Manusia memang ditakdirkan untuk berpikir. Mulai dari bangun pagi, begitu sadar kita akan selalu berpikir. Begitu bangun pagi kita sudah melakukan aktivitas, minimal itu merapikan tempat tidur kita. Hal itu tidak mungkin dapat dilakukan jika tidak disertai kegiatan berpikir. Karena otak kita adalah pusat kendali seluruh tindakan yang kita lakukan, maka berpikir menjadi keniscayaan. Setiap saat tindakan-tindakan yang kita lakukan telah melibatkan pikiran kita. Disadari ataupun tidak ribuan pengambilan keputusan mungkin telah diambil ketika mulai bangun, merapikan tempat tidur, berjalan ke kamar mandi, sarapan, hingga beriap untuk berangkat bekerja.

Setiap keputusan yang kita ambil, akan mempengaruhi pengambilan keputusan berikutnya. Stimulus panca indra telah merangsang sarap kendali baik yang berhubungan dengan otak pemikir maupun perasa turut berkolaborasi dalam menghasilkan keputusan yang berbuah tindakan. Maka dari itu mutu atau kualitas tindakan yang diambil tergantung dari bagaimana respon otak yang terdiri dari otak perasa dan pemikir berkolaborasi dengan mengakses ingatan kita yang telah tertanam di otak. Peranan memori ingatan kita yang menyimpaan jutaan data teentang pengalaman hidup, ikut menentukan pola pengambilan keputusan yang tercermin pada tindakan.

Keputusan yang diambil anak dan orang tua melalui rangsangan stimulus panca indra yang dikolaborasikan otak pemikir dan perasa dengan bantuan data yang tersimpan akan sangat berbeda. Pengalaman hidup yang menyusun struktur konsep yang terpolakan ketika otak perasa dan pemikir berkolaborasi menghasilkan keputusan yang mencerminkan karakteristik seseorang. Sehingga melihat dari hal itu, sudah sangat jelas, keputusan yang akan diambil oleh orang tua dan anak-anak akan sangat berbeda. Pengalaman hidup orang dewasa yang banyak, pengambilan keputusan akan mempertimbangkan banyak hal, yang mencerminkan hal berbeda dengan pengambilan keputusan yang diambil anak-anak.

Melihat dari pembahasan di atas, maka karakter anak-anak yang cenderung berani, sembrono, lepas kontrol menjadi hal positif ketika dikondisikan optimal ketika proses belajar. Sedikitnya kegiatan menimbang-nimbang yang dilakukan anak ketika berpikir dapat dipahami, karena perolehan  pengalaman terus berproses. Pertimbangan yang matang adalah salah satu tanda orang berpikir kritis, yang melibatkan kolaborasi yang seimbang antara otak perasa dan pemikir. Hal ini akan terjadi ketika stimulus panca indra bersinergi dengan pengalaman yang dimiliki diolah sedemikan oleh otak perasa dan otak pemikir sehingga menghasilkan keputusan.

Perkembangan perolehan pengalaman pada anak merupakan saat yang tepat untuk memberi rangsangan dengan menghadirkan tantangan-tantangan yang mendidik. Hal ini akan mempercepat proses adaptasi otak pemikir dan perasa untuk mencari dan mengolah informasi sehingga mepercepat proses pematangan pengambilan keputusan, yang ditandai dengan banyak melibatkan informasi tersebut sebagai bahan pertimbangan. Pada saat inilah kadang terjadi hal yang sering disebut dengan disequlibrium yaitu ketidak seimbangan informasi yang ada/diperloleh berupa fakta stimulus yang diberikan.  Pada saat ini terjadi proses konflik kognitif yang terkadang bertentangan, antara pengalaman sebelumnya dengan rangsangan pengalaman baru yang diberikan. Seperti contoh, seorang anak pada saat mengawali masuk sekolah, karena diberitahu Ibunya, bahwa di sekolah itu gurunya baik, teman-temannya baik, dan hal lainnya yang bersifat memotivasi anak. Akan tetapi ternyata fakta pengalaman yang diberikan oleh Ibunya, tidak sesuai dengan apa yang terjadi di sekolah, dimana, kadang-kadang dicuekin gurunya, diganggu temannya, sehingga terjadi pertentangan pada batin si anak.

Keadaan ini, kalau tidak segera ditangani secara tepat, dan cepat, akan membawa dampak ketidak seimbangan mental si anak berlarut-larut,dan akan bertambah parah jika tidak diberikan stimulus baru yang bertujuan untuk menyeimbangkan. Seperti guru berusaha memperhatikan semua anak ketika proses belajar, mendekati dan membimbing si anak tersebut, sehingga gambarannya terhadap teman dan gurunya, tidak sepenuhnya benar seperti yang dikatakan ibunya.  Siswa dikembalikan kepercayaan dirinya, dengan memberikan motivasi, bahwa tidak semua teman-temannya di kelas adalah pengganggu, dan ketika guru tidak memperhatikannya, mungkin karena guru sedang sibuk.

Kepercayaan diri siswa yang kembali membaik akan menjadi momen yang sangat baik untuk menghadirkan tantangan berikutnya kepada si anak. Tantangan belajar yang dilaksanakan melalui kegiatan permainan sederhana seperti tebak-tebakan, menjawab teka-teki, dan tantangan sederhana yang menantang anak untuk berpikir. Tantangan yang bertujuan meningkatkan keterampilan berpikir anak dapat secara berkelanjutan dilatihkan kepada si anak, untuk memberi rangsangan agar ketidak tahuannya terhadap sesuatu berubah menjadi keinginan untuk mencari tahu, dalam rangka menjawab tantangan yang diberikan guru.

Jadi guru dalam hal ini harus bertindak adil, karena dengan mengabaikan pengalaman awal yang akan menjadi bahan dalam pengambilan keputusan berikutnya, maka anak akan kebingungan dan sering sekali berada pada suasana disequlibrium (ketidakseimbangan pikiran) dalam jangka waktu yang lama. Akan tetapi akan berdampak sangat baik ketika, respon guru sesegera mungkin menggiring siswa sehingga mampu menemukan keputusan yang tepat dalam upaya menjawab tantangan itu.

Keadaan ini boleh jadi menjadikan suasana sangat kritis bagi dua pihak baik guru maupun siswa.  dimana siswa yang diberikan tantangan sampai menyentuh tahapan kritis, akan sangat berbahaya jika tidak segera mendapat jawaban sendiri atas masalah yang diberikan. Sehingga hal ini akan berdampak panjang, dimana siswa tidak mampu keluar dari zona disequilibrium tersebut. Sebaliknya akan berdampak sangat positif jika siswa mampu digiring sehingga dapat menemukan jalan keluar dari masalah itu. Guru saat itu sesungguhnya  telah berada dan bermain-main di area kritis. Saat itu guru sesungguhnya sedang bertaruh. Kegagalan guru dalam hal meningkatkan keterampilan berpikir siswa  berpeluang sangat besar ketika gagal membimbing siswa untuk menemukan jawaban atas masalah yang diberikan. Hal ini juga berpotensi memiliki dampak buruk bagi siswa dalam jangkan panjang.

Kemungkinan dampak buruk dapat dialami  ketika melatih siswa untuk memiliki keterampilan berpikir, karena guru telah bermain-main di area kritis. Sehingga diperlukan perencanaan pembelajaran yang matang, siswa harus fokus dan peka kepada setiap gejala bahasa tubuh yang ditunjukkan siswa. Sesegera mungkin guru memberi bantuan, berupa bimbingan dan fasilitasi ketika perubahan gejala bahasa tubuh siswa nampak  ekstrim. Respon guru yang lambat dan cuek terhadap kondisi ini, akan berdampak fatalnya dalam upaya meningkatkan keterampilan berpikir siswa. Alih alih dapat menignkatkan keterampilan berpikir, justru yang terjadi adalah kegagalan berpkir yang dialami siswa, sehingga menjadi penyebab, jatuhnya rasa kepercayaan dirinya. Hal ini akan menjadi batu sandungan, bagi guru untuk melanjutkan kegiatan pembelajaran.

Penekanan yang patut diberikan dalam hal ini, adalah harapan untuk dapat meningkatkan keterampilan berpikir siswa, adalah hal yang mutlak diberikan meningkatkan kompetensi siswa agar mampu memecahkan masalah atas tantangan yang diberikan. Di saat yang bersamaan guru harus matang dalam hal perencanaan, memiliki rencana alternatif jika terjadi kejadian ekstrim seperti siswa yang menunjukkan perubahan bahasa tubuh yang ekstrim. Kehati-hatian ini sangat diperlukan, karena guru mencoba bermain di area kritis. Stimulus berupa tantangan yang diberikan akan berdampak maksimal dalam rangka meningkatkan keterampilan berpikir siswa jika formulanya tepat, atau sebaliknya berdampak buruk jika terjadi kelalaian dalam hal perencanaan dan proses pembimbingan sempat dilakukan.

loading...

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *