Revolusi Industri 4.0 telah menimbulkan kekawatiran beberapa pihak, karena aspek dominasi teknologi dalam kehidupan akan mengurangi kebutuhan tenaga kerja. Oleh karena itu diperlukan keseimbangan, jangan sampai antara tujuan dicipatakannya teknologi adalah untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia sementara di sisi lain justru menerlantarkan umat manusia itu sendiri. Beberapa negara bahkan telah merencanakan suatu kebijakan dalam mengatasi permasalahan ini. Negara yang telah mendapatkan keuntungan pajak dari mempekerjakan robot dan artificial intelegence dari perusahaan swasta memiliki kewajiban melindungi warganya yang belum beruntung memperoleh pekerjaan. Penduduk yang telah layak memasuki dunia kerja tetapi belum memiliki kompetensi yang dipersaratkan akan di tanggung negara untuk pemenuhan kesejahtaraanya dan dilatih keahlian sebagai tenaga pendukung proses produksi korporasi, atau keperluan sektor lain termasuk kepentingan negara yang memerlukan partisipasi rakyatnya dalam bidang-bidang tertentu.

Konsep menyeimbangkan antara pesatnya kemajuan Revolusi Industri 4.0 dengan aspek manusia sebagai pihak yang harus mendapatkan manfaat positif sebesar-besarnya dari kemajuan itu diistilahkan dengan konsep Society 5.0. Konsep itu sebenarnya sudah bergulir cukup seperti dikemukakan dalam “Basic Policy on Economic and Fiscal Management and Reform 2016” yang merupakan bagian inti dari rencana strategis yang diadopsi Kabinet Jepang, Januari 2016, sebagai antisipasi terhadap tren global sebagai akibat dari munculnya Revolusi Industri 4.0. Society 5.0 adalah hal alami yang pasti terjadi akibat munculnya Revolusi Industri 4.0.

Berkembangnya aspek penggunaan teknologi informasi pada Revolusi Industri 4.0, akan membawa dampak pada berbagai bidang keghidupan. Kalau penulis dapat  mengibaratkan masa Pandemi Covid-19 ini sebagai awal mula ujicoba dan pembuktian bagaimana peran teknologi informasi dan kecerdasan buatan menjadi alternatif yang paling efektif dalam menyelenggarakan berbagai aktifitas manusia ketika mereka semua harus  berada di rumah, untuk mencegah penyebarluasan virus tersebut. Relevan dengan  itu dengan mudah kita gambarkan secara detail seperti inilah dampak ketika Revolusi Industri 4,0 terjadi.

Penggunaan robot dan kecerdasan buatan yang semakin marak, termasuk juga merambah dunia transportasi, pendidikan, hiburan, pariwisata, dan yang lainnya, akan menggeser satu peran ke peran lain. Bagaimana pembantu rumah tangga nanti akan dikerjakan oleh robot cerdas, kurir akan dilakukan oleh drone untuk mengantarkan barang ke rumah kita. Satpam tidak diperlukan lagi karena peran CCTV dan koneksi langsung ke kantor polisi, yang akan dibantu alat kecerdasan buatan yang bisa membaca gerak-gerik penjahat. Guru dapat melakukan aktifitas mengajar dari rumah, sehingga siswanya ke sekolah pada saat tertentu saja. Pegawai kantoran yang dalam hal tententu dapat bekerja dari rumah. Rapat koordinasi tidak lagi menghabiskan tempat duduk, makanan dan peralatan rapat lainnya, karena dapat dilakukan online. Konser musik tidak lagi harus dilakukan di lapangan terbuka, cukup nonton dari rumah saja secara virtual

Kegiatan pemilihan umum kita tidak perlu datang ke TPS, cukup kita memilih pilihan yang kita sukai dari gadget kita sendiri dari rumah. Aktivitas sembahyang pun sudah dapat diterapkan dari rumah masing-masing pada masa pandemi Covid-19 ini. Membeli kebutuhan sehari-hari cukup memesannya dari rumah, yang nantinya diantarkan oleh drone. Semuanya yang telah disebutkan di atas adalah ciri-ciri masyarakat di Era Society 5.0 yang kita rasakan saat ini. Penggunaan Virtual Reality pun ke depan akan semakin masif digunakan, terutama akan merambah sektor pendidikan dan pariwisata.

Bertolak belakang dari beberapa fleksibelitas kehidupan di atas ternyata banyak pihak yang dirugikan akibat kondisi tersebut. Gojek online yang dulunya selalu mendapatkan penumpang nganggur karena masyarakat hanya beraktifitas di rumah, karena adanya pembatasan berskala besar. Sektor yang paling terpukul dari kondisi ini adalah transportasi, yang berdampak pada menurunya harga minyak hingga sempat menyentuh harga minus, karena hampir sebagian besar sarana transportasi tidak berkatifitas. Aspek pariwisata juga terkena dampak yang besar dari konsidi ini, karena saaat kondisi pembatasan ini tidak mungkin dapat berkunjung ke tempat wisata secara leluasa. Hal ini dapat dibayangkan jika aspek kecerdasan buatan dan teknologi virtual reality berperan di masa depan, maka kegiatan plesiran dapat dilakukan dari rumah. Kita bisa menikmati tempat-tempat mulai dari yang indah sampai paling ekstrim sekalipun dari rumah. Saat ini walau masih dalam katagori terbatas media berdimensi 3D visual, telah banyak membantu kita melihat-lihat penampakan alam di tempat lain hanya dengan menggunakan aplikasi Google Earth. Dampak dari hal itu sangat jelas kepada para guide dan biro perjalanan akan kehilangan pekerjaan.

Dampak dari pembatasan atau suatu negara bahkan menerapkan Lock Down, ini telah sangat masif mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat. Sesungguhnya kondisi inilah yang dikawatirkan dari pengganggas Society 5,0, yaitu terjadinya ketidak seimbangan antara penggunaan teknologi dengan sisi kemanusiaan lain yaitu pengangguran. Karena seperti di jelaskan di atas Revolusi Industri bertujuan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan umat manusia. Sehingga perlu dipikirkan aspek sosial yang akan menyeimbangkan antara penggunaan robot dan kecerdasan buatan yang menghasilkan banyak keuntungan tetapi tetap bermanfaat bagi masyarakat lain yang kehilngan pekerjaan.

Sebagai perbandingan saat ini saja, walau dalam kondisi darurat dapat kita ketahui berapa keuntungan dari para penyedia layanan jaringan dan layanan kecerdasan buatan itu sendiri. Data menunjukkan keuntungan provide internat meningkat pesat di masa Pandemi Covid -19. Aktivitas penggunaan jaringan saat ini meningkat pesat karena semuanya dikerjakan melalui online. Demikian pula keuntungan dari penyedia layanan media sosial, perpesanan teks, perpesanan suara dan video, sampai Youtube. Youtube sendiri telah membukukan penghasilan bersih hanya hitungan 3 bulan pelaksanaan pembatasan pergerakan manusia ini. Pada kuartal I-2020, YouTube meraup pendapatan iklan sebesar 4,04 miliar dollar AS (Rp 60,2 triliun) atau naik 33 persen dari periode yang sama tahun lalu yang meraup 3,03 miliar dollar AS (Rp 45,2 triliun).

Melihat fakta di atas, sesungguhnya kondisi saat ini sangat mirip dengan gejala Revolusi 4.0 tetapi belum layak dikatakan telah mencapari tataran kehidupan layaknya Society 5.0. Keseimbangan antara fakta penggunaan teknologi informasi yang meluas yang telah menyebabkan beberapa sektor ekonomi menjadi lesu, dan sektor lain yang menguat, sementara masyarakat belum merasakan manfaat kemajuan teknologi itu untuk kesejahteraannya. Kita masih bisa memaklumi, suasana pemberlakuaan kondisi layaknya suasana era Revolusi Industri 4,0 belum saatnya, karena kebetulan saat ini ada Pandemi Covid-19. Tetapi kita bisa mengambil contoh bahwa tren seperti ini adalah suatu kondisi yang tidak dinginkan oleh penggagas Society 5.0.

Pada saatnya nanti ketika kondisi memenuhi, maka Revolusi Industri 4.0 dengan masyarakatnya telah sesuai tingkat kesejahteraannya layaknya seperti yang diinginkan para penggagasnya. Maka pemerintah harus memastikan para pengusaha yang bergerak pada sektor jasa komunikasi dan informasi yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan yang telah mampu mengambil banyak keuntungan berkontribusi besar pada negara untuk kesejahteraan masyarakat lainnya yang belum beruntung untuk mengembangkan dirinya. Karena tidak semua masyarakat diuntungkan dari situasi tersebut, akibat dari di PHK oleh perusahaannya karena tidak mampu lagi memberikan gaji yang layak. Atau kejadian lain yang menggambarkan seseorang telah kehilangan pekerjaannya karena telah tergantikan oleh robot, layanan yang menggunakan aritificial intelegency, penggunaan layanan penjualan online seperti yang dilakukan oleh beberapa industri kreatif saat ini.

Kehadiran sektor pendidikan adalah merupakan katalisator sekaligus stabilisator dalam mengendalikan dampak dari Revolusi Industri 4,o untuk tetap dapat berkontribusi bagi sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat. Dunia pendidikan dalam kurikulum yang dikembangkan akan memuat pengembangan sikap, skill dan wawasan peserta didik agar relevan dengan kondisi Revolusi Industri 4.0,  yang sebagian besar merupakan domain Generasi Millenial.Hanya melalui campur tangan pemerintah yang intensif untuk mengintervensi dunia pendidikan sehingga mampu mempersiapkan generasi unggul yang memiliki skill dan attitude yang berwawasan visioner.

Kehadiran Society 5.0 yang merupakan kebijakan pemerintah Jepang dalam mengantisipasi masifnya dampak yang akan terjadi di era Revolusi Industri 4.0, merupakan bagian tidak bisa diabaikan dalam pengembangan pendidikan di Indonesia di masa yang akan datang. Tanpa perubahan besar-besaran dalam menata struktur dan eleman sistem birokrasi pendidikan yang sepenuhnya terdekonsentrasi maka mustahil hal ini akan dapat dilakukan. Perubahan sikap dan cara pandang para pakar, praktisi dan birokrasi kependidikan yang sealur dan sejalan saling bahu membahu dalam turut berkontribusi dalam hal best practices sesuai dengan bidangnya masing-masing sangat perlu didorong. Pola kebijakan pemerintah yang selalu bersifat top down tidak selalu relevan dalam kondisi seperti ini. Maka taggar kembali ke budaya asli Bangsa Indonesia “Gotong Royong” merupakan konsep yang sangat jitu untuk mewakili pola interaksi antar elemen pembangun struktur pendidikan Indonesia.

loading...
Categories: Uncategorized

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *