Pendahuluan

Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang mengedepankan kebermaknaan pembelajaran yang dikembangkan berawal dari prinsip pembelajaran terpadu. Pembelajaran tematik menjadi sangat penting untuk dilaksanakan karena berorientasi pada kebermaknaan. Hal ini beranjak dari pemahaman, bahwa peristiwa dan atau fenomena kehidupan sehari-hari merupakan hal yang akan dialami siswa ketika mereka menjalani kehidupan nyata kelak. Maka sudah selayaknya pembelajaran tematik dihadirkan dalam pembelajaran di kelas, karena bersifat kontekstual dan hal itulah yang sesungguhnya akan terjadi di kehidupan nyata.

Pola pembelajaran yang mengedepankan pemisahan materi pelajaran berdasarkan konsep-konsep tertentu cenderung hanya untuk memudahkan guru dalam mengajar, bukan untuk memudahkan siswa belajar. Sehingga pendekatan mata pelajaran bertentangan dengan konsep student centre, khusunya pada pendidikan dasar. Hal ini sangat berbeda dengan pendidikan menengah dan tinggi, yang mengharuskan siswa belajar berdasarkan spesifikasi minatnya, sehingga diperlukan pemilahan materi pelajaran. Walau demikian, pada ranah itupun masih tetap keterpaduan antar mata pelajaran yang sesungguhnya dapat diarahkan ke pembelajaran tematik.

Sebagai contoh, muatan matematika sangat terkait dengan Bahasa Indonesia dan IPS pada saat mengambil tema misalnya tentang pasar. Tema tentang pasar sudah tentu akan membahas bagaimana interaksi menggunakan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi antar pembeli dan pedagang. Pedangang dan pembeli berinteraksi menggunakan uang yang mengharuskan menggunakan prinsip matematika dalam perhitungannya. Sementara konsep IPS terkait penawaran dan permintaan merupakan topik yang menarik bagi anak-anak. Sementara pendidikan menengah dan tinggi keterpaduan pembelajaran Mata Pelajaran Geografi, Sejarah dan Sosiologi tak pelak dapat dihindarkan, walaupun memiliki sudut pandang tersendiri. Bahkan Matematika, Fisika dan Kimia juga memiliki keterkaitan yang sangat erat, dimana jika dipahami secara terpisah sangat menjauhkan dari kebermaknaan belajar itu sendiri.

Baca Juga

Pengertian Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik sebagai model pembelajaran termasuk salah satu tipe/jenis dari pada model pembelajaran terpadu. Istilah pembelajaran tematik pada dasarnya adalah model pembelajaran terpadu menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (Depdiknas, 2006; 5).

Hadi Subroto (2000:9) menegaskan:

“Pembelajaran terpadu adalah pembelajaran yang diawali dengan pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan lain, konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain, yang dilakukan secara spontan atau direncanakan, baik dalam bidang studi atau lebih, dan dengan beragam pengalam belajar siswa, maka pembelajaran lebih bermakna. Maka pada umumnya pembelajaran tematik atau terpadu adalah pembelajaran yang menggunakan tema tertentu untuk mengaitkan antara beberapa isi mata pelajaran dan pengalaman kehidupan nyata sehari-hari siswa sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi siswa”.

Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik ada beberapa hal yang perlu dilaksanakan yang meliputi tahap perencanaan, yakni : pemetaan standar kompetensi yang mencakup penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar, menentukan tema, identifikasi standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator, menetapkan jaringan tema, penyusunan silabus, silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran atau tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok pembelajaran,   kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian,  penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar (Trianto, 2007 : 25).

Pembelajaran tematik sebagai model pembelajaran memiliki arti penting dalam membangun kompetensi peserta didik, antara lain: 1) Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang dipahaminya. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. 2) Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan memengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar yang menunjukan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif.

Fungsi dan Tujuan Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik terpadu berfungsi untuk memberikan kemudahan bagi siswa dalam memahami dan mendalami konsep materi yang tergabung dalam tema serta menambah semangat belajar karena materi yang dipelajari merupakan materi yang nyata (kontekstual) dan bermakna bagi siswa (Kemendikbud, 2014:16).

Tujuan pembelajaran tematik terpadu adalah:

“1) Mudah memusatkan perhatian pada satu tema atau topik tertentu. 2) Mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi mata pelajaran dalam tema yang sama. 3) Memiliki pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan. 4) Mengembangkan kompetensi berbahasa lebih baik dengan mengaitkan berbagai pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa. 5) Lebih bergairah belajar karena mereka dapat berkomunikasi dalam situasi nyata seperti: bercerita, bertanya, menulis sekaligus mempelajari pelajaran yang lain. 6) Lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi yang disajikan dalam konteks tema yang jelas. 7) Guru dapat menghemat waktu, karena mata pelajaran yang disajikan secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam 2 atau 3 pertemuan bahkan lebih atau pengayaan. 8) Budi pekerti dan moral siswa dapat ditumbuh kembangkan dengan mengangkat sejumlah nilai budi pekerti sesuai dengan situasi dan kondisi”.

Berdasarkan uraian diatas dapat di simpulkan bahwa pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang bertujuan untuk memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran dan mengembangkan berbagai kemampuan siswa dalam tema tertentu.

Karakteristik Pembelajaran Tematik

Menurut Depdiknas (2006:6):

“Pembelajaran tematik memiliki beberapa ciri khas antara lain : 1) pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar, 2) kegiatankegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa, 3) kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama, 4) membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa, 5) menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya, dan 6) mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerja sama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain”.

Selain itu, sebagai model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik antara lain : berpusat pada siswa, memberikan pengalaman langsung, pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas, menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran, bersifat fleksibel, hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, dan menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan (Depdiknas, 2006).

Berpusat pada siswa

Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student center), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar, sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator, yaitu memberikan kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.

Memberikan pengalaman langsung

Pembelajaran tematik memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkret) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.

Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas

Dalam pembelajaran tematik pemisahan antara mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.

Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran

Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh, hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Bersifat fleksibel

Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksible) di mana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan di mana sekolah dan siswa berada.

Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan

Pembelajaran tematik mengadopsi prinsip belajar PAKEM yaitu pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Aktif, bahwa dalam pembelajaran peserta didik aktif secara fisik dan mental dalam hal mengemukakan penalaran (alasan), menemukan kaitan yang satu dengan yang lain, mengomunikasikan ide/gagasan, mengemukakan bentuk representasi yang tepat, dan menggunakan semua itu untuk memecahkan masalah. Kreatif, berarti dalam pembelajaran peserta didik, melakukan serangkaian proses pembelajaran secara runtut dan berkesinambungan yang meliputi:

  1. Memahami masalah: 1) Menemukan ide yang terkait, b) Mempresentasikan dalam bentuk lain yang, c) lebih mudah diterima. c. Menemukan gagasan yang harus diisi untuk, d) memecahkan masalah.
  2. Merencanakan pemecahan masalah: 1) Memikirkan macam-macam strategi yang mungkin dapat digunakan untuk memecahkan masalah, 2) Memilih strategi atau gabungan strategi yang paling, 3) efektif dan efisien, 4) Merancang tahap-tahap eksekusi.
  3. Melaksanakan rencana pemecahan masalah: 1) Menentukan titik awal kegiatan pemecahan masalah, 2) Menggunakan penalaran untuk memperoleh solusi yang dapat dipertanggungjawabkan, 3) Memeriksa ulang pelaksanaan pemecahan masalah, 4) Memeriksa ketepatan jawaban dan langkah-langkahnya.
  4. Bersifat Efektif
    Efektif artinya adalah berhasil mencapai tujuan sebagaimana yang diharapkan. Dengan kata lain, dalam pembelajaran telah terpenuhi apa yang menjadi tujuan dan harapan yang hendak dicapai. Menyenangkan, berarti sifat terpesona dengan keindahan, kenyamanan, dan kemanfaatannya sehingga mereka terlibat dengan asyik dalam belajar sampai lupa waktu, penuh percaya diri, dan tertantang untuk melakukan hal serupa atau hal yang lebih berat lagi.

Berdasarkan penjelasan karakteristik diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tematik bukan semata-mata merancang aktivitas-aktivitas dari masing-masing mata pelajaran yang dikaitkan. Pembelajaran tematik bisa saja dikembangkan berdasarkan tema yang telah ditentukan dengan mengacu pada aspek-aspek yang ada didalam kurikulum yang bisa dipelajari secara bersama melalui pengembangan tema tersebut.

Prinsip Dasar Pembelajaran Tematik

Sebagai bagian dari pembelajaran terpadu, maka pembelajaran tematik memiliki prinsip dasar sebagaimana halnya pembelajaran terpadu. Menurut Ujang Sukandi, dkk. (2001: 109), pembelajaran terpadu memiliki satu tema aktual, dekat dengan dunia siswa, dan ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari tema ini menjadi alat pemersatu materi yang beragam dari beberapa materi pelajaran.

Secara umum prinsip-prinsip pembelajaran tematik dapat diklasifikasikan menjadi:

Prinsip Penggalian Tema

Prinsip penggalian merupakan prinsip utama (fokus) dalam pembelajaran tematik. Artinya tema-tema yang saling tumpang tindih dan ada keterkaitan menjadi target utama dalam pembelajaran. Dengan demikian, dalam penggalian tema tersebut hendaklah memperhatikan beberapa persyaratan, yaitu: a) Tema hendaknya tidak terlalu luas, b) Tema harus bermakna, c) Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis anak, e) Tema dikembangkan harus mewadai sebagian besar minat anak, f) Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa autentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar, g) Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat (asas relevansi), h) Tema yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.

Prinsip Pengelolaan Pembelajaran

Pengelolaan pembelajaran dapat optimal apabila guru mampu menempatkan dirinya dalam keseluruhan proses. Artinya, guru harus mampu menempatkan diri sebagai fasilitator dan mediator dalam proses pembelajaran. Oleh sebab menurut Prabowo (2000), bahwa dalam pengelolaan pembelajaran hendaklah guru dapat berlaku sebagai berikut: a) Guru hendaknya jangan menjadi single aktor yang mendominasi pembicaraan dalam proses belajar mengajar, b) Pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang menurut adanya kerja sama kelompok, c) Guru perlu mengakomodasi terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam perencanaan.

Prinsip Evaluasi

Dalam hal ini, maka dalam melaksanakan evaluasi dalam pembelajaran tematik, maka diperlukan beberapa langkah-langkah positif antara lain: a) memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri (self-evaluation/self-assessment) disamping bentuk lainnya, b) Guru perlu mengajak para siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan criteria keberhasilan pencapaian tujuan yang akan dicapai.

Prinsip Reaksi

Dampak pengiring (nurturant effect) yang penting bagi perilaku secara sadar belum tersentuh oleh guru dalam KBM. Karena itu, guru dituntut agar mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran sehingga tercapai secara tuntas tujuan-tujuan pembelajaran. Guru harus bereaksi terhadap aksi siswa dalam semua peristiwa serta tidak mengarahkan aspek yang sempit tetapi kesebuah kesatuan yang utuh dan bermakna. Pembelajaran tematik memungkinkan hal ini dan guru hendaknya menemukan kiat-kiat untuk memunculkan ke permukaan hal-hal yang dicapai melalui dampak pengiring tersebut.

 Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tematik memiliki prinsip-prinsip yang bertujuan untuk memudahkan penyatuan materi, dan dapat menjadikan pembelajaran lebih terlaksana dengan baik.

Langkah Pembelajaran Tematik

Langkah perencanaan pembelajaran tematik yaitu sebagai berikut (Prabowo, 2013:248):

Menetapkan Mata Pelajaran

Karakteristik mata pelajaran menjadi pijjakan utama kegiatan awal ini. Secara teknis, langkah ini sebaiknya dilakukan setelah membuat peta kompetensi dasar secara menyeluruh pada semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar, dengan maksud supaya terjadi pemerataan ketematikan. Pada saat menetapkan beberapa mata pelajaran yang akan di padukan, sebaiknya sudah disertai alasan atau rasional yang berkaitan dengan pencapaian kompetensi dasar oleh siswa dan kebermaknaan belajar.

Menetapkan Kompetensi Dasar yang Sama dalam Setiap Mata Pelajaran

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melakukan identifikasi kompetensi dasar pada jenjang kelas dan semester yang sama dari setiap mata pelajaran yang memungkinkan untuk diajarkan secara tematik, dengan menggunakan sebuah tema pemersatu. Namun, sebelumnya harus ditetapkan terlebih dahulu aspek-aspek dari setiap mata pelajaran yang dapat dipadukan.

Menetapkan Hasil Belajar dan Indikator pada Setiap Mata Pelajaran

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah mempelajari dan menetapkan hasil belajar dari setiap mata pelajaran, sehingga dapat diketahui materi pokok yang bisa dibahas secara tematik.

Menetapkan Tema

Tahap berikutnya adalah menetapkan tema yang dapat mempersatukan kompetensi-kompetensi dasar setiap mata pelajaran yang akan dipadukan pada jenjang kelas dan semester yang sama. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan yang menjadi pokok pembicaraan.

Memetakan Keterhubungan Kompetensi Dasar dengan Tema Pemersatu

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melakukan pemetaan keterhubungan kompetensi dasar masing-masing mata pelajaran yang akan diperlukan dengan tema pemersatu. Pemetaan tersebut dapat dibuat dalam bentuk bagan atau matriks jaringan topik yang memperhatikan kaitan antara tema pemersatu dengan kompetensi dasar setiap mata pelajaran. Tidak hanya itu, dalam pemetaan ini juga akan tampak hubungan tema pemersatu dengan hasil belajar yang harus dicapai siswa.

Menyusun Silabus Pembelajaran Tematik

Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya dijadikan dalam penyusunan silabus pembelajaran tematik.

Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Tematik

Pelaksanaan pembelajaran tematik perlu disusun suatu rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) tematik. Penyusunan RPP merupakan realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah ditemukan dalam silabus pembelajaran tematik. Penyusunan RPP tematik diharapkan dapat tergambar proses penyajian secara utuh dengan memuat berbagai konsep mata pelajaran yang disatukan dalam tema. Di dalam RPP Tematik ini siswa diajak belajar memahami konsep kehidupan secara utuh. Penulisan identitas tidak mengemukakan mata pelajaran, malainkan langsung ditulis tema apa yang akan dibelajarkan (Kemendikbud, 2014:18).

Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan pembelajaran tematik memerlukan langkah-langkah pembelajaran sehingga dapat melaksanakan pembelajaran lebih mudah dan tersusun sesuai dengan pembelajaran yang diperlukan.

Pelaksanaan Pembelajaran Tematik

Tahap ini merupakan pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar sebagai unsur inti dari aktivitas pembelajaran yang dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan rambu-rambu yang telah disusun dalam perencanaan sebelumnya. Secara procedural langkah-langkah kegiatan yang ditempuh diterapkan ke dalam tiga langkah sebagai berikut:

Kegiatan awal/ pembukaan

Tujuan dari kegiatan membuka pelajaran adalah pertama, untuk menarik perhatian siswa, yang dapat dilakukan dengan cara seperti meyakinkan siswa bahwa materi atau pengalaman belajar yang akan dilakukan berguna untuk dirinya, melakukan hal-hal yang dianggap aneh bagi siswa, melakukan interaksi yang menyenangkan. Kedua, menumbuhkan motivasi belajar siswa, yang dapat dilakukan dengan cara seperti membangun suasana akrab sehingga siswa merasa dekat, misalnya menyapa dan berkomunikasi secara kekeluargaan, menimbulkan rasa ingin tahu, misalnya mengajak siswa untuk mempelajari suatu kasus yang sedang hangat dibicarakan, mengaitkan materi atau pengalaman belajar yang akan dilakukan dengan kebutuhan siswa. Ketiga, memberikan acuan atau rambu-rambu tentang pembelajaran yang akan dilakukan, yang dapat dilakukan dengan cara seperti mengemukakan tujuan yang akan dicapai serta tugas-tugas yang harus dilakukan dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan (Sanjaya, W., 2006:41).

Kegiatan inti

Kegiatan inti merupakan kegiatan pokok dalam pembelajaran. Dalam kegiatan inti dilakukan pembahasan terhadap tema dan subtema melalui berbagai kegiatan belajar dengan menggunakan multimetode dan media sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. Pada waktu penyajian dan pembahasan tema, guru dalam penyajiannya hendaknya lebih berperan sebagai fasilitator (Alwasilah:1988). Selain itu guru harus pula mampu berperan sebagai model pembelajaran yang baik bagi siswa. Artinya guru secara aktif dalam kegiatan belajar berkolaborasi dan berdiskusi dengan siswa dalam mempelajari tema atau subtema yang sedang dipelajari. Peran inilah yang disebutkan oleh Nasution (2004:4) sebagai suatu aktifitas mengorganisasi dan mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar. Pada langkah kegiatan inti guru menggunakan strategi pembelajaran dengan upaya menciptakan lingkungan belajar sedemikian rupa agar siswa aktif mempelajari permasalahan berkenaan dengan tema atau subtema. Pembelajaran dalam hal ini dilakukan melalui berbagai kegiatan agar siswa mengalami, mengerjakan, memahami atau disebut dengan belajar melalui proses (Wijaya, dkk:1988:188). Untuk itu maka selam proses pembelajaran siswa mengamati objek nyata berupa benda nyata atau lingkungan sekitar, melaporkan hasil pengamatan, melakukan permainan, berdialog, bercerita, mengarang, membaca sumber-sumber bacaan, bertanya dan menjawab pertanyaan, serta bermain peran.

Selama proses pembelajaran hendaknya guru selalu memberikan umpan agar anak berusaha mencari jawaban dari permasalahan yang dipelajari. Umpan dapat diberikan guru melalui pertanyaan-pertanyaan menantang yang membangkitkan anak untuk berpikir dan mencari solusi melalui kegiatan belajar.

Kegiatan akhir (penutup)

Kegiatan akhir dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran dengan maksud untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa serta keterkaitannya dengan pengalaman sebelumnya, mengetahui tingkat keberhasilan siswa serta keberhasilan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Cara yang dapat dilakukan guru dalam menutup pembelajaran adalah meninjau kembali dan mengadakan evaluasi pada akhir pembelajaran. Dalam kegiatan inti pelajaran atau membuat ringkasan. Dalam kegiatan evaluasi, guru dapat menggunakan bentuk-bentuk mendemonstrasikan keterampilan, mengaplikasikan ide-ide baru pada ituasi lain, mengekspresikan pendapat murid sendiri atau mengerjakan soal-soal tertulis (Hadisubroto dan Herawati; 1988:517).

Kesimpulan

Pembelajaran tematik menjadi hal yang dangat penting dilaksanakan dalam pembelajaran sesungguhnya untuk mengembalikan hak penuh bagi anak untuk mendapatkan pelayanan belajar. Pembelajaran bermakna yang berdasarkan prinsip student centre menempatkan siswa sebagai pihak yang harus diberikan kenyamanan dan kemudahan belajar untuk mengoptimalkan tujuan belajar itu sendiri. Sementara selama ini, penyelenggaraan pembelajaran cenderung melihat anak tetap sebagai objek, dimana guru tetap mendominasi termasuk bagaimana mengupayakan memudahkan proses mengajar, bukan dalam pemahaman memudahkan siswa belajar. Semoga bermanfaat.

Lihat juga ini

loading...
Categories: Uncategorized

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *