Analisis Penerapan Evaluasi Untuk Perbaikan Pembelajaran

Penyegaran Calon Dosen/Instruktur PPG |Unit 3. Pembimbingan PPL

Fasilitator : Ahmad, PhD, dan Pamujo, M. Pd (Kemdikbud Dirjen GTK)

Daftar Isi Unit 3

  1. KB 1 Penyusunan Kisi-Kisi Instrumen
  2. KB 2 Pengembangan Instrumen
  3. KB 3 Pengembangan Pedoman Penilaian
  4. KB 4 Analisis Penerapan Evaluasi untuk Perbaikan Pembelajaran

KB 4 Analisis Penerapan Evaluasi Untuk Perbaikan Pembelajaran

Kegiatan Belajar 4 ini membahas tentang analisis dan penerapan evaluasi untuk perbaikan proses pembelajaran. Penilaian merupakan rangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis, akurat dan berkesinambungan. Jadi penilaian bukan sekadar untuk mengetahui pencapaian hasil belajar peserta didik, namun dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam proses belajar.

Eksplore Lebih Lanjut

  1. Unit 1 tentang Penyusunan Perangkat Pembelajaran
  2. Unit 2 tentang Pembimbingan PPL
  3. Unit 3 tentang Pembimbingan Penilaian Pembelajaran
  4. Unit 4 tentang Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan

Penilaian harus dilakukan secara efektif. Oleh sebab itu, pengumpulan informasi yang akan digunakan untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik harus lengkap dan akurat agar dihasilkan keputusan yang tepat. Hasil penilaian kemampuan aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan akan dianalisis, untuk selanjutnya digunakan untuk perbaikan pembelajaran.  Mengolah, menganalisis, dan menginterpretasikan hasil penilaian dilanjutkan dengan melaporkan dan memanfaatkan hasil laporan merupakan tahapan yang tertuang dalam Pasal 13 Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang standar penilaian pendidikan. Prosedur penilaian proses dan hasil belajar oleh pendidik, satuan pendidikan, atau pemerintah setelah menyusun kisi-kisi, membuat instrumen penilaian berikutnya adalah membuat pedoman penilaian.

Setelah melaksanakan aktivitas belajar ini diharapkan dapat membimbing mahasiswa:

  1. melakukan analisis dan penerapan evaluasi sikap untuk perbaikan pembelajaran
  2. melakukan analisis dan penerapan evaluasi pengetahuan untuk perbaikan pembelajaran
  3. melakukan analisis dan penerapan evaluasi keterampilan untuk perbaikan pembelajaran

Materi
Analisis Hasil Penilaian Sikap dan Pemanfaatannya
Dalam pelaksanaan penilaian sikap, pendidik dapat merencanakan indikator sikap yang akan diamati sesuai dengan karakteristik proses pembelajaran yang akan dilakukan, perilaku kerjasama dalam diskusi kelompok dan kerapihan dalam praktikum.
Selain itu, penilaian sikap dapat dilakukan tanpa perencanaan, misalnya perilaku yang muncul tidak terduga selama proses pembelajaran dan di luar proses pembelajaran. Hasil pengamatan perilaku tersebut dicatat dalam jurnal. Penilaian sikap dilakukan oleh guru kelas, guru mata pelajaran agama dan budi pekerti, guru PJOK, dan pembina ekstrakurikuler. Guru kelas mengumpulkan data dari hasil penilaian sikap yang dilakukan oleh guru mata pelajaran lainnya, kemudian merangkum menjadi deskripsi (bukan angka atau skala).

Peserta didik yang berperilaku menonjol sangat baik diberi penghargaan, sedangkan peserta didik yang berperilaku kurang baik diberi pembinaan. Penilaian sikap spiritual dan sosial dilaporkan kepada orangtua dan pemangku kepentingan sekurang-kurangnya dua kali dalam satu semester. Hasil akhir penilaian sikap diolah menjadi deskripsi sikap yang dituliskan di dalam rapor peserta didik. Dilaporkan juga pada saat ditemukan ada sikap spiritual atau sikap sosial yang menonjol perlu diberi pembinaan (Kemdikbud, 2016).

Pelaksanaan penilaian sikap ditujukan untuk mengetahui kecenderungan perilaku spiritual dan sosial peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, baik di dalam maupun diluar kelas sebagai hasil pendidikan. Disamping itu penilaian sikap dimaksudkan juga untuk mengetahui capaian/perkembangan sikap peserta didik dan memfasilitasi tumbuhnya perilaku peserta didik sesuai butir-butir nilai sikap dari KI-1 dan KI-2. Penilaian sikap dilakukan dengan teknik observasi, penilaian diri, dan penilaian antar teman. Penilaian diri dan penilaian antar teman dilakukan dalam rangka pembinaan dan pembentukan karakter peserta didik, yang hasilnya dapat dijadikan sebagai salah satu data konfirmasi dari hasil penilaian sikap oleh pendidik.

Teknik penilaian observasi dapat menggunakan instrumen berupa lembar observasi, atau buku jurnal (selanjutnya disebut jurnal). Penilaian diri menggunakan instrumen penilaian diri. Penilaian antar teman menggunakan instrumen penilaian antar teman. Penilaian sikap dengan teknik observasi dapat dilakukan menggunakan lembar observasi. Lembar observasi merupakan instrumen yang dapat digunakan oleh pendidik
untuk memudahkan penyusunan laporan hasil pengamatan terhadap perilaku peserta didik yang berkaitan dengan sikap spiritual dan sikap sosial. Sikap yang diamati adalah sikap yang tercantum dalam indikator pencapaian kompetensi pada KD untuk mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti (PABP) dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).

Pada mata pelajaran selain PABP dan PPKn, sikap yang diamati tercantum pada KI-1 dan KI-2. Lembar observasi yang digunakan untuk mengamati sikap dapat berupa lembar observasi tertutup dan lembar observasi terbuka.  Hasil pengukuran penilaian sikap dapat berupa skor atau angka. Untuk menafsirkan hasil pengukuran diperlukan suatu kriteria. Kriteria yang digunakan tergantung pada skala dan jumlah butir pertanyaan/pernyataan yang digunakan. Misalkan digunakan skala Likert yang berisi 10 butir pertanyaan/pernyataan dengan 4 (empat) pilihan untuk mengukur sikap peserta didik. Skor untuk butir pertanyaan/pernyataan yang sifatnya positif: Sangat setuju – Setuju – Tidak setuju – Sangat tidak setuju. (4) (3) (2) (1) Sebaliknya untuk pertanyaan/pernyataan yang bersifat negatif Sangat setuju – Setuju – Tidak setuju – Sangat tidak setuju. (1) (2) (3) (4)

Skor tertinggi untuk instrumen tersebut adalah 10 butir x 4 = 40, dan skor terendah 10 butir x 1 = 10. Skor ini dikualifikasikan misalnya menjadi empat kategori sikap atau minat, yaitu sangat tinggi (sangat baik), tinggi (baik), rendah (kurang), dan sangat rendah (sangat kurang). Berdasarkan kategori ini dapat ditentukan sikap peserta didik. Selanjutnya dapat dicari sikap kelas terhadap mata pelajaran tertentu.

Contoh 1 Kategorisasi sikap peserta didik untuk 10 butir pernyataan, dengan rentang skor 10 – 40.

ppg83

Keterangan

  1. Skor batas bawah kategori sangat tinggi atau sangat baik adalah: 0,80 x 40 = 36, dan
    batas atasnya 40.
  2. Skor batas bawah pada kategori tinggi atau baik adalah: 0,70 x 40 = 28, dan skor  batas atasnya adalah 35.
  3. Skor batas bawah pada kategori rendah atau kurang adalah: 0,50 x 40 = 20, dan skor  batas atasnya adalah 27.
  4. Skor yang tergolong pada kategori sangat rendah atau sangat kurang adalah kurang  dari 20.

Contoh 2 Kategorisasi sikap kelas

ppg83

Keterangan

Rata-rata skor kelas: jumlah skor semua peserta didik dibagi jumlah peserta didik di kelas yang bersangkutan.

Pada Contoh 1 dapat diketahui sikap tiap peserta didik terhadap tiap mata pelajaran. Bila sikap peserta didik tergolong rendah, maka peserta didik harus berusaha meningkatkan sikap dengan bimbingan pendidik. Sedang bila sikap peserta didik tergolong tinggi, peserta didik harus berusaha mempertahankannya.

Contoh 2 menunjukkan sikap kelas terhadap suatu mata pelajaran. Dalam pengukuran sikap kelas diperlukan informasi tentang sikap setiap peserta didik terhadap suatu objek, seperti mata pelajaran. Hasil pengukuran sikap kelas untuk semua mata pelajaran berguna untuk membuat profil sikap kelas. Jadi satuan pendidikan akan memiliki peta sikap kelas dan selanjutnya dikaitkan dengan profil prestasi belajar.

Kemdikbud (2016) menyajikan langkah-langkah untuk membuat deskripsi nilai/perkembangan sikap selama satu semester:

  1. Guru mata pelajaran, wali kelas dan guru BK masing-masing mengelompokkan (menandai) catatan-catatan sikap pada jurnal yang dibuatnya kedalam sikap spiritual dan sikap sosial (apabila pada jurnal belum ada kolom butir nilai);
  2. Guru mata pelajaran, wali kelas dan guru BK masing-masing membuat rumusan deskripsi singkat sikap spiritual dan sikap sosial berdasarkan catatan-catatan jurnal untuk setiap peserta didik;
  3. Wali kelas mengumpulkan deskripsi singkat sikap dari guru mata pelajaran dan guru BK. Dengan memperhatikan deskripsi singkat sikap spiritual dan sosial dari guru mata pelajaran, guru BK, dan wali kelas yang bersangkutan, wali kelas menyimpulkan (merumuskan deskripsi) capaian sikap spiritual dan sosial setiap peserta didik;
  4. Pelaporan hasil penilaian sikap dalam bentuk predikat dan deskripsi.

Analisis Hasil Penilaian Keterampilan dan Pemanfaatannya
Penilaian aspek keterampilan yang diselenggarakan oleh pendidik mempunyai  banyak kegunaan, baik bagi peserta didik, satuan pendidikan, ataupun bagi pendidik sendiri. Secara rinci dapat dijelaskan manfaat penilaian, yaitu:

  1. mengetahui tingkat ketercapaian kompetensi inti yang sudah dijabarkan ke kompetensi dasar;
  2. mengetahui pertumbuhan dan perkembangan kemampuan peserta didik;
  3. mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik;
  4. mendorong peserta didik belajar/berlatih;
  5. mendorong pendidik untuk mengajar dan mendidik lebih baik;
  6. mengetahui keberhasilan satuan pendidikan dan mendorongnya untuk berkarya lebih terfokus dan terarah.

Untuk mendapatkan manfaat seperti yang telah dijelaskan di atas maka perlu dilakukan analisis terhadap hasil tes/penilaian yang telah dicapai oleh peserta didik. Caranya yaitu dengan membuat tabel spesifikasi yang dapat menunjukkan kompetensi dasar, indikator, atau aspek keterampilan mana yang belum dikuasai oleh peserta didik.  Selanjutnya, aspek keterampilan yang belum dikuasai itu dituliskan dalam kolom keterangan. Contoh analisis hasil tes dapat dilihat pada Tabel berikut.
Nama Peserta didik: …Bunga………

ppg85

Berdasar Tabel, tampak bahwa Bunga sudah menguasai aspek keterampilan dalam menendang bola menggunakan kaki bagian dalam dan punggung kaki, tetapi belum menguasai aspek keterampilan menendang bola menggunakan kaki bagian luar dengan teknik yang benar. Dengan demikian, guru mengetahui dengan persis aspek keterampilan apa yang belum dikuasai oleh Bunga. Berdasarkan hasil analisis inilah guru memberikan bantuan untuk perbaikan prestasi belajarnya melalui program remedi. Hal yang harus diperhatikan adalah peserta didik yang mengikuti remedi harus diberi bantuan/layanan untuk memperbaiki penguasaan aspek keterampilan yang belum dikuasainya. Tidak hanya diuji ulang, tetapi juga harus berlatih kembali untuk dapat mencapai kompetensi psikomotor yang ditetapkan.

Depdiknas (2007) menyajikan contoh lembar penilaian “Lari cepat 100 meter” yang butir nya ada 20 dengan rentang skor tiap butir 1 sampai dengan 5, maka skor minimalnya 20 dan skor maksimalnya 100. Ini berarti bahwa peserta didik yang mendapat skor 20 diartikan gagal, sedangkan peserta didik yang mendapat skor 100 diartikan berhasil secara sempurna. Sebagai contoh perhatikan tabel dan penjelasan berikut:

ppg86

Hal pertama yang harus diperhatikan dalam melakukan analisis adalah ada atau tidak adanya perbedaan bobot tiap-tiap aspek keterampilan yang ada dalam skala penilaian atau daftar periksa observasi. Apabila tidak ada perbedaan bobot maka penskorannya lebih mudah. Skor akhir sama dengan jumlah skor tiap-tiap butir penilaian. Selanjutnya untuk menginterpretasikan, hasil yang dicapai dibandingkan dengan acuan atau kriteria. Oleh karena pembelajaran ini menggunakan pendekatan belajar tuntas dan berbasis kompetensi maka acuan yang digunakan untuk menginterpretasikan hasil penilaian kinerja dan hasil kerja peserta didik adalah acuan kriteria.

Apabila ditetapkan batas kelulusan 75% dari skor maksimal maka peserta didik yang mendapat skor 75 ke atas dikatakan lulus sedangkan peserta didik yang mendapat skor kurang dari 75 diharuskan mengikuti program remedial. Dalam contoh ini, karena skor yang dicapai peserta didik adalah 67, maka peserta didik itu masih perlu remedi.

Apabila tiap-tiap aspek keterampilan tidak sama bobotnya, maka skor akhir yang dicapai peserta didik sama dengan jumlah skor tiap-tiap butir yang sudah ditentukan bobotnya. Skor tiap-tiap butir sama dengan skor yang dicapai dibagi banyaknya pilihan
jawaban kemudian dikalikan dengan bobot masing-masing butir. Pada contoh lembar penilaian “Lari cepat 100 meter ” dengan bobot untuk kelompok starting position = 25%, starting action = 25%, sprinting action = 30%, dan kelompok finishing action 20% dari skor maksimal, bobot tiap-tiap butir sama dengan bobot kelompok itu dibagi dengan jumlah butir, jadi bobot tiap-tiap butir dalam kelompok aspek keterampilan starting position adalah 5%, starting action = 5%, sprinting action = 6%, dan finishing action 4% dari skor maksimal. Oleh karena skor maksimalnya 100 maka bobot tiap-tiap butir dalam kelompok aspek keterampilan starting position adalah 5, starting action = 5, sprinting action = 6, dan finishing action 4. Dengan demikian, skor tiap-tiap butir yang sudah ditentukan bobotnya sama dengan skor butir sebelum ditentukan bobotnya dibagi
banyaknya pilihan jawaban dikalikan bobot tiap-tiap butir.

Misal: untuk butir nomor 1 dari contoh di atas, skor butir yang sudah ditentukan bobotnya = (2/5) x 5 = 2.

Analisis Hasil Penilaian Pengetahuan dan Pemanfaatannya
Nilai pengetahuan diperoleh dari hasil penilaian harian (PH), penilaian tengah semester (PTS), dan penilaian akhir semester (PAS) yang dilakukan dengan beberapa teknik penilaian sesuai tuntutan KD. Penulisan capaian pengetahuan pada buku rapor menggunakan angka pada skala 0 sampai 100 yang disertai dengan deskripsi. Hasil Penilaian Harian merupakan nilai rata-rata yang diperoleh dari hasil penilaian harian melalui tes tertulis dan/atau penugasan untuk setiap KD. Dalam perhitungan nilai rata-rata dapat diberikan pembobotan untuk nilai tes tertulis dan penugasan misalnya 60% untuk bobot tes tertulis dan 40% untuk penugasan. Pembobotan ini ditentukan oleh pendidik berkoordinasi dengan satuan pendidikan.

Hasil Penilaian Tengah Semester (HPTS) merupakan nilai yang diperoleh dari penilaian tengah semester (PTS) melalui tes tertulis dengan materi yang diujikan terdiri atas semua KD dalam tengah semester. Pada jenjang SD, PTS dilakukan setelah kegiatan pembelajaran menyelesaikan 2 atau 3 tema. Hasil Penilaian Akhir Semester (HPAS) merupakan nilai yang diperoleh dari penilaian akhir semester (PAS) melalui tes tertulis dengan materi yang diujikan terdiri atas semua KD atau semua tema dalam satu semester.

Jumlah butir soal yang diujikan dari setiap KD ditentukan secara proporsional, bergantung tingkat keluasan dan kedalaman materi KD dalam satu semester tersebut.  Hasil Penilaian Akhir merupakan hasil pengolahan dari HPH, HPTS, dan HPAS dengan menggunakan formulasi dengan atau tanpa pembobotan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan. Di samping nilai dalam bentuk angka dan predikat, dalam buku rapor dituliskan deskripsi capaian pengetahuan untuk setiap mata pelajaran. Deskripsi capaian pengetahuan dalam buku rapor dilakukan dengan mengikuti rambu-rambu berikut:

  1. Penggunaan kalimat dalam deskripsi pengetahuan bersifat memotivasi dengan pilihan kata/frasa yang bernada positif. Hindari frasa yang bermakna kontras, misalnya: …tetapi masih perlu peningkatan dalam … atau… namun masih perlu bimbingan dalam hal…;
  2. Deskripsi berisi beberapa pengetahuan yang Sangat Baik dan/atau Baik dikuasai oleh peserta didik dan yang penguasaannya Mulai Berkembang.

Hasil penilaian pengetahuan dan keterampilan dianalisis untuk memperoleh informasi tentang pencapaian kompetensi peserta didik. Hasil analisis digunakan untuk mengidentifikasi peserta didik yang sudah mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM)
KD mata/muatan pelajaran. Hasil penilaian dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan dan perkembangan peserta didik. Di samping itu hasil penilaian dapat juga
memberi gambaran tingkat keberhasilan pendidikan pada satuan pendidikan. Berdasarkan hasil penilaian, kita dapat menentukan langkah atau upaya yang harus dilakukan dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar oleh pendidik, satuan pendidikan, orang tua, peserta didik, maupun pemerintah (Kemdikbud, 2018).

Hasil penilaian yang diperoleh harus diinformasikan langsung kepada peserta didik sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan peserta didik (assessment as learning), pendidik (assessment for learning), dan satuan pendidikan selama proses pembelajaran berlangsung (melalui PH/pengamatan harian) maupun setelah beberapa kali program pembelajaran (PTS), atau setelah selesai program pembelajaran selama satu semester (PAS).

Penilaian yang dilakukan oleh pendidik dengan tujuan untuk memperoleh nilai guna pengisian buku rapor, maka penilaian ini merupakan assessment of learning. Hasil analisis penilaian pengetahuan berupa informasi tentang peserta didik yang telah mencapai KKM dan peserta didik yang belum mencapai KKM. Peserta didik yang belum mencapai KKM perlu ditindaklanjuti dengan remedial, sedangkan peserta didik yang telah mencapai KKM diberikan pengayaan, dengan memperhatikan ketersediaan waktu
pertemuan yang ada.

Pembelajaran Pengayaan dan Remedial
Kemdikbud (2016) menyebutkan bahwa pembelajaran pengayaan dapat dilakukan melalui:

  1. belajar kelompok, yaitu sekelompok peserta didik diberi instrumen pengayaan untuk dikerjakan bersama pada dan/atau di luar jam pelajaran;
  2. belajar mandiri, yaitu peserta didik diberi instrumen pengayaan untuk dikerjakan sendiri/individual;
  3. pembelajaran berbasis tema, yaitu memadukan beberapa konten pada tema tertentu sehingga peserta didik dapat mempelajari hubungan antara berbagai disiplin ilmu.

Pembelajaran remedial dilaksanakan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. adaptif, hendaknya memungkinkan peserta didik untuk belajar sesuai dengan daya
    tangkap, kesempatan, dan gaya belajar masing-masing;
  2. Interaktif, melibatkan keaktifan pendidik untuk secara intensif berinteraksi dengan peserta didik dan selalu memberikan monitoring dan pengawasan agar mengetahui kemajuan belajar peserta didik;
  3. berbagai metode pembelajaran dan penilaian, perlu menggunakan berbagai metode pembelajaran dan metode penilaian yang sesuai dengan karakteristik peserta didik;
  4. pemberian umpan balik sesegera mungkin, umpan balik berupa informasi yang diberikan kepada peserta didik mengenai kemajuan belajarnya perlu diberikan sesegera mungkin agar dapat menghindari kesalahan belajar yang berlarut-larut dan mendeteksi sedini mungkin kesulitan belajar;
  5. berkesinambungan, dilakukan berkesinambungan dengan proses pembelajaran dan pendidik harus selalu menyediakan program remedial sesuai dengan kebutuhan.

Pembelajaran remedial dapat dilakukan dengan cara berikut ini:

  1. pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda, menyesuaikan dengan gaya belajar peserta didik;
  2. pemberian bimbingan secara perorangan (hanya pada peserta didik yang harus remedial);
  3. pemberian instrumen-instrumen atau latihan secara khusus, dimulai dengan instrumen-instrumen atau latihan sesuai dengan kemampuannya;
  4. pemanfaatan tutor sebaya, yaitu peserta didik dibantu oleh teman sekelasnya yang telah mencapai KKM (Kemdikbud, 2018).

Pembelajaran remedial diberikan segera setelah peserta didik diketahui belum mencapai KKM berdasarkan hasil PH atau PTS. Pembelajaran remedial pada dasarnya difokuskan pada KD yang belum tuntas dan dapat diberikan berulang-ulang sampai mencapai KKM dengan waktu hingga batas akhir semester. Apabila hingga akhir semester pembelajaran remedial belum bisa membantu peserta didik mencapai KKM, pembelajaran remedial bagi peserta didik tersebut dapat dihentikan. Nilai KD yang dimasukkan ke dalam pengolahan penilaian akhir semester adalah penilaian setinggi-tingginya sama dengan KKM yang ditetapkan oleh sekolah untuk mata pelajaran tersebut. Apabila peserta didik belum/tidak mencapai KKM, nilai yang dimasukkan adalah nilai tertinggi yang dicapai setelah mengikuti pembelajaran remedial. Guru tidak dianjurkan dengan memaksakan pemberian nilai tuntas kepada peserta didik yang belum mencapai KKM.

Kemdikbud (2016) menyajikan langkah-langkah program remedial sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi permasalahan pembelajaran berdasarkan hasil analisis terhadap Penilaian Harian (PH) dan Penilaian Tengah Semester (PTS). Permasalahan pembelajaran, antara lain keunikan peserta didik, materi ajar, dan strategi belajar.
  2. Menyusun perencanaan berdasarkan permasalahan pembelajaran.
  3. Melaksanakan program remedial.
  4. Melaksanakan penilaian untuk mengetahui keberhasilan peserta didik.
  5. Menetapkan nilai yang diperoleh peserta didik setelah program remedial sebagai nilai akhir capaian KD muatan pelajaran.

Contoh perolehan nilai penilaian harian mata pelajaran Matematika:

Andi = 90  Wati = 70  Indah = 62  Bagus = 58

Apabila KKM mata pelajaran matematika = 70, Indah dan Bagus harus mengikuti program remidial. Setelah mengikuti program remidial dan dites kembali, urutan perolehan nilai sebagai berikut: Bagus = 93 Indah = 85

Dari hasil perolehan nilai di atas, nilai akhir matematika untuk tes tersebut dapat ditetapkan beberapa alternatif sebagai berikut:

  1. Menggunakan nilai batas KKM, maka nilai Bagus dan Indah 70. Namun alternatif  ini akan dianggap kurang adil oleh Bagus karena nilai Bagus lebih tinggi dari pada Indah saat tes setelah remedial. Untuk mengantisipasi dan meminimalisasi timbulnya rasa ketidakadilan, guru dan siswa perlu menyepakati dari awal mekanisme penilaian ini.
  2. Menggunakan nilai rerata dari nilai perolehan awal dan nilai tes setelah remedial. Bagus ( = 75,5), Indah ( = 73,5). Alternatif ini akan merugikan bagi siswa yang mendapat perolehan nilai awal sangat rendah meskipun nilai tes setelah remedial sangat tinggi. Misalnya nilai seorang siswa sebelum remedial 20, dan tes setelah remedial 90. Siswa tersebut mendapat nilai (55). Untuk mengantisipasi dan meminimalisasi potensi yang dapat merugikan siswa, guru bisa memberikan pembobotan.
  3. Menggunakan nilai capaian akhir setelah remedial, maka nilai Bagus 93 dan Indah 85. Namun alternatif ini akan dianggap kurang adil oleh Andi dan Wati. Oleh karena itu, Andi dan Wati harus diberi kesempatan yang sama untuk meningkatkan nilai capaian akhir. Karena Andi dan Wati sudah melampaui nilai KKM, mereka berhak untuk mengikuti program pengayaan. Setelah mengikuti program pengayaan, Andi dan Wati bersama teman-teman yang mengikuti program remedial, mengikuti tes kembali. Sesuai kesepakatan, maka nilai yang digunakan merupakan nilai akhir setelah tes baik remedial maupun pengayaan.

Kemdikbud (2016) memvisualisasikan skema langkah pembelajaran remedial dapat
disajikan dalam gambar berikut ini:

ppg88

Gambar Skema Langkah Pembelajaran Remidial

Latihan
Untuk memperdalam pemahaman mengenai Kegiatan Belajar 4, kerjakanlah latihan berikut:

  1. Dalam konteks pendekatan penilaian, assessment as learning mempunyai fungsi yang  mirip dengan assessment for learning, jelaskan perbedaan pendekatan tersebut.
  2. Bagaimanakah implementasi prinsip adaptif dan interaktif dalam pembelajaran remedial.
  3. Bagaimanakah guru melaksanakan pembelajaran remedial dan pengayaan di tengah keterbatasan waktu yang ada?
  4. Bagaimana guru melakukan tes formatif secara efisien agar perbaikan pembelajaran dapat  tercapai?
  5. Bagaimana mendesain aktivitas belajar kelompok siswa yang dapat memfasilitasi
    pembelajaran pengayaan.

Rangkuman
Hasil penilaian pengetahuan dan keterampilan dianalisis untuk memperoleh informasi tentang pencapaian kompetensi peserta didik. Hasil analisis digunakan untuk mengidentifikasi peserta didik yang sudah mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) KD mata/muatan pelajaran.  Bagi peserta didik yang belum mencapai KKM KD, pendidik harus menindaklanjuti dengan remedial, sedangkan bagi peserta didik yang telah mencapai KKM KD, pendidik dapat memberikan pengayaan. Pembelajaran remedial dilaksanakan dengan prinsip adaptif, interaktif, berbagai metode pembelajaran dan penilaian, pemberian umpan balik sesegera mungkin, dan berkesinambungan. Pembelajaran pengayaan dapat dilakukan melalui belajar kelompok, belajar mandiri, dan pembelajaran berbasis tema.

Formatif
Kerjakan Tes Formatif berikut ini:

  1. Bagaimana cara guru mempersiapkan pembelajaran sehingga terlaksana pendekatan  penilaian assessment as learning dan assessment for learning?
  2. Bagaimana implementasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran sehingga diyakini  dapat memfasilitasi berkembangnya kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik?
  3. Penilaian sikap, pengetahuan dan keterampilan memiliki kaitan satu dengan yang lain. Bagaimana teknik umpan balik penilaian pengetahuan dan keterampilan untuk memfasilitasi penguatan sikap peserta didik?
  4. Rancanglah suatu pembelajaran pengayaan pada pokok bahasan tertentu di sekolah dasar yang memfasilitasi peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
  5. Data hasil evaluasi pembelajaran tentang memahami teks mengenai campuran heterogen menunjukkan hasil yang tidak maksimal. Dari 40 siswa, 25 siswa dinyatakan belum tuntas sehingga mengikuti program remidial. Sedangkan 15 siswa yang dinyatakan tuntas mengikuti program pengayaan. Kegiatan pengayaan untuk 15 siswa dapat dilakukan guru dengan cara … .

7. REFLEKSI

ppg89

Referensi

Andersen, Lorin. W. (1981). Assessing affective characteristic in the schools. Boston: Allyn
and Bacon.

Anderson, L.W., and Krathwohl, D.R. (2001). A Taxonomy of Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. New York: Longman.

Australian Council for Educational Research. (2015). Developing Higher Order Thinking Skill. Melbourne: ACER

Aydin, N., Yilmaz, A. (2010). The effect of constructivist approach in chemistry education on students’ higher order cognitive skills. Journal of Education, (39), 57-68.

Bagarukayo, E. (2012). Thenimpact of learning driven constructs on the perceived higher
ordercognitive skills improvement: Multimedia vs. text. International Journal of Education and Development using Information and Communication Technology, (8), pp.120-130.

Brookhart, S.M. (2010). How to assess higher order thinking skills in your classroom. Alexandria: ASCD

Conklin, W. (2012). Higher order thinking skills to develop 21st century learners. Huntington Beach, CA: Shell Education Publishing, Inc.

Dave, R.H. (1967). Taxonomy of educational objectives and achievement testing. London: University of London Press.

Gilligan, M.E. (2007). Traditional versus alternative assessments: which type do high school teachers perceive as most effective in the assessment of higherorder thinking skills. A Dissertation. Presented to the Faculty of the Graduate School of Saint Louis University in Partial Fulfillment of the Requirements for the Degree of Doctor of Philosophy.ProQuest LLC.

Ghufron, A., Sutama. (2015). Materi Pokok Evaluasi Pembelajaran Matematika. Tangerang Selatan : Universitas Terbuka

Kemendikbud. (2015). Pedoman Penilaian Kelas oleh Pendidik. Jakarta. Pusat Penilaian
Pendidikan. Balitbang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Kemendikbud. (2016). Panduan Penilaian untuk Sekolah Dasar. Jakarta. Direktorat Pembinaan SD. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kemendikbud. (2017). Panduan Penulisan Soal untuk SD/MI. Jakarta. Pusat Penilaian Pendidikan. Balitbang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kemendikbud. (2019). Buku Penilaian Berorientasi Higher Order Thinking Skills (HOTS). Jakarta. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Lynch DR, Russell JS, Evans JC, Sutterer KG. (2009). Beyond the Cognitive: The Affective Domain, Values, and the Achievement of the Vision [Más allá de lo cognitivo: El dominio afectivo, sus valores y el alcance de la visión] Journal of Professional Issues in Engineering Education and Practice. 2009 Jan;135(1):47-56.

Nitko, AJ. (1996). Educational Assessment of Student. New Jersey: Prentice Hall

Mardapi, D. (2008). Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Nontes. Yogyakarta: Mitra  Cendikia.

Tim Peneliti. (2003). Pola induk pengembangan sistem penilaian hasil belajar berbasis  kompetensi dasar siswa SMU. Draf laporan penelitian, tidak diterbitkan, Pascasarjana UNY.

Zainul, Asmawi. (2001). Alternative assessment. Jakarta: Proyek Universitas Terbuka

Zainul A., dan Mulyana, A. (2005). Materi pokok: Tes dan Asesmen di SD. Jakarta:  Universitas Terbuka

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Analisis Penerapan Evaluasi Untuk Perbaikan Pembelajaran

  1. Pingback: Penyusunan Kisi-Kisi Instrumen – SDN 7 SUBAGAN

  2. Pingback: Laporan Diklat Dosen/Instruktur PPG| Hari III ~ 13 Mei 2020 Kelas 22 – SDN 7 SUBAGAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *