Penyusunan Kisi-Kisi Instrumen

Penyegaran Calon Dosen/Instruktur PPG |Unit 3. Pembimbingan PPL

Fasilitator : Ahmad, PhD, dan Pamujo, M. Pd (Kemdikbud Dirjen GTK)

Daftar Isi Unit 3

  1. KB 1 Penyusunan Kisi-Kisi Instrumen
  2. KB 2 Pengembangan Instrumen
  3. KB 3 Pengembangan Pedoman Penilaian
  4. KB 4 Analisis Penerapan Evaluasi untuk Perbaikan Pembelajaran

KB 1 Penyusunan Kisi-Kisi Instrumen

Pengertian Penilaian
Penilaian (assessment) merupakan bagian penting dalam proses pendidikan.  Istilah penilaian sering dipahami secara rancu dengan dua istilah lain, yakni pengukuran (measurement) dan evaluasi (evaluation). Padahal ketiga istilah tersebut memiliki makna yang berbeda, namun saling berkaitan. Selain ketiga istilah itu, ada istilah keempat yang sering muncul juga, yaitu tes. Tes atau non-tes merupakan bagian dari
kegiatan pengukuran. Menurut Ghufron (2015) hubungan antara tes, pengukuran, penilaian dan evaluasi dapat divisualisasi pada Gambar 1.1 berikut ini:

ppg39

Berdasarkan di atas  dapat dikatakan bahwa di dalam konsep evaluasi termuat konsep asesmen, pengukuran, dan tes. Evaluasi dapat terlaksana manakala telah dilaksanakannya kegiatan asesmen. Kualitas asesmen ditentukan oleh kegiatan pengukuran, yang salah satu bentuknya adalah tes.

Eksplore Lebih Lanjut

  1. Unit 1 tentang Penyusunan Perangkat Pembelajaran
  2. Unit 2 tentang Pembimbingan PPL
  3. Unit 3 tentang Pembimbingan Penilaian Pembelajaran
  4. Unit 4 tentang Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan

Penilaian menurut Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang standar penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Ada tiga kata kunci dalam pengertian tersebut, yaitu proses pengumpulan, proses pengolahan, dan pencapaian hasil belajar. Proses pengumpulan informasi dilakukan dengan berbagai teknik penilaian, berbagai instrumen, dan berbagai sumber secara komprehensif. Proses pengolahan informasi dilakukan dengan teknik dan prosedur analisis sesuai dengan karakteristik penilaian. Pencapaian hasil belajar peserta didik harus dilihat sebagai suatu proses yang berlangsung secara berkesinambungan, bukan hanya diakhir suatu pembelajaran. Standar penilaian pendidikan tersebut juga menyebutkan bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidik bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.

Baca Juga

  1. Strategi Penyusunan Kisi-Kisi Instrumen
  2. Strategi Refleksi Pembelajaran
  3. Manfaat Feedback Pembelajaran dari Siswa
  4. Pengembangan Leadership Skill Guru Pemula
  5. Menjadi Guru Mempesona
  6. Penyusunan Perangkat Pembelajaran Berbasis TPACK
  7. Strategi Perencanaan Refleksi
  8. Peer Teaching
  9. Konsep Evaluasi Pembelajaran
  10. Mengembangkan Bahan Ajar
  11. Merancang Langkah Pembelajaran
  12. Mengembangkan Indikator dan Tujuan Pembelajaran
  13. Praktik Keprofessionalan Mengajar
  14. Praktik Keprofessionalan Non Mengajar
  15. Platform LMS Moodle & Big Blue Button

Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan bertujuan untuk menilai pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk semua mata pelajaran. Sehingga fungsi penilaian selain untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik, juga tidak dapat dipisahkan dari proses perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan. Penetapan tujuan tersebut sejalan dengan tiga pendekatan asesmen, yaitu assessment of learning (penilaian akhir pembelajaran/berbagai bentuk penilaian sumatif), assessment for learning (penilaian selama proses pembelajaran berlangsung), dan assessment as learning (penilaian sebagai pembelajaran, melibatkan peserta didik sebagai penilai).

Penilaian pencapaian hasil belajar seharusnya lebih mengutamakan assessment as learning dan assessment for learning dibandingkan assessment of learning (Kemdikbud, 2019). Jika digambarkan dalam sebuah piramida, maka assessment as learning menjadi pondasi yang diatasnya dibangun assessment for learning. Puncak piramida adalah assessment of learning, sebagaimana ditunjukkan Gambar di bawah ini.

ppg40

Menurut Puspendik (2015), penyempurnaan Kurikulum 2013 merupakan bagian dari pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu dan berimbang. Dalam Kurikulum 2013 Kompetensi Inti merupakan operasionalisasi Standar Kompetensi Lulusan dalam bentuk kualitas yang harus dikuasai peserta didik yang telah menyelesaikan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu atau jenjang pendidikan tertentu.

Kompetensi Inti menggambarkan kualitas yang seimbang antara pencapaian hard skills dan soft skills. Kompetensi Inti tersebut berfungsi sebagai unsur pengorganisasi (organising element) kompetensi dasar. Kompetensi Dasar adalah keterkaitan antara konten Kompetensi Dasar satu kelas atau jenjang pendidikan ke kelas/jenjang di atasnya sehingga memenuhi prinsip belajar yaitu terjadi suatu akumulasi yang berkesinambungan antara konten yang dipelajari peserta didik.

Membimbing mahasiswa PPG dalam memahami bagaimana praktek penilaian di sekolah, dapat dimulai dengan melakukan analisa terhadap contoh format penulisan rapot dalam Kurikulum 2013 dan Kurikulum 2006 (KTSP). Seiring dengan upaya penyempurnaan implementasi kurikulum, format penulisan rapot terus diperbaiki pula. Hal tersebut membuat beberapa pihak berinisiatif membuat aplikasi untuk memudahkan guru membuat rapot. Beberapa praktek panduan penggunaan aplikasi dalam penulisan rapot dapat dilihat di chanel youtube berikut ini  dan di sini!

Setelah melihat video tersebut, tuliskan minimal 5 (lima) perbedaan praktek penilaian dalam Kurikulum 2013 dan Kurikulum 2006, terutama pada jenjang Sekolah Dasar (SD), pada tabel di bawah ini:

ppg41

Untuk mencermati bagaimana implementasi  penilaian sebagai turunan dari pemberlakuan kurikulum, silahkan membaca beberapa bahan dalam link berikut  seperti rapot kurikulum 2013 di sini!

https://bsnp-indonesia.org/wp-content/uploads/kompetensi/Panduan_Umum_KTSP.pdf

https://luk.staff.ugm.ac.id/atur/bsnp/Permendiknas20-2007StandarPenilaian.pdf

Panduan Penilaian KTSP di sini!

Penilaian untuk Sekolah Dasar (edisi revisi) Tahun 2016 dapat diunduh dari link ini!

Panduan Penilaian untuk Sekolah Dasar (edisi revisi) Tahun 2018 dapat diunduh dari link ini !

Penyusunan Kisi-kisi Instrumen Penilaian Sikap
Krathwohl (1961) dalam Mardapi, menyebutkan tingkatan ranah afektif menurut  taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu: receiving (attending), responding, valuing, organization, dan characterization. Berikut penjelasannya :

  1. Pada tingkat receiving atau attending, peserta didik memiliki keinginan memperhatikan suatu fenomena khusus atau stimulus, misalnya kelas, kegiatan, musik, buku, dan sebagainya.
  2. Pada responding merupakan partisipasi aktif peserta didik, yaitu sebagai bagian dari perilakunya. Pada tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena khusus tetapi ia juga bereaksi.
  3. Tahap valuing melibatkan penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan derajat internalisasi dan komitmen.
  4. Tahap commitment adalah menunjukkan lebih dari preferensi/kecenderungan dari tahap valuing; Lynch at al (2009) mempertegas tahap commitment, dengan penyisipan antara tahap valuing dengan tahap organization.
  5. Pada tingkat organization, nilai satu dengan nilai lain dikaitkan, konflik antar nilai diselesaikan, dan mulai membangun sistem nilai internal yang konsisten.
  6. Tingkat ranah afektif tertinggi adalah characterization nilai. Pada tingkat ini peserta didik memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup. menunjukkan pengabdian dan komitmen terhadap nilai-nilai, sikap, dan disposisi.

Pemikiran atau perilaku memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif.

  1. Pertama, perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang.
  2. Kedua, perilaku harus khas/ciri khusus seseorang.

Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas, arah, dan target. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. Arah perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau negatif yang menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk. Bila intensitas dan arah perasaan ditinjau bersama-sama, maka karakteristik afektif berada dalam suatu skala yang kontinum. Target mengacu pada objek, aktivitas, atau ide sebagai arah dari perasaan (Andersen, 1981).

Pada saat menyusun spesifikasi instrumen afektif perlu memperhatikan empat hal yaitu 1) tujuan pengukuran, 2) kisi-kisi instrumen, 3) bentuk dan format instrumen, dan 4) panjang instrumen.

Setelah menetapkan tujuan pengukuran afektif, kegiatan berikutnya adalah menyusun kisi-kisi instrumen. Kisi-kisi merupakan matrik yang berisi spesifikasi instrumen yang akan ditulis. Langkah pertama dalam menentukan kisi-kisi adalah menentukan definisi konseptual yang berasal dari teori. Selanjutnya mengembangkan definisi operasional berdasarkan kompetensi dasar, yaitu kompetensi yang dapat diukur. Definisi operasional ini kemudian dijabarkan menjadi sejumlah indikator. Indikator merupakan pedoman dalam menulis instrumen. Tiap indikator bisa dikembangkan dua atau lebih instrument. Skala yang sering digunakan dalam instrumen penilaian afektif adalah Skala Thurstone, Skala Likert, dan Skala Beda Semantik.

Pada Kurikulum 2013, Penilaian sikap dimaksudkan sebagai penilaian terhadap perilaku peserta didik dalam proses pembelajaran yang meliputi sikap spiritual dan sosial. Penilaian sikap lebih ditujukan untuk membina perilaku dalam rangka pembentukan karakter peserta didik. Pada jenjang Sekolah Dasar, Kompetensi sikap spiritual (KI-1) yang akan diamati adalah menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya. Kompetensi sikap sosial (KI-2) yang akan diamati mencakup perilaku antara lain: jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangga, dan negara. Pada buku panduan penilaian.

SD (Kemdikbud, 2016) memuat contoh indikator berikut ini, sikap pada KI-1 dan indikatornya:

ppg42

Contoh sikap pada KI-2 dan indikatornya:

ppg43

Model pengembangan kisi-kisi penilaian sikap dengan cara melengkapi tabel kisi-kisi instrumen di bawah ini, mengacu pada KI-1 dan KI-2 yang disebutkan di atas.

ppg44

Pelaksanaan penilaian sikap terdiri atas penilaian utama dan penilaian penunjang. Penilaian utama diperoleh dari hasil observasi harian yang ditulis di dalam jurnal harian. Penilaian penunjang diperoleh dari penilaian diri dan penilaian antarteman, hasilnya dapat dijadikan sebagai alat konfirmasi dari hasil penilaian sikap oleh pendidik. Teknik penilaian yang dapat digunakan dalam jenjang pendidikan sekolah dasar adalah observasi melalui wawancara, catatan anekdot (anecdotal record), dan catatan kejadian tertentu (incidental record) sebagai unsur penilaian utama. Skema pelaksanaan penilaian sikap disajikan dalam gambar berikut ini:

ppg45

Berikut  buku model penilaian karakter yang diterbitkan oleh Puspendik Kemdikbud. Buku tersebut dapat diakses di link ini !

Penyusunan Kisi-kisi Instrumen Penilaian Pengetahuan
Penilaian aspek pengetahuan dilakukan dengan berbagai teknik penilaian. Dalam penilaian aspek ini pendidik diharapkan mampu membuat perencanaan dengan cara mengidentifikasi setiap kompetensi dasar atau materi pembelajaran sebelum menentukan bentuk penilaian yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dasar yang akan diukur. Perencanaan penilaian dilakukakan saat pendidik menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).  Penilaian pengetahuan dapat dicermati dalam dua perspektif (Bloom Taxonomy), yaitu dimensi pengetahuan yang diklasifikasikan menjadi faktual, konseptual, prosedural, serta metakognitif. Dan dimensi proses kognitif ini tersusun secara hirarkis mulai dari mengingat (remembering), memahami (understanding), menerapkan (applying), menganalisis (analyzing), menilai (evaluating), dan mencipta (creating). Tahapan tahapan pengetahuan tersebut merupakan perbaikan yang dilakukan Krathwohl terhadap taksonomi Bloom. Dimensi pengetahuan yang dinilai beserta contohnya disajikan dalam Tabel  berikut ini (Anderson, et.al., 2001).

ppg46ppg47

Cakupan penilaian pengetahuan meliputi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif. Pengetahuan faktual merupakan pengetahuan yang berkaitan dengan terminologi atau istilah serta bagian detail tentang unsur. Pengetahuan konseptual merupakan pengetahuan yang berkaitan dengan penggolongan, kategori, teori prinsip, generalisasi, model, dan struktur. Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan mengenai alogoritma dalam melakukan sesuatu. Pengetahuan metakognitif menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda disertai dengan memilih strategi pemecahan masalah yang tepat dalam mengambil keputusan.

Semua rumusan kompetensi dasar maupun indikator atau tujuan pembelajaran memuat proses kognitif yang ditunjukkan dengan kata kerja operasional dan dimensi pengetahuan. Penilaian pengetahuan tidaklah mungkin dilakukan tanpa menyertakan bagaimana pengetahuan tersebut digunakan dengan beragam proses kognitif. Penilaian pengetahuan dapat dilakukan menggunakan tes tertulis, lisan, maupun penugasan. Tes tertulis, lisan, dan penugasan memerlukan butir soal di dalam penggunaannya.

Salah satu langkah penting dalam melakukan penilaian pengetahuan adalah perencanaan. Perencanaan dilakukan agar tujuan penilaian yang akan dilakukan menjadi jelas. Perencanaan penilaian juga akan memberikan gambaran dan desain operasional terkait tujuan, bentuk, teknik, frekuensi, pemanfaatan dan tindak lanjut penilaian. Perencanaan penilaian harus dilaksanakan secara sistematis agar tujuan dapat tercapai.

Langkah-langkah penting dalam perencanaan penilaian adalah sebagai berikut:

  1. menetapkan tujuan penilaian;
  2. menentukan bentuk penilaian;
  3. memilih teknik penilaian;
  4. menyusun kisi-kisi;
  5. menyusun soal; dan
  6. menyusun pedoman penskoran.

Langkah keempat adalah pengembangan kisi-kisi. Kisi-kisi adalah suatu format berbentuk matriks berisi informasi yang dapat dijadikan pedoman untuk menulis atau merakit soal. Kisi-kisi disusun berdasarkan tujuan penggunaan tes. Penyusunan kisi-kisi merupakan langkah penting yang harus dilakukan sebelum penulisan soal. Bila beberapa penulis soal menggunakan satu kisi-kisi, akan dihasilkan soal-soal yang relatif sama (paralel) dari tingkat kedalaman dan cakupan materi yang ditanyakan.

Kisi-kisi merupakan deskripsi kompetensi dan materi yang akan diujikan. Tujuan pembuatan kisi-kisi adalah menentukan ruang lingkup dan sebagai petunjuk dalam memahami soal. Kisi-kisi yang baik adalah kisi-kisi dapat mewakili isi silabus atau materi yang telah diajarkan, komponen-komponennya mudah diuraikan dan dipahami, serta materi yang akan diujikan dapat dibuatkan soalnya. Kisi-kisi juga dapat memudahkan guru dalam menyusun berbagai paket tes dengan tingkat kesulitan, kedalaman, dan cakupan materi yang sama.

Penyusunan kisi-kisi tidak dapat dilepaskan dari penyusunan indikator. Indikator yang berada di dalam kisi-kisi merupakan pedoman dalam merumuskan soal yang dikehendaki. Indikator yang baik adalah yang menggunakan kata kerja operasional yang tepat, menggunakan satu kata kerja operasional untuk pilihan ganda, dan satu atau lebih untuk soal yang berbentuk uraian. Kisi-kisi tes sebaiknya memenuhi persyaratan berikut: mewakili isi kurikulum yang akan diujikan, komponen-komponennya rinci, jelas, dan mudah dipahami. Indikator soal harus jelas dan dapat dibuat soalnya sesuai dengan bentuk soal yang telah ditetapkan.

Komponen-komponen yang diperlukan dalam sebuah kisi-kisi disesuaikan dengan tujuan tes. Komponen kisi-kisi terdiri atas komponen identitas dan komponen matriks. Komponen identitas diletakkan di atas komponen matriks. Komponen identitas meliputi jenis/jenjang sekolah, program studi/jurusan, mata pelajaran, tahun ajaran, kurikulum yang diacu, alokasi waktu, jumlah soal, dan bentuk soal. Komponen-komponen matriks berisi kompetensi dasar yang diambil dari kurikulum, kelas dan semester, materi, indikator, level kognitif, dan nomor soal.

Langkah-langkah menyusun kisi-kisi:

  1. menentukan kompetensi dasar;
  2. memilih materi yang esensial sesuai dengan lingkup materi dan materi yang terkait dengan kompetensi dasar (KD) yang diuji;
  3. merumuskan indikator yang mengacu pada KD dengan memperhatikan materi dan level kognitif;
  4. menentukan nomor soal;
  5. menentukan bentuk soal yang digunakan.

Kriteria pemilihan materi yang esensial adalah sebagai berikut:

  1. merupakan kesinambungan dan materi lanjutan atau pendalaman materi sebelumnya, yang dipelajari pada jenjang yang sama maupun antar jenjang;
  2. materi yang dipilih memiliki keterkaitan dengan materi lainnya dan sangat diperlukan untuk mempelajari atau memahami bidang lain,
  3. materi bersifat kekinian, memiliki daya terapan dan nilai guna yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari.

Indikator merupakan ciri perilaku yang dapat diukur sebagai acuan untuk membuat soal. Pada indikator harus mengandung unsur audience (peserta didik), behaviour (perilaku) yang akan diukur, condition (kondisi) dan degree (tingkat). Di dalam indikator tergambar level kognitif yang harus dicapai dalam KD. Kriteria perumusan indikator:

  1. memuat ciri-ciri KD yang akan diukur,
  2. memuat kata kerja operasional yang dapat diukur (satu kata kerja operasional untuk soal pilihan ganda, satu atau lebih dari satu kata kerja operasional untuk soal uraian),
  3. berkaitan dengan materi/konsep yang dipilih,
  4. dapat dibuat soalnya sesuai dengan bentuk soal yang telah ditetapkan.

Puspendik (2015) mengklasifikasikannya menjadi 3 level kognitif sebagaimana digunakan dalam kisi-kisi UN sejak tahun pelajaran 2015/2016. Pengelompokan level
kognitif tersebut yaitu: pengetahuan dan pemahaman (level 1), aplikasi (level 2), dan
penalaran (level 3) disajikan dalam Tabel berikut ini:

ppg48

Level kognitif pengetahuan dan pemahaman mencakup dimensi proses berpikir mengetahui (C1) dan memahami (C2). Ciri-ciri soal pada level 1 adalah mengukur pengetahuan faktual, konsep, dan prosedural. Terkadang soal-soal pada level 1 merupakan soal kategori sukar, karena untuk menjawab soal tersebut peserta didik harus dapat mengingat beberapa rumus atau peristiwa, menghafal definisi, atau menyebutkan langkah-langkah (prosedur) melakukan sesuatu.

Soal-soal pada level kognitif aplikasi membutuhkan kemampuan yang lebih tinggi daripada level pengetahuan dan pemahaman. Level kognitif aplikasi mencakup dimensi proses berpikir menerapkan atau mengaplikasikan (C3). Ciri-ciri soal pada level 2 adalah mengukur kemampuan: a) menggunakan pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural tertentu pada konsep lain dalam mapel yang sama atau mapel lainnya; atau b) menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural tertentu untuk menyelesaikan masalah kontekstual (situasi lain).

Level penalaran merupakan level kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS), karena untuk menjawab soal-soal pada level 3 peserta didik harus mampu mengingat, memahami, dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural serta memiliki logika dan penalaran yang tinggi untuk memecahkan masalah-masalah kontekstual (situasi nyata yang tidak rutin). Level penalaran mencakup dimensi proses berpikir menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C6).

Puspendik Kemdikbud pada tahun 2019 telah menerbitkan Panduan Penilaian Tes Tertulis, yang dapat diunduh di link berikut  di sini!

Membangkan kisi-kisi penilaian pengetahuan pada jenjang sekolah dasar, pilihlah mata pelajaran tertentu, seperti tabel di bawah ini!

ppg49

Penyusunan Kisi-kisi Instrumen Penilaian Keterampilan

Saatnya kita mendiskusikan penyusunan kisi-kisi instrumen penilaian keterampilan. Depdiknas (2008) menerbitkan panduan pengembangan perangkat psikomotor yang dapat diakses di link ini

Pada tahun 2019 Puspendik Kemdikbud menerbitkan Panduan Penilaian Kinerja, terdapat di link berikut ini

Kemdikbud juga menerbitkan Panduan Penilaian Portofolio, dapat diakses di link berikut ini

Para ahli memberikan penjelasan tentang ranah psikomotor sebagai berikut:

  1. hasil belajar psikomotor dapat dibedakan menjadi lima tahap, yaitu: imitasi, manipulasi, presisi, artikulasi, dan naturalisasi (Dave, 1967);
  2. mata pelajaran yang berkaitan dengan psikomotor adalah yang lebih beorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi–reaksi fisik dan keterampilan tangan (Singer, 1972);
  3. hasil belajar psikomotor ada menjadi tiga, yaitu: specific responding, motor chaining, rule using (Buttler, 1972);
  4. berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan’manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik (Bloom, 1979); dan
  5. keterampilan psikomotor ada enam tahap, yaitu: gerakan refleks, gerakan dasar, kemampuan perseptual, gerakan fisik, gerakan terampil, dan komunikasi nondiskursif (Mardapi, 2003).

Kemdikbud (2016) menjelaskan bahwa penilaian keterampilan merupakan penilaian yang dilakukan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam menerapkan pengetahuan untuk melakukan tugas tertentu di berbagai macam konteks keterampilan, sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi (IPK). Penilaian keterampilan tersebut meliputi ranah berpikir dan bertindak. Keterampilan ranah berpikir meliputi keterampilan menggunakan, mengurai, merangkai, modifikasi, dan membuat. Keterampilan dalam ranah bertindak meliputi membaca, menulis, menghitung, menggambar, dan mengarang.

Penilaian keterampilan dapat dilakukan dengan berbagai teknik, antara lain penilaian praktik, penilaian produk, penilaian proyek, penilaian portofolio, dan teknik lain misalnya tes tertulis. Teknik penilaian keterampilan yang digunakan dipilih sesuai dengan karakteristik KD pada KI-4.

Dalam rangka melakukan pengukuran hasil belajar ranah psikomotor, ada dua hal yang perlu dilakukan oleh pendidik, yaitu membuat soal dan membuat perangkat/ instrumen untuk mengamati unjuk kerja peserta didik. Soal untuk hasil belajar ranah psikomotor dapat berupa lembar kerja, lembar tugas, perintah kerja, dan lembar eksperimen. Instrumen untuk mengamati unjuk kerja peserta didik dapat berupa lembar observasi atau portofolio (Puspendik, 2015)

Sama halnya dengan soal ranah kognitif, soal untuk penilaian ranah psikomotor juga harus mengacu pada standar kompetensi yang sudah dijabarkan menjadi kompetensi dasar. Setiap butir standar kompetensi dijabarkan minimal menjadi 2 kompetensi dasar, setiap butir kompetensi dasar dapat dijabarkan menjadi 2 indikator atau lebih, dan setiap indikator harus dapat dibuat butir soalnya. Indikator untuk soal psikomotor dapat mencakup lebih dari satu kata kerja operasional. Sebaiknya guru merancang secara tertulis sistem penilaian yang akan dilakukan selama satu semester. Rancangan penilaian ini sifatnya terbuka, sehingga peserta didik, guru lain, dan kepala sekolah dapat melihatnya.

Berikut adalah contoh format kisi-kisi instrumen  keterampilan seperti tabel di bawah ini

ppg50

Pada jenjang Sekolah Dasar, penilaian pengetahuan  dan keterampilan dapat dilakukan secara terpisah maupun terpadu. Pada dasarnya, pada saat penilaian keterampilan dilakukan, secara langsung penilaian pengetahuan pun dapat dilakukan. Penilaian pengetahuan dan keterampilan harus mengacu kepada pemetaan kompetensi dasar yang berasal dari KI-3 dan KI-4 pada periode tertentu. Pada Gambar berikut ini disajikan tahapan dalam melakukan penilaian pengetahuan dan keterampilan.

ppg51

Latihan

Untuk memperdalam pemahaman mengenai penyusunan kisi-kisi, kerjakanlah latihan berikut:

  1. Jelaskan perbedaan indikator pencapaian kompetensi (IPK) pada RPP dan silabus dengan indikator pada kisi-kisi soal.
  2. Jelaskan kriteria perumusan indikator kisi-kisi instrumen yang tepat.
  3. Jelaskan kriteria pemilihan materi esensial dalam pengembangan kisi-kisi penilaian  pengetahuan.
  4. Pilihlah beberapa kompetensi dasar tertentu pada bidang studi di sekolah dasar, susunlah  indikator kisi-kisi nya, untuk membuat soal HOTS.

Rangkuman

Kisi-kisi adalah suatu format berbentuk matriks berisi informasi yang dapat dijadikan  pedoman untuk menulis atau merakit instrument. Kisi-kisi disusun berdasarkan tujuan penggunaannya. Langkah menyusun kisi-kisi sikap adalah:

  1. menentukan definisi konseptual dan operasional berdasarkan kompetensi yang akan diukur;
  2. mengembangkan indicator;
  3. menentukan jenis skala yang digunakan. Langkah-langkah menyusun kisi-kisi soal adalah:
    • menentukan kompetensi dasar yang akan diukur;
    • memilih materi yang esensial sesuai dengan lingkup materi dan materi yang terkait dengan KD yang diuji;
    • merumuskan indikator yang mengacu pada KD dengan memperhatikan materi dan level kognitif;
    • menentukan nomor soal;
    • menentukan bentuk soal yang digunakan.

Tes Formatif
Kerjakan Tes Formatif berikut ini:

  1. Penilaian pengetahuan meliputi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif. Berikan contoh indikator yang secara spesifik mengukur tiap pengetahuan tersebut.
  2. Teknik penilaian keterampilan dapat dilakukan dengan penilaian praktik, penilaian produk, penilaian proyek, penilaian portofolio, dan teknik lain. Jelaskan bagaimana cara membimbing mahasiswa PPG untuk mengembangkan kisi-kisi yang bersesuaian dengan teknik tersebut.
  3. Teknik penilaian sikap dapat dilakukan dengan observasi melalui wawancara, catatan anekdot (anecdotal record), dan catatan kejadian tertentu (incidental record) sebagai unsur penilaian utama. Jelaskan bagaimana cara membimbing mahasiswa PPG untuk mengembangkan kisi-kisi bersesuaian dengan teknik tersebut.
  4. Bagaimanakah ciri-ciri indikator pencapaian kompetensi (IPK) yang dapat dijadikan acuan penyusunan soal.
  5. Di indikator tergambar level kognitif yang harus dicapai dalam kompetensi dasar, lakukan analisa kompetensi dasar pada mata pelajaran tertentu di sekolah dasar yang menghendaki level kognitif tinggi.

Refleksi

Setelah melakukan aktivitas KB 1, lakukanlah refleksi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

1.  Sebelum mempelajari penyusunan kisi-kisi,

  • saya berpikir bahwa …………………………………………………….…………………….
  • saya merasa bahwa …………………………………………………….……………………..

2. Setelah mempelajari penyusunan kisi-kisi,

  • saya berpikir bahwa ………………………………………………………………………….
  • saya merasa bahwa ……………………………………………………………………………

3. Tantangan yang mungkin akan saya hadapi ketika membimbing mahasiswa PPG
menyusun kisi-kisi instrument adalah ……………………………………………………….
…………………….…………………………………………………………………………………………….
…………………….…………………………………………………………………………………………….

4. Selanjutnya, terkait dengan pembimbingan mahasiswa PPG dalam menyusun kisikisi, saya merencanakan untuk
………………………………………………………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………………………………………………

 

 

 

 

This entry was posted in Artikel, Pembelajaran, Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Penyusunan Kisi-Kisi Instrumen

  1. Pingback: Refleksi – SDN 7 SUBAGAN

  2. Pingback: Peer Teaching – SDN 7 SUBAGAN

  3. Pingback: Evaluasi Pembelajaran – SDN 7 SUBAGAN

  4. Pingback: Mengembangkan Bahan Ajar – SDN 7 SUBAGAN

  5. Pingback: Merancang Langkah Pembelajaran – SDN 7 SUBAGAN

  6. Pingback: Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Mengajar – SDN 7 SUBAGAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *