Landasan

Refleksi merupakan bagian terpenting dari tugas guru. Sadar atau tidak, apapun yang telah kita lakukan dalam upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, tidak terlepas dari kegiatan refleksi. Refleksi merupakan kegiatan melihat kembali kelemahan dan kekuatan proses maupun hasil yang telah kita lakukan dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan refleksi pembelajaran merupakan strategi paling jitu dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Kegiatan refleksi penulis yakini tidak akan dapat berlangsung dengan sendirinya jika tidak melibatkan mekanisme tertentu yang menjamin keberlanjutan dari kegiatan refeksi. Kegiatan yang memiliki ciri berkelanjutan, merupakan kegiatan rutin yang cenderung membosankan bagi sebagian dari kita. Maka atas dasar alasan itu, kegiatan refleksi memerlukan intervensi sistem untuk menjamin keberlanjutannya.

Kegiatan refleksi yang akan membawa hasil optimal jika dilakukan sebagai kegiatan rutin yang berkelanjutan. Hal tersebut akan berdampak signifikan jika dilakukan karena tuntutan pembiasaan diri untuk selalu melakukannnya, yang selanjutnya menjadi sebuah budaya. Membudayakan kegiatan refleksi bukan hal yang mudah. Upaya membiasakan aktivitas tertentu sehingga menjadi budaya, merupakan kegiatan rutin yang terkadang membosankan. Kegiatan apapun yang memiliki dampak membosankan, sangat terancam keberlanjutannya jika perubahan lingkungan kerja yang tidak kondusif. Seperti bagaimana upaya seseorang untuk mulai melakukan kegiatan rutinitas positif yang perlahan-lahan dilakukan secara berkelanjutan, tetapi akhirnya berujung mandeg karena minimnya penguatan. Guru seinovatif apapun yang telah melakukan pembiasaan merefleksi pembelajarannya secara berkelanjutan akan enggan melakukannya lagi jika tidak diikuti oleh penguatan oleh kepala sekolah.

Kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya, menempatkan salah satu hal terpenting dalam rangka memenuhi perannya, yaitu sebagai pemimpin pembelajaran. Peran ini memungkinkan kepala sekolah senantiasa memonitoring pelaksanaan tugas guru dalam proses pembelajaran. Kegiatan ini juga sekaligus sebagai ruang bagi kepala sekolah untuk merefleksi program kerja dan tindakannya dalam pengelolaan sekolah. Seperti halnya guru tidak ada satu guru yang benar-benar tepat dalam memilih strategi pembelajaran. Hal ini karena dalam melaksanakan tugas pembelajaran guru akan menemui berbagai karakteristik siswa yang berbeda dan akan senantiasa berubah pada konteks ruang dan waktu. Kepala sekolah, juga menghadapi permasalahan yang sama, bahwa tidak terdapat suatu keadaaan yang tetap dan absolut dalam penerapan strategi untuk mengupayakan kinerja, kreatifitas dan inovasi guru dalam aktivitas mengajarnya. Guru dalam pelaksanaan tugasnya, juga dipengaruhi oleh berbagai faktor yang menjadi sebab keragaman karakteristik masalah baik keperibadian, sosial, dan kompetensi pendukung lainnya. Perbedaaan karakteristik guru yang juga tidak dibatasi oleh ruang dan waktu ini, menjadikan kebiasaan merefleksi diri kepala sekolah harus dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan. Aktivitas ini selanjutnya menjadi kegiatan rutin yang mendatangkan perasaan bosan, dan akan enggan melakukannya lagi jika tidak ada penguatan dari unsur eksternal para pemangku kepentingan di atasnya.

Ketiadaan apresiasi dan penguatan dari kalangan eksternal tersebut, menjadikan peribadi kepala sekolah pelopor dan inovatif yang mengalami keterasingan di tengah-tengah situasi status quo. Sudah barang tertentu hal ini tidak nyaman. Pada saat inilah diperlukanya ketegaran dan keteguhan hati dari pribadi yang kuat dari seorang kepala sekolah. Prinsip yang dipegang ini akan mengembalikan pandangan bahwa hakikat tugas kepala sekolah sebagai supervisor dapat tumbuh secara alami berdasarkan pemahaman-pemahaan hakekat pendidikan itu sendiri. Kemampuan belajar mandiri untuk menumbuhkan wawasan untuk memperkuat prinsip diri tidak dapat terelakkan lagi. Hal inilah yang diistilahkan dengan pribadi kepala sekolah berkarakter resilience (tangguh). Sikap tangguh untuk tetap mampu memimpin pembelajaran melalui prinsip refleksi berkelanjutan bukan perkara mudah. Banyak tantangan yang datang dari diri dan orang lain yang terkadang, berusaha menggoyahkan prinsip. Tantangan yang paling berat adalah godaan yang berasal dari dalam diri, yaitu “kebosanan”.

Tulisan ini sengaja dibuat untuk mengembalikan prinsip pemahaman dasar tentang hakekat fungsi dan tugas kepala sekolah dalam memimpin pembelajaran. Tulisan ini, mengalir sedemikian rupa dalam upaya menggali nalar, memilah dan memilih kata, menjadikannya kalimat yang bermakna bagi diri, yang terkadang egois tidak memperdulikan pembaca. Karena tujuan penulis dalam hal ini tidak semata-mata mampu untuk dipahami pembaca, tetapi lebih kepada bagaimana memotivasi diri untuk berpikir logis, dalam mendeskripsikan dan mengargumentasikan sebuah pemikiran dan idealisme. Melalui untaian narasi deskriptif argumentatif ini, penulis meyakini, bahwa refleksi adalah awal baik dari sebuah keberhasilan. Keyakinan ini pula, akan berdampak kepada keteguhan hati menjalankan tugas rutin yang membosankan.

Motiv Refleksi

Sejumlah fakta yang dapat menjadi penguat internal bagi penulis dalam menuangkan ide tulisan ini adalah bahwa beberapa hal yang telah menampakkan hasil yang menggembirakan. Hal ini sekaligus sebagai obat dari proses menjalankan kegiatan refleksi rutin yang menimbulkan suasana kejenuhan dan kebosanan misalnya:

  1. Mulai tumbuhnya budaya bercakap akademik di kalangan guru, setiap harinya, di sekolah. Guru-guru setibanya di sekolah, tidak sempat untuk duduk berpangku tangan, atau sekedar ngegosip membicarakan kelemahan orang lain. Mereka disibukkan dengan aktivitas bercakap-cakap terkait tugas pokoknya, seperti membicacarakan proses pembelajaran, permasalahan siswa, orang tua, bagaimana menghadirkan proses belajar yang menarik, membuat soal yang HOTS, menata Google Class Room yang apik, menghadirkan proses pembelajaran yang menantang dan lain-lain
  2. Kebiasaan guru yang mulai terbuka untuk mengungkapkan permasalahan pembelajarannya, baik dengan sesama rekan sejawat hingga kepala sekolah.
  3. Budaya berprestasi siswa semakin meningkat, dimana minat siswa mengikuti ajang kompetisi berdasarkan bakat minatnya sudah mulai tumbuh, dan beberapa bahkan telah mampu berprestasi baik dari tingkat lokal kabupaten hingga provinsi.
  4. Kepedulian orang tua, terhadap proses pendidikan anak, tetap terjaga dan terpelihara, walaupun di masa pandemik, orang tua rela mengantarkan tugas-tugas putra putrinya di sekolah, selain mendampinginya ketika belajar di rumah
  5. Kepedulian guru terhadap proses belajar anak, bukan lagi sesempit ruang karena guru adalah buruh pendidikan, tetapi lebih kepada praktisi yang peduli pendidikan, hal ini terbukti dari proses kunjungan rumah, pembimbingan inklusif, hingga kepedulian pada ekonomi orang tua yang karena keterpanggilan salah satu guru untuk menyumbangkan sebagian penghasilannya kepada orang tua yang tidak mampu.

Kondisi seperti fakta yang dikemukakan di atas telah menjadi sebab jiwa ressiliance (tangguh), secara tidak sengaja harus tetap dipelihara untuk menjamin kegiatan refleksi yang membosankan tersebut tetap dapat dilaksanakan. Situasi tersebut menjadi sangat tepat dalam rangka memberi kepastian langkah bagi guru dalam melaksanakan tugas melaksanakan pembelajaran pada masa Pembelajaran Jarak Jauh ini. Tahapan refleksi berkelanjutan telah penulis lakukan seperti tulisan penulis sebelumnya. Namun saat ini kegiatan refleksi agak berbeda dari biasanya. Refleksi sebelumnya lebih banyak menyajikan perihal perencanaan pembelajaran dan bagaimana guru mengimplementasikan pembelajaran seperti termuat pada Google Class Room. Tulisan di bawah ini lebih banyak mengupas tentang bagaimana pelaksanaan kegiatan penilaian yang menyasar pada instrument soal-soal Ulangan Akhir Semester bagi siswa kelas I, II, III, IV dan V dan soal Ujian Sekolah siswa kelas VI. Selain refleksi terkait instrumen penilaian berupa soal-soal ulangan dan ujian tersebut, penulis juga akan mendeskripsikan bagaimana proses mulai dari perencanaan dan pelaksanaan kegiatan dimaksud.

Tahapan Penilaian

Tulisan ini secara lengkap akan disajikan menjadi beberapa bagian yang merupakan tahapan kegiatan penilaian di SD Negeri 7 Subagan. Kegiatan dimaksud mulai dari tahapan perencanaan, penyusunan instrument evaluasi, hingga pada tahapan pelaksanaan kegiatan.

  1. Perencanaan

Sasaran refleksi yang penulis sajikan pertama kali pada pembahasan ini adalah permasalahan perencanaan pelaksanaan penialaian Ulangan Akhir Semester dan Ujian Sekolah.

  1. Penyusunan Instrumen

Kegiatan penyusunan instrument penilaian, meliputi strategi penyusunan soal, panduan penyusunan soal, pembimbingan, fasilitasi dan pendampingan kepada guru dalam merancang soal.

  1. Pelaksanaan Kegiatan

Pelaksanaan kegiatan meliputi strategi pelaksanaan ulangan dan ujian, teknik dan metode pelaksanaan ulangan dan ujian hingga pada mengkonsolidasikan tahapan-tahapan sebagai langkah antisipasi permasalahan yang mungkin dijumpai ketika pelaksanaan kegiatan

Perencanaan Evaluasi

Strategi pelaksanaan evaluasi diawali dengan perencanaan kegiatan, dimana kepala sekolah berkolaborasi dengan guru melakukan pembahasan awal terkait pelaksanaan kegiatan ulangan dan ujian sekolah. Pembicaraan intensif dan mendalam dilakukan dalam rangka mengembalikan pemahaman bersama terkait pentingnya pelaksanaan kegiatan evaluasi dalam bentuk ulangan dan ujian sekolah. Aspek-aspek yang diperbincangkan adalah :

  1. Aspek hasil belajar siswa merupakan pencapaian penguasaan kompetensi

Pembicaraan didahului dengan membincangkan perihal prinsip evaluasi yang efektif dalam mengukur hasil belajar siswa untuk mengetahui sejauhmana mereka menguasai kompetensi sebagai dampak langsung maupun tidak langsung dari proses pembelajaran yang telah diselenggarakan.

  1. Aspek kontekstualitas instrument

Aspek kontekstualitas soal menjadi penting dihadirkan dalam mengajak siswa untuk mengikuti ulangan sebagai bagian dari proses belajar. Siswa akan mampu menggunakan nalarnya dalam menjawab permasalahan kontekstual yang terdapat dalam soal. Walaupun telah ujian dan ulangan bukan berarti siswa selesai belajar. Bentuk instrument soal yang dihadirkan lebih banyak dalam bentuk narasi faktual, konseptual maupun prosedural dari kejadian relevan sehari-hari yang sering merekan temui sebagai bagian dari kasus maupun fenomena di lingkungannya sehari-hari.

  1. Aspek tantangan dan tingkat kesulitan

Perencanaan juga terkait dengan bagaimana mengupayakan menghadirkan soal yang memberi tantangan kepada siswa untuk berpikir dan bertindak. Kehadiran soal tematik dan projek, merupakan hal yang sangat relevan menjadi bagian dari komposisi soal selain hanya soal pilihan ganda, isian, dan essay. Sekali lagi soal sejenis ini juga akan berdampak pada siswa tetap belajar, walaupun mereka menyebutnya ulangan ataupun ujian.

  1. Aspek keluasan dan kedalaman materi

Aspek lain yang juga turut dibicarakan pada saat perencanaan adalah bagaimana menata dan mengkomposisikan soal pada cakupan kompetensi dasar yang luas yang terdapat dalam kurikulum. Hal ini menjadi sangat penting direncanakan secara matang untuk menghindari soal dihadirkan hanya pada satu atau beberapa topik pilihan guru atau disenangi oleh guru saja. Kehadiran soal yang merancang siswa untuk belajar perlu dikomposisikan secara merata, sehingga dapat mewakili kompetensi yang diukur, pada cakupan ruang linkup kurikulum. Pembuatan kisi-kisi soal menjadi hal yang sangat penting untuk menjamin sebaran soal yang merata atas kompetensi yang terdapat dalam kurikulum.

  1. Aspek kesahihan, realibilitas

Pembicaraan aspek ini sangat penting untuk mengembalikan pemahaman guru bahwa soal yang dihadirkan memenuhi prinsip sahih (valid) dan keajegan (realibility). Soal dianggap sahih jika antara pertanyaan, atau tugas yang diberikan, isi materinya tersebut telah disampaikan kepada siswa sebelumnya. Validitas soal juga telah terjaga bahwa antara pertanyaan dengan jawaban yang diharapkan (pada pilihan ganda) memiliki hubungan kausalitas. Realibility atau keajegan adalah soal tersebut menunjukkan respon yang sama jika diberikan pada siswa lain. Bahasa pengantar mulai dari ilustrasi, media gambar soal, hingga soalnya sendiri tidak menimbulkan persepsi berbeda ketika dihadirka pada siswa berbeda.

  1. Aspek Layout soal

Pembicaraan terkait lay out soal hendaknya disesuaikan dengan kondisi media pembelajaran yang digunakan pada saat kegiatan pembelajaran dilangsungkan. Pada kegiatan PJJ seperti sekarang sangat memungkinkan, menghadirkan soal melalui ilustrasi video sebagai pengantar, gambar berwarna, hingga animasi-animasi pada prosedur penilaian di Google Class Room.

Tahapan pelaksanaan perencanaan kegiatan selain memperbincangkan permasalahan aspek penting yang harus menjadi pertimbangan seperti dikemukakan di atas, juga terkait dengan waktu, metode dan strategi mengatasi masalah lainnya. Tahapan berikutnya adalah pembagian tugas guru yang komposisinya terdiri dari penulis soal dan pelaksana kegiatan pemberian ulangan, pengawasan dan tugas administrasi, seperti termuat pada link berikut ini. https://www.sd7ok.id/KUMPULAN/dokumen/permendikbud-juknis. Pada link tersebut telah dimuat SK pelaksanaan kegiatan Ulangan dan Ujian Sekolah, pembagian tugas guru, jadwal kegiatan dan panduan pelaksanaan.

Penyusunan Instrumen

Setelah tahapan perencanaan kegiatan, kemudian dilanjutkan dengan penugasan, pembimbingan, fasilitasi dan pengarahan dalam penyusunan instrument Ujian Sekolah dan Ulangan Akhir Semester. Beberapa hal terkait penyusunan instrumen dijabarkan sebagai berikut :

1.      Instrumen Soal

Instrumen soal memuat beberapa komponen dengan komposisi terdiri dari :

  1. Soal pilihan ganda, Soal pilihan ganda yang dibuat, dengan tetap memperhatikan untuk menghadirkan tantangan level tinggi pada siswa. Tantangan level tinggi yang bersifat HOT tidak diartikan sebagai soal sulit. Soal dihadirkan dengan memuat ilustrasi fiksi mauun informasi, dimana pertanyaan yang diajukan terkait dengan soal yang dihadirkan tersebut. Jenis soal seperti ini selain terhindar dari soal yang hanya menghadirkan soal untuk mengukur kompetensi tingkat rendah.
  2. Soal pilihan ganda kompleks, Soal pilihan ganda kompleks dihadirkan dalam rangka membuat siswa tetap belajar, walaupun ketika kegiatan ujian maupun ulangan diselenggarakan. Infromasi fiktif maupun fakta yang disajikan pada stimulus soal menjadi salah satu hal yang akan dicermati dan dipelajari siswa. Hal ini akan melatih cara siswa menyimak dan berliterasi, berdasarkan informasi dan fakta pada stimulus soal. Nalar logis siswa dalam upaya menjelaskan fakta tertentu yang menjadi pertanyaan soal akan mampu menambah wawasan siswa dan strategi menyimak bacaan secara benar. Hal ini akan menghindarkan siswa mencari jawaban instan dari sumber tertentu dan meningkatkan kemampuan siswa untuk secara kritis
  3. Soal tematik, Soal tematik yang dihadirkan saat kegiatan ulangan merupakan pilihan dari guru kelas tertentu yang memungkinkan pelaksanaan ini. Ilustrasi soal yang disajikan berupa cerita fiksi dan kasus atau fenomena tertentu yang terjadi di lingkungan siswa. Setelah siswa menyimak soal dimaksud selanjutnya guru menannyakan hal-hal tertentu, dengan karakteristik soal sesuai dengan bidang mata pelajaran terntentu. Soal dimaksud menjadi sangat kontekstual dan bermakna untuk diberikan kepada siswa sehingga siswa dapat belajar segala bidang ilmu melalui satu cerita fisksi, kasus dan fenomena tertentu. Hal ini akan membawa pemahaman siswa bahwa permasalahan pada kehidupan sehari-hari tidak berdiri sendiri, atas IPA, Matematika, Bahasa Indonesia, tetapi merupakan suatu masalah yang penyelesaiannya harus melibatkan banyak kompetensi dan bidang tertentu yang memang telah ada di kehidupan nyata.
  4. Soal Penugasan/Project, Soal penugasan yang diberikan guru berlaku mulai dari siswa kelas II hingga kelas VI (ujian sekolah), tipe soal penugasan berupa project yang menghasilkan produk belajar. Soal project juga bersifat tematik, tetapi di dalamnya lebih fokus ke arah implementasi kegiatan nyata yang bersifat kontekstual. Proses penilaian yang berorientasi project untuk menghasilkan produk belajar bisa mencakup semua mata pelajaran yang mengukur kompetensi siswa lebih optimal dari sekedar pengukuran pengetahuan, keterampilan dan sikap secara terpisah. Model soal penugasan berbentuk project ini bersifat leih menantang sehingga segala aspek keterampilan Abad 21 sudah termasuk di dalamnya. Keterampilan berpikir kritis dan problem solving merupakan bagian yang harus ada dalam kegiatan belajar project. Keterampilan kreatif dan inovatif pasti telah diterjadikan dalam kegiatan ini. Demikian pula aspek Kolaborasi dan Komunikasi, merupakan hal yang otomatis terjadi dalam kegiatan project, minimal siswa bekerjasama dengan para orang tua dan mengkomunikasika idenya baik kepada guru maupun rekan sejawatnya.

2. Media dan Instrumen Pelengkap

Media dan instrumen pelengkap yang dihadirkan dalam pelaksanaan ulangan dan ujian sekolah merupakan  sarana untuk memperlancar dan dokumentasi proses kegiatan, meliputi beberapa hal seperti :

  1. Google Class Room, sebagai sarana penyajian materi ulangan dan ujian sekolah
  2. Google Form, sebagai sarana penyedia format pemberian dan penilaian otomatis untuk mempercepat pelaksanaan ujian dan ulangan. Google Form dalam layanan Google yang digunakan untuk membuat presensi, angket persepsi siswa ketika mengikuti ujian sekolah, dan berita acara pelaksanaan ujian sebagai bukti virtual bahwa siswa telah melaksanakan ujian sekolah.
  3. Google Doc dan Microsoft Word, sebagai alat bantu dalam pembuatan soal daring, dan soal-soal lainya
  4. Whatsaap Group, sebagai media sosial untuk mengkoordinasikan siswa agar informasinya lebih cepat sampai terkait hal-hal teknis lainnya

3. Metode Pelaksanaan

Metode pelaksanaan ulangan dan ujian sekolah dibedakan menjadi beberapa hal, terkait dengan kondisi siswa seperti kepemilikan hp, sinyal, kuota, dan kondisi lain, dimana pelayanan harus dilaksanakan secara berbeda kepada setiap siswa, seperti :

  1. Daring, kegiatan ulangan dan ujian sekolah dilakukan menggunakan aplikasi layanan yang menggunakan jaringan
  2. Luring, kegiatan ulangan dan ujian sekolah dilakukan dengan cara memanggil siswa ke sekolah atau mengunjugi rumahnya, karena kepemilikan hp dan jaringan yang terbatas.

Pelaksanan Kegiatan

Pelaksanaan kegiatan Ulangan dan Ujian Sekolah, saat ini sedang dilaksanakan yang baru berada pada tahapan Ujian Sekolah Hari 2.

1. Refleksi Ujian Sekolah

  1. Instrumen Soal, Instrumen penilaian yang dibuat guru kelas VI, setelah dipantau mulai dari saat perencanaan, penyusunan instrument hingga pelaksanaan kegiatan telah disupervisi sedemikian rupa melalui pembimbingan intensif, pendampingan hingga fasilitasi dari kepala sekolah, telah berdampak pada mutu soal yang melebihi harapan: Soal telah memenuhi standar berpikir tingkat tinggi , Soal telah memuat stimulus ilustrasi informatif berupa kasus maupun fenomena dan cerinta fiksi, Soal telah memuat stimulus berupa gambar, bagan dan grafik, Soal telah memiliki komposisi beragam seperti, pilihan ganda, benar salah, pilihan ganda kompleks, isian, dan essay, Mata ujian telah memuat penugasan yang bersifat project untuk menghasilkan produk, Soal dibuat diawali dengan kisi-kisi dan panduan pensekora
  2. Penugasan, Penugasan soal seperti disampaikan di atas, ada yang bersifat luring dan daring. Penugasan daring, melalui Google Class Room yang telah diakses siswa secara 100% pada hari II, sementara pada hari I, terdapat satu orang siswa yang lalai membaca pesan guru sehingga salah informasi terhadap jadwal ujian. Tindakan terhadap anak ini, dilakukan kunjungan rumah, dan pada hari I telah mengerjakan soal ujian secara luring, yang dilanjutkan secara daring pada hari II., Berikut prosedur penugasan yang dituangkan pada Google Class Room seperti gambar tangkapan layar di bawah ini:
  3. Prosedur penugasan:
    • Salam Pembuka dan Petunjuk Pengerjaan, Salam pembuka disampaikan guru untuk menyapa siswa dan menyampaikan beberapa persaratan dan petunjuk ujian hingga tata-tertib ujian
    • Presensi Mata Ujian, Presesnsi Ujian 1, untuk memastikan siswa tercatat mengikuti ujian tahap 1, dengan mengisi identitas, nomor peserta, mata ujian, menyetujui persaratan tata tertib ujian sebagai bentuk fakta integritas dan mengupload foto ketika mengikuti ujian. Form presensi di buat dengan Google Form sehingga semua data terupdate dapat terekam dan tersimpan di Drive Google. Presensi Mata Ujian diberikan setiap mengawali pelaksanaan Mata Ujian.
    • Mata Ujian, Mata ujian di submit pada Google Class Room pada topik penugasan hari itu, dengan menjadwalkan tugas sesuai waktu yang telah ditentukan
    • Form Pengawas Ujian, Pengawas yang telah tergabung di Google Class Room, Whatsaap Group Ujian, selanjutnya mengisi, Form Berita Acara Pengawas Ujian, yang diisi pada akhir kegiatan ujian, dengan hal penting yang harus diisi selain identitas adalah temuan saat ujian
    • Refleksi Pesan dan Kesan, Refleksi Pesan dan Kesan diisi siswa, ketika selesai mengerjakan soal Ujian Sekolah hari itu. Refleksi Pesan dan Kesan bertujuan untuk merefleksi pelaksanaan ujian dari sudut pandang siswa. Hasil tanggapan siswa seperti disajikan pada grafik di bawah ini:

2. Ulangan Akhir Semester

Untuk pelaksanaan Ulangan Akhir Semeter belum dapat dilaporkan karena belum terlaksana. Tetapi guru-guru, telah mengumpulkan sejumlah soal, yang beberapa telah dicermati, dan sebagian besar telah memenuhi standar yang diharapkan, seperti :

  1. Memuat ilustrasi stimulus informatif (kasus maupun fenomena), dan fiksi
  2. Memuat stimulus soal gambar yang berhubungan untuk memperkuat pemahaman siswa terhadap maksud soal
  3. Memuat komposisi soal seperti pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, benar dan salah, isian, essay dan penugasan project berorientasi produk
  4. Memuat soal dengan standar merangsang berpikir tingkat tinggi

Bersambung ………….

loading...

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *