakat dan potensinya dapat diabdikan dengan dunia pendidikan.

Ketika beliau menghentikan ceritanya selanjutnya saya menyampaikan pertanyaan, “Bagaimana seandainya karakter seperti yang Ngurah miliki dapat digunakan di dunia pendidikan?’ Karena sesungguhnya banyak sekali bidang pendidikan yang dapat dieksplorasi dari sisi bisnis, sehingga mendatangkan manfaat bagi diri dan orang lain melalui sektor pendidikan. Beliau kembali menjelaskan bahwa dunia pendidikan belum memberikan ruang dalam berkembang untuk memenuhi upaya mengembangkan minat dan bakatnya. “Mungkin saya telah salah pilih dalam profesi tetapi, saya masih ingat pesan Ibu saya, ketika sesaat sebelum meninggal untuk tetap menjadi PNS,” imbuhnya. Saat itu saya seolah menemukan jembatan penguhubung antara bagaimana niatnya untuk selalu berada dalam ruang lingkup pekerjaan yang penuh dengan tantangan, tetapi tetap mengamban amanat sang Ibu yang berharap beliau tetap menjadi PNS. Ibunda Ngurah Dwika sebelum meninggalkannya pada usia 57, akibat sakit komplikasi jantung dan kencing manis pada tahun 2021, sempat memberikan pesan seperti itu, dan hal itu sangat membekas di hatinya.

Saya selanjutnya berilustrasi, bahwa sesungguhnya dalam dunia pendidikan juga terdapat tantangan yang karakteristiknya berbeda dengan sektor bisnis. Sambil berdikusi Ngurah menambahkan bahwa tantangan pada sektor usaha lebih nyata dengan hasil yang dapat menjadi pemantik dan umpan balik yang bersifat nyata, sedangkan dalam dunia pendidikan terkadang hal tersebut hanya bersifat abstrak dan jangka panjang. Pemahaman beliau saat ini seolah telah mengerucut sehingga bagi saya selaku coach, hanya memerlukan beberapa langkah lagi untuk menggiring beliau menuju kesimpulan yang mencerminkan pemahamnnya dalam rangka menhubungkan bahwa upaya memenuhi minat dan bakatnya yang memerlukan tantangan tersebut dapat terpenuhi dalam dunia pendidikan.

Beliau kembali menjelaskan bahwa, hambatan kemajuan pendidikan karena seolah ada tembok yang menghalangi kita untuk berkembang dan berinovasi. “Hal-hal yang inovatif yang telah saya lakukan selama ini kurang mendapat apresiasi dan terkesan diabaikan”, terangnya. Belaiu menambahkan, “Justru hal-hal negatif selalu ditonjolkan, sehingga justru mematikan minat dan kreatifitas saya untuk berkembang, dan saya menemukan hal yang berbeda di sektor swasta”. Saya terdiam beberapa saat untuk mencari cara bagaimana mengambalikan motivasi beliau kembali, agar perannya sebagai Calon Guru Penggerak adalah jalan untuk mencapai harapannya tersebut. Saya berpkir, kenapa hal ini tidak sejak awal dia ungkap? Kenapa baru sekarang saat program ini sedang berjalan? Tetapi tidak masalah, ini belum terlambat, kita memerlukan orang seperti ini, tinggal sekarang bagaimana mengembalikan kepercayaan dirinya untuk kembali semangat, bahwa melalu Program Guru Penggerak harapan seperti yang beliau harapkan masih terbuka.

Pada sesi percakapan ini kemudian beliau menjelaskan, bahwa sektor pendidikan sangat sulit beranjak untuk berubah, kalaupun kita yang berubah, apakah hal itu berarti? Apakah hal itu akan berdampak secara luas seperti harapan kita? Beliau mengeluhkan bagaimana campur tangan politik sangat mengibiri kemajuan pendidikan, bagaimana guru-guru dapat berinovasi ketika sebuah karya tidak mendapatkan umpan balik dan apresiasi. Jangankan berharap untuk diapresiasi, justru melalui tangan politik, guru yang berpotensi dimutasi dengan pertimbangan politik bukan lagi berdasarkan kapasitas, kualitas dan potensi. Menanggapi ungkapan itu saya sebagai Pengajar Praktik terdiam dan menyimak dengan seksama. Hingga pada suatu saat saya sedikit menyampaikan pendapat, bahwa salah satu inti dari permasalahan itu adalah ada pada peran kepala sekolah. Kepala sekolah menjadi penentu kemajuan pendidikan di sekolahnya. Ngurah menganggukkan kepala pertanda setuju dengan pendapat saya. Selanjutnya saya mengajukan pertanyaan yang bersifat menantang. “Apa yang Anda lakukan jika seandainya suatu saat Ngurah dipercaya sebagai kepala sekolah?” Saya menekankan pertanyaan kembali, bahwa Ngurah harus melupakan kesan orang terhadap diri Anda dulu, sehingga  tidak memiliki beban diri ketika mengemukakan pendapat untuk menjawab pertanyaan itu. Sekali lagi saya bertanya, “Apakah hal yang Anda bayangkan untuk dilakukan jika seandainya kelak dipercaya sebagai kepala sekolah?

“Beliau menyatakan jika kondisi masih seperti ini, apa yang bisa dilakukan oleh kepala sekolah, ini adalah salah satu alasan saya tidak mau menjadi kepala sekolah. Menurut beliau inovasi yang kita laksanakan tidak akan mendapat respon positif. Jangankan atasan, teman sejawatpun kadang juga tidak menyukai adanya inovasi,” demikian ungkapnya. Kalau saya cermati lebih seksama ada semacam kenangan traumatis yang telah membekas pada dirinya sehingga sampai kepada kesimpulan seperti ini. Beberapa bagian dari pendapatnya saya setuju, tetapi ketika kesimpulan tersebut selanjutnya menyebabkan Ngurah Dwika menghukum dirinya sendiri akibat dari itu semua, saya kurang sependapat. Saya selanjutnya menjelaskan kepada beliau, bahwa inilah sesungguhnya tantangan kita semua. Ketika lingkungan teman sejawat, atasan dan orang lain yang mungkin tidak respek terhadap hal-hal yang berbau inovasi, karena mereka nyaman dengan zona yang selama ini mereka telah alami.

Saya sebagai Pengajar Praktik, mengilustrasikan lebih jauh,  bahwa zona nyaman itu identik dengan sifat benda berdasarkan Hukum Aksi Reaksi Newton III. Dalam hukumnya tersebut Newton menyatakan  bahwa suatu benda pada dasarnya adalah lembam atau enggan untuk bergerak, demikian pula benda yang sudah bergerak dengan kecepatan tertentu juga enggan untuk berhenti atau mempercepat, demikian pula benda yang telah mengalami percepatan juga enggan untuk berhenti atau sekedar untuk memperlambat. Maka untuk merubah posisi bendan dari diam dan selanjutnya bergerak diperlukan energi untuk menggerakkannya. Semikian pula untuk menggerakkan benda yang telah bergerak agar bergerak lebih cepat juga diperlukan usaha dan energi. Maka untuk menggerakkan orang yang enggan beranjak dari zona nyaman juga diperlukan usaha dan energi. Sepertinya hal ini juga berlaku pada sifat manusia yang selalu ingin berada di zona atau mempertahankan zona nyaman. Maka diperlukan usaha untuk menggerakknanya, usaha tersebut adalah Program Guru Penggerak yang memerlukan energi dan sumberdaya bahkan biaya yang tidak sedikit.

Fakta tentang zona nyaman adalah banyak orang enggan untuk berubah, maka orang yang ingin perubahan dari sesuatu yang sudah bersifat nyaman, akan menjadi orang aneh, atau sekedar tersisih dari pergaulan kelompok. Bahkan yang lebih parah lagi adalah orang yang dianggap aneh ini akan mendapat penolakan, bulian bahkan penghinaan. Sehingga dapat dipahami hal yang traumatis seperti dialami Ngurah Dwika  adalah hal yang wajar dialami. Ngurah Dwika adalah korban sistem yang enggan beranjak dari zona nyaman. Selanjutnya saya menjelaskan, bahwa itu semua adalah tantangan, yang jangan dipandang sebagai hambatan tetapi hal itu merupakan peluang.

Sampai disini kemudian saya membandingkan bagaimana tantangan yang Ngurah Dwika alami di sektor swasta seperti kompleksitas yang diutarakan di atas untuk kemudian dijadikan pengalaman belajar yang berharga. Jatuh bangun dalam mendirikan perusahaan, menjaga agar perusahan tetap berjalan, serta usaha untuk mengembangkan perusahaan tersebut merupakan pengalaman berharga yang dapat diaplikasikan di dunia pendidikan. Seperti penjelasan di atas tantangan nyata dalam memajukan pendidikan adalah banyak praktisi pendidikan yang enggan beranjak dari zona nyaman. Maka melalui Pendidikan Guru Penggerak justru hal ini adalah tantangan bersama, untuk kita hadapi. Kita sendiri sebagai bagian dari praktisi tersebut, sebagaimana karakter manusia yang lembam di atas, sesungguhnya berpotensi untuk menjadi bagian dari komunitas yang enggan beranjak dari zona nyaman. Maka tantangan tersebut adalah diri kita dan orang lain, sehingga sebagai guru penggerak yang mulai bergerak, minimal menggerakkan diri sebelum menggerakkan orang lain. Ketika kita mampu bergerak, maka saat itu tantangan tadi akan berubah menjadi peluang. Karena melalui pergerakan kita akan banyak belajar sehingga terbuka peluang-peluang baru yang didalamnya juga banyak terdapat tantangan-tantangan. Maka dari itu pendapat yang menyatakan bahwa dunia pendidikan kurang menantang merupakan pendapat yang kurang menantang pula, yang justru dapat dipandang sebagai upaya mencari alibi atas kondisi traumatis. Alih-alih mencari alibi dari kondisi traumatis, sesungguhnya hal yang urgen sekarang sebagai pengabdi dunia pendidikan adalah mengubah pandangan untuk beranjak dari diam ke zona bergerak.

Praktik baik dalam memecahkan suatu permasalahan di dunia usaha, sesungguhnya menjadi modal, model dan pengalaman berarti bagi Ngurah Dwika untuk dapat memecahkan permasalahan terhadap tantangan yang dihadapi. Mulai dari memecahkan masalah traumatik yang ada pada diri yang selanjutnya menjadi landasan pijakan untuk memecahkan masalah lanjutan yang ditemui kemudian. Kepuasan batin dalam memecahkan masalah level 1, 2, 3 dan seterusnya masing-masing akan mendapatkan reward bagi diri, untuk selanjutnya menjadi bagian dari gerakan menginspirasi orang lain. Vibrasi gerakan diri, tersebut perlahan-lahan akan meluas, dan membius orang lain untuk ikut berubah. Ketika perubahan menjadi trend, maka zona nyaman berikutnya akan meningkat. Saat itu, orang yang tidak mau berubah akan menjadi orang aneh dan terasingkan oleh lingkungan.

Selanjutnya saya bertanya kembali kepada Ngurah Dwika, atas ilustrasi yang saya kemukakan tersebut. “Apakah Ngurah Dwika, atas pemahaman yang saya ilustrasikan, seandainya Anda menjadi kepala sekolah kelak apa yang akan Anda lakukan?” Sambil senyum dia menyampaikan pendapat bahwa kepala sekolah seharusnya menjadi leader yang bukan hanya mementingkan menyelesaikan administrasi tetapi lebih jauh dapat membimbing guru dapat beradaptasi dengan perubahan dan menciptakan inovasi pembelajaran tingkat kelas. Sampai disini akhirnya Ngurah Dwika yang dulunya menganggap bahwa mustahil bagi kepala sekolah untuk mampu menggerakkan diri dan lingkungannya di tengah konsdisi yang nyaman sudah terjawab. Hal ini terjadi karena dengan penuh kesadaran beliau berhasil mengungkapkan harapan terhadap dirinya ketika menjadi kepala sekolah kelak. Ketika saya konfirmasi kepada beliau akhirnya tertawa yang menunjukkan telah terjadi proses penyadaran diri bahwa sesungguhnya orang yang suka tantangan juga memiliki peluang untuk lebih berkarir dan mencapai level kepuasan diri yang lebih tinggi. Hal ini bukan hanya terjadi di swasta, tetapi justru tantangan itu lebih besar ada pada dunia pendidikan saat ini.

Demikian sekilas proses pendampingan yagn dilakukan Pengejar Praktik Guru Penggerak pada suatu sesi coaching dan mentoring terhadap salah seorang Guru Penggerak yang memiliki riwayat traumatis yang menjadi korban dari budaya dan sistem pendidikan yang masih berlangsung hingga kini. Potensi luar bisa dari  Ngurah Dwika yang semestinya dapat menjadi aset dunia pendidikan untuk berkembang lebih maju, justru hampir terpuruk dan putus asa. Semakin banyak korban-korban budaya dan sistem pendidikan ini, maka semakin menjadi beban bagi dunia pendidikan itu sendiri. Karena mereka yang menjadi korban, juga tetap menjadi bagian dari sistem pendidikan itu sendiri. Korban dalam pengertian kita dan beban dalam sudut pandang sistem. Jika sistemnya baik maka beban ini akan dilepaskan sehingga mampu bererak lebih cepat, tetapi beban ini juga enggan di lepas, karena permasalahan kekurangan guru yang masih menjadi permasalahan dunia pendidikan. Maka dari pada melepas beban tersebut, Program Pendidikan Guru penggerak justru ingin melihat kelebihannya untuk dikembangkan dan diberdayakan kembali. Mungkin tidak hanya Ngurah Dwika, mungkin saja ada Ngurah dan Dwika yang lain, yang memiliki pengalaman traumatis, sehingga alih-alih berharap menggerakkan sistem, tetapi justru menjadi beban sistem itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *