TPACK dalam Pembelajaran Matematika Berbantuan Aplikasi Marlin

PENGANTAR

Seiring berkembangnya spektrum dimensi pendidikan yang semakin meluas saat ini maka tumpuan harapan terhadap pendidikan juga semakin besar.  Upaya mewujudkan visi besar bangsa sangat tergantung dari bagaimana strategi pengembangan pendidikan tersebut dilakukan. Orientasi pendidikan yang hanya memandang dari sisi kebutuhan kerja, mungkin merupakan pandangan yang sudah usang. Saatnya kita beralih kembali ke pemikiran lama bahwa pendidikan sesungguhnya untuk memanusiakan manusia. Pendidikan oleh Ki Hajar Dewantara dilihat sebagai sebuah proses mengembalikan siswa ke kodratnya sebagai bagian dari lingkungan manusia, alam  dan zamannya.

Atas pandangan tersebut,  saat  ini telah mewarnai  serangkaian kebijakan pemerintah dalam mengembangkan dunia pendidikan untuk dapat bergerak maju melalui beberapa program seperti guru penggerak, sekolah penggerak dan organisasi penggerak. Serangkaian gerakan berbagai elemen ini diharapkan dapat mengembangkan prinsip-prinsip merdeka belajar, yang    nantinya dapat mewujudkan anak-anak Bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, Bergotong royong, Berkebhinekaan Global, Mandiri, Kritis dan Kreatif sebagai bentuk pengamalan Profril Pelajar Pancasila di era kini.

Program Foundation For Suistainable Educations And Culture Development (FSECD) sebagai sebuah organisasi penggerak yang diperankan oleh PT Martabe Mitra Sosial melalui implementasi program Martabe Literasi Numerasi (Marlin) merupakan salah satu program yang diharapkan dapat membantu mengembangkan mutu sekolah. Strategi yang dilakukan FSECD dalam mengembangkan programnya adalah sangat positif yaitu melalui pelatihan, implementasi yang diakhiri dengan monitoring dan evaluasi.

Program monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan sendiri oleh kepala sekolah dan pengawas pendidikan merupakan upaya berkolaborasi yang baik oleh FSECD dalam mengembangkan mutu dengan pelibatan penuh pihak sekolah dalam mengembangkan potensinya melalui implementasi Aplikasi Marlin. Berkat hal itu maka laporan kegiatan monitoring ini dapat diselesaikan untuk selanjutnya dilaporkan kepada FSECD dengan PT Martabe Mitra Sosial sebagai pelaksanannya.

Latar Belakang

Pendidikan adalah bukti peradaban manusia yang semakin maju, oleh karena hanya manusia yang mampu memikirkan tentang pendidikan sehingga menghasilkan kebudayaan dan peradaban, itu sendiri. Budaya dan peradaban tidak bisa dipisahkan dari pendidikan itu sendiri. Hal ini seperti dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa dalam rumusan tentang kebudayaan sesungguhnya pendidikan tidak dapat dilepaskan dengan kebudayaan. Tanpa proses pendidikan kebudayaan dan peradaban tidak akan berkembang, (Tilaar, 2002).
Upaya menghasilkan kebudayaan dan peradaban merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia. Kolaborasi hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang senantiasa berubah merupakan ciri perkembangan kebudayaan saat ini. Alih generasi manusia tercerminkan dari upaya mewariskan apa yang telah manusia capai saat ini untuk menjadi bekal hidup bagi generasi sesudahnya. Upaya manusia dari generasi ke generasi untuk bertahan hidup menempatkan pendidikan dalam posisi sentral sebagai metode kebudayaan paling efektif untuk senantiasa menjaga keberadaan umat manusia untuk tetap eksis di muka bumi ini. Kepentingan manusia untuk tetap menjaga eksistensinya bertahan hidup di bumi merupakan orientasi pendidikan di masa yang akan datang.
Putra, (2021), mengatakan dunia pendidikan merupakan garda terdepan yang diharapkan mampu mengarahkan mental generasi millennial agar senatiasa berakselerasi secara bersama-sama dengan harmonis. Pembentukan karakter dan sikap yang membekali anak-anak kita menjaga eksistensinya untuk melestarikan peradaban yang lebih adaptif terhadap perubahan yang tidak terkendali dan tidak terprediksikan. Melihat hal itu maka paradigma pendidikan yang saat ini harus berorientasi menciptakan karakter dan perilaku yang adaptif terhadap tantangan yang dihadapi. Siswa-siswa kita harus sesering mungkin diberikan pengalaman belajar yang bermakna dalam memahami fakta dan fenomena lingkungan sekitar.

Fakta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan kita sebagai manusia saat ini. Perkembangan iptek tidak bisa dihindarkan dengan semakin tingginya pemahaman manusia dengan tantangan terhadap likungan hidupnya yang sesungguhnya berpotensi mengancam. Intervensi pendidikan dalam rangka mempercepat transformasi kesadaran universal manusia terkait eksistensi dirinya menjadi sedemikian penting untuk mengadopsi teknologi dalam pendidikan. Peranan teknologi dalam pendidikan saat ini sudah tidak dapat dilepaskan lagi. Sehingga setiap tahapan pendidikan hendaknya melibatkan tenologi baik dalam pemahaman tentang teknologi atau sekedar menjadi alat bantu dalam memahami tantangan hidup.
Model pendekatan pendidikan yang mengambil gagasan integrasi pendidikan dengan teknologi Teknlological Pedagogical and Content Knowlagde. (TPACK). Dimana hal tersebut mengambil momen penting dalam pelaksanaan strategi pendidikan dan pembelajaran dalam memanfaatkan kelihaian guru melaksanakan prinsip pedagogy berlandasakan konten materi kontekstual berbinkai teknologi, (Putra, 2021). Proses implementasi pembelajaran berdasakan pendekatann TPACK tersebut saat ini banyak diusung oleh pakar-pakar tenknologi pendidikan yang mengembangkan berbagai strategi terapan dari model ini.
Sebagaimana pandangan awal kita menggali pandangan Ki Hajar Dewantara dalam filosofi pendidikan yang dikaitkan dengan pendekatan pendidikan TPACK oleh para pakar. Terutama dalam pembelajaran matematika yang sering menjadi momok menakutkan bagi siswa dalam belajar, selanjutnya dikemas dengan teknologi atas prinsip TPACK sehingga siswa menjadi senang belajar matematika. Seperti halnya dilakukan oleh pegiata literasi dan matematika seperti Foundations For Sustainable Educations and Cultural Development (FSECD) yang tengah gencar melaksanakan pelatihan Pemanfaatan Media Berbasis Teknologi pada Pembelajaran Matematika.
Kegiatan ini dilakukan melalui implementati Aplikasi Marlin (Martabe Literasi Numerasi) dalam Program Organisasi Penggerak yang disponsosri Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi. Sasaran kegiatan ini meliputi beberapa sekolah di seluruh Indonesia di antaranya adalah SD Negeri 7
Subagan. Pelaksanaan implementasi Aplikasi Marlin diawali dengan sosialisasi

program sejak tahun 2020, yang baru terlaksana pada tahun 2021 ini. Perlunya kegiatan ini dilaksnaakan karena sebagian besar guru terutama pada masa Pandemi Covid-19 ini memerlukan beberapa variasi pembelajaran agar siswa benar-benar aktif belajar terutama pada pembelajaran matematika.
Setelah kegiatan pelatihan dan implementasi Pelatihan Pemanfaatan Media Berbasis Teknologi pada Pembelajaran Matematika, maka dilaksanakan monitoring dan evaluasi baik dilakukan oleh kepala sekolah dan pengawas. Kegiatan monitoring dan evaluasi tersebut selanjutnya akan di laporkan kepada pelaksana program pelatihan. Hal ini dilakukan untuk bahan masukan bagi penyelenggara organisasi penggerak FSECD sehingga pelaksanaan pelatihan dan implementasi kegiatan dapat lebih sempurna pada kegiatan di masa yang akan datang.

Tujuan

Seperti dikutip dalam FSECD (2021), pada Bahan Pembelajaran Pelatihan Penerapan Aplikasi Marlin yang berjudul Pemanfaatan Media Berbasis Teknologi pada Pembelajaran Matematika bertujuan secara umum untuk:

  1. 1. Mengembangkan pengetahuan deklaratif, prosedural, dan strategis dalam mengelola pembelajaran sehingga guru mampu merencanakan penerapan fakta, memantau dan merevisi aktifitas kegiatan belajar agar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
  2. Mengembangkan keahlian guru dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dalam menyelenggarakan pembelajaran bermakna melalui pemanfaatan teknologi
    Sementara secara khusus tujuan dari pelatihan Pemanfaatan Media Berbasis

Teknologi pada Pembelajaran Matematika adalah:

  1. Memastikan guru sebagai pengguna mahir dalam mengoperasikan
  2. Aplikasi Marlin dalam pelaksanaan pembelajaran
  3. Mengasah kemampuan guru dan kepala sekolah memfasilitasi peserta didik menggunakan Aplikasi Marlin pada kegiatan pembelajaran matematika
  4. Meningkatkan kemampuan guru dan kepala sekolah dalam upaya menggunakan teknologi dalam menyelenggarakan pembelajaran
  5. Menkolaborasikan kebutuhan sekolah degan fitur yang terdapat pada

Aplikasi Marlin

Berdasarkan capaian yang diharapkan dari kegiatan Pemanfaatan Media Berbasis Teknologi pada Pembelajaran Matematika, maka tujuan dari kegiatan Monitoring dan Evaluasi adalah sebagai berikut:

  1. Mengukur ketepatan implementasi Aplikasi Marlin pada proses pembelajaran
  2. Menilai hasil dan tingkat keefektifan Aplikasi Marlin
  3. Mengumpulkan data dan informasi adanya perubahan dan tambahan fitur- fitur untuk mendukung fungsi guru sebagai pendidik
  4. Menilai fungsi pengajaran matematika dengan Aplikasi Marlin
  5. Mengubah peran guru dalam menggunakan TIK yang mempengaruhi manajemen kelas secara keseluruhan
  6. Perubahan epistemologi pada dari sisi pedagogi akibat dari pemenfaatan teknologi dalam pembelajaran
  7. Guru dapat mengedepankan pengembangan sikap kolaborasi dalam pembelajaran matematika

Manfaat

Adapun manfaat yang diharapkan dari kegiatan Pemanfaatan Media Berbasis

Teknologi pada Pembelajaran Matematika, ini adalah:

  1. Menghasilkan kesan mendalam terhadap proses diskusi yang berlangsung pada kegiatan pelatihan sebagai bekal bagi guru dan kepala sekolah dalam mengimplementasikan program pelatihan ini
  2. Memperkaya fitur-fitur aplikasi marlin yang disesuaikan dengan kebutuhan sekolah pengguna
  3. Memperkaya perbendaharaan soal-soal matematika yang relevan dalam rangka mengambangkan pembelajaran yang menggunakan pendekatan TPACK berbantuan Aplikasi Marlin
  4. Memberi pengalaman kepada guru dalam melaksanakan pembelajaran yang menggunakan pendekatan TPACK berbantuan Aplikasi Marlin
  5. Memberi pengalaman bagi kepala sekolah dalam melaukan supervisi pembelajaran berbasis pendekatan TPACK berbantuan Aplikasi Marlin

Visi Belajar Matematika

Pembelajaran matematika cenderung bersifat deduktif, yaitu proses pengambilan kesimpulan berdasarkan premis-premis yang ada sebelumnya. Seperti yang dinyatakan oleh Rochmad, (2010), yang mengatakan bahwa salah satu ciri utama dalam mempelajari matematika adalah menerapkan penalaran deduktif yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya, sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan matematika bersifat konsisten. Akan tetapi pada kenyataannya penalaran induktif sangat diperlukan dalam rangka memberi kebermaknaan dalam proses pembelajaran matematika..
Tujuan pembelajaran matematika adalah untuk mengembangkan pemahaman dan kecintaan siswa terhadap matematika. Menyajikan matematika dengan menghubungkan ide-ide dan penerapannya terutama fokus pada hubungan matematika dan kehidupan nyata. Proses ini sangat penting dilakukan agar siswa berhasil dalam belajar matematika. Maka dari itu siswa perlu menggunakan logika dan bukti matematika untuk memberikan verifikasi atas penalaran matematika, (FESCD, 2021). Sehingga dalam hal ini proses deduktif dalam belajar matematika perlu diimbangi dengan pendekatan induktif agar pembelajaran yang dilaksanakan lebih bermakna.
Visi pembelajaran matematika adalah melibatkan siswa secara penuh untuk mendapatkan pengalaman belajar bermakna menggunakan sumber belajar, bahan dan media pembelajaran yang konkret. Penggunaan model visual, teknologi dan sumberdaya lainnya terutama dengan memanfaatkan topik dan situasi di lingkungan sekitar adalah hal yang utama untuk memberi kebermaknaan yang tinggi pada proses pembelajaran. Pelibatan lingkungan, sumber belajar, media pembelajaran yang dikemas melalui pendekatan TPACK merupakan tren terkini dalam mengakomodir konten linkungan yang kontekstual yang dikolaborasikan dengan teknologi, yang direkatkan dengan keahlian guru dalam bida pedagogi.

Pembelajaran matematika menjadi sangat penting sehingga menjadi konten yang sangat perlu dibelajarkan, dimana hal ini merupakan penerjemahan dari visi belajar matematika, yaitu:

  1. Matematika memperkenalkan kepada siswa konsep, keterampilan dan strategi berpikir yang penting dalam kehidupan sehari-hari
  2. Membantu siswa untuk memahami hakekat angka, pola dan bentuk yang mereka amati di lingkungan sekitarnya
  3. Menawarkan cara menangani data pada era digital yang berperan penting dalam menumbuhkan kecakapan siswa dalam hal interpretasi dan prediksi terhadap data yang ada
  4. Menumbuhkan skill kritis dan kreatif dalam rangka mengarahkan siswa untuk dapat memecahkan masalah melalui pendekatan pemecahan masalah berbasis pada matematika
  5. Menumbuhkan kepercayaan diri yang kuat akibat dari sifat matematika yang logis dan konsisten yang berpengaruh kepada bagaimana cara siswa dalam pengambilan keputusan yang logis pula
  6. Meningkatkan pemahaman siswa dalam mengeksplor dan menjelaskan berbagai simbol-simbol penting dan mendasar pada proses operasional matematika
  7. Menumbuhkan kesadaran pentingnya kehadiran matematika yang telah berperan banyak dalam mendukung perkembangan teknologi yang mewarnai kebudayaan dan peradaban
  8. Menumbuhkan rasa ingin tahu siswa dalam sehingga tidak puas dengan hadirnya satu informasi cara penyelesaian masalah tetapi lebih kepada upaya mengeksplorasi teknologi yang dapat membantu siswa dalam upaya penyelesaian masalah
  9. Menumbuhkan kreatifitas berpikir yang akan mewarnai perilakunya dalam memunculkan kreatifitas, sebagai akibat dari sikap logis yang dimilikinya karena matematika menjadi bagian dari karakter dan jiwa si anak.

Kompetensi Profesional Guru

Menurut FSCD (2021), yang mengutip dari pendapat beberapa ahli pendidikan, bahwa kompetensi adalah keseluruhan kinerja efektif dalam suatu bidang pekerjaan dari tingkat kehadiran dasar hingga tingkat keunggulan tertinggi. Kompetensi terdiri dari 4 komponen utama yaitu :

  1. Kompetensi pengetahuan/kognitif, yaitu kepemilikian pengetahuan yang berhubungan dengan pekerjaan yang sesuai dan kemampuan untuk menggunaknnya secara efektif
  2. Kompetensi fungsional yaitu kemampuan melakukan berbagai tugas berbasis pekerjaan secara efektif untuk menghasilkan hasil yang spesifik
  3. Kompetensi personal atau perilaku, yaitu kemampuan untuk mengadopsi perilaku yang sesuai dan dapat diamati dalam situasi yang berhubungan dengan pekerjaan
  4. Kompetensi nilai/etika, yaitu kepemilikan nilai-nilai peribadi dan profesioanal yang sesuai dan kemampuan untuk melakukan penilaian yang tepat berdasarkan hal ini dalam situasi yang berhubungan dengan pekerjaan

Menurut standar kompetensi yang harus dimiliki guru di Indonesia menurut PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan adalah:

  1. Kompetensi pedagorik, yaitu kemampuan guru dalam penguasaan ilmu- ilmu mendidik
  2. Kompetensi keperibadian, yaitu kemampuan guru dalam mengelola emosi diri sehingga dapat mendukung kompetensi yang lainnya
  3. Kompetensi Profesional, adalah kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran, yang terkait dengan bidang ilmu yang akan diajarkan
  4. Kompetensi sosial, merupakan kemampuan guru dalam berkolaborasi ketika proses melaksanakan tugas yang mendukung pencapaian kinerja

Kerangka Kerja TPACK

Ketika guru menggunakan pendekatan TPACK dalam proses pembelajaran maka di saat bersamaan segenap kompetensi yang harus dimiliki guru, baik kompetensi pedagogik, keperibadian, sosial dan profesioanl. Utamanya dalam

pembelajaran matematika menurut FSECD (2021), yang lebih menekankan kebermaknaan belajar dalam matematika, bukan kepada kecepatan mencari jawaban atas masalah yang diajukan. Sehingga guru dengan segenap kompetensi yang dimilikinya harus mampu mengelola pembelajaran yang mengedepankan proses. Perkembangan pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan TPACK, lebih fokus untuk menggiring siswa agar tertarik dan senang belajar matematika. Maka matematika tidak lagi menjadi momok mata pelajaran yang menakutkan sehingga berimbas pada guru yang juga terkesan menyeramkan.
FSECD (2021), menyatakan :”Matematika adalah tentang berpikir secara mendalam, menemukan pola dan membuat koneksi”. Maka dari itu pembelajaran yang instan yang bertujuan pada upaya menumbuhkan kompetensi pengatahuan anak yang lebih dominan selama ini telah berdampak buruk kepada pemahaman anak terhadap matematika. Kasus dimana guru sering menugaskan siswa untuk menghafal tanpa unsur pemaham mendalam atas konsep dan pola, akan menjebak siswa pada pemahaman dangkal dan tidak bermakna. Ketika hal itu dalat dihindari maka siswa akan dapat memaknai matematika sebagai perjuangan produktif dalam upaya pemecahan masalah di kehidupan sehari-hari.
Penggunaan pendekatan TPACK sesuai FSECD (2021) merujuk pada kerangka kerja TPACK yaitu:

  1. Technological Knowlagde, yaitu kompetensi guru dalam menggunakan berbagai teknologi, alat teknologi dan berbagai sumberdaya yang relavan untuk secara terus menerus mendukung penegmbangan kompetensi belajar matematika pada siswa.
  2. Content Knowladge, pengatahuan guru tentang materi pelajaran, konsep teori, bukti dan kerangka kerja organisasi dalam mendukung optimalisasi pengembangan proses pencapaian kompetensi siswa dalam belajar matematika.
  3. Pedagogical Knowladge, yaitu pengetahuan dan keterampilan guru dalam menerapkan praktik baik pembelajaran seperti metode, strategi, pendekatan, model dan teknik pembelajaran yang relevan sehingga upaya meningkatkan kompetensi siswa dalam belajar matematika tercapai.
  4. Pedagogical Kontent Knowladge, yaitu kompetensi guru dalam mengkemas materi pembelajaran tertentu berlandaskan skill pedagogi yang dimiliki dengan konten materi yang sedang dibelajarkan, sehingga upaya memaksimalkan proses belajar untuk menghasilkan produk belajar bermakna akan tercapai.

Integrasi Matematika dan TIK

Penggunaan teknologi dalam pembelajaran merupakan salah satu bentuk implementasi pendekatan TPACK dalam proses pembelajaran. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran berpotensi meniadakan hambatan yang dulunya sangat besar, hingga saat digunakannya teknologi dapat ditekan. Penggunaan teknologi, juga relevan dengan konteks kehidupan masa kini, sehingga lebih merangsang guru untuk lebih berinovasi menghadirkan pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan.
Kehadiran internat telah menghubungkan perangkat TIK dari jutaan pengguna di dunia adalah peluang untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan siswa dalam belajar. Metode e-learning sangat berpeluang untuk memberi pengalaman baru bagi siswa, ketika proses belajar berlangsung. UNESCO mengemukakan tiga pendekatan pengajaran berdasarkan pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang pendidikan yaitu:

  1. Literasi Teknologi, yaitu proses untuk melek dengan teknologi sehingga dapat memanfaatkannya untuk membantu proses pembelajaran atas beberapa aspek yaitu: Kesadaran kebijakan, Pengetahuan dasar, Mengintegrasikan teknologi, Peralatan dasar, Standar ruang kelas, Literasi digital
  2. Pendalaman Pengetahuan, yaitu upaya memperkaya pengetahuan yang lebih berorientasi kontekstual, meliputi : Pemahaman kebijakan, Penerapan pengetahuan, Pemecahan masalah yang rumit d. Kelompok kolaborati, Kelola dan pandu, Penciptaan Pengetahuan, yaitu upaya menciptakan pengetahuan baru sebagai bagian dari upaya pemecahan masalah yang telah dilakukan, meliputi:, Inovasi kebijakan, Keterampilan dan pengetahuan bermasyarakat c. Manajemen diri, Peralatan yang mampu menyesuaikan dengan kondisi lingkungan e. Organisasi pembelajaran, Guru sebagai model pembelajar

    Program Monitoring dan Evaluasi

    Menurut FSECD (2021), yang dikutip dari OCDC-DAC (2002) memberikan pengertian bahwa monitoring sebagai pengumpulan informasi yang sistematis dan berkelanjutan untuk menilai kemajuan pencapaian tujuan, hasil dan dampak. Sementara evaluasi sebagai penilaian sistematis dan objektif dari proyek, program yang sedang atau sudah selesai atau kebijakan, rancangan, pelaksanaan dan hasil dengan tujuan untuk menentukan relevansi dan pemenuhan tujuan, efisiensi, dampak dan keberlanjutan.
    Paradigma monev menuju keberhasilan berbasis kinerja dan berorientasi pada hasil dalam konteks bekerja bersama-sama dengan tren reformasi pendidikan saat ini, dengan memperhatikan kualitas pendidikan yang berpengaruh kepada pendekatan dan praktik monitoring dan evaluasi di sektor pendidikan. Melihat hal itu monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengukur keefektifan penerapan Aplikasi Marlin adalah sebagai berikut:

    1. Indikator Input
    2. Mengukur kondisi dasar penerapan Aplikasi Marlin, yaitu: Rasio komputer setiap siswa b. Akses internet, Keterampilan TIK guru/pendidik /kepala sekolah, Keterlibatan kepemimpinan kepala sekolah e. Infrastruktur TIK Sekolah, Pengawasan dan dukungan teknis, Waktu yang dihabiskan oleh guru untuk mempersiapkan perencanaan pelaporan berbasis TIK
    3. Indikator Proses, Melacak evolusi integrasi TIK:
    4. Indikator intervensi, mengukur apakah keterampilan untuk mengimplementasikan Aplikasi Marlin telah diperoleh oleh penggunannya
    5. Indikator Adopsi, memantau fitur-fitur penting yang harus diberlakukan oleh guru dalam kelas, faktor-faktor yang menentukan hasil program, terutama yang berkaitan dengan prestasi siswa
    6. Indikator Hasil Mencerminkan dampak langsung dari penerapan Aplikasi Marlin a. Keterampilan guru yang diperoleh melalui pelatihan b. Peningkatan pencapaian siswa c. Tingkat penggunaan teknologi
    7. Instrumen Penilaian, Mengukur input, proses dan hasil indikator,  Kinerja guru menggunakan Aplikasi Marlin b. Observasi
    8. Survei
    9. Quesioner
    10. Rencana Monitoring dan evaluasi

    Perencanaan menjadi hal yang penting dilakukan untuk memastikan pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi dilaksanakan secara efektif. Dengan perencanaan yang baik dan matang maka persiapan dari siswa, guru dan pelaksana monev akan lebih baik dari pada tidak dilakukan perencanaan.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *