Latar Belakang

Kurikulum Merdeka Belajar

Mungkin kita bertanya-tanya bagaimana sesungguhnya implementasi Kurikulum Merdeka Belajar? Penyusunan Kurikulum di awal tahun ajaran merupakan tantangan tersendiri bagi sekolah utamanya sekolah dasar. Kurikulum merupakan seperangkat program pengelolaan pendidikan yang menjadi acuan panduan pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Nah, kurikulum selanjutnya hadir sebagai panduannya.

Salah satu hal penting yang harus ada dalam kurikulum adalah point terkait kecakapan hidup apa yang harus diwujudkan kepada peserta didik setelah menyelesaikan pendidikan. Hal ini harus dirancang sejak awal, yaitu sejak dibuatnya kurukulum. Bukankah peserta didik mengikuti pembelajaran di sekolah harus mendapatkan hasil? Bukankah hasil yang ingin diperoleh itu berwujud kecakapan hidup? Apakah landasan pemikiran kita agar argumentasi kita dalam menyusun kurikulum sejalan dengan hal itu?  Skill apa saja yang harus peserta didik kuasai ketika menyelesaikan pendidikan?  Simak penjelasan di bawah ini untuk menjawab pertanyaan itu.

Perkembangan peradaban Era Industri 4.0 mengharuskan generasi muda penerus bangsa yang tangguh dan mampu bertahan hidup. Fakta tentang masa depan tercermin dalam VUCA yaitu tidak stabil (Voletile), tidak pasti ( Uncernternty), rumit (Komplekcity) dan membingungkan (Ambigu). Maka dari itu rute jalan pendidikan yang akan dapat mengantarkan anak-anak kita menuju ke masa itu tercermin dari tiga hal yaitu : 1) Proses pendidikan yang mengedepankan penguasaan skill (kecakapan hidup) berbasis kompetensi literasi dan numerasi; 2) Proses pendidikan yang mendorong penguatan sikap positif berorientasi masa depan dan 3) Proses pendidikan yang mengedepankan upaya mendorong siswa sebagai pembelajar seumur hidup yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sehingga terbiasa melakukan kegiatan literasi. Perwujudan kemampuan seperti diuraikan di atas akan membentuk keperibadian peserta didik yang tangguh dan layak dipercaya.

Baca Juga

Kecakapan Hidup Abad 21

Skill Abad 21 merupakan kemampuan yang menjadi keperibadian personal yang tangguh yang mampu bertahan hidup dalam segala kondisi di Era Industri 4.0,  tersebut dapat dipilah menjadi  :

1. Ketrampilan Berpikir Kritis dan Problem Solving

Tantangan masa depan adalah masalah yang akan dihadapi oleh peserta didik ketika mereka beranjak dewasa dan menjalani hidup di era itu. Masalah yang hadir selanjutnya dijadikan tantangan dan peluang untu dicarikan solusi pemecahannya. Cara berpikir kritis merupakan cara seseorang untuk membaca jalan keluar dari persimpangan antara kebenaran dan kesalahan, keadilan dan ketidakadilan, kelebihan dan kekurangan. Solusi dari pemecahan masalah yang dihasilkan dari cara bernalar kritis merupakan cara terbaik dari berbagai pilihan yang ada, dan terkadang pilihan itu dianggap bertentangan dari pola pikir kebanyakan orang yang selama ini telah mapan.

2. Ketrampilan Berkreativitas dan Beinovasi

Hasil dari kemampuan mencari solusi dari permasalahan melalui proses bernalar kritis sering menghasilkan kreatifitas dan inovasi yang bermanfaat bagi orang banyak. Keterampilan berkreatifitas dan berinovasi yang dimiliki oleh peserta didik yang diwujudkan melalui pembelajaran yang efektif akan mengantarkan mereka mampu menjadi solusi bagi permasalahan hidup mereka dan msyarakat di masa yang akan datang.

3. Ketrampilan Bekomunikasi yang Efektif

Produk kreatifitas pikiran dan benda yang dihasilkan dari proses bernalar kritis yang akan dimanfaatkan oleh orang lain dan masyarakat tidak akan serta merta terjadi jika tidak diikuti oleh kemampuan berkomunikasi yang efektif. Belajar mengkomunikasikan kreatifitas produk pikiran dan benda yang dihasilkan dari proses mencari solusi pemecahan masalah  dengan menggunakan cara berpikir kritis tersebut akan berhasil jika memiliki kemampuan komunikasi yang efektif. Maka dari itu sejak dini peserta didik harus dilatih cara berkomunikasi yang efektif dalam rangka menumbuhkan kepercayaan dirinya bahwa produk kreatifitas tersebut mampu memecahkan permasalahan orang lain dan masyarakat.

4. Keterampilan Berkolaborasi

Penumbuhan cara berpikir kritis yang menghasilan kreatifitas untuk menyelesaikan masalah, memiliki peluang keberhasilan jika mengedepankan sikap bergotong-royong, saling berbagi, bekerjasama, saling menghargai, tenggang rasa dan kebersamaan. Sikap mampu berkolaborasi akan sangat meringankan peserta didik dalam upaya menjalani kehidupannya di masa depan dan hal itu tidak akan tercapai jika tidak dilandasi kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain, yang mencerminkan tumbuhnya perilaku positif untuk saling berbagi beban satu dengan yang lain.

Karakter Profil Pelajar Pancasila

Kurikulum merdeka belajar hendaknya mengakomodir agenda global terkait kecakapan Abad 21 seperti dijelaskan di atas selanjutnya diadaptasi menjadi Visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendukung Visi dan Misi Presiden untuk mewujudkan Indonesia Maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan bekebinekaan global. Visi tersebut menggambarkan komitmen Kemendikbud mendukung terwujudnya visi dan misi Presiden melalui pelaksanaan tugas dan wewenang yang dimiliki secara konsisten bertanggung jawab, dapat dipercaya dengan mengedepankan profesionalitas dan integritas. Oleh karena itu, perumusan kebijakan dan pelaksnaan pembangunan bidang pendidikan dan kebudayaan akan mengedepankan inovasi guna mencapai kemajuan dan kemandirian Indonesia. Sesuai dengan kepribadian bangsa yang berlandaskan gotong royong,  Kemendikbud dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan dan kebudayaan, bekerja bersama untuk memajukan pendidikan dan kebudayaan sesuai dengan Visi dan Misi Presiden tersebut.

Sejalan dengan perwujudan visi dan misi Presiden tersebut, sesuai dengan tugas dan kewenangan Kemendikbud, berkomitmen untuk menciptakan Pelajar Pancasila. Pelajar pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebihekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif seperti ditunjukkan oleh gambar di atas, seperti dijabarkan dalam penjelasan berikutnya.

1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia

Pelajar Indonesia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, dan berakhklak mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan yang Maha Esa. Ia memahami ajaran agama dan kepercayaan serta menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ada lima elemen kunci beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, dan berakhlak mulia yaitu:

  • akhkal beragama, menerapkan pemahamannya tentang kualitas atau sifat-sifat Tuhan dalam kehidupan
  • akhlak pribadi, menyadari bahwa menjaga dan merawat diri penting dilakukan bersamaan dengan menjaga dan merawat orang lain dan lingkungan sekitarnya
  • akhlak manusia, mengutamakan persamaan dan kemanusiaan di atas perbedaan serta menghargai perbedaan yang ada dengan orang lain
  • akhlak kepada alam, menyadari pentingnnya merawat lingkungan sekitarnya sehingga dia tidak merusak atau menyalahgunakan lingkungan alam, agar alam tetap layak dihuni oleh seluruh mahkluk hidup saat ini maupun generasi mendatang
  • ahklak bernegara, memahami serta menunaikan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang baik serta menyadari perannya sebagai warga negara

2. Berkebinekaan global

Pelajar Indoensia mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitas, dan tetapkan berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya budaya baru yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa. Elemen kunci dari berkebinekaan global meliputi:

  • mengenal dan menghargai budaya, mengenali, megidentifikasi dan mendeskripsikan berbagai macam kelompok berdasarkan perilaku, cara berkomunikasi dan budayanya, serta mendeskripsikan pembentukan identitas dirinya dan kelompok, juga menganalisis bagaimana menjadi angggota kelompok sosial di tingkat lokal, regional, nasional dan global
  • komunikasi dan interaksi antar budaya, pelajar Indonesia berkomunikasi dengan budaya yang berbeda dari dirinya secara setara dengan memperhatikan, memahami, menerima keberadaan, dan menghargai keunikan masing-masing budaya sebagai sebuah kekayaan perpektif sehingga terbangun kesalingpahaman dan empati terhadap sesama
  • refleksi dan bertanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan: secara reflektif memanfaatkan kesadaran dari pengalaman kebinekaannya agar terhindar dari prasangka dan stereotip terhadap budaya berbeda, sehingga dapat menyelaraskan, perbedaan budaya agar tercipta kehidupan yang harmonis antar sesama dan kemudian secara aktif partisipatif membangun masyarakat yang damai dan inklusif, berkeadilan sosial, serta berorientasi pada pembangunan yang berkelanjutan

3. Bergotong royong

Pelajar Indonesia memiliki kemampuan bergotong royong, yaitu kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan sukarela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah dan ringan. Elemen-elemen kunci dari hal ini adalah :

  • Kolaborasi, bekerja bersama dengan orang lain disertai perasaan senang ketika berada bersama dengan orang lain dan menunjukkan sikap positif terhadap orang lain
  • Kepedulian, memperhatikan dan bertindak proaktif terhadap kondisi atau keadaan di lingkungan orang lain
  • Berbagi, memberi dan menerima segala hal yang penting bagi kehidupan pribadi dan bersama, serta mau dan mampu menjalani kehidupan bersama yang mengedepankan penggunaan bersama sumber daya daan ruang yang ada di masyarakat secara sehat

4. Mandiri

Pelajar Indonensia merupakan pelajar mandiri, yaitu pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Elemen kunci dari mandiri terdiri dari:

  • Kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi, melakukan refleksi terhadap kondisi dirinya dan situasi yang dihadapi dimulai dan memahami emosi dirinya dan kelebihan serta keterbatasan dirinya, sehingga ia akan mampu mengenali dan menyadari kebutuhan pengembangan dirinya yang sesuai dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi
  • Regulasi diri, mampu mengatur pikiran, perasaan dan perilaku dirinya untuk mencapai tujuan belajarnya

5. Bernalar kritis

Pelajar yang bernalar kritis mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya. Elemen-elemen dan bernalar kritis adalah memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, merefleksi pemikiran dan proses berpikir dan mengambil keputusan. Elemen Kunci dari bernalar kritis adalah :

  • Memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, memiliki rasa keingintahuan, mengajukan pertanyaan yang relevan, mengidentifikasi dan mengklarifikasi gagasan dan informasi yang diperoleh, serta mengolah informasi tersebut
  • Menganalisis dan mengevaluasi penalaran, dalam pengambilan keputusan menggunakan nalarnya sesuai dengan kaidah sains dan logika dalam pengambilan keputusan dan tindakan dengan melakukan analisis serta evaluasi dari gagasan dan informasi yang didapatkan
  • Merefleksi pemikiran dan proses berpikir, melakukan refleksi, melakukan refleksi terhadap berpikir itu sendiri (metakognisi) dan berpikir mengenai bagaimana jalannya proes berpikir tersebut sehingga ia sampai pada suatu simpulan
  • Mengambil keputusan, mengambil keputusan dengan tepat berdasarkan informasi yang relevan dari berbagai sumber fakta dan data yang mendukung

6. Kreatif

Pelajar kreatif yang mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat dan berdampak. Elemen kunci dari kreatif terdiri dari:

  • Menghasilkan gagasan yang orisinal, menghasilkan gagasan yang terbentuk dari hal paling sederhana, saperti ekspresi pikiran dan/atau perasaan, sampai dengan gagasan yang kompleks untuk kemudian mengapikasikan ide baru sesuai dengan konteksnya guna mengatasi persoalan dan memunculkan berbagai alternatif penyelesaian
  • Menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal, menghasilkan karya yang didorong oleh minat dan kesukaannya pada suatu hal, emosi yang ia rasakan, sampai dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan sekitarnya.

Kurikulum Merdeka Belajar

Pertanyaan berikutnya bagaimana upaya mewujudkan visi dan misi di atas? Visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mewujudkan Indonesia Maju yang berdaulat, mandiri, dan berkeperibadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global, dapat dicapai melalui kebijakan Merdeka Belajar.  Secara esensial dapat diambil beberapa aspek penting terkait kebijakan Merdeka Belajar yaitu:

1. Kemerdekaan Peserta Didik

Kurikulum merdeka belajar menempatkan posisi guru yang harus menjamin bahwa siswa yang memiliki karakteristik yang beragam, yang perlu mendapatkan layanan berbeda dalam pembelajaran. Berdasarkan pandangan itu, maka peserta didik akan memiliki peluang untuk mengembangkan kecenderungan bakat dan minatnya tentang suatu yang berbeda satu dengan yang lainnya. Pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa merupakan jalan keluarnya, yang selama ini hanya dalam tataran wacana saja. Kata kuncinya adalah belajar dapat memberi siswa rasa nyaman dan senang belajar, sehingga menemukan gaya belajarnya sendiri tentang konten pembelajaran berawal dari apa yang mereka minati, dengan hasil belajar terkait langsung dengan kompetensi sesuai jenjang pendidikannnya. Tidak terbalik, Guru menerapkan strategi dan konten pembelajaran yang mereka senang dan minati,  yang keberhasilannya tercermin dari target kurikulum, dan fortofolio administrasi yang mereka kumpulkan.

2. Kemerdekaan Guru dalam Mewujudkan Merdeka Belajar

Kurikulum merdeka belajar meliputi aspek kemerdekaan peserta didik seperti dikemukakan di atas, akan berimplikasi pada diperlukannya ruang bagi guru dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Bagaimana mungkin guru mampu menemukan cara baru dalam membelajarkan anak dengan karakteritik beragam jika masih harus mengikuti ketentuan yang kaku. Maka guru harus diberikan ruang untuk menentukan cara merenanakan, cara mengajar, menentukan media dan sumber, cara menilai dan cara merefleksikan diri, agar siswa termotivasi untuk belajar sepanjang tujuan kompetensi sesuai jenjangnnya dicapai. Selanjutnya hal ini berimplikasi kepada tantangan guru yaitu wawasan guru, standar keahlian, rasa ingin tahu, keteladanan dan keuletan agar tercipta proses belajar seperti dijelaskan di atas.

3. Mengoptimalkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Kurikulum merdeka belajar selanjutnya terkait dengan kemerdekaan guru seperti dijelaskan di atas akan dapat terwujud jika panduan pembelajaran seperti dituangkan dalam kurikulum memberikan ruang bagi guru dalam menentukan strategi yang relevan dalam rangka menentukan pola pembelajaran yang baik dan relevan berdasakan karakteristik siswa dan kelasnya yang beragam dan dinamis. Kepala sekolah sebagai perancang kurikulum harus melibatkan guru dan masyarakat peduli pendidikan dalam menyusun kurikulum. Maka dari itu sejak awal pemahaman yang sama terkait pola perencanaan, perencanaan, evaluasi dan refleksi pembelajaran sudah terjadi. Hal ini akan berdampak kepada dukungan dan kepercayaan terhadap pola pengelolaan sekolah dalam pembelajaran menjadi lebih baik. Dukungan yang baik berdasarkan keterlibatan dan pemahaman, akan berdampak pada motivasi yang tinggi dari guru dalam rangka mewujudkan visi pemerintah dan sekolah dalam mewujudkan pendidikan yang lebih baik. Hal ini akan menjadi lebih baik, jika juga didukung pelibatan segenap elemen pendidikan dalam perencanaan pengelolaan pendidikan lainnya berbasis 8 Standar Nasional Pendidikan.

4. Mengoptimalkan Manajemen Berbasis Sekolah untuk Mendukung Kurikulum Merdeka Belajar

Mewujudkan kurikulum merdeka belajar semestinya berlandaskan optimalisasi perencanaan pengelolaan pembelajaran oleh kepala sekolah dengan produk Kurikulum Satuan Pendidikan akan terwujud jika kondisi Manajemen Berbasis Sekolah didukung penuh oleh praktisi pendidikan lainnya seperti pengawas sekolah dan birokrasi pendidikan.Kondisi dimaksud seperti:

  • Bebas tekanan penyeragaman, terkait kurikulum, RPP, silabus, evaluasi, alokasi penggunaan anggaran, sampai ketiadaan ancaman mutasi akibat sekolah yang tampil beda.
  • Mengapresiasi sekolah dan guru yang mampu membuktikan dirinya sehingga memotivasi elemen sekolah untuk senantiasa berinovasi
  • Memberi ruang kepada kepala sekolah untuk berkreasi dan berinovasi, mengemukakan pendapat, mengkritisi kebijakan, ambil peran dalam menentukan kebijakan pendidikan yang lebih luas
  • Birokrasi kependidikan memberikan ruang berkumpul, berdiskusi secara terbuka dalam merencanakan kebijakan pendidikan dinas pendidikan
  • Birokrasi kependidikan dan elemen lembaga dan praktisi kependidikan dari berbagai level yang terkati dengan pengembangan kualitas pendidikan harus berisnergi untuk mendengarkan permasalahan pendidikan muali dari tingkat bawah, sehingga program selalu bersifat bottom up, bukan sebaliknya atau top down.

Dukungan Kebijakan Lainnya

Dalam upaya mendukung kebijakan merdeka belajar seperti dikemukakan di atas, pemerintah telah pula mengeluarkan kebijakan lain yang menguatakan. Kesepahaman atas hubungan kebijakan merdeka belajar dengan kebijakan lainnya akan sangat menentukan keberhasilan kebijakan itu.

1. Mengganti Ujian Nasional Menjadi Asesemen Nasional untuk Mendukung Kurikulum Merdeka Belajar

Ujian nasional yang selama ini kita kenal hanya mengukur aspek kognitif dari peserta didik yang menjadi penentu kelulusan, dan dijadikan gambaran kualitas pendidikan, sementara aspek lain terkiat sikap dan skill diabaikan. Maka ide Asesemen nasional mencakup ruang lingkup yang lebih luas (sikap dan skill) dan tidak ditujukan untuk menentukan kelulusan peserta didik. Gambaran mutu pendidikan seperti ini akan layak dijadikan acuan refleksi bagi kebijakan pemerintah hingga sekolah dalam menentukan kebijakan pendidikan selanjutnya.

Asesemen Nasional dilakukan beranjak dari refleksi pemerintah pusat terkait hasil PISA yang menunjukkan rendahnya mutu pendidikan Indonesia dibandingkan negara lain di dunia. Asesemen Nasional adalah asesemen sejenis PISA yang diharapkan mampu mendorong peningkatan mutu pendidikan di masa depan untuk mewujudkan peserta didik yang dapat menguasai keterampilan Abad 21. Aspek indikator penguasaan standar kompetensi minimal dalam Asesemen Nasional tersebut mengacu pada literasi dan numerasi.

a. Literasi

Kemampuan literasi anak merupakan kemampuan untuk menyimak, mengolah dan mengkomunikasikan informasi sebagai bagian dari kegiatan belajar semumur hidup dalam mengembangkan kemampuan skillnya untuk dapat bertahan hidup di Abad 21 meliputi:

  • Literasi Informasi, literasi informasi memuat kemampuan peserta didik dalam menyimak, mengolah dan mengkomunikasikan informasi dalam bentuk peristiwa, fakta dan data
  • Literasi Fiksi, literasi informasi memuat kemampuan anak untuk menyimak makna tersurat dan tersirat, apresiasi sastra dan mengambangkan kemampuan imajinasinya yang dituangkan dalam bentuk karya sastra.
b. Numerasi

merupakan kemampuan mencermati mengolah dan menyajikan informasi berupa data, mengolah data dan menyajikan data baik dalam bentuk angka, simbol, grafik berdasarkan kemampuan logika sahih dan ilmiah

Asesemen nasional yang diselenggarakan pemerintah pusat bertujuan untuk mengukur kemampuan minimal dalam hal literasi dan numerasi tersebut selenjutnya digurnakan sebagai pemetaan mutu sekolah, proses pembelajaran dan guru pada satuan pendidikan. Hal ini jelas akan berimplikasi pada proses pelaksanaan pembelajaran yang akan diselenggarakan oleh guru di sekolah.

2. Penyederhanaan RPP dalam Kurikulum Merdeka Belajar

Terkait dengan tuntutan visi misi kementerian sebagai akibat dari tuntutan masa depan yang mengharuskan peserta didik harus memiliki skill Abad 21 tersebut selanjutnya akan dapat dicapai jika dilaksanakan dalam pembelajaran yang direncanakan dengan memperhatikan beberapa hal yaitu :

  • Pembelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan keperibadian dan karakter yang mencerminkan skill Abad 21
  • Pembelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan kompetensi literasi dan numerasi berdasarkan semangat pembeljar semumur hidup
  • Pembelajaran yang memberi kesempatan pada peserta didik untuk mengembangkan potensinya dalam hal bakat dan minatnya
  • Pembelajaran yang memberi kesempatan pada guru untuk lebih leluasa mengembangkan strategi pembelajaran untuk mencapai point a dan b di atas berdasarkan tingkat perkembangan siswa
  • Pembelajaran yang memberi kesempatan pada orang tua untuk ikut berperan serta dalam upaya mengembangkan karakter anak

3. Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru untuk Mendukung Merdeka Belajar

Penerimaan peserta didik yang mengikuti aturan dan jalur peta zonasi yang ditetapkan oleh pemerintah dengan prinsip berkeadilan tanpa diskriminasi.

Kesimpulan

Kurikulum merdeka belajar sesungguhnya menghendaki proses belajar yang disesaki dengan inovasi. Inovasi yang baik akan berhasil baik jika mampu dikomunikasikan dan dikolaborasikan secara baik. Itulah kata bijak sikap keteladanan Abad 21yang harus terjadi agar kebijakan merdeka belajar berhasil. Singkatnya adalah “bergotong royong”.  Elemen pendidikan dari berbagai level dan kepentingan harus bekerjasama, saling memahami, yang di atas memberi ruang kepada yang di bawah, yang dibawah mengerti tujuan dan melaksanakan berdasarkan atas pemahaman, bukan semata-mata loyalitas.

Keterampilan Abad 21, bukan semata kompetensi untuk peserta didik, tetapi guru, dan praktisi pendidikan dari berbagai elemen sampai pada top level, harus meneladaninya. Guru kencing berdiri, murid kencing berdiri, merupakan pepatah negatif yang tepat untuk menggambarkannya. Bagaimana mungkin kebijakan merdeka belajar jika hanya semata proyek dimana sekolah hanya sebagai sasaran, dapat berhasil jika tidak diberi ruang untuk berkontribusi dalam penentuan kebijakan di atasnya. Katanya kolaborasi, bergotong-royong, sementara di saat bersamaan, sekolah selalu dianggap sebagai kata “sasaran program”.

Sumber relevan di sini

loading...

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *