Ilustrasi Science Fiction

Bunyi kaki kuda berderap berpacu dengan debu-debu yang beterbangan ke udara. Akupun terhenyak, dan berusaha mengintip dari balik semak belukar, untuk meyaksikan pemandangan langka yang tak akan aku temukan di daerah asalku. Jam digital di tanganku menunjukkan Pukul 08.00 pagi saat itu. Selintas di balik kabut tipis nampak pegunungan yang bergunduk-gunduk seolah menjadi layar pertunjukkan pacuan kuda di padang rumput itu. Sesekali bunyi kuda meringkik seolah mengatakan, “Iya” ketika cemeti dari rotan dipukulkan di pantatnya. Matahari saat itu masih malu-malu menampakkan dirinya dari balik pohon hutan pinus yang sedang menghijau, seolah tersenyum bahagia karena musim dingin telah lewat.

Baca juga : Tips Pembelajaran Berpikir Universal

Dari balik pepohonan, aku berusaha menyembunyikan kendaraan kapsulku, sambil mengintip suasana pesta berkuda hari itu. Pada musim semi itu, sekawanan pemburu sedang berlatih menunggang kuda. Pelana dari kulit kerbau nampak menempel di punggung kuda yang meringkik berlari mengikuti apapun perintah tuannya. Sesekali kuda yang masih muda mengangkat kakinya, seperti mengatakan penolakan ketika diperintahkan untuk berlari. Si penunggang dengan sigap mengendalikan kuda tersebut, untuk akhirnya ia mengikuti irama langkah temannya untuk berlari di rerumputan hijau pada sebuah lembah yang sangat subur, pada suatu tempat di dataran di Eropa.

Baca juga : Universal Thinking

Aku melihat jam tanganku mundur 4534 tahun, ketika aku menyaksikan peradaban kuno seolah berparade di depanku. Sampai detik ini aku belum berani keluar dari persembunyianku. Lebih baik aku menunggu sampai besok sehingga aku dapat menggunakan pakaian siluman sehingga tidak terdeteksi oleh kawanan suku primitif itu. Perlahan aku masuk kembali ke pesawatku, dan menyandarkan kepalaku di jok kemudi, sambil menyalakan layar AR ku. Aku berusaha untuk mengatur setelan waktu agar dapat terhubung untuk berkomunikasi dengan masa depan. Akan tetapi sepertinya menu seting yang aku cari-cari tidak ada.

Aku ingat, apa yang dikatakan instrukturku, bahwa jika aku telah terlempar ke waktu yang lain, tidak mungkin melakukan komunikasi, jalan satu satunya adalah pindah kembali ke pukul 07.00, tanggal 27 Juli 2381, pada koordinat  5.505092°N 117.436621°E tepat di pangkalan rahasia perjalanan antar waktu, Badan Antarikasa Amerika yang bertempat di Filipina. AR yang sejak tadi aku hidupkan, bolak-balik aku geser tempatnya agar lebih nyaman aku lihat, sambil aku mengintip ke luar jendela di mana kawanan manusia primitif itu saat ini sedang beristirahat. Layar AR di hadapanku saat ini tengah memainkan video adik bungsuku yang bernama Apri.

Aku terhenyak ketika ingat pesan komandanku sewaktu memberi sambutan sesaat akan melepas kepergianku melintasi waktu, “Adit, ada satu hal yang harus kamu ingat, kamu berangkat ke masa lampau yaitu ke tahun 2153 SM, adalah menancapkan penanda radio berkecepatan tinggi untuk dipancarkan ke, rasi bintang Sagitarius. Penanda sinyal tersebut akan ditancapkan di lokasi 52.505932°N 13.424091°E”.  Sementara aku masih nonton video Si Apri, aku mencoba melihat posisiku saat ini, ternyata melenceng ke utara lagi sedikit. Kalau itung-itungan aku dengan memakai pengukur jarak pada jam tanganku, kira kira tempat aku menaruh penanda nanti adalah tepat di kawanan para penunggang kuda itu.

Sementara waktu terus berjalan, saat ini telah menginjak malam, dan rupanya, kawanan suku primitif itu akan menginap di tempat itu. Aku harus menunggu, kawanan suku primitif itu pergi. Perutku terasa mulai lapar, akupun membuka kontainer bagasi pesawatku untuk mengambil makanan. Bekalku bepergian antar waktu, ternyata hanya daging sapi, keju, sedikit sayur dan bumbu. Untung aku lama ditugaskan militer Indonesia untuk bergabung dengan relawan tentara dari seluruh dunia, untuk mengikuti pelatihan misi penyelamatan bumi.

Saat ini bumi pada tahun 2381 sedang sekarat, global warming, Amerika dan Cina sedang bersitegang, saling berlomba mendaratkan pesawat antariksa di Planet Mars. Celakanya, pesawat Cina yang hilang kendali, sehingga menubruk bulan, yang berdampak pada melencengnya orbit bulan, sehingga menit demi menit, mendekati bumi. Tidak kurang dari dua tahun lagi dari tahun 2381, tepatnya bulan Agustus, minggu pertama, akan menabrak bumi.  Sementara aku disini, sendirian, hanya ditemani robot anjing kecil, yang menemaniku, sebagai alarm, membangunkan, mengingatkan aku makan dan membersihkan diri. Aku sih maunya jalan-jalan, mencari sungai terdekat, akan tetapi katanya itu melanggar protokol. Waduh anjing ini memang pintar, mirip sekali dengan Si Dogi yang aku tinggal  di rumah.

Ketika aku amati keluar, sepertinya api unggun dari suku primitif itu sudah mati. Entah kapan mereka pergi? Jika berminggu-minggu mereka di sini, misiku bisa gagal. Dari pada aku menunggu orang tidur, lebih baik ikuti protokol, dan beristirahat, sambil memastikan pesawatku masih dalam mode siluman, biar tidak dapat dilihat oleh kawanan manusia primitif itu. Saat aku merebahkan jok kemudi, dan aku geser kebelakang, Si Dogi, tidur di sampingkku. Aku menarik selimut dan memeluknya. Aku sengaja mengganti namanya biar mirip dengan nama Si Dogi yang ada di rumah.

Benar saja, ketika aku bangun pagi, para kawanan manusia primitif itu sudah bersiap-siap untuk pergi. Derap kuda yang jumlahnya 43 ekor, kembali bergemuruh meninggalkan tempat itu dan menghilang di balik pepohonan pinus. Bara api unggun yang tadi malam dinyalakan masih nampak berasap. Saat itu aku belum berani keluar, untuk memastikan kawanan manusia primitif itu tidak kembali. Sesuai protokol, kalau keadaan belum aman, tidak diperbolehkan jauh dari pesawat. Walaupun pakaian yang aku pakai, dalam mode siluman, tetapi protokol tidak bisa diubah.

Ketika keadaan aman aku bergegas pergi sesuai koordinat yang ditentukan untuk menancapkan penanda, sehingga dapat membantu memantulkan gelombang radio kecepatan tinggi yang mampu menembus waktu untuk dapat direfleksikan ke salah satu planet yang teletak di rasi bintang Sagitarius. Sehingga nantinya dapat dipantulkan lagi ke bumi, pada tahun 2381. Hal ini kata para ahli NASA, akan berguna sebagai penanda, sehingga migrasi para petinggi di bumi pada tahun 2381, ke tahun 2153 SM, untuk menyelamatkan sebagian penduduk bumi, yang terpilih sehingga mampu memulai kehidupannya dari masa lampau.

Teknologi yang sekarang berkembang, telah sangat maju, bahkan aku sendiri, walau telah mempelajari konsep dan mengalami sendiri perjalanan antar waktu ini, terkadang masih bertanya-tanya, benarkah aku telah mengalami perjalanan waktu? Sesaat kemudian aku telah keluar dari pesawat dan mengaktifkan mode siluman pada semua pakaian yang aku kenakan. Aku melangkahkan kaki di antara semak belukar. Situasi di sini, masih sangat alami, tidak ada kota, bahkan ketika aku lihat ke langit, tidak ada pesawat, yang terlihat hanya burung-burung, sementara sinar matahari bersinar hangat, seolah menerangi langkahku berjalan menuju koordinat yang telah ditentukan. Segala peralatan telah aku bawa, sementara Si Dogi tetap ikut dan bertugas mamantau sekeliling, dan memberiku laporan jika keadaan menjadi berbahaya, sehingga aku cepat kembali masuk ke dalam kapsul.

Tepat di koordinat yang telah ditentukan, akhirnya aku berhasil membuat lubang, memasang peralatan pemancar radio berkecepatan tinggi, dan aku pastikan pengaitnya sudah aku semen di dalam lubang. Saat ini aku tinggal membuat pelindung agar tidak terlihat mencurigakan sehingga diganggu oleh binatang ataupun manusia. Walaupun telah dibekali alat untuk merespon, berupa alat kejut bertegangan tinggi, sehingga jika ada hewan atau manusia yang mendekati, mereka akan kapok dan pergi. Tetapi untuk menghadapi manusia primitif yang cerdas dan rasa ingin tahunya tinggi, akan ditandai dengan aktifitas gangguan olah objek yang saat lebih dari 5 kali. Apabila itu terjadi, maka alat penanda ini, akan berubah menjadi monster yang bertugas melumpuhkan objek, hingga membunuhnya. Menyeramkan juga alat ini.

Singkat cerita tugasku memasang alat ini telah berhasil, aku membereskan peralatanku dan kembali ke kapsul bersama Si Dogi. Sesuai protokol, aku harus memastikan alat itu berfungsi dan aman dari gangguan. Secara otomatis alat tesebut setelah dipasang beberapa menit kemudian akan berfungsi, dan mengarahkan antena pemancarnya ke arah rasi bintang Sagitarius. Aku harus tetap ada dalam pesawat sambil mengintai keadaan di luar selama 48 jam berikutnya. Kegiatanku di dalam pesawat, selama masa menunggu adalah membaca buku, bermain dengan Si Dogi, menonton filem dan mendengarkan musik.

Dua hari telah berlalu, panel AR ku menunjukkan alat telah berfungsi dan telah mengirimkan pesan ke salah satu planet di bintang Sagitarius. Katanya di planet itu ada sejenis cermin yang berhasil di pasang oleh pesawat ruang angkasa tak berawak beberapa puluh tahun yang lalu dari tahun 2381. Cermin itulah yang akan memantulkan cahaya ke bumi di tahun 2381. Sementara untuk memastikan cahaya itu sampai di cermin itu, telah dilakukan secara otomatis oleh alat penanda yang ku pasang tadi. Jadi tugasku hanya memasang, menunggu selama 2 hari dan pulang lagi ke bumi.

Pembaca yang budiman kisah science fiction di atas adalah sebuah imajinasi, bagaimana kehidupan di masa yang akan datang, yang ditandai oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Dalam kisah singkat itu, diceritakan bagaimana keadaan di bumi saat itu yang sangat parah, akibat pemanasan global, dan hancurnya ekosistem hayati, sehingga sudah tidak layak ditinggali. Di saat yang bersamaan pesawat ruang angkasa Cina mengalami kecelakaan. Pesawat yang beratnya masif tesebut telah menubruk bagian belakang bulan ketika berputar mengelilingi bulan, untuk mendapatkan gaya tambahan ketika akan menuju Planet Mars. Dampaknya adalah orbit bulan melenceng dan mendekati bumi. Keadaan itu membuat seluruh masyarakat di bumi pada tahun 2381 panik. Sehingga NASA melakukan misi rahasia untuk memindahkan orang-orang terpilih ke masa lalu. Misi selanjutnya dari NASA adalah merencanakan pembangunan bumi secara lebih baik yang dimulai pada tahun 2000 SM, sehingga dapat menata kehidupan secara lebih baik, agar di masa depan tidak lagi terulang seperti kejadian di tahun 2381.

Melihat dari kisah itu, dapat digambarkan bagaimana manusia melalui perkembangan teknologi telah mampu mengatasi masalahnya. Dalam kisah itu kecerobohan Cina dan tindakan tidak terpuji dari misi rahasia NASA, sangat keluar dari konteks bagaimana menciptakan masyarakat sejahtera yang mendiami bumi. Pengecualian tindakan penyelamatan, yang ditujukan kepada hanya orang-orang terpilih, merupakan tindakan tidak terpuji. Lalu bagaimana nasib manusia yang lainnya? Cerita ini akan berlanjut diakhir tulisan ini. Penulis berharap pembaca yang budiman bersedia membaca lembar demi lembar dari artikel ini, sehingga nanti sampai kepada suatu pemahaman bersama. Pemahaman yang dimaksud adalah bahwa kebersamaan dan perlakuan adil dalam upaya menjaga eksistensi manusia untuk hidup di bumi merupakan sebuah nilai dari manusia yang beradab.

Melalui pendidikan kepada anak-anak kita di sekolah, diharapkan mendapatkan kesadaran bahwa menjaga manusia dari kepunahan adalah tanggung jawab kita bersama. Bukan hanya tanggungjawab negara-negara maju, tetapi kita sebagai negara berkembang, dengan pendidikan yang juga sedang berkembang, harus memikirkan bagaimana cara mengupayakan agar mereka memiliki pemahaman yang komprehensip dan menyeluruh sebagai suatu kesadaran global, bahwa ancaman terhadap umat manusia dapat terjadi kapan saja. Maka dari itu dibutuhkan kerjasama, dalam rangka merencanakan penyelamatan manusia di masa depan ketika planet bumi memang sedang terancam

Pembahasan berikutnya dari artikel ini adalah, mendeskripsikan dan memaparkan pentingnya kesadaran bersama seluruh masyarakat di dunia sebagai penghuni Palnet Bumi untuk menjaganya, sehingga tetap layak untuk ditinggali. Kesadaran itu, semestinya telah ditanamkan dari masa kanak-kanak sehingga pemahaman itu menjadi kuat untuk menumbuhkan karakter masyarakat global yang satu dengan yang lainnya harus bahu-membahu, bukan malah saling baku hantam. Hal itu dilakukan hanya untuk satu alasan yaitu agar manusia selamat dari kepunahan. Salah satu caranya adalah memiliki pemahaman yang sama, berencana dan melakukan penanggulangan ancaman dan bencana yang bersifat global.