Apabila anda adalah seorang guru ataupun orang tua sangat cocok untuk membaca artikel ini. Alasannya adalah karena artikel ini akan menambah wawasan kita sebagai pendidik baik di ranah sekolah dan keluarga, agar anak-anak kita mengenal masa depannya kelak. Guru maupun orang tua adalah sama-sama memiliki keluarga dan anak. Sudah barang tentu cita-cita kita terhadap anak-anak,  salah satunya adalah memberi mereka pendidikan terbaik. Karena tidak bisa dipungkiri pendidikan yang baik yang akan mengantarkan mereka menuju gerbang kesuksesan di masa depan.

Mungkin anda berpendapat, “Ah sudah banyak artikel yang membahas hal ini”. Tetapi jangan salah, ada sesuatu yang berbeda dengan artikel ini. Artikel ini unik, Kenapa unik? Karena menyajikan hal yang berbeda tentunya. Penulis yang menulis artikel ini tidak memberi jaminan, ketika selesai membaca artikel ini menjadi pintar dalam mendidik. Bukan seperti itu maksudnya. Tetapi paling tidak kesadaran kita bahwa ada sesuatu yang selama ini kita lupakan sebagai pendidik dan orang tua dalam melakukan pendidikan anak. Kita selama ini terlalu asik dengan urusan-urusan yang bersifat nyata, dan mengharapkan hasil cepat, dan tidak sabar menunggu hasil dari apa yang telah kita lakukan.

Ide tulisan ini berawal dari percakapan kecil dengan salah seorang teman, tentang berbagai hal. Waktu itu ketika jam istirahat, sambil menikmati secangkir kopi  di sebuah warung. Percakapan awalnya ringan saja, yaitu membahas yang sangat sederhana terkait kehidupan sehari-hari. Ternyata di benak penulis maupun dia ada beberapa kesamaan. Ada sebuah percakapan yang tidak dapat saya lupakan,”Sekarang jam 12,00, ini yang kita lakukan, sementara besok tepat di jam yang sama apakah kita akan melakukan yang sama di tempat ini?”  Agar percakapan lebih hidup, penulis pun mengimbanginya, “Asal kondisinya sama pasti kita berada di tempat ini lagi”.

Percakapanpun kemudian mengalir dengan berandai-andai, “Jika kondisi berbeda berarti kita tidak berada di sini lagi?”  Saya menanggapinya sambil menghabiskan kopi yang masih tersisa separuhnya, “Tergantung kondisinya lagi, kalau hal-hal yang berhubungan dengan kondisi hari ini sama, dan tepat sama, mungkin kita akan berada di tempat ini lagi.” Percakapanpun kemudian diakhiri karena harus berangkat ke tempat kerja lagi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang masih belum terlesesaikan.

Point penting yang dapat penulis ambil dari percakapan tersebut adalah dalam keseharian hidup kita penuh dengan pertanyaan. Besok seperti apa? Bagaimana? Dimana? Dan pertanyaan-pertanyaan turunan lainnya. Penulis kemudian berpkir, bahwa harus ada sebuah kesiapan diri sebagai manusia dalam menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi besok, lusa dan seterusnya. Mungkin penulis dan Anda sependapat, bahwa hal yang baik yang perlu disiapkan untuk menjaga harapan kita untuk melakukan apa yang kita rencanakan hari ini akan terjadi besok dan lusa.

Pada kesempatan lain, penulis bertemu dengan kawan guru yang lain pada suatu acara rapat. Karena bosan dengan pembicara yang ceritanya bolak-balik seperti itu, akhirnya kami membuka topik diskusi tentang apa yang dimaksud dengan perencanaan. Penulis mengajukan pertanyaan pada kawan tersebut, “Apakah Anda setuju, bahwa ketika kita ingin apa yang terjadi besok sesuai dengan harapan kita maka kita perlu berencana?”  Anggukan yang menunjukkan kata sepakat tersebut, memancing penulis untuk mengajukan pertanyaan berikutnya, “Apakah Anda setuju jika rencana yang kita lakukan bercermin pada harapan kita yang pupus di masa lalu? Dia mengangguk lagi, dan penulis respon dengan anggukan juga sambil sesekali mengarahkan pandangan ke pembicara agar tidak terlalu kentara tidak memperhatikan materi yang disajikan saat itu.

Percakapan selanjutnya adalah membahas tentang kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lalu, yang selanjutnya kita telisik akar penyebabnya sehingga dapat mematangkan rencana yang kita buat, agar apa yang menjadi tujuan kita dalam beraktivitas tercapai. Kami selanjutnya sepakat untuk mengambil hal positif bahwa bukan hanya kegagalan yang layak dijadikan acuan dalam menyusun rencana, tetapi hal-hal baik yang merupakan kelebihan pantas juga menjadi bagian dari renungan kita ketika membuat sebuah rencana.

Penulis kemudian berpikir sambil memainkan pena dan secara tidak sengaja mencorat coret seperti membuat suatu bagan rencana pada artikel note book yang kebetulan diberikan oleh panitia. Garis-garis bagan rencana tersebut penulis ilustrasikan sebagai pengalaman masa lalu, sesungguhnya menjadi alasan kuat kita untuk berencana. Selama ini banyak rencana yang telah kita lakukan sesuai dengan urusan  jenis pekerjaan kita. Penulis contohkan, kalau ingin meningkatkan hasil belajar siswa, maka kita membuat rencana pelaksanaan pembelajaran. Penulis lalu membayangkan, sibuknya kepala sekolah selain membuat rencana pengelolaan sekolah, ada banyak lagi administrasi perencanaan yang mereka lakukan.

Hal inipun akan terjadi pada keseharian kehidupan sebuah keluarga. Masing-masing anggota keluarga sesungguhnya memiliki harapan-harapan, bahwa apa yang akan terjadi besok lebih baik dari saat ini. Si Ayah, selalu berharap, besok mendapatkan rejeki yang lebih banyak, karena melihat kebutuhan anaknya kian hari kian meningkat. Si Ibu, juga memiliki harapan, agar anak-anaknya tidak ada yang jatuh sakit, karena beban keluarga untuk makan sehari-hari saja sudah susah. Sementara Si Anak selalu berharap, besok mereka dapat lebih fokus belajar, dan tidak dijauhi kawan-kawannya di sekolah. Pada akhirnya masing-masing anggota keluarga tersebut, memiliki rencana untuk dalam memenuhi harapannya.

Si Ayah, akan mencoba keberuntungan mencari pekerjaan di tempat lain yang lebih menjanjikan. Sementara Si Ibu merencanakan untuk senantiasa bersama-sama keluarga yang lain menjaga kebersihan dan kesehatan keluarga. Demikian pula Si Anak, mencoba belajar lebih giat agar besok dapat menjadi siswa yang pertama kali menjawab pertanyaan guru, serta dikagumi teman-temannya, untuk kembali di ajak bermain. Perencanaan yang dilakukan oleh setiap anggota keluarga, mereka lakukan mungkin dalam pikiran, karena tidak ada yang mengharuskan untuk menuliskannya menjadi sebuah rencana layaknya program kerja kepala sekolah.

Di tengah suasana pertemuan tersebut penulis kemudian membayangkan, kalau guru dan kepala sekolah, orang tua, dan anak sangat disibukkan dengan rencana-rencana, bagaimana dengan bidang yang lainnya? Sudah tentu mereka juga sibuk dengan perencanaan-perencanaan. Demikian pula kegiatan yang dilaksanakan hari ini, panitia telah jauh-jauh haru menyiapkan rencana kegiatannya, agar aktivitas pertemuan hari ini berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkam.

Sementara suasana pertemuan sedang berlangsung, dimana masing-masing peserta fokus dengan pembicara, penulis sibuk bereksperimen di kepala sendiri. “Jika semua bidang pekerjaan sibuk dengan rencana-rencana, belum lagi melaksanakannya, tambah sibuk lagi” Kalau kita lihat masing-masing elemen birokrasi utamanya di pendidikan satu dengan yang lainnya, sangat terkait. Mau tidak mau, dalam merencanakanpun kita harus melibatkan orang lain. Seperti contoh, ketika kita membuat rencana pembelajaran, pengawas yang bertugas membantu guru dalam penyusunan rencana pembelajaran tersebut juga akan membuat perencanaan dalam melakukan kegiatannya. Atasan pengawas adalah dinas pendidikan, yang juga harus mengelola perencaaan mereka agar pengawas mampu merencanakan kegiatan sehingga pembinaan yang maksimal menjadi efektif. Atasan dinas pendidikan yang dalam hal ini adalah Kementerian Pendidikan juga sibuk merencanakan agar dinas pendidikan, pengawas, kepala sekolah dan guru mampu membuat perencanaan dengan baik. Demikian pula siswa dan anggota keluarga lainnya di rumah masing-masing, tentu memiliki rencana untuk memenuhi harapan, agar hari esok lebih baik dari sekarang. Karena seperti yang penulis kemukakan di atas, perencanaan yang baik menjadi jaminan pelaksanaan dan perolehan hasil yang baik.

Penulis kembali berpikir bahwa rencana sesungguhnya adalah salah satu kemampuan manusia untuk memprediksi masa depan  yang dijabarkan dengan  langkah-langkah kegiatan. Sehingga harapan atau tujuan yang kita tetapkan dari awal dapat dicapai. Percakapan dengan teman kembali penulis buka, ”Berarti perencanaan itulah sesungguhnya membuat hidup kita rumit”. Dia menambahkan,”Bukan hanya rumit, tetapi kompleks”. Penulis terkejut, sepertinya apa yang penulis pikirkan, rupanya menjadi pikirannya dia. Kalau dicermati dua kata di atas, akibat dari kemampuan manusia berencana, maka kehidupan menjadi rumit dan kompleks, sepertinya relevan.

Berdasarkan ilustrasi di atas, dapat digaris bawahi, sesungguhnya keterbatasan manusia dalam memprediksi masa depan berdampak pada upaya kita melakukan rencana-rencana. Aktivitas kegiatan dalam melakukan bidang pekerjaan kita akan berhasil jika kita mampu membuat rencana-rencana. Hiruk pikuk kehidupan dalam rangka memprediksi masa depan yagn tidak menentu, membawa kita ke banyak urusan yang tidak jarang melibatkan peran orang lain. Kesibukan merencanakan agar hasil yang dicapai dalam pekerjaan kita berhasil menghasilkan kerumitan-kerumitan pikiran yang saling tumpang tindih antar peran satu dengan peran lainnya. Atau dengan kata lain, urusan memprediksi masa depan, menjadikan kita terjebak dengan rencana-rencana yang bukan hanya melibatkan diri sendiri, tetapi juga orang lain, sehingga hidup menjadi rumit dan kompleks.

 Mungkin inilah sebuah keniscayaan, karena konsekwensi dari kehidupan adalah menyadari bahwa hari esok harus lebih baik dari sekarang. Kita senantiasa harus menempatkan harapan-harapan agar besok cuaca lebih bersahabat sehingga tanaman palawija kita menghasilkan banyak buah. Harapan agar pasar besok ramai sehingga barang jualan kita laku banyak. Kita selalu berharap agar besok turun hujan, karena lahan pertanian sudah kering, agar padi yang ditanam berbuah lebat sehingga hasilnya baik. Setiap orang selalu menaruh harapan agar ada rejeki nomplok, sehingga hutang-hutang kita yang membebani anggaran keluarga terlunasi. Upaya memprediksi apa yang terjadi besok sesuai harapan kita adalah pemikiran setiap orang. Termasuk juga bagi mereka yang memiliki hobi berjudi akan sangat berharap jika taruhannya hari ini menang telak.

Semasih kita hidup terlepas dari berapa usia kita, apa pekerjaan kita, sampai orang yang sedang jatuh sakit juga sangat mengharapkan besok mereka sehat dan kembali beraktifitas seperti biasa. Semasih kita hidup, dan masih merasakan kegagalan kemarin, berharap besok atau lusa memperoleh keberhasilan. Seperti yang penulis jelaskan di atas, bahwa hal itulah yang menyebabkan kita sibuk dengan rencana-rencana, sehingga mendatangkan kerumitan dan kompleksitas.

Berdasarkan paparan di atas, mungkin para pembaca belum menemukan keunikan dari artikel ini. Perlu diketahui, keunikan sebuah artikel bukan tergantung sejauhmana artikel ini mengatakan dengan jelas pokok permasalahan sejak dari awal sajiannya, tentang kata kunci kenunikannya. Tetapi keunikan dimaksud adalah sejauh mana anda telah mengikuti alur pemikiran penulis yang dituangkan dalam artikel ini. Semasih anda membaca artikel ini, disanalah letak keunikannya. Karena manusia memiliki karakter dasar ingin tahu, sehingga alur pemikiran penulis menjadikan rasa ingin tahu pembaca mulai tumbuh dan berharap menemukan jawaban atas pertanyaan sejauhmana keunikan tulisan pada artikel ini. Maka untuk itu, teruslah membaca, karena anda tidak akan menemukan kata kuncinya dengan hanya membaca sepenggal-sepenggal

Supaya tidak lepas pegangan, seperti di depan penulis kemukakan, bahwa artikel ini ditujuan kepada mereka yang berharap memahami persoalan kehidupan yang tekait upaya mendidik anak. Mereka adalah guru dan orang tua, yang setiap saat berharap anak-anaknya belajar dengan baik. Pemahaman tidak dapat hanya sepotong-sepotong, tetapi menyeluruh terkait fenomena kehidupan yang kini sedang dan akan terjadi. Sudut pandang kita dalam upaya memahami persoalan kehidupan, seharunya diletakkan dalam kerangka yang lebih luas. Pengharapan agar besok lebih baik dari sekarang, bukan persoalan sederhana.  Seperti yang penulis sampaikan di atas, bahwa akibat dari kita selalu berencana maka kehidupan menjadi rumit dan kompleks. Maka dari itu, memahami sebuah kompleksitas tidak dapat dilakukan jika hanya dilihat dari satu sudut pandang. Hidup dengan segala permasalahannya adalah suatu hal yang universal.

Pebahasan selanjutnya dari artikel ini akan membongkar bagaimana seusungguhnya perjalanan kehidupan manusia yang terus berkembang sejalan dengan salah satu ciri manusia sebagai makhluk hidup adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sehingga mereka sangat perlu untuk berencana. Sejarah mengatakan, kemampuan peradaban awal manusia diawali sejak ditemukannya api, alat-alat berburu, tulisan dan alat-alat bantu sederhana hingga teknologi yang maju saat ini. Hal ini tidak terlepas dari insting kehidupan manusia untuk selalu berharap semoga hari esok lebih baik dari sekarang. Perkembangan eksistensi manusia melaju dari hanya menyadari bahwa mereka memerlukan makanan, pakaian dan tempat tinggal, hingga pada kesadaran bahwa tempat mereka tinggal yang disebut Planet Bumi.

Kemajuan peradaban mansusia di planet kecil yang kita beri nama Bumi ini adalah sebuah anugrah Tuhan, dimana untuk sementara ini belum ada tempat alterntif lain yang mampu menyainginya. Kita dilahirkan dan dibesarkan di muka bumi ini adalah sebuah keistimewaan diberi kesempatan untuk hidup dan berkembang biak sebagai mahkluk hidup. Pengertian kehidupan sampai saat ini masih menjadi perdebatan, tergantung sudut pandang yang relatif tergantung subjek pengamatnya. Terlepas dari itu sesungguhnya manusia telah sangat nyaman dapat mendiami Planet Bumi dalam kurun waktu yang   para ahlipun masih memperdebatkannya.

Perdebatan mereka dalam rangka memprediksi apa yang terjadi di kemudian hari dan kemungkinan-kemungkinan peristiwa yang langsung maupun tidak langsung akan berdampak kepada kehidupan manusia. Terlepas dari cara mensyukuri kehidupan, juga dimungkinkan menggunakan akal dan nalar kita yang mendasarkan diri atas ilmu pengetahuan. Tugas ilmu pengatahuan salah-satunya adalah membantu manusia untuk melihat kemungkinan-kemungkinan tertentu yang akan terjadi di masa depan. Manusia selalu belajar dari sejarah dan ilmu pengetahuan yang merupakan pengalaman hidup maunusia sebagai mahkluk yang berakal. Prediksi atas kemungkinan-kemungkinan kejadian di masa depan turut memberikaan arah bagi dinamika perjalanan hidup manusia.

Pengalaman manusia tentang perjalanan mengarungi kehidupan sebagai sebuah spesies yang sampai saat ini mendominasi bumi penuh dengan hambatan dan tantangan. Kemampuan adaptasi yang tinggi dari spesies manusia yang disebut dengan Homosapien ini merupakan kelebihan akibat dari evolusi yang berlangsung jutaan tahun. Existensi manusia yang tetap mampu melestarikan jenisnya adalah sebuah anugrah. Apakah kesempatan itu masih ada di masa depan?

Seperti pandangan para filosofis moderen yang lebih banyak mendasarkan dirinya pada temuan terkini baik dalam persepektif kecil (kuantum) dan besar (keruang angkasaan)   menemukan ketidak terbatasan. Ketidak terbatasan pengetahuan sebagai dampak dari keterbatasan manusia berdampak pada keterbatasan kemampuan memprediksi masa depan. Ketidak mampuan memprediksi masa depan akan berdampak pada kemungkinan kesalahan tindakan manusia mengambil keputusan atas perilaku alam yang juga tidak dapat diprediksikan.  Upaya memprediksi dalam jangka pendek atas gejala yang terjadi dalam kurun waktu tertentu dapat dilakukan dengan mengabaikan pengaruh lainnya, dan hal itu tidak dapat dilakukan selamanya. Seperti misalnya kita memprediksi cuaca besok atas pengalaman pengamatan cuaca menggunakan satelit hari ini  yang mampu merekam pergerakan angin dan awan. Akan tetapi bagaimana dengan kurun waktu yang panjang dimana faktor yang kita abaikan selama ini justru berpengaruh?

Ada dua orang ilmuwan berpengaruh dalam bidang ilmu pengatahuan dan juga dalam aspek bidang kehidupan lainnya yang lebih luas. Alfa Edison dan Albert Einstein, merupakan dua penemu terkenal dan berpengaruh. Pada ruang lingkup aktivitas kehidupan di bumi, Alfa Edison berhasil merumuskan Teori Gerak Benda, sehingga menemukan Hukum Newton I, II dan III. Apa yang terjadi kemudian? Semuanya berubah setelah Albert Einstein naik sebuah kereta api, dan membayangkan aktivitas yang terjadi di dalam kereta api jika diamati dari posisi yang berbeda. Einstein menemukan bahwa sesungguhnya gerakn benda satu dan yang lainnya adalah relatif terhadap posisinya. Maka lahirlah teori relativitas khusus dan umum, yang menggemparkan dunia, sehingga mampu merubah pandangna ilmuwan lainnya. Hal ini berdampak kepada penemuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan aplikasi teknologi turunannya.

Intinya kemampuan kita memprediksi pun juga menjadi sangat relatif tergantung kurun waktu pengamatan terhadap gejala alam itu sendiri. Semakin pendek kurun waktunya, atau semakin sempit ruang lingkup pengamatannya, maka prediksi akan semakin mendekati kebenaran. Akan tetapi semakin panjang kurun waktu dan ruang lingkup tempat pengamatan atas gejala alam tersebut, prediksi terhadap kebenaran menjadi terlalu bias. Maka dari itu, perlu pendekatan lain untuk menjelaskannya, dan inilah yang dilakukan oleh Albert Einstein. Apakah temuan Einstein tersebut dapat berlaku lama, penulis tidak menjamin, karena sampai detik ini, manusia belum mampu mengamati alam dengan sempurna, karena keterbatasan yang dimilikinya.  Sehingga kurun waktu di masa depan yang panjang dengan ruang lingkup yang lebih luas bisa saja prediksi Albert Einstein itu bias dan perlu disempurnakan.

Upaya Albert Einstein dalam membuka tabir kegelapan semesta telah membuka harapan untuk memahami masa depan secara lebih baik. Tetapi masa depan tetaplah gelap, karena semakin luas ruang lingkup pengamatan kita maka jarak dan waktu yang membatasi kemampuan manusia. Semakin dalam kita menggali dalamnya ruang lingkup kuantum dalam perspektif atom semakin banyak rahasia masih tersembunyi di dalamnya.

Seperti kita ketahui  bersama  Large  Hadron Collider yang dibangun  di kedalaman 175 meter sepanjang 27 kilometer di perbatasan Swiss dan Prancis telah menemukan  apa yang disebut para ahli “Partikel Tuhan”. Sebuhan partikel elementer, yang dihasilkan dengan memecah proton, dimana proton adalah bagian dari atom. Partikel tersebut secara ilmiah dinamai Higgs Bosson.  Sementara di sisi yang berlawanan para astronomer juga menemukan   hal yang maha luas dan besar. Melalui terknologi penginderaan jauh dengan menggunakan teleskop ruang angkasa Hubble  telah mengamati pinggiran jagat raya. Mereka mengamati bahwa pada jarak jutaan tahun cahaya (satu tahun cahaya = waktu yang diperlukan cahaya dalam setahun)   proses pembentukan galaksi dan bintang muda.  Sejauh itu jarak pengamatan menandakan manusia telah mampu melihat masa lampau, dimana saat awal pementukan awal semesta.

Sedemikian besar revolusi kecerdasan manusia dengan berbekal rasa ingin tahu yang tinggi  telah mengamati rahasia di balik rahasia alam yang baru saja terungkap. Para ilmuwan juga banyak yang memprediksi kehancuran alam semesta dimana bumi merupakan bagiannya yang tak akan terelakan di masa mendatang. Keinginan untuk tetap eksis di tengah ancaman kepunahan itu merupakan kelebihan manusia yang memiliki akal dan nalar. Maka dari itu peradaban manusia akan tetap berlanjut jika akal dan nalar tetap digunakan. Kegelapan di masa depan akan menjadi abadi jika manusia berhenti  untuk mencari tahu, dan ancaman kepunahan bukan omong kosong. Akan tetapi jika manusia dari generasi-ke generasi terus belajar  dari pengetahuan dan pengalaman masa lalu maka eksistensi Homosapien di masa depan akan tetap terpelihara.

Dalam hal ini pendidikan menjadi sangat penting untuk mendapatkan porsi utama dalam upaya mengembangkan pengetahuan agar tetap mampu beradaptasi terhadap ancaman yang  nyata terjadi di masa depan. Pada jangka pendek ancaman yang nyata adalah perubahan itu sendiri. Kemampuan adaptasi manusia yang akan dapat mewariskan kelestarian jenis spesies manusia adalah kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan itu sendiri. Secara nyata perubahan akibat penemuan manusia dalam hal pengetahuan dan teknologi merupakan tantangan sendiri bagi manusia saat ini. Ancaman akibat Revolusi Industri 4.0 merupakan hal nyata yang menghadang di depan kita.

Kemampuan generasi penerus kita untuk menyesuaikan diri di tengah-tengah perubahan yang masif dan cepat tersebut menjadi kunci dari keberhasilannya menjaga esxistensi dirinya sebagai manusia dalam kancah interaksi global baik dengan manusia, alam dan lingkungan sekitarnya. Kemampuan menggunakan nalar kritis, kreativititas dalam berkarya dan berinovasi, melalui upaya berkomunikasi dan berkolaborasi  adalah kunci untuk tetap eksis dari ancaman ketidastabilan, ketidakpastian, kerumitan, dan kebingungan terhadap kondisi masa depan.

Sampai di sini pembahasan sudah agak berat, maka dari itu perbaiki tempat duduk anda, penulis selanjutnya  akan mengajak pembaca menelusuri fakta-fakta masa lalu dan perkembangan  kehidupan manusia kini dan masa depan.  Pembahasan selanjutnya akan mengantarkan pembaca yang budiman untuk memahami fakta perkembangan kehidupan manusia dari masa pra sejarah, revolusi industri 1.0 sampai kini yang diistilahkan dengan 4.0. Beberapa fakta yang disajikan bersumber dari beberapa sumber terpercaya yang mengetengahkan artikel terkait perkembangan peradaban manusia dari pra sejarah hingga zaman globalisasi teknologi di masa kini dan mendatang.  Pembahasan selanjutnya adalah mengetengahkan perihal tantangan masa depan manusia sebagai makhluk yang memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat tinggi dari pada kemampuan makhluk hidup lainnya.

Sebagai pesan inti dari artikel ini, adalah memberikan gambaran kepada para guru dan orang tua bahwa  tantangan  masa depan harus diikuti. Absennya  kita mengikuti perkembangan  akan berdampak kepada perilaku dan kinerja kita sebagai pendidik maupun orang tua yang gagal memberikan semangat berupa spirit masa depan. Mungkin telah banyak artikel mengulas tentang bagaimana menghadapi tantangan di masa depan. Sebagian besar artikel terjebak ke dalam tips-tips cepat yang bersifat jangka pendek. Hal yang diperlukan oleh generasi masa depan adalah kesadaran bahwa mereka hidup dalam tatanan dunia baru yang tidak dapat diatasi dengan hanya mengandalkan harapan berdasarkan faktor nasib yang seolah-olah diatur sedemikian rupa sehingga berujung pada kepasrahan.

Membaca artikel ini berarti Anda berupaya menemukan hal baru dalam upaya merevolusi pikiran, yang bukan hanya berlandaskan dogma-dogma yang memberi harapan-harapan dan janji. Generasi masa depan harus menyadari bahwa kehidupannya adalah miliknya, dan apapun itu yang terjadi adalah buah dari apa yang telah mereka lakukan. Mereka harus menyadari bahwa manusia itu adalah mahkluk yang sangat kecil dan lemah, yang hanya dibekali kemampuan unggul yaitu kemampuan beradaptasi dengan lingkungan. Karena kemampuan inilah yang telah mengantarkan peradaban manusia yang maju hingga kini. Tetapi jangan lupa, jika dibandingkan dengan konstelasi semesta, sesungguhnya  manusia itu sangat kecil  sebagai penghuni Planet Bumi yang tidak telihat dari ruang angkasa. Planet Bumi yang kita pijak yang kita bayangkan sudah sangat besar, sesungguhnya sangat kecil jika dilihat dari luar konstelasi Tata Surya. Tata Surya kita dimana matahari sebagai pusatnya, merupakan hal yang sangat kecil jika dilihat dari konstelasi galaksi. Galaksi kita diberikan nama Galaksi Bima Sakti, adalah sangat kecil  ketika dibandingkan dengan konstelasi Klaster Virgo. Klaster Virgo yang maha luas merupakan bagian kecil dari semesta alam yang sampai sejauh ini mampu diamati manusia. Sementara di luar sana masih banyak semesta-semesta lain yang belum teramati. Nah coba bayangkan, manusia itu apa? Cukup berperankah di konstelasi semesta?

Bukan cuman dimensi ukuran yang menjadi keterbatasan dari Planet Bumi Kita, dimensi ruang terkait umur Planet Bumi juga merupakan hal yang mengkawatirkan di generasi manusia di masa depan. Bumi yang diperkirakan memiliki umur 3 milliar tahun lagi jika diperkirakan dari umur matahari sebagai pusat kehidupannya. Matahari memiliki bahan bakar untuk dapat terus bersinar. Proses reaksi fusi nuklir yang mengubah atom Hidorgen menjadi atom Helium suatu saat akan berhenti seiring dengan habisnya Hidrogen sebagai bahan bakunya. Kemudian Matahari akan mengalami ketidak stabilan inti dan meledak, menghasilkan raksasa merah yang diameternya bisa melahap Planet Bumi. Selanjutnya akan menyusut menjadi bintang katai putih yang padat dan redup, yang perlahan-lahan kehilangan energinya.

Umur Planet Bumi akan lebih cepat berakhir jika dihitung berdasarkan asumsi perubahan iklim dan kelayakan mahkluk hidup untuk dapat hidup di permukaannya. Hal ini dapat terjadi sewaktu-waktu, tergantung gangguan yang terjadi yang mengusik kestabilan bumi yang ramah terhadap kehidupan mahkluk hidup. Gangguan tersebut dapat terjadi akibat perubahan iklim seperti tubrukan benda angkasa yaitu asteroid, komet dan benda angkasa bentuk lainnya yang lintasanya menyinggung orbit bumi dan gangguang kosmik sebagai akibat dari berubahnya perilaku matahari.  Bencana alam seperti letusan gunung berapi,  aktivitas geotermal bumi, gempa, banjir, dan perubahan iklim yang meluas akibat efek rumah kaca, perang nuklir dan wabah penyakit.

Sejauh ini apa yang anda rasakan? Apakah Anda pasrah dengancaman kehancuran yang akan terjadi di masa depan? Oh kita ini kecil, tiada berharga, kita ini tidak berarti jika dibandingkan dengan Planet Bumi, Matahari, Galaksi, Klaster Galaksi dan Alam Semesta?  Sesungguhnya perasaan itu bagi penulis justru bercampur aduk antara kekaguman dan kekawatiran, karena semakin jauh kita mampu mengamati dan menguak rahasia alam, sesungguhnya alam itu maha luas, dan semakin dalam kita menggali rahasia alam maka kita akan bertemu dengan benda-benda sub atomik seperti molekul, atom, proton, elektron, quark, muon dan higgs bosson, yang tiada lain adalah materi penyusun alam semesta itu sendiri. Demikian pula semakin maju ilmu pengatahuan dan teknologi tersebut, maka semakin banyak yang kita tahu termasuk di dalamnya adalah potensi ancaman bagi kehidupan manusia. Rupanya makna kehidupan manusia tidak jauh dari itu, yaitu sebagai makluk yang diakdirkan untuk mencari tahu, alias belajar. Jika dimaknai lebih dalam lagi, maka eksistensi manusia sesungguhnya terletak pada sejauh mana kemampuannya untuk belajar. Kehidupan itu ada ketika kita mampu belajar, sebaliknya kehidupan itu akan berhenti, ketika manusia berhenti belajar.

Maka tidak salah para ilmuwan terus saja belajar dan mencari tahu rahasia alam. Hal ini dilakukan bukan karena sesuatu yang sia-sia dan konyol, tetapi dalam upaya memprediksi masa depan. Terbukanya tabir kegelapan di masa depan, akan membuka peluang manusia dapat melestarikan jenisnya. Memprediksi masa depan alam semesta dilakukan dengan belajar dari sejarah alam semesta di masa lalu.  Bagaimana caranya mempelajari sejarah masa lalu alam semesta yang nyata-nyata tidak ada catatan tertulis? Alam semesta sendiri jawabannya. Pengamatan terhadap benda-benda jauh seperti galaksi yang jaraknya jutaan tahun, sesungguhnya kita telah mempelajari masa lalu. Cahaya bintang yang jaraknya 100 juta tahun cahaya, adalah cahaya yang berasal dari bintang 100 juta tahun lalu. Jarak miliaran tahun cahaya, merupakan sejarah awal alam semesta dibentuk, dimana sejauh ini para ilmuwan tengah mengamatinya.

Sementara untuk mempelajari dari apa alam semesta itu disusun dengan cara mengamati benda yang kecil-kecil. Seperti dikemukakan di atas, Large  Hadron Collider yang dibangun  di kedalaman 175 meter sepanjang 27 kilometer di perbatasan Swiss dan Prancis, dimana ratusan ilmuwan fisika bergabung melakukan tugasnya. Mereka telah berhasil menguak bahan dasar penyusun alam semerta. Berdasarkan dua sisi metode pengamatan yang dikembangkan suatu saat akhirnya akan ditemukan bagaimana sesungguhnya alam semesta itu disusun, dimana manusia merupakan bagian yang sangat kecil dariNya. Ide ini dikemukakan oleh fisikawan terkenal dan sangat kontroversi yang bernama Steven Hawking. Ide Hawking adalah menyatukan segala teori fisika sehingga menjadi teori tunggal untuk menjelaskan alam semesta yang disebut “Teory of Everything

Sejarah manusia sebagai mahkluk pun tidak terlepas dari pengamatan para ilmuwan. Hal ini untuk melengkapi pengetahuan untuk memahaki dirinya sendiri. Bukti sejarah membuktikan bahwa perkembangan manusia sebagai mahkluk hidup adalah merupakan perkembangan dari mahkluk hidup lain yang berevolusi selama rentang waktu jutaan tahun hingga bentuknya seperti kita sekarang. Perkembangan manusia sebagai mahkluk moderen berawal dari kemampuannya beradaptasi dengan lingkungannya. Mulai dari ditemukannya api, pakain, tempat tinggal, cara berburu, cara bercocok tanam, hingga penemuan moderen dewasa ini yang telah memberi kemudahan bagi kehidupan. Kemampuan inilah yang membawa manusia hingga menemukan teknologi canggih saat ini, sehingga mewarnai peradaban Abad 21.

Pada tahapan ini, pembaca telah diajak memahami bagaimana eksistensi manusia sebagai mahkluk hidup yang memiliki kemampuan beradaptasi yang telah terbukti selama jutaan tahun. Pada detik ini, boleh dikatakan sebagai puncak peradaban manusia yang dengan mengandalkan kelebihannya dalam berakal dan bernalar telah membawa pada kemampuan memanipulasi alam. Kemampuan ini telah membawa manusia mampu menemukan jalannya sendiri untuk tetap dapat hidup dan eksis. Kemampuan manusia untuk selalu belajar telah membawa kemajuan peradaban manusia  Generasi demi generasi terus bergulir, maka pengetahuan menjadi hal wajib untuk diturunkan, ke anak cucu kita, sehingga mereka akan mampu melakukan hal yang lebih baik, dalam rangka melestarikan spesies Homosapiens ini.

Penulis pertegas kembali, bahwa uraian di atas menjadi landasan bahwa, proses belajar harus berkelanjutan. Kesadaran ini bukan hanya miliki pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama. Kita bertanggungjawab atas kelestarian umat manusia. Kita tidak ingin keunggulan manusia dalam belajar sehingga mampu mencatatkan sejarahnya sendiri terputus, akibat kepunahan. Masih ingatkah? Banyak mahkluk hidup telah punah dari muka bumi, seperti halnya harimau sumatra, gajah terbesar yang bernama mamut, hingga kawanan reptil yang dinamakan dinosourus.

Hal ini bukan hal yang muluk-muluk. Mungkin di antara kita akan berpendapat, “Biarlah takdir yang menentukan”. Atau mungkin, “Ah itu kan urusan di masa yang akan datang, kita sudah mati saat itu”. Penulis menilai pendapat itu terlalu picik dan sempit. Seolah-olah kita lepas tangan, dengan kehidupan di masa yang akan datang. Ingatlah kita mempunyai anak, dan berharap besar kehidupan mereka akan lebih baik di masa yang akan datang. Anak kita, cucu kita, cicit kita berikut keturunannya, juga akan berharap yang sama, agar anak-anaknya tetap dapat hidup. Intinya kalau digabungkan, kita semua memiliki pandangan kolektif yang sama, ingin melestarikan jenis kita, sebagai mahkluk yang disebut manusia atau Homosapiens, tetap dapat eksis di alam. Maka dari itu kesadaran universal harus juga kita miliki. Sebuah kesadaran dimana manusia tidak hanya peduli dengan dirinya saat ini, tetapi peduli dengan keturunannya agar masa depan manusia memiliki kehidupan yang lebih baik dari saat ini. Steven Hawking menyatakan perlunya teori tunggal untuk menjelaskan semua fenomena alam semesta untuk melakukan prediksi-prediksi atas masa depan atau yang diistilahkan dengan “Teory of Everything”. Maka untuk mewujudkan hal itu, perlu kesadaran bersama oleh bukan hanya guru dan orang tua, tetapi masyarakat dunia, bahwa segala urusan dunia hendaknya ditempatkan ke dalam satu kesadaran, yaitu kesadaran universal.

Maka dari itu proses pendidikan anak baik kita berprofesi sebagai guru maupun beperan sebagai orang tua tidak hanya dapat memberi gambaran berupa harapan atas janji berdasarkan dogma semata. Paham ini sampai detik ini masih menjadi momok yang justru menghambat perkembangan manusia itu sendiri. Kesibukan manusia dalam memanipulasi pikiran untuk sebuah pengharapan karena janji dogmatis merupakan ancaman bagi eksistiensi manusia itu sendiri. Alasannya adalah karena hal tersebut merupakan ancaman bagi percepatan proses belajar, karena pada dasarnya dogma meletakkan pengharapan pada batas tertentu. Sementara kemampuan manusia memanipulasi pikirannya sesungguhnya tidak terbatas dalam upaya memanipulasi alam, sehingga lingkungan tetap menyediakan tempat hidup yang layak bagi manusia.

Kesadaran anak-anak kita kelak harus diletakkan dalam kerangka bagaimana manusia dengan segala keterbatasannya dapat tetap eksis dan mewarnai perjalanan semesta. Kita merupakan bagian yang sangat kecil, bahkan sekecil-kecilnya dari alam semesta, tetapi dengan kemampuan memanipulasi alam sehingga sesuai dengan kebutuhan hidupnya untuk tetap dapat eksis dan menyaksikan perubahan konstelasi alam tersebut.

Kesadaran anak-anak kita untuk menyadari bahwa kelestarian jenisnya adalah tanggung-jawab bersama. Bukan semata-mata tanggungjawab ilmuwan, akademisi, pemerintah dan guru, tetapi diletakkan sebagai tanggunjawab kolektif, yaitu tanggungjawab manusia sebagai mahkluk hidup. Kesadaran ini akan berimplikasi lusa, sadar atau tidak sadar, mau atau tidak mau, hal ini akan mewarnai kehidupan kita kelak. Arus informasi yang menyebar luas dengan cepat, telah membawa perubahan yang masif, dan pengaruhnya telah terasa, ke sendi-dendi kehidupan. Maka di masa yang akan datang kesadaran universal ini akan menjadi materi pelajaran inti di kelas-kelas sekolah.

Dunia pendidikan di masa yang akan datang akan berkutat dengan kurikulum, yang menempatkan kesadaran universal sebagai filosofi medasar yang harus dipahami. Secara praktik pada dunia pendidikan, hal ini akan menjadi semacam “Universal Thingking”, yaitu sebuah cara berpikir universal sehingga manusia dan segenap generasi keturunannya akan memiliki kesadaran universal. “Universal Thingking for Universal Awareness” (berpikir universal menuju kesadaran universal). Inti dari kesadaran universal itu, adalah suatu cara berpikir yang melandasi tindakan bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta yang berkewajiban melestarikan jenisnya.

Pada bagian inti dan akhir dari pembahasan artikel ini akan disajikan beberapa landasan dan strategi jitu untuk menghadirkan proses belajar dengan semangat berdasarkan perspektif masa depan yang akan diwarnai oleh kesadaran universal. Pembahasan tersebut lengkap dengan argumentasi dan tips, sehingga selain pemahaman tentang eksistensi manusia dengan kelebihan dan kekurannya, juga terkait dengan langkah-langkah menghadirkan proses pendidikan. Lebih mengerucut lagi yaitu perihal pembelajaran yang memberi dorongan agar anak-anak kita memiliki wawasan yang luas dalam rangka ikut terpanggil menyelamatkan ancaman kepunahan umat manusia. Pemikiran ini menjadi sangat penting, bukan karena mereka harus menjadi ahli fisika, ruang angkasa maupun biologi tetapi paling tidak terdapat kesadaran ke arah itu. Kesadaran itu menjadi penting, sehingga memiliki wawasan dan ketertarikan kepada pentingnya memahami tantangan hidup masa depan. Kesadaran itu bukan hanya kesadaran untuk belajar ilmu pengetahuan maupun teknologi, tetapi memiliki  wawasan universal, yang senantiasa memandang bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta yang juga sedang mengalami proses perubahan.   Wawasan universal ini memandang alam semesta akan berpengaruh pada hidup kita sebagai manusia, sehingga memerlukan pola pikir universal yang sejak dini harus ditanamkan pada siswa.