Memperingati Hari Raya Galungan pada Keluarga Kecil Kami

Oleh I Gusti Ngurah Parnama (Guru Kelas IV)


Hari raya Galungan dan Kuningan pada umumnya dirayakan oleh Umat Hindu di Bali setiap 210 hari (6 bulan) yang selalu diwarnai kemeriahan karena dimaknai sebagai hari kemenangan Dharma melawan Adharma. Namun di daerah lainnya di Indonesia meskipun beragama Hindu tidak dikenal adanya hari raya tersebut kecuali oleh umat Hindu yang berasal dari Bali.

Sejarah hari raya Galungan sesungguhnya berawal dari kepercayaan umat Hindu di Bali akan legenda dimana zaman dahulu. Berkuasalah seorang Raja bernama Maya Denawa , seorang pemuja Dewa Siwa yang sangat tekun dan dengan memuja keagungan Dewa Siwa, ia memohon kekuatan agar mampu melakukan perubahan wujud. Disanalah Dewa Siwa kemudian berkenan hadir dan mengabulkan keinginan Detya Maya Denawa, hingga akhirnya Detya Maya Denawa menjadi sangat sakti dan mampu melakukan perubahan wujud bahkan hingga seribu kali perubahan. Dengan kemampuan itulah raja ini menjadi sombong dan menguasai daerah Bali dan sekitarnya. Dimana saat itu tidak ada seorangpun yang mampu untuk mengalahkanya.

Pada hari Rabu Kliwon wuku Dungulan Dewa Indra mampu membunuh Maya Denawa hingga jagat Bali kembali pada kedamaiannya. Adapun darah Maya Denawa mengalir menjadi sungai yang dikenal dengan Tukad Petanu. Sungai ini konon telah dikutuk, dimana bila airnya digunakan untuk mengairi sawah, padi akan tumbuh lebih cepat namun darah akan keluar di saat panen dan mengeluarkan bau serta kutukan itu akan berakhir setelah 1000 tahun.Dengan demikian setiap hari Rabu Kliwon Dungulan dirayakan oleh umat Hindi di Bali sebagai hari raya Galungan yang merupakan hari kemenangan Darma melawan Adarma.

Rangkaian Hari Raya Galungan.

  1. Sugihan Jawa.Makna dari Sugihan Jawa berasal dari urat kata Sugi yang berarti membersihkan dan Jawa yang berarti luar, jadi Sugihan Jawa dapat diartikan sebagai suatu prosesi upacara yang bertujuan untuk membersihkan Bhuana Agung, misalnya membersihkan pelinggih/pura dan tempat-tempat suci yang digunaka sebagai tempat pemujaan. Mempersembahkan/menghaturkan upacara banten pengerebuan dan prasita yang melambangkan penyucian. Warga Bali meyakini pada hari ini para Dewa akan turun ke Bumi diiringi oleh para leluhur untuk menerima persembahan/sesaji.
    Foto Perebuan

    Foto kegiatan kebersihan
  2. Sugihan Bali.Sedangkan Sugihan Bali diartikan sebagai pembersihan Bhuana Alit yang pelaksanaannya dilakukan dengan penyucian diri sendiri, melukat, dan sebagainyaFoto anak dan istri melaksanakan pererebuan di merajan alit Karangasem Padangkerta.
  3. PenyekebanPada hari ini diharapkan kita mampu nyekeb kesadaran murni. Tat kala kesadaran murni mampu kita rasakan maka pada hari penyekeban dituntut selalu dapat menjaga diri (pegendalian) terutama pikiran agar tidak terpengaruh dengan hal-hal yang membuat kesadaran murni tersebut sirna kembali. Kegiatan yang dilakukan adalah para ibu sudah melaksanakan penyekeban buah-buahan terutama pisang.Sebab tanpa menghaturkan buah pisang pada sesajen, rasanya banten kurang lengkap.Untuk nyekeb pisang, caranya sangat mudah dan menggunakan bahan alam.Di desa biasanya orang nyekeb pisang menggunakan daun gamal atau daun tabia bun.Pertama, daun gamal atau daun tabia bun ini dimasukkan di sela-sela pisang.Setelah itu pisang dimasukkan ke dalam karung atau kresek.Sebelum ditutup rapat, diitimbun dulu dengan daun gamal maupun daun tabia bun.Kemudian baru ditutup rapat agar tidak ada udara yang masuk.Taruh dan biarkan selama dua tau tiga hari.

    Membuat jaje kaliardem
  4. Penyajaan.Hari Peyajaan, juga dimaknai oleh umat untuk menyiapkan berbagai sarana pemujaan baik dari bahan janur, slepan, bambu dan utamanya berupa membuat kue (bahasa Bali: Jaja), yang akan dipakai saat Galungan, itu sebabnya hari ini juga disebut dengan Penyajan (hari untuk membuat jaje).
  5. Penampahan.Pada hari Penampahan ini umat Hindu dinyatakan telah siap untuk merayakan hari raya Galungan. Pada hari ini umat Hindu secara umum memotong hewan Babi dan diolah ke dalam berbagai
    Foto kami sekeluarga sedang mebat

    bentuk masakan, seperti Lawar, Komoh, Sate, Penyon, Tum, Urutan dan lain-lainnya untuk di konsumsi bersama keluarga dan saling Ngejot dengan saudara maupun tetangga. Disamping itu pula juga dipakai pelengkap sesajen khususnya yang dihaturkan ke Teben (Banten Teben) agar tidak diganggu oleh Sang Kala Tiga Galungan. Beberapa tempat juga dihaturkan kepada Leluhur, Bethara Hyang dan Bethara-Bethari.

    Tetapi ada juga yang melaksanakan pemasangan penjor pada hari Senin. Banyak alasan trend pembuatan penjor pada penyajaan Galungan. Kami membuat penjor pada hari Senin, supaya pada pada hari Penamphan Galungan tidak merasakan kecapean setelah ngelawar. Pemasangan penjor di rumah Padangkerta.

  6. Galungan. Sehari setelah hari Penampahan Galungan yaitu pada Hari Rabu (Bude Keliwon, Wuku Dunggulan) umat sedharma merayakan hari raya Galungan, yang selama ini dipahami sebagai hari kemenangan Dharma melawan Adharma. Disini, sebelum matahari terbit para Ibu-ibu sibuk menghaturkan sesajen mulai dari tempat ibadah yang ada di rumah sampai kahyangan Desa, hingga sampai di pura Swagina misalnya pura Subak, Kantor maupun tempat-tempat lainnya bahkan ada yang sampai di pura Dang Kahyangan maupun Sad Kahyangan dimana kita memohon kerahayuan.
    Semua anggota keluarga melakukan persembahyangan bersama diawali dari tempat pemujaan para leluhur baik di Pemerajan, Pura Dadia maupun Pura Kawitan lainnya sebagai wujud syukur. Tradisi tersebut telah menjadi kebiasaan bila saatnya hari raya Galungan tiba, yang lama kelamaan dikhawatirkan pelaksanaannya secara ritual begitu semarak namun miskin akan makna. Ditambah lagi prilaku generasi kita belakangan ini lebih mementingkan seremonialnya dari pada upaya peningkatan kwalitas diri. Kami sekeluarga mengadakan persembahyangan di merajan Ageng Denpasar.
  7. Umanis Galungan. Pada saat umanis galungan  menikmati suasana hari raya yang penuh dengan damai  umat se-Dharma saling kunjung mengunjungi antar saudara dan handai taolan untuk mempererat tali persaudaraan. Saudara, keponakan, ipar dan cucu berkunjung ke Karangasem. Demikian rangkaian merayakan hari raya Galungan yang kami lakoni, semoga dengan merayakan hari Galungan dapat meningkatkan diri dan mulat sarira dapat melangkah yang lebih baik.

Hari Raya Galungan dan Kuningan

oleh Ni  Nengah Tunjung ( Guru Kelas VI)


Umat Hindu di Indonesia, khususnya Pulau Bali, merayakan Hari Raya Suci Galungan pada tanggal 14 April dan Kuningan pada tanggal 24 April 2021. Hari Raya Galungan dan Kuningan memakai system wuku. Wuku di Bali ada 30. Satu wuku lamanya 7  hari. Sehingga 30 wuku x 7 hari = 210 hari. Sehingga perayaan ini dilakukan setiap tujuh bulan sekali berdasarkan kalender masehi. Hari Raya Suci Galungan memiliki makna perayaan kemenangan kebajikan (dharma) melawan kebatilan (adharma). Sepertinya kita harus mengingat kembali bagaimana filosofi Hari Raya Galungan itu sendiri. Harapannya agar umat bisa memaknai perayaan ini lebih mendalam, sehingga bisa menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya.

Hari Raya Galungan melewati banyak rangkaian, yang memiliki filosofis tinggi. Berikut rangkaiannya

  1. Penyekeban, dilaksanakan Minggu Paing Wuku Dunggulan, 3 hari sebelum galungan. Nyekeb berarti merenung atau mengekang diri. Secara filosofis, pada hari penyekeban umat belajar mengekang diri agar tidak melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan agama.
  2. Penyajaan, dilaksanakan Senin Pon Dunggulan, 2 hari sebelum galungan. Penyajaan berasal dari kata saja yang berarti sungguh-sungguh. Hari penyajaan ini memiliki filosofis untuk memantapkan diri untuk merayakan hari raya Galungan.
  3. Penampahan. Penampahan jatuh pada sehari sebelum Galungan, yakni Selasa Wage wuku Dunggulan. Penampahan atau penampan berasal dari kata nampa yang berarti menyambut. Ini artinya sehari sebelumnya, umat harus siap menyambut hari Galungan. Pada penampahan ditandai dengan pembuatan penjor sebagai ungkapan syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa.Umat juga menyembelih babi untuk pelengkap upacara.
  4. Galungan. Dirayakan pada Rabu Kliwon Dunggulan. Ini adalah hari kemenangan. Upacara dilakukan mulai pagi, dimulai dari persembahyangan di rumah masing-masing hingga ke pura yang ada di lingkungan tempat tinggal. Pada hari raya Galungan, umat semakin melihat ke dalam diri agar kebaikan selalu bisa dilakukan selama hidup.
  5. Umanis Galungan. Sehari setelah Galungan dimanfaatkan untuk saling mengunjungi sanak saudara atau tempat rekreasi. Ini untuk memulai langkah baru yang lebih baik.

Memaknai Galungan sebagai kemenangan dharma melawan adharma, tidak harus melalui situasi peperangan fisik. Kemengan disini diartikan sebagai kemenangan melawan semua kekacauan pikiran. Jadi yang perlu kita lakukan memaknai Galungan adalah melawan keegoisan dan sifat buruk dalam diri. Pada saat Galungan, menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang adalah wujud dharma dalam diri.

Semoga setelah perayaan Hari Raya Galungan ini, umat Hindu semakin mulat sarira atau introspeksi diri. Harapan bisa melangkah lebih baik ke depannya, serta hidupnya semakin lebih bermanfaat.

Astungkara

Makna Perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan bagi Umat Hindu

Oleh Ni Komang Dita (Guru Kelas IV)


Setiap 6 bulan sekali umat Hindu merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Tidak berbeda dengan tahun sebelumnya, perayaan tahun ini masih dalam situasi pandemi. Tapi, itu tidak membuat patah semangat untuk menyambut hari Raya Galungan dan Kuningan. Di tahun ini, tepatnya hari Rabu tanggal 14 April 2021 dan Sabtu 24 April 2021 umat Hindu merayakan hari kemenangan dharma melawan adharma. Dimana umat Hindu memperingati terciptanya alam semesta jagad raya beserta seluruh isinya.

Hari raya Galungan melewati banyak rangkaian yaitu penyajaan. Di hari Penyajaan umat Hindu mempersiapkan sarana dan perlengkapan persembahyangan. Seperti buah, alat membuat penjor, jajan banten, dan jaitan. Keesokan harinya tepatnya Hari Penampahan, dimana umat Hindu memotong babi, ayam untuk membuat olahan makanan khas bali yaitu lawar dan sate dan juga menyemblih ayam untuk pelengkap upacara. Sore hari, umat Hindu menghiasi rumah dengan penjor. Makna dari penjor merupakan lambang dari Naga Basukih dimana Basukih berarti kesejahteraan dan kemakmuran. Penjor juga merupakan simbol Gunung yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan. Galungan dimana Umat Hindu melakukan persembahyangan di sanggah/merajan rumah masing-masing dan di tempat-tempat suci lainnya. Tradisi yang paling ditunggu saat  Galungan dimana saatnya berkumpul bersama keluarga atau sanak saudara dikampung.  Makna dari hari raya Galungan dimaknai kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan), dimana Budha Kliwon wuku Dungulan kita merayakan dan menghaturkan puja dan puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

Sedangkan hari raya Kuningan yang jatuh pada hari Saniscara Kliwon, wuku Kuningan. Hari raya ini menggunakan perhitungan kalender Bali. Sepuluh hari setelah hari raya Galungan. Pada saat hari raya Kuningan, umat Hindu akan menghaturkan persembahan kepada para leluhur, memohon kemakmuran, perlindungan, keselamatan dan juga tuntunan kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Pelaksanaan upacara ataupun persembahyangan dalam rangkaian Kuningan, dilakukan hanya setengah hari saja, sebelum jam 12 siang. Karena diyakini  sebelum siang hari energi alam semesta seperti kekuatan pertiwi, akasa, apah, teja, dan bayu (Panca Mahabutha) mencapai klimaknya. Pada saat perayaan hari raya Kuningan, yang menjadi ciri khas dari isi sesajen atau persembahan umat Hindu adalah berupa nasi kuning. Nasi kuning melambangkan sebuah kemakmuran yang telah dianugerahkan persembahan lainnya sebagai ucapan terima kasih manusia, syukur atas segala anugerah dari Tuhan. Sarana upakara yang biasanya saat perayaan hari raya Kuningan yaitu tamiang, endongan, lamak, dan ter.

Begitu banyak hari raya suci agama Hindu yang menyuguhkan budaya alam Bali dan nilai estetika dan juga budaya luhur tradisi yang diwariskan oleh para leluhur masyarakat Bali, sehingga pesona alam pariwisata Bali menjadi hal menarik bagi wisatawan. Untuk itu kita sebagai umat Hindu harus bisa melestarikan kebudayan leluhur kita.  Semoga situasi pandemi ini cepat berlalu dan umat manusia bisa beraktivitas seperti biasanya.

Kegiatan Menarik Saat Galungan dan Kuningan

Oleh Ni Nengeh Suartini (Guru Mapel Agama Hindu)


Hari raya Galungan adalah salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Selain kegiatan membuat bebantenan pada hari penampahan galungan juga membuat penjor (bambu melengkung dihias dengan janur atau daun ental) yang dipasang di depan rumah. Tepatnya di sebelah kanan pintu gerbang. Penjor bermakna sebagai wujud syukur atas kemakmuran yang dilimpahkan oleh sang pencipta. Sehingga dalam penjor galungan ini juga dipasang berupa hasil bumi. Diantaranya adalah padi, kelapa, palawija dan sejumlah hasil bumi lainnya.

Kemudian keesokan harinya yakni bertepatan dengan hari raya galungan, kegiatan yang dilaksanakan yaitu sembahyang di merajan (pura keluarga) dan dilanjutkan dengan sembahyang di pura khayangan yang ada di desa. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini kegiatan yang saya lakukan yaitu mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria. Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaitu hidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata.

Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Pada hari penampahan ini kegiatan yang saya lakukan yakni membuat bebantenan yang akan di haturkan pada hari raya kuningan. Pada saat perayaan Hari Raya Kuningan, yang menjadi ciri khas dari isi sesajen atau persembahan umat Hindu adalah berupa nasi kuning, berbeda dengan pelaksanaan pada saat upacara lainnya. Nasi kuning tersebut merupakan lambang sebuah kemakmuran yang telah dianugerahkan Sang Pencipta dan juga menghaturkan persembahan lainnya sebagai ucapan terima kasih manusia, berikut syukur atas segala anugerah dari Tuhan. Sarana upakara lainnya adalah tamiang, endongan, lamak.

Demikian kegiatan yang menarik yang saya lakukan saat hari raya galungan dan kuningan.

Makna  Penjor  Bagi  Umat  Hindu

Oleh Ni Wayan Rindi (Guru Mapel Agama Hindu)


Penjor  terbuat  dari  pohon  bambu   yang  agak  melengkung  ke bawah, tujuannya agar  setelah  dihiasi  menjadi  seni  dan  indan  .  Penjor   merupakan  simbol  dari Naga Basuki  yang  artinya  kesejahteraan  dan kemakmuran  ,ada  juga   yang  mengatakan Penjor  itu  simbul  gunung   karena   semua  hiasan  yang  di  pergunakan   ada  di gunung  dan  gunung  merupakan  arah  yang  di  anggap  suci  sebagai  hulu  atau  kepala  bagi  umat  Hindu  .   Semua  isi  atau  unsur – unsur  penjor  yang  dipakai  menghiasi  sangat    suci.  Penjor seyogyanya   dipasang hari penampahan galungan, setelah jam 12  siang . Hal  ini  bermakna  ketika   hari  raya  penampahan  galungan  kita  sebagai manusia   berperang  melawan  pikiran  yang  kotor, berperang  dan    sifat-sifat   negatif  tersebut   maka   sebagai  pertanda   kemenangan dipasanglah   penjor   pada  umumnya  penjor  dipasang  di  depan  pintu  keluar  rumah  atau  di depan  angkul – angkul   bagian  sebelah  kanan  sebagai simbol “kemenangan”.maka  pada  hari  raya  galungan  dikatakan  merayakan  kemenangan  dharma  melawan  adharma  yaitu  sifat  negatif  atau  sifat  buruk   yang  ada  pada  diri kita  Ada  sloka  mengatakan  musuh  tan  madoh  ring  awak  artinya  musuh  kita  tidak  jauh  dari  badan  kita  .

Unsur – unsur Penjor :

Didalam lontar Tutur Dewi Tapini juga telah disebutkan bahwa setiap unsur dalam penjor melambangkan simbol-simbol suci yaitu sebagai berikut :

  • Bambu sebagai   simbul   kekuatan Dewa Brahma
  • Kelapa sebagai simbol simbul   Dewa Rudra
  • Kain Kuning  dan  Janur  sebagai  symbol   Dewa  Sangkara  yaitu  Dewanya  tumbuh –tumbuhan .
  • Pala Bungkah dan Pala Gantung sebagai simbol vibrasi Dewa Wisnu
  • Tebu sebagai simbol Dewa Sambu
  • Padi sebagai simbol Dewi Sri
  • Kain Putih sebagai simbol Dewa Iswara
  • Sanggah sebagai simbol Dewa Siwa
  • Upakara sebagai simbol Dewa Sadha  Siwa dan Parama Siwa

Masyarakat Hindu di Bali mengenal 2  tipe  penjor,  yaitu :

  • Penjor Sakral   merupakan   bagian   dari   suatu  upacara  keagamaan,  contohnya Penjor  yang  ditancapkan  pada  hari  raya  galungan  dan  pada  saat  piodalan  di  pura .
  • Penjor hiasan  yaitu  penjor  yang  ipergunakan  pada  saat  upacara  nikahan  dan  untuk menghormati  tamu  kebesaran  ,seperti  ada  Bapak  Presiden  datang  atau   ada  acara resmi  yang  lain  .  Dan   kalau  penjor  hiasan  tidak  mempergunakan  unsur –  unsur suci  seperti  pala  bungkah  ,pala  gantng  ,padi ,  kain  dan  unsur  suci  yang  lain   dan tidak  ada  hubungannya  dengan  upacara  keaganaan.