Kabar Buruk Untuk Ilmu Pengetahuan dan Sains

Laporan Global Risk Economic Report Tahun 2021 yang diterbitkan olah World Economic Forum, yang merilis tentang tantangan ekonomi 10 tahun ke depan, merupakan kabar buruk bagi dunia ilmu pengetahuan. Dalam salah satu point laporan itu disebutkan adanya gejala yang disebut dengan Backlas Agains Science. Pengertian dari Prevasive backlas agains science, adalah gejala reaksi yang meluas melawan sains berupa kecaman, penyangkalan, skeptisisme terhadap bukti ilmiah dan keilmuan oleh komunitas tertentu pada skala global, yang mengakibatkan kemunduran atau terhentinya tindakan manusia dalam upaya memajukan  inovasi teknologi.

Baca juga : Ancaman Dunia Dalam 10 Tahun

Serangan yang meluas terhadap sains, bukan hanya sekedar pemikiran anti terhadap sains. Hal ini telah mencapai keparahan lebih dari sekedar pemikiran, tetapi telah merambah ke arah perilaku panyangkalan yang berusaha memprovokasi orang lain. Meluasnya gerakan dan serangan terhadap sains itu dipicu oleh publikasi media sosial yang sekarang ini marak. Berikut beberapa fakta yang mengarah kepada gerakan anti sains yang patut kita ketahui dan waspadai :

  1. Gerakan pseudosain yang sangat gencar dilakukan, dengan seolah-olah memadukan antara proses dan bukti sains dengan ajaran tertentu yang tidak diperoleh melalui metode ilmiah. Propaganda para tokoh yang mendapatkan dukungan luas ini telah terjadi untuk menyerang Teory Darwin, dengan hanya mengemukakan asumsi-asumsi tanpa didukung bukti berdasarkan kerangka kerja sains. Sudang barang tentu mereka tidak mau mengikuti alur pemikiran ilmiah karena tidak mau terjebak oleh proses sains itu sendiri. Sehingga mereka bersikukuh untuk menemukan cara sendiri dalam pembuktian melawan sains. Metode ini sangat efektif bagi para penganut pseudosains untuk melakukan perlawanan terhadap sains, karena motivasi tertentu yang didukung oleh golongan tertentu. Mungkin pembaca pernah mendengar nama seperti Harun Yahya dari Turki, yang saat ini telah dihukum seumur hidup, dan beberapa nama lainnya. Bukan hanya itu, di negara Amerika Serikat, ide gerakan anti sains ini bahkan seolah diamini secara politik dibawah pemerintahan Trump. Bahkan pernah pseoudesains tersebut mempengaruhi kalangan akademisi yang menganut paham Intelegency Desains.
  2. Gerakan penentang perubahan iklim merupakan salah satu bentuk dari serangan terhadap proses dan bukti sains. Pengingkaran ini terjadi akibat motivasi kepentingan kelompok tertentu atas nama politik dan ekonomi. Kelompok perusahaan atau individu yang dirugikan akibat keberadaan sains telah menyerang balik dengan mengatakan bahwa tidak ada hubungannya antara pencemaran lingkungan dengan industri sekala besar yang telah mencemari lingkungan. Mereka menolak alasan bahwa pabrik yang mereka dirikan menjadi penyebab lapisan ozon menipis. Gerakan enviromentalis yang menentang keberadaan koorporasi penyumbang emisi terbesar bagi penurunan kualitas lingkungan justru dituduh sebagai pihak yang berkepentingan untuk membela pesaing bisnisnya.
  3. Gerakan menentang mengikuti protokol Covid-19, masih segar diingatan kita bagaimana program pemerintah yang nyata-nyata untuk membela kepentingan hidup rakyatnya untuk hidup sehat dan terhidar dari bahaya Covid-19, justru mendapat penentangan dari golongan tertentu. Motivasinya selain hanya untuk kepentingan sebagian orang mungkin karena kekecewaan diberlakukannnya lock down yang telah berdampak kepada hilangnya mata pencaharian, tetapi kesempatan ini justru kadang dimanfaatkan oleh beberapa pihak yang memiliki agenda tertentu untuk meruntuhkan kredibilitas pemerintah, sehingga menimbulkan ketidak percayaan dengan sains.
  4. Gerakan yang menentang bahwa bumi itu bulat. Kaum anti sains ini berpendapat bahwa bumi itu datar, dengan berbagai argumen yang tidak logis. Pada beberapa situs Youtube dan artikel-artikel di internet banyak yang membahas hal ini, dan tak tanggung-tanggung, mereka melakukan eksperimen untuk membuktikan bahwa bumi itu datar. Yang benar saja! Amerika dengan badan antariksa NASA, telah berulangkali bolak-balik ke ruang angkasa, seperti ke orbit bumi, ke bulan, dan beberapa pesawat tanpa awak telah berhasil mendarat di Mars, melintasi orbit Jupiter, Saturnus Uranus dan Neptunus, oleh pesawat antariksa Voyager 1 dan 2, dimana sekarang telah pergi jauh ke wilayah antar bintang. Foto dekat Planet Plutopun telah berhasil diabadikan karena jasa pesawat tak berawak New Horizon.

Ironis memang, di saat gencarnya aplikasi teknologi telah berhasil diterapkan dalam berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari, serta kemudian telah mendatangkan manfaat yang besar untuk membantu memudahkan kehidupan manusia, ternyata ada juga yang antipati terhadap hal itu. Jika tiga point gerakan seperti dikemukakan di atas itu dilakukan secara masif maka akan menjadi batu sandungan bagi kemajuan sains dan iptek di masa yang akan datang. Seperti kita ketahui bersama bahwa pendidikan seperti halnya dilakukan di Indonesia adalah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas bercirikan generasi mudanya kreatif dan inovatif sehingga menghasilkan karya gemilang yang dapat dimanfaatkan oleh umat manusia untuk tetap dapat melangsungkan eksistensinya.

Baca juga : Universal Thinking

Fakta Sains Yang Tak Terbantahkan

Akan tetapi kemudian dilemahkan oleh pihak-pihak tententu yang memiliki kepentingan baik individu maupun kelompok untuk kemudian membalikkan fakta bahwa sains itu hoak. Kenapa hal ini bisa terjadi? Padahal bukti sains sudah terlalu banyak yang dirasakan langsung perannya bagi kemajuan umat manusia. Bahkan aplikasinya sudah pada tataran penggunaan sehari-hari. Berikut bukti sains fundamental yang telah merubah peradaban manusia hingga maju sampai sekarang, yang justru mendapat pertentangan. Penyajian ini sekaligus menjawab keraguan para anti sains terhadap keberadaan sains itu sendiri :

  1. Keberadaan Teori Darwin telah memunculkan kontorversi, ada beberapa titik lemah yang sesungguhnya telah dibuktikan benar. Adanya anggapan para anti sains, bahwa dalam salah satu Teori Darwin dikemukakan, manusia adalah keturunan kera, padahal dalam Teori Darwin, tidak terdapat ungkapan itu, dia hanya menyatakan bahwa leluhur manusia mirip seperti kera. Karena Toeri Darwin menyatakan mirip, maka tuduhan bahwa Darwin mengatakan leluhurnya adalah kera sama sekali tidak benar. Hal kedua yang menjadi kelemahan Teori Darwin menurut para anti sains adalah bahwa jikalau proses evolusi itu berlangsung perlahan dan dalam jangka waktu yang lama, seharusnya ada bentuk peralihan dari manusia yang seperti kera menjadi manusia. Hal ini lama menjadi perdebatan, akan tetapi beberapa penelitian terakhir telah membuktikan dengan ditemukannya bukti fosil peralihan antara manusia berbentuk seperti kera, hingga menjadi manusia. Pembuktian paling terkenal adalah peralihan ikan paus dari binatang yang awalnya hidup di darat. Pembuktian lain yang tidak terbantahkan adalah bagaimana struktur gen, yang telah berhasil dimanipulasi menjadi mahkluk jenis baru, atau kita kenal dalam pertanian seperti varietas padi unggul. Tanpa Teori Darwin mustahil hal itu akan dapat direalisasikan. Dan banyak contoh-contoh lain yang menjadi bukti kuat bahwa Teori Darwin itu benar, seperti mutasi virus Covid-19 menjadi bentuk virus lain, merupakan awal dari mutasi-mutasi sel mahkluk hidup yang lebih kompleks, yang merupakan pertanda bahwa Teori Evolusi Darwin adalah benar dan tidak diragukan lagi.
  2. Perubahan iklim dapat terjadi akibat dari berubahnya cuaca harian dan tahunan. Perubahan cuaca ini dapat timbul karena beberapa hal, baik itu alamiah, maupun ulah manusia. Pencemaran akibat banyaknya gas buangan atau emisi ke atmosfir pada beberapa wilayah padat industri, telah mengganggu masuknya sinar matahari, yang berdampak pada gas rumah kaca. Efek ini menyebabkan meningkatnya suhu bumi, walaupun itu prosesnya lambat tetapi telah diteliti oleh para ahli, dan keadaannya semakin memburuk. Akibat memanasnya suhu bumi, maka lapisan salju abadi di kutub akan mencair, dan ini berdampak kepada meningkatnya permukaan air laut, dan memang telah terjadi. Kelebihan gas CO2 di udara telah berdampak kepada pengurangan gas Ozon sebagai pelindung bumi dari sinar radiasi matahari yang berbahaya, hal ini juga telah dibuktikan melalui penelitian. Bukti paling nyata terkaitnya ulah manusia yang membuang emisi gas akibat terlalu banyaknya pabrik adalah ketika diberlakukannya lok down hampir si seluruh dunia. Dampaknya nyata, telah membuat atmosfir kota Jakarta dan berbagai kota di dunia menjadi lebih cerah dari biasanya. Terus yang diragukan apanya lagi?
  3. Pandemi Covid-19 adalah tragedi kesehatan yang paling besar abad ini, yang telah merubah perlaku manusia untuk lebih mengerti pentingnya sanitasi, seperti cuci tangan, penggunaan masker dan lain-lain. Ketika protokol kesehatan seperti dilarang keluar rumah dan keluar wilayah, bekerja di rumah, jaga jarak, menggunakan masker dan sering cuci tangan atau menggunakan handsanityzer, ini diberlakukan telah berdampak kepada penurunan penyebaran virus. Bukti ilmiah menyatakan wilayah yang kepedulian masyarakatnya rendah dalam hal pelaksanaan protokol kesehatan, tingkat penularan virus semakin tinggi, dan telah menimbulkan banyak korban. Pertanyaan penulis, salahnya dimana?
  4. Permukaan bumi seperti yang dianggap oleh kaum Bumi Datar, adalah kemunduran manusia dalam berpikir. Karena logika ilmiah yang dulu dikemukakan oleh astronomor Kopernicus dan Galileo menyatakan bahwa bumi itu bulat masih sekedar dugaan atau hipotesis. Akan tetapi dengan berhasilnya manusia mendaratkan pesawat di bulan dan berulang kali pergi ke stasiun ruang angkasa, foto dan video siaran langsungnya, dapat kita saksikan di Youtube saat ini juga. Dengan anda hanya mengetik kata kunci “siaran langsung dari stasiun antariksa” maka langsung kita dihubungkan dengan NASA yang setiap hari menayangkan aktivitas satelit di orbit bumi, yang telah dilengkapi kamera. Kalau kita simak pembahasan point 4 ini, salahnya dimana ?

Selain hal-hal yang dikemukakan di atas ada penemuan baru lagi yang sepertinya kaum anti sains enggan memperdebatkannya, yaitu perihal ilmu pengetahuan dalam bidang partikel, dan sub partikel. Kenapa mereka enggan untuk memperdebatkannya? Karena mereka pada dasarnya tidak punya pemahaman untuk mengerti hal itu. Alih-alih akan mendebat, bagaimana konsep rumit dari peredaran elektron, teori kuantum, teori partikel dasar seperti quark, netrino, lepton, maon, netron dan proton, mungking mereka kesulitan memahami.

Dampak dari hoak pesudosains, dan keraguan para kaum anti sains ini, yang disebarluaskan di media sosial merupakan upaya provokasi kepada masyarakat yang tidak memahami persoalan. Perdebatan sainstifik ilmiah, dapat dilakukan melalui kegiatan ilmiah dimana jika ada keraguan terhadap satu teori, maka harus ada pembuktian yang kuat bahwa teori itu gagal menjelaskan tentang suatu fenomena. Setelah dilakukan perdebatan akademis yang mengedepankan etika-etika sainstifik, maka kemudian dipublikasikan dan akan menjadi konsumsi masyarakat. Akan tetapi hal yang dilakukan oleh kaum anti sains ini adalah membuka perdebatan di ranah publik, dimana publik belum tentu memahami persoalan. Dampaknya adalah kesimpang siuran informasi yang membuat masyarakat bingung, pang pada gilirannya akan meragukan sains.

Gejala yang terjadi di ranah publik saat ini adalah keraguan tentang sains telah meluas, atau seperti yang diistilahkan oleh Laporan Global Risk Economic Report Prevasive backlas agains science” telah berhasil menyesatkan padangan banyak orang. Dari sisi pendidikan hal ini sangat merugikan bagi proses pengembangan teknologi dan inovasi sains, karena siswa dan mahasiswa telah diajak untuk meragukan sains. Padahal aktivitas dan produk sains telah mereka manfaatkan sehari hari. Ini adalah suatu keadaan yang sangat merugikan dan upaya pembodohan bagi generasi muda.

Dampak Prevasive Backlas Agains Science

Apalagi kondisi pendidikan di Indonesia, yang masih memiliki skor VISA dalam bidang literasi dan numerasi yang masih sangat rendah. Sudah dapat dipastikan minat siswa dan mahasiswa untuk membaca literatur sains jelas sangat kurang. Sehingga memiliki wawasan sains yang kurang pula. Jika mereka didahului oleh media sosial yang memberitakan tentang kabar bohong oleh para anti sains, maka informasi itu  akan diterima mentah-mentah. Dampaknya adalah :

  1. Kurang berminatnya generasi muda untuk belajar sains, karena dianggap omong kosong belakar
  2. Kesalahan persepsi generasi muda tentang konsep, proses, dan produk sains, karena penyesatan pendapat akibat pandangan pseudosains
  3. Ternciptanya generasi muda yang kurang produktif dan berminat dalam bidang penelitian ilmiah, karena telah meragukan sains.
  4. Menciptakan generasi pemakai produk sains, yang tidak peduli dengan bagaimana alat itu dibuat
  5. Ruginya pemerintah berinvestasi besar dalam bidang pendidikan karena gagal menciptakan generasi muda yang mau belajar untuk mengembangkan wawasan teermasuk di dalamnya adalah sains
  6. Semakin banyaknya komunitas yang anti sains, karena pendidikan gagal melaksanakan misi mencerdaskan kehidupan bangsa
  7. Semakin banyaknya hoak-hoal di media sosial, karena generasi muda lebih percaya dengan isu konspirasi dari pada isu atau berita penemuan terbaru dalam bidang sains

Baca juga : Tips Pembelajaran Berpikir Universal

Solusi

Solusi yang dapat diketengahkan untuk mencegah meluasnya dampak prevasive backlas agains science melalui intervensi pada dunia pendidikan. Upaya yang dilakukan  adalah salah satunya, mengembangkan cara berpikir universal, dimana siswa sejak dini mulai ditanamkan kesadaran bahwa :

  1. Kita adalah manusia bersama mahkluk hidup lainnya merupakan bagian dari alam semesta
  2. Kita adalah manusia yang memiliki banyak keterbatasan, tetapi selalu dapat belajar dari pengalaman
  3. Kita adalah manusia penghuni Planet Bumi yang setiap saat berhadapan dengan ancaman
  4. Kita adalah manusia yang rentan mengalami kepunahan begitu juga dengan mahkluk yang lain
  5. Kita adalah manusia yang memiliki keunggulan mampu beradaptasi lebih baik dengan lingkungan
  6. Kita adalah manusia penghuni Planet Bumi yang dapat saling bahu membahu untuk menanggulangi ancaman dan menghindari kepunahan

Baca juga : Meningkatkan Keterampilan Berpikir Anak

Kesimpulan

Tantangan besar dalam dunia pendidikan adalah meluasnya gerakan perlawanan dari para pendukung anti sains. Mereka lupa bahwa sains yang telah berjasa besar bagi pengembangan kemajuan peradaban manusia. Mereka sesungguhnya telah mengingkari tujuan dan hakekat hidupnya sendiri. Upaya yang dapat dilakukan agar sains tetap dapat berkembang dan berguna bagi kemaslahatan hidup manusia adalah menanamkan pemahaman sehingga generasi muda sadar tentang hakekat cara berpikir universal. Strategi paling relevan untuk menanamkan prinsip itu adalah melalui dunia pendidikan. Sehingga diperlukan guru-guru beserta praktisi pendidikan lainnya yang memiliki pemahaman yang sama. Maka dari itu pengembangan proses pembelajaran yang dapat memaksimalkan upaya menanamkan kesadaran tentang hal itu, hendaknya dilakukan sejak dini dan dimulai hari ini. Hanya dengan cara itu, kita akan dapat membawa pendidikan kita berorientasi masa depan, untuk dapat berdiri sejajar dengan bangsa lain untuk bersama-sama mengambil peran dalam upaya menyelamatkan eksistensi manusia bersama mahkluk lainnya dari kepunahan.