Pendidikan kepada anak merupakan investasi masa depan, yang dalam konteks bernegara merupakan harapan masa depan bangsa yang peradabannya terus berkembang dalam rangka menciptakan kesejahteraan individu warganya. Melihat hal itu pendidikan bukan hanya kepentingan bangsa atau individu yang berjalan sendiri-sendiri, tetapi merupakan kepentingan kolektif yang saling membutuhkan secara kolaborasi satu antar individu warga negara yang secara kolektif menjadi tujuan sebuah negara atau bangsa.

Bangsa Indonesia sejak kemerdekaannya telah menyadari hal ini dan menjadikan pendidikan sebagai visi besar. Upaya mencerdasakan kehidupan bangsa merupakan cita-cita awal seperti termaktub dalam pembukaan Undang-undang Dasar Tahun 1945. Visi besar itu selanjutnya diterjemahkan kedalam kebijakan keberpihakan terhadap dunia pendidikan sehingga memperoleh alokasi anggaran sebesar 20% yang secara bertahap direalisasikan. Visi besar bangsa yang mendapat dukungan pendanaan yang besar memerlukan perencanaan yang mempertimbangkan segala aspek secara komprehensif, sehingga arah kebijakan secara konsisten dapat mencapai visi tersebut.

Baca Juga

TUJUAN DAN RUANG LINGKUP PENGEMBANGAN KURIKULUM

LANDASAN HUKUM PENYUSUNAN KURIKULUM PADA TATANAN KEHIDUPAN BARU

PRINSIP ARGUMENTASI NALAR PENYUSUNAN KURIKULUM 2021/2022

LANDASAN FILOSOFIS PENYUSUNAN KURIKULUM

Tantangan masa depan yang bersifat dinamis merupakan upaya menciptakan generasi bermutu dan mampu bersaing dalam merebut kesempatan untuk mewujudkan bangsa yang berperadaban maju. Dinamika masa depan diistilahkan dengan  VUCA yang memuat beberapa hal pokok tentang tantangan seperti 1) Voletile (ketidakstabilan), 2) Uncenrtenty (ketidakpastian), 3) Compelexcity (kerumitan), 4) Ambigue (membingungkan). Kegelapan masa depan seperti dimaksud dalam VUCA membuat tugas dunia pendidikan dapat mengantarkan anak-anak ke depan pintu masa depan, dimana merekalah yang akan menjalaninya kelak.

Prediksi kompetensi masa depan adalah ramalan yang dapat kita pakai sebagai acuan sehingga lebih mudah kita dalam membuat suatu rencana. Kompetensi yang diperlukan generasi masa depan dalam mengisi peradaban Era Industri 4.0 saat itu adalah seperti beberapa hal pokok seperti 1) kemampuan berpikir nalar kritis, 2) kemampuan berkreasi dan berinovasi, 3) kemampuan komunikasi yang efektif, 4) kemampuan berkolaborasi dan berkerjasama dalam tim. Kompetensi masa depan yang diharapkan adalah anak-anak yang berkarakter dalam Profil Pelajar Pancasila, yang memuat beberapa pokok nilai seperti: 1) Berketuhanan Yang Maha Esa dan Berahklak Mulia, 2) Mandiri, 3) Kritis, 4) Kreatif, 5) Gotong-royong dan 6) Berkebinekaan Global.

Fakta tentang kondisi terkini pendidikan Indonesia secara umum tercermin dari peringkat PISA yang diterbitkan oleh Organisations for Economic Co-operations and Development (OECD) yang menunjukkan kemampuan siswa Indonesia dalam membaca, maraih skor 371 di bawah rata-rata OECD 487. Hal menarik juga ditemukan bahwa pendidikan Indonesia berada dalam katagori Low Performance dengan High Equity karna ditemukan gender gap in performance dimana siswa perempuan memiliki kemampuan belajar lebih baik dari pada laki-laki. (https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/12/hasil-pisa-indonesia-2018-akses-makin-meluas-saatnya-tingkatkan-kualitas). Sementara kemampuan literasi sains siswa-siswa Indoensia berada pada peringkat ke 70 dengan skor 396. https://edukasi.kompas.com/read/2019/12/07/10225401/skor-pisa-2018-peringkat-lengkap-sains-siswa-di-78-negara-ini-posisi . Rendahnya mutu pendidikan Indoensia di antara 78 negara OECD menjadi salah satu refleksi pemerintah untuk segera mengupayakan kebijakan strategis sehingga dapat meningkatkan kondisi itu di masa yang akan datang.

Selain permasalahan di atas, dengan merebaknya Pandemi Covid-19, menjadi faktor penting yang merubah pola kebijakan pendidikan. Sejak bulan Maret 2020, kebijakan pemberlakuan Belajar Dari Rumah (BDR), telah dilaksanakan untuk meminimalisir ancaman kehilangan kesempatan belajar bagi siswa karena diberlakukannya pembatasan sosial hampir di seluruh wilayah Indonesia. Kebijakan pelaksanaan pembelajaran tatap muka, yang secara berangsur-angsur berkembang secara dinamis mengikuti suasana kebijakan pemerintah untuk menanggulangi terjadinya Covid-19, secara bertahap disesuaikan menjadi pembelajaran tatap muka terbatas.

Fakta mutu pendidikan Indonesia yang masih perlu ditingkatkan ditambah lagi beban ancaman kehilangan kesempatan belajar karena Pandemi Covid-19, maka pemerintah menegaskan kembali pentingnya pemberlakuan kebijakan “Merdeka Belajar”.  Kebijakan merdeka belajar fokus kepada beberapa hal terkait penyelenggaan pendidikan yaitu: 1) Penilaian Pendidikan 2) Rencana Pelaksanaaan Pembelajaran, 4) Peraturan terkait Penerimaan Peserta Didik Baru.

Dalam upaya mengembangkan kebijakan “Merdeka Belajar”, maka pemerintah selanjutnya menyederhanakan Kurikulum 2013, menjadi Kurikulum Darurat Covid-19, yang menjadi landasan bagi sekolah dan guru dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip merdeka belajar dalam aktifitas keseharian di sekolah. Kurikulum baru yang diluncurkan selanjutnya berdampak kepada Proses Perencanaan Pembelajaran dan Penilaian Pembelajaran. RPP standar Kurikulum 2013, selanjutnya disederhanakan menjadi “RPP satu halaman” yang merujuk pada RPP yang hanya memuat hal-hal pokok sebagai upaya memberi kesempatan kepada guru untuk menerapkan prinsip “Merdeka Belajar”. Desain RPP yang sederhana yang memuat hal-hal pokok saja akan berdampak kepada keleluasaan guru dalam berinovasi di level pembelajaran di kelas.

Kebijakan penilaian pendidikan pada gilirannya terkena dampak dari penerapan prinsip “Merdeka Belajar”. Penilaian pendidikan yang semula hanya berorientasi pemetaan mutu berbasis hasil belajar dari sudut pandang kognitif selanjutnya berkembang menjadi pemetaan mutu untuk mengetahui aspek yang lebih luas, baik dari sisi kompetensi, sikap dan lingkungan belajar. Maka dari itu, kebijakan berikutnya yang mengikuti adalah Assesemen Nasional. Assesemn Nasional terdiri dari 3 (tiga bagian) yaitu: 1) Assesemen Kompetensi Minimum, 2) Survey Karakter dan 3) Survey Laingkungan Belajar (https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/12/tahun-2021-ujian-nasional-diganti-asesmen-kompetensi-dan-survei-karakter).

Dinamika perubahan seperti diuraikan di atas selanjutnya menjadi landasan pemikiran dalam penyusunan kurikulum sekolah Tahun Ajaran 2021/2022. Latar belakang seperti dikemukakan di atas merupakan pola pikir yang akan mendasari konsep teknis dari penjabaran kurikulum di tingkat sekolah. Pemikiran di atas akan berpengaruh pada tujuan, prinsip, prosedur, analisis produk hukum input output sumberdaya dan keterlibatan para pihak.

loading...

1 Comment

I Wayan Gede, S.pd · June 16, 2021 at 1:46 am

Sangat baik untuk penyusunan kurikulum 2020 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *