Pengembangan Pedoman Penilaian

Penyegaran Calon Dosen/Instruktur PPG |Unit 3. Pembimbingan PPL

Fasilitator : Ahmad, PhD, dan Pamujo, M. Pd (Kemdikbud Dirjen GTK)

Daftar Isi Unit 3

  1. KB 1 Penyusunan Kisi-Kisi Instrumen
  2. KB 2 Pengembangan Instrumen
  3. KB 3 Pengembangan Pedoman Penilaian
  4. KB 4 Analisis Penerapan Evaluasi untuk Perbaikan Pembelajaran

KB 3 Pengembangan Pedoman Penilaian

Pendahuluan

Kegiatan Belajar 3 (KB3) ini membahas tentang  pengembangan pedoman penilaian. Setelah menyusun kisi-kisi, mengembangkan instrumen, prosedur berikutnya yang dilakukan pendidik adalah mengembangkan pedoman penilaian. Tentunya pengembangan instrumen dalam KB 3 ini mencakup penilaian ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan. Secara lebih operasional disebutkan sebagai kompetensi inti (KI) sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan, secara berurutan disingkat dengan KI-1, KI-2, KI-3, dan KI-4. Sebagaimana yang tertuang dalam Rumusan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar dalam Permendikbud Nomor 37 Tahun 2018.  Membuat pedoman penilaian merupakan tahapan yang tertuang dalam Pasal 13 Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang standar penilaian pendidikan. Prosedur penilaian proses dan hasil belajar oleh pendidik, satuan pendidikan, atau pemerintah setelah menyusun kisi-kisi, membuat instrumen penilaian berikutnya adalah membuat pedoman penilaian.

Eksplore Lebih Lanjut

  1. Unit 1 tentang Penyusunan Perangkat Pembelajaran
  2. Unit 2 tentang Pembimbingan PPL
  3. Unit 3 tentang Pembimbingan Penilaian Pembelajaran
  4. Unit 4 tentang Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan

Setelah melaksanakan aktivitas pada Kegiatan Belajar 3 ini, diharapkan dapat membimbing guru/mahasiswa mengembangkan:

  1. pedoman penilaian sikap
  2. pedoman penilaian pengetahuan
  3. pedoman penilaian keterampilan

Materi 
Pedoman Penilaian Sikap
Pedoman penilaian sikap mengacu pada teknik penilaian yang dipilih. Pedoman penilaian sikap menyajikan definisi, komponen, dan ruang lingkup penilaian sikap yang akan dilakukan. Pedoman penilaian juga menjelaskan tentang tentang teknik yang dipilih dalam penilaian sikap tersebut. Puspendik (2015:24) menyebutkan bahwa penilaian terhadap sikap spiritual dapat dilakukan pendidik terhadap hal-hal yang berkaitan menghargai, menghayati ajaran agama, dan nilai-nilai yang terdapat dalam ajaran agama seperti kejujuran, menghormati orang yang lebih tua, menghargai orang lain dan lain-lain. Sedangkan hal-hal yang berhubungan dengan penghayatan tidak dapat dilakukan karena bersifat abstrak.

Penilaian terhadap sikap sosial dapat dilakukan pendidik terhadap hal-hal yang berkaitan dengan objek sikap sebagai berikut:

  1. sikap yang berhubungan dengan perilaku interpersonal;
  2. sikap yang berhubungan dengan kesuksesan akademik;
  3. sikap terhadap penerimaan teman sebaya; dan
  4. sikap-sikap yang berhubungan dengan nilai-nilai tertentu yang ingin ditanamkan dalam diri peserta didik seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, toleransi, gotong royong, santun, dan percaya diri.

Perkembangan sikap dapat dilihat dari perilaku peserta didik yang diungkapkan dalam bentuk ucapan, cara berpikir, dan perbuatan. Dalam bentuk ucapan, ketika peserta didik menggunakan kata-kata dan kalimat (lisan atau tulisan) yang mencerminkan aspek atau sikap tertentu. Dalam cara berpikir, dapat dilihat ketika berbicara dalam komunikasi biasa, dalam menjawab atau menulis jawaban atas suatu pertanyaan. Dalam bentuk perbuatan, terlihat pada mimik ketika berbicara, dalam gerakan ketika melakukan sesuatu, dan dalam tindakan (Puspendik, 2015:27). Untuk mengelaborasi pembahasan tentang pedoman penilaian sikap, dapat mencermati contoh rubrik karakter pada buku model penilaian karakter di klik di sini.

Pedoman Penilaian Pengetahuan  
Pedoman penskoran merupakan panduan atau petunjuk yang menjelaskan tentang  batasan atau kata-kata kunci atau konsep untuk melakukan penskoran terhadap soal-soal bentuk uraian objektif dan kemungkinan kemungkinan jawaban yang diharapkan atau kriteria-kriteria jawaban yang digunakan untuk melakukan penskoran terhadap soal-soal uraian non-objektif. Pedoman penskoran untuk setiap butir soal uraian harus disusun segera setelah penulisan soal (Puspendik, 2007).  Selanjutnya dijelaskan kaidah penulisan pedoman penskoran soal berbentuk uraian objektif adalah sebagai berikut:

  1. Tuliskan semua kemungkinan jawaban benar atau kata kunci jawaban dengan jelas untuk setiap nomor soal;
  2. Setiap kata kunci diberi skor 1 (satu);
  3. Apabila suatu pertanyaan mempunyai beberapa sub pertanyaan, rincilah kata kunci dari jawaban soal tersebut menjadi beberapa kata kunci sub jawaban. Kata kata  kunci ini dibuatkan skornya (masing-masing 1);
  4. Jumlahkan skor dari semua kata kunci yang telah ditetapkan pada soal. Jumlah skor ini disebut skor maksimum dari satu soal.

Kaidah untuk bentuk uraian non-objektif adalah sebagai berikut:

  1. Tuliskan garis-garis besar jawaban sebagai kriteria jawaban untuk dijadikan pedoman atau dasar dalam memberi skor. Kriteria jawaban disusun sedemikian rupa sehingga pendapat/pandangan pribadi peserta didik yang berbeda dapat diskor menurut mutu uraian jawabannya;
  2. Tetapkan rentang skor untuk tiap garis besar jawaban. Besarnya rentang skor terendah 0 (nol), sedangkan rentang skor tertinggi ditentukan berdasarkan keadaan jawaban yang dituntut oleh soal itu sendiri. Semakin kompleks jawaban, rentang skor semakin besar. Untuk memudahkan penskoran, setiap rentang skor diberi rincian berdasarkan kualitas jawaban, misalnya untuk rentang skor 0 – 3: jawaban tidak baik 0, agak baik 1, baik 2, sangat baik 3. Kriteria kualitas jawaban (baik tidaknya jawaban) ditetapkan oleh penulis soal.
  3. Jumlahkan skor tertinggi dari tiap-tiap rentang skor yang telah ditetapkan. Jumlah skor dari beberapa kriteria ini disebut skor maksimum dari satu soal.

Puspendik (2017) juga menjelaskan prosedur penskoran sebagai berikut:

  1. Pemberian skor pada jawaban uraian sebaiknya dilakukan per nomor soal yang sama  untuk semua jawaban peserta didik agar konsistensi penskor terjaga dan skor yang dihasilkan adil untuk semua peserta didik.
  2. Untuk uraian objektif: periksalah jawaban peserta didik dengan mencocokkan jawaban dengan pedoman penskoran. Setiap jawaban peserta didik yang sesuai dengan kunci dinyatakan “Benar” dan diberi skor 1, sedangkan jawaban peserta didik yang tidak sesuai dengan kunci dianggap “Salah” dan diberi skor 0. Tidak dibenarkan memberi skor selain 0 dan 1. Apabila ada jawaban peserta didik yang kurang sempurna, kurang memuaskan, atau kurang lengkap, pemeriksa harus dapat menilai seberapa jauh hal itu terjadi. Dengan demikian dapat diputuskan akan diberi skor 0 atau 1 untuk jawaban tersebut.
  3. Untuk uraian non-objektif: periksalah jawaban peserta didik dengan mencocokkan jawaban dengan pedoman penskoran. Pemberian skor disesuaikan antara kualitas jawaban peserta didik dan kriteria jawaban. Di dalam pedoman penskoran sudah ditetapkan skor yang diberikan untuk setiap tingkatan kualitas jawaban.
  4. Baik soal uraian objektif maupun soal nonobjektif, bila tiap butir soal sudah selesai diskor, hitunglah jumlah skor perolehan peserta didik pada setiap nomor butir soal.  Apabila dalam satu tes terdapat lebih dari satu nomor soal uraian, setiap nomor soal uraian diberi bobot. Pemberian bobot dilakukan dengan membandingkan semua soal yang ada dilihat dari kedalaman materi, kerumitan/kompleksitas jawaban, dan tingkat kognitif yang diukur. Skala yang digunakan dalam satu tes adalah 10 atau 100 sehingga jumlah bobot dari semua soal adalah 10 atau 100. Pemberian bobot pada setiap soal uraian dilakukan pada saat merakit tes.

Pedoman penilaian yang baik hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. memuat seperangkat indikator untuk menilai kompetensi tertentu;
  2. memiliki indikator yang diurutkan berdasarkan urutan langkah kerja pada instrumen atau sistematika pada hasil kerja peserta didik;
  3. dapat mengukur kemampuan yang diukur (valid);
  4. dapat digunakan untuk menilai kemampuan peserta didik;
  5. dapat memetakan kemampuan peserta didik, dan
  6. disertai dengan penskoran yang jelas.

Pedoman Penilaian Keterampilan
Guru dapat berkolaborasi dengan siswa untuk menyusun gambaran umum rubrik dari instrumen penilaian yang dibuat. Sehingga siswa mengetahui kriteria kemampuan yang harus dicapai dalam pembelajaran. Kolaborasi dalam penyusunan rubrik diyakini dapat memotivasi siswa dalam belajar dan menghemat waktu guru untuk mengoreksi hasil kerja siswa. Tujuan penyusunan pedoman penilaian adalah agar siswa memahami dengan jelas dasar penilaian yang akan digunakan untuk mengukur suatu kinerja siswa.

Kedua pihak (guru dan siswa) akan mempunyai pedoman bersama yang jelas tentang tuntutan kinerja yang diharapkan. Rubrik diharapkan pula dapat menjadi pendorong atau motivator siswa dalam proses pembelajaran. Dalam setiap komponen pedoman penilaian terdiri dari satu atau beberapa dimensi. Setiap dimensi harus didefinisikan, supaya lebih jelas sebaiknya diberi contoh atau ilustrasi. Dimensi-dimensi kinerja inilah yang akan ditentukan mutunya atau diberi peringkat. Setiap kategori mutu sebaiknya diberi contoh-contoh kinerja agar mempermudah guru atau pemberi peringkat. Secara singkat scoring rubrik terdiri dari beberapa elemen, yaitu:

  1. Dimensi, yang akan dijadikan dasar menilai kinerja anak didik;
  2. Definisi dan contoh, yang merupakan penjelasan mengenai setiap dimensi;
  3. Skala yang akan digunakan untuk menilai dimensi;
  4. Standar untuk setiap katagori kinerja.

Rubrik penilaian biasanya dibuat dalam bentuk tabel dua lajur, yaitu baris yang  berisi kriteria dan kolom yang berisi mutu. Kriteria dapat dinyatakan secara garis besar. Kemudian dirinci menjadi komponen-komponen penting atau ditulis langsung tanpa dikelompokkan dalam garis besar. Rubrik dapat bersifat menyeluruh atau berlaku umum dan dapat juga bersifat khusus atau hanya berlaku untuk suatu topik tertentu. Rubrik yang bersifat menyeluruh dapat disajikan dalam bentuk holistic rubric. Rubrik holistik adalah pedoman untuk menilai berdasarkan kesan keseluruhan atau kombinasi semua kriteria. Serta dapat pula dalam bentuk analytic rubric, rubrik analitik adalah pedoman untuk menilai berdasarkan beberapa kriteria yang ditentukan. Dengan menggunakan rubrik ini dapat dianalisis kelemahan atau kelebihan siswa (Puspendik, 2015).

Fungsi atau kegunaan dari rubrik penilaian adalah sebagai berikut :

  1. rubrik menjelaskan deskripsi tugas;
  2. rubrik memberikan informasi bobot penilaian;
  3. siswa memperoleh umpan balik yang cepat dan akurat;
  4. penilaian lebih objektif dan konsisten;
  5. para siswa menjadi pembelajar aktif;
  6. para siswa memperoleh “content knowledge” dan “procedural knowledge“;
  7. para siswa dapat menilai kinerja kelompoknya sendiri;
  8. guru maupun siswa memperoleh alat refleksi yang efektif tentang proses pembelajaran yang telah berlangsung; dan sebagai alat atau pedoman penilaian kinerja atau hasil kerja siswa.

Dalam pengembangan rubrik, perlu diperhatikan beberapa langkah. Donna Szpyrka dan Ellyn B. Smith dalam Zainul dan Mulyana (2003) menyebutkan bahwa langkah-langkah pengembangan rubrik adalah sebagai berikut:

  1. Menentukan konsep, keterampilan, atau kinerja yang akan dinilai;
  2. Merumuskan atau mendefinisikan dan menentukan urutan konsep atau keterampilan yang akan diukur ke dalam rumusan atau definisi yang menggambarkan aspek kognitif dan aspek kinerja;
  3. Menentukan konsep atau keterampilan yang terpenting dalam tugas yang harus diukur;
  4. Menentukan skala yang akan dinilai;
  5. Mendeskripsikan kinerja mulai dari yang diharapkan sampai dengan kinerja yang tidak diharapkan (secara gradual). Deskripsi konsep atau keterampilan kinerja tersebut dapat diikuti dengan memberikan angka pada setiap gradasi atau memberi deskripsi gradasi;
  6. Melakukan uji coba dengan membandingkan kinerja atau hasil kerja dengan rubrik yang telah dikembangkan;
  7. Berdasarkan hasil penilaian terhadap kinerja atau hasil kerja dari uji coba tersebut
    kemudian dilakukan revisi terhadap deskripsi kinerja maupun konsep dan keterampilan yang akan dinilai;
  8. Memikirkan kembali tentang skala yang digunakan;
  9. Merevisi skala yang digunakan.

Ada dua tipe rubrik, yaitu holistik dan analitik. Rubrik dapat bersifat menyeluruh cakupan luas) atau bersifat khusus (hanya berlaku untuk suatu topik tertentu). Rubrik yang bersifat menyeluruh biasanya disajikan dalam bentuk holistik dan rubrik yang bersifat khusus biasanya dinyatakan dalam bentuk analitik. Nitko (1996) mengemukakan bahwa rubrik ada 3 jenis, yaitu :

  1. rubrik holistik, yaitu rubrik yang menilai proses secara keseluruhan tanpa adanya pembagian komponen secara terpisah,
  2. rubrik analitik, yaitu rubrik yang menilai proses secara terpisah dan hasil akhirnya adalah dengan menggabungkan penilaian dari tiap komponen, dan
  3. Holistik dengan catatan, yaitu rubrik untuk mendukung penilaian holistik karena di dalamnya disertai dengan catatan mengenai kekuatan dan keterbatasan dari proses yang sedang dinilai.

Berikut ini diberikan contoh rubrik holistik dan rubrik analitik.

Contoh Rubrik Holistik

ppg80

Contoh Rubrik Analitik

ppg81

Untuk mengelaborasi pemahaman kita tentang pedoman penilaian, dapat mencermati pedoman penilaian yang terdapat pada penilaian portofolio yang diterbitkan oleh Puspendik Kemdikbud di laman yang dapat di klik di sini!

Latihan
Untuk memperdalam pemahaman mengenai Kegiatan Belajar 3, mengembangkan Pedoman  Penilaian, kerjakanlah latihan berikut:

  1. Pedoman/rubrik penilaian dapat menggambarkan kriteria penilaian yang ajeg dan terbuka, jelaskan maksud pernyataan tersebut.
  2. Jelaskan bagaimana cara guru berkolaborasi dengan siswa dalam menyusun pedoman/rubrik penilaian.
  3. Bagaimana kesimpulan Anda terhadap beberapa ahli yang memberikan pengertian
    berbeda terhadap rubrik.
  4. Jelaskan bagaimana pedoman/rubrik penilaian soal HOTS disusun dengan baik.
  5. Susunlah rubrik penilaian dari instrumen yang telah Anda susun pada kegiatan belajar 2.

Rangkuman
Pedoman/rubrik penilaian terdiri dari beberapa elemen, yaitu :

  1. dimensi, yang akan dijadikan dasar menilai kinerja anak didik;
  2. definisi dan contoh, yang merupakan penjelasan mengenai setiap dimensi;
  3. skala yang akan digunakan untuk menilai dimensi;
  4. standar untuk setiap katagori kinerja.

Pedoman penilaian pengetahuan yang baik hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. memuat seperangkat indikator untuk menilai kompetensi tertentu;
  2. memiliki indikator yang diurutkan berdasarkan urutan langkah kerja pada instrumen atau sistematika pada hasil kerja peserta didik;
  3. dapat mengukur kemampuan yang diukur (valid);
  4. dapat digunakan untuk menilai kemampuan peserta didik;
  5. dapat memetakan kemampuan peserta didik, dan
  6. disertai dengan penskoran yang jelas

Rubrik dapat bersifat menyeluruh atau berlaku umum dan dapat juga bersifat khusus atau hanya berlaku untuk suatu topik tertentu. Rubrik yang bersifat menyeluruh dapat disajikan dalam bentuk holistic rubric. Rubrik holistik adalah pedoman untuk menilai berdasarkan kesan keseluruhan atau kombinasi semua kriteria. Serta dapat pula dalam bentuk analytic rubric, rubrik analitik adalah pedoman untuk menilai berdasarkan beberapa kriteria yang ditentukan.

Tes Formatif
Kerjakan Tes Formatif berikut ini:

  1. Jelaskan fungsi atau kegunaan pedoman penilaian dalam konteks kemandirian belajar siswa dan perbaikan pembelajaran oleh guru.
  2. Jelaskan berbagai variasi penggunaan pedoman penilaian agar dapat mengungkap
    dengan valid dan reliabel kemampuan siswa yang diasesmen.
  3. Susunlah sebuah rubrik analitik untuk menilai suatu unjuk kerja kelompok siswa yang bersifat HOTS.
  4. Susunlah pedoman penilaian dari instrument yang telah Anda susun pada soal Tes
    Formatif 2.

Refleksi

ppg82

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Pengembangan Pedoman Penilaian

  1. Pingback: Penyusunan Kisi-Kisi Instrumen – SDN 7 SUBAGAN

  2. Pingback: Laporan Diklat Dosen/Instruktur PPG| Hari III ~ 13 Mei 2020 Kelas 22 – SDN 7 SUBAGAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *