Ok para pembaca yang budiman, kali ini, penulis akan tampil beda dalam menyajikan tulisan. Mungkin selama ini terkesan ilimiah, serius seolah tidak pernah ada santainya. Kali ini kita coba untuk melihat sisi lain dari diri kita. Bahwa tubuh yang senantiasa  dipaksa untuk bekerja, menurut hemat penulis pribadi tidak baik, karena justru akan menyebabkan menurunya semangat kerja. Terkadang kita bosan, jenuh dengan rutinitas yang mebosankan. Sementara dinamika pekerjaan sebagai pekerja pendidikan yaitu guru, yang semestinya dinamis, sehingga dapat dikatakan tidak ada rutinitas pekerjaan yang monoton. Benarkah demikian? Sebenarnya kondisinya sama saja. Kejenuhan dan kebosanan tetap saja menyerang, apalagi hasil yang kita harapkan dari apa yang sudah kita rencanakan  tidak berhasil. Nah, bagaimana cara kita mengembalikan semangat kerja kita agar pulih lagi?

Hal ini kembali kepada kita. Mungkin sebagian orang untuk melepas ketegangan untuk mengembalikan semangat kerja, dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang hanya dengan istirahat semangat bekerja mereka kembali lagi. Sementara sebagian orang menganggap dengan berekreasi, mereka akan mendapatkan semangat kerjanya kembali. Sementara beberapa pendapat mengatakan bahwa dengan melakukan hobi kita, akan mengembalikan semangat kerja kita. Untuk penulis, pilihan yang terakhir ini mungkin menjadi pilihan yang murah untuk mengembalikan semangat kerja.

Hobi atau kegemaran atau hal-hal yang menyenangkan dilakukan untuk melupakan sejenak kesibukan dan kepenatan pikiran akibat beban kerja rupanya salah satu pemicu semangat kerja. Mendengarkan musik boleh dikatakan salah satu kegemaran penulis, ekstrimnya lagi adalah mendengar musik cadas. Tidak tanggung-tanggung warna musik yang jarang orang sukai ini, seperti sebuah keanehan. Tetapi menurut pengalaman penulis, ketika mendengarkan musik yang menghentak, dengan ritme cepat, dentuman bass berfrekwensi rendah dengan tingkat amplitudo yang kental dan padat, serasa memacu gairah kerja kembali. Aliran musik ritmik, dengan tempo, irama yang tidak biasa terkadang membawa pikiran menemukan hal-hal baru. Termasuk ketika saat tulisan ini di buat, penulis melalui aplikasi JOOK, mendengarkan tempo cepat, keras, padat, sangar, menggema dari pemusik Five Fingger Death Punch. Musik ini seolah membuat perasaan bergetar sekeras rintme musiknya. Dentuman drum bass yang mehentak, diselingi oleh ritme melodi gitar yang sangar dengan tidak meninggalkan unsur melodisnya, membuat getaran pikiran seolah beresonansi dengan getaran musiknya.

Campuran vokal melodis yang mendayu-dayu untuk beberapa saat di awal lagu dinyanyikan, diselingi dengan raungan gitar bass dan melodi yang apik, lanjut ke ritme berubah-ubah, kadang cepat, lambat, yang disusun secara harmonik oleh komposernya, membuat, perasaan seperti dibawa berkelana mengarungi arung jeram yang kadang airnya tenang dan mendadak deras dan penuh dengan ketegangan. Secara tak sadar ritme penulis menuangkan ide-ide melalui tooth komputer semakin cepat dan turut mengikuti irama lagu yang sedang didengar. Secara tidak sadar di saat yang bersamaan, kaki juga ikut bergerak, diiringi gelengan kepala, merasakan keharmonisan ritme lagu yang naik turun. Kadang ada sebagian orang menganggap bekerja sambil mendengarkan musik akan menganggu, sepertinya tidak berlaku dalam hal ini. Alunan lirik lagu berbahasa Inggris, yang menggunakan logat zona tertentu di Amerika sana, membuat sebagian liriknya justru penulis tidak mengerti, terutama pada bagian reff cepatnya. Sadar atau tidak sadar, percaya atau tidak percaya, penulis menulis tulisan ini, ketika musik mengalun dengan volume yang agak memekakkan telinga.

Para pembaca, mungkin hal ekstrim ini tidak layak diikuti, karena berlaku untuk penulis saja. Masing-masing orang melakukan hal yang berbeda untuk mengembalikan semangat kerjanya. Katanya ada yang mendengarkan musik jass, semangat kerja mereka akan pulih, atau warna musik bergenre slow lainnya. Yahh, itu tergantung persepktif masing-masing saja. Karena pada dasarnya hobi orang berbeda beda.