Ada hal yang berubah dari kebijakan pemerintah terkait ujian pda tahun 2021, yaitu Ujian Nasional berubah menjadi Assesemen Nasional. Apa itu Assesemen Nasional (AN)? Apa itu Assesemen Kompetensi Minimum ( AKM). Apanya yang berbeda? Apa sekedar perbedaan kata-kata saja? Berikut penjelasannya.

Ujian Nasional yang sudah biasa diperuntukkan bagi siswa selama ini bertujuan untuk mengukur hasil belajarnya. Memiliki nilai hasil ujian nasional, menjadi dasar bagi siswa untuk lulus atau tidak lulus suatu jenjang pendidikan. Demikian pula dengan memiliki nilai ujian nasional, pada akhir jenjang pendidikan, akan menjadi dasar bagi siswa diterima atau tidak sekolah pada jenjang sekolah berikutnya. Misalnya jika nilai ujian nasional siswa bagus maka akan mudah mencari sekolah pavorit yang diidam-idamkannya.

Ternyata penerapan Ujian Nasional terdapat beberapa kelemahan, dan hal ini telah menjadi masalah bagi penyelenggaraan pendidikan selama ini. Masalahnya apa?

  1. Siswa berlomba-lomba untuk memperolah nilai hasil Ujian Nasional yang tinggi sehingga berlomba-lomba pula untuk belajar cara menjawab soal yang efektif. Nah.. disini kelirunya. Pada akhirnya kemampuan siswa hanya terletak pada seberapa mampu mereka menjawab soal, bukan terletak seberapa mampu mereka melakukan sesuatu karena telah belajar sesuatu.
  2. Guru berlomba-lomba membuat siswanya mampu menjawab soal. Sudah barang tentu hal ini keliru lagi, padahal tugas guru adalah medidik dan melatih siswa sehingga mereka mampu memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu berdasarkan apa yang dipelajarinya. Sehingga tidak heran guru memperbolehkan siswa untuk mengikuti les di luar kegiatan belajar di sekolah untuk meningkatkan kemampuan siswa menjawab soal.
  3. Orang tua rela membiayai les anaknya dengan besaran uang lebih dari yang merreka keluarkan untuk biaya sekolah anaknya. Padahal hanya bermodalkan kemampuan menjawab soal, dan memperoleh nilai tinggi, belum memberi jaminan anak itu berhasil untuk hidup dikemudian hari
  4. Sekolahpun akan mengambil jalan pintas, karena kinerja sekolah akan dianggap baik jika siswa-siswanya memperoleh nilai tinggi, yang berdampak pada proses pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru yang bertujuan agar siswanya memperoleh nilai tinggi, dengan mengabaikan apakah nilai itu mencerminkan kemampuan si siswa atau tidak. Hal ini lebih parah lagi, karena siswa lulusan suatu jenjang pendidikan akan bangga hanya dengan bermodal nilai tinggi, sementara kemampuan yang dimilikinya setelah mengikuti proses belajar tidak berhubungan dengan nilai yang mereka peroleh.
  5. Pejabat dinas pendidikan hingga bupati, akan bangga dan memiliki prestasi karena siswa-siswa di wilayahnya memiliki nilai tinggi, yang belum tentu berhubungan dengan kompetensi atau kemampuan yang dimiliki siswa tersebut setelah menjalani proses pendidikan di sekolah. Hal ini lebih kebelinger lagi, karena sudah masuk ke ranah politis yang bersifat masif. Bayangkan apa jadinya generasi Indonesia 25 tahun ke depan, jika praktik-praktik ini terus dilaksanakan.

Melihat kenyataan itu, maka model ujian selanjutnya diubah, menjadi Assesemen Nasional. Assesemen Nasional lebih bersifat mengukur kemampuan siswa, yang tercermin dari skor yang mereka peroleh. Siswa tetap memperoleh skor, tetapi skor tersebut adalah hasil dari proses belajar sehingga siswa memperoleh kemampuan tertentu, sesuai jenjangnya. Pelaksanaan Assesemen Nasional bukan mengukur semua siswa, tetapi bersifat sampling, dimana hanya siswa tertentu saja yang diukur, pada tingkat kelas IV pada jenjang pendidikan sekolah dasar, tingkat kelas VIII pada jenjang pendidikan sekolah menengah pertama, dan tingkat kelas XI, pada jenjang pendidikan menengah atas. Tujuan Assesemen Nasional adalah untuk mengukur seberapa baik suatu proses pembelajaran telah mampu diselenggarakan sekolah. Karena baik tidaknya pembelajaran tergantung dari seberapa besar kemampuan yang telah siswa miliki yang diakibatkan karena mereka telah belajar.

Dampak dari penyelenggaraan Asseemen Nasional selanjutnya diharapkan adalah:

  1. Siswa tidak lagi berlomba-lomba memperoleh nilai tinggi, tetapi mereka akan berlomba untuk mampu belajar labih baik dengan tujuan memperolah pengetahuan dan keterampilan.
  2. Guru dan sekolah tidak lagi berlomba agar siswanya memperloleh nilai tinggi, tetapi berlomba menciptakan cara mengajar yang baik, sehingga siswanya mengerti dan paham terhadap apa yang telah mereka pelajari, yang selanjutnya diimplementasikan pada kehidupan nyata yang mencerminkan kemampuan siswa bahwa mereka telah belajar sesuatu untuk dapat melakukan sesuatu.
  3. Selanjutnya akan berdampak pada proses penyelenggaraan pendidikan yang diselenggarakan dinas pendidikan dan pemerintah daerah. Suatu daerah akan bangga jika generasi muda mereka memiliki kemampuan belajar yang tinggi untuk tahu dan mampu melakukan sesuatu untuk kepentiangan membangun daerahnya.

Kemampuan minimal yang hendak dikuasai siswa yang tercermin dari skor yang mereka peroleh setelah mengikuti Assesemen Nasional adalah kemampuan literasi dan numerasi. Inilah yang selanjutnya disebut sebagai Assesemen Kompetensi Minimal (AKM), dimana dengan memilki dua kemampuan tersebut, siswa  dapat malanjutkan ke tingkat atau jenjang berikutnya. Literasi adalah kemampuan mencari informasi baik fiksi maupun ilmiah (fakta). Kemampuan tersebut bersifat memenuhi rasa ingin tahu siswa sehingga mereka melakukan aktivitas membaca dan mencari informasi. Informasi yang diperoleh selanjutnya menjadi bahan memperkaya wawasan siswa dalam rangka pengambilan keputusan-keputusan yang akan mereka lakukan hampir setiap hari dalam hidupnya. Sementara kompetensi numerasi adalah kemampuan berlogika berdasarkan angka-angka yang hampir setiap saat mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan menghitung uang belanjaan, kemampuan menghitung jarak, berat, volume, kecepatan, sampai kemampuan membuat analisa-analisa berdasarkan data. Harapannya adalah ketika siswa memiliki kemampuan ini, mereka kelak akan memiliki kemampuan mengambil keputusan berdasarkan analisis data, yang sebagian besar diperoleh berdasarkan angka.

Nah…seperti itulah perbedaan antara Ujian Nasional dan Assesemen Nasional. Memang sama sama mengusung kata “ujian” tetapi proses pelaksanaanya menggunakan cara yang berbeda, sehingga diharapkan mendapatkan dampak lebih baik bagi peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.

loading...

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *