Pembimbingan Mengakses Sumber Belajar

Penyegaran Calon Dosen/Instruktur PPG |Unit 4. Continuing Professional Development (CFD)

Fasilitator : Ahmad, PhD, dan Pamujo, M. Pd (Kemdikbud Dirjen GTK)

Daftar Isi Unit 4

  1. KB 1 Strategi Pembimbingan Pelaksanaan PTK
  2. KB 2 Pembimbingan Mengakses Sumber Belajar
  3. KB 3 Strategi Pembimbingan Refleksi Pembelajaran

KB 1 Pelaksanaan Pembimbingan PTK

Pelaksanakan Continuing Professional Development (CPD) bagi guru merupakan sebuah keniscayaan. Untuk tetap menjaga eksistensi dan profesionalitasnya guru harus senantiasa mengembangkan dirinya. Pengembangan diri dalam berbagai bidang apapun selalu dilakukan melalui proses belajar. Oleh karena itu dalam banyak kajian budaya, aktivitas belajar merupakan aktivitas inti dari bangunan kebudayaan manusia. Berdasarkan pandangan tersebut maka cara terbaik bagi guru untuk mengembangkan dirinya yaitu dengan belajar sepanjang hayat, sepanjang karir keprofesiannya dijalani. Pemahaman mengenai belajar sepanjang hayat bagi guru tersebut penting juga ditanamkan dalam diri mahasiswa PPG. Belajar bagi semua profesi tidak berhenti hanya
sampai ketika sertifikat keprofesian diperoleh, namun terus berkesinambungan sampai ia mengakhiri karir keprofesiannya, bahkan sampai akhir kehidupannya.

Logika dasar pentingnya untuk selalu belajar adalah bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini terjadi semakin cepat. Perubahan seolah menjadi kebiasaan dalam kehidupan. Artinya, jika seseorang yang menyandang sebuah profesi tertentu enggan belajar, maka ia akan tertinggal oleh perkembangan dan perubahan dalam dunia keprofesiannya. Pada saat keilmuan dasar profesinya dianggap usang, maka dia akan ditinggalkan dan tidak mendapat tempat lagi dalam kehidupan sosial masyarakat.  Seiring perkembangan jaman, pengembangan diri guru dengan selalu belajar dapat dilakukan dengan berbagai strategi dan gaya belajar yang fleksibel.

Baca Juga

  1. Strategi Penyusunan Kisi-Kisi Instrumen
  2. Strategi Refleksi Pembelajaran
  3. Manfaat Feedback Pembelajaran dari Siswa
  4. Pengembangan Leadership Skill Guru Pemula
  5. Menjadi Guru Mempesona
  6. Penyusunan Perangkat Pembelajaran Berbasis TPACK
  7. Strategi Perencanaan Refleksi
  8. Peer Teaching
  9. Konsep Evaluasi Pembelajaran
  10. Mengembangkan Bahan Ajar
  11. Merancang Langkah Pembelajaran
  12. Mengembangkan Indikator dan Tujuan Pembelajaran
  13. Praktik Keprofessionalan Mengajar
  14. Praktik Keprofessionalan Non Mengajar
  15. Platform LMS Moodle & Big Blue Button

Pesatnya perkembangan teknologi informasi telah membuka beragam kemungkinan dalam belajar. Sumber-sumber belajar baru banyak bermunculan di situs-situs daring. Sumber tersebut dikemas dalam berbagai format, sesuai selera dan gaya belajar yang kita inginkan. Sumber-sumber belajar ini tidak hanya bermanfaat bagi peningkatan pengetahuan dan ketrampilan guru, namun juga bermanfaat bagi pembelajaran siswa di kelas yang saat ini merupakan generasi Z.  Generasi Z adalah generasi yang lahir setelah tahun 1995 dan dibesarkan dalam lingkungan yang berteknologi maju dan masa digital (Ensari, 2017; Dolot, 2018).  Karakteristik dan preferensi generasi ini jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Hal inilah yang menjadi dasar bagi mahasiswa PPG yang kelak menjadi guru profesional untuk menentukan sumber dan media belajar yang terbaru dan tepat dengan kondisi mereka yang tentunya sangat terkait dengan penggunaan teknologi.

Sejalan dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat, akses guru terhadap sumber dan model belajar terbaru menjadi semakin mudah dan luas. Untuk mencari sumber belajar,
guru dapat memanfaatkan teknologi modern, seperti website dan aplikasi pembelajaran selain sumber belajar konvensional yang selama ini dipakai. Selain itu, pemanfaatan teknologi untuk mengakses model belajar terbaru yang disesuaikan dengan kondisi siswa dan lingkungan menjadi sangat mudah dilakukan.  Selain keragaman sumber belajar, di dalam laman daring juga banyak tersedia rujukan model belajar yang terkini. Dengan adanya kebaruan model belajar ini tentunya bermanfaat bagi guru ketika ingin mengembangkan variasi manajemen kelas yang diampunya.

Peningkatan penguasaan keragaman dalam mengelola kelas inilah yang tentunya dapat berdampak besar bagi keberhasilan belajar siswa, dan berdampak juga bagi peningkatan keterampilan guru. Tentunya, keterampilan dan keluwesan mahasiswa PPG yang nantinya akan menjadi seorang guru menjadi sangat diperlukan untuk mengakses sumber dan model belajar terbaru. Dosen/instruktur memiliki peranan penting dalam membimbing mahasiswa PPG untuk mencari, menentukan, bahkan merefleksi sumber dan model belajar terbaru. Berikut ini kita diskusikan mengenai sumber belajar dan model belajar terbaru berbasis perkembangan teknologi informatika dan komputer, yang dapat menjadi rujukan mahasiswa PPG untuk merintis CPD.

Setelah melaksanakan kegiatan belajar ini, dosen/instruktur dapat:

1. Memdemonstrasikan pemahaman mereka tentang sumber belajar berbasis TIK
2. Membimbing mahasiswa PPG dalam mengakses sumber belajar berbasis TIK
3. Memdemonstrasikan pemahaman mereka tentang model pembelajaran berbasis TIK
4. Membimbing mahasiswa PPG dalam mengakses model pembelajaran berbasis TIK

Materi

Sumber Belajar Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada siswa dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan dalam proses belajar (Mulyasa, 2004). Artinya, segala hal segala hal yang dapat digunakan untuk memudahkan siswa belajar dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Yusuf (2004) mengungkapkan bahwa sumber belajar dapat berupa pesan, orang, bahan, alat, tehnik, dan lingkungan baik yang sudah tersedia maupun yang sengaja dirancang untuk pembelajaran.

Pemilihan sumber belajar yang tepat menjadi agenda penting bagi seorang guru mengingat sumber belajar dapat menjadi bagian yang menentukan keberhasilan proses
pembelajaran. Salah satu kriteria dalam pemilihan sumber belajar yang tepat adalah dengan memperhatikan karakteristik siswa. Mengingat saat ini siswa merupakan generasi Z yang sangat erat kaitannya dengan teknologi, maka sumber belajar yang dirancang dengan memanfatkan teknologi menjadi penting untuk dilakukan. Harapannya, dengan memanfaatkan teknologi siswa memiliki pengalaman belajar yang sesuai dengan minat dan preferensinya. Akses terhadap sumber belajar yang memanfaatkan teknologi informasi sangat mudah saat ini dengan koneksi internet, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Google
Sebuah perkembangan teknologi digital daring yang revolusioner dan berpengaruh kuat pada budaya belajar masyarakat Indonesia khusus dan dunia pada umunya adalah kehadiran mesin pencari (search engine) yang bernama Google. Sebagai sebuah perusahaan, Google awalnya didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin, dua mahasiswa doktoral di Universitas Stanford. Kini perusahaan yang bergerak dibidang layanan komputasi daring ini telah berkembang pesat, dan menjadi salah satu situs yang paling banyak dikunjungi dan paling berpengaruh di dunia.

Sistem kerja situs google sebagai mesin pencari adalah menyediakan link/tautan menuju berbagai informasi yang ingin diketahui oleh seseorang. Efektivitas, kecepatan, dan efisiensi pencarian inilah yang membuat google banyak digunakan oleh pengguna internet yang membutuhkan informasi tertentu. Selain google sebenarnya masih banyak mesin pencarian lain di internet seperti Yahoo, Bing, Duckduckgo dan lainnya. Namun karena kapasitas server yang besar dan kecepatan akses memori yang mumpuni membuat googlelebih banyak digunakan oleh pencari informasi. Besarnya server dan kecepatan akses inilah yang berpengaruh pada kelengkapan dan kecepatan hasil pencarian.

Popularitas google sebagai mesin pencarian akhirnya memunculkan idiom di masyarakat Indonesia yaitu “tanya mbah Gugel”. Idiom tersebut mewakili perilaku masyarakat yang dalam setiap usaha untuk menemukan informasi apapun dilakukan degan mengetik kata kunci di kotak pencarian google lalu menunggu berbagai link yang
muncul untuk ditelusuri dan dipelajari lebih lanjut. Perilaku mencari informasi adalah perilaku dasar manusia dalam belajar. Dengan demikian tidak ada yang salah sebenarnya degan idiom ‘tanya mbah Gugel’. Namun demikian aspek penting yang perlu diperhatikan bahwa google tidak memiliki kapasitas untuk membuat pembedaan mengenai informasi yang dianggap baik atau buruk bagi masyarakat. Aspek etis tidak menjadi tanggung jawab google sehingga tautan informasi apapun akan ditampilkan dan disajikan, kecuali pemegang kebijakan di suatu negara meminta kepada google untuk membatasi pencarian berdasarkan kata kunci tertentu.

Meningkatnya akses pada mesin pencari seperti google memperlihatkan bahwa semangat masyarakat untuk belajar tumbuh dengan baik. Rasa keingintahuan yang tumbuh dalam diri seseorang disambut dan dilayani dengan baik oleh mesin pencari. Mencermati hal ini, maka kehadiran mesin pencari (search engine) bagi dunia pendidikan memiliki manfaat sangat besar. Sudah umum saat ini para guru menugaskan kepada para siswanya untuk menelusuri sumber-sumber informasi dalam jaringan.

Dalam menelusuri informasi tersebut maka para siswa sudah terbiasa menggunakan mesin pencari, utamanya google.  Berdasarkan kenyataan di atas, maka mahasiswa PPG tentunya harus terus mengikuti perkembangan budaya pendidikan yang bersinergi dengan perkembangan teknologi informasi tersebut. Mahasiswa PPG hendaknya selangkah lebih maju dibanding para siswa yang akan diajar nanti di sekolah. Oleh karena itu pengembangan keprofesian yang dirintis dan dipraktikan para mahasiswa PPG harus menyentuh pada literasi teknologi informatika dan komunikasi (TIK). Untuk memetakan kemampuan  literasi TIK tersebut maka dosen/instruktur dapat memulai dengan meminta mahasiswa mengeksplorasi tips dan trik dalam menggunakan mesin pencari, paling tidak tips dan trik dalam google search engine.

Dalam memetakan dan mengembangkan penguasaan search engine, dosen/instruktur dapat meminta mahasiswa untuk mencoba berbagai macam fitur dan langkah pencarian. Sebagai contoh dosen/instruktur dapat meminta mahasiswa membuat tabel seperti berikut ini:

Tabel Format pencarian dan hasil pencarian

ppg69

Mahasiswa diminta menuliskan langkah kerja dan deskripsi hasil yang  didapatkan. Penugasan eksplorasi pencarian dengan search engine ini juga bisa dibalik formatnya, misalnya dosen/instruktur meminta mahasiswa membuat deskripsi efek dari pencarian, jika di dalam pencarian ditambahkan karakter tertentu seperti tanda kutip, titik dua, tanda minus, tanda plus dan sebagainya. Mahasiswa juga dapat diberi tugas untuk mengumpulkan sumber belajar dalam berbagai format melalui pencarian di search engine. Kemahiran menggunakan search engine akan berdampak pada keragaman sumber informasi yang diperoleh.

2. Google Maps
Selain search engine, google juga menyediakan layanan lain yang penting dalam  dinamika kehidupan masyarakat saat ini yaitu layanan map (pemetaan). Dengan layanan ini, seeorang dapat mencari informasi mengenai posisi seseorang atau letak suatu tempat secara real time. Posisi atau letak tersebut dapat dibagikan kepada orang lain dengan  membagikan link yang memuat informasi koordinat lintang dan bujur. Hal inilah yang membuat seseorang dengan mudah menuju ke suatu tempat tanpa harus bertanya-tanya kepada orang lain. Di dalamnya juga memuat saran rute, jarak, dan estimasi waktu tempuh. Berdasarkan layanan ini, dosen/instruktur dapat menggali wawasan mahasiswa apakah mereka sudah mahir menggunakan google map. Bila memang sudah mahir, mahasiswa dapat dimintai gagasan perihal bagaimana google map dapat digunakan sebagai sumber atau media belajar bagi siswa. Mata pelajaran apa saja yang mungkin dapat menggunakan google map sebagai sumber belajar, dan bagaimana rancangan pembelajaran menggunakan google map.

Layanan map dikembangan oleh google menjadi layanan yang semi riil yakni dengan fasilitas street view. Dengan street view seseorang dapat berkunjung ke suatu koordinat di dalam map. Selanjutnya dapat dilihat kenampakan lokasi tersebut dalam bentuk foto diam (still photo). Foto kenampakan lokasi ini bahkan dapat memperlihatkan ruang melingkar hingga 360°. Dengan street view, semua orang saat ini memiliki kemungkinan untuk brkunjung ke suatu tempat, wilayah, atau lokasi yang diinginkan, misal sebuah situs bersejarah atau obyek wisata terkenal, untuk selanjutnya melihat pemandangan di tempat tersebut dari foto-foto yang ada. Dalam pendampingan menuju pengembangan keprofesian, dosen/instruktur dapat meminta mahasiswa mengembangkan gagasan perihal kemungkinan penggunaan street view dalam pembelajaran. Bagaimana rancangan penggunaanya, bagaimana penerapannya, dan mata pelajaran apa yang sekiranya dapat diperkaya sumber belajarnya dengan street view ini.

Google Mail (Gmail)
Sebagai perusahaan penyedia layanan komputasi, google juga menyediakan berbagai fitur layanan cloud computation (komputasi angkasa). Salah satu layanan yang penting dan banyak dikenal adalah layanan perpesanan dengan situs gmail, singkatan dari google mail. Layanan gmail memberikan kemudahan bagi pengguna untuk saling berbagi pesan dan melampirkan berkas (file) dalam pesannya, dengan berbagai format file. Mahasiswa PPG tentu sudah sangat mengenal layanan perpesanan gmail.

Keuntungan memiliki akun perpesanan dalam gmail selain berbagi pesan adalah layanan komputasi lain yang terintegrasi yang dinamakan google suite (G-Suite).  Layanan menarik G-Suite yang disediakan untuk pemilik akun gmail adalah penyimpanan data dalam fitur google drive. Dengan fitur ini pemilik akun dapat menyimpan datanya di sistem server google. Data yang tersimpan tersebut terjamin keamanannya karena untuk masuk dan mengakses diperlukan ijin dari pemilik akun.

Melalui layanan google drive ini mahasiswa dapat belajar perihal pengelolaan big data dan mengembangkan kinerja kolaboratif berbasis cloud computation. Kinerja kolaboratif dapat dilakukan dengan sharing akses dan mengerjakan sebuah berkas secara bersama-sama oleh beberapa orang yang diijinkan. Proses perkembangan dan perubahan dalam penyuntingan berkas tersebut dapat terjadi secara sinkronis dan real
time. advance diminta membuat soal kuis untuk peserta didik berdasarkan materi pelajaran yang sudah atau akan diajarkan. Dosen/instruktur dapat memeriksa hasil kinerja mahasiswa menerapkan google form dengan meminta link formulir yang telah dibuat untuk dikunjungi dan direview.

Blog
Selain layanan komputasi berbasis daring yang dikembangkan oleh google, produk teknologi daring lainnya yang dapat menjadi sumber belajar bagi mahasiswa adalah blog. Di dalam blog seseorang dapat berbagi bermacam informasi dan pengetahuan dalam bentuk teks tertulis maupun gambar, audio hingga video. Blog ini semacam ‘rumah’ di dunia maya, yang di dalamnya pemilik blog dapat mengembangkan informasi berdasarkan interes mereka terhadap bidang-bidang tertentu. Tidak jarang seorang blogger (sebutan untuk aktivis blog) dikenal masyarakat luas dan diakui keahliannya di bidang tertentu karena keaktifannya dalam berbagi informasi di blog.

Hingga kini telah banyak blogger yang memiliki minat pada bidang pendidikan, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Blog dapat menjadi sumber belajar, namun perlu untuk memeriksa validitas informasi yang ada di blog dengan lebih hati-hati. Kemudahan dalam membuat blog dan keterbukaan sumber telah membuat banyak blogger melakukan duplikasi blog lain dengan tidak bertanggungjawab. Proses ini menyebabkan validitas sumber utama informasi yang ada di blog menjadi rendah. Untuk mendapatkan informasi yang valid, mahasiswa dapat diarahkan oleh dosen/instruktur untuk mengunjungi blog yang benar-benar ditulis oleh pakar pendidikan dengan identitas penulis yang jelas, alamat blog dengan domain yang jelas, dan karya tulisan yang berkesinambungan. Blog yang demikian ini umumnya dibingkai oleh domain lembaga pendidikan dengan alamat misalnya ac.id, edu., atau sch. Namun demikian ada juga blog dengan domain umum dan bebas biaya seperti wordpress atau blogspot yang menyajikan inromasi menarik, valid, dan berkesinambungan. Intinya adalah kehati-hatian memeriksa sumber yang dirujuk dari blog.  Sumber belajar digital di dunia daring juga dapat mengambil dari media massa umum dalam bentuk e-newspaper. Bentuk informasi ini mirip dengan media massa mainstream seperti harian umum, tabloid, majalah, radio streaming, dan berita video streaming namun dikemas dan disajikan melalui jaringan internet. Beberapa e-news ada yang berbayar, namun umumnya tidak berbayar karena usaha finansial media massa tersebut sudah didukung oleh iklan produk. Sebagai sumber belajar, e-news ini menyediakan informasi yang berkaitan dengan dengan fenomena dan kondisi terkini dalam lingkup lokal, regional, nasional, maupun internasional. Penugasan dosen/instruktur yang dapat dilakukan untuk membuka wawasan pengembangan keprofesian bagi mahasiswa misalnya meminta mahasiswa PPG mendiskusikan isu-isu pendidikan terkini yang muncul di berbagai media massa tersebut.

Kamus dan Buku Digital
Perkembangan sumber belajar lain di era digital adalah teknologi kamus digital (digital dictionary). Terdapat banyak software kamus yang dapat diunduh dan digunakan secara offline (luar jaringan) di komputer. Namun saat ini google sudah mengembangkan versi online kamus dalam bentuk translator. Ketersediaan kamus dan translator multi bahasa ini menjadi peluang bagi mahasiswa untuk dapat mempelajari berbagai informasi dari berbagai negara. Perbedaan bahasa sudah bukan lagi menjadi kendala dalammemperbaharui informasi atau pengetahuan.

Digitalisasi sumber belajar juga terjadi pada buku. Saat ini memang buku cetak konvensional masih banyak beredar, namun bersamaan dengan itu buku-buku dalam bentuk soft file digital (tidak dicetak) juga semakin banyak diproduksi. Produk buku digital tersebut lazim disebut dengan e-book. Beragam e-book banyak terdistribusi secara daring di internet, mulai dari buku teks ilmiah, buku pelajaran, novel, hingga komik. Akses dan cara memiliki buku tersebut ada yang melalui cara berbayar, ada juga yang gratis. Jika dapat menelusuri dengan intensif maka buku-buku ilmiah lama yang banyak menjadi rujukan, yang sebelumnya langka dan hanya terdapat dalam versi cetak
dapat ditemukan dalam bentuk file digital.  Ekstension (format) file e-book ini umumnya pdf, namun ada juga yang versi epub. Dulu e-book hanya dapat dibaca menggunakan gawai khusus seperti komputer dan alat khusus yang dinamakan e-book reader. Namun kini file e-book dapat dibaaca menggunakan smartphone. Mengingat pentingnya e-book bagi pengembangan keprofesian guru, maka dosen/instruktur dapat meminta mahasiswa untuk mengeksploarsi pencarian e-book utamanya yang berkaitan dengan pendidikan seperti teori belajar, model-model pembelajaran, panduan evaluasi, dan sebagainya. Penugasan membaca dan mereview isi e-book dari sumber berbahasa asing tentunya menjadi penugasan yang menantang bagi mahasiswa PPG.

Online Journal
Perkembangan ilmu pengetahuan yang berlangsung cepat sebagai hasil dari penelitian yang berkelanjutan, mendorong komunitas akademik menyiapkan ruang diseminasi hasil-hasil penelitian tersebut. Salah satu wahana diseminasi yang penting adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan berkala. Saat ini jurnal ilmiah sudah dikemas secara digital dan dapat diakses secara daring, yang biasa dinamakan online journal. Banyak sekali online journal yang diterbitkan oleh berbagai komunitas akademik di seluruh dunia. Sekian banyak jurnal tersebut memiliki kualitas yang berbeda-beda. Perbedaan kualitas utamanya terletak pada kualitas artikel yang diterbitkan, yang telah memenuhi berbagai syarat akademis seperti adanya masalah yang urgen atau menarik, metodologi yang jelas, validitas data, ketajaman analisis, dan kontribusi teoritik maupun praktik bagi disiplin keilmuan tertentu.

Dengan perbedaan kualitas jurnal tersebut maka diperlukan seleksi agar pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang terpercaya. Strategi seleksi yang termudah untuk memperoleh jurnal online yang terpercaya yaitu dengan mendasarkan pada sistem indeks jurnal. Jurnal-jurnal yang diindeks oleh institusi pengindeks terpercaya maka kualitasnya juga terpercaya. Lembaga pengindeks jurnal online dari luar negeri yang saat ini berkualifikasi terpecaya adalah Scopus, Thomson Reuters, Atlantis, Web of Science dan beberapa yang lain. Sedangkan di Indonesia lembaga
pengindeks hasil penelitian yaitu Sinta yang dikembangkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Berdasarkan perkembangan kualitas jurnal online, maka mahasiswa PPG dapat diarahkan untuk memperbaharui wawasan di bidang pendidikan  dengan membaca dan mereview jurnal online yang terindeks oleh lembaga pengindeks terpercaya.

YouTube
Keragaman sumber belajar digital berbasis TIK berkembang dalam berbagai format, dari bentuk sumber berupa teks ke format lain seperti audio, visual, dan video (audio-visual). Sumber belajar tersebut dengan mudah dapat ditemukan dengan eksplorasi daring dalam internet. Penyedia layanan berbagi video yang saat ini sangat terkenal di internet dengan nama YouTube merupakan sumber belajar penting dalam bentuk audio visual. Situs yang didirikan oleh Chad Hurley, Steven Chen, dan Jawed Karim ini kini menjadi pusat pertukaran informasi audio-visual yang sangat cepat dan padat di dunia maya. Situs YouTube menyediakan berbagai kemasan video seperti video hiburan, video dokumenter, video tutorial (pengajaran), hingga video pemberitaan.

Seperti halnya wikipedia, berbagai unsur budaya menjadi material utama dalam video
yang diarsipkan oleh YouTube.  Dengan bebasnya ragam informasi yang dikemas dan kemudian diunggah ke Youtube menjadikan video di dalam situs ini perlu diseleksi jika kita ingin menggunakannya sebagai sumber belajar. Video-video tutorial dan video dokumenter merupakan kemasan video yang layak untuk dijadikan sumber belajar. Namun demikian, karena latar belakang pembuat video yang beragam, maka seleksi atas keluasan, kedalaman, dan kepantasan material video untuk menjadi sumber belajar perlu dilakukan dengan lebih hati-hati. Selain YouTube, sebenarnya masih ada situs berbagi video lain yang dapat ditemukan melalui daring internet seperti misalnya Vimeo, DailyMotion, dan Metacafe. Seleksi konten berdasarkan kebutuhan dan kepantasan menjadi dasar utama dalam menjadikan situs-situs tersebut sebagai sumber belajar.

Model Belajar Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
Pengembangan keprofesian yang dirintis oleh mahasiswa PPG idealnya seiring sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, selain memperbaharui pengetahuan dan keterampilan yang berlandaskan pada kebaruan sumber belajar, mahasiswa juga penting memperbaharui wawasan penguasaan kelas berbasis perkembangan TIK. Dengan perkembangan TIK, terbuka berbagai kemungkinan cara interaksi pembelajaran antara guru dan siswa. Hal tersebut akhirnya mendorong munculnya berbagai model pembelajaran yang tujuannya mengelola kelas, dengan cara interaksi yang lebih fleksibel memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Pemanfaatan TIK untuk pembelajaran dapat dilakukan dalam dua cara. Pertama, TIK dimanfaatkan sebagai sumber belajar, dan kedua, TIK dimanfaatkan untuk mengelola interaksi pembelajaran. Pada cara yang pertama, guru mengelola kelas dan menggunakan sumber belajar yang diperoleh dari sumber-sumber daring. Penerapan cara ini pada mahasiswa PPG dapat dilakukan dengan meminta mahasiswa menyusun rancangan pengelolaan kelas untuk menerapkan satu model tertentu. Di dalam rancangan tersebut mahasiswa sebagai guru dapat membimbing dan memfasilitasi siswa di kelasnya untuk mencari pengetahuan dari berbagai sumber di internet yang telah dijelaskan di sub bab sebelumnya.

Ilustrasi simulasi penerapan model di atas dapat dilakukan misalnya guru dalam praktik pembelajarannya menerapkan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning). Pada langkah pemecahan masalah guru mengorganisasi siswa untuk belajar dan membimbing penyelidikan. Dalam penyelidikan ini siswa diminta mengakses berbagai sumber di internet yang berkaitan dengan masalah tersebut. Selanjutnya siswa
diminta mengetengahkan pemecahan masalah yang mungkin dilakukan setelah mempelajari berbagai sumber. Langkah terakhir guru dan siswa bersama-sama mengevaluasi kelemahan dan kelebihan pemecahan masalah yang diajukan oleh siswa.

Ilustrasi kedua misalnya mahasiswa sebagai guru merancang pengelolaan kelas menggunakan model pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Setelah guru menyajikan pertanyaan esensial maka siswa diminta untuk mendesain perencanaan proyek yang akan dibuatnya. Setelah perencanaan dan penjadwalan pembuatan proyek siap maka guru meminta siswa mulai berproses menyelesaikan karya yang akan dibuatnya. Karya yang dibuat bisa berupa karya mandiri atau karya yang melibatkan banyak siswa. Dalam proses menyelesaikan karya inilah siswa belajar dari berbagai sumber yang ada di internet. Pada saat karya dikerjakan hingga jadi dan dipresentasikan, guru dapat melakukan evaluasi proses dan hasil belajar mereka.

Pada cara kedua, pemanfaatan TIK untuk pengelolaan interaksi pembelajaran dapat diwujudkan dalam computer-based training yang saat ini penerapan pembelajaran tersebut sudah sampai pada model online learning. Pembelajaran model ini adalah pembelajaran yang interaksinya dibangun menggunakan perangkat lunak daring, dan wujudnya adalah kelas virtual (maya) di situ internet. Di dalam kelas virtual tersebut guru merancang aktivitas instruksional yang lengkap mulai dari mengatur urutan langkah pembelajaran, menyiapkan materi pembelajaran, membimbing cara mengakses materi, membuat penugasan hingga membuat evaluasi. Dengan aktivitas pembelajaran yang urut dan lengkap maka tidak ada lagi tatap muka antara guru dan siswa.

Model pembelajaran online learning memiliki keuntungan diantaranya tidak memerlukan lagi ruang kelas fisik untuk belajar, waktu pembelajarannya dapat disistematisasi, dan siswa dapat belajar dari berbagai lokasi asalkan memiliki sinyal jaringan internet yang stabil dan kuat. Namun model online learning ini memiliki kelemahan diantaranya dibutuhkan kesiapan siswa untuk mandiri belajar, dibutuhkan ketelatenan guru untuk membimbing melalui kelas virtual, dan dibutuhkan infrastruktur berupa jaringan internet yang kuat.

Saat ini banyak berkembang situs-situs penyedia layanan sistem pengelolaan pembelajaran (learning management system/LMS) atau sering disebut juga e-learning. Situs e-learning tersebut ada yang dapat digunakan secara bebas dan gratis, dan ada pula yang berbayar serta memiliki ketentuan yang mengikat dalam penggunaanya. Secara garis besar, fitur dalam LMS tersebut terbagi menjadi 2 yaitu (1) Fitur aktivitas pembelajaran sinkron (synchronous), dan (2) Fitur aktivitas pembelajaran tidak sinkron (asynchronous).

Aktivitas pembelajaran sinkron adalah kegiatan belajar yang mengharuskan semua elemen baik guru maupun siswa untuk berinteraksi bersama dalam satu waktu yang ditentukan. Teleconference ini umumnya menggunakan tampilan audio visual sehingga memerlukan bandwidth (lebar pita jaringan) yang besar. Platform penyedia layanan jarak jauh secara langsung dengan memanfaatkan layanan konferensi video diantaranya adalah Zoom, Cisco WebEx, Google Hangouts Meet, Skype, Join.me, dan masih banyak lagi. Platform ini memungkinkan guru melakukan pembelajaran seperti melakukan presentasi jarak jauh dan berdiskusi dengan siswa-siswanya. Dengan menggunakan platform ini, siswa dapat mangajukan pertanyaan secara langsung. Selain itu, guru juga dapat secara langsung  memberikan umpan balik kepada siswanya. Untuk aktivitas belajar yang tidak sinkron adalah kegiatan belajar degan interaksi yang tidak saling bersamaan antar elemen pembelajaran.

Waktu pelaksanaan kegiatan bisa berbeda-beda tergantung individu siswa atau guru. Kegiatan ini misalnya membaca materi, mengerjakan tugas, dan mengirim tugas.  Adapun situs pembelajaran yang dapat diakses oleh guru baik sebagai sumber maupun model belajar yang dikembangkan di Indonesia dan di luar negeri baik yang gratis maupun berbayar, diantaranya:

1, Rumah Belajar (www.belajar.kemdikbud.go.id)
Rumah Belajar merupakan laman pembelajaran resmi yang dikembangkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Sesuai dengan namanya, laman ini
dikembangkan sebagai rumah belajar bagi siswa dan guru. Rumah Belajar menyediakan
banyak fitur seperti materi pembelajaran, bank soal, maupun buku pelajaran yang dapat
diunduh secara gratis.

2. M-Edukasi (m-edukasi.kemdikbud.go.id)
M-Edukasi atau Mobile Edukasi adalah laman resmi yang dikelola oleh Balai Pengembangan Multimedia Pendidikan Kebudayaan (BPMPK) di bawah naungan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Laman ini menyediakan berbagai macam materi pembelajaran yang menarik dalam platform flashlite, hasil lomba pembuatan media pembelajaran, hingga karya ilmiah yang bisa diunduh secara gratis.

3. Edmodo (https://new.edmodo.com/)
Edmodo merupakan laman pembelajaran berbasis jejaring sosial yang dikembangkan di luar negeri. Laman ini dapat digunakan oleh guru, murid, serta orang tua murid. Edmodo dapat digunakan guru untuk mengirim pesan, materi pembelajaran dan tugas yang dapat diakses siswa dimanapun sehingga pembelajaran dapat lebih efisien dan menyenangkan.

4. Google Classroom (https://classroom.google.co/)
Sama halnya dengan Edmodo, Google Classroom menyediakan fitur bagi guru dan siswa untuk belajar secara interaktif. Guru dapat mengirimkan tugas dan kuis, sekaligus menilainya.

5. Zenius Education (https://www.zenius.net/)
Laman pembelajaran ini dikembangkan di Indonesia. Laman ini menyediakan materi pembelajaran dan materi ujian mulai dari tingkat SD sampai SMA. Guru dapat menggunakan laman ini untuk mencari materi yang sesuai. Selain itu, siswa juga dapat
belajar mandiri secara daring.

6. Ruang Guru (https://ruangguru.com/)
Dikembangkan di Indonesia, laman ini dapat dimanfaatkan oleh guru maupun siswa, karena disini guru dan siswa dapat berlangganan video materi pembelajaran dan mengerjakan soal-soal tryout berbagai mata pelajaran dan membuat suatu kelompok belajar secara daring.

7. Quipper (https://link.quipper.com/id/)
Sama halnya dengan Ruang Guru, Quipper dikembangkan di Indonesia. Di Quipper, mayoritas fiturnya berupa video pembelajaran yang disampaikan oleh guru profesional.

Sebagai bentuk pengenalan LMS, dosen/instruktur dapat menugaskan kepada mahasiswa untuk mempelajari, membuat review, dan menyusun deskripsi mengenai elearning yang dikembangkan oleh situs-situs pembelajaran yang telah disebutkan sebelumnya. Selain itu, Peran Dosen/instruktur adalah membimbing mahasiswa PPG untuk merancang pembelajaran dengan memanfaatkan laman dan aplikasi pembelajaran. Dosen membantu mahasiswa PPG menentukan laman dan aplikasi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Banyaknya laman pembelajaran memang memudahkan akses mahasiswa PPG terhadap sumber dan model belajar sekaligus berpotensi membingungkan.

Oleh karena itu, laman dan aplikasi pembelajaran yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan tahap perkembangan dan tujuan pembelajaran. Setelah menentukan laman dan
aplikasi pembelajaran, dosen/instruktur dapat membimbing mahasiswa PPG merancang
pembelajaran dengan memanfaatkan laman dan aplikasi pembelajaran. Akhirnya, mahasiswa PPG dibimbing bagaimana melakukan refleksi pembelajaran yang memanfaatkan laman dan aplikasi pembelajaran. Perkembangan pembelajaran berbasis TIK dari mulai e-larning hingga m-learning menyertakan berbagai dukungan fitur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Sebagai contoh, peran guru sebagai pembimbing yang biasa mengingatkan siswa untuk mengerjakan dan mengumpulkan tugas, dapat gantikan oleh pesan-pesan peringatan yang disetting ulang pada fitur penugasan. Selain itu, proses penilaian hasil belajar yang selama ini banyak menyita waktu guru dapat lebih cepat dilakukan dengan mengaktifkan fitur kunci jawaban pada soal ujian yang dibuat. Bahkan kunci jawaban dapat dilengkapi dengan umpan balik dari guru untuk siswa atas jawaban yang tepat maupun kurang tepat. Berbagai kecerdasan buatan ini terus dikembangkan dalam dunia pendidikan yang tujuanya mempermudah pengelolaan pendidikan.

Pengembangan TIK yang juga penting untuk dunia pendidikan adalah kehadiran teknologi virtual reality/VR (kenyataan maya). Teknologi ini memiliki konsep dasar meniru dunia nyata dengan realitas yang dihasilkan komputer dan melibatkan semua indera. Teknologi VR ini menghantarkan pengguna pada situasi tiruan kenyataan yang didalamnya pengguna dapat berinteraksi. Dalam dunia pendidikan VR misalnya muncul
dalam berbagai alat simulasi, seperti simulasi penerbangan, simulasi uji ketahanan mesin, simulasi daya tarik medan magnet, simulasi permainan olahraga dan sebagainya.
Kelebihan VR sebagai media pembelajaran yakni meminimalisir resiko bahaya pada suatu uji coba, dan menghemat biaya.

Perkembangan mutakhir teknologi komputasi dalam memanipulasi realitas adalah teknologi Argmented Reality (AR) yang merupakan pengembangan dari VR. Beberapa tahun yang lalu teknologi ini membuat resah masyarakat karena mewujud dalam aplikasi permainan smartphone bernama Pokemon Go. Teknologi AR adalah sistem yang dapat mengkonstruksi informasi dunia maya dan mengirimkannya pada dunia nyata. Pada AR, dunia maya dan dunia nyata seolah disatukan di dalam pengelihatan penggunanya.

Hal inilah yang kemudian membuat pemain game Pokemon Go seolah olah melihat adanya Pokemon di lingkungan sekitarnya. Dalam dunia pendidikan, teknologi AR juga sudah mulai dikembangkan. Misalnya penelitian Nurcahyo dan Hantono (2015) yang memanfaatkan AR untuk mempelajari anatomi tubuh manusia dengan Android; penelitian Wahyudi, dkk (2018) yang mengembangkan alat peraga jantung berbasis AR dengan teknik 3D Object Tracking; penelitian Saputra, dkk., (2019) yang menggunakan AR untuk mengembangkan katalog mebel, dan masih banyak lagi.

Dengan berbagai contoh tersebut maka mahasiswa PPG hendaknya mulai membuka wawasan bahwa perkembangan teknologi TIK berpotensi mendukung pengembangan pembelajaran, dan hal tersebut dapat dilakukan jika guru selalu mengembangkan semangat dan pemikiran kreatif untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya.

Lembar Kerja
Setelah mempelajari materi ini, kejakan LK 1 dan LK 2 untuk semakin mempertajam pemahaman Anda.
1) LK 1

ppg70

2) LK 2
Buatlah rencana kegiatan yang dapat Anda lakukan agar mahasiswa PPG melakukan akses terhadap sumber dan model belajar berbasis TIK.

ppg71

Rangkuman
Sejalan dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat, akses guru terhadap sumber dan model belajar terbaru menjadi semakin mudah dan luas. Sumber-sumber belajar ini tidak hanya bermanfaat bagi peningkatan pengetahuan dan ketrampilan guru, namun juga bermanfaat bagi pembelajaran siswa di kelas yang saat ini merupakan generasi Z. Karakteristik dan preferensi generasi ini jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Hal inilah yang menjadi dasar bagi mahasiswa PPG yang kelak menjadi guru profesional untuk menentukan sumber dan model belajar yang terbaru dan tepat dengan kondisi mereka yang tentunya sangat terkait dengan penggunaan teknologi. Untuk mencari sumber belajar, guru dapat memanfaatkan teknologi modern, seperti website dan aplikasi pembelajaran. Selain itu, pemanfaatan teknologi untuk mengakses model belajar terbaru yang disesuaikan dengan kondisi siswa dan lingkungan juga perlu dilakukan.

Test Formatif

Untuk mengevaluasi pemahaman Anda mengenai materi mengenai akses terhadap sumber dan model belajar terbaru, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Mengapa mahasiswa PPG perlu mengakses sumber dan model belajar terbaru?
  2. Dengan pesatnya kemajuan teknologi, akses terhadap sumber belajar terbaru menjadi  sangat luas dan berpotensi membingungkan bagi mahasiswa PPG. Mengapa kriteria untuk menentukan sumber belajar yang tepat diperlukan?
  3. Dalam hal apa sajakah guru dapat memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran?
  4. Pilih satu dari laman pembelajaran yang telah disebutkan dalam materi dan buatlah rancangan pembimbingan terhadap mahasiswa PPG dengan memanfaatkan laman tersebut.
  5. Pertanyaan-pertanyaan reflektif seperti apakah yang dapat anda sampaikan ke mahasiswa PPG ketika mereka akan menggunakan teknologi informasi dalam pembelajaran mereka?

Refleksi

Bapak dan Ibu dosen/instruktur, setelah mempelajari materi ini lakukanlah refleksi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1.  Sebelum mempelajari materi akses terhadap sumber dan model belajar terbaru,
     saya berpikir bahwa ……………………………………………………………………
     saya merasa bahwa …………………………………………………………………….
  2.  Setelah mempelajari materi akses terhadap sumber dan model belajar terbaru,
     saya berpikir bahwa …………………………………………………………………
     saya merasa bahwa ……………………………………………………………………
  3. Tantangan yang mungkin akan saya hadapi ketika membimbing mahasiswa PPG dalam mengakses sumber dan model belajar terbaru adalah …………………………………………..
    ……………………………………………………………………………………………………
  4. Selanjutnya, terkait dengan pembimbingan mahasiswa PPG dalam mengakses sumber dan model belajar terbaru untuk melaksanakan pembelajaran, saya merencanakan untuk ……………………………………………………………………………………………………..
    ……………………………………………………………………………………………………
    …………………………………………………………………………………………………

Referensi

Dolot, A. 2018. The characteristic of Generation Z. e-mentor. s. 44–50, http://dx.doi. org/10.15219/em74.1351

Ensari, M. 2017. A study on the differences of entrepreneurship potential among
generations. Research Journal of Business and Management, 4(1), 52–62. DOI:
10.17261/Pressacademia.2017.370

Mulyasa E. 2004. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nurcahyo, D. E., & Hantono, B. S. 2015. Pemanfaatan Augmented Reality Dalam Dunia
Pendidikan untuk mempelajari Anatomi Tubuh Manusia Berbasis Android. Seminar Nasional Teknologi Informasi Dan Komunikasi (SENTIKA), 2015, 193–198.

Saputra, A.T. 2019. Penerapan teknologi augmented reality pada katalog mebel kompas
jati jepara berbasis android. Jurnal Informatika dan Rekayasa Perangkat Lunak Vol
1 No 2.

Wahyudi, A,K, dkk. 2018. Alat Peraga Jantung Manusia Berbasis Augmented Reality
dengan Menggunakan Teknik 3D Object Tracking. Cogito Smart Journal Vol. 1 No
1.

Yusuf, M. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Prenada Media.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

1 Response to Pembimbingan Mengakses Sumber Belajar

  1. Pingback: Laporan Diklat Dosen/Instruktur PPG |Hari IV ~ 14 Mei 2020 Kelas 22 – SDN 7 SUBAGAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *