Om Swastiastu

Rahajeng Nyangre Rahina Galungan lan Kuningan

 

Rabu Kliwon Dungulan adalah Hari yang sangat istimewa bagi Umat Hindu khususnya di Bali. Hari itu bertepatan dengan hari kemenangan Dharma melawan Adharma yang diperingati setiap 210 hari (enam bulan sekali dalam Kalender Hindu). Peringatan tersebut berawal dari mitologi Hindu tentang keangkuhan dan keserakahan Raja Maya Denawa yang lalim terhadap rakyatnya. Dewa Indra dan segenap pasukannya dari India memeranginya, walaupun sempat ditipudaya dengan licik oleh Maya Denawa tapi akhirnya dapat dikalahkan oleh Dewa Indra.

Kisah di atas bermakna, bagaimana perjuangan mewujudkan kebenaran tidak akan pernah dikalahkan oleh kelaliman seorang penguasa. Beranjak dari pemahaman itu maka makna Hari Raya Galungan sebenarnya sebagai bentuk kita tetap berpikir dan bertindak di atas kebenaran. Kebenaran yang hakiki adalah, segala tindakan yang dilakukan dapat bermakna baik bagi kebaikan dan kesejahteraan diri dan orang lain demikian pula dengan lingkungan alam tempat kita hidup. Kebaikan diri atas persepsi sendiri belum tentu memiliki memiliki kesamaan hakekat dengan kebenaran orang lain. Karena pada dasarnya manusia hidup saling tergantung satu dengan yang lainnya.

Ketergantungan antara manusia satu dengan yang lainnya tidak pula dapat dipandang dari persepektif kelompok komunitas tertentu. Hakekat kehidupan manusia yang mengglobal yang senantiasa berinteraksi dengan lingkungan merupakan kebenaran yang lebih bermakna luas dan mendalam. Manusia sebagai wujud kreasi Sang Maha Pencipta memiliki tanggungjawab untuk saling menjaga satu dengan yang lainnya dalam wadah kehidupan pada lingkungan semesta bumi. Kebenaran hakiki yang dipegang pada kondisi apapun akan menghasilkan kasih sayang antar manusia, mahkluk lain, dan dengan alam. Jika kebenaran hanya dipandang dari sudut pandang sempit, maka akan wujud kelaliman akan bermanifestasi menjadi wujud Maya Denawa yang lainnya.

Kebenaran dari sudut pandang mana, dan yang bagaimana?  Kebenaran yang dimaksud adalah memaknai kehidupan dari sudut pandang menjadikan manusia selayaknya manusia yang senantiasa berinteraksi dengan manusia, mahkluk hidup lain dan alam. Itulah kebenaran Universal, yang memandang manusia sama dengan tanpa membedakan, tidak peduli aspek apapun itu. Kita diciptakan sama, diberikan tempat hidup dan dipelihara di tempat yang sama, demikian pula dalam menghadapi kehancuran pada saatnya nanti, juga harus sama-sama. Sehidup semati, selunglung sebayantaka. Rahajeng Nyangre Galungan lan Kuningan.

Om Shantih Shantih Shantih Om