Teknologi Jaringan

Masa-masa Anda membayar rekening air, listrik, dan lain-lain akan segera berakhir. Demikian pula masa-masa anda mentransfer uang dengan aplikasi M Banking pun akan segara berubah. Anda yang biasa membelanjakan uang kertas atau logam beberapa tahun ke depan akan berganti dengan hanya membawa perangkat gadget atau Hp saja. Nasib bank sebagai pengendali peredaran uang pun akan bernasib sama. Teknologi telah merubah segalanya, yang anda pikirkan hari ini, beberapa tahun kemudian tidak akan berlaku, dan bahkan anda belum sempat memikirkannya hari ini.

Perkembangan teknologi di era digital ini sudah sangat pesat. Salah satu aspek penting dari penanda kemajuan teknologi adalah IoT (Internet Of Thinks). Perkembangan ini sudah di depan mata, dengan telah diluncurkannya teknologi 5G, yang segera akan menjadi saluran utama jaringan data seluler. Banyak orang skeptis tentang perkembangan ini, dan mengambil sikap menunggu dan malu tapi mau, akan mengikutinya kelak. Teknologi apapun yang bersifat baru pasti akan mendapatkan pendukung dan penentang. Tetapi teknologi 5G adalah keniscayaan, siapapun tidak mampu membendungnya. Mau tidak mau kalangan yang lebih banyak melihat aspek kerugian dari hal ini suatu saat juga terpaksa untuk mengadopsinya. Istilah penulis, malu tapi mau, mereka juga akan bermigrasi dari 4G ke 5G. Apaboleh buat, karena suatu saat jaringan 4G akan semakin dikurangi cakupannya, menyusul generasi baru teknologi jaringan yaitu 5G.

Uang Cripto

Teknologi lain yang akan mendapat dukungan akses yang lebih baik dengan hadirnya jaringan 5G, adalah teknologi blockchain. Secara singkat, teknologi blockchain adalah sebuah teknologi berbasis jaringan yang memanfaatkan layanan peer to peer, berbasis algoritma kriptografi. Aplikasi dari teknologi ini dalam kehidupan nyata adalah dalam wujud mata uang kripto. Apa itu mata uang kripto? Mata uang kripto merupakan alat pembayaran digital yang tidak bisa dikendalikan harganya selain oleh permintaan dan penawaran. Mata uang yang kita kenal sehari-hari, disebut mata uang fiat, yang secara fisik dapat dikendalikan oleh pihak otoritas keuangan seperti Bank Indonesia.  Sementara mata uang kripto tidak dapat dikendalikan sekalipun oleh  bank pemerintah, atau bahkan oleh si pembuatnya sendiri.

Berikut perbedaan mendasar antara uang fiat (uang kertas dan logam seperti rupiah, dolar dll) dengan mata uang kripto adalah sebagai berikut:

  1. Transaksi memakai uang fiat, tercatat di buku rekening bank, atas nama kita sendiri, sementara uang kripto tercatat di buku besar yang disebut ledger algoritma blockchain, yang perjalanan transfernya dapat dilacak, dengan nama yang anonim.
  2. Pada mata uang fiat, bank bertindak sebagai verifikator untuk menjamin segala transaksi itu sah, sementara pada uang kripto, transaksi disahkan berdasarkan konsensus komunitas jaringan kripto.
  3. Pada mata uang fiat, pemerintah melalui Bank Indonesia dapat melakukan intervensi untuk mengendalikan nilai tukar terhadap mata uang lainnya, sementara pada uang kripto, pemerintah tidak bisa berbuat banyak, karena ditentukan olah konsensus komunitas jaringan.
  4. Pada mata uang fiat, pemerintah menjamin setiap lembar uang yang dikeluarkan akan senilai dengan cadangan emas yang disimpan pada suatu tempat di Bank Indonesia, sementara mata uang kripto tidak.

Berdasarkan perbedaan karakteristik mata uang seperti dideksripsikan di atas, berawal dari cara kerja masing masing yang berbeda. Cara kerja mata uang fiat, adalah setiap lembar mata uang yang dicetak adalah senilai dengan cadangan emas yang disimpan. Setiap ada pencetakan uang dilakukan secara teliti diselenggarakan olah negara, berdasarkan cadangan emas. Cadangan emas adalah diupayakan secara tetap, sementara peredaran uang disesuaikan dengan harga emas. Penambahan cadangan emas dimungkinkan disesuaikan dengan tingkat perkembangan ekonomi suatu negara, yang tercermin dari perubahan nilai tukar terhadap mata uang lainnya yang bersifat dinamis. Pengendalian peredaran uang fiat dilakukan oleh negara, sesuai dengan perubahan harga emas itu sendiri. Jika aksi pencetakan tidak sesuai dengan perkembangan harga emas maka akan berdampak pada ketidakseimbangan ekonomi negara yang menggunakan mata uang itu.

Sedangkan untuk mata uang kripto, peredaran uang didasarkan atas penawaran dan permintaan, maka dari itu perilaku mata uang kripto tak ubah seperti perdagangan aset, karena tidak  didukung cadangan aset seperti emas yang stabil. Fluktuasi nilai tukar mata uang kripto yang tinggi, menjadikan lahan yang empuk bagi para spekulan untuk mempermainkan harga, dengan melakukan pump and dump. Ketidakstabilan perilaku uang kripto, menyebabkannya belum layak untuk dijadikan sarana pembayaran yang tepat. Pada dasarnya prinsip kerja uang kripto pada teknologi blockchainnya adalah seperti digambarkan pada bagan di bawah ini.

Istilan-Istilah Uang Cripto

Bebebrapa istilah dalam dunia mata uang kripto yang perlu kita kenal sehingga menambah wawasan kita adalah sebagai berikut :

  1. Cryptography,

Cryptography, atau yang diterjemahkan menjadi kriptografi dalam bahasa Indonesia, merupakan sebuah proses mengubah pesan untuk menyembunyikan maknanya. Dalam proses tersebut, kriptografi membuat atau menghasilkan pesan tertulis agar buah pesan atau informasi tetap bersifat rahasia. Data tersebut selanjutnya diubah ke dalam sebuah format yang tak terbaca, sehingga bisa ditransmisikan atau dikirimkan tanpa khawatir data pesan tersebut akan diterjemahkan oleh pihak-pihak yang tidak berwenang ke dalam format yang terbaca. Nah, proses inilah yang disebut sebagai enkripsi (encryption).

Sistem keamanan informasi menggunakan kriptografi dalam berbagai tingkatan atau level. Informasi tersebut hanya bisa dibaca jika terdapat kunci alias key, yang digunakan untuk proses deskripsi, yaitu proses perubahan data yang dienkripsi agar kembali ke data aslinya. Selama proses transmisi informasi maupun penyimpanan, data pesan tetap terjaga kerahasiaannya.

Dalam penjelasan berikut ini, Anda bisa temukan beragam informasi penting mengenai kriptografi secara keseluruhan, termasuk di dalamnya enkripsi, yang merupakan proses penting dalam pengamanan data dan informasi. Terlebih, enkripsi adalah proses yang saat ini memainkan peran signifikan mengingat banyak jenis data pesan dan informasi yang dikirim dan disimpan secara digital, sehingga kerahasiaannya wajib jadi prioritas. Baik itu data pesan obrolan di aplikasi seperti WhatsApp, pesan email, siaran video maupun adio, hingga data transaksi perbankan, semuanya membutuhkan enkripsi untuk mencegah kebocoran data dan privasi.

  1. Blockchain

Blockchain adalah sebuah teknologi yang digunakan sebagai sistem penyimpanan data digital yang terhubung melalui kriptografi. Penggunaan teknologi blockchain tidak bisa dilepaskan dari Bitcoin dan Cryptocurrency, meski ada banyak sektor yang bisa memanfaatkan teknologi ini.

Jika dilihat dari sistem penamaanya, blockchain sendiri terdiri dari dua kata, yakni block yang berarti kelompok, dan chain atau rantai. Hal ini mencerminkan cara kerja blockchain yang memanfaatkan resource komputer untuk membuat blok-blok yang saling terhubung (chain) guna mengeksekusi sebuah transaksi

Secara gampang, cara kerja blockchain dimulai ketika sebuah blok menyimpan sebuah data baru. Sistem blockchain sendiri terdiri dari dua buah jenis record, transaksi dan blok. Uniknya, setiap blok berisi hash kriptografi sehingga membentuk jaringan.

Di sini, fungsi hash kriptografi adalah untuk mengambil data dari blok asal dan mengubahnya menjadi sebuah compact string. String ini menjadi alarm pendeteksi jika ditemukan adanya potensi sabotase. Teknologi blockchain juga terdesentralisasi, sehingga tidak ada satupun otoritas yang memiliki kendali penuh, melainkan terpecah ke setiap komputer yang sudah diinstal perangkat lunak khusus.

  1. Decentralised :

Teknologi Desentralisasi Blockchain memungkinkan setiap server saling terhubung dan memiliki peran yang sama. Dengan membentuk semacam jaringan peer to peer hal ini memungkinkan pelacakan data lebih mudah dan apa bila salah satu server mendapat gangguan bisa dibackup oleh server lain dan server yang bermasalah bisa sementara dikeluarkan dari jaringan blockchain.

Untuk memahami istilah sistem desentralisasi blockchain, sebelumnya kita harus memahami apa yang dimaksud dengan sistem yang ter-“sentralisasi”. Secara informal, sistem keuangan yang bersifat sentralisasi adalah sebuah sistem keuangan yang memiliki otoritas sentral, seperti halnya pemerintah, yang bertanggungjawab untuk semua aspek ekonomi, termasuk mencetak uang, mengaplikasikan pajak pada laba yang diperoleh oleh publik, mengijinkan bank-bank untuk membuka rekening untuk masyarakat, menerapkan regulasi dan berbagai hal lainnya.

Hampir semua yang ada saat ini bergerak atas regulasi dan ketentuan dari pemerintah. Sebagian besar dari transaksi keuangan yang ada saat ini melibatkan setidaknya satu pihak ketiga, seperti bank, yang kemudian akan mengaudit dan menyimpan semua detail transaksi untuk proses pendataan dan penyelesaian sengketa di kemudian hari, akreditasi, serta proses pengawasan untuk menegakkan hukum.

Sedangkan sistem desentralisasi blockchain itu sendiri adalah sistem yang tidak memiliki otoritas sentral namun masih bisa bekerja sama baiknya seperti seakan-akan ada otoritas sentral dibelakangnya. Persyaratan yang perlu dipenuhi untuk bisa “bekerja dengan baik” sebenarnya agak samar-samar dan tergantung pada peraturan-peraturan finansial dan hukum yang diaplikasikan oleh tiap negara di dalam sistemnya.

Desentralisasi blockchain juga dapat diartikan sebagai suatu sistem yang dimana keseluruhan pengambilan keputusan diserahkan kepada para pengguna sistem tersebut dan tidak adanya salah satu individu yang dapat memaksakan kehendaknya kepada individu lain tanpa persetujuan mayoritas pengguna sistem.

  1. Mining :

Mining atau jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti penambangan. Proses penambangan dalam dunia blockchain, tidak dapat disamakan prosesnya dengan penambangan emas, perak atau bahan tambang lainnya. Proses ini berawal dari peran komunitas yang bertindak sebagai pihak yang memvalidasi transaksi pada jaringan blockchain. Setiap penciptaan satu block pada jaringan, membutuhkan verifikasi dari komputer-komputer yang tersebar di seluruh dunia. Satu komputer yang berfungsi sebagai node dalam jaringan, ibarat bank yang bertugas memverifikasi transaksi, maka dari itu setiap miner atau penambang adalah pegawai banknya blockchain yang terhubung ke seluruh dunia melalui jaringan. Artinya, ketika kita bertransaksi melalui jaringan blockchain, para minerlah yang bertindak sebagai bank. Pada transaksi tradisional melalui bank, setiap validasi berkas kita diwajibkan membayar sejumlah uang kepadanya, akan tetapi pada blockchain, para miner yang bertugas memverifikasi transaksi, memperoleh imbalan tertentu ketika penciptaan setiap blok transaksi.

Para miner dalam membantu proses penciptaan blok sehingga mendapat upah tertentu dalam bentuk coint, mengggunakan alat komputasi komputer berdaya tinggi. Pada awal teknologi blokchain ini berkembang, komputer biasa seperti laptop dan dekstop dapat digunakan, tetapi dengan semakin sulitnya tugas yang dibebankan kepada para miner untuk memecahkan teka-teki criptografi yang semakin rumit, maka kemampuan komputer yang diperlukan semakin tinggi. Daya listrik yang digunakan untuk membantu memverifikasi transaksi pada jaringan blokchain juga semakin tinggi. Saat ini para miner profesional telah memindahkan pertambangannnya ke negara-negara dengan listrik murah dan kondisi lingkungan yang bersuhu dingin seperti di dekat kutub atau di pegunungan yang bersalju. Aktivitas mining pada beberapa negara mendapat penentangan dari pakar lingkungan dan pemerintah karena boros listrik sehingga menjadi salah satu industri yang menyumbang emisi karbon yang berpotensi merusak lingkungan.

  1. Bitcoint

Bitcoint adalah salah satu produk criptografi yang awalnya direncanakan sebagai mata uang virtual, akan tetapi karena fluktuasi harganya yang ekstrim, sehingga banyak disimpan sebagai aset digital. Harga terakhir Bitcoint hampir menyentuh harga Rp. 900.000.000, pada tanggal 11 April 2021. Fluktuasi harga Bitcoint yang terus menanjak tersebut disebabkan oleh cadangannya yang terbatas, yaitu kurang lebih 21 juta coint, yang suatu saat akan habis ditambang oleh para miner.

Bitcoint adalah coint pertama yang disebut sebagai mother of all coint, pertama kali diluncurkan pada tahun 2009 oleh komunitas atau individu yang memiliki nama samaran Satosi Nakamoto.

Harga Bitcoint pada awal peluncuran adalah $ 1, telah mampu meningkat pesat setelah sempat mengalami kejatuhan beberapa kali tetapi bangkit lagi hingga mencapai harga sekarang dan akan terus meningkat hingga mencapai Rp. 1.000.000.000, bahkan lebih di masa mendatang. Berkat fluktuasi harga Bitcoint yang terlalu voletile, maka telah menyebabkan sebagian orang menjadi miliyuner, sebaliknya sebagian jatuh miskin.

Selain Bitcoint mata uang cripto lainnya yang menempati peringkat ke-2 dari valuasi cripto pasar dunia adalah etherium yang pertama kali diluncurkan oleh Vitalic Butarin dari Rusia pada tanggal 30 Juli 2015. Perhatian komunitas cripto terhadap etherium membuat dukungan terhadap coint ini terus meningkat, dimana saat ini harganya telah menembus Rp. 34.500.000 di pasar exchange Indodax, dengan valuasi pasar sebesar 100 miliar. Sementara valuasi global etherium menempati peringkat kedua setelah Bitcoint. Seperti disampaikan oleh Oscar Darmawan Ceo Indodax, belum terlambat untuk investasi di mata uang kripto karna harganya akan terus meningkat di masa yang akan datang.

Kapitalisasi pasar cryptocurrency melampaui 1 triliun dolar AS (sekitar Rp14,492 kuadriliun) pada 7 Januari 2021 saat harga Bitcoin mencapai 33 ribu dolar AS (sekitar Rp. 478,2 juta. Dengan kapitalisasi pasar itu, kini cryptocurrency sama berharganya dengan Apple, perusahaan dengan valuasi terbesar kedua di dunia setelah raja minyak Arab Saudi, Aramco.

Kesimpulan

Perkembangan teknologi internet, bukan hanya sebatas untuk mencari dan berbagi informasi, tetapi telah beranjak lebih dari itu. Perkembangan teknologi 4G ke 5G, akan membawa perkembangan dunia kian melesat melebih apa yang kita bayangkan hari ini. Pertumbuhan ekonomi yakni mata uang, telah pula menjadi bagian dari perkembangan teknologi tersebut. Fungsi uang kertas atau logam sebagai alat tukar, pada beberapa kegiatan perdagangan telah beralih ke mata uang digital. Ke depan teknologi keuangan baik uang fiat (kertas) ataupun digital tidak lagi mengandalkan bank sebagai pusat pengendali peredaran uang. Teknologi yang saat ini berkembang pesat ke arah itu adalah blokchain. Bitcoint dan etherium yang menjadi perintis mata uang cripto saat ini telah mendapat dukungan luas mulai dari Paypal, Tesla dan beberapa perusahaan besar dunia, hingga Facebook merencakan akan menggunakan teknologi blockchain sebagai alat bantu pembayaran. Dalam waktu dekat juga akan diluncurkan Rupiah Coint berbasis Blokchain, sementara nilai uang setara US Dolar juga telah diadopsi USDT sebagai alat transasksi global. Perkembangan ini, ke depannya akan membuat sebagian atau bahkan keseluruhan komunitas masyarakat dunia, mau tidak mau akan mengikuti perkembangan ini. Di masa yang akan datang teknologi akan menjadi andalan yang tidak bisa dihindarkan dalam kehidupan manusia termasuk dalam kegiatan jual beli.

.

Sumber

https://www.indotelko.com/read/1617638371/nilai-ethereum

https://www.wartaekonomi.co.id/read335585/wow-keren-kapitalisasi-cryptocurrency-kini-setara-dengan-valuasi-apple

dan sumber lainnya

loading...

2 Comments

Wijaya Kusumah · April 11, 2021 at 1:57 am

Setuju pak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *