Jurnal Refleksi Pembelajaran

Penyegaran Calon Dosen/Instruktur PPG |Unit 2. Pembimbingan PPL

Fasilitator : Ahmad, PhD, dan Pamujo, M. Pd (Kemdikbud Dirjen GTK)

Daftar Isi Unit 2

  1. KB 1 Strategi Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Mengajar
  2. KB 2 Strategi Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Non Mengajar
  3. KB 3 Menjadi Guru Mempesona
  4. KB 4 Pengembangan Leadership Skill Guru Pemula
  5. KB 5 Manfaat Feedback Pembelajaran dari Siswa
  6. KB 6 Refleksi Pembelajaran di Kelas
  7. KB 7 Refleksi Pembelajaran Bersama
  8. KB 8 Menyusun Jurnal Refleksi Pembelajaran

KB 8 Menyusun Jurnal Refleksi Pembelajaran

Sebagaimana dibahas dalam kegiatan belajar sebelumnya, refleksi pembelajaran merupakan kegiatan memikirkan kembali berbagai tindakan yang telah dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran, untuk menemukan kelebihan dan kelemahan sebagai dasar membuat perbaikan pada pembelajaran selanjutnya. Refleksi dapat dilakukan pada saat pembelajaran (reflect in action) maupun setelah pembelajaran (reflect on action). Sebagai bagian akhir dari kegiatan refleksi pembelajaran adalah menulis jurnal reflektif atau yang biasa dikenal dengan jurnal refleksi guru atau jurnal refleksi pembelajaran. Jurnal refleksi guru berisi tanggapan kritis guru terhadap pembelajaran yang ia lakukan sendiri. Jurnal tersebut bukan jurnal agenda pembelajaran namun sebuah tulisan yang dialogis antara guru dengan dirinya sendiri perihal berbagai persitiwa yang dialami dalam pembelajaran. Di dalam jurnal tersebut penting juga dimasukkan hasil pemikiran bersama dan diskusi dengan siswa di akhir proses pembelajaran. Dapat juga dimasukkan wawasan atau tanggapan dari pihak lain yang dilibatkan dalam refleksi bersama.

Eksplore Lebih Lanjut

  1. Unit 1 tentang Penyusunan Perangkat Pembelajaran
  2. Unit 2 tentang Pembimbingan PPL
  3. Unit 3 tentang Pembimbingan Penilaian Pembelajaran
  4. Unit 4 tentang Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan

Jadi jurnal refleksi guru adalah semacam ‘buku diary’ guru yang di dalamnya guru berani untuk mengungkapkan kejujuran dari dirinya sendiri, ditulis oleh dirinya sendiri, dan untuk perbaikan dirinya sendiri dalam rangka peningkatan kualitas hasil praktik pembelajaran. Oleh karena itu di dalamnya guru harus berani menuliskan dengan jujur mengenai kelemahan dan kelebihan pembelajaran yang ia kelola, mengevaluasi seluruh proses pembelajaran dengan pemikiran kritis, memikiran alternatif perbaikan, menentukan alternatif perbaikan, dan merencanakan perbaikan.

Dengan melihat pentingnya jurnal refleksi guru, maka dalam kegiatan PPL PPG, Dengan pembiasaan jurnal refleksi, mahasiswa PPL PPG diharapkan memiliki keterampilan untuk mengkaji dan mendokumentasikan peristiwa pembelajaran yang dilaksanakannya sendiri. Produk jurnal tersebut nantinya selain dapat bermanfaat bagi diri guru sendiri, juga bermanfaat sebagai sarana berbagai pengalaman dan pengetahuan kepada guru lain. Oleh karena itu penulisan jurnal reflektif di sajikan dalam bagian tersendiri pada modul PPL Instruktur ini.

Dalam menggunakan modul ini, disarankan untuk melakukan aktivitas membaca, mengkaji informasi yang ada di dalam modul ini, mengerjakan atau mengisi lembar kerja yang tersedia, merefleksi informasi yang terkumpul. Selanjutnya dosen/instruktur dapat mengukur pemahaman atau penguasaan materi dengan mengerjakan tes formatif. Untuk memperkaya pemahaman, dosen/instruktur juga dapat membaca pustaka dan sumber-sumber rujukan yang lain.

Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan dapat:

  1. Memahami fungsi jurnal refleksi pembelajaran.
  2. Memahami prinsip-prinsip jurnal refleksi pembelajaran.
  3. Memahami strategi menyusun jurnal refleksi pembelajaran.
  4. Menganalisis langkah-langkah menyusun jurnal refleksi pembelajaran.

Materi
Fungsi Jurnal Refleksi
Refleksi bersama yang dilakukan oleh mahasiswa PPL bersama guru pamong dan dosen/instruktur merupakan kegiatan refleksi pembelajaran yang dilaksanakan secara berkala, dalam waktu yang ditentukan dan disepakati. Di luar kegiatan refleksi bersama ini, mahasiswa PPL dapat menyusun jurnal reflektif atas pembelajaran yang dilakukan, yang disusun secara mandiri. Dosen/instruktur dapat meminta kepada mahasiswa untuk secara teratur menuliskan pemikiran reflektif mahasiswa atas berbagai aktivitas pembelajaran yang sudah dilakukan.

Jurnal refleksi hendaknya disusun secara teratur oleh mahasiswa pada saat setelah mengampu pembelajaran. Untuk meminimalisir kealpaan dalam mengingat, maka penyusunan jurnal reflektif idealnya dilakukan tidak lebih dari satu hari setelah mengampu kelas. Dengan langkah ini maka berbagai hal yang terjadi selama proses pembelajaran masih dapat diingat oleh mahasiswa PPL. Langkah lain untuk meminimalisir agar tidak banyak lupa terhadap berbagai peristiwa penting selama pembelajaran, maka mahasiswa dapat diminta membuat catatan-catatan kecil mengenai hal-hal penting, unik, dan menarik, bersamaan dengan saat ia mengampu kelas. Oleh karena kesibukan mengampu kelas, maka catatan-catatan ini tidak harus berbentuk catatan yang lengkap, namun dapat berupa kata kunci yang nantinya mempermudah mengingat kembali peristiwa pada saat menysusun jurnal reflektif.

Berbeda dengan refleksi bersama, di dalam jurnal refleksi pembelajaran ini mahasiswa secara mandiri dapat mencurahkan atau menuliskan realitas pembelajaran dalam kerangka konseptual keilmuan yang dimiliki atau dipahaminya. Pada saat menempuh pendidikan perkuliahan di strata S1, mahasiswa PPG sudah mempelajari berbagai konsep dan teori yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Jadi di dalam kegiatan menulis jurnal dalam PPL inilah mahasiswa diaharapkan dapat menggunakan berbagai konsep dan teori tersebut untuk memaknai realitas yang ditemui selama praktik pembelajaran. Pemaknaan ini dipandang penting untuk dapat mengantarkan mahasiswa PPL pada kesadaran bahwa menjadi guru adalah sebuah proses yang tidak mudah, oleh karena itu profesi guru bukanlah profesi yang setiap orang mampu melakukannya.

Jurnal refleksi guru merupakan catatan kritis pelaksanaan pembelajaran yang ditulis oleh guru sendiri. Disebut dengan refleksi karena ada proses merenung, bercermin pada diri sendiri, dan mengkaji diri sendiri, khususnya dalam hal tindakan pembelajaran yang sudah dilakukan. Jurnal refleksi adalah sarana bagi guru untuk merefleksikan pembelajaran dan pengalaman belajar mereka dengan berbagai cara. Jurnal refleksi memiliki fungsi antara lain:

  1. Untuk mencatat perkembangan pembelajaran mencakup gagasan dan wawasan guru dan siswa dalam hal manajemen kelas, konsep, gagasan, pengalaman belajar dan materi. Catatan di sini tidak sekedar deskripsi dari berbagai unsur kegiatan pembelajaran, namun di dalamnya ada tanggapan kritis berbasis keilmuan dan pengalaman guru.
  2. Untuk merenungkan konten subjek dan pengalaman pribadi sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman diri dan pemahaman karakter siswa. Jurnal refleksi dapat menjadi sarana untuk menilai diri, perihal kelamahan dan kelebihan diri, serta berguna memahami karakter siswa dan berbagai harapan siswa yang diampunya.
  3. Untuk menganalisis proses pembelajaran dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran, pencapaian hasil belajar, dan untuk pengembangan diri guru.

Prinsip-Prinsip Jurnal Refleksi
Dalam jurnal refleksi ini, mahasiswa PPL PPG diharapkan dapat menuliskan berbagai hal yang berkaitan dengan pengalaman saat mengajar. Pengalaman tersebut mencakup kondisi yang dianggap sebagai keberhasilan maupun kegagalan dalam pelaksanaan pembelajaran. Fungsi penting dari jurnal ini adalah membangun kebiasaan profesional dalam diri mahasiswa. Sebuah sikap profesional salah satunya diwujudkan dalam perilaku bertanggungjawab atas profesinya. Dalam konteks ini, penyusunan jurnal refleksi adalah bagian dari profesionalitas guru dalam bertanggung jawab terhadap peserta didik dan proses pembelajaran yang diampunya.

Sebagai bentuk tanggungjawab, maka setiap perkembangan dan perubahan dalam pembelajaran hendaknya tertulis dalam jurnal. Utamanya adalah permasalahan yang muncul dan menghambat keberhasilan pembelajaran. Jurnal reflektif menjadi rekaman diagnostik perihal permasalahan pembelajaran yang dilakukan mahasiswa PPL. Oleh karena itu dosen/instruktur dapat memberikan bimbingan dan saran kepada mahasiswa PPL untuk menuliskan berbagai masalah dalam pembelajaran, bagaimana langkah pemecahan yang sudah dilakukan untuk memperbaiki pembelajaran, serta bagaimana hasil atas perbaikan tersebut.

Ketiga langkah di atas bersifat siklik (melingkar) dan dapat disejajarkan dengan kegiatan dasar dalam penelitian tindakan kelas. Jika dicermati, penelitian tindakan kelas juga bermula dari adanya masalah pembelajaran, dilanjutkan merancang perbaikan, menerapkannya, dan melihat hasil dari perbaikan tersebut. Di dalam langkah penelitian tindakan kelas juga dapat ditemukan adanya kegiatan refleksi yang dilakukan sebagai kegiatan akhir setelah kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan observasi. Dengan demikian, penulisan jurnal refleksi di dalam kegiatan PPL PPG ini sesungguhnya dijiwai oleh semangat perbaikan pembelajaran berbasis pemikiran reflektif atas tindakan yang dilakukan diri sendiri, untuk perbaikan pembelajaran di kelasnya sendiri. Pada titik inilah penulisan jurnal refleksi dalam PPL PPG ini dapat dilihat sebagai sebentuk aktivitas dasar dari penelitian tindakan kelas.

Hasil dari jurnal ini nantinya dapat dikembangkan sebagai penelitian tindakan kelas, yang selain sebagai bentuk profesionalisme guru, juga dapat menjadi bagian dari aktivitas pengembangan keprofesian berkelanjutan jika mahasiswa berprofesi sebagai seorang guru.

Agar dapat tersusun jurnal yang ideal, maka penulisan jurnal refleksi guru dapat berlandaskan pada beberapa prinsip yaitu:

  1. Runtut. Jurnal refleksi guru adalah kisah atau penceritaan mengenai proses pembelajran yang telah lalu. Agar dapat tersusun jurnal yang baik seorang guru harus dapat menguraikan dalam model naratif, yaitu kisah dengan penceritaan yang runtut dari satu tahapan ke tahapan pembelajaran berikutnya.
  2. Rinci. Jurnal refleksi guru juga merupakan sebuah tulisan deskriptif, oleh karena itu harus dapat menggambarkan kembali proses pembelajaran secara rinci. Kerincian di sini tentu bukan dalam keseluruhan tahapan pembelajaran, namun pada situasi dan kondisi tertentu di mana guru tertarik untuk mengkaji dan membahasnya karena adanya suatu masalah atau fenomena yang unik.
  3. Jujur. Dalam menuliskan jurnal refleksi seorang guru harus berani jujur kepada dirinya sendiri perihal berbagai kelebihan dan kelemahan dalam proses pembelajaran. Kejujuran juga menyangkut berbagai peluang dan kendala atau hambatan baik internal (dalam diri guru ) maupun eksternal (di luar diri guru) yang menyebabkan kelebihan dan kelemahan tersebut.
  4. Kritis. Penulisan jurnal refleksi guru hendaknya menyertakan pemikiran kritis dari guru berdasarkan keilmuan profesi guru. Pemikiran kritis diperlukan agar dapat diidentifikai kesenjangan dan ketidaksesuaian dalam pembelajaran sehingga dapat dipetakan berbagai alternatif perbaikan.
  5. Visioner. Penulisan jurnal refleksi guru hendaknya memiliki tujuan ke masa depan yang jelas. Artinya terdapat perumusan-perumusan alternatif solusi atas masalah pembelajaran yang akan diterapkan pada proses pembelajaran berikutnya.

Strategi Menyusun Jurnal Refleksi
Menyusun jurnal refleksi guru merupakan aktivitas yang kompleks karena melibatkan keterampilan berpikir reflektif dan kemampuan menulis. Dalam konteks kemampuan menulis, strategi untuk mengembangkan tulisan reflektif dapat mendasarkan pada model karangan naratif, deskriptif, argumentatif, dan ekspalantif.

  1. Model naratif digunakan karena menulis jurnal refleksi menyajikan urutan pengalaman masa lampau.
  2. Model deskriptif digunakan karena tulisan refleksi adalah usaha menggambarkan dengan rinci sebuah peristiwa.
  3. Model argumentatif digunakan  karena di dalam tulisan refleksi termuat penjelasan rasional sebuah tindakan dilakukan.
  4. Model eskplanatif digunakan karena jurnal refleksi juga memuat berbagai penjelasan yang kritis.

Berkaitan dengan keterampilan berpikir reflektif, strategi yang dapat dilakukukan untuk mengembangkannya yakni dengan membangun tulisan jurnal refleksi berbasis pada model refleksi tindakan yang telah dikembangkan beberapa ahli. Model refleksi tindakan yang dipaparkan di bawah ini adalah contoh dari beberapa yang ada.

2. Model Terry Borton
Model refleksi tindakan dikembangan oleh Borton pada tahun 1970. Model tersebut jika digambarkan dalam skema seperti gambar berikut:

ppg91

Gambar. Skema model refleksi
tindakan Terry Borton  diadaptasi dari Gary Rolfe (2001) (Sumber:https://en.wikipedia.org/wiki/Reflective_practice)

Dari model di atas dapat dijelasakan bahwa langkah untuk melakukan refleksi ataupun menulis jurnal refleksi guru yaitu dengan langkah:

    • What. Pertanyaan “what” (apa) dimunculkan lebih awal untuk memandu guru menjawabnya dengan deskripsi mengenai kegiatan pembelajaran yang sudah dilakukan. Pertanyaan “apa” di sini merujuk pada apa saja yang sudah dilakukan guru dalam pembelajran, apa saja kelebihan dalam pembelajaran, apa saja kelemahan dalam pembelajaran, apa saja yang sudah dilakukan dalam proses pembelajaran untuk mengatasi kelemahan, dan berbagai hal lain yang penting di deskripsikan di awal sebuah jurnal refleksi guru.
    • So What. Pertanyaan “lalu apa?” artinya meminta jawaban atau penegasan analitik dari deskripsi sebelumnya. Jika memang seperti itu kondisi atau situasinya lalu apa penyebabnya dan apa solusinya. Pada langkah kedua ini guru dapat merenungkan mengapa situasi dan kondisi pembelajaran seperti dalam deskripsi, faktor apa menyebabkannya, dan apa saja alternatif tindakan yang dapat dilakukan.
    • What Next. Pertanyaan “lalu apa berikutnya?” merupakan pertanyaan yang memancing guru untuk dapat menjelaskan di dalam jurnal refleksi mengenai tindakan apa yang akan dilakukan selanjutnya setelah ditemukan masalah dan beberapa alternatif solusinya. Apa alasanya harus menerapkan perbaikan pembelajaran menggunakan alternatif tindakan tersebut. Model Borton tersebut telah digunakan secara meluas dalam dunia pendidikan, bahkan dunia medis juga telah mengadopsinya. Model tersebut praktis  dan sederhana untuk memandu guru menyusun jurnal refleksi pembelajaran. Mahasiswa PPL PPG dan Bapak/Ibu dosen/instruktur dapat mengembangkannya jika dibutuhkan langkah lain untuk melengkapinya.

2. Model Kolb dan Fry
Model refleksi tindakan berikunya adalah model yang dikembangan oleh ahli pendidikan lainnya yaitu David A. Kolb dan Fry pada tahun 1975. Model tersebut jika digambarkan dalam skema terlihat seperti pada gambar di bawah ini :

ppg92

Gambar Skema model refleksi tindakan Kolb & Fry
(Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Reflective_practice)

Tahapan refleksi model Kolb dan Fry pada dalam gambar di atas sebenarnya merujuk pada refleksi untuk pembelajaran experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman). Tahapan refleksi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Concrete experience (Pengalaman konkret): Pada tahap ini adalah tahap di mana kita mengalami dan menyadari sebuah situasi, sehingga perlu untuk menuliskan refleksi secara sistematis dengan tujuan untuk mempelajari sesuatu yang baru, atau untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan praktik pembelajaran. Pada tahap ini dilakukan pencatatan terhadap situasi khusus, dan hanya menuliskan apa yang dilihat, apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan.
2) Reflective observation (Observasi Reflektif): Sambil menuliskan deskripsi pengalaman pelaksanaan pembelajaran, dapat direnungkan lebih dalam mengenai situasi yang terjadi dalam pembelajaran tersebut. Pertanyaan yang butuh untuk dijawab oleh diri sendiri misalnya: tindakan apa yang dapat terlaksana dengan baik? Tindakan apa yang gagal? Mengapa situasi tersebut terjadi? Mengapa saya melakukan tindakan tersebut?
3) Abstract Conceptualization (Konseptualisasi Abstrak): Pertanyaan panduan untuk tahap ini memiliki kaitan dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam tahap observasi reflektif, misalnya: apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik atau berbeda? bagaimana saya bisa meningkatkan tindakan saya? Pada awalnya kita dapat berusaha mencari beragam strategi alternatif untuk menghadapi situasi. Pada tahap ini idealnya seorang guru membangun komunikasi dan berkonsultasi dengan kolega, dan banyak melakukan studi literatur untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai masalah yang dihadapi dan memikirkan ide-ide lebih lanjut.
4) Active Experimentation (Eksperimen aktif): Pada tahap ini pengetahuan teoritis yang baru diperoleh di tahap konseptualisasi abstrak diterapkan dalam penyusunan refleksi. Kita dapat menuliskan refleksi dan pemikiran kita sendiri tentang perbaikan tindakan, dengan mengaitkan teori-teori yang dipelajari dengan praktik tindakan perbaikan yang akan dilakukan. Rumusan tindakan dapat menjadi dasar untuk siklus baru.

c. Model Graham Gibbs
Peneliti pembelajaran Graham Gibbs membahas penggunaan tanya jawab terstruktur untuk memandu refleksi dalam siklus pembelajaran yang dikembangkan pada tahun 1988. Tahapan refleksi pembelajaran model Gibbs dapat dapat dilihat dalam skema isual seperti dalam gambar di bawah ini :

ppg93

Gambar Skema model refleksi tindakan Gibbs
(Sumber: https://www.brookes.ac.uk/assets)

Tahapan refleksi model Gibbs di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Description (Mendeskripsikan). Pada tahap ini refleksi dipandu dengan pertanyaan “hal apa saja yang terjadi?”. Pada tahap ini belum ada usaha untuk membuat penilaian atau mengambarkan kesimpulan, hanya deskripsi saja secara sederhana dan lugas.
2) Feelings (Merasakan). Pada tahap ini refleksi dipandu dengan pertanyaan “Apa yang anda rasakan dan apa reaksi anda?”. Pada tahap ini belum dilakukan analisis berbagai atas berbagai hal.
3) Evaluation (Mengevaluasi). Pada tahap ini refleksi dipandu dengan pertanyaan “Tindakan apakah yang menurut anda baik dan tidak baik dalam pembelajaran?”. Pada tahap ini dapat dibuat penilaian terhadap tindakan kita.
4) Analysis (Menganalisis). Pada tahap ini refleksi dipandu dengan pertanyaan “Apa yang bisa anda pahami dari situasi pembelajaran tersebut?”. Untuk menjawab pertanyaan ini kita dapat menghadirkan ide dari pengalaman diluar pembelajaran. Dapat ditambahkan pertanyaan: “apa yang benar-benar terjadi?”, “Apakah guru juga mengalami hal ini?” “Apakah beberapa guru menggunakan strategi seperti ini?”.
5) Conclusions/General (Menyimpulkan). Pada tahap ini refleksi dipandu dengan pertanyaan “Apa yang dapat disimpulkan secara umum dari pengalaman pembelajaran tersebut dan dari analisis atas pembelajaran tersebut?”. Pertanyaan ini digunakan untuk membangun kesimpulan umum. Sedang untuk kesimpulan khusus dapat dipandu dengan pertanyaan “Simpulan apa yang dapat dirumuskan dari situasi atau tindakan pembelajaran spesifik, unik, pribadi yang telah kita lakukan?”
6) Personal Action Plans (Rencana Tindakan Pribadi). Pada tahap ini refleksi dapat dipandu dengan pertanyaan “Tindakan berbeda apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi situasi seperti ini pada pembelajaran berikutnya?” dan “Langkah apa yang akan kita ambil berdasarkan hal yang telah kita pelajari dari proses pembelajaran tersebut?”

d. Model Atkins dan Murphy
Model refleksi yang dikembangkan Atkins dan Murphy (1994) merupakan peyempurnaan atas model sebelumnya. Model ini dikonstruksikan untuk mendukung refleksi dengan tingkat yang lebih dalam. Model Atkins dan Murphy dikembangkan untuk menghindarkan refleksi hanya membahas tindakan dipermukaan dan kurang mendalam. Tahapan refleksi pembelajaran model Atkins dan Murphy dapat dapat dilihat dalam skema visual seperti dalam gambar di bawah ini.

ppg94

Gambar Skema model refleksi tindakan Atkins dan Murphy
(Sumber: https://4.bp.blogspot.com)

Dalam siklus yang dikembangkan oleh Atkins dan Murphy, usaha menghindarkan refleksi dari kajian yang dangkal dilakukan melalui secara eksplisit mengidentifikasi berbagai tantangan dan asumsi, membayangkan dan mengeksplorasi alternatif tindakan, mengevaluasi relevansi dan dampak tindakan, serta mengidentifikasi pembelajaran yang telah terjadi sebagai hasil dari proses tindakan yang menyeluruh. Tahapan refleksi model Atkins dan Murphy di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Awareness (Kesadaran). Tahap pertama ini merupakan tahap di mana seorang yang melakukan refleksi (guru misalnya) berusaha untuk mendapatkan pengetahuan atau kesadaran tentang faktor yang menyebabkan munculnya permasalahan dalam pembelajaran. Pada tahap ini penting juga untuk mengidentifikasi pikiran dan emosi guru sebagai hasil dari pengalaman mengampu pembelajaran. Oleh karena itu seseorang guru harus terbuka dan mengekspresikan dirinya secara jujur dalam mengidentifikasi masalah yang dihadapinya. Atkins dan Murphy berpendapat bahwa merefleksi diri dengan cara menganalisis perasaan dan pikiran pribadi dapat mendorong pengembangan kapasitas diri. Selain itu, ketidaknyamanan juga dapat dilihat sebagai hasil dari pengalaman baru. Pertanyaan-pertanyaan kunci yang dapat digunakan untuk memandu penyusunan refleksi pada tahap ini misalnya: Masalah apa yang terjadi dalam pembelajaran yang saya ampu? Bagaimana dampak masalah tersebut pada emosi saya? Bagiamana saya mengendalikan emosi setelah masalh tersabut muncul? Apa hal terbaik yang harus saya pikirkan? Apa yang muncul dalam pemikiran saya jika melihat kembali pembelajaran yang sudah saya lakukan tersebut?
2) Describe (Menggambarkan). Tahap ini adalah tahap untuk menggambarkan situasi. Pada tahap ini seorang guru harus menganalisis situasi dan peristiwa peristiwa penting
yang telah terjadi dalam pembelajran secara kritis. Misalnya, pengaturan lingkungan tertentu mungkin telah menyebabkan pemicu bagi siswa untuk mengalami ketidaknyamanan, atau bisa jadi pengaturan lingkungan yang berbeda menyebabkan munculnya kenyamanan belajar siswa dan sebagainya. Oleh karena itu dalam tahap ini penting untuk menganalisis dan menggambarkan situasi. Dengan cara ini akan diperoleh pemahaman yang lebih baik mengapa masalah tersebut terjadi. Pertanyaan berikut bisa menjadi contoh untuk menganalisis situasi: pembelajaran apa yang saya kelola? Di kelas berapa? Kapan dilaksanakan? Bagaimana saya menglola kelas? dan sejeninsnya.
3) Analyze (Menganalisis). Tahap ini merupakan tahap untuk melakukan analisis asumsi yang juga disebut sebagai pengetahuan reflektif praktik. Misalnya, sebelum tindakan pembelajran seorang guru mungkin memiliki pemikiran tentang pelaksanaan tindakan yang dituangkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Adalah penting bagi guru untuk menentukan dalam refleksi apakah perencaan itu tepat atau ternyata kurang tepat. Lebih penting lagi, model refleksi Atkins dan Murphy menyatakan bahwa dalam praktik reflektif juga harus dicari alternatif pemecahan masalah. Ini berarti bahwa seorang guru dalam penulisan jurnal reflekstif harus menganalisis bagaimana sebuah tindakan akan berbeda dalam situasi pembelajaran yang berbeda. Berbagai pertanyaan dapat diajukan untuk menganalisis tahap refleksi ini mislanya: Apa yang sudah saya ketahui tentang situasi tersebut? Apa asumsi saya tentang situasi tersebut?
Bagaimana realitas mencerminkan asumsi saya? Apa perbedaannya? Bagaimana saya bereaksi jika sesuatu yang lain terjadi? Dalam jenis skenario apa ketidaknyamanan tidak akan terjadi?
4) Evaluate (Mengevaluasi). Tahap ini adalah tahap untuk menilai apakah pemahaman pada tahap sebelumnya (tahap menganalisis) relevan untuk tindakan perbaikan. Relevansi pemahaman itu penting karena berkaitan dengan usaha mengidentifikasi masalah. Hal tersebut juga berkaitan dengan kemampuan menilai bagaimana masalah yang dihadapi dapat diselesaikan. Pertanyaan berikut ini dapat memandu dalam proses melakukan refleksi dalam tahap evaluasi: Bagaimana hal-hal yang ditemukan dalam tahap analisis dapat menjelaskan situasi/masalah? Bagaimana analisis terhadap seknario yang berbeda berpengaruh pada pemikiran saya melihat masalah? Seberapa lengkap saya menggunakan pengetahuan? Bagaimana pengetahuan saya ini berguna untuk perbaikan ke depan?                                                                                                              5) Identify (Mengidentifikasi). Tahap ini merupakan tahap untuk mengidentifikasi pembelajaran secara keseluruhan. Pada tahap ini guru telah melalui tahap menilai emosi, situasi, asumsi, dan pengetahuan yang dimilikinya. Oleh karena itu di tahap inilah semua elemen tersebut diintegrasikan, dengan demikian guru akhirnya dapat merumuskan temuan kelebihan dan kelemahan pembelajarannya, dan memanfaatkan rumusan temuan tersebut untuk perbaikan pembelajaran yang akan datang. Pertanyaan yang dapat digunakan untuk memandu refleksi pada langkah ini yaitu: Pelajaran/makna apa yang dapat saya peroleh dari proses pembelajaran yang sudah saya laksanakan? Bagaimana persoalan dalam pembelajaran yang lalu dapat berguna untuk menyusun perbaikan pembelajaran mendatang? Setelah dipaparkan beberapa model refleksi tindakan pembelajaran di atas, Bapak/Ibu dosen/instruktur dapat memilih dan menetukan model mana yang akan disarankan pada mahasiswa PPL PPG dalam menyusun jurnal refleksi pembelajaran. Model-model tersebut sifatnya adalah sebagai alternatif cara atau strategi penulisan jurnal refleksi. Bapak/Ibu dosen/instruktur dapat bediskusi dengan mahasiswa mengenai model mana yang akan dijadikan acuan, atau dapat juga mengembangkan model tersebut bahkan menyajikan model refleksi yang baru sekiranya memungkinkan. Inti dari kegiatan penyusunan jurnal refleksi pembelajaran adalah membiasakan mahasiswa PPL PPG sebagai calon guru untuk mawas diri terhadap kompetensinya dan bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran yang diampunya.

Aktivitas Daring (online)
Sebagai penguatan penguasaan materi, Bapak/Ibu dosen/instruktur dapat melakukan aktivitas dalam jaringan salah satunya mengerjakan lembar (LK) kerja berikut ini untuk kemudian dikumpulkan sebagai bagian dari penugasan daring.

  1. LK 8.1 Pemetaan langkah-langkah model refleksi.
  2.  LK.8.1 terlampir di halaman akhir kegiatan belajar 8 ini.

Rangkuman
Jurnal Refleksi Guru berisi tentang tanggapan kritis guru terhadap pembelajaran yang ia lakukan sendiri. Jurnal tersebut bukan jurnal agenda pembelajaran namun sebuah tulisan yang dialogis antara guru dengan dirinya sendiri perihal berbagai peristiwa yang
dialami dalam pembelajaran. Jurnal refleksi memiliki fungsi antara lain:

  1. Untuk mencatat perkembangan pembelajaran mencakup gagasan dan wawasan guru dan siswa dalam hal manajemen kelas, konsep, gagasan, pengalaman belajar dan materi,
  2. Untuk merenungkan konten subjek dan pengalaman pribadi sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman diri dan pemahaman karakter siswa, dan
  3. Untuk menganalisis proses pembelajaran dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran, pencapaian hasil belajar, dan untuk pengembangan diri guru.

Agar dapat tersusun jurnal yang ideal, maka penulisan jurnal refleksi guru dapat berlandaskan pada beberapa prinsip yaitu:

  1. Runtut,
  2. Rinci,
  3. Jujur Kritis, dan
  4. Visioner.

Strategi yang dapat dilakukukan untuk membangun tulisan jurnal refleksi dapat berbasis pada model refleksi tindakan yang telah dikembangkan beberapa ahli di
antaranya:

  1. Model Terry Borton (1970),
  2. Model Kolb dan Fry (1975),
  3. Model Graham Gibbs 1988,
  4. Model Atkins dan Murphy (1994).

Tes Formatif
Silahkan kerjakan soal di bawah ini untuk mengevaluasi diri apakah materi yang diuraikan dan dipelajari sudah dapat dikuasai Bapak/Ibu dosen/instruktur. Pilihlah satu jawaban yang dianggap paling tepat dengan memberikan tanda lingkaran (O) pada opsi jawaban yang ada.

1. Penulisan jurnal refleksi guru hendaknya memiliki tujuan ke masa depan yang jelas. Hal tersebut merupakan penjelasan dari salah satu prinsip penulisan jurnal refleksiyaitu visioner, yang dalam impelementasinya harus….

a. Memperbaiki atau meningkatkan kinerja guru dalam pembelajaran
b. Menceritakan apa adanya sesuai yang terjadi dan yang dialami
c. Mendesain angan dan harapan pembelajaran di masa yang akan datang
d. Menjelaskan dalam urutan logis dan bertahap sesuai peristiwa yang terjadi

2. Tahap What dalam konstruksi refleksi Terry Borton merupakan tahapan yang di dalamnya berisi kegiatan….

a. Menceritakan apa yang terjadi dalam pembelajaran
b. Merenungkan mengapa terjadi masalah dalam pembelajaran
c. Memikirkan aletrnatif perbaikan pembelajaran
d. Menjelaskan rancangan perbaikan pembelajaran

3. Awareness-Describe-Analyze-Evaluate-Identify adalah konstruksi tahapan refleksi yang diwacanakan oleh Atkins dan Murphy (1994). Tahap awareness tersebut memiliki kesejajaran dengan tahapan refleksi Terry Borton yaitu….

a. What
b. What next
c. So What
d. So What & What Next

4. Description-Feelings-Evaluation-Analysis-Conclusions-Personal Action Plans adalah konstruksi tahapan refleksi yang diwacanakan oleh Graham Gibbs. Tahapan tersebut yang dapat disejajarkan dengan tahap What dalam refleksi model Terry Borton adalah…

a. Analysis-Conclusions
b. Evaluation-Analysis
c. Feelings-Evaluation
d. Description-Feelings

5. Concrete experience-Reflective observation-Abstract Conceptualization-Active Experimentation adalah konstruksi tahapan refleksi yang diwacanakan oleh Kolb dan Fry. Bagian tahapan tersebut yang dapat disejajarkan dengan tahapan awareness dalam model refleksi Graham Gibbs adalah

a. Concrete Experience
b. Reflective Observation
c. Abstract Conceptualization
d. Active Experimentation

Refleksi

  1. Menurut Bapak/Ibu dosen/instruktur faktor apa saja yang menjadi kendala mahasiswa PPL dalam menyusun jurnal refleksi pembelajaran?
  2. Menurut Bapak/Ibu dosen/instruktur model refleksi yang manakah paling mudah
    diterapkan dalam memandu penulisan jurnal refleksi? Mengapa?
  3. Menurut Bapak/Ibu dosen/instruktur model refleksi yang manakah paling rumit
    diterapkan dalam memandu penulisan jurnal refleksi? Mengapa?

LK.8.1 Pemetaan langkah-langkah model refleksi

Petunjuk pengerjaan: Isilah tabel di bawah ini untuk memetakan langkah-langkah model refleksi.

ppg95

Referensi Pustaka
Adair, John. 2007. Develop Your Leadership Skills. London and Philadelphia: Kogan Page.

Brown, George. 1991. Pengajaran Mikro: Program Keterampilan Mengajar (Terj. Laurens Kaluge). Surabaya: Airlangga.

Ferguson. 2009. Career Skills Library Leadership Skills.Third Edition. New York: Ferguson Publishing.

Hamza, Ibrahim M., Daw, Abdulsalam., Faryadi Qais. 2013. “Using Multimedia Instructional Design to Teach the Holy-Quran: A Critical Review”. International Journal of Humanities and Social Science, 3, 37-43.

Jarvis, Peter (ed.). 2002. The Theory and Practice of Teaching Second (edition) London & New York: Routledge Taylor & Francis Group.

Latuheru, J. D. (1988). Media Pembelajaran Dalam Proses Belajar Mengajar Masa Kini. Jakarta: Depdikbud & P2 LPTK.

Leitch, Vincent B. “Teaching Theory” dalam Teaching Theory, (ed. Richard Bradford) First published 2011 by London: Palgrave Macmillan.

McIntosh, Paul. 2010. Action Research and Reflective Practice, Creative and visual methods to facilitate reflection and learning. London and New York: Rutledge.

Merideth, Eunice M. 2007. Leadership strategies for teachers. SAGE Publications.

Modul Pelatihan untuk Meningkatkan Kualitas Pelaksanaan PPL di LPTK (USAID, Kementrian PMK, Kemenag, Kemendikbud, dan Ristekdikti), 2016.

Moon, Jennifer A. 1999. Reflection in Learning and professional Development. Theory & Practice. London and New York: Routledge Falmer.

Sadiman, A., Rahardjo, Haryono, & Rahardjito (2006). Media Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Saud, Udin Syaefudin. 2009. Pengembangan Profesi Guru. Bandung: Alfabeta. Schön, Donald A. 1983. The Reflective Practitioner: How Professionals Think In
Action. Basic Books.

Sequeira. 2012. Introduction To Concepts Of Teaching And Learning Surathkal: National Institute of Technology Karnataka, India.

Supriyadi. 2013. Strategi Belajar & Mengajar. Yogyakarta: Jaya Ilmu.

Suwarna, dkk. 2005. Pengajaran Mikro. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 66 Tahun 2013 Tentang Standar Penilaian Pendidikan.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 81A Tahun 2013 Tentang Implementasi Kurikulum.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 104 Tahun 2014 Tentang Penilaian pada Kurikulum 2013.

Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian Pendidikan.

Panduan Bimbingan Pramuka Di Sekolah Dasar, Pendidikan Guru Sekolah Dasar Jurusan Ilmu Pendiikan Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Tahun 2017.

Peraturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.

Referensi Pustaka Web

  1. https://infed.org/mobi/what-is-teaching/
  2. https://www.slideshare.net/sunitaawandkar/microteaching-explanation-skill
  3. https://www.slideshare.net/moyusuf/skills-in-explaining
  4. https://positivepsychology.com/positive-reinforcement-classroom/ Teach Your Best – A Handbook for University Lecturers (DES, 387 p.)
  5. http://www.nzdl.org/gsdlmod?e=d-00000-00—off-0cdl–00-0—-0-10-0—0–0direct-10—4——-0-1l–11-en-50—20-about—00-0-1-00-0–4—-0-0-11-100utfZz-8-00&cl=CL1.117&d=HASH01bacd4b975a0db4bc878ddf.9.2.2&gt=1
  6. https://www.republika.co.id/berita/nasional/news-analysis/18/07/13/pbtcj0409cerita-rosida-mengapa-lalu-zohri-bisa-jadi-juara-dunia
  7. https://www.teras.id/sport/pat-2/79829/cerita-guru-rosida-menemukan-bakatlari-lalu-muhammad-zohri
  8. https://ayahalby.files.wordpress.com/2018/10/4_unit-vi-1_prota-prosem-danpemetaan-kd_9-jan-2018.pdf
  9. https://www.padamu.net/usaha-kesehatan-sekolah-uks
  10. http://digilib.unila.ac.id/1694/8/BAB%20II.pdf
  11. http://repo.iain-tulungagung.ac.id/3576/6/BAB%20V.pdf
  12. https://www.inirumahpintar.com/2016/10/pengertian-tujuan-manfaat-refleksi-
    dalam-pembelajaran.html
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Jurnal Refleksi Pembelajaran

  1. Pingback: Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Mengajar – SDN 7 SUBAGAN

  2. Pingback: Laporan Diklat Dosen/Instruktur PPG| Hari II ~ 12 Mei 2020 Kelas 22 – SDN 7 SUBAGAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *