Pengertian

Refkeksi pembelajaran

Refleksi pembelajaran

Siapa yang tidak ingin siswanya berhasil dalam belajar. Baik guru maupun orang tua pasti mengharapkan hal yang sama. Kita selalu berharap agar apa yang kita ajarkan pada siswa kita berbekas lama dan bermakna bagi kehidupan mereka kelak. Tentu hal ini tidak mudah seperti bagaimana kita harapkan sedari awal. Ada banyak hal yang harus menjadi alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu hal yang tidak dapat diabaikan dari kegiatan pembelajaran adalah kegiatan refleksi. Dari sisi tahapan hal ini adalah diselenggarakan pada akhir kegiatan pembelajaran. Akan tetapi hal ini tidak dapat kita abaikan, dan sebenarnya tahapan inilah yang paling penting menurut penulis.

Refleksi adalah cara kita melihat kembali proses tindakan yang telah kita lakukan, sehingga dapat menemukan kekuatan dan kelemahannya. Refleksi pembelajaran adalah tindakan yang kita lakukan untuk melihat kelebihan dan kekurangan proses pembelajaran yang telah kita selenggarakan. Cara kita melihat proses pembelajaran walaupun hasil yang kita capai telah berhasil maupun tidak sangat penting pula kita lakukan.

Alasan mendasar yang menjadi sebab kita harus senantiasa melakukan kegiatan refleksi adalah karena karateristik siswa yang sangat beragam. Karakteristik anak yang unik yang datang dari berbagai latar belakang keluarga yang berbeda, tempat yang berbeda, umur yang berbeda, bahkan tidak ada satu anak, sekalipun itu anak kembar, yang memiliki karakteristik yang sama. Maka atas keberagaman ini, setiap guru pasti akan menemukan potensi salah dalam melakukan tindakan yang dilakukan terhadap anak didiknya. Atas dasar alasan itu, maka anak sudah sewajarnya mendapat perlakukan berbeda dalam setiap kegiatan belajar, tergantung dari karakteristiknya tersebut dalam upaya memperbaiki capaian belajarnya.

 

Manfaat Refleksi

Kegiatan refleksi sangat bermanfaat bagi guru dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran yang akan dilaksanakan. Secara khusus manfaat guru dalam melaksanakan refleksi adalah:

    1. Guru mengetahui kelemahan dan kekuatan pembelajaran yang telah dilaksanakan sehingga dapat secara tepat menentukan strategi perbaikannya.
    2. Guru dapat meningkatkan kemampuannya dalam memilih strategi yang relevan dilaksanakan terutama ketika merencanakan pembelajaran
    3. Guru dapat mengetahui karakteristik siswa secara mendalam sehingga dapat merencanakan tindakan yang tepat dalam membimbing dan mendamingi siswa
    4. Guru dapat melatih instingnya dalam melakukan tidakan cepat ketika terjadi permasalahan di kelas karna karakteristik siswa telah dipahaminya

Unsur unsur Karakteristik Anak

Siswa SD menurut Piaget beradap pada tahapan operasional konkret dengan rentangan umur kisaran 6 s/d 13 tahun. Strategi yang tepat dalam rangka menentukan langkah refleksi yang kita akan laksanakan harus didahului dengan upaya mengetahui karakteristik anak. Secara umum karakteristik anak SD sangat bervariasi, yang memerlukan tindakan beragam dalam proses pembelajaran. Jika dikaitkan dengan kepentingan belajar secara kelasikal, maka beberapa variasi karakter anak adalah sebagai berikut:

    1. Anak lebih senang belajar dengan menggunakan benda konkret, hal ini harus menjadi pertimbangan penting bagi guru dalam mengupayakan kegiatan belajar. Guru dalam melangsungkan aktivitas belajar siswa hendaknya menggunakan benda konkret atau nyata seperti media pembelajaran yang berwujud 2 atau 3 dimensi. Hal ini akan sangat membantu siswa dalam mangadaptasi konsep berpikirnya untuk menjadi konsep baru sesuai dengan konteks konsep materi yang hendak guru sampaikan.
    2. Anak lebih senang bermain, hal ini sangat penting dapat dilakukan dalam setiap kegiatan pembelajaran. Permainan yang menyenangkan bagi siswa terutama di kelas-kelas rendah yaitu, 1, 2 dan 3 akan berdampak bagi minatnya dalam belajar.
    3. Anak lebih senang mendapat pujian, karena pujian atau penghargaan yang bersifat verbal, akan berdampak pada aspek meningkatnya motivasi belajar anak, untuk meningkat pada tahapan berikutnya
    4. Anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dalam hal ini guru harus menyediakan sumber informasi yang banyak, cepat dan tepat, untuk memenuhi kebutuhan anak tersebut. Guru tidak harus kaku dalam penyampaian materi, hanya sekedar untuk mengejar target kompetensi yang harus dicapai, tetapi lebih kepada anak dapat terpenuhi kebutuhannya untuk tahu tentang sesuatu.
    5. Anak ingin menunjukkan keberaniannya dalam kegiatan belajar, hal ini merupakan hal mendasar yang menjadi karakteristik anak SD, karena setiap mengajukan pertanyaan, hamper Sebagian besar mengacungkan tangan. Dalam hal ini guru seharusnya berlaku adil pada sisa tanpa pengacualian dan pengabaian.
    6. Anak akan cepat merasa kecewa dan frustasi ketika di buli atau diperlakukan kurang baik oleh teman ataupun gurunya. Hal ini hendaknya harus menjadi perhatian serius dari guru, agar tidak merugikan semua langkah baik yang telah dilakukan guru.
    7. Anak suka mengadu, hal ini merupakan karakter dasar anak SD yang masih jujur dan polos, sehingga sering mengadu pada gurunya tentang segala hal. Hal ini harus ditanggapi guru satu persatu tanpa pengabaian.
    8. Anak bersifat aktif, sehingga terkadang mengganggu temannya, untuk hal ini guru harus memperlakukan siswa secara adil. Sejak saat ini guru secara perlahan dan simpatik menanamkan nilai kepedulian dan tenggang rasa dengan sesama temannya.

Terhadap beberapa variasi karakter di atas, terdapat pula sebagian kecil yang memiliki karakter khusus yang memerlukan penanganan secara khusus atau tidak secara kelasikal, beberapa di antaranya adalah :

    1. Anak pendiam, yang jarang bicara, dan kurang aktif dalam kegiatan belajar, sehingga berpotensi menjadi resesif (tidak dominan)
    2. Anak hiperaktif, anak yang terlalu aktif, anak seperti ini tidak bisa diam, dan cenderung mengganggu teman yang lain
    3. Anak berkebutuhan khusus, yang memiliki keterbelakangan dan keterlambatan belajar, sehingga memerlukan penanganan khusus
    4. Anak berbakat, dimana anak ini memiliki kemampuan luar biasa dalam hal tertentu, yang juga harus mendapat perlakuan khusus.

Strategi Refleksi

Berdasarkan kondisi anak SD seperti dijelaskan di atas, maka secara kelasikal guru dalam melakukan refleksi pebelajaran hendaknya komprehensif mempertimbangkan hal-hal di atas. Upaya menemukan kelemahan dan kekuatan terhadap tindakan pembelajaran yang telah dilakukan guru merupakan tujuan utama kegiatan refleksi, sehingga dapat dilakukan Langkah-langkah tepat dalam menyempurnakannya pada sesi berikutnya. Beberapa strategi yang dapat dilaksanakan adalah:

  1. Refleksi inklusif, Refleksi model ini memandang bahwa guru menemukan kelebihan dan kekurangan proses belajar hanya dari dudut pandang bagaimana capaian siswa belajar. Refleksi model ini, dilakukan dengan strategi membandingkan hasil atau capaian belajar dengan kondisi karakteristik siswa setiap individunya. Instrumen yang disiapkan dalam hal ini adalah daftar ceklist, terhadap beberapa kondisi yang dibandingkan seperti aspek aktivitas belajar dan atau aspek hasil belajar. Aspek deskripsi aktivitas belajar misalnya perhatian siswa, antusiasme siswa, mengacungkan tangan, mengajukan pertanyan, menjawab pertanyaan, menanggapi pendapat teman lainnya, membantu temannya dan ketuntasan penyelesaian tugas guru. Sementara refleksi terhadap hasil belajar dilakukan dengan melihat capaian kompetensi dibandingkan dengan karakter ssiwa. Konsekwensi dari pandangan refleksi inklusif adalah guru akan melalukan perbaikan yang bersifat individual dan mendalam
  1. Refleksi klasikal, dimana guru memandang kelebihan dan kekurangan capaian belajar karna faktor strategi pembelajaran yang telah diterapkannya. Guru melihat semua kelemahan dan kelebihan terjadi karna faktor guru semata. Strategi model seperti ini sebenarnya memerlukan teman sejawat atau kepala sekolah untuk mengamati proses pembelajaran yang telah dilakukan. Dalam hal ini, guru dapat melakukan perenungan Kembali terhadap proses belajar yang telah dilakukan, dengan melihat hasil belajar yang telah dicapai siswa. Kecenderungan dari strategi ini adalah guru dapat melakukan perbaikan pembelajaran dengan pandangan bahwa terdapat ketidak sempurnaan strategi yang telah dilakukannya. Maka guru akan memperbaikinya dengan mengambil tindakan kelasikal.
  2. Refleksi komprehensif, refleksi model ini ditandai dengan guru melakukan kegiatan refleksi yang bersifat menyeluruh baik dari sisi karakteristik siswa secara inklusif dan strategi pembelajaran yang diterapkan guru. Model ini dapat memberikan gambaran kelemahan dan kelebihan dari proses pelaksanaan pembelajaran secara menyeluruh. Dampak dari penerapan model ini adalah guru dapat memberbaiki proses pembelajaran baik dari sisi strategi yang ia lakukan demikian pula di saat bersamaan memberi pendampingan khusus pada siswa yang memerlukan.

Kesimpulan

Kegiatan refleksi sesungguhnya tidak hanya menyasar pada kelemahan proses pembelajaran semata, hal-hal baik yang teridentifikasi dari proses pembelajaran juga perlu ditinjau. Melalui kegiatan ini guru akan mendapatkan gambaran yang jelas tentang pola atau penerapan strategi pembelajaran berdasarkan capaian belajar siswa dan karakteristik siswa baik secara kelasikal maupun individu. Melalui kegiatan pemetaan ini, akan memudahkan guru merencanakan proses pembelajaran lanjutan, utamanya pada karakteristik materi yang sama.  Sesungguhnya refleksi secara comprehensif merupakan cara terbaik yang dapat dilakukan guru. Akan tetapi keterbatasan waktu, merupakan  tantangan sendiri, sehingga seminimal mungkin refleksi yang bersifat inklusif atau klasikal adalah pilihan yang dapat dilakukan dari pada tidak sama sekali.

loading...

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *