Pertamak Berdimensi 4C

A.  Latar Belakang

Keunggulan generasi bangsa ke depan ditentukan oleh sejauhmana mereka dapat memenangkan kompetisi baik regional maupun global. Agar sanggup unggul dalam berpartisipasi di tengah globalisasi dan regionalisasi generasi milenial harus memiliki keterampilan 4C guna menyongsong Era Industri 4.0 pada Abad 21. Keterampilan 4C (Critical Thingking; Creativity; Comunications; Collaborations), dapat ditumbuhkan dengan mengembangkan aktifitas literasi dalam bentuk budaya membaca. Budaya membaca harus dilakukan dengan kegiatan pembiasaan secara rutin. Nurkaeti (2016 : 8) menyatakan strategi pembiasaan membaca di atas dapat dijadikan upaya dalam mengembangkan minat baca siswa sebagai upaya mewujudkan literasi dasar.

Literasi dasar yang dijadikan poros adalah 1) literasi baca-tulis; 2) literasi sains; 3) literasi digital; 4) literasi finansial dan 6) literasi kebudayaan dan kewarganegaraan Kemudian kompetensi yang menjadi fokus kebijkan pendidikan adalah 1) kemampuan berpikir kritis; 2) kreativitas; 3) komunikasi dan 4) kolaborasi. Selanjutnya karakter utama yang perlu menjadi poros pendidikan meliputi : 1) religius; 2) nasionalis; 3) mandiri; 4) gotong-royong dan 5) integritas, (Tim Penyusun Materi Pendukung Literasi baca Tulis, 2017 : 1).

Pembiasaan mengembangkan budaya membaca di sekolah selama ini dilaksanakan melalui Gerakan Literasi Sekolah. Selama pelaksanaan meningkatkan upaya membudayakan gerakan literasi sekolah di SD Negeri 12 Karangasem terdapat beberapa masalah yang teridentifikasi seperti 1) Prestasi siswa rendah dalam ajang lomba-lomba kebahasaan; 2) Aktivitas kegiatan membaca yang rendah; 3) Terbatasnya ketersediaan waktu membaca di sekolah; 4) Angka peminjaman buku di perpustakaan sekolah peningkatannya sangat kecil; 5) Produktifitas siswa dalam kreatifitas sastra dan kebahasaan sangat kecil.

Beranjak dari permasalahan di atas selama kurun waktu sejak akhir tahun 2017, penulis sebagai kepala sekolah mendorong terbentuknya Paguyuban Kelas. Paguyuban kelas yang telah terbentuk selanjutnya diarahkan sedemikan rupa untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan karakter anak termasuk budaya litersi.

Menyimak uraian latar belakang di atas maka berikut ini adalah rumusan masalah yang akan dikaji pada tulisan ini : Bagaimanakan implementasi Pertamak di SD Negeri 12 Karangasem dalam meningkatkan budaya membaca berdimensi 4C pada siswa di SDN 12 Karangasem? Untuk menjawab permasalahan tersebut maka dilaksanakanlah program pengembangan sekolah dengan menggunakan  strategi Pertamak untuk meningkatkan budaya membaca berdimensi 4C pada siswa.

E. Pertamak Berbasis Paguyuban Orang Tua Untuk Wujudkan Budaya Membaca Berdimensi 4C

Adapun strategi Pertamak yang merupakan  akronim dari Perpustakaan Kamar Anak. Perpustakaan oleh Sutarno (2003 : 7), menyatakan bahwa perpustakaan adalah suatu ruangan, bagian/bangunan, atau gedung itu sendiri, yang berisi buku-buku koleksi, yang disusun dan di atur sedemikian rupa sehingga mudah dicari dan dipergunakan apabila sewaktu-waktu untuk pembaca. Kamar anak yang dimaksud adalah kamar tempat anak beristirahat, yang nantinya ditempatkan perpustakaan kecil.

Pertamak digagas dan dilahirkan oleh paguyuban kelas yang mengadakan kegiatan  arisan buku. Menurut Pramana (2016 : 9). Paguyuban Kelas adalah perkumpulan orang tua siswa dalam suatu kelas yang bertujuan untuk membangun, menumbuhkan dan meningkatkan partisipasi, kepedulian dan tanggung jawab berupa pemberian saran dan masukan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.

 Buku yang terkumpul melalui arisan pada paguyuban selanjunya disimpan di perpustakaan kamar anaknya masing-masing. Perpustakaan yang terletak di kamar anak akan  mendekatkan siswa dengan produk bacaan sehingga dapat berinteraksi secara berkelanjutan untuk menciptakan kebiasaan membaca. Hal tersebut tergambar seperti bagan di bawah ini.

F. Metode dan Pelaksanaan

Metode pelaksanaan program ini terdiri dari: 1) Perencanaan, yaitu identifikasi masalah; 2) Sosialisasi pertamak kepada guru, siswa dan orang tua; 3) Integrasi Pertamak kegiatan ke dalam Program Jangka Menengah Sekolah; 4) Pelaksanaan kegiatan ; 5) Evaluasi, meliputi metode angket dan metode observasi sehingga menghasilkan data;  6) Refleksi dan Tindak Lanjut meliputi: analisis hasil data, analisis kelebihan dan kekurangan, dan perbaikan program.

Berdasarkan data yang telah diolah akan dipakai untuk menjelaskan perkembangan pembudayaan kegiatan membaca. Peningkatanya mulai belum terbiasa, sedang dibiasakan dan sudah membudaya. Indikator peningkatan tersebut  meliputi : 1) Aspek intensitas keterampilan berpikir kritisnya ; 2) Aspek intensitas keterampilan kreatifitasnya; 3) Aspek intensitas keterampilan komunikasi siswa; dan  4) Aspek intensitas keterampilan berkolaborasi.

G. Hasil dan Pembahasan

Beberapa tantangan yang terjadi selama pelaksanaan kegiatan berasal dari 1) Tantangan internal sekolah yang datang dari guru-guru dan siswa ; 2)  Eksternal sekolah yang datang dari orang tua dan masyarakat. Beberapa hal yang penulis lakukan dalam rangka memotivasi para guru, staff, siswa dan orang tua untuk secara bersama-sama membangun kesadaran terhadap upaya mewujudkan budaya membaca berdimensi 4C yaitu dengan tetap berkoordinasi secara positif untuk menyadarkan guru, orang tua dan masyarakat. Kegiatan tersebut dilakukan dengan  1) “Morning Breafing” kepada guru; 2) Memberikan arahan setiap apel pagi kepada siswa ; 3) Memberi penyadaran secara berkelanjutan kepada orang tua; 4) Berkomunikasi dan mengunjungi orang tua siswa pada waktu waktu tertentu.

Kegiatan paguyuban kelas untuk mendukung pertamak adalah: 1) Kegiatan arisan sebesar Rp.30.000; 3) Perangsang, agar minat anggota paguyuban bersedia hadir setiap bulan ke sekolah maka Rp. 10.000 digunakan untuk membeli buku atau alat-alat kebutuhan siswa; 4) Mendorong terselenggaranya kas kelas dan administrasinya; 5) Pengadaan buku bacaan untuk melengkapi perpustakaan kamar anak.

Upaya memperkaya pertamak dilakukan dengan : 1) Buku yang diperoleh dari arisan buku pada paguyuban; 2) Pembelian buku sendiri oleh siswa dan orang tua; 3) Hadiah dari teman; 4) Meminjam buku dari perpustakaan sekolah/daerah; 5) Bertukar buku dengan teman.

Berdasarkan data yang telah diolah menunjukkan peningkatan capaian budaya membaca baik dari aspek berpikir kritis, kreatifitas, komunikatif dan kolaboratif dari katagori belum terbiasa menjadi katagori sedang dibiasakan dalam hal daya literasi siswa berdimensi 4C, berdasarkan indikator yang telah ditetapkan.

H. Simpulan

 Walaupun belum mencapai katagori membaca sebagai budaya tetapi dampak kegiatan Best Practices  ini merupakan keunggulan kegiatan ini. Dampak terpenting dari kegiatan Bess Practice ini adalah 1) Kesadaran orang tua untuk terlibat aktif dan langsung sesuai perannya dalam pembentukan karakter anak; 2) Inisiatif untuk berinovasi sebagai bagian implementasi dari keterampilan 4C sudah terjadi baik di kalangan guru dan orang tua untuk bersama-sama memajukan pendidikan; 3) Pengabdian guru telah melampaui beban tugasnya yang didasari semangat, profesi bukan semata-mata pekerjaan, tetapi ladang pengabdian yang dilakukan iklas dan syukur.

Berdasarkan kesimpulan di atas diharapkan : 1) Sekolah dan orang tua dapat bersama-sama mengembangkan budaya membaca berdimensi 4C pada siswa; 2) Mewujudkan siswa sebagai generasi milenial yang memiliki imaginasi dan wawasan sehingga berguna untuk mengembangkan kemampuan nalar; 5) Mewujudkan guru yang mampu melaksanakan tugasnya dengan inovasi dan penuh tanggungjawab.

REFERENSI

Nurkaeti, Nunu 2016. Pembiasaan Membaca Sebagai Wujud Pembelajaran Literasi.  Jakarta : Universitas Bhayangkara. https://www.Researchgate.Net/Publication/334389434_Pembiasaan_Membaca_Sebagai_Wujud_Pembelajaran_Literasi_Di_Sekolah_Dasar_Pentingkah  Akses Tanggal 29 Oktober 2019.

Pramana, Lanang, 2016. Peran Paguyuban Orang Tua. Purwakerto. FKIP UMP http://repository.ump.ac.id/312/1/cover_lanang%20pramana_pgsd%2716.pdf  Akses Tanggal 20 Oktober 2019

Sutarno. 2003. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Tim Penyusun Materi Pendukung Literasi Baca Tulis. 2017. Gerakan Literasi Sekolah. Materi Pendukung Literasi Baca Tulis, Jakarta : Kemdikbud

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *