Topik seperti judul di atas adalah tema dari Temu Pendidikan Daerah dengan tema Merdeka Belajar Fakta atau Mitos, diselenggarakan oleh Komuniatas Guru Belajar Nusantara. Sepertinya kegiatan ini menarik, untuk menambah wawasan tekait tentang gerakan merdeka belajar.  Seperti apa sesungguhnya konsep merdeka belajar yang ingin disampaikan, apakah sama dengan persepsi saya selama ini. Kebetulan tempat pelaksanaan kegiatan adalah di TK Negeri Pembina Kabupaten Karangasem, jadi lokasinya tidak terlalu jauh.

Penulis diperkenalkan oleh Kepala TK Pembina Kabupaten Karangasem kepada Pak Usman, salah seorang Ketua Komunitas Belajar Nusantara Asosiasi KGBN. Bapak yang nama  lengkapnya, Usman Jabar, yang berdomisili Tenopo Sulawesi Selatan ini menjelaskan tentang beberapa miskonsepsi tentang Merdeka Belajar.

Beliau mengatakan “Dimensi Merdeka Belajar adalah tahu tujuan, tahu cara, dan tahu cara merefleksi. Guru yang tahu tujuan maka seharusnya tahu caranya, untuk itu harus ada kegiatan refleksi berkelanjutan.  Seorang guru, akan lebih terampil membelajarkan siswa jika guru tersebut, boleh memilih cara membelajarkan siswa secara efektif.” Belliau melanjutkan, “Seorang guru yang mengerti konsep merdeka belajar tidak serta merta puas dengan hanya melaksankan apa yang menjadi standar seperti tertuang dalam kompetensi dasar kurikulum. Guru dengan pemahaman tentang Merdeka Belajar yang mantap akan mampu menetapkan tujuan beserta dampak dari proses belajar yang dapat menghasilkan produk belajar yang jauh lebih bermanfaat”.

Seperti diilustrasikan oleh Pak Usman, dimana ada salah satu proses pembelajaran yang membelajarakan tentang Jenis-jenis daun, maka guru yang bersangkutan tidak puas hanya dengan siswanya sekedar tahu tentang jenis-jenis daun lalu diberikan nilai. Guru yang tanggap dengan merdeka belajar akan membuat proses belajar menjadi lebih menarik dimana berdasarkan jenis-jenis daun yang dikenal oleh murid mereka akhirnya dapat membuat produk sesuatu dari jenis-jenis daun tersebut. Misalnya dibuat kerajinan, kolase sampai dengan jenis daun apa yang cocok digunakan untuk sayuran yang juga jenisnya beragam.

Diilustrakan juga ada seorang guru yang tinggal pada suatu daerah pesisir dapat memanfaatkan profil muridnya untuk membuat gerakan senam. Sehingga setiap siswa berdasarkan keunikannya masing-masing akhirnya dapat membuat gerakan senam yang masing-masing memiliki gerakan unik sesuai dengan karakteristik siswa tersebut. Hal ini mengingatkan saya dengan suatu hal yang pernah saya lakukan di sekolah. Sebagai kepala sekolah, ada seorang guru yang menyelenggarakan pembelajaran dengan konten materi tentang air (IPA), ekonomi (IPS), data (matematika). Guru tersebut selanjutnya menugaskan siswanya untuk mencatat meteran air setiap hari, secara berturut selama 15 hari. Data yang didapatkan di awal adalah keadaan ketika belum dilakukan tindakan penghematan air. Berdasarkan data yang diperoleh tersebut selanjutnya guru menugaskan siswa untuk melakukan gerakan menghemat air dengan melibatkan anggota keluarga di rumahnya masing-masing. Selanjutnya selama 15 haru berturut-turut dilakukan pencatatan berkelanjutan. Pada akhir kegiatan siswa ditugaskan mencari rata-rata data, penggunaan air 15 hari sebelum tindakan, dan 15 hari setelah dilakukan kegiatan penghematan oleh siswa dan anggota keluarganya.  Selain rata-rata mereka juga akan berkompetensi dalam bagaimana menentukan langkah-langkah dalam upaya penghematan air, bahkan tentang dalam kondisi apa penggunaan air, volumenya lebih banyak. Kegiatan dilanjutkan dengan kegiatan diskusi yang diisi dengan tanya jawab yang dipandu oleh Kepala TK Pembina Karangasem.

Pak usman juga menyinggung tentang bagaimana melakukan perubahan dan bagaimana strateginya, termasuk bagaimana strategi mengimbaskan kegiatan praktik baik yang dilaksanakan. Hambatan dan tantangan dalam melakukan perubahan paling sering dialami oleh guru ketika berhadapan dengan birokrasi, yang masih berorientasi administrasi. Hal inilah yang menjadi penyebab dari terhambatnya gerakan merdeka belajar ini dilakukan.

Informasi menarik dari Komunitas Guru Belajar Nusantara, adalah sekolah yang akan belajar cara menerapkan merdeka belajar  di sekolah akan mendapatkan beasiswa. Sehingga keresahan-keresahan yang dialami oleh guru, ketika ingin memerdekakan guru dalam merdeka belajar, mendapat komunitas berdiskusi yang sejalur dan seide.

Beberapa salah persepsi tentang guru yang dikatakan Pak Usman adalah sebagai berikut : 1) Guru hanya bisa belajar jika mereka punya uang; 2) Guru hanya berakhir sebagai kepala sekolah; 3) Guru hanya bisa belajar dari ahli. Pemahaman pesimis tersebut sering menjadi hambatan bagi guru dalam upaya mengembangkan kompetensinya sebagai guru. Maka dari itu, komunitas guru tempat mereka saling berbagi satu dengan yang lainnya tentang hambatan, tantangan dan solusi, dari kegiatan best praktis yang pernah mereka lakukan di sekolahnya masing-masing.