Visi Pendidikan

Ada tajuk menarik yang terpampang pada sebuah banner pada suatu Group Whatsaap, terkait transformasi digital. Hemmm…Kalangan milenial mungkin tidak asing lagi dengan kata transform, karena kata itu merujuk pada sebuah judul filem Box Office Transformer. Transformer adalah sekuel filem yang mengisahkan seorang tokoh protagonisnya yang bernama Optimus Prime, Bumbelbee dan kawan-kawannya, melawan karakter jahat seperti Megatron, Decepticon dan kawan-kawannya. Kisah epic para autobot itu, sebagian besar menyajikan adegan bagaimana kawanan mobil kemudian berubah (transform) menjadi robot-robot canggih dengan persenjataan lengkap dan berperilaku humanoid.

Dalam dunia elektronika baik arus lemah maupun arus kuat, terdapat istilah transformator, yang kata dasarnya adalah transform. Fungsi alat ini adalah untuk mengubah arus listrik dengan output seperti yang kita inginkan. Jika kita menginginkan arus listrik bertegangan tinggi berubah menjadi bertengan rendah, maka alatnya disebut transformator stepdown, kemudian sebaliknya disebut step up. Alat ini lebih familliar diistilahkan dengan kata trafo.

Kemudian dalam bidang matematika kata transform juga menjadi kata dasar dari transformasi. Transformasi geometri merupakan perubahan suatu bidang geometri yang meliputi posisi, besar dan bentuknya sendiri. Jika hasil transformasi kongruen (sebangun) dengan bangunan yang ditranformasikan, maka disebut transformasi isometri. Transformasi isometri sendiri memiliki dua jenisya itu transformasi isometri langsung dan transformasi isometri berhadapan. Transformasi isometri langsung termasuk translasi dan rotasi, sedangkan transformasi isometri berhadapan termasuk refleksi. Makna pokok dari tranformasi adalah perubahan, seperti pada dua hal yang penulis maksud di atas. Sementara secara spesifik makna transformasi adalah perubahan yang menghasilkan suatu bentuk yang kongruen maupun tidak kongruen tergantung dari hasil perubahannya.

Kata transformasi juga digunakan dalam bidang lainnya seperti fisika (transfromasi galileo dan tranformasi lorentz), kimia, biologi dan bahkan saat ini disematkan pada istilah pendidikan. Tranfromasi pendidikan menurut pandangan penulis tidak dapat hanya dipandang sebagai perubahan terkait interaksi pembelajaran dimana guru yang dulunya hanya bersifat men “transfer” yang saat ini diharapkan mampu men “transform”. Atau sederhanya istilah pengajaran selanjutnya menjadi pembelajaran, yang sesungguhnya tidak hanya permainan kata-kata, tetapi memiliki dampak terhadap makna dan konsep belajar itu sendiri. Kesadaran para pendidik yang dulunya semangat mengajarnya lebih dominan, ke frase pembelajaran dimana guru lebih memberdayakan siswa dalam proses interaksi pembelajaran.

Transformasi pendidikan menurut pandangan penulis lebih ke arah bagaimana pendidikan diubah sehingga mampu menyesuaikan dengan keadaan perkembangan kekinian. Perubahan yang terjadi yang hampir menyentuh semua hal dalam kehidupan sebagai akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat harus diikuti oleh perubahan dalam bidang pendidikan itu sendiri. Perubahan yang dimaksud sudah barang tentu perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Yang menjadi masalah selanjutnya adalah strategi apakah yang akan menjadikan perubahan itu ke arah yang lebih baik.

Beberapa strategi dalam mentransformasi pendidikan di sekolah dasar sehingga tujuan penyelenggaraan pendidikan dapat tercapai. Seperti dikemukaan dalam peta jalan pendidikan Indonesia bahwa tujuan penyelenggaraan pendidikan bermuara pada Membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, terus berkembang, sejahtera, dan berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila. Strategi integratif yang dapat dilakukan seperti dijabarkan dalam peta jalan pendidikan Indonesia itu dalat dirangkum menjadi tiga hal penting yaitu:

  1. Optimalisasi proses pembelajaran pada tingkat kelas, dimana guru menempatkan diri sebagai fasilitator dalam hal pengembangan karakter dan keterampilan abad 21, untuk membangun wawasan sehingga terampil mengambil keputusan, melalui kegiatan berpikir tingkat tinggi dengan budaya leterasi yang tinggi yang berbasis teknologi.
  2. Optimalisasi pengembangan kemampuan pendidik di bawah kepemimpinan pembelajaran yang diselenggarakan oleh kepala sekolah yang berorientasi pada pembelajaran berbasis memberdayakan konteks, memilih tantangan, membangun keberlanjutan, memahami konsep, memanusiakan hubungan, yang dikemas dengan model pembelajaran berbasis masalah dan projek, sehingga menghasilkan produk belajar yang bermanfaat baik sebagai hasil belajar maupun produk yang bermanfaat bagi kehidupan.
  3. Optimalisasi peran birokrasi yang mengedepankan kapasitasnya sebagai fasilitator sehingga memberi ruang tumbuhnya budaya inovatif oleh institusi dan praktisi pendidikan di bawah naungannya. Hal ini dapat dilakukan dengan mendukung aspek pembiayaan dan dukungan insentif dan penghargaan baik materi dan jenjang karir yang akan memotivasi sehingga lokomotif pendidikan bergerak dan senantiasa bertransformasi ke arah perubahan.

Sesuai dengan judul di atas, dimana transformasi digital menjadi bagian yang paling serius mewarnai setiap tahapan peta jalan tersebut merupakan upaya menjawab tantangan masa depan yang pergerakannya telah dapat diprediksi yaitu upaya mengikuti tren masa depan yang senantiasa berubah. Seperti dijelaskan pada peta jalan tersebut, bahwa perkembangan teknologi telah sedang dan akan terjadi. Perkembangan teknologi tersebut sangat nyata, telah terjadi, sedang berlangsung dan akan terjadi. Contoh yang paling nyata adalah :

  1. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat cepat, mulai dengan perubahan media pembawa pesan yang berupa gelombang elektromagnetik berbasis teknologi 1G, 2G, 3G, 4G dan yang akan segera hadir yaitu 5G, yang akan berimplikasi sangat signifikan terhadap kehidupan dan bahkan peradaban manusia. Kehadiran kecepatan data internet yang saat ini pada level 4G dengan kecepatan rata-rata 1 Mbps yang menurut kita sangat cepat menyajikan informasi-informasi. Selanjutnya akan segera berubah menjadi jaringan 5G yang kecepatannya kurang lebih 1000 Mbps, yang akan berdampak pada kecepatan penyampaian informasi yang semakin cepat, stabil dan merata. Implikasinya adalah hadirnya teknologi turunan yang akan sangat mencengangkan, seperti gadget layar sentuh akan bertransformasi menjadi Argumented Reality, Virtual Reality dan Robot Humanoid. Produk turunan itu akan berdampak kepada perubahan masif pada revolusi ketersediaan lapangan kerja yang berubah.
  2. Perubahan komputer berbasis dual byte ke arah triplle byte (komputer kuantum) yang akan membawa dampak lebih besar lagi, dimana kecepatan kerja komputer dan gadget masa depan akan ribuan kali lebih cepat dari sekarang. Implikasinya adalah cybercity, cyeber house, perjalanan transportasi ruang angkasa, teknologi mobilisasi penduduk bumi ke Mars dan lain-lainnya
  3. Perubahan teknologi penyimpanan batray listrik dengan kapasistas besar yang sedang dikembangkan oleh raksasa otomattif Tesla akan berdampak pada sarana transportasi yang tidak lagi menggunakan bahan fosil, tetapi beralih ke listrik, seperti motor listrik, mobil listrik, kereta api listrik hingga pesawat listrik.
  4. Produk keuangan yang saat ini mengandalkan bank konvensional akan berubah menjadi produk keuangan digital berbasis desentralisasi (teknologi blokchain) dimana autoritas bank tidak lagi menjadi dominan, sehingga menciptakan peradaban baru dalam bidang ekonomi.
  5. Penemuan dalam bidang bioteknologi yang juga tidak kalah cepat, sehingga tanaman dapat berproduksi lebih cepat yang akan mampu menyediakan bahan pangan bagi manusia yang melimpah melalui pengelolaan pertanian yang otomatis menggunakan robot-robot.

Akankah kita abai dengan perkembangan itu? Apa jadinya jika kita tetap saja berkutat dengan sistem pendidikan konvensional, stagnan dan antipati dengan perubahan. Apalagi jika masih resisten dengan hanya mempermasalahkan frase tertentu dalam peta jalan pendidikan Indonesia ke depan tersebut, yang digembar-gemborkan sebagai isu yang justru menjadi penghambat upaya pemerintah yang sudah sangat visioner. Pemikiran-pemikiran dangkal tersebut justru akan menjadi kontradiktif jika kita ingin memikirkan masa depan yang akan berubah dengan cepat sementara kita masih saja mempermasalahkan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Melihat fakta di atas, tidak ada kata lain bagi kita untuk mau tidak mau untuk berubah. Kalau kita masih antipati dengan perubahan itu, maka siap-siap saja kita tergilas zaman. Hanya menjadi penonton dari perubahan tersebut, hanya menjadi buruh kasar di negeri sendiri, hanya memelihara pikiran konservatif di tengah-tengah pemikiran kalangan milenial yang sudah tidak peduli dengan hal itu.

Sebagai praktisi pendidikan juga kita mau tidak mau harus mengikuti perubahan tersebut. Strategi pengelolaan sekolah tidak lagi dapat hanya sekedar biasa-biasa saja. Revolusi pemikiran yang diimplementasikan melalui revolusi tindakan harus terjadi. Melihat beberapa point penting dari peta jalan pendidikan Indonesia itu maka implementasi riil pada pengembangan sekolah yang harus sejalan dan visioner. Implementasi pada program sekolah yang dapat menjadi alternatif pemikiran yang akan menjadi warna program sekolah untuk dapat mengikuti tren kebutuhan masa depan adalah sebagai berikut:

  1. Guru mampu merencanakan pembelajaran berdasarkan kurikulum yang dirancangnnya sendiri karena hal ini merupakan prinsip utama dari merdeka belajar sehingga guru secara lebih leluasa dapat menyesuaikan konten kurikulum berdasarkan azas kebutuhan dan potensi peserta didik
  2. Mengintegrasikan pendidikan teknologi digital pada pembelajaran baik dari sisi media, alat, sumber, metode dan konten pembelajarna itu sendiri. Seperti penerapan pembelajaran digital berbasis cloud computing misalnya membelajarkan platform pembelajaran berbasis Google Suite yang produknya adalah Google Class Room, Google Form, Google Site, Google Mail, Google Slide, Google Spreadsheet, Google Doc, Google Meet dan vendor lain seperti Microsoft 360 dan lain-lainnuya.
  3. Mengembangkan pendidikan ekstrakurikuler digital seperti implementasi konsep dasar coding dengan aplikasi yang ramah anak. Sehingga sejak dini anak yang kebetulan memiliki minat dan bakat ke arah itu memiliki dasar sehingga dapat dikembangkan lebih optimal di masa yang akan datang.
  4. Menyelenggarakan atmosfir pembelajaran berbasis digital yang tentu memerlukan investasi biaya yang banyak, tetapi tetap dapat dirintis sehingga upaya mewujudkan sekolah digital di masa yang akan datang telah menjadi framework yang jelas bagi arah pengembangan sekolah
  5. Mengembangkan keperibadian dan karakter digital yang selama ini masih jarang terpikirkan. Hal ini disebabkan karena ranah komunitas digital sangat berbeda dimensinya dengan ranah komunitas sosial nyata yang harus diseleraskan sehingga dampak-dampak sosial ayng berpotensi menjadi gangguan dapat ditanggulangi.
  6. Pengembangan atmosfir budaya digital di sekolah yanbg akan mewarnai aspek pembelajaran, literasi dan interaksi sekolah yang akan mendukung suasana transformasi dari yang nin digital ke digital
  7. Wawasan dan skill guru terkait dengan hal ini harus menjadi bagian dari strategi pengembangan diri guru, yang tidak lagi bercermin dari cara pandang pada dimensi tatap muka saja, tetapi bertransformasi menjadi guru digital yang paripurna sehingga melengkapi budaya sekolah digital itu sendiri.

Pemikiran ini dibuat dalam rangka bagaimana menterjemahkan visi pemerintah, sehingga transformasi digital yang menjadi bagian dari peta jalan pendidikan Indonesia dapat diimplementasikan baik dalam tataran kebijakan hingga tataran implementasi di sekolah. Sudah barang tentu upaya ini membutuhkan energi, biaya dan proses yang tidak sederhana. Hal utama yang diperlukan dalam hal ini adalah kesadaran kolektif. Apabila mind set kita yang belum pada tataran itu, maka sangat sulit memahami kondisi ini. Pemahaman yang tidak komprehensip justru akan berbuah kegagalan, karena pelaksanaannya bukan atas dasar dorongan dan motivasi dari hati, tetapi karena hanya atas dasar keinginan melaksanakan tugas semata. Motivasi yang hanya berorientasi pada pelaksanaan tugas saja, akan mengecilkan sebuah inovasi, akan tetapi pelaksanaan tugas karena selaras dengan pemikiran dan idialisme akan membawa dampak perubahan yang sifatnya fleksibel dan mengarah ke arah inovasi-inovasi besar dalam bidang pendidikan di kemudian hari. Salam.