Pengembangan Leaderhip Skill Guru Pemula

Penyegaran Calon Dosen/Instruktur PPG |Unit 2. Pembimbingan PPL

Fasilitator : Ahmad, PhD, dan Pamujo, M. Pd (Kemdikbud Dirjen GTK)

Daftar Isi Unit 2

  1. KB 1 Strategi Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Mengajar
  2. KB 2 Strategi Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Non Mengajar
  3. KB 3 Menjadi Guru Mempesona
  4. KB 4 Pengembangan Leadership Skill Guru Pemula
  5. KB 5 Manfaat Feedback Pembelajaran dari Siswa
  6. KB 6 Refleksi Pembelajaran di Kelas
  7. KB 7 Refleksi Pembelajaran Bersama
  8. KB 8 Menyusun Jurnal Refleksi Pembelajaran

KB 4. Pengembangan Leadership Skill Mahasiswa PPG

Profesi guru merupakan profesi sosial yang di dalam praktik keprofesiannya bertanggung jawab terhadap kemajuan pendidikan sekelompok siswa yang belajar bersamanya. Tugas dan tanggung jawab seorang guru mencakup mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi siswanya. Untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab tersebut seorang guru tidak cukup hanya memiliki kompetensi profesional atau pedagogik saja, karena dibutuhkan keterampilan kepememimpinan (Leadership Skill) agar dapat membimbing dan mengarahkan siswa menuju pencapaian kompetensi sebagai tujuan belajar. Artinya peran kepemimpinan seorang guru di sini merupakan kepemimpinan dalam konteks pembelajaran. Oleh karena itu untuk menjadi guru yang ideal dibutuhkan juga keterampilan untuk menjadi pemimpin siswa di kelasnya.

Baca Juga

  1. Strategi Penyusunan Kisi-Kisi Instrumen
  2. Strategi Refleksi Pembelajaran
  3. Manfaat Feedback Pembelajaran dari Siswa
  4. Pengembangan Leadership Skill Guru Pemula
  5. Menjadi Guru Mempesona
  6. Penyusunan Perangkat Pembelajaran Berbasis TPACK
  7. Strategi Perencanaan Refleksi
  8. Peer Teaching
  9. Konsep Evaluasi Pembelajaran
  10. Mengembangkan Bahan Ajar
  11. Merancang Langkah Pembelajaran
  12. Mengembangkan Indikator dan Tujuan Pembelajaran
  13. Praktik Keprofessionalan Mengajar
  14. Praktik Keprofessionalan Non Mengajar
  15. Platform LMS Moodle & Big Blue Button

Berdasarkan pertimbangan di atas maka salah satu capaian pembelajaran dalam kegiatan PPL PPG adalah mengembangkan kompetensi mahasiswa PPL PPG agar menguasai leadership skill dalam pembelajaran. Konsep leadership skill dapat dimaknai sebagai seperangkat pengetahuan, tindakan, atau keterampilan yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan dalam memotivasi atau memimpin orang lain. Hal tersebut bermakna juga kemampuan dalam memfasilitasi orang lain untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada dalam dirinya (MTD Training, 2010: 10). Dengan demikian dapat dirumuskan pemahaman awal bahwa leadership skill seorang guru berkaitan dengan kemampuannya untuk memfasilitasi siswa agar berkembang sesuai potensinya. Pada kegiatan belajar 4 ini akan kita pelajari bersama konsep, definisi, dan implementasi leadership skill dan bagaimana pola pengembanganya untuk mahasiswa dalam kegiatan PPL PPG.

Eksplore Lebih Lanjut

  1. Unit 1 tentang Penyusunan Perangkat Pembelajaran
  2. Unit 2 tentang Pembimbingan PPL
  3. Unit 3 tentang Pembimbingan Penilaian Pembelajaran
  4. Unit 4 tentang Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan

Capaian pembelajaran yang diharapkan pada Kegiatan Belajar 4 ini adalah :

  1. Mamahami indikator kemampuan dalam leadership skill
  2. Menganalisis kemampuan dalam leadership skill guru.
  3. Menyusun strategi mengembangkan leadership skills mahasiswa PPL PPG

Materi

Leadership Skills
Konsep leadership skills dalam materi PPL PPG merujuk pengertiannya pada keterampilan kepemimpinan seorang guru. Dalam mendefinisikan guru yang terampil memimpin Merideth (2007) membandingkan beberapa pendapat di antaranya: (1) Katzenmeyer and Moller (2001) mendefinisikan guru leader sebagai guru yang mampu memimpin dalam dan di luar kelas, mampu mengidentifikasi dan berkontribusi pada komunitas guru, menjadi pemimpin pembelajaran, dan mampu mempengaruhi orang lain ke arah peningkatan praktik pendidikan; (2) Sherrill (1999) menyatakan bahwa yang dianggap sebagai guru-pemimpin adalah pendidik klinis, guru tamu, atau guru utama ; (3) Crowther, Kaagan, Ferguson, dan Hann (2002) melihat guru-pemimpin sebagai orang yang memiliki cita-cita untuk memimpin reformasi di sekolah, memimpin guru yang lain, dan menjadi pengawas klinis. Berdasarkan berbagai pendapat tersebut, perlu kita garis bawahi bahwa yang dimaksud pengembangan leadership skill dalam kegiatan PPL PPG ini adalah pengembangan keterampilan kepemimpinan guru sebagai pemimpin pembelajaran.

Dalam kajian mengenai kepemimpinan, kita telah mengenal beragam gaya kepemimpinan suatu organisasi. Bersumber pada Ferguson (2009: 25-26) beberapa gaya kepemimpinan tersebut antara lain:

1) Otoriter/Autokratis.

Memiliki pengertian yaitu pemimpin yang selalu menampilkan ide yang jelas tentang apa yang harus dilakukan anggota yang dipimpin, bagaimana suatu tugas harus dikerjakan, dan kapan harus selesai. Pemimpin model ini tidak pernah meminta masukan dari anggota yang dipimpinnya. Hingga saat ini gaya kepemimpinan demikian ini masih ada. Beberapa riset mengemukakan hasil bahwa kelompok yang bekerja di bawah kepemimpinan otoriter menjadi kurang kreatif, karena mungkin berusaha menghindari pekerjaan yang dibebankan kepada mereka.

2) Partisipatif/Demokratis.

Berbeda dengan gaya otoriter, pemimpin dengan gaya partisipatif memberikan instruksi kepada anggotanya, namun tetap meminta anggotanya untuk untuk memberikan saran atau masukan perihal bagaimana meningkatkan kinerja untuk menyelesaikan sebuah proyek. Pemimpin partisipatif adalah komunikator yang baik dan senang membantu kelompok dalam menyelesaikan tugas dengan dorongan semangat dan bimbingan. Beberapa penelitian merumuskan temuan bahwa kepemimpinan partisipatif adalah gaya kepemimpinan yang paling efektif. Individu anggota kelompok yang dipimpin dengan partisipatif biasanya menghasilkan pekerjaan yang berkualitas dan berkuantitas tinggi.

3) Delegatif/Tanpa Arahan.

Pemimpin dengan gaya delegatif biasa memberikan sedikit panduan atau bahkan tanpa arahan, dan membiarkan anggota kelompok membuat sebagian besar atau bahkan beberapa keputusan penting. Pendekatan hanya tepat digunakan pada kelompok dengan anggota yang sudah tepercaya, sangat terampil dan mampu untuk bekerja tanpa banyak pengawasan.

4) Karismatik. 

Pemimpin dengan gaya karismatik menggunakan energi motivasi untuk menginspirasi tim yang ia pimpin. Kepemimpinan dengan gaya ini sering dipengaruhi oleh egonya, dan percaya bahwa pencapaian yang diraih anggota kelompok adalah karena kemampuan kepemimpinannya. Keyakinan inilah yangsering diterjemahkan oleh anggota tim dengan salah, yaitu adanya kepercayaan bahwa suatu proyek tidak dapat selesai tanpa pengawasan pemimpin mereka.

5) Transformasional.

Pemimpin transformasional yaitu pemimpin yang menginspirasi individu dalam kelompoknya sehingga mampu mengajak kelompok tersebut merealisasikan visi atau proyek yang direncanakan. Pemimpin model ini biasanya seorang komunikator yang cerdas dan luar biasa, namun kadang cenderung fokus pada pada gambaran besar daripada sesuatu yang detail. Pemimpin transformasional sering mendelegasikan tugas dan membutuhkan asisten yang kuat untuk memastikan bahwa visi atau proyeknya dapat berjalan sesuai yang diharapkan.

6) Situasional.

Gaya Kepemimpinan situasional menggabungkan satu atau lebih dari gaya kepemimpinan yang tercantum di atas disesuaikan dengan kebutuhan pencapaian kerja dan disesuaikan dengan personalitas anggota kelompok yang ada. Berdasarkan uraian mengenai beberapa gaya kepemimpinan di atas, dapat dicermati bahwa seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran di kelas lebih tepat untuk menerapkan gaya kempemimpinan partisipatif dan transformasional. Dengan gaya partisipatif guru dapat memberikan peluang kepada siswa untuk berpartisipasi dalam menentukan strategi dan cara dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sementara dengan kepemimpinan transformasional, guru dapat mengajak siswa untuk membangun visi meraih kemajuan atau merealisasaikan proyek tertentu. Selain itu, kepemimpinan transformasional dapat diterapkan dengan mendelegasikan tugas kepada siswa tertentu agar dapat melatih siswa memegang kepercayaan dan tanggung jawab. Bentuk tugasnya tentu yang masih bersifat sederhana sederhana seperti memimpin sesama temannya dalam kelompok belajar atau kelompok proyek penugasan.

Keterampilan Memimpin

Berkaitan dengan keterampilan kepemimpinan guru, Merideth (2007) berpendapat bahwa kepemimpinan yang disematkan kepada guru bukan berarti guru mengalami kenaikan satu tingkat perannya dari pendidik ke pemimpin organisasi, namun kepemimpinan guru dalam pembelajaran harus dianggap sebagai langkah yang diperlukan guru untuk mewujudkan perannya di kelas. Peran tersebut dapat berupa guru sebagai model untuk siswa, guru yang efektif mengajar, dan sekaligus guru yang menjadi bagian dari gerakan peningkatan kualitas sekolah yang berkelanjutan.
Merujuk pada pemetaan Haley (2019) terdapat 7 keterampilan kepemimpinan yang penting yaitu

  1. kemampuan komunikasi,
  2. kemampuan menetapkan tujuan,
  3. kemampuan memotivasi,
  4. kemampuan membangun tim,
  5. kemampuan memimpin perubahan,
  6. kemampuan mengelola konflik, dan
  7. kemampuan melatih/membimbing (coaching).

Ketujuh kemampuan tersebut dapat dijadikan dasar sederhana dalam melatih dan membimbing mahasiswa PPL PPG. Dosen/instruktur dapat menambahkan kemampuan lain sekiranya 7 kemampuan yang dirumuskan Haley ini dianggap belum lengkap untuk menunjang leadership skills seorang guru. Pada uraian di bawah ini marilah kita cermati satu persatu kemampuan dari 7 kemampuan yang dirumuskan Haley tersebut.

a. Kemampuan Komunikasi
Kemampuan berkomunikasi merupakan aspek penting dari keterampilan kepemimpinan. Keterampilan komunikasi sangat penting karena menjadi sarana untuk menghantarkan pesan dari seorang pemimpin kepada anggota kelompok yang dipimpinnya. Pesan tersebut dapat berupa ide, gagasan, perintah-perintah, hingga visi, misi, atau orientasi dari kelompok tersebut. Keterampilan komunikasi ini tentu saja mencakup keterampilan komunikasi verbal maupun non verbal.

Kemampuan komunikasi dalam konteks leadership skills guru merujuk pada kemampuan guru dalam mengelola pertukaran pesan dengan siswa yang dipimpinya maupun dengan guru lain yang menjadi kolega dalam pembelajaran. Komunikasi guru dengan siswa dalam proses pembelajaran adalah kegiatan bertukar pesan yang berkaitan dengan tujuan, materi, langkah-langkah intsruksional hingga penilaian pembelajaran. Guru dengan keterampilan kepemimpinan yang baik akan mengembangkan pola komunikasi yang efektif terhadap siswanya. Untuk menunjang efektivitas komunikasi guru dapat memanfaatkan berbagai media penunjang pembelajaran. Guru dengan keterampilan kepemimpinan yang baik akan menggunakan kemampuan komunikasinya untuk memotivasi siswa-siswanya meraih hasil belajar yang optimal. Kemampuan komunikasi dapat digunakan guru untuk menjelaskan orientasi pembelajaran yang harus dicapai siswa, strategi dan skenario yang akan digunakan mencapai tujuan tersebut, hingga memberikan fasilitasi kepada siswanya agar meraih prestasi yang terbaik.  Dalam proses interaksi dengan guru yang lain, kemampuan komunikasi dapat dimanfaatkan untuk membangun kerja sama dalam rangka memajukan sekolah. Gerakan memajukan sekolah dapat dibangun melalui interaksi aktif komunitas guru sebagai komunitas profesional yang memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas sekolah. Selain bedampak pada peningkatan kualitas sekolah interaksi aktif komunitas guru juga dapat menumbuhkan kemampuan kepemimpinan dalam diri setiap guru.

b. Kemampuan Menetapkan Tujuan
Keterampilan kepemimpinan dapat juga mewujud dalam kemampuan pemimpin untuk menetapkan tujuan yang akan dicapai. Dalam menetapkan tujuan ini seorang pemimpin yang baik akan mempertimbangkan kemampuan anggota kelompok yang dipimpinnya. Haley (2019) menyarankan beberapa hal yang dapat dijadikan pertimbangan mendasar oleh seorang pemimpin dalam menetapkan tujuan. Pertimbangan tersebut disingkat dengan SMART yang terdiri dari:

  1. Specific: artinya tujuan yang ditetapkan harus jelas. Kejelasan di sini berkaitan dengan kejelasan kualitas, kuantitas, hingga kejelasan waktu untuk meraih tujuan tersebut.
  2. Measurable: artinya tujuan yang ditetapkan harus terukur, menggunakan dasar ukuran apa, agar dapat ditentukan harapan apa yang akan direalisasikan.
  3. Agreed Upon: artinya tujuan yang ditetapkan telah disepakati anggota kelompok dan setiap anggota kelompok bersedia berusaha untuk meraih tujuan tersebut.
  4. Realistic: artinya tujuan yang ditetapkan harus realistis, harapan yang ingin dicapai harus masuk akal.
  5. Trackable: artinya tujuan yang ditetapkan harus dapat dipantau menggunakan sistem yang sudah disiapkan atau sudah dipahami oleh pemimpin dan anggota kelompok.

Dalam konteks kepemimpinan pembelajaran, kemampuan menetapkan tujuan merujuk pada kemampuan guru untuk merumuskan tujuan pembelajaran. Dengan berlandaskan pada konsep SMART di atas maka tujuan pembelajaran yang dirumuskan juga harus jelas, terukur, disepakati, realistis dan dapat dipantau. Sebagaimana dalam konsep keilmuan pendidikan yang sudah banyak dikaji oleh Dosen/instruktur selama ini, tujuan pembelajaran tersebut juga harus lengkap komponennya seperti adanya unsur audience, behavior, condition, dan degree yang sering disingkat dengan ABCD.  Guru dengan keterampilan kepemimpinan yang baik akan dapat menjelaskan tujuan pembelajaran tersebut kepada siswanya, sehingga para siswa memiliki orientasi yang jelas dalam belajar. Selanjutnya guru akan memfasilitasi siswanya agar kelompok belajar tersebut dapat meraih tujuan yang ditetapkan. Proses pembelajaran yang dipimpin oleh guru dengan kemampuan menetapkan tujuan yang baik tentu saja akan menghasilkan luaran pembelajaran yang baik pula karena proses pembelajaran dapat terarah dan terukur pencapainnya.

c. Kemampuan Memotivasi
Keterampilan kepemimpinan mensyaratkan adanya kemampuan memotivasi, baik memotivasi diri sendiri maupun memotivasi orang lain yang dipimpinnya. Secara leksikal motivasi memiliki pengertian sebagai usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau untuk mendapat kepuasan dari perbuatannya (https://kbbi.web.id/motivasi). Terdapat dua jenis motivasi yaitu motivasi instrinsik yang bersumber dari dalam diri sendiri dan motivasi ekstrinsik yang dipengaruhi oleh situasi tertentu atau orang lain di luar diri.  Dalam mendiskusikan kemampuan memotivasi yang dimiliki seorang, beberapa ahli seringkali merujuk pada teori motivasi yang telah berkembang. Salah satu teori motivasi yang terkenal adalah teori Abraham Maslow yang menjelaskan kebutuhan manusia dalam pemodelan bentuk piramida untuk menggambarkan urutan kebutuhan manusia dari tingkat dasar menuju tingkat tinggi. Urutan kebutuhan tersebut dari level dasar hingga tingkat tinggi yaitu:

  1. kebutuhan fisik,
  2. kebutuhan rasa aman,
  3. kebutuhan memiliki,
  4. kebutuhan dihargai, dan
  5. kebutuhan aktualisasi diri.

Maslow merumuskan bahwa kebutuhan tingkat tinggi seperti kebutuhan memiliki, dihargai, dan aktualisasi diri tidak akan dianggap penting bagi manusia selama kebutuhan tingkat dasar berupa kebutuhan fisik dan rasa aman belum tercukupi.

Teori motivasional yang lain berbasis teori kognitif yang mengasumsikan  bahwa seseorang menggunakan proses rasional semacam ‘analisisis keuntungan’ dalam menentukan hal apa yang harus diraih, apa yang harus dilakukan, dan bagaimana usaha yang harus dilakukan untuk meraih hal tersebut. Selanjutnya terdapat teori motivasional yang menggunakan keranka pemikiran “pendekatan situasional” yang meyakini adanya banyak faktor yang memengaruhi motivasi seseorang untuk bertindak. Secara khusus dalam teori penguatan diasumsikan bahwa perilaku sesesorang dapat dipengaruhi oleh sistem reward (hadiah) dan punishment (hukuman).

Keterampilan guru dalam kempimpinan pembelajaran merupakan turunan dari konsep keterampilan memimpin secara umum, yang tentunya juga dapat merujuk pada ketiga teori motivasional tersebut. Guru dan siswa adalah kesatuan kelompok yang melakukan proses pembelajaran. Proses pembelajaran berada di dalam ranah pendidikan, yang jika dipetakan menurut teori Maslow maka berada dalam level pemenuhan kebutuhan tingkat tinggi. Proses pendidikan adalah kegiatan memenuhi kebutuhan memiliki ilmu pengetahuan, untuk mendapatkan penghargaan, dan untuk aktualisasi diri. Oleh karena itu dalam proses memotivasi belajar siswa, guru perlu mempertimbangkan apakah kebutuhan dasar siswa telah terpenuhi. Seandainya memang kebutuhan dasar siswa belum terpenuhi, maka guru akan sulit untuk memotivasi siswa. Kenyataan ini bisa kita lihat misalnya di sekolah-sekolah yang berada di daerah 3T atau di daerah konflik tentu akan berat bagi guru di sekolah tersebut untuk memotivasi belajar siswa karena kebutuhan dasar para siswanya belum terpenuhi.

Keterampilan kepemimpinan guru dalam memotivasi belajar memiliki pengertian sebagai usaha guru untuk mendorong siswanya tergerak melakukan aktivitas pembelajaran sesuai desain instruksional dengan tujuan meraih capaian pembelajaran yang ditentukan. Bila mempertimbangkan teori kognitif maka guru yang terampil memotivasi siswa akan mendorong siswanya untuk mencapai tujuan dengan strategi memberikan penjelasan dan argumentasi yang masuk akal sehingga siswa dapat bersemangat mencapai tujuan tersebut. Sementara guru yang menggunakan pendekatan situasional dan berdasarkan pada teori penguatan (reinforcement theory) akan memotivasi pembelajaran menggunakan strategi pemberian hadiah dan/atau hukuman. Seorang pemimpin, termasuk guru sebagai pemimpin pembelajaran, dapat memberikan motivasi yang berdampak lebih besar bila ia mampu membangun suasana penuh semangat di dalam kelompok yang dipimpinnya. Dengan memberikan kepercayaan kepada anggotanya untuk bekerja secara mandiri, menghormati dan menghargai mereka, dan menerapkan berbagai keputusan dengan tepat, maka seorang pemimpin akan dapat menjaga suasana penuh semangat sehingga anggotanya dapat mencapai prestasi tertingginya. Suasana penuh semangat dibangun dari keterbukaan, kejujuran, dan komunikasi yang konstruktif. Kondisi tersebut dapat dipertahankan jika pemimpin mau mendengar pendapat dan masukan dari anggota kelompoknya. Dengan demikian pemimpin akan dapat memahami apa yang diinginkan anggotanya dan mengembangkan kemampuan kelompok berdasarkan saran dan pendapat tersebut. Faktor penting lain yang dapat mempertahankan suasana bersemangat dalam kelompok adalah reaksi pemimpin dalam mensikapi kesalahan dan kegagalan anggotanya. Anggota kelompok yang harus menyelesaikan tugas memiliki resiko mengalami kesalahan atau kegagalan mencapai tujuan. Pemimpin yang terampil idealnya merespon kegagalan tersebut dengan kembali melatih (coaching) anggota tersebut daripada menghukumnya.

Selain mampu memberi motivasi di dalam kelompok siswa yang diajarnya, guru sebagai pemimpin pembelajaran juga harus mampu menjadi motivator dalam komunitas profesi guru di sekolahnya bahkan di lingkungan sekitar. Kemampuan untuk saling memotivasi kolega dalam satu profesi akan dapat membangkitkan semangat untuk memperbaiki kualitas pembelajaran maupun kualitas sekolah secara umum. Dalam bahasa Merideth (2007) gerakan perbaikan ini disebut sebagai gerakan reformasi pendidikan berkelanjutan.

d. Kemampuan Membangun Tim
Keterampilan kepemimpinan mensyaratkan kemampuan seorang pemimpin untuk membangun tim/kelompoknya. Konsep ‘tim’ dapat berarti kelompok atau regu (https://kbbi.web.id/tim). Sementara Haley (2019) mendefinisikan ‘tim’ sebagai sekumpulan orang dengan bakat dan keterampilan yang berbeda-beda, yang menyatu untuk meraih tujuan bersama yang disepakati. Selain secara konseptual, seorang pemimpin idealnya memahami apa yang dimaksud dengan tim secara praktikal, terutama mengenai sumber daya yang ada di dalam tim tersebut, bagaimana mengembangkan tim dengan sumberdaya tersebut, dan bagaimana membuat tim yang dipimpinya menjadi efektif dalam bekerja.  Sebuah tim tidak dapat diibaratkan seperti mesin yang dapat bekerja sepanjang hari begitu dinyalakan. Sebuah tim karena terdiri dari kumpulan manusia jadi memerlukan tahapan untuk dapat bergerak dan berkembang. Tahapan terbentuknya sebuah tim tersebut yaitu:

  1. Pembentukan: merupakan tahapan awal dari perkembangan tim. Pada tahap  ini anggota tim fokus pada isu mengenai tujuan apa yang hendak dicapai, apa peran masing-masing anggota kelompok, dan apa yang diharapkan dari pimpinan pada para anggota.
  2. Pergolakan: merupakan tahap kedua di mana terjadi pertentangan antar anggota berkaitan dengan tujuan kelompok, penghargaan kerja, dan pertentangan kepribadian. Seorang pemimpin harus dapat menyatukan perbedaan, mengelola ketergantungan dan memfasilitasi kesepakatan antar anggota tim. Dalam mengelola konflik tersebut harus berdasar rasa keadilan dan keseimbangan dengan cara mendengar pandangan dari semua pihak dan merumuskan solusi atas masalah yang terjadi.
  3. Penormaan: tahap di mana semua anggota tim memusatkan perhatian untuk menyelesaikan atau meraih tujuan dan memecahkan masalah bersama. Seorang pemimpin harus menyiapkan waktu untuk terlibat dalam aktivitas saling belajar dalam penyelesaian masalah dan tujuan tersebut.
  4. Penampilan: tahap akhir dari perkembangan kelompok di mana semua anggota kelompok mengevaluasi kinerja tim, mengidentifikasi dan menerapkan tindakan untuk meningkatkan kinerja tim. Peran pemimpin pada tahap ini yakni menunjukkan masalah yang mungkin masih tersisa, memfasilitasi proses yang digutuhkan tim dan membagi tugas untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Dalam kepemimpinan pembelajaran, seorang guru harus siap untuk membentuk dan mengembangkan kelas yang diampunya sebagai sebuah tim yang solid. Dalam pengembangan timnya dapat merujuk pada konstruksi tahapan pengembangan tim di atas. Namun sebagai sebuah tim kerja pembelajaran, tujuan utama yang penting ditekankan pada siswa adalah tujuan pembelajaran. Tentu saja tim tersebut memiliki ikatan yang tidak selalu stabil karena berkaitan dengan faktor usia dan perkembangan siswa. Oleh karena itu, peran guru untuk membentuk tim, mengatasi konflik, memfasilitasi rekonsiliasi, dan meningkatkan kinerja siswa di kelasnya menjadi sangat penting, dan kemampuan itulah yang akan mengembangkan keterampilan kepemimpinan seorang guru.

Keterampilan kepemimpinan guru dalam hal membangun tim kerja juga penting dikembangkan dalam konteks sekolah. Di sekolah, seorang guru menyatu dengan guru-guru lain dalam komunitas keprofesian pendidik. Komunitas tersebut adalah sebuah tim yang bekerja untuk memajukan sekolah. Dengan kemampuan membangun tim kerja maka para guru dapat saling bekerja sama dan siap memimpin satu sama lain dalam rangka memajukan kualitas sekolah.

e. Kemampuan Memimpin Perubahan
Perkembangan zaman saat ini memerlukan langkah adaptasi dari individu atau kelompok sosial agar dapat mempertahankan eksistensinya. Langkah adaptasi yang dapat dilakukan adalah melakukan perubahan diri menyesuaikan dengan kebutuhan perkembangan zaman tersebut. Di dalam dunia pendidikan juga terjadi perubahan tata kelola pendidikan dengan cepat, hal tersebut disebabkan perkembangan teknologi informatika dan komputer (TIK) yang dapat memediasi dan menjembatani proses interaksi pembelajaran menjadi lebih fleksibel dan dinamis. Di tengah perubahan pengelolaan pendidikan inilah peran keterampilan kepemimpinan guru sangat diperlukan untuk tetap mempertahankan proses pendidikan tidak sekadar aktivitas pengajaran atau pelatihan saja, namun juga aktivitas pembentukan kepribadian siswa.

Aspek keterampilan kepemimpinan guru yang penting di tengah perkembangan zaman adalah kemampuan memimpin perubahan. Dalam kamus Oxford kata change merujuk pada arti ‘membuat atau menjadi berbeda. Haley (2019) melihat bahwa perubahan adalah bagian dari pemimpin yang sebenarnya. Artinya, pemimpin sesungguhnya adalah seorang yang mampu menjadi pemenang dalam proses perubahan. Kemenangan tersebut ia dapatkan melalui perjuangan yang tekun dalam usaha menemukan peluang dan strategi penyesuaian dengan perubahan. Hal inilah yang akhinya mampu menginspirasi orang yang dipimpinnya untuk melakukan sesuatu dengan cara yang baru demi bertahan dalam perubahan. Sebuah organisasi atau tim yang tidak memiliki pemimpin yang mampu mengelola diri dalam perubahan akan memiliki umur yang pendek. Pemimipin yang efektif selalu memiliki gagasan untuk mencari cara yang baru dan lebih baik untuk mengelola kelompoknya di tengah lingkungan yang dinamis. Pada umumnya orang-orang selalu resisten dan menolak perubahan. Seorang pemimpin harus mengembangkan sikap yang tepat dalam usaha merespon resistensi tersebut sehinga berubah menjadi penerimaan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menyerap dan memahami semua argumentasi resistensi anggotanya untuk kemudian menyajikan pendapat baru yang dapat menjadi solusi atas resistensi tersebut, dan bukan dengan cara menentang resitensi atau bahkan menyingkirkan anggota-anggota yang tidak setuju dengan perubahan. Sebagai pemimpin pembelajaran guru harus memiliki wawasan, kemauan dan kemampuan untuk berubah sesuai perkembangan jaman. Wawasan mengenai perubahan diperlukan agar guru dapat melihat perubahan secara arif dan bijaksana. Kearifan tersebut dapat memicu tumbuhnya motivasi diri mengenai pentingnya perubahan. Motivasi yang kuat untuk menyambut perubahan akan mendorong hadirnya kemauan untuk berubah. Dengan kemauan tersebut guru akan belajar perihal bagaimana melakukan perubahan. Dengan wawasan, kemauan dan kemampuan tersebut, guru akan menjadi pemimpin di kelasnya untuk melakukan perubahan. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan pola interaksi, pengelolaan kelas, pengelolaan sumber belajar, penggunaan media pembelajaran, hingga perubahan dalam melakukan asesmen. Seiring dengan penerapan perubahan tersebut guru dapat membangun keyakinan kepada siswa bahwa perubahan tersebut diperlukan sebagai bekal siswa menyambut situasi dan kondisi di masa yang akan datang.

Kemampuan guru dalam memimpin perubahan juga diperlukan di tingkat sekolah. Perubahan pembelajaran di kelas akan dapat berjalan lebih baik bila kebijakan di tingkat satuan pendidikan memberikan persetujuan. Oleh karena itu kemampuan memimpin perubahan harus dimiliki setiap guru agar dalam kerja sama keprofesian di tingkat satuan pendidikan isu-isu perubahan dapat degan cepat disambut. Dengan demikian reformasi pendidikan di sekolah dapat berjalan dengan lebih dinamis, dan fleksibel.

f. Kemampuan Mengelola Konflik
Salah satu kemampuan kunci yang harus dimiliki pemimpin adalah kemampuan mengelola konflik. Dalam Haley (2019) disebutkan bahwa seorang pemimpin menghabiskan 20% hingga 50% waktunya untuk menyelesaikan konflik di dalam tim/kelompok yang dipimpinnya. Konflik seringkali dipandang sebagai sesuatu yang buruk dan sesegera mungkin harus dihilangkan dalam sebuah tim, padahal konflik dapat juga dilihat sebagai salah satu elemen kunci untuk meraih hasil yang diinginkan seorang pemimpin dan timnya. Resolusi konflik dapat dilakukan dengan proses kompromi. Kompromi ini akan menjadikan dua pihak tidak merasa kalah atau menang. Seorang pemimpin hendaknya menguatkan budaya yang melihat resolusi konflik sebagai skenario untuk memastikan pihak yang berkonflik merasa mendapatkan sebuah kemenangan dan tidak ada pihak yang merasa kalah, atau biasa disebut dengan win-win solution. Setiap pihak yang berkonflik ingin menyelesaikan konflik dengan baik-baik dan tidak berdampak pada munculnya sikap frustasi atau kemarahan. Seorang pemimpin harus mampu memimpin resolusi konflik dengan menjadi mediator dalam proses negosiasi antar pihak dengan mengembangkan alternatif solusi yang dapat diterima kedua belah pihak.

Dalam kepemimpinan guru di kelas, kemampuan mengelola konflik diwujudkan dalam bentuk memediasi siswanya yang terlibat konflik di kelas. Siswa dengan beragam latar belakang keluarga, memiliki kebiasaan hidup yang berbeda, usia yang tidak sama, gaya belajar yang berbeda dan interes yang berbeda pula tentunya rentan terlibat dalam konflik. Apalagi di tingkat sekolah dasar di mana usia siswa masih dalam rentang usia anak-anak maka konflik dapat lebih sering terjadi, meskipun resolusinya juga relatif lebih cepat dan mudah. Di tengah konflik siswanya, guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu mengembangkan win-win solution dalam resolusinya sehingga kondusivitas suasana belajar dapat terbangun kembali. Dalam proses mediasi siswa harus kembali diingatkan oleh guru mengenai tujuan dari proses pembelajaran sehingga orientasi pencapaian kompetensi tetap menjadi prioritas setelah konflik terselesaikan.

Sebagai bagian dari kelompok profesi di sekolah yang terdiri dari para guru dan kepala sekolah, seorang individu guru juga rentan terlibat konflik dengan sesama kolega sebagai dalam interaksi keseharian. Kepala sekolah sebagai pemegang otoritas tertinggi di satuan pendidikan tentunya dapat memimpin proses resolusi sekiranya terjadi konflik antar guru. Namun jika pada kondisi tertentu kepala sekolah berhalangan dalam penyelesaian konflik, guru lain yang mendapatkan mandat dari kepala sekolah harus siap berperan menjadi pemimpin proses resolusi tersebut. Pada kondisi inilah keterampilan kepemimpinan guru dalam bentuk kemampuan mengelola konflik diperlukan.

g. Kemampuan Melatih/Membimbing (Coaching)
Dalam sebuah kelompok/tim, seorang pemimpin umumnya menyadari  bahwa tim tersebut membutuhkan kompetensi tertentu dari anggotanya untuk  mencapai tujuan yang ditetapkan. Seorang pemimpin yang baik akan dapat memetakan kemampuan dari anggotanya. Berdasarkan pemetaan kemampuan tersebut seorang pemimpin yang menghendaki peningkatan kinerja timnya, sementara kompetensi anggotanya belum mencukupi maka dia akan melakukan proses pelatihan atau pemimbingan. Hal inilah yang menyebabkan kemampuan melatih (coaching) merupakan salah satu kemampuan yang penting dalam kepemimpinan.  Melatih adalah proses melengkapi seseorang dengan peralatan, pengetahuan, dan keterampilan yang mereka butuhkan untuk mengembangkan diri dan meraih prestasi maksimal dalam kelompok atau organisasi (Haley, 2019).

Tugas pemimpin sebagai seorang pelatih yakni bertanggung jawab membantu anggota tim untuk dapat melakukan sesuatu, dan bukan melakukan sesuatu tersebut untuk anggotanya. Seorang pemimpin dapat mengembangkan kemampuan anggotanya dengan cara melatih sebagaimana seorang pelatih olah raga mengembangkan dan meningkatkan kemampuan atlitnya. Proses melatih anggotanya dapat dilakukan dengan cara:

  1. menetapkan tujuan pelatihan,
  2. mengidentifikasi wilayah kemampuan yang akan ditingkatkan,
  3. menentukan standar kompetensi yang akan dicapai,
  4. mengembangkan dan melaksanakan rencana peningkatan, dan
  5. melakukan pengawasan dan motivasi secara berkelanjutan.

Melatih adalah kemampuan penting dari seorang pemimpin untuk dapat meningkatkan kemampuan sumber daya manusia yang menjadi anggotanya. Seorang pemimpin harus memahami batas kemampuan dari anggotanya agar dapat melakukan pembinaan dengan efektif. Tujuan seorang pemimpin melakukan pembinaan yakni untuk membantu anggota timnya menjadi lebih baik, meningkat kemampuannya, atau siap untuk menghadapi tantangan masa depan.  Dalam konteks keprofesian guru, kemampuan melatih dan membimbing sebagai bagian dari keterampilan kepemimpinan memiliki kesesuaian dengan ruang lingkup tugas guru yang termuat pada UU no 14 tahun 2005, yang dua di antaranya adalah melatih dan membimbing peserta didik. Artinya, melatih dan membimbing/membina (coaching) siswa adalah tugas guru yang sekaligus merupakan implementasi dari kepemimpinan pembelajaran. Oleh karena itu, untuk dapat menerapkan dan mengembangkan kegiatan melatih dan membimbing siswa, guru dapat merujuk pada berbagai strategi coaching yang telah dirumuskan dalam teori kepemimpinan.

Sebagai sebuah contoh penerapan, jika kita merujuk pada lima langkah proses melatih atau membimbing di atas maka kelima langkah tersebut dapat dikontekstualisasikan ke dalam proses pembelajaran di kelas.

  1. Langkah ke-1 menetapkan tujuan pelatihan dapat disepadankan dengan menetapkan tujuan pembelajaran.
  2. Langkah ke-2 mengidentifikasi wilayah kemampuan yang akan ditingkatkan dapat disepadankan dengan mengidentifikasi kemampuan dasar siswa.
  3. Langkah ke -3 menentukan standar kompetensi yang akan dicapai sudah sebanding dengan penentuan standar kompetensi yang kan dicapai dalam pembelajaran.
  4. Langkah ke-4 mengembangkan dan melaksanakan rencana peningkatan dapat disepadankan dengan implementasi rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
  5. Langkah ke-5 melakukan pengawasan dan motivasi secara berkelanjutan dapat disepadankan dengan melakukan evaluasi, asesmen, dan tindak lanjut pembelajaran.

Dengan melihat kesejajaran langkah pembelajaran dengan program pelatihan dalam teori coaching di atas maka dapat dirumuskan simpulan bahwa seorang guru pada dasarnya adalah seorang pemimpin pembelajaran yang juga seorang pelatih (coach). Oleh karena itu seorang guru harus dapat meningkatkan kemampuan siswa yang dilatih dan dibimbingnya. Selain itu guru hendaknya memahami batas kemampuan siswanya agar dapat melakukan pembimbingan dengan lebih efektif. Dengan proses tersebut kompetensi siswa dapat berkembang menjadi lebih baik, bahkan meningkat dan siap untuk menghadapi tantangan masa depan.

Di luar proses pembelajaran, kemampuan coaching guru tersebut idealnya juga dapat dimanfaatkan dalam forum komunitas keprofesian. Dalam kegiatan pengembangan keprofesian guru, salah satu bentuknya adalah mengikuti berbagai pelatihan. Hasil-hasil pelatihan tersebut dapat saling dibagikan (capacity sharing) dalam komunitas guru di sekolah sehingga kemampuan guru dapat berkembang merata. Melalui proses ini kualitas sekolah akan meningkat secara berkelajutan.

Mengembangkan Keterampilan Leadership Skill
Dalam pembimbingan PPL mahasiswa PPG, dosen/instruktur diharapkan dapat membimbing mahasiswa dalam agar dapat mengembangkan leadership skill. Dalam PPL PPG, ketujuh kemampuan dasar kepemimpinan tersebut dapat dikembangkan dengan pendampingan yang intensif melalui berbagai treatmen yang dapat dilakukan oleh dosen/instruktur. Pengembangan kemampuan-kemampuan tersebut sesungguhnya sudah mulai dirintis dalam kegiatan lokakarya penyusunan perangkat pembelajaran. Di dalam kegiatan PPL, kemampuan kepemimpinan dapat lebih diperkuat melalui focus group discussion dalam satu kelompok bimbingan PPL pada saat membahas topik atau permasalahan tertentu. Dosen/instruktur dapat mengagendakan pertemuan berkala yang dihadiri satu kelompok mahasiswa bimbingan. Dalam pertemuan tersebut dilaksanakan kegiatan FGD yang dipimpin secara bergantian oleh mahasiswa PPL. Misalnya dalam satu pertemuan FGD membahas mengenai karaktersitik sebuah kelas di sekolah tempat PPL. Dalam FGD tersebut akan terbangun berbagai kemampuan, mulai dari kemampuan berkomunikasi yang efektif, kemampuan merumuskan tujuan diskusi, kemampuan mengelola konflik dan kemampuan memetakan masalah, dan merumuskan tujuan dalam bentuk visi perubahan pembelajaran yang lebih baik.

Aktivitas FGD juga tidak selalu dalam bentuk pertemuan formal. Diskusi dapat dilakukan juga melalui media sosial, dengan meminta prakarsa dari salah seorang mahasiswa yang menghadapi masalah di kelas atau sekolah tempat melaksanakan PPL. Dari kegiatan FGD baik tatap muka maupun melalui media sosial, dosen/instruktur dengan cepat dapat mengidentifikasi kondisi kemampuan kepemimpinan dari setiap mahasiswa. Berdasarkan hasil identifikasi tersebut maka dosen/instruktur dapat segera mengambil tindakan untuk memotivasi dan memfasilitasi mahasiswa yang leadership skill-nya belum berkembang dengan baik.
Pengembangan leadership skill juga dapat dilakukan dosen/instruktur bersama-sama guru pamong dengan memberi mahasiswa penugasan pengelolaan kegiatan di sekolah, misalnya kepramukaan ataupun ekstrakurikuler. Dari kegiatan ini mahasiswa diminta membuat laporan dari mulai perancangan program, pelaksanaan program, evaluasi ketercapaian program, hingga refleksi program. Berdasarkan laporan tersebut maka dosen/instruktur dapat memberikan arahan berupa tindak lanjut  dan perbaikan program yang sudah berjalan. Dengan demikian, leadership skill dapat dibentuk melalui praktik mahasiswa dalam aktivitas di sekolah.

Aktivitas Daring (online)
Sebagai penguatan penguasaan materi, Dosen/instruktur dapat melakukan aktivitas dalam jaringan salah satunya mengerjakan lembar (LK) kerja berikut ini untuk kemudian dikumpulkan sebagai bagian dari penugasan daring.

  1. LK 4.1 Identifikasi gaya kepemimpinan.
  2. LK 4.2 Strategi melatih kemampuan leadership skills.

Rangkuman
Konsep leadership skills dalam materi PPL PPG merujuk pengertiannya pada eterampilan kepemimpinan seorang guru (Ferguson, 2009: 25-26). Beberapa gaya kepemimpinan tersebut antara lain:

  1. Otoriter/Autokratis. Memiliki pengertian yaitu pemimpin yang otoriter dengan ide  yang jelas tentang apa yang harus dilakukan anggota yang dipimpin, bagaimana suatu tugas harus dikerjakan, dan kapan harus selesai.
  2. Partisipatif/Demokratis. Pemimpin dengan gaya partisipatif memberikan instruksi kepada anggotanya, namun tetap meminta anggotanya untuk untuk memberikan saran atau masukan perihal bagaimana meningkatkan kinerja untuk menyelesaikan sebuah proyek.
  3. Delegatif/Tanpa Arahan. Pemimpin dengan gaya delegatif biasa memberikan sedikit panduan atau bahkan tanpa arahan, dan membiarkan anggota kelompok membuat sebagian besar atau bahkan beberapa keputusan penting.
  4. Karismatik. Pemimpin dengan gaya karismatik menggunakan energi motivasi untuk menginspirasi tim yang ia pimpin.
  5. Transformasional. Pemimpin transformasional yaitu pemimpin yang menginspirasi individu dalam kelompoknya sehingga mampu mengajak kelompok tersebut merealisasikan visi atau proyek yang direncanakan.
  6. Situasional. Gaya Kepemimpinan situasional menggabungkan satu atau lebih dari gaya kepemimpinan yang tercantum di atas disesuaikan dengan kebutuhan pencapaian kerja dan disesuaiakan dengan personalitas anggota kelompok yang ada.

Merujuk pada pemetaan Haley (2019) terdapat 7 keterampilan kepemimpinan yang penting di antaranya adalah: (1) kemampuan komunikasi, (2) kemampuan menetapkan tujuan, (3) kemampuan memotivasi, (4) kemampuan membangun tim, (5) kemampuan memimpin perubahan, (6) kemampuan mengelola konflik, dan (7) kemampuan melatih/membimbing (coaching). Ketujuh kemampuan tersebut dapat dijadikan dasar sederhana dalam melatih dan membimbing mahasiswa PPL PPG. Bapak/IbuDosen/Instruktur dapat menambahkan kemampuan lain sekiranya 7 kemampuan yang dirumuskan Haley ini dianggap belum lengkap untuk menunjang leadership skills seorang guru.

Tes Formatif
Silahkan kerjakan soal di bawah ini untuk mengevaluasi diri apakah materi yang diuraikan dan dipelajari sudah dikuasai. Pilihlah satu jawaban yang dianggap paling tepat dengan memberikan tanda lingkaran (O) pada opsi jawaban yang dianggap anggap benar.

1. Dalam sebuah organisasi terkadang terdapat seorang pemimpin yang terampil  berkomunikasi, mampu memberikan instruksi kepada anggotanya, meskipun tetap meminta anggotanya untuk memberikan saran atau masukan. Bersumber pada Ferguson (2009) gaya kepemimpinan model tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam
gaya….

a. Otoriter
b. Kharismatik
c. Partisipatif
d. Transformasional

2. Dalam sebuah organisasi terkadang terdapat seorang pemimpin yang sangat detil
membagi tugas tentang apa yang harus dilakukan anggotanya, bagaimana tugas dikerjakan, dan jadwal penyelesainnnya. Bersumber pada Ferguson (2009) gaya kepemimpinan model tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam gaya….

a. Karismatik
b. Otoriter
c. Partisipatif
d. Transformasional

3. Berikut ini adalah bebagai kebutuhan manusia: (1) kebutuhan rasa aman, (2) kebutuhan dihargai, (3) kebutuhan aktualisasi diri, (4) kebutuhan fisik, dan (5) kebutuhan memiliki. Sesuai dengan teori Abraham Maslow dalam piramida kebutuhan, maka urutan kebutuhan dari level dasar hingga tingkat tinggi yaitu?

a. 4 – 1 – 2 – 5 – 3
b. 4 – 1 – 3 – 2 – 5
c. 4 – 1 – 5 – 2 – 3
d. 4 – 3 – 5 – 1 – 2

4. Pembentukan tim menurut Haley terdiri dari tahapan antara lain: (1) Pergolakan, (2)  Penampilan, (3) Penormaan, dan (4) Pembentukan. Urutan tahapan yang tepat adalah?

a. 4 – 2 – 3 – 1
b. 4 – 1 – 3 – 2
c. 3– 1 – 4 – 2
d. 3– 1 – 4 – 2

5. Ruang lingkup tugas guru yang termuat pada UU no 14 tahun 2005, salah satunyaadalah melatih. Keterampilan melatih (coaching) ini juga merupakan salah satu dari keterampilan kepemimpinan dalam pembelajaran. Tindakan yang kurang tepat dalam melatih siswa adalah….

a. Mengembangkan dan melaksanakan rencana pembelajaran dengan tepat
b. Mengidentifikasi kemampuan dasar siswa yang akan ditingkatkan secara            rinci
c. Menentukan standar kompetensi yang kan dicapai dalam pembelajaran              dengan jelas
d. Memberikan punishment (hukuman) agar siswa termotivasi belajar dengan      baik

Refleksi

  1. Menurut Bapak/Ibu dosen/instruktur indikator Leadership Skills yang mana yang paling mudah dikembangkan dalam diri mahasiswa PPL? Mengapa
  2. Menurut Bapak/Ibu dosen/instruktur indikator Leadership Skills yang mana yang paling sulit dikembangkan dalam diri mahasiswa PPL? Mengapa?

ppg34ppg35

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to Pengembangan Leaderhip Skill Guru Pemula

  1. Pingback: Menjadi Guru Mempesona – SDN 7 SUBAGAN

  2. Pingback: Refleksi – SDN 7 SUBAGAN

  3. Pingback: Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Mengajar – SDN 7 SUBAGAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *