LAPORAN MINGGU XV| 02 ~ 07 November 2020 | Hari 72 ~ 77

Sebagai pengantar dari Laporan Minggu ke XV, tanggal 02 ~ 07 November 2020, tepatnya pada minggu ke 69 hingga 67 proses belajar mengajar pada tahun ajaran 2020/2021 semester I di era Covid-19 ini, penulis akan memaparkan perihal bagaimana sebuah penjabaran visi misi membutuhkan upaya berkelanjutan pada tataran implementasinya.  Penyusunan visi dan misi sekolah berikut turunan administrasinya merupakan awal dari sebuah upaya Rencana Pengembangan Sekolah.

Sebaik-baiknya sebuah program akan tidak bermakna jika dibandingkan dengan sejelek-jeleknya upaya yang dilakukan sungguh-sungguh dan berkelanjutan. Akan tetapi suatu upaya yang sungguh-sungguh sudah barang tentu memerlukan perencanaan yang matang diserta refleksi berkelanjutan. Artinya, sebuah rencana boleh jadi perlu dan penting, tetapi tindakan menjadi amat penting dan paling penting dari sekedar perencanaan. Barangkali secara tidak sadar kita telah melaksanakan perencanaan ketika melaksanakan tindakan.

Barangkali inilah suatu pendekatan atau mungkin model upaya pengembangan sekolah yang dapat dilakukan. Tindakan awal merupakan tindakan lanjutan dari sebelum dilakukannya tindakan  awal, tindakan tahap I merupakan tindak lanjut dari tindakan awal, tindakan II merupakan tindakan lanjutan dari tindakan I dan seterusnya.  Tindakan merupakan implementasi dari rencana, dimana hasil dari implementasi tersebut merupakan refleksi dari tindakan, yang selanjutnya menjadi rencana dari tindakan selanjutnya. Atau dapat digambarkan seperti bagan berikut ini:

Makna dari bagan di atas adalah, keberlanjutan yang tiada henti dari proses pengembangan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan refleksi.  Secara mudah dapat kita katakan bahwa di dalam setiap perencanaan, kita sekaligus telah melaksanakan tindakan, evaluasi sekaligus refleksi, demikian pula pada setiap tindakan kita juga telah melakukan rencana, evaluasi dan refleksi begitu juga selanjutnya. Pemahaman ini berdampak pada bagaimana kita selalu terjaga dengan empat aspek tersebut setiap saat.

Rangkaian 4 aspek tersebut selama ini kita pandang terpisah yang biasanya terdokumentasikan dengan baik sehingga seola-olah program yang dirancang 4 tahun, kita asumsikan perencanaannya yang sesaat dengan durasi pelaksanaan 4 tahun sedangkan evaluasi dan refleksinya kita lakukan di akhir. Sementara di tengah perjalanan kita lupa bahwa dalam segmen tahunan, bulanan, mingguan, harian dan jam, kita juga melakukan emapt aspek tersebut secara simultan silih berganti tiada berhenti.

Perbandingannya dapat kita lihat, jika kita mematok program 4 tahunan, maka di tengah jalan jika terjadi perubahan maka, program 4 tahunan tersebut kita bongkar pasang lagi, atau kita enggan melakukannya karena putus asa. Sementara program mingguan capaian kecil saja merupakan hal yang sangat baik, yang dapat menghindarkan kita dari keterlenaan karena terlalu panjangnnya durasi program.

Program mingguan yang penulis sengaja sajikan dalam laporan ini merupakan upaya melaksanakan strategi tersebut, karena program mingguan kalau dilaksanakan akan lebih fleksibel dari pada mematok program bulanan atau tahunan. Program mingguan akan lebih fleksibel, dari pada program yang durasinya lebih panjang dan lebih kaku. Program dengan durasi lebih pendek menurut hemat penulis lebih adaftif terhadap perubahan khususnya dalam menghadapi dinamika perubahan pada masa Covid~19 ini :

Berikut adalah rancangan program mingguan kepala sekolah dan guru seperti disertakan dalam laporan di bawah ini:

>

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *