Budaya positif ala Tri Kaya Parisuda, merupakan sebuah topik biasa, tetapi sepertinya penulis ingin mengkajinya lebih dalam lagi. Topik sederhana ini sengaja diangkat, karena topik berpikir positif sangat menarik untuk dibahas.

Coba bandingkan dua kalimat ini: “Adalah tidak baik menjadi penghianat teman sendiri”

Bandingkan dengan kalimat ini: “Hal terbaik adalah menjadi teman sejati yang jujur”

Manakah yang lebih layak kita ucapkan? Sudah tentu pembaca sudah tahu jawabannya. Pertanyaannya mengapa kalimat itu yang harus kita pilih?

Untuk memahami hal itu, ada baiknya pembaca lanjut mencermati tulisan di bawah ini.

Baca Juga

Hindu mengenal suatu ajaran yang disebut dengan Tri Kaya Parisuda yang terdiri dari Manacika, Wacika dan Kayika. Manacika berarti berpikir yang baik, Wacika berarti berkata-kata yang baik, dan Kayika adalah berbuat yang baik. Sepintas ajaran ini terlihat sangat sederhana, tetapi jika dikaji, hal tersebut mengandung makna yang sangat mendalam. Sepertinya, ajaran tersebut lebih mudah untuk diucapkan tetapi sangat sulit untuk dilaksanakan.

Berpikir yang baik, berkata yang baik dan berbuat yang baik, merupakan urutan logis dan baik dari aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari. Segala pikiran yang baik, sangat mungkin melahirkan perkataan dan perbuatan yang baik. Perkataan yang baik sangat berpotensi akan mempengaruhi diri dan orang lain untuk berpikir dan bertindak yang baik pula. Demikan pula berbuat yang baik, akan menimbulkan respon baik dalam bentuk perkataan dan tindakan orang lain yang baik pula.

Baik maupun buruk merupakan dualisme katagori yang dalam Hindu diistilahkan dengan Rua Bineda, yang berarti ada dua hal yang menyebabkan perbedaan, termasuk dengan dualisme hidup dan mati, hitam dan putih, atas dan bawah, maju dan mundur hingga positif dan negatif.

Pikiran negatif sangat berpotensi menimbulkan prasangka buruk baik terhadap sesuatu, orang lain dan bahkan diri sendiri. Berpikir negatif, akan menurunkan derajat kualitas pikiran. Berpikir negatif relevan dengan kata “salah”, “buruk”, “kotor”, “jangan” dan yang lainnya. Atau kalimat yang bermakna negatif jika dipikirkan. Coba bandingkan dengan dua hal yang kita pikirkan sebagai berikut:

“Saya berjanji untuk tidak terlambat hari ini”

Dengan

            “Saya berjanji untuk datang tepat waktu hari ini” atau “Saya berjanji untuk datang lebih cepat”

Sepintas kalimat di atas bermakna sama, dimana sama sama berjanji untuk tidak terlambat. Akan tetapi kalau direnungkan lebih dalam lagi, kalimat pertama  mengandung makna bahwa seseorang sempat memikirkan kata terlambat sebagai ungkapan yang  negatif. Walaupun kata terlambat merupakan negasi dari datang lebih awal, tetapi terlambat merupakan kata yang tidak baik. Sehingga pokok atau fokus ingatan kita ada pada kata “terlambat”. Pengucapan kata “terlambat” terlalu sering berpotensi untuk sering dipikirkan, dan juga berpeluang untuk menjadi tindakan, yaitu terlambat.

Berbeda halnya dengan pikiran kita tentang “datang tepat waktu” dan “datang lebih cepat”, yang sama sekali tidak mengandung kata yang bermakna negatif. Sehingga frase “datang tepat waktu” atau “datang lebih cepat” akan tersimpan dalam ingatan kita yang berpeluang untuk dilaksanakan menjadi tindakan. Walaupun frase itu kemudian dipecah lagi menjadi: “datang”, lebih cepat” dan “tepat waktu” tetap saja memiliki makna positif yang jika dipikirkan akan berpeluang untuk dilakukan menjadi tindakan, yaitu “datang”, “lebih cepat” dan “tepat waktu.

Berikut coba bandingkan dua kalimat yang kita ucapkan sebagai berikut:

            “Saya tidak menyangka, dia tidak mampu melaksanakan tugasnya”

Dengan

            “Saya menyangka, dia akan mampu melaksakan tugasnya”

Kalimat pertama yang diucapkan telah langsung seperti menghakimi, bahwa seseorang telah tidak mampu melaksanakan tugasnya. Sementara kalimat kedua lebih bermakna positif bahwa masih terdapat harapan bagi seseorang untuk berubah dan mampu melaksanakan tugasnya.

Pikiran positif, merupakan cara menalarkan sesuatu berdasarkan harapan yang masih ada, bahkan dari sisa-sisa kekuatan yang dimiliki. Maka ungkapan yang akan mengemuka sebagai bentuk Wacika adalah “masih ada harapan”, “semangat pasti bisa”, “ayo kamu pasti bisa, teman-temamu saja bisa”, “maju, lihat di depan apa yang kamu impikan ada di sana”

Sementara pikiran negatif merupakan cara menalarkan sesuatu berdasarkan hal-hal yang negatif atau buruk, tidak baik, kotor dan lain-lain. Seperti kalimat di bawah ini. Bandingkan dengan kondisi ketika sisa kekuatan kita yang masih sedikit yang diungkapkan dengan kalimat seperti, “tertinggal jauh”, “semangat  kamu tidak akan gagal”, “ayo kamu tidak akan tertinggal, teman-teman kamu sudah jauh, ayo kejar”, “maju, jangan berhenti, tidak sulit mencapai apa yang kamu inginkan”

Walaupun keduanya sama-sama memotivasi, tetapi pada pikiran negatif banyak sekali kata-kata seperti “gagal;”, “sedikit”, “jangan”, “berhenti”, “tidak sulit”. Walaupun antonim dari kata-kata tu bersifat positif, tatapi otak kita sempat menyimpan dan menjadikannya bermakna, yang berpotensi untuk dilakukan sebagai tindakan.

Pelari yang masih memiliki sisa-sisa tenaga, akan memiliki dorongan batin yang lebih kuat ketika swering mendengar kata, ungkapan, frase hingga kalimat yang positif. Dimana peluangnya untuk memenangkan lomba jauh lebih besar, dari pada sering dicekoki kata seperti, “gagal”, “tertinggal”, berhenti”, “sulit” dan yang sejenisnya.

Berdasarkan paparan di atas, pikiran baik atau positif menjadi hal yang sangat menakjubkan yang berpotensi membawa keajaiban. Suatu pelari karena pikiran, perkataan positif yang dipikirkan, diucapkan baik oleh diri dan orang lain akan berpengaruh pada motivasi dirinya untuk berlari lebih cepat. Pikiran, perkataan dan tindakan yang baik atau positif merupakan ajaran Agama Hindu yang telah diajarkan dari dulu. Sisa-sisa tenaga yang dimiliki dapat dioptimalkan karena persepsi otak mereka adalah “berhasil”, “sukses”, “baik”, “lebih” dan yang lainnya. Sementara pelari yang sering mendengar tentang kegagalan, sering berpikir tentang terlambat dan yang lainnya akan berpotensi untuk gagal, kalah dan terlambat.

Para pembaca yang budiman, Apakah Anda sepakat dengan hal itu?

Budaya positif ala Tri Kaya Parisuda menempatkan satu hal yang pasti, bahwa perkataan baik kita (Wacika), berawal dari pikiran yang baik (Manacika). Demikian pula perbuatan yang baik (Kayika), pasti bersumber dari pikiran dan perkataan yang baik. Maka tidak salah dalam segala ajaran agama dan kebudayaan, kebaikan adalah ajaran pokok mereka. Termasuk dalam ajaran Agama Hindu, Tri Kaya Parisuda, merupakan ajaran yang umurnya sudah ratusan bahkan ribuan tahun, tetap masih relevan dengan kehidupan masa kini.

Kebaikan adalah impian semua orang. Hampir semua insan menginginkan hal yang baik. Setiap orang menginginkan memiliki teman, rekan kerja, sahabat, atasan, bawahan, guru, dosen dan orang-orang di sekitar kita, yang berperilaku baik. Kebaikan akan membuahkan kepercayaan. Setiap orang baik, akan mudah dipercaya orang lain. Orang yang pikiran, perkataan dan perbuatannya yang baik akan mudah dipercaya orang lain. Sementara sebagian orang masih rela mengambil jalan pintas dalam meraih kebaikan, yang berakibat sulit mendapat kepercayaan.

Abad-abad mendatang adalah masa dimana orang baik menjadi orang yang paling dicari di dunia. Orang-orang yang memiliki citra positif, akan menjadi incaran para pencari partner kerja, di masa mendatang. Setiap perusahaan, lembaga bahkan negara, pasti akan mencari orang-orang terbaik. Mereka adalah orang-orang yang layak dipercaya.

Saat itu, orang-orang yang dipercaya adalah mereka yang memiliki skill dan karakter yang baik. Mereka dipercaya karena mereka mampu melaksanakan tugas secara tuntas, mampu berkomunikasi secara baik, tangguh, pekerja keras dan mandiri, dapat bekerjasama, berbagi dan menghargai orang lain, menghargai waktu dam kecepatan kerja. Mereka adalah orang-orang yang memiliki niat dan pikiran melayani orang lain, dimana mereka akan merasa puas dan bahagia, ketika melihat orang lain bahagia dan puas mendapat layanannya.

Sekalilagi, keadaan itu mulai dari pikiran, perkataan dan perbuatan. Budaya positif ala Tri Kaya Parisuda menempatkan niat atau pikiran positif atau baik yang bertujuan menyenangkan orang lain, adalah kunci menjadi orang yang dipercaya. Mereka yang mampu dan terampil berkomunikasi positif atau berkata-kata baik, akan memberinya banyak sahabat, kolega, relasi dan teman kerja. Berbuat baik kepada sesama, merupakan kunci dari tumbuhnya kepercayaan orang lain kepadanya.

Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang secara sadar atau tidak telah menerapkan budaya positif ala Tri Kaya Parisuda. Semoga bermanfaat.

Ref

Tri Kaya Parisuda

loading...
Categories: Uncategorized

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *