LAPORAN MINGGU XIV| 26 ~ 31 Oktober 2020 | Hari 69 ~ 71

Sebagai pengantar laporan Minggu ke XIV ini yang menginjak hari ke 69 ~ 71 adalah beberapa deskripsi upaya memotivasi diri yang dilakukan dengan menempatkan tantangan untuk memotivasi teman sejawat sesama kepala sekolah dan teman sejawat di sekolah sendiri. barangkali ini adalah salah satu teknik untuk memacu kinerja, meningkatkan kepercayaan diri, dan mengingatkan diri untuk lebih mawas diri.

Bayangkan saja bagaimana ketika diskusi terjadi di Grup Kelompok Kerja Kepala Sekolah yang secara lugas saya menyampaikan beberapa hal yang memerlukan keberanian diri untuk mengungkapkannya. Terkadang orang lain melihat keberanian mengungkapkan fakta merupakan tindakan konyol di tengah-tengah beragamnya pandangan terkait bagaimana upaya kritis terhadap situasi yang telah nyaman dan mapan. Resiko tanggapan miring atau dikatakan “sok idealis” memang pantas diterima. Tetapi sekali lagi hal ini adalah salah satu teknik yang saya gunakan dalam rangka tetap menjaga idealisme dan keyakinan diri terhadap existensi diri tetap terjaga.

Berikut adalah beberapa point penting isi diskusi terangkum sebagai berikut :

  1. Bahwa Rencana Pengembangan Sekolah yang sedang menjadi trending topik bagi kepala sekolah peserta diklat Penguatan Kepala Sekolah sebenarnya adalah upaya riil dan nyata dalam wujud rencana yang secara konsisten dan berkelanjutan harus dilaksanakan
  2. Bahwa konsekwensi dari keputusan berani mengambil tanggung jawab sebagai kepala sekolah adalah niscaya untuk loyal dan konsisten dalam rangka menunjukkan dan memberi dampak positif dari upaya mengembangkan sekolah untuk melaju menuju tujuan yang sudah ditetapkan
  3. Bahwa membelajarkan diri untuk kritis adalah upaya awal dari menumbuhkan ide-ide kreatif dan inovatif baik bagi guru dan kepala sekolah, sehingga ketika perencanaan, proses pelaksanaan, evaluasi, monitoring dan tindak lanjutnya tetap dapat menemukan solusi atas masalah yang pasti ditemukan
  4. Bahwa perubahan pola pikir adalah mutlak dimiliki guru maaupun kepala sekolah dalam rangka upaya membentuk siswa yang tahan banting, suka tantangan, mampu menyelesaikan masalah, mandiri, kretif, inovatif, kolaboratif dan komunikatif
  5. Bahwa upaya menyadarkan diri tentang hakekat jabatan dan profesi merupakan tanggungjawab moral yang diimplementasikan dalam sikap perilaku kita sebagai abdi negara yang telah dihargai jerih payahnya sehingga tekad baja dalam melaksanakan tugas, iklas, tidak banyak mengeluh merupakan karakter yang harus kita pupuk selalu.
  6. Bahwa kebijkan merdeka belajar adalah upaya pemerintah dalam bidang pendidikan memberikan keleluasaan bagi guru untuk merencanakan dan menyelenggarakan pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan siswa, bukan semata mata kepentingan dan kemudahan kita. Untuk hal ini guru dan kepala sekolah harus senantiasa mengetahui kondisi terkini siswanya yang berkaitan dengan layanan pendidikan yang layak dan relevan bagi siswa dan orang tua dengan berbagai karakter, latar belakang, minat, bakat dan kondisi lainnya. Hal ini akan melahirkan sistem pendidikan inklusif, berorientasi layanan pendidikan berdasarkan kebutuhan.
  7. Bahwa diskusi yang kritis saat ini terkadang menimbulkan persepsi yang berbeda bahkan negatif, yang sering diklaim menyerang ranah pribadi, padahal hal tersebut merupakan ranah profesi kolektif yang enggan diperdebatkan. Untuk hal yang satu ini masih perlu diperdebatkan. Alasanya anggapan beberapa pihak bahwa memperdebatkan sesuatu yang sensitif adalah tidak layak. Padahal sebenarnya disanalah letak kelemahan kita selama ini. Orang yang enggan berdebat dan jarang mau berdiskusi secara terbuka adalah cenderung antikritik, cenderung mengisolasi diri, menghindari ancaman, senang berada di zona nyaman. Sekali lagi padahal hal itu adalah penghambat bagi peluang untuk berkembang, maju, kreatif dan inovatif.

Isu lain juga yang penulis tankap minggu ini adalah terkait dengan bagaimana upaya mengubah pola pikir rekan sejawat di sekolah pun tidak luput dari tantangan. Akan tetapi landasan berpikir positif dan konstruktif, telah membawa penulis pada kesadaran bahwa :

  1. Perencanaan harus disosialisasikan sejak jauh-jauh hari dalam rangka memberi persiapan kepada pelaksana dalam hal ini guru untuk secara optimal menyiapkan sarana pendukung dalam upaya membelajarkan siswa
  2. Strategi merubah pola pikir harus diawali dengan pembiasaan, tidak dapat hanya dengan sekedar membuat program selanjutnya memaksa mereka melaksanakannya
  3. Mengigatkan kawan-kawan guru setiap saat tentang hakekat profesinya, yang pada dasarnya mereka telah mengerti, tetapi oleh karena kontribusi berbagai kepentingan baik yang memihak profesi ataupun yang kontra, maka terkadang kawan-kawan guru kehilangan arah.
  4. Perencanaan program harus progresif, yaitu 5 langkah lebih maju dari pada keadaan normal, yang sangat menguntungkan dalam hal ini adalah guru akan terpacu untuk belajar, mencari informasi terkait tugas-tugasnya, berbuat sesuatu yang kreatif dan inovatif. karena pada dasarnya kreatifitas dan inovasi tidak akan pernah muncul dalam konsisi nyaman. Semua trobosan-trobosan terjadi karena ada tantangan dan ancaman.
  5. Mengelola sumberdaya manusia pendidikan, yaitu guru kita juga berhadapan dengan berbagai karakter yang unik, tetapi tidak dapat disamakan dengan layanan kepada siswa. Layanan kepada guru adalah layanan untuk membimbing, mendampingi, memfasilitasi dan memdiasi kepentingan guru dalam rangka mengoptimalkan pelaksanaan profesinya sebagai guru.

Pendampingan, pembinaan, fasiltas dan mediasi yang dilakukan kepala sekolah selama ini, sedikit banyak telah meningkatkan kinerja guru. Beberapa contoh dari bukti kinerja guru dan kepala sekolah seperti disertakan dalam postingan laporan ini yaitu :



This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *