Pendahuluan

Pada beberapa pembahasan sebelumnya yang penulis kemukakan terkait dengan membelajarkan Skill Abad 21, mungkin sulit untuk dipahami, karena masih menggunakan bahasa ilmiah yang kurang implementatif. Mungkin juga ada yang menilai, terlalu teoritis dan sulit untuk diimplementasikan karena berbagai alasan. 

Ok mudahnya seperti ini. Kita semua baik guru maupun orang tua pasti berkeinginan agar anak didik kita kelak mampu hidup di zaman yang kita sendiri kita tidak tahu. Maka intinya adalah, kita membekali mereka sikap, landasan materi dasar hingga wawasan sehingga mereka saat itu dipercaya orang lain. Satu hal mengenai kepercayaan, kita pasti semua sependapat, bahwa orang yang paling baik itu adalah orang yang dipercaya oleh yang lain.

Ciri ciri orang yang dipercaya adalah orang yang memiliki segalanya tentang yang baik-baik. Baik dalam hal sikap adalah, disiplin, santun, bijak, terbuka, murah hati, jujur, disiplin dan yang lainnya yang sebagian besar ada pada pelajaran Agama. Sementara mereka yang dipercaya adalah orang karena wawasannya, dengan ciri suka membaca, serba ingin tahu dan suka belajar hal baru. Sementara mereka yang dipercaya karena keterampilannya adalah karna cakap, cekatan, teliti, tidak ceroboh, dan keterampilan lain sesuai kebutuhannya.

Nah.. orang yang dipercaya seperti itulah yang kelak akan mampu hidup di zamannya. Kalau kita contohkan, tidak ada orang yang percaya jika terbukti tidak disiplin, santun, bijak, terbuka, murah hati, jujur dan disiplin. Begitu juga orang akan tidak akan dipercaya orang lain jika sedikitpun tidak tahu tentang apa yang dikerjakannya. Parahnya lagi, mereka akan tidak dipercaya jika tidak cakap, cekatan, teliti, dan ceroboh. Andaikan nada punya perusahaan, apakah mau akan mempekerjakan orang yang tidak dipercaya? Andaikan Anda atasan pada suatu instansi, apakah mau menugaskan bawahan yang tidak dapat dipercaya? Tentu saja tidak bukan?

Jadi intinya kalau disederhanakan orang yang diperlukan di Abad 21 adalah orang yang dipercaya. Sehingga kita sebagai guru dan orang tua, paling tidak harus dapat mengarahkannya untuk menjadi seperti yang disebutkan di atas. Sekarang pertanyaan saya, Apakah itu terotisi semata? Apakah itu sekedar wacana? Apakah Bapak Ibu mau anak didiknya menjadi orang yang tidak dipercaya? Maka pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Kebijakan Gerakan Menuju Profil Pelajar Pancasila. Ya isinya ya itu-itu saja, yaitu untuk membentuk sikap, wawasan dan keterampilan anak didik sehingga mereka kelak menjadi orang yang dipercaya. Demikianlah singkatnya.

Baca Juga

 

Tips Membelajarkan Skill Abad 21

Maka judul di atas saya sederhanakan lagi, “Tips Membelajarkan Anak Didik untuk menjadi Orang yang Dipercaya”. Bagaimana langkah-langkahnya? Seperti pembahasan saya sebelumnya mungkin dianggap teoritis, atau istilah orang “Nyerem nyeremin”, terlalu idealis, mengada ngada dan sebagainya. Tetapi penulis sadar, jika ada tanggapan seperti itu, bukan salah pembaca, tetapi murni kesalahan penulis yang mengambil bahasa yang terlalu ilmiah sehingga tidak semua dapat memahami.

Supaya tidak berpanjang lebar tips singkat membelajarkan Skill Abad 21 adalah “keteladanan”. Artinya guru harus menjadi “guru dipercaya” yang cirinya adalah dapat menunjukkan Skill Abad 21 terlebih dahulu sebelum mengajari anak didiknya. Alasannya ya gampang, ilustrasikan bagaimana Anda mau mengajari orang nyetir mobil jika Anda sendiri tidak bisa nyetir. Apakah itu berlebihan?  Maka tipsnya kurang lebih yaitu guru harus mampu:

  1. Kritis, guru harus kritis dalam menganalisis KI/KD/ buku siswa buku guru, dan menghubungkannya dengan pembelajaran yang mungkin dilaksanakan secara kontekstual dengan menggunakan alat dan bahan yang ada di sekitar sekolah. 
  2. Kreatif guru harus kreatif dalam menggali ide seperti percobaan tentang bunyi, percobaan mencangkok, percobaan mengukur lingkaran dan sebagainya sehingga siswa lebih banyak beraktivitas, dan aktivitas yang banyak yang menunjukkan anak didik telah kreatif.
  3. Kolaboratif guru harus berkolaborasi dengan guru lain dan siswa serta orang tua (jika perlu). Dengan sesama guru dalam merancang pembelajaran dan meminta saran, jadi jangan takut meminta saran pada guru lain Kerjasama dengan siswa terutama dalam diskusi, dan orang tua juga agar mau membantu anaknya belajar
  4. Komunikatif Guru harus mampu mengkomunikasikan apa yang akan dilakukan dalam pembelajaran. Komunikatif dengan siswa maksudnya agar siswa mengerti apa yang akan dikerjakan maka perlu diberi petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan tugas termasuk dengan orang tua, salah satunya dengan video (di masa Pandemi)

 Kesimpulan

Melihat tips di atas, singkat bukan, tetapi mungkin terasa berat ya? Atau pendapat itu terlalu idealis. Tetapi apa lagi yang dapat kita pikirkan selain yang idealis, idealis itu standar, atau dengan kata lain itu yang seharusnya. Penulis menyampaikan ini sebagai pendapat, tentang apa yang seharusnya. Kalau pembaca sependapat bahwa itulah yang seharusnya maka kita sependapat bahwa hal itulah yang harus kita lakukan.

Tetapi coba dipikirkan, apalagi yang bisa kita lakukan, selain yang idealis seperti itu yaitu untuk mewujudkan Skill Abad 21 seperti dikemukakan di atas? Mungkin ada yang punya tips lain, silahkan berkomentar di bawah ya. Terimakasih.

Sumber Releven di sini!

 

loading...

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *