Pelaksanaan Pembimbingan Penelitian Tindakan Kelas

Penyegaran Calon Dosen/Instruktur PPG |Unit 4. Continuing Professional Development (CFD)

Fasilitator : Ahmad, PhD, dan Pamujo, M. Pd (Kemdikbud Dirjen GTK)

Daftar Isi Unit 4

  1. KB 1 Strategi Pembimbingan Pelaksanaan PTK
  2. KB 2 Pembimbingan Mengakses Sumber Belajar
  3. KB 3 Strategi Pembimbingan Refleksi Pembelajaran

KB 1 Pelaksanaan Pembimbingan PTK

Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi guru dapat dilakukan dengan melakukan beberapa hal, salah satunya adalah publikasi ilmiah. Salah satu kelompok kegiatan dalam kegiatan publikasi ilmiah yang dapat dilakukan guru adalah laporan hasil penelitian. Penelitian yang dapat dilaksanakan yang sesuai dengan tupoksi guru diantarabya adalah penelitian di kelasnya yang bertujuan praktis memperbaiki proses maupun hasil pembelajaran. Penelitian yang demikian ini sudah kita kenal sebagai penelitian tindakan kelas (PTK).  PTK merupakan wujud profesionalitas guru yang bertanggung jawab, bukan sekedar melaporkan hasil penelitian sebagai publikasi ilmiah untuk kenaikan jabatannya. Guru yang berani bertanggungjawab atas hasil kerjanya akan selalu berusaha memperbaiki kualitas kerjanya. Melalui PTK ini, guru dapat secara langsung mendiagnosa permasalahan dalam pembelajaran, merancang dan merumuskan perbaikan, menerapkan program perbaikan, serta mengevaluasi program tersebut.  Kualitas proses dan hasil pembelajaran merupakan tanggung jawab penuh seorang guru. Kesadaran mengenai tanggungjawab guru inilah yang sejak awal harus ditanamkan dalam diri mahasiswa PPG. Sebagai wujud dari tanggungjawab itulah maka setiap mahasiswa PPG harus mulai berlatih berpikir reflektif pada praktik pembelajaran yang dilakukan, mendiagnosa permasalahan dan selanjutnya memperbaikinya. Rangkaian proses tersebut dapat dikerjakan secara sinergis dengan kegiatan penelitian tindakan di kelas yang akan dilakukan di masa mendatang

Setelah mempelajari modul kegiatan belajar ini, peserta mampu:

  1. Mendemonstrasikan pemahaman mereka tentang konsep dasar Penelitian Tindakan Kelas  (PTK)
  2. Mendemonstrasikan pemahaman mereka tentang pembimbingan mahasiswa untuk  merancang dan melaksanakan PTK
  3. Melakukan praktek pembimbingan mahasiswa untuk merancang dan melaksanakan

MATERI 

Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Dalam pengertian yang sederhana, PTK adalah kegiatan reflektif yang sistematis  dan empiris dengan tujuan memperbaiki proses pembelajaran yang dihadapi guru di kelasnya untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal. Hal ini
sesuai dengan Kemmis dan Mc Taggart (1988) yang menyatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri secara kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik-praktik tertentu maupun terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut. Hal senada juga diungkapkan oleh Ebbut (1985, dalam Hopkins, 1993) yang mengungkap bahwa PTK adalah upaya perbaikan yang sistematis dari praktik pembelajaran oleh sekelompok guru dengan melakukan aktivitas pembelajaran, berdasarkan refleksi dari hasil kegiatan tersebut.

Baca Juga

  1. Strategi Penyusunan Kisi-Kisi Instrumen
  2. Strategi Refleksi Pembelajaran
  3. Manfaat Feedback Pembelajaran dari Siswa
  4. Pengembangan Leadership Skill Guru Pemula
  5. Menjadi Guru Mempesona
  6. Penyusunan Perangkat Pembelajaran Berbasis TPACK
  7. Strategi Perencanaan Refleksi
  8. Peer Teaching
  9. Konsep Evaluasi Pembelajaran
  10. Mengembangkan Bahan Ajar
  11. Merancang Langkah Pembelajaran
  12. Mengembangkan Indikator dan Tujuan Pembelajaran
  13. Praktik Keprofessionalan Mengajar
  14. Praktik Keprofessionalan Non Mengajar
  15. Platform LMS Moodle & Big Blue Button

Berdasarkan kata yang membentuknya, PTK terdiri dari 3 kata yaitu Penelitian, Tindakan, dan Kelas. Penelitian adalah proses pemecahan masalah yang dilakukan secara sistematis, empiris, dan terkontrol. Tindakan adalah perlakuan tertentu yang diterapkan oleh peneliti, dalam hal ini guru. Tindakan ini difokuskan untuk memperbaiki kinerja guru. Jadi tidak sekedar penelitian yang tujuannya ingin mengetahui sesuatu, namun lebih dari itu tindakan dilakukan dengan tujuan memperbaiki kinerja demi mencapai proses dan hasil belajar yang optimal. PTK idealnya dilakukan dalam situasi pembelajaran yang nyata dan bukan situasi yang dibuat-buat.

Menurut Grundy dan Kemmis (1982) tujuan PTK adalah:

  1. Peningkatan praktik,
  2. Pengembangan profesional,
  3. Peningkatan situasi tempat praktik berlangsung. Tujuan peningkatan praktik maksudnya bahwa: (a) masalah yang dikaji dalam PTK adalah masalah riil yang dihadapi di kelas, (b) merupakan usaha meningkatkan kualitas praktikpembelajaran secara langsung, dan (c) hasilnya berdampak langsung pada kelas tersebut. Tujuan kedua yakni pengembangan profesional berarti bahwa guru harus selalu meningkatkan kemampuan profesionalnya dalam mengelolapembelajaran. Dengan PTK guru dapat berinovasi, melalui penerapan teknologi pendidikan mutakhir untuk memperbaiki proses dan hasil pembelajaran yang menjadi tanggung jawab di kelasnya. Tujuan ketiga yakni peningkatan situasi sekolah memiliki makna bahwa dengan penerapan berbagai inovasi dan teknologi pembelajaran dalam PTK, maka situasi proses belajar siswa menjadi berkembang lebih baik.

Adapun karakteristik PTK menurut Dasna (2007) adalah sebagai berikut:

  1. Bersifat siklis, artinya PTK terdiri dari siklus-siklus yang meliputi perencanaan, pemberian tindakan, pengamatan, dan refleksi sebagai prosedur baku penelitian.
  2. Bersifat longitudinal, artinya PTK harus berlangsung dalam jangka waktu tertentu
    secara kontinyu untuk memperoleh data yang diperlukan, bukan hanya sekali selesai pelaksanaannya.
  3. Bersifat partikular-spesifik yang tidak bermaksud melakukan generaliasi dalam rangka mendapatkan dalil-dalil. Hasilnya pun tidak untuk digeneraliasikan meskipun mungkin dapat diterapkan oleh orang lain dan di tempat lain yang konteksnya mirip.
  4. Bersifat partisipatoris, dalam arti guru sebagai peneliti sekaligus pelaku perubahan dan sasaran yang perlu diubah. Ini berarti guru berperan ganda, yakni sebagai orang yang meneliti sekaligus yang diteliti pula.
  5. Bersifat emik, artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak dengan hal yang diteliti; bukan menurut sudut pandang orang luar yang berjarak dengan hal yang diteliti.
  6. Bersifat kolaboratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi
    kerja sama atau kerja bersama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian.
  7. Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesifik atau tertentu dalam
    pembelajaran yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru; tidak menggarap masalahmasalah besar.
  8. Menggunakan konteks alamiah kelas, artinya kelas sebagai ajang pelaksanaan PTK tidak perlu dimanipulasi dan atau direkayasa demi kebutuhan, kepentingan, dan tercapainya tujuan penelitian.
  9. Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian, bukan kerepresentasifan (keterwakilan jumlah) sampel secara kuantitatif. Sebab itu, PTK hanya menuntut penggunaan statistik yang sederhana, bukan yang rumit.
  10. 10. Bermaksud mengubah kenyataan, keadaan, dan situasi pembelajaran menjadi lebih baik dan memenuhi harapan, bukan bermaksud membangun teori dan menguji hipotesis.
  11. Penelitian Tindakan Kelas Mahasiswa PPL PPG  (Perancangan di lokakarya, Pelaksanaan di PPL, Refleksi saat kembali ke kampus dan kembali ke sekolah lagi)

Dalam mendampingi mahasiswa merancang dan melaksanakan PTK, dosen/instruktur berperan memberikan bimbingan, saran, dan kritik. Pendampingan dimulai sejak penyusunan proposal/perancangan hingga tahap refleksi akhir.  1. Pendampingan Mahasiswa Dalam Merancang dan Melaksanakan PTK  Pada tahap awal, dosen/instruktur dapat meminta mahasiswa untuk mempelajari kembali hasil refleksi pembelajaran. Refleksi bersumber dari observasi dan penilaian kinerja yang dibuat oleh dosen/instruktur dan guru pamong berdasarkan performa mahasiswa pada saat mengajar dalam kegiatan PPL.

Selanjutnya dosen dan mahasiswa mengidentifikasi kelemahan-kelemahan pembelajaran. Dasar utama identifikasi adalah pembandingan antara tujuan pembelajaran yang ditetapkan dengan hasil pembelajaran yang dicapai. Kesenjangan antara tujuan awal dan hasil pembelajaran tersebut dapat menjadi dasar menyusun latar belakang permasalahan PTK yang hendak dilaksanakan mahasiswa. Kesenjangan dielaborasi dalam latar belakang masalah, dengan membandingkannya pada harapan ideal dari tujuan pembelajaran nasional, misalnya yang dicanangkan pemerintah dalam standar kompetensi lulusan pada peraturan menteri. Kontradiksi kondisi ketercapaian hasil pembelajaran di kelas yang diampu dengan tujuan nasional akan menjadi diskursus menarik yang mengawali latar belakang masalah PTK.

Membangun rajutan pemikiran yang kuat dapat mengungkap kesenjangan tujuan belajar dengan realitas hasil belajar dan dapat dibandingkan juga dengan hasil penelitian lain. Dasar pembandingan adalah pada kesamaan kasus atau masalah yang dihadapi, dan inovasi pembelajaran yang akan diterapkan. Penggunaan informasi dan temuan ilmiah pada penelitian lain yang relevan akan dapat menentukan posisi PTK yang dibangun oleh mahasiswa PPG di antara penelitian lain yang sudah ada.  Pada saat masalah pembelajaran sudah ditemukan dan dielaborasi dengan baik, maka kegiatan lanjutan PTK adalah membuat rancangan perbaikan. Hal ini sesuai dengan siklus dasar PTK yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi.

Pada langkah perencanaan mahasiswa menentukan strategi inovasi yang hendak diterapkan untuk memperbaiki pembelajarannya. Strategi tersebut dapat dikonsultasikan dengan dosen/instruktur. Dalam konsultasi strategi perbaikan ini dosen/instruktur dapat mendiskusikan beberapa hal antara lain: (1) logika pemilihan inovasi pembelajaran yang hendak diterapkan, (2) penguasaan mahasiswa terhadap inovasi pembelajaran tersebut, dan (3) estimasi ketercukupan waktu pembelajaran jika menggunakan inovasi tersebut.

Pemilihan dan penentuan inovasi pembelajaran yang hendak diterapkan dalam PTK harus didasari logika prediktif yang jelas. Kejelasan di sini berarti bahwa ada keterhubungan dan kemungkinan bahwa inovasi tersebut sesuai untuk memecahkan masalah pembelajaran. Untuk membangun logika prediktif ini maka mahasiswa disarankan banyak membaca dan mengkaji hasil penelitian yang terkait dengan inovasi pembelajaran yang hendak diterapkan, dan hasil penelitian terkait dengan permasalahan pembelajaran.

Dengan membaca dan mengkaji pustaka hasil penelitian maka dapat ditemukan rujukan tindakan yang pernah dilakukan, atau dapat juga ditemukan keterhubungan antara unsur-unsur inovatif sebuah teknologi pembelajaran yang dimungkinkan dapat memperbaiki masalah pembelajaran yang ada. Kemampuan membangun logika prediktif dalam memilih tindakan untuk diterapkan pada PTK merupakan kemampuan penting yang dapat merepresentasikan kreativitas berpikir mahasiswa.

Argumentasi yang dibangun mahasiswa dalam mempertahankan pilihan tindakan tersebut dapat menjadi sarana melatih kemampuan mahasiswa, untuk mengasosiasikan ilmu yang dimiliki dengan realitas yang terjadi. Oleh karena itu, sesi diskusi perancangan dan pemilihan tindakan menjadi tahapan yang penting bagi dosen/instruktur untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif mahasiswa.

Dalam diskusi pembimbingan, dosen/instruktur perlu untuk mendiskusikan dan menggali kemampuan mahasiswa dalam penguasaan inovasi pembelajaran yang hendak diterapkan di PTK. Tindakan pembelajaran dalam PTK tujuan utamanya adalah
memperbaiki proses dan hasil pembelajaran. Oleh karena itu penguasaan mahasiswa pada inovasi pembelajaran yang hendak diterapkan menjadi prasyarat mutlak. Jika inovasi pembelajaran tidak dikuasai dengan baik, maka tujuan perbaikan melalui PTK tentu akan sulit tercapai. Dengan diskusi pembimbingan, sekiranya mahasiswa belum menguasai inovasi secara optimal maka dapat dilakukan latihan yang lebih intensif lagi.
Selain keterampilan menguasai inovasi pembelajaran, dosen/instruktur perlu untuk mengajak mahasiswa mengevaluasi ketercukupan waktu menerapkan tindakan tersebut.

Estimasi durasi penerapan inovasi pembelajaran penting dilakukan karena PTK idealnya berlangsung dalam situasi pembelajaran yang nyata. Sementara situasi pembelajaran tersebut dibingkai oleh waktu belajar yang sudah ditetapkan oleh pemangku kepentingan pendidikan. Jadi PTK yang ideal tentunya adalah penerapan tindakan yang tidak mengganggu jam pembelajaran yang sudah tertata. Artinya, alokasi waktu dalam perancangan tindakan PTK harus dilakukan dengan teliti dan sebisa mungkin presisi. Seandainya perlu mahasiswa dapat diminta untuk melakukan simulasi pembelajaran bersama teman-teman satu kelompoknya agar dapat memprediksikan waktu yang dibutuhkan untuk menerapkan inovasi tindakan dalam PTK.

Di dalam kegiatan perencanaan PTK, selain penyiapan rancangan tindakan, dosen/instruktur dapat membimbing mahasiswa untuk menyusun dan menyiapkan intrumen untuk mengukur tingkat ketercapaian tindakan. Instrumen tersebut dapat berupa instrumen penilaian kinerja mahasiswa dalam mengajar, dan instrumen asesmen sesuai dengan jenis asesmen yang akan digunakan. Diskusi bersama antara mahasiswa, dosen/instruktur, dan guru pamong penting dilakukan dalam penyusunan instrumen ini.

Dosen/instruktur dan guru pamong merupakan kolaborator dalam PTK yang dapat berperan sebagai mitra dalam merancang tindakan dan sebagai pengamat dan penilai
dalam pelaksanaan tindakan.  Setelah perencanaan tindakan sudah disiapkan dengan baik, mahasiswa dapat melaksanakan penerapan tindakan. Di dalam PTK, tindakan dapat dilaksanakan dalam beberapa kali pertemuan. Pertemuan-pertemuan tersebut dapat dikelompokkan ke dalam siklus. Jumlah siklus dalam PTK utamanya ditentukan oleh peneliti, dalam hal ini mahasiswa. Namun penentuan siklus ini harus didasarkan pada argumentasi yang logis misalnya didasarkan pada hasil observasi kondisi awal, atau hasil uji awal sebelum tindakan (pra tindakan).

ppg66

Berdasarkan pada kurikulum program PPG, maka proses berlatih melaksanakan PTK ini dapat dilakukan secara simultan dan terintegrasi dengan kegiatan yang ada dalam program PPG. Pada mata kuliah penyusunan perangkat pembelajaran dalam PPG, urutan aktivitas selalu diawali dengan observasi ke sekolah. Pada saat observasi ini mahasiswa dapat diminta untuk mulai mengumpulkan data dan menemukenali berbagai macam kesenjangan antara realitas dan harapan ideal dalam pembelajaran.

Berdasarkan masalah tersebut maka di dalam penyusunan perangkat pembelajaran dapat dirancang pembelajaran yang inovatif sebagai rancangan tindakan perbaikan di kelas. Penerapan tindakan dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan PPL. Di akhir kegiatan PPL selalu dilaksanakan kegiatan refleksi yang melibatkan mahasiswa dengan dosen/instruktur dan guru pamong. Struktur kurikulum dalam PPG terlihat sudah sejajar dengan konstruksi siklus dalam kegiatan PTK. Di sini terlihat bahwa struktur kurikulum PPG sesungguhnya sudah membingkai mahasiswa untuk terbiasa melakukan kegiatan PTK, dan kegiatan tersebut merupakan dasar dari kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan.

Pelaksanaan tindakan dalam PTK dibingkai oleh perangkat pembelajaran yang sudah dirancang. Dalam praktik tindakan, seorang peneliti PTK akan meminta sejawat guru senior atau kepala sekolah untuk ikut mengobservasi tindakan yang ia lakukan. Proses observasi yang melibatkan pihak lain (eksternal) di luar guru tersebut merupakan usaha untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas hasil penelitian PTK. Di dalam program PPG, pihak eksternal yang dapat dilibatkan mahasiswa dalam rintisan PTK adalah dosen/instruktur dan guru pamong. Selain menjadi pendamping dan pembimbing perencanaan, dosen/instruktur dan guru pamong dapat berperan sebagai pengamat (observer). Dalam kegiatan pengamatan/observasi pada PTK, pengamat selalu berpedoman pada instrumen observasi yang sudah disiapkan. Instrumen tersebut dapat
disandingkan dengan salinan rencana pembelajaran yang sudah dibuat sebelumnya.

Dengan demikian dapat dipantau kesesuaian antara kegiatan pembelajaran yang direncanakan dengan implementasi tindakan di kelas.  Kegiatan akhir dari rangkaian siklus PTK adalah refleksi. Refleksi merupakan kegiatan mengkaji kembali pelaksanaan tindakan yang telah selesai. Tujuan utama dari refleksi adalah mengidentifikasi capaian pelaksanaan tindakan, baik capaian yang positif maupun capaian yang negatif. Refleksi menjadi ruang untuk menemukenali berbagai praktik dan kondisi yang baik, yang layak untuk dilanjutkan pada siklus atau pertemuan berikutnya. Refleksi juga menjadi wahana untuk mengidentifikasi kondisi yang masih belum baik beserta faktor penyebabnya, sehingga dapat dirancang perbaikan pada siklus atau pertemuan berikutnya.

Metode yang paling umum digunakan dalam kegiatan refleksi adalah diskusi terfokus (focus group discussion). Materi utama yang menjadi bahan diskusi adalah hasil pengamatan dan penilaian observer pada kinerja guru dan pada peristiwa pembelajaran. Selain itu, testimoni (kesaksian) dari guru sebagai pelaksana tindakan, yang terlibat dalam interaksi pemikiran dan perasaan selama tindakan, juga merupakan
bahan penting dalam diskusi relfektif. Di dalam kegiatan refleksi, semua pihak yang terlibat dapat menyajikan berbagai data mengenai kekurangan dan kelebihan pembelajaran. Kekurangan dan kelebihan tersebut dikaji dari berbagai sudut pandang personal. Untuk menyatakan sebuah hal adalah kelebihan (keberhasilan) atau sebuah kelemahan tentunya didasarkan pada patokan (standar) yang sudah ditetapkan sebelumnya oleh peneliti PTK. Misalnya standar keberhasilan adalah capaian nilai rata=rata kelas, atau nilai ketuntasan minimal, dan sebagainya. Setelah hasil tindakan dikaji dalam refleksi, maka hasil refleksi kemudian dikonstruksikan ke dalam butir-butir rekomendasi. Fungsi utama dari rekomendasi hasil refleksi yakni untuk melaksanakan tindak lanjut dari tindakan. Jika pada saat refeleksi sudah ditemukan kenyataan bahwa  hasil tindakan sudah baik dan sesuai standar awal yang ditentukan, maka rekomendasi refleksi adalah mengakhiri tindakan. Namun jika belum sesuai standar yang ditetapkan maka rekomendasi refleksi menjadi dasar untuk merancang pelaksanaan tindakan pada pertemuan/siklus yang akan datang.

Mendampingi Mahasiswa PPG dalam Merefleksikan Hasil PTK  Setelah mahasiswa PPG melaksanakan PTK, mahasiswa PPG tersebut diharapkan menghasilkan produk ilmiah baik berupa laporan penelitian maupun artikel untuk dipublikasikan di jurnal ilmiah. Dalam bentuk laporan tentu hasilnya terbatas diakses dan dibaca oleh institusi tempat menyimpan berkas laporan tersebut. Untuk tujuan diseminasi yang menjangkau khalayak luas maka hasil PTK perlu disusun ke dalam bentuk artikel ilmiah untuk dikirim ke jurnal ilmiah. Saat ini banyak jurnal ilmiah yang dikelola oleh beragam lembaga. Lembaga pendidikan menjadi lembaga yang paling banyak mengelola jurnal ilmiah ini, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Selain itu ada juga jurnal ilmiah yang dikelola oleh asosiasi profesi dan fokus pada kajian sesuai dengan profesi yang ditekuninya.

Jurnal ilmiah adalah wahana bagi para peneliti, pengkaji, dan pengembang keilmuan. Stenhoese pernah memperkenalkan konsep ‘The teacher as researcher’, artinya guru tidak saja bertanggung jawab sebagai pengajar, tetapi juga sebagai peneliti di kelasnya. Penelitian tersebut hendaknya berbasis refleksi dan bertujuan mengembangkan ‘kurikulum’ di kelasnya. Di dalam proses pengembangan kurikulum guru juga memiliki 4 peran yaitu sebagai implementer, adapter, developer, dan researcher (Print, 1994). Berdasarkan pandangan di atas, maka peluang guru untuk berbicara banyak di ruang intelektual akademis melalui jurnal ilmiah sangat terbuka, karena guru dapat berperan sebagai peneliti dan pengembang keilmuan pendidikan berbasis refleksi di kelasnya. Oleh karena itu, pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru tentunya harus memiliki muara akhir pada produktivitas guru dalam mengelola dan mengembangkan kelasnya berbasis riset. Hasil riset-riset inilah yang nantinya menjadi sarana membangun dialog intelektual sehingga terbangun kesinambungan perkembangan keilmuan pendidikan. Selain itu, hasil riset yang didiseminasikan luas melalui jurnal ilmiah akan menguatkan status, peran, dan kedudukan guru sebagai pengemban profesi yang bertanggungjawab pada bidang kerjanya. Berbagai hal inilah yang perlu dibiasakan dan ditanamkan dalam diri mahasiswa PPG agar semangat melaksanakan Continuing Professional Development senantiasa tumbuh dan berkembang, tidak hanya saat menjadi mahasiswa, namun hingga nanti ketika berprofesi sebagai guru.

Lembar Kerja
Setelah mempelajari materi ini, bersama rekan Anda kerjakan LK 1 dan LK 2 untuk memperdalam pemahaman Anda.

1) LK 1
Carilah 5 artikel PTK yang telah dipublikasikan secara daring, dan isilah Lembar Kerja berikut:

ppg67

Catatan: Anda dapat menambahkan kolom untuk mengisi siklus selanjutnya jika ada

2) LK 2 Simaklah video pada

dan tulislah pendapat Anda mengenai pelaksanaan PTK pada video tersebut.

ppg68

Rangkuman
PTK adalah kegiatan reflektif yang sistematis dan empiris yang bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang dihadapi guru di kelasnya untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal. PTK seyogyanya dilaksanakan sebagai upaya berkelanjutan seorang guru untuk meningkatkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran. Oleh karena itu, PTK tidak berhenti pada sebatas penelitian saja yang hasilnya ditulis dalam laporan penelitian. Hasil PTK hendaknya ditindaklanjuti dengan diskusi memadai antar guru sebagai upaya perbaikan pembelajaran ke depan. Dalam kegiatan PPG, mahasiswa diharapkan mampu merancang, melaksanakan dan merefleksi hasil PTK di bawah bimbingan dosen/instruktur.

Tes Formatif
Bapak dan Ibu dosen/Instruktur, setelah mempelajari modul ini, jawablah pertanyaan pertanyaan berikut ini:

  1. Menurut anda, apa sajakah kata kunci dari pengertian PTK menurut para ahli yang
    terdapat dalam modul?
  2. Pertanyaan-pertanyaan reflektif seperti apakah yang dapat anda sampaikan kepada mahasiswa PPG untuk dapat menemukan masalah yang dapat diangkat sebagai topik PTK?
  3. Buatlah skema proses pembimbingan mahasiswa PPG untuk melaksanakan PTK berdasarkan materi dalam modul ini!
  4. Apa yang dapat anda sampaikan ke mahasiswa PPG agar PTK selalu menjadi agenda mereka ketika menjadi guru?
  5. Perlukah laporan PTK dianalisis dan didiskusikan? Mengapa?

REFLEKSI

Bapak dan Ibu dosen/instruktur, setelah mempelajari materi ini, lakukanlah refleksi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Sebelum mempelajari materi PTK,
     saya berpikir bahwa …………………………………………………………………………………
     saya merasa bahwa …………………………………………………………………………………..
  2. Setelah mempelajari materi PTK,
     saya berpikir bahwa ………………………………………………………………………………..
     saya merasa bahwa ………………………………………………………………………………….
  3. Tantangan yang mungkin akan saya hadapi ketika membimbing mahasiswa PPG melaksanakan PTK adalah …………………………………………………………………………………………………………………….
    …………………………………………………………………………………………………………………..
  4. Selanjutnya, terkait dengan pembimbingan mahasiswa PPG dalam melaksanakan PTK, saya merencanakan untuk …………………………………………………………………………………………………………………….
    …………………………………………………………………………………………………………………

Referensi

  • Hopkins, D 1993. A Teacher’s Guide to Classroom Research. Second Edition. Philadelphia: Open University Press.
  • Dasna, W. I.2007. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (Classroom Action Research); sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran. Malang: Pusat Penelitian Pendidikan, Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malan
  • Grundy, S and Kemmis, S. 1982. Educational action research in Australia: the state of the art (an overview). The Action Research Reader. Deakin University Press, pp.83–98
  • Kemmis, S and McTaggart R.1988. The action research planner (3rd ed.). Geelong, Australia: Deakin University Press. https://www.youtube.com/watch?v=fNr9v-e2Fzk
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Pelaksanaan Pembimbingan Penelitian Tindakan Kelas

  1. Pingback: Laporan Diklat Dosen/Instruktur PPG| Hari V ~ 15 Mei 2020 Kelas 22 – SDN 7 SUBAGAN

  2. Pingback: Laporan Diklat Dosen/Instruktur PPG |Hari IV ~ 14 Mei 2020 Kelas 22 – SDN 7 SUBAGAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *