Transformasi peradaban dari zaman ke zaman memerlukan transfer konten pengetahuan dan teknologi yang mendukung antar lapisan waktu dalam struktur budaya. Budaya sebagai unsur dari peradaban diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. Semakin kompleksnya sistem kehidupan membutuhkan proses transformasi peradaban. Transformasi peradaban yang terencana memerlukan pengelolaan yang sistematis. Sistematika pengelolaan transformasi peradaban manusia dari zaman ke zaman salah satunya melalui  sistem pendidikan.

Sistem pendidikan pada mula merupakan upaya untuk mengajarkan suatu pengetahuan yang dimiliki generasi tua ke kalangan generasi mudanya. Maka pengetahuan dan keterampilan yang telah ada tidak punah dan dapat digunakan dalam rangka mempertahankan kehidupan yang penuh dengan persaingan. Pengajaran pada kondisi awal muncul sebagai akibat dari dinamika perubahan budaya mulai dari yang primitif hingga moderen di masa kini. Perkembangan pendidikan awalnya melibatkan seorang pengajar dari generasi tua untuk mengajari anak dari kalangan muda. Pengajaran ini meliputi konten keterampilan dan sedikit pengetahuan sehingga kalangan muda sebagai generasi penerus dapat meneruskan tradisi pendahulunya untuk mampu bertahan hidup di kehidupan nyata.

Sistem pengajaran terus berkembang seiring dengan semakin kompleksnya sistem kehidupan. Pengajaran cara berburu, membuat alat berburu, meramu, membuat api, membuat pakaian dari kulit binatang, membuat makanan dan cara-cara kehidupan manusia primitif terus berkembang menjadi kebutuhan dunia peradaban yang moderen di masa kini. Pada zaman dulu, boleh jadi seseorang diharapkan memiliki kemampuan dan keterampilan dalam segala hal dalam upaya mempertahankan kehidupan. Hal itu sangat berbeda dengan masa kini, yang setiap orang tidak diharuskan untuk memiliki kemampuan dan keterampilan yang sama dengan yang lainya. Bahkan saat ini kemampuan atau skil berbeda sangat diharapkan dimiliki, sehingga dapat berkolaborasi untuk bekerjasama dalam menyelesaikan pekerjaan tertentu secara lebih cepat dan efisien.

Pengelolaan pengajaran yang semakin kompleks tidak dapat dilaksanakan  secara perorangan dengan sukarela seperti halnya pengajaran pada masa-masa lalu. Saat itu seorang guru, bahkan tidak memerlukan bayaran apa-apa. Tempat bersekolah seperti halnya sekolah-sekolah moderen seperti sekarang tidak merupakan sebuah keharusan diadakan ketika proses belajar itu dilaksanakan. Hal itu sangat jauh dengan kondisinya saat ini, dimana kebutuhan terhadap skil sangat banyak seiring dengan kompleksnya sistem kehidupan. Sarana pendukungnya juga baik perangkat keras dan lunaknyan harus tersedia untuk mangoptimalkan proses pengajaran yang kebelakang hari diintepretasikan ke istilah sistem pendidikan.

Dunia pengajaran dan persekolahan saat ini dikelola secara baik dengan sistem pendidikan yang juga sangat kompleks dengan dimensi yang sangat luas. Pengajaran telah bertransformasi menjadi pembelajaran, pengelolaan pendidikan telah bertransformasi menjadi sistem pendidikan yang memerlukan sekolah dan ruang-ruang kelas sebagai tempat bertemunya peserta didik dengan guru sebagai pengajarnya. Perspektif entitas guru telah berubah dari pengajar yang hanya berkewajiban mengajarkan skil menjadi sosok guru yang juga bertanggungjawab dalam pembentukan karakter peserta didik.

Pengelolaan pengajaran yang dulunya dilakukan secara sukarela, seiring kemajuan zaman selanjutnya dilembagakan menjadi pengelolaan pendidikan yang sistematis, dimana keterlibatan negara untuk hadir dalam dunia pendidikan mejadi sesuatu yang wajib. Mulailah zaman pendidikan tersebut dilaksanakan secara terpusat mengikuti strukstur pemerintahan suatu wilayah. Seiring perkembangan dilakukannya penelitian sosial terkait pendidikan persepektif tentang pendidikan, dan pengelolaannya telah bertransformasi. Dimana saat ini pengelolaan pendidikan dikembalikan ke falsafah asli pendidikan seiring bergulirnya filosofi humanisme merambah dunia pendidikan ditambah lagi dengan otonomi masing-masing daerah. Maka lahirlah manajemen pengelolaan pendidikan yang berbasis sekolah atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), dengan mengedepankan prinsip kemerdekaan dalam belajar.

Pengelolaan pendidikan berlandaskan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) tidak akan berjalan optimal jika hanya mementingkan bagaimana konten kurikulum itu dibelajarkan pada siswa oleh guru dibiarkan berjalan sendiri tanpa pengawasan. Konsep kepengawasan dalam ranah pendidikan juga turut mengalami trnasformasi. Hal ini mengikuti falsafah pendidikan masa kini yang berupaya mengembalikan hakekat pendidikan ke hal yang paling mendasar dimana pihak-pihak yang terlibat di dalamnya adalah manusia dengan segala karakteristiknya. Upaya mewujudkan pendidikan yang memanusiakan manusia adalah konsep penting dalam ajaran Ki Hajar Dewantara dalam perpektif pendekatan pendidikan humanistik menjadi warna sistem pengendalian dan pengawasan  penyelenggaraan pendidikan berbasis supervisi saat ini.

Pendekatan supervisi telah dikaji lebih bermanfaat dalam upaya pengembangan karakteristik guru, yang lebih menghargainya sebagai manusia dari pada hanya sebagai pekerja. Strategi ini telah dinyatakan sangat efektif dalam mengoptimalkan proses pendidikan sehingga peserta didik sebagai subjek pokok dalam penyelenggaraan pendidikan menjadi berhasil diberdayakan. Keluaran dalam bentuk outcome pendidikan telah dirasakan turut mempercepat transformasi pendidikan sehingga sangat menunjang kemajuan sebuah budaya, teknologi dan peradaban itu sendiri.

Pengelolaan pendidikan berbasis sekolah sebagai tempat penyelenggaraanya akan berjalan efektif jika dikendalikan dan di awasi dengan pendekatan supervisi seperti diuraikan di atas. Peran pengawasan melalui pendekaan supervisi telah dikaji dan diteliti sangat efektif dalam pengelolaan sekolah dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Kepala sekolah sebagai pelaku pengelolaan pendidikan terdepan saat ini diharapkan melakukan kegiatan supervisi sebagai bagian dari upaya mengelola sekolahnya secara baik.

Pemahaman kepala sekolah dalam menyelenggarakan supervisi kependidikan dalam kerangka MBS lebih efektif dimana mulai dari perencanaan, pelaksanaa, evaluasi dan refleksi dapat dilakukan secara mandiri dengan berbekal pengetahuan tentang hakekat supervisi yang disesuaikan dengan permasalahan yang terjadi dilapangan. Upaya mengidentifikasi permasalahan itu menjadi sesuatu yang sangat penting dan strategis dalam rangka mengefisienkan proses pengawasan melalui pendekatan supervisi dengan harapan kemampuan guru dalam menyelenggarakan pembelajaran dalam konteks kelas lebih efektif. Hal ini menjadi sesuatu yang sangat penting sehingga optimalisasi proses pengawasan dengan pendekatan supervisi menjadi strategi yang relevan dalam upaya meningkatkan kemampuan guru dalam penyelenggaraan pembelajaran.

Strategi optimalisasi proses penyelenggaraan supervisi kependidikan menempatkan kepala sekolah sebagai pihak yang paling berperan dalam mengidentifikasi permasalahan pembelajaran seacara umum. Mengidentifikasi permasalahan pendidikan dalam konteks kelas harus dilakukan kepala sekolah dalam memilah skala permasalahan sehingga dapat ditentukan titik fokus pengambilan tindakan agar pelaksanaan menjadi lebih efektif dan efisien.

loading...

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *