Pembimbingan Refleksi Pembelajaran

Penyegaran Calon Dosen/Instruktur PPG |Unit 4. Continuing Professional Development (CFD)

Fasilitator : Ahmad, PhD, dan Pamujo, M. Pd (Kemdikbud Dirjen GTK)

Daftar Isi Unit 4

  1. KB 1 Strategi Pembimbingan Pelaksanaan PTK
  2. KB 2 Pembimbingan Mengakses Sumber Belajar
  3. KB 3 Strategi Pembimbingan Refleksi Pembelajaran

KB 3 Strategi Pembimbingan Refleksi Pembelajaran

Refleksi pembelajaran merupakan dasar pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi seorang guru. Menurut Bowman (1989), refleksi diri merupakan elemen utama profesionalisme. Sepanjang karirnya, guru harus senantiasa melakukan refleksi yang merupakan faktor penting dalam melakukan inovasi dan revolusi pembelajaran (Loughran, 2005). Dengan melakukan refleksi, guru dapat mengidentifikasi kekurangan dan kemampuannya dalam pembelajaran. Selanjutnya. ia dapat menyusun rencana untuk memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kemampuannya. Hasil refleksi ini tentunya akan bermuara kepada siswa yang akan mengalami proses pembelajaran bersama gurunya.  Tiga unsur pengetahuan profesional yang sebaiknya selalu menjadi bahan refleksi diri guru, yaitu:

  1. Pengetahuan konten (content knowledge),
  2. Pengetahuan pedagogi (pedagogical knowledge), dan
  3. Pengetahuan pengemasan konten dalam pembelajaran bermakna (pedagogical content knowledge).

Refleksi ketiga unsur tersebut dapat menjadikan guru sebagai guru professional yang eflektif yang senantiasa melakukan pembenahan dalam kegiatan pembelajarannya. Harapannya, dengan melakukan refleksi, guru mendapatkan beberapa manfaat, yaitu

  1. menjadi guru yang lebih kreatif karena tidak tergantung kepada rutinitas mengajar yang hanya mengandalkan pengalaman mengajar sebelumnya dan tidak menyesuaikan dengan perubahan kondisi kelas,
  2. mengajar lebih terarah karena apa yang sudah dilakukan dianalisis dan dikaji ulang, serta direncanakan lebih baik, dan
  3. guru akan selalu mempertimbangkan faktor-faktor terkait dalam proses pembelajaran, seperti karakteristik siswa, kesiapan, minat mereka, dan kurikulum, sehingga akan menghasilkan kelas yang lebih efektif (McKay, 2002: 5)

Akan tetapi, dalam tataran praktisnya, refleksi pembelajaran tidak selalu menjadi agenda yang guru laksanakan baik secara individu maupun komunitas. Agenda guru secara individu sering kali terbatas pada administrasi dan pelaksanaan pengajaran. Demikian juga dengan agenda komunitas, seperti Kelompok Kerja Guru (KKG), yang seyogyanya sebagai tempat pengembangan keprofesian, belum memaksimalkan peranan refleksi untuk memecahkan permasalahan pembelajaran. Hal ini mencerminkan jika refleksi belum menjadi jantung Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi seorang guru.

Mengingat pentingnya refleksi pembelajaran terhadap pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi seorang guru, penting kiranya bagi mahasiswa PPG untuk mengetahui lebih mendalam mengenai konsep dasar refleksi pembelajaran dan bagaimana cara melakukan refleksi tersebut. Dalam hal ini, dosen/instruktur berperan penting dalam mendampingi mahasiswa PPG untuk melaksanakan refkleksi pembelajaran. Setelah mempelajari modul ini, dosen/instruktur dapat:

  1. Mendemonstrasikan pemahaman mereka tentang konsep dasar refleksi dalam
    pembelajaran
  2. Mendemontrasikan pemahaman mereka tentang bagaimana membimbing mahasiswa PPG  melaksanakan refleksi pembelajaran
  3. melakukan praktek pembimbingan mahasiswa dalam melakssanakan refleksi
    pembelajaran

Materi

Konsep Dasar Refleksi Pembelajaran
Secara sederhana, refleksi merupakan berpikir mendalam tentang apa yang telah dilakukan. Guru yang melakukan refleksi artinya guru yang berpikir mendalam tentang pembelajaran yang telah dilaksanakannya. Secara esensi, refleksi merupakan suatu kritik terhadap suatu praktik, nilai implisit dalam praktik tersebut, nilai personal, sosial, institusional, dan kebijakan yang lebih luas tempat praktik itu berlangsung, serta implikasi dari perbaikan praktik tersebut (Day, 1999). Artinya, guru yang reflektif akan senantiasa memikirkan kembali atau mengkritik pembelajaran yang telah dilakukannya, memikirkan cara untuk memperbaiki pembelajarannya dan memikirkan implikasi dari perbaikan pembelajaran itu.

Schon (1983) memperkenalkan dua macam proses refleksi yaitu refleksi on action dan in action. Refleksi on action adalah proses refleksi yang dilakukan setelah kejadian berlangsung, sedangkan refleksi in action adalah refleksi yang dilakukan selama kejadian masih berlangsung. Meskipun kedua macam proses refleksi diri tersebut perlu dilaksanakan dalam konteks pembelajaran, refleksi in action sering kali sulit dilaksanakan. Oleh karena itu, guru didorong untuk melaksanakan refleksi on action. Schon (dalam Wallace, 1991) memaparkan bahwa refleksi merupakan suatu proses yang berkelanjutan yang melibatkan received knowledge dan previous experiential knowledge. Received knowledge adalah pengetahuan tentang berbagai konsep, data, dan teori yang relevan dengan bidang yang diajarkan, serta pengetahuan tentang metodologi pengajaran sampai pengetahuan tentang penilaian pembelajaran. Sedangkan previous experiential knowledge adalah pengetahuan yang diperoleh selama mengajar. Kaitan antara kedua pengetahuan tersebut dengan refleksi oleh Wallace (1991) kemudian dikembangkan menjadi suatu model refleksi yang ia sebut sebagai reflective model yang dapat dilihat pada Gambar di bawah ini :

ppg73

Pada bagan di atas tampak adanya kaitan antara received knowledge dan previous experiential knowledge. Seorang guru dapat merefleksikan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan teori ke dalam kegiatan pembelajaran di kelas, dan begitu juga sebaliknya pembelajaran yang dilakukan dapat diletakkan dalam kerangka pengetahuan yang sudah diperoleh sebelumnya. Pengetahuan yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut baik dari teori dan penelitian, dan pengalaman guru kemudian diimplementasikan atau dipraktikkan dalam mengajar. Langkah selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan refleksi untuk mencapai tujuan, yaitu mencapai kompetensi professional.

Pembimbingan Mahasiswa PPG dalam Melaksanakan Refleksi Pembelajaran
Dalam upaya mendorong mahasiswa PPG untuk berlatih membiasakan proses refleksi dalam pembelajarannya, dosen/instruktur perlu memberikan pemahaman bahwa refleksi merupakan proses yang berkelanjutan. Guru yang telah mengajar berpuluh-puluh tahun tidak selalu menjadi guru reflektif. Bisa jadi dia sangat yakin dengan pembelajarannya selama ini, sehingga dia hanya mengajar tanpa melihat kembali proses pembelajaran yang telah dilaluinya. Demikian juga dengan guru baru. Bukan berarti pula jika dia bukan guru yang reflektif karena minimnya pengalaman yang dia miliki. Mungkin saja dia selalu menyempatkan diri untuk melakukan refkleksi. Oleh karena itu, mahasiswa PPG yang kelak menjadi guru diharapkan selalu merefleksikan pembelajarannya yang didasarkan pada dua jenis pengetahuan yang telah dijelaskan sebelumnya.

Selama tahapan perkuliahan, mahasiswa PPG diajak berlatih merefleksi pembelajaran dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif seperti:

  1. Apakah siswa:
    a. memahami apa yang saya ajarkan
    b. merasa senang selama proses pembelajaran
    c. merasa terlibat dalam pembelajaran
    d. mendapatkan pengetahuan baru
  2. Apakah saya:
    a. selalu mendengarkan siswa-siswa saya
    b. mengajar sesuai dengan perencaanaan
    c. memihak kapada semua siswa dalam proses pembelajaran
    d. menemukan hal-hal yang perlu saya perbaiki dalam pembelajaran
  3. Bagaimanakah saya:
    a. berupaya memperbaiki proses pembelajaran
    b. merencanakan perbaikan pembelajaran
    c. meningkatkan pengetahuan saya sudah cukup untuk mengajarkan bahasan ini , dan masih banyak lagi.

Perlu disadari bahwa melakukan refleksi tidak mudah. Oleh karena itu, untuk membantu mahasiswa PPG, dosen/instruktur dapat membimbing mahasiswa dalam melaksanakan refleksi dengan empat langkah sederhana seperti yang York-Barr, dkk (Lang & Wong, 2009: 239- 240) ajukan dalam melakukan refleksi. Masing-masing langkah dilengkapi dengan pertanyaan bantuan. Keempat langkah tersebut dijelaskan sebagai berikut.

  1. Langkah 1: Apa yang sudah terjadi? (Deskripsi permasalahan)
    a. Apa yang sudah saya kerjakan? Apa yang orang lain sudah kerjakan?
    b. Apa yang terjadi disekitar kita?
  2. Langkah 2: Mengapa permasalah tersebut dapat terjadi? (Analisis dan Interpretasi)
    a. Mengapa saya memilih tindakan tersebut?
  3. Langkah 3: So what? (Pemaknaan dan penerapan secara menyeluruh)
    a. Apa yang sudah saya pelajari dari peristiwa yang terjadi?
    b. Bagaimana peristiwa tersebut dapat mengubah cara berpikir, bersikap dan
    berinteraksi?
    c. Apakah memang saya perlu melakukan refleksi?
    d. Masih adakah pertanyaan-pertanyaan lain yang harus saya pikirkan?
  4. Langkah 4: Sekarang apa yang harus saya lakukan? (Implikasi untuk tindakan)
    a. Bagaimana saya harus bersikap untuk mengatasi masalah tersebut?
    b. Jika suatu saat peristiwa tersebut terjadi, apa yang harus saya ingat dan lakukan?
    c. Apakah saya perlu melibatkan orang lain untuk merefleksi peristiwa tersebut?

Selain langkah-langkah sederhana untuk melakukan refleksi, dosen/instruktur perlu
menyampaikan kepada mahasiswa PPG bahwa pada dasarnya, guru dapat merefleksi pembelajaran dengan mempelajari apa yang terjadi selama pembelajaran berlangsung dengan melakukan langkah-langkah seperti penelitian sederhana yaitu:

  1. menemukan dan mengidentifikasi masalah yang terjadi di kelas,
  2. mencari penyebabnya,
  3. mencari informasi yang menjadi sumber permasalahan,
  4. mengkaji permasalahan dan sumber permasalahan untuk dicari solusinya, dan
  5. mencari solusi untuk permasalahan tersebut.

Langkah-langkah tersebut dapat dituangkan ke dalam jurnal harian guru. Ketika guru sudah terbiasa melakukan langkah-langkah tersebut dan menuangkannya ke dalam jurnal, artinya guru tersebut telah melakukan refleksi pembelajaran. Jurnal yang ditulis pleh guru tersebut disebut sebagai jurnal reflektif.  Ketika mahasiswa PPG sudah mengetahui langkah-langkah sederhana untuk melakukan refleksi, mahasiswa perlu memahami sampai sejauh mana dia dapat melakukan refleksi. Diantaranya adalah dengan mengetahui level refleksi yang telah dilakukan.

Terdapat dua pendekatan penilaian refleksi yang Sandars (2009) ajukan, yaitu dengan pendekatan berdasarkan tahapan dalam perkembangan professional dan pendekatan pragmatis yang masing-masing dapat dijelaskan seperti berikut ini. Tingkatan refleksi dengan pendekatan berdasarkan tahapan dalam perkembangan professional seperti pada tabel berikut:

Tingkatan refleksi dengan pendekatan berdasarkan tahapan dalam perkembangan professional (Sandars, 2009) seperti tabel di bawah ini :

ppg74

Pendekatan berikutnya adalah pendekatan pragmatis yang memiliki beberapa tingkatan atau grade seperti terlihat pada tabel berikut

Tabel  Tingkatan refleksi berdasarkan pendekatan pragmatis (Sandars, 2009)

ppg75

Ketika mencermati tingkatan refleksi berdasarkan dua pendekatan ini, mahasiswa PPG dapat dibimbing untuk menuliskan refleksi pembelajarannya atau menulis jurnal reflektif dengan bantuan tabel berikut ini:

Format penulisan jurnal reflektif

ppg76

Pada bagian deskripsi, mahasiswa PPG menggambarkan kegiatan pembelajaran secara komprehensif mulai dari awal sampai akhir pembelajaran. Berikutnya pada bagian pikiran dan rasa, mahasiswa PPG menuliskan apa yang dipikirkan dan dirasakan saat pembelajaran. Pada bagian evaluasi, mahasiswa PPG menyampaikan penilaian mereka mengenai peristiwa atau kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Penilaian ini ditulis untuk mengetahui apakah pembelajaran berjalan lancar atau sudah sesuai dengan rencana pemnbelajaran. Berikutnya, mahasiswa menuliskan hasil analisis mengenai kegiatan atau peristiwa yang mungkin terjadi diluar rencana dan menuliskan informasi yang mugkin menjadi penyebab peristiwa tersebut. Berikutnya mahasiswa membuat kesimpulan berdasarkan kajian peristiwa sebelumnya. Pada bagian akhir, mahasiswa PPG menulis rencana aksi atau kegiatan yang bisa dilaksanakan ke depan dan untuk mengantisipasi kejadian atau peristiwa yang sama di masa mendatang.

Dengan format tersebut, mahasiswa dapat terbantu dalam melaksanakan refleksi pembelajaran dan menulis jurnal reflektif. Harapannya, dengan berlatih bagaimana melakukan refleksi, menulis jurnal reflektif dan menilai refleksi yang telah dilakukan dapat menumbuhkan budaya refleksi bagi mahasiswa PPG yang kelak akan menjadi guru. Bahkan, dalam perjalanannya refleksi diharapkan selalu menjadi terapi untuk memperbaiki pembelajaran seorang guru sehingga dia benar-benar menjadi guru reflektif.

Lembar Kerja
Bapak dan Ibu dosen/instruktur, setelah membaca materi mengenai refleksi pembelajaran, bersama rekan anda, kerjakan LK 1 dan LK 2 untuk mempertajam pemahaman Anda.

1) LK1

ppg77

2) LK 2

ppg78

Rangkuman
Sebagai dasar Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, refleksi seharusnya menjadi agenda penting bagi seorang guru. Refleksi dapat diupayakan dan dibiasakan. Oleh karena itu, mahasiswa PPG yang kelak menjadi guru harus memiliki bekal bagaimana melakukan refleksi pembelajaran. Selain itu, mahasiswa PPG juga perlu memahami sampai sejauh mana dia dapat melakukan refleksi. Diantaranya adalah dengan mengetahui level refleksi yang telah dilakukan, diantaranya dengan menggunakan pendekatan berdasarkan tahapan dalam perkembangan professional dan pendekatan pragmatis. Akhirnya, kemampuan mahasiswa PPG dalam melaksanakan refleksi pembelajaran, menulis jurnal reflektif, dan menilai tingkat refleksi pembelajaran dapat mendorong mahasiswa menjadi calon guru reflektif sebagai langkah awal mereka dalam merancang Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan.

Res Formatif
Untuk semakin mempertajam pemahaman Anda mengenai materi ini, jawablah pertanyaanpertanyaan berikut:

  1. Mengapa saat ini refleksi belum menjadi budaya atau terapi guru dalam memperbaiki pembelajarannya?
  2. Menurut Anda, refleksi pembelajaran seperti apakah yang efektif?
  3. Bagaimanakah pemahaman mahasiswa PPG tentang penilaian tingkat refleksi pembelajaran dapat berkontribusi terhadap kemampuan mereka dalam melaksanakan pembelajaran?
  4. Jika saat ini Anda dihadapkan dengan guru senior yang tidak pernah melakukan refleksi, apa yang akan anda sampaikan?
  5. Jika saat ini Anda dihadapkan dengan guru junior yang tidak pernah melakukan refleksi, apa yang akan anda sampaikan?

Refleksi

ppg79

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

1 Response to Pembimbingan Refleksi Pembelajaran

  1. Pingback: Laporan Diklat Dosen/Instruktur PPG |Hari IV ~ 14 Mei 2020 Kelas 22 – SDN 7 SUBAGAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *