INKLUSIFITAS SISWA DAN PERAN ORANG TUA (Parenting I Semester II, 2021)

Model pendekatan pembelajaran senantiasa berkembang, hal ini tidak lepas dari penemuan berdasarkan hasil penelitian terkini yang terus dilaksanakan oleh para praktisi dan pakar pendidikan di seluruh dunia. Perkembangan terkini dari model pendekatan pendidikan yang sedang gencar diimplementasikan adalah Pendekatan Pendidikan Berdifrensiasi.  Model pendekatan ini dikembangkan berangkat dari kondisi nyata bahwa anak-anak didik kita itu memiliki karakteristik unik, dan berbeda satu dengan yang lainnya. Untuk hal ini maka pendekatan pembelajaran secara teknis harus mampu menjawab tantangan ini. Model analisis diagnostik kepada siswa di awal sebelum pembelajarna dilaksanakan juga sedang gencar dikembangkan oleh Kemendikbud. Hal ini merupakan salah satu upaya dalam rangka memberi layanan maksimal kepada siswa yang pada faktanya memiliki karakteristik dan keunikan yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Berikut ini beberapa tips yang layak dijadikan pertimbangan dalam pelaksanaan pembelajaran untuk paling tidak kita berupaya secara serius untuk menerapkan model pendekatan pendidikan berdifrensiasi dalam pembelajaran di sekolah.

  1. Penyusunan perencanaan pembelajaran hendaknya semua berorientasi siswa, dan memberikan pelayanan semaksimal mungkin pada siswa untuk memastikan mereka memperoleh pengalaman belajar semaksimal mungkin. Sehingga untuk hal ini Model PBL (Project base Learning yang berbasis produk belajar adalah solusi dan alternatif terbaik, supaya siswa memperoleh pengalaman belajar terbaik, dan bermakna secara kontekstual.
  2. Upayakan menggunakan materi ajar berbasis tematik dengan mengambil kegiatan yang dekat dengan aktivitas keseharian siswa dengan menggunakan media dan sumber belajar yang ada di sekitar rumah tempat tinggalnya.
  3. Pembelajaran model tematik harus sedapat mungkin kita hadirkan untuk membungkus muatan-muatan pelajaran sehingga mereka akan merasakan pembelajaran yang bermakna dan kontekstual tanpa perlu mengikatkan diri mereka dengan istilah mata pelajaran yang justru menghambat gerak pikir mereka
  4. Produk belajar bukan hanya yang dihasilkan dari proses belajar benda yang bisa diraba atau dipegang tetapi dapat dalam bentuk prosuk hasil berpikir dan bernalar (gagasan), yang dikomunikasikan melalui lisan, tulisan atau bahkan bahasa tubuh mereka.
  5. Penilaian bersifat autentik dan menggunakan kreteria-kreteria, dan tidak terjebak pada penilaian bermakna sempit yang hanya mampu menilai antara benar dan salah.  Untuk hal ini upyakan  soal penilaian berbentuk pertanyaan terbuka seperti essay, atau bahkan tidak ada kuncinya, sehingga kita dapat mendorong kreatifitas siswa dalam berpikir kritis. Boleh jadi jawabannya nyeleneh, tidak sejalan dengna fikiran kita, atau bahkan bertolak belakang, asal tidak keluar dari norma dan etika. Kita dapat memberikan apresiasi kepada setiap jawaban siswa sebelum memberi masukan, pertimbangan dan saran untuk menyempurnakan jawaban.’
  6. Penilaian mendorong proses HOTS yang akan mengembangkan cara cara siswa berpikir menggunakan nalar, dan biarkan mereka berpikir untuk keluar dari konteks yang kadang bertentangan dengan dogma dan aturan normatif yang sekarang berlaku. Hal ini membutuhkan kelihaian kita dalam rangka menilai apakah hal ini bertentangan dengan norma dan susila sehingga kita dapat meluruskannya, bukan menyalahkannya.
  7. Memberikan siswa target sewajarnya, hanya semata-mata untuk mendidik mereka disiplin, dan jangan kekang waktu mereka karena alasan disiplin sehingga membatasi kesempatan mereka untuk memikirkan dan berbuat hal-hal baru yang unik dan inovatif.
  8. Dorong siswa untuk berkeksplorasi dengan sumber dan media belajar yang mereka cari dan temukan sediri, yang sekarang banyak bertebaran di internet, atau gunakan sumber belajar di lingkungan temapt tinggalnya.
  9. Pengembangan karakter menjadi sangat penting, tetapi kita tidak boleh serakah untuk mengangkangi hal ini, berikan kesempatan orang tua untuk ikut berkontribusi seluas luasnya untuk bersama-sama mengembangkan karakter positif anak, karena siswa berasal dari mereka, untuk mereka dan oleh orang tua.
  10. Selalu mendorong anak untuk mencari petunjuk pemecahan masalah dari sumber belajar yang kita dapat rekomendasiksn seperti buku diperpustakaan, internet, media dan sumber belajar yang tersedia di sekolah maupun lingkungan alam sekitar dan dari narasumber yang relevan.

Selain kita sebagai guru mengupayakan pembelajaran seperti di uraikan di atas, kita senantiasa harus  menjalin kerjasama dengan orang tua atau wali siswa secara lebih efektif.  Hal ini dapat dilakukan dengan kegiatan parenting. Beberapa contoh bahasa parenting yang disampaikan kepada orang tua dalam konteks tertentu yang sesuai seperti contoh berikut:

  1. Anak adalah aset Bapak/Ibu yang paling berharga, dan kami mengucapkan terimakasih, karena telah diberi kesempatan untuk berkontribusi bagi masa depan mereka
  2. Terkait dengan PJJ yang masih akan dilaksanakan, kami akan semaksimal mungkin melayani anak Bapak/Ibu, selain dalam rangka menjalankan tugas, juga hal ini merupakan panggilan jiwa kami
  3. Maka dari itu bantu kami dalam rangka sama-sama mengembangkan karakter, sikap kritis dan kemampuan mereka memecahkan masalah, kemampuan berkreatifitas dan berinovasi, kemampuan bekerjasama, dan kemampuan mereka berkomunikasi dan menunjukkan jatidirinya
  4. Maka tugas apapun yang guru berikan kurang lebih untuk mewujudkan hal itu, terutama dalam pengambangan karakter, karena Bapak/ibu adalah pihak yang paling dekat dengan anak, sehingga untuk hal ini, kami sangat meminta bantuannya untuk bekerjasama.

ANAK ADALAH ASET MASA DEPAN, BUAH HATI, TITIPAN TUHAN, MAKA BERIKAN MEREKA JALAN SEHINGGA KELAK MEREKA AKAN MAMPU HIDUP DI ZAMANNYA, YANG SANGAT BERBEDA DENGAN ZAMAN KITA

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

1 Response to INKLUSIFITAS SISWA DAN PERAN ORANG TUA (Parenting I Semester II, 2021)

  1. Ni Luh Sari Suryastini says:

    Saya juga ingin mengembangkan ini. Cuma susah dipahami oleh guru. Masih lebih nyaman menjelaskan pelajaran daripada meminta anak membuat produk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *