Landasan

Mata Pelajaran Agama Hindu, yang sarat dengan ajaran dan konsep yang sesungguhnya merupakan ajaran universal yang akan menuntun peserta didik mampu memiliki Skill Abad 21. Pada tataran implementasi pada ranah pendidikan, pembimbingan kepada guru agar mampu menerjemahkan Ajaran Agama Hindu menjadi proses belajar yang bermakna dan kontekstual salah satunya  dengan pembuatan soal Assesemen Nasional berbasis literasi Hindu. Hal ini menjadi sangat penting, karena Mapel Agama Hindu adalah menjadi bagian dari kurikulum nasional, sehingga literasi Hindu dapat berkontribusi bagi pengembangan cara berpikir anak untuk mengembangkan Skill Abad 21.

Ketika penulis mencoba mengaplikasikannya dalam program pembimbingan guru terkait penyusunan soal AKM, guru-guru sangat antusias. Beberapa guru mulai dari guru kelas, mata pelajaran Agama Hindu hingga Mapel PJOK sangat antusias dalam membuat soal. Hal ini menjadi motivasi bagi penulis sebagai pemimpin pembelajaran untuk memotivasi para guru. Sehingga guru tertantang dalam menggunakan nalar berbasis literasi Hindu dalam membuat soal.


BACA JUGA


Guru Mapel Agama Hindu, sebagian besar dipercaya di keluarga atau dikomunitasnya masing-masing sebagai pemuka agama, atau orang yang tahu tentang agama. Sehingga aktivitas keseharian mereka terkait konsep agama adalah hal yang niscaya mereka alami secara langsung. Maka proses pembelajaran yang diterapkannya disekolahpun sangat relevan mengaitkan hal-hal yang kontekstual terjadi dalam keseharin hidup mereka. Tetapi upaya menggali kesadaran ini tidaklah mudah, karena mereka belum terbiasa menyelenggarakan pembelajaran dan menyusun alat evaluasi yang seperti itu.

Permasalahan dan Strategi

Sebelumnya, baik proses pembelajaran ataupun evaluasi selalu bersifat teksbook. Maka benarlah kompetensi anak-anak ketika mereka lepas dari bangku sekolah, banyak yang tidak mengerti tentang hal-hal yang terkait konsep agama. Mungkin di bangku sekolah nilai mereka bagus, akan tetapi ketika di masyarakat, mereka buta tentang aplikasinya. Seperti penulis contohkan berikut ini :

  1. Bagaimana anak-anak di sekolah diperkenalkan tentang Kuasa Tuhan terhadap alam berdasarkan arah mata angin, yang secara aplikatif diwujudkan dalam sarana upakara seperti membuat segehan, membuat aturan manca dan menghias pelinggih
  2. Bagaimana anak-anak di sekolah diperkenalkan tentang konsep Tri Hita Karana,, Tri Kaya Parisuda, Tat Twam Asi, dimana secara aplikatif, anak-anak diajarkan untuk selalu berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjaga hubungan harmonis dengan sesama manusia dari sudut susila, etika, moral dan tatakrama, dan menjaga lingkungan agar senantiasa berdampak baik kepada kehidupan kita
  3. Bagaimana konsep Yadnya yang secara aplikatif diwujudkan dengan pemberian tulus iklas, sebagai ucapan terimakasih terhadap karunia Tuhan, masih selalu berfokus pada materi dan persembahan semata. Padahal banyak aspek lain seperti kewajiban mewujudkan cita-cita anak melalui pendidikan, kewajiban menunaikan tugas dan pekerjaan sehari-hari, kewajiban memberi sebagian penghasilan kita kepada pihak lain yang lebih membutuhkan termasuk kaitannya dengan kesadaran pembayaran pajak dan lain-lain
  4. Bagaimana makna ngayah sering hanya diperuntukkan ketika melakukan kegiatan di pura, yang sebenarnya sangat layak diaplikasikan dalam bentuk lain seperti dalam melaksanakan swadarma kita sehai-hari dalam berbagai bidang pekerjaan. Karena ngayah itu adalah bagian dari yadnya, dimana setiap kegiatan adalah dalam rangka wujud bakti yang tulus dan iklas kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga segala perkerjaan yang dilakukan secara baik dan maksimal akhirnya akan berpulang pada kewajiban kita kepada sang pencipta.
  5. Bagaimana mengupayakan konsep Catur Marga sebagai bagian dari pengembangan aspek skill Abad 21 yaitu pengembangan sikap kritis, kreatif/inovatif, kolaboratif dan komunikatif. Hal ini menandakan ajaran Agama Hindu sesungguhnya siap menjadi pilar bagi adaptasi peradaban manusia. Ambisi belajar pada anak-anak melalui ajaran Catur Marga Yoga dan Catur Pramana. Dimana dalam Catur Marga Yoga yaitu empat jalan untuk menuju Tuhan, salah-satunya adalah Janana Marga (berdasarkan ilmu pengetahuan). Sehingga disebutlah empat jalan untuk mencari pengetahuan (Catur Pramana) yaitu Partyaksa Pramana (pengamatan), Anumana Pramana (logika), Upamana Pramana (komparasi/kajian) dan Sabda Pramana (belajar dari buku atau sumber terpercaya).

Dampak

Berdasarkan prinsip pembelajaran Mapel Agama Hindu dan soal AKM Agama Hindu seperti dijelaskan di atas akan berdampak kepada :

  1. Siswa selain menerima konsep tentang Kemahakuasaan Tuhan dari persepektif ajaran Agama Hindu, yang terpenting adalah bagaimana aplikasinya dalam kehidupan nyata baik yang diwujudkan dalam bentuk yadnya, upakara dan susila. Sikap yang akan muncul dari pengembangan kompetensi ini adalah bersukur, taat berdoa dan menghargai segenap ciptaannya.
  2. Konsep Tri Hita Karana yang diajarkan disekolah, bukan hanya sebagai pengetahuan semata, tetapi yang terpenting adalah bagaimana mengimplementasikannya dalam bentuk tindakan sehingga dapat mengharmoniskan hubungan antara manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam. Sikap yang akan muncul dari kompetensi ini adalah selalu bersukur, peduli sosial, peduli lingkungan, budaya antre, budaya bersih dan sehat, tatakrama, beretika dan menghargai sesama.
  3. Yadnya yang dipahami hanya sebagai bentuk acara pembuatan dan persembahan upakara saja tetapi lebih luas lagi ke arah bagaimana sebuah upaya berbagi dan memberi untuk kemaslahatan bersama menjadi bagian dari kesadaran anak-anak kita. Sikap yang akan muncul dari kompetensi ini adalah tulus iklas, berkorban, tanpa pamrih,
  4. Persepektif sempit dari pengertian ngayah selama ini dapat diperluas ke aspek lain, sehingga anak-anak masa depan, menjadikan segala kegiatan yang berhububngan dengan kemaslahatan diri dan orang lain adalah ngayah. Ngayah dapal persepktif ini, akan berdampak kepada munculnya sikap-sikap rela berkorban, tulus, iklas, berorientasi proses bukan hasil, tenggang-rasa, menerima perbedaan, tekun, rajin dan suka berbagi.
  5. Implementasi dari ajaran Catur Marga Yoga dan Catur Pramarta, akan menghasilkan anak-anak yang suka belajar mandiri melalui pengamatan untuk panduan analisa dengan menggunakan logika, berdasarkan kajian hasil penelitian terdahulu, melaksanakan tindakan dan dapat mengambil kesipulan beserta rekomendasinya.

Kesimpulan

Demikianlah sajian penulis, terkait bagaimana mengintegrasikan literasi Hindu pada proses penyusunan soal AKM, yang contohnya dapat dilihat di sini! Hal ini akan berdampak kepada semakin banyaknya sumberdaya sekolah, sumberdaya literasi termasuk literasi Hindu yang menjadi bagian paling kontekstual dalam mengembangkan nalar anak-anak yang beragama Hindu. Karena fakta-fakta yang disajikan dalam soal sangat lekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

 

 

 

loading...

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *