REFLEKSI PELAKSANAAN ULANGAN DAN UJIAN SEKOLAH

Published by TeacherCreativeCorner on

Landasan

Refleksi merupakan bagian terpenting dari tugas guru. Sadar atau tidak, apapun yang telah kita lakukan dalam upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, tidak terlepas dari kegiatan refleksi. Refleksi merupakan kegiatan melihat kembali kelemahan dan kekuatan proses maupun hasil yang telah kita lakukan dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan refleksi pembelajaran merupakan strategi paling jitu dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Kegiatan refleksi penulis yakini tidak akan dapat berlangsung dengan sendirinya jika tidak melibatkan mekanisme tertentu yang menjamin keberlanjutan dari kegiatan refeksi. Kegiatan yang memiliki ciri berkelanjutan, merupakan kegiatan rutin yang cenderung membosankan bagi sebagian dari kita. Maka atas dasar alasan itu, kegiatan refleksi memerlukan intervensi sistem untuk menjamin keberlanjutannya.

Kegiatan refleksi yang akan membawa hasil optimal jika dilakukan sebagai kegiatan rutin yang berkelanjutan. Hal tersebut akan berdampak signifikan jika dilakukan karena tuntutan pembiasaan diri untuk selalu melakukannnya, yang selanjutnya menjadi sebuah budaya. Membudayakan kegiatan refleksi bukan hal yang mudah. Upaya membiasakan aktivitas tertentu sehingga menjadi budaya, merupakan kegiatan rutin yang terkadang membosankan. Kegiatan apapun yang memiliki dampak membosankan, sangat terancam keberlanjutannya jika perubahan lingkungan kerja yang tidak kondusif. Seperti bagaimana upaya seseorang untuk mulai melakukan kegiatan rutinitas positif yang perlahan-lahan dilakukan secara berkelanjutan, tetapi akhirnya berujung mandeg karena minimnya penguatan. Guru seinovatif apapun yang telah melakukan pembiasaan merefleksi pembelajarannya secara berkelanjutan akan enggan melakukannya lagi jika tidak diikuti oleh penguatan oleh kepala sekolah.

Kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya, menempatkan salah satu hal terpenting dalam rangka memenuhi perannya, yaitu sebagai pemimpin pembelajaran. Peran ini memungkinkan kepala sekolah senantiasa memonitoring pelaksanaan tugas guru dalam proses pembelajaran. Kegiatan ini juga sekaligus sebagai ruang bagi kepala sekolah untuk merefleksi program kerja dan tindakannya dalam pengelolaan sekolah. Seperti halnya guru tidak ada satu guru yang benar-benar tepat dalam memilih strategi pembelajaran. Hal ini karena dalam melaksanakan tugas pembelajaran guru akan menemui berbagai karakteristik siswa yang berbeda dan akan senantiasa berubah pada konteks ruang dan waktu. Kepala sekolah, juga menghadapi permasalahan yang sama, bahwa tidak terdapat suatu keadaaan yang tetap dan absolut dalam penerapan strategi untuk mengupayakan kinerja, kreatifitas dan inovasi guru dalam aktivitas mengajarnya. Guru dalam pelaksanaan tugasnya, juga dipengaruhi oleh berbagai faktor yang menjadi sebab keragaman karakteristik masalah baik keperibadian, sosial, dan kompetensi pendukung lainnya. Perbedaaan karakteristik guru yang juga tidak dibatasi oleh ruang dan waktu ini, menjadikan kebiasaan merefleksi diri kepala sekolah harus dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan. Aktivitas ini selanjutnya menjadi kegiatan rutin yang mendatangkan perasaan bosan, dan akan enggan melakukannya lagi jika tidak ada penguatan dari unsur eksternal para pemangku kepentingan di atasnya.

Ketiadaan apresiasi dan penguatan dari kalangan eksternal tersebut, menjadikan peribadi kepala sekolah pelopor dan inovatif yang mengalami keterasingan di tengah-tengah situasi status quo. Sudah barang tertentu hal ini tidak nyaman. Pada saat inilah diperlukanya ketegaran dan keteguhan hati dari pribadi yang kuat dari seorang kepala sekolah. Prinsip yang dipegang ini akan mengembalikan pandangan bahwa hakikat tugas kepala sekolah sebagai supervisor dapat tumbuh secara alami berdasarkan pemahaman-pemahaan hakekat pendidikan itu sendiri. Kemampuan belajar mandiri untuk menumbuhkan wawasan untuk memperkuat prinsip diri tidak dapat terelakkan lagi. Hal inilah yang diistilahkan dengan pribadi kepala sekolah berkarakter resilience (tangguh). Sikap tangguh untuk tetap mampu memimpin pembelajaran melalui prinsip refleksi berkelanjutan bukan perkara mudah. Banyak tantangan yang datang dari diri dan orang lain yang terkadang, berusaha menggoyahkan prinsip. Tantangan yang paling berat adalah godaan yang berasal dari dalam diri, yaitu “kebosanan”.

Tulisan ini sengaja dibuat untuk mengembalikan prinsip pemahaman dasar tentang hakekat fungsi dan tugas kepala sekolah dalam memimpin pembelajaran. Tulisan ini, mengalir sedemikian rupa dalam upaya menggali nalar, memilah dan memilih kata, menjadikannya kalimat yang bermakna bagi diri, yang terkadang egois tidak memperdulikan pembaca. Karena tujuan penulis dalam hal ini tidak semata-mata mampu untuk dipahami pembaca, tetapi lebih kepada bagaimana memotivasi diri untuk berpikir logis, dalam mendeskripsikan dan mengargumentasikan sebuah pemikiran dan idealisme. Melalui untaian narasi deskriptif argumentatif ini, penulis meyakini, bahwa refleksi adalah awal baik dari sebuah keberhasilan. Keyakinan ini pula, akan berdampak kepada keteguhan hati menjalankan tugas rutin yang membosankan.

Motiv Refleksi

Sejumlah fakta yang dapat menjadi penguat internal bagi penulis dalam menuangkan ide tulisan ini adalah bahwa beberapa hal yang telah menampakkan hasil yang menggembirakan. Hal ini sekaligus sebagai obat dari proses menjalankan kegiatan refleksi rutin yang menimbulkan suasana kejenuhan dan kebosanan misalnya:

  1. Mulai tumbuhnya budaya bercakap akademik di kalangan guru, setiap harinya, di sekolah. Guru-guru setibanya di sekolah, tidak sempat untuk duduk berpangku tangan, atau sekedar ngegosip membicarakan kelemahan orang lain. Mereka disibukkan dengan aktivitas bercakap-cakap terkait tugas pokoknya, seperti membicacarakan proses pembelajaran, permasalahan siswa, orang tua, bagaimana menghadirkan proses belajar yang menarik, membuat soal yang HOTS, menata Google Class Room yang apik, menghadirkan proses pembelajaran yang menantang dan lain-lain
  2. Kebiasaan guru yang mulai terbuka untuk mengungkapkan permasalahan pembelajarannya, baik dengan sesama rekan sejawat hingga kepala sekolah.
  3. Budaya berprestasi siswa semakin meningkat, dimana minat siswa mengikuti ajang kompetisi berdasarkan bakat minatnya sudah mulai tumbuh, dan beberapa bahkan telah mampu berprestasi baik dari tingkat lokal kabupaten hingga provinsi.
  4. Kepedulian orang tua, terhadap proses pendidikan anak, tetap terjaga dan terpelihara, walaupun di masa pandemik, orang tua rela mengantarkan tugas-tugas putra putrinya di sekolah, selain mendampinginya ketika belajar di rumah
  5. Kepedulian guru terhadap proses belajar anak, bukan lagi sesempit ruang karena guru adalah buruh pendidikan, tetapi lebih kepada praktisi yang peduli pendidikan, hal ini terbukti dari proses kunjungan rumah, pembimbingan inklusif, hingga kepedulian pada ekonomi orang tua yang karena keterpanggilan salah satu guru untuk menyumbangkan sebagian penghasilannya kepada orang tua yang tidak mampu.

Kondisi seperti fakta yang dikemukakan di atas telah menjadi sebab jiwa ressiliance (tangguh), secara tidak sengaja harus tetap dipelihara untuk menjamin kegiatan refleksi yang membosankan tersebut tetap dapat dilaksanakan. Situasi tersebut menjadi sangat tepat dalam rangka memberi kepastian langkah bagi guru dalam melaksanakan tugas melaksanakan pembelajaran pada masa Pembelajaran Jarak Jauh ini. Tahapan refleksi berkelanjutan telah penulis lakukan seperti tulisan penulis sebelumnya. Namun saat ini kegiatan refleksi agak berbeda dari biasanya. Refleksi sebelumnya lebih banyak menyajikan perihal perencanaan pembelajaran dan bagaimana guru mengimplementasikan pembelajaran seperti termuat pada Google Class Room. Tulisan di bawah ini lebih banyak mengupas tentang bagaimana pelaksanaan kegiatan penilaian yang menyasar pada instrument soal-soal Ulangan Akhir Semester bagi siswa kelas I, II, III, IV dan V dan soal Ujian Sekolah siswa kelas VI. Selain refleksi terkait instrumen penilaian berupa soal-soal ulangan dan ujian tersebut, penulis juga akan mendeskripsikan bagaimana proses mulai dari perencanaan dan pelaksanaan kegiatan dimaksud.

Tahapan Penilaian

Tulisan ini secara lengkap akan disajikan menjadi beberapa bagian yang merupakan tahapan kegiatan penilaian di SD Negeri 7 Subagan. Kegiatan dimaksud mulai dari tahapan perencanaan, penyusunan instrument evaluasi, hingga pada tahapan pelaksanaan kegiatan.

  1. Perencanaan

Sasaran refleksi yang penulis sajikan pertama kali pada pembahasan ini adalah permasalahan perencanaan pelaksanaan penialaian Ulangan Akhir Semester dan Ujian Sekolah.

  1. Penyusunan Instrumen

Kegiatan penyusunan instrument penilaian, meliputi strategi penyusunan soal, panduan penyusunan soal, pembimbingan, fasilitasi dan pendampingan kepada guru dalam merancang soal.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: