Menjadi Guru Mempesona

Penyegaran Calon Dosen/Instruktur PPG |Unit 2. Pembimbingan PPL

Fasilitator : Ahmad, PhD, dan Pamujo, M. Pd (Kemdikbud Dirjen GTK)

Daftar Isi Unit 2

  1. KB 1 Strategi Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Mengajar
  2. KB 2 Strategi Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Non Mengajar
  3. KB 3 Menjadi Guru Mempesona
  4. KB 4 Pengembangan Leadership Skill Guru Pemula
  5. KB 5 Manfaat Feedback Pembelajaran dari Siswa
  6. KB 6 Refleksi Pembelajaran di Kelas
  7. KB 7 Refleksi Pembelajaran Bersama
  8. KB 8 Menyusun Jurnal Refleksi Pembelajaran

KB 3. Menjadi Guru Mempesona

Keberhasilan dalam pembelajaran di kelas tidak hanya ditentukan oleh faktor kemampuan guru dalam menguasai materi pelajaran. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kehadiran sosok guru yang memiliki pesona bagi siswanya. Pesona atau daya tarik guru memiliki potensi besar untuk menarik perhatian siswa, sehingga interaksi pembelajaran dapat berjalan dengan optimal, materi pembelajaran dapat tersampaiakan dengan lancar, dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pesona merupakan modal individual seorang guru yang tidak dapat dikuasai hanya berbasis pada pengetahuan teoritis. Pesona guru adalah bentukan dari interaksi intensif dan berkelanjutan dari proses pembelajaran. Oleh karena itulah mahasiswa PPL PPG yang masih dalam taraf ‘belajar’ menjadi guru, perlu berlatih membangun citra diri dalam latihan pembelajaran di kelas sehingga dapat membentuk dirinya menjadi guru yang memesona para siswanya.

Baca Juga

  1. Strategi Penyusunan Kisi-Kisi Instrumen
  2. Strategi Refleksi Pembelajaran
  3. Manfaat Feedback Pembelajaran dari Siswa
  4. Pengembangan Leadership Skill Guru Pemula
  5. Menjadi Guru Mempesona
  6. Penyusunan Perangkat Pembelajaran Berbasis TPACK
  7. Strategi Perencanaan Refleksi
  8. Peer Teaching
  9. Konsep Evaluasi Pembelajaran
  10. Mengembangkan Bahan Ajar
  11. Merancang Langkah Pembelajaran
  12. Mengembangkan Indikator dan Tujuan Pembelajaran
  13. Praktik Keprofessionalan Mengajar
  14. Praktik Keprofessionalan Non Mengajar
  15. Platform LMS Moodle & Big Blue Button

Capaian pembelajaran yang diharapkan dalam Kegiatan Belajar 3 ini adalah sebagai berikut :

  1. Memahami aspek-aspek pembentuk guru yang memesona;
  2. Menganalisis aspek pembentuk guru yang memesona;
  3. Menyusun strategi melatih guru yang memesona

Materi
Aspek-Aspek Pembentuk Guru yang Memesona
Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “pesona” merupakan kata benda yang memiliki arti “daya tarik” atau “daya pikat”. Sementara untuk kata “memesona” merupakan kata kerja yang berarti “menarik perhatian” atau “membuat kagum” (https://kbbi.web.id/pesona). Kata “memesona” jika dikonstruksi dalam sebuah kalimat, dan disandingkan dengan kata benda dapat pula bermakna sifat yaitu “sangat menarik perhatian” dan “mengagumkan”. Dengan demikian, yang dimaksud “guru yang memesona” adalah guru yang sangat menarik perhatian atau mengagumkan bagi siswanya. Kemampuan menarik perhatian siswa merupakan kompetensi penting dari seorang guru. Dengan terbangunnya perhatian siswa, maka proses pembelajaran dapat lebih mudah terlaksana. Hal tersebut dapat terjadi karena siswa yang tertarik dengan sang guru akan memiliki motivasi dan tergerak untuk memfokuskan dirinya pada proses pembelajaran. Kesiapan belajar inilah yang membuat siswa lebih mudah dikondisikan dan dikelola pada saat pembelajaran berlangsung.

Eksplore Lebih Lanjut

  1. Unit 1 tentang Penyusunan Perangkat Pembelajaran
  2. Unit 2 tentang Pembimbingan PPL
  3. Unit 3 tentang Pembimbingan Penilaian Pembelajaran
  4. Unit 4 tentang Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan

Menjadi guru yang memesona tidak dapat dibentuk melalui proses yang instan, karena membutuhkan proses belajar yang panjang dan praktik intensif yang berkelanjutan dalam keprofesian guru. Tidak jarang di antara kita ketika berjumpa dengan sahabat lama satu sekolahan, akan membicarakan berbagai kenangan termasuk mengenang sosok guru-guru yang memesona di masa lalu. Performa guru dalam mengajar yang memperlihatkan berbagai aspek yang menarik perhatian, menjadikan profil guru tersebut melekat kuat di dalam memori siswanya bahkan hingga waktu yang lama. Guru yang memesona adalah sosok yang memiliki image (citra diri) yang mengagumkan, yang melekat dalam diri guru sebagai dampak profesionalitasnya dalam bekerja.  Berdasarkan kenyataan di atas, mahasiswa PPL PPG perlu dibimbing dan dilatih untuk mengembangkan dirinya menjadi guru yang memesona. Dosen/Instruktur sebagai pribadi yang telah lama menekuni profesi pendidik kiranya dapat menjadi mentor mahasiswa PPL PPG dalam pembimbingan menuju guru yang memesona. Berkaitan dengan hal tersebut, pada kegiatan belajar ini mari kita petakan kembali beberapa aspek penampilan maupun kemampuan yang berpengaruh pada pembentukan guru yang memesona. Dosen/instruktur dapat menambahkan butir-butir aspek di bawah ini bila dianggap masih kurang lengkap.

1. Penampilan Diri
Pada saat proses pembelajaran berlangsung, guru ibarat aktor utama yang penampilan, perilaku, dan tutur katanya diamati, dilihat, dan diperhatikan oleh siswanya. Dari berbagai aspek tersebut, aspek penampilan diri merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan daya tarik dan perhatian siswa. Guru yang berpenampilan asal-asalan, tidak menjaga kebersihan dan kerapian tentu akan sulit menimbulkan daya tarik bagi siswanya. Sebagai seorang yang diteladani, akan sulit bagi guru untuk meminta siswanya menjaga kebersihan dan kerapian sementara dirinya sendiri tidak memperlihatkan hal tersbut. Sebaliknya, guru yang berpenampilan bersih dan rapi tentu akan memikat perhatian siswa sejak awal proses pembelajaran. Berkaitan hal ini mungkin kita dapat merenungkan salah satu tagline iklan produk parfum yang berbunyi “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda”. Kalimat tersebut dapat diartikan bahwa jika kesan pertama sudah mampu memikat perhatian, maka proses interaksi selanjutnya akan lebih mudah terjalin. Dengan demikian, penampilan diri merupakan pintu pertama bagi guru untuk membangun pesona di hadapan para siswanya. Penampilan diri guru yang mempesona tidak jarang melekat dalam memorisiswanya untuk waktu yang lama. Hal ini bisa kita temui contohnya dalam perbincangan kegiatan reuni angkatan sekolah, seringkali dibahas perihal kenangan
akan penampilan guru yang bahkan deskripsinya bisa sangat detil. Misalnya tentang
kerapian pakaian, gaya berpakaian, potongan rambut, gaya menyisir rambut, kesesuaian pemilihan warna busana dan sebagainya.

Berdasarkan kenyataan ini maka penampilan diri harus menjadi perhatian utama dalam usaha membentuk guru yang memesona. Dalam membangun penampilan diri mahasiswa PPL, Dosen/instruktur pembimbing PPL dapat meminta mahasiswa melakukan refleksi penampilan dirinya sebelum mengajar. Refleksi terutama difokuskan dalam unsur kebersihan dan kerapihan busana yang dikenakan, gestur tubuh, dan mimik raut wajah. Refleksi dapat dilakukan dengan meminta mahasiswa PPL membuat ceklis tentang penampilan dirinya. Pada unsur penampilan yang terkait dengan busana, unsur kebersihan busana menjadi syarat mutlak. Kebersihan menyangkut tampilan visual busana yang bersih, hingga unsur aroma dari busana tersebut. Aroma yang kurang sedap, baik yang ditimbulkan oleh busana, atau bahkan oleh aroma tubuh mahasiswa hendaknya dapat segera disadari dan diminimalisir dengan berbagai treatment, misalnya menggunakan pewangi pakaian atau parfum badan. Kebersihan dan kerapihan busana tidak berarti harus menggunakan pakaian yang selalu baru atau menampakkan kemewahan. Syarat pokoknya adalah busana tersebut memenuhi unsur kebersihan, kesopanan, kerapian, ketepatan dengan proporsi tubuh, hingga ketepatan busana dengan kondisi atau konteks sekolah. Detil perbaikan penampilan dalam berbusana ini akan menjadi pintu masuk utama bagi mahasiswa PPL untuk membangun kesan menarik yang menumbuhkan kepercayaan diri, sekaligus menjadi teladan bagi siswanya. Di samping penampilan busana, penampilan diri juga mencakup penampilan fisik mahasiswa dalam wujud gestur, yang juga perlu mendapat perhatian dan bimbingan dari dosen/instruktur pembimbing PPL. Dalam istilah yang lain dapat digunakan konsep kesamaptaan seorang guru. Unsur kesamaptaan tersebut hendaknya terwujud pada saat guru berjalan, menyapa siswa, berbicara, hingga dalam memberikan penguatan melalui berbagai ungkapan/ekspresi. Kesamaptaan perlu dilatih melalui pembiasaan agar ekspresi yang muncul tidak terkesan artifisial (dibuatbuat/dipaksakan). Kesamaptaan yang terbentuk dengan baik akan menghadirkan kewibawaan seorang guru, sehingga meskipun interaksi dengan siswa bisa sangat dekat, namun kedudukan serta peran antara guru dan siswa tetap terjaga dalam posisi yang ideal. Dosen/instruktur pembimbing PPL dapat berbagi pengalaman mengenai unsur-unsur kesamaptaan guru dan pengaruhnya bagi pembelajaran. Dengan proses berbagi pengalaman ini maka mahasiwa dapat mengevaluasi dan merefleksi dirinya dengan jujur, untuk kemudian dapat memperbaiki kesamaptaan-nya pada saat berada di sekolah atau di kelas.

2. Menguasai Materi Pembelajaran
Di dalam kelas guru adalah sumber pengetahuan bagi siswanya. Tidak jarang siswa menganggap guru sebagai sosok yang mengetahui banyak hal. Di dalam jenjang pendidikan sekolah dasar misalnya, guru sering lebih dipercaya oleh para siswa dibanding orang tuanya. Hal ini terjadi karena siswa menganggap guru lebih pandai
dan lebih tahu dari orang tuanya. Oleh karena itu guru yang menguasai materi dengan baik dan dapat membimbing siswanya memecahkan berbagai masalah pembelajaran, akan membentuk keyakinan dan kepercayaan dalam diri siswa pada guru tersebut Sebaliknya, guru yang penguasaan materinya terbatas dan tidak mampu memberikan bimbingan pemecahan masalah akan membuat siswa tidak memiliki kepercayaan dan keyakinan pada kemampuan gurunya. Kondisi ini dapat berdampak pada citra diri guru yang negatif, yakni tidak lagi menarik di mata siswanya.

Berdasarkan kenyataan di atas, dalam kegiatan pembimbingan PPL PPG, Dosen/instruktur hendaknya dapat membimbing dan memastikan bahwa sebelum praktik mengajar mahasiswa sudah menguasai semua materi yang akan diajarkan. Bahkan dalam kondisi tertentu akan sangat baik bagi mahasisiwa untuk menguasai materi hingga di atas cakupan materi yang akan diajarkan. Dengan penguasaan materi yang mantab, maka mahasiswa PPL akan siap menjawab dan memecahkan berbagai pertanyaan kritis dari siswa. Kemampuan menghantarkan siswa pada pemecahan masalah yang mereka hadapi tersebut akan membuat mahasiwa PPL mendapatkan citra diri yang positif, sebagai dasar pembentukan pribadi guru yang memesona.

3. Memahami Keragaman Karakter Siswa
Mengajar di kelas pada hakikatnya adalah proses interaksi antara guru dengan siswa yang secara individual memiliki beragam karakter. Oleh karena itu, guru harus memahami berbagai karkater siswanya agar dapat memilih dan menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan ragam karakter di kelas tersebut. Guru yang hanya memaksakan satu pendekatan, strategi, model atau metode pengelolaan kelas dapat membuat siswa yang karakteristiknya tidak sesuai dengan pengelolaan tersebut akan merasa tidak nyaman dan tidak termotivasi megikuti pembelajaran. Guru yang mampu memahami karakteristik siswa dan terampil melakukan variasi pengelolaan kelas akan mendapatkan perhatian lebih dari siswa. Guru tersebut akan dianggap sebagai milik semua siswa karena dapat “melayani” keberagaman keinginan siswa dalam proses pembelajaran. Proses inilah yang membuat guru tersebut selalu dinantikan siswanya dan menjadi idola karena pembelajarannya menjanjikan kebaruan dan keunikan.

Berdasarkan kenyataan di atas, dalam pembimbingan PPL mahasiswa PPG, Dosen/instruktur dapat berdiskusi dengan mahasiwa mengenai pemahaman mereka terhadap karakteristik siswa di kelas yang akan di ajarnya. Pada kegiatan sebelum PPL, mahasiswa sudah melakukan observasi di sekolah tempat praktik. Asumsinya mahasiswa sudah dapat mengidentifikasi kecenderungan karakter siswa disetiap kelas. Dengan demikian Dosen/instruktur dapat memeriksa kembali apakah perencanaan pembelajaran yang akan diterapkan sudah menggunakan berbagai variasi pengelolaan kelas yang dapat memfasilitasi berbagai gaya belajar siswa. Melalui diskusi yang intensif dengan dosen/instruktur pelaksanaan pembelajaran diharapkan dapat berlangsung kondusif dengan pengelolaan kelas yang tepat sesuai
karakteristik siswa. Dampak positif dari hal tersebut tentunya adalah tumbuhnya motivasi belajar siswa dan tertanamnya kesan mempesona mahasiswa PPL dalam diri siswa.

4. Memfasilitasi Siswa Mengembangkan Diri
Salah satu tindakan yang membuat seorang guru dikenang dan menarik perhatian siswanya adalah karena kemauannya memfasilitasi siswa untuk mengembangkan diri. Banyak kisah di sekitar kita mengenai bagaimana seorang siswa berhasil dalam hidupnya karena keikhlasan sang guru dalam memfasilitasi minat dan bakatnya. Sebagai contoh misalnya dapat kita simak kisah tentang Lalu Muhammad Zohri, seorang pemuda dari Kabupaten Lombok Utara yang berhasil menjadi juara lari 100 meter dalam kejuaraan dunia U-20 di Tampere Finlandia pada 11 Juli 2018. Keberhasilan Zohri tidak lepas dari peran Ibu Rosida, guru olah raganya semasa menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Pamenang Kabupaten Lombok Utara. Ibu guru tersebut melihat bakat olahraga dalam diri Zohri yang berpotensi untuk dikembangkan. Kesadaran akan adanya bakat dan potensi inilah yang menyebabkan Rosida memfasilitasi Zohri untuk terus berlatih di cabang olahraga lari dengan selalu memberikan motivasi dan bimbingan. Pada saat sang anak didik akhirnya berprestasi, Ibu Rosida menjadi orang yang pertama kali di kenang oleh Zohri.

Berkaca pada kisah di atas, kemauan guru untuk memfasilitasi siswanya mengembangkan diri merupakan bentuk profesionalitas sekaligus tanggungjawab kemanusiaan. Setiap siswa adalah individu yang unik dengan karakteristik, minat, dan bakat yang beragam. Peran guru sebagai fasilitator dan motivator akan sangat
menentukan bagaimana karakter, minat, dan bakat tersebut dapat berkembang menjadi prestasi siswa. Untuk dapat berperan memfasilitasi siswa mengembangkan diri, dasar utama yang harus dimiliki guru adalah kepekaan dan kemauan. Guru yang dengan tekun membimbing dan memfasilitasi siswanya untuk berkembang akan selalu menarik perhatian siswanya dan sosoknya tersimpan dalam kenangan sepanjang kehidupan siswa tersebut.

Di tengah kesibukan mahasisiwa PPG dalam berbagai aktivitas PPL, Dosen/instruktur diharapkan tetap dapat membimbing mahasiswa untuk memiliki kepekaan dan kemauan dalam memfasilitasi siswa mengembangkan diri. Pada saat praktik mengajar maupun dalam kegiatan nonmengajar, mahasiswa PPL dapat mulai belajar mengidentifikasi kecenderungan minat, bakat, dan potensi siswanya. Hasil identifikasi dapat dilanjutkan dengan menyusun saran tindak lanjut yang dapat direncanakan untuk pengembangan diri siswa. Dengan strategi ini diharapkan nantinya ketika sudah menjadi guru mahasiswa PPL PPG terbiasa memiliki kepekaan, kemauan dan kemampuan untuk memfasilitasi siswanya mengembangkan diri dan meraih prestasi yang optimal.

5. Terampil Berkomunikasi
Keterampilan berkomunikasi merupakan salah satu aspek yang dapat membangun daya tarik dan menjadikan guru memesona bagi siswanya. Proses pembelajaran sebagai aktivitas interaktif terbangun dari adanya proses komunikasi antara guru dengan siswa, maupun antara siswa dengan siswa lain. Komunikasi dalam pembelajaran adalah proses penyampaian dan penerimaan pesan dari satu individu
kepada individu lainnya perihal informasi yang berkaitan dengan pengetahuan atau
keterampilan. Dengan demikian, keterampilan guru dalam berkomunikasi adalah kemampuan guru untuk menyampaikan materi dan mengelola pertukaran informasi pada saat proses pembelajaran berlangsung sehingga tujuan pembelajarn dapat tercapai.  Komunikasi pembelajaran dapat berwujud komunikasi verbal dan non verbal. Komunikasi verbal adalah penyampaian pesan menggunakan bahasa baik secara lisan maupun menggunakan tulisan. Komunikasi non verbal adalah penyampaian pesan yang tidak menggunakan bahasa namun dapat berupa kode, isyarat, gambar, lambang, simbol, gerak-gerik, mimik wajah dan sebagainya. Untuk dapat membentuk diri menjadi guru yang memsona, mahasiswa PPL harus berlatih mengembangkan keterampilan menggunakan dua bentuk komunikasi tersebut.

Keterampilan komunikasi verbalik dalam pembelajaran diperlukan guru pada saat memberikan penjelasan, instruksi, dan penugasan kepada siswanya. Mengembangkan keterampilan komunikasi verbal ini tidak mudah. Pada beberapa kasus ditemukan kenyataan bahwa ketika di luar pembelajaran mahasiswa PPL sangat terampil dan lancar berbicara maupun menjelaskan sesuatu, namun ketika sudah mengajar di kelas keterampilan tersebut tidak muncul. Hal ini bisa disebabkan berbagai faktor seperti karena gugup, minder, atau tidak terbiasa berkomunikasi secara formal. Namun yang perlu dicermati bahwa ketika guru menampilkan kemampuan komunikasi verbal yang lemah, seperti berbicara terputus-putus, menjelaskan terbata-bata, tidak merumuskan kalimat yang mudah dipahamai, atau menulis di papan tulis dengan tidak rapi dan kurang jelas, maka hal tersebut akan memunculkan ketidakpercayaan siswa pada kemampuan guru. Ketidakpercayaan ini akan menyebabkan hilangnya daya tarik guru sehingga siswa kurang termotivasi mengikuti pembelajaran. Sebaliknya, guru yang memberikan penjelasan dengan kalimat yang mudah dimengerti, dengan penjelasan yang mengalir, suara jelas, dan tulisan yang mudah dibaca, akan membuat siswa tertarik sehingga termotivasi mengikuti pembelajaran.

Selain komunikasi verbal, kemampuan komunikasi nonverbal guru juga penting karena digunakan untuk menunjang keseluruhan komunikasi pembelajaran. Komunikasi nonverbal misalnya kemampuan menyajikan gambar, lambang atau simbol sebagai visualisasi dari penjelasan verbal. Komunikasi nonverbal juga dapatberupa isyarat atau kode yang dapat dipahami siswa, misalnya pada saat guru melakukan penguatan pembelajaran, pemberian reward, atau pengendalian situasi dan kondisi kelas.  Guru yang terampil memanfaatkan berbagai bentuk komunikasi dan melakukannya dengan gaya yang sesuai akan menjadi guru yang menarik bagi siswanya. Oleh karena itu, dalam pembimbingan PPL, Dosen/instruktur dapat meminta mahasiswa untuk banyak berlatih mengembangkan kemampuan komunikasi verbal maupun nonverbal. Di samping itu, mahasiswa dapat diminta untuk banyak berlatih berbicara di depan forum yang dihadiri banyak orang agar terbiasa secara mental, sehingga tidak lagi gugup pada saat berada di depan kelas. Satu hal yang penting juga bahwa untuk dapat berkomunikasi dengan lancar pada saat pembelajaran, maka mahasiswa PPL harus dapat menguasai materi dan skenario pembelajaran dengan baik sebelum praktik mengajar berlangsung.

6. Mudah Bergaul
Selain di dalam pembelajaran, keterampilan komunikasi di luar pembelajaran  juga dapat menjadi aspek pembentuk pesona seorang guru. Keterampilan komunikasi di luar pembelajaran ini dapat dilihat dari kemampuan guru untuk bergaul dalam lingkungan sosialnya. Kemampuan dan kemauan bergaul di sini adalah kemauan dan kemampuan untuk menjalin hubungan sosial yang positif dan kosntruktif sebagai bagian dari anggota masyarakat. Guru yang mudah bergaul dengan berbagai lingkungan sosial akan memiliki banyak kawan, baik yang berasal dari lingkungan sekolah maupun dari lingkungan sosial masyarakat.  Kemampuan dan kemauan guru untuk bergaul dengan semua kelompok sosial menunjukkan bahwa dirinya adalah pribadi yang inklusif, pribadi yang terbuka dan siap untuk menerima berbagai perbedaan latar belakang dan pandangan dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu, guru yang mudah bergaul dengan berbagai kalangan akan banyak mudah dikenal oleh lingkungannya dan pada umumnya akan mendapatkan apresiasi sosial yang positif. Sebaliknya, guru yang menutup diri dalam pergaulan dan memilih-milih untuk berteman pada umumnya cenderung mendapatkan apresiasi sosial yang negatif.

Guru yang mau dan mampu bergaul dengan siswanya baik di dalam proses pembelajaran maupun di luar pembelajaran biasanya akan diidolakan oleh siswanya. Kenyataan tersebut misalnya dapat ditemui dalam kegiatan kerjasama antara kampus dan sekolah. Dalam kegiatan PPL (S1 pendidikan kurikulum lama) atau Magang Kependidikan (S1 kurikulum saat ini) di sekolah dasar (SD), Mahasiswa PPL atau magang yang bersedia bergaul dengan siswa di luar jam pembelajaran akan memiliki hubungan yang baik dan didiolakan oleh para siswa. Bahkan dalam acara perpisahan tidak jarang para siswa ini menangis ketika hendak berpisah dengan para mahasiswa PPL/Magang Kependidikan. Artinya, guru atau mahasiswa calon guru yang menyediakan waktunya untuk menjalin hubungan informal di luar pembelajaran akan diapresiasi lebih oleh para siswanya. Dalam konteks ini mahasiswa PPL pada saat berpraktik menjadi guru di sekolah idealnya tidak membeda-bedakan siswa ketika bergaul dengan mereka, agar tidak terjadi kecemburuan sosial.

Mempertimbangkan kenyataan di atas, dalam kegiatan PPL PPG , dosen/instruktur dapat meminta mahasiswa PPL PPG untuk mengembangkan kemampuan menjalin pergaulan sosial yang positif dan konstruktif dengan berbagai kelompok sosial di sekolah. Kelompok sosial tersebut antara lain kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua siswa. Dengan kemampuan dan kemauan menjalin pergaulan dengan berbagai pihak tersebut, maka mahasiswa PPL PPG dapat lebih mudah diterima sebagai bagian dari komunitas pendidikan di sekolah. Secara khusus dalam konteks pergaulan dengan siswa, kesediaan mahasiswa PPL PPG untuk menyisihkan waktu berkomunikasi di luar pembelajaran akan membuat siswa menjadi tertarik dan lebih respek, karena merasa lebih dekat dan mendapatkan perhatian. Hal ini akan berdampak positif karena pada saat mahasiswa praktik mengajar di kelas, kedekatan tersebut dapat menjadi sarana mempermudah pengkondisian kelas. Dengan proses demikian ini maka mahasiswa PPL dapat merintis pembentukan diri sebagai guru yang memesona.

7. Murah Hati
Murah hati adalah sebuah sifat atau kepribadian yang dimanisfesasikan oleh seseorang dalam bentuk perilaku gemar menolong orang lain yang sedang menghadapi permasalahan. Guru yang memiliki sikap murah hati adalah guru yang
penuh kasih sayang sehingga bersedia membantu siswanya yang sedang menghadapi permasalahan. Permasalahan di sini tidak saja masalah yang berhubungan dengan proses pembelajaran saja, namun juga masalah di luar pembelajaran yang mungkin dapat menyebabkan prestasi belajar siswa tidak optimal. Guru adalah orang tua kedua bagi siswa, oleh karena itu guru idealnya ikut memantau perkembangan siswa termasuk dalam membantu siswa memecahkan permasalahannya.  Bantuan guru yang diberikan kepada siswa tidak selalu bantuan yang sifatnya rumit, sulit, berat atau sangat serius. Bahkan bantuan dalam hal-hal kecil justru terkadang membuat siswa yang dibantu merasa hormat, dan siswa yang lain yang melihat menjadi tertarik dan terpesona pada tindakan guru tersebut. Intinya, kemurah hatian dibentuk oleh kepekaan guru dalam melihat masalah di sekitarnya, dan kepekaan ini harus diasah dan dibiasakan melalui intensitas interaksi dengan siswa baik di dalam maupun di luar proses pembelajaran.

Dalam konteks guru berniat memberikan bantuan kepada siswa yang sifatnya serius dan sensitif, maka guru perlu berkonsultasi juga dengan kepala sekolah dan orang tua siswa agar bentuk-bentuk bantuan yang diberikan bisa tepat guna dan tidak dipersepsikan salah oleh orang lain. Kemurahhatian guru akan menjadi daya tarik bagi siswanya karena siswa merasa memiliki pelindung dan memiliki sandaran manakala siswa menghadapi persoalan. Untuk membangun kepribadian guru yang murah hati dosen/instruktur dapat meminta mahasiswa PPL mengembangkan pergaulan yang intensif dengan siswa baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Selanjutnya mahasiswa diminta mengidentifikasi dan mencatat berbagai masalah yang dihadapi individu siswa, terutama permasalahan yang membuat proses belajar mereka terganggu. Setelah itu mahasiswa PPL dapat menyusun berbagai solusi yang mungkin dapat dilakukan untuk membantu para siswa tersebut.

8. Sabar
Sabar merupakan kata sifat yang memiliki arti leksikal sebagai kondisi diri yang tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tenang, dan tidak tergesa-gesa (https://kbbi.web.id/sabar). Bersesuaian dengan arti tersebut, guru yang sabar bermakna guru yang memiliki sifat tenang tidak mudah marah dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan berbagai tindakan. Guru dengan tipe sikap yang demikian ini cenderung memiliki daya tarik dan disukai oleh para siswanya. Guru yang sabar
menjadikan motivasi belajar siswanya tumbuh. Para siswa bersemangat untuk mengikuti pembelajaran, tidak ragu untuk bertanya, bahkan tidak takut jika memiliki pendapat yang berbeda dengan gurunya atau dengan teman yang lain karena memiliki keyakinan bahwa guru yang sabar tidak akan memarahinya. Kesabaran guru adalah jaminan para siswa merasa dilindungi, merasa diayomi, dan merasa memiliki tempat untuk mencurahkan berbagai permasalahannya.  Guru yang sabar seringkali memiliki pesona yang kuat, yang menarik perhatian siswanya dan terekam dalam memori untuk waktu yang lama. Bahkan kesabaran seringkali dilekatkan sebagai prasayarat sifat yang harus dimiliki seorang guru. Hal tersebut terjadi karena guru adalah profesi yang mengharuskan berinteraksi dengan banyak individu yang menjadi siswanya. Keberagaman individu siswa dengan beragam karakter, beragam latar belakang sosial, dan beragam permasalahan tentu berpotensi memunculkan beragam masalah di dalam pembelajaran Guru yang sabar akan menghadapi berbagai permasalahan tersebut dengan ketenangan dan pendekatan yang humanis. Sebaliknya guru yang tidak memiliki kesabaran biasanya akan meyelesaikan masalah dengan mengedepankan otoritarian dan menunjukkan sikap yang temperamental.
Dalam situasi interaksi keseharian di sekolah, siswa tentu akan melihat performa kesabaran para guru. Performa kesabaran tersebut dan diperbandingkan antara guru satu dengan yang lain sehingga siswa dapat membangun persepsi dalam dirinya mengenai guru yang sabar dan guru yang tidak sabar. Melalui proses inilah siswa akhirnya banyak tertarik dan mendekat pada guru yang dianggap lebih sabar, karena kesabaran guru bagi mereka adalah jaminan keamanan dan kenyamanan dalam belajar. Artinya kesabaran guru merupakan hal yang menarik dan mempesona bagi siswanya.  Dalam kegiatan PPL PPG, Dosen/instruktur diharapkan dapat membimbing dan mengembangkan sifat dan perilaku sabar dalam diri mahasiswa PPL pada saat praktik pembelajaran. Model pembimbingan dan pengembangan tersebut dapat dilakukan dengan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mendiskusikan permasalahan yang mereka hadapi dalam mengelola kelas. Pemberian motivasi dari Dosen/instruktur merupakan langkah penting untuk membangun kesabaran dalam diri mahasiswa PPL. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara berbagi pengalaman memecahkan permasalahan mengajar. Mewujudkan sifat sabar dalam bentuk tindakan nyata di kelas dan di sekolah merupakan langkah yang harus direalisasikan mahasiswa PPL bila ingin menjadi pribadi guru yang memesona.

9. Simpatik
Pesona seorang guru, seringkali juga terbentuk karena sikap dan perilaku simpatiknya kepada siswa. Simpatik berarti ikut merasakan apa yang dirasakan oleh
orang lain. Dalam konteks relasi guru dan siswa dapat berarti bahwa guru yang simpatik adalah guru yang selalu berusaha untuk ikut merasakan apa yang dirasakan siswanya, baik itu berkaitan dengan rasa sedih maupun kegembiraan. Guru yang demikian ini akan memiliki daya tarik bagi siswanya, karena tindakan simpatik guru menjadikan siswa seperti memiliki tempat untuk berbagi. Perilaku simpatik guru dapat juga diwujudkan dalam aktivitas selalu memberikan motivasi bagi siswanya, baik pada saat siswa mengahadapi masalah maupun saat meraih prestasi. Sebagai sebuah ilustrasi, seandainya kita diminta mengenang guru-guru kita, maka kenangan yang muncul tidak selalu perihal materi pembelajarannya, namun bagaimana wejangan, nasihat, atau motivasinya yang membuat kita terpesona sehingga terkenang sebagai ingatan yang sangat kuat. Untuk menjelaskan hal ini, sebagai contoh kita dapat melihat dalam pemodelan ilusif namun kongkret dalam wujud seorang guru bernama Bu Muslimah dalam film “Laskar Pelangi”, atau Miss. Katherine Watson dalam film “Monalisa Smile”. Di dalam dua film tersebut, sosok guru mampu mempesona para siswanya, karena menampilkan pendekatan humanis dalam pembelajaran. Bahwa proses belajar mengajar adalah interaksi antar manusia, dalam konteks ruang dan waktu yang menyeluruh, tidak hanya berbatas kelas. Oleh karena itu tanggung jawab guru adalah tanggung jawab kemanusiaan pada para siswanya. Kesadaran inilah yang mengantarkan kedua guru di film tersebut untuk selalu bertindak simpatik dan memotivasi para siswanya, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Pada akhirnya, terkadang pesona seorang guru tidak hanya dibentuk oleh bagaimana ia menguasai materi atau terampil mengajar saja, namun juga terkait bagaimana ia bisa tampil sebagai sosok humanis yang mengasihi para siswanya dan selalu memberikan motivasi bagi siswanya untuk menjadi yang terbaik.

Pengembangan sikap dan perilaku simpatik dalam diri mahasiswa PPL PPG dapat dilakukan dalam interaksi mahasiswa dengan para siswa di sekolah, baik saat proses pembelajaran maupun di luar pembelajaran. Bapak/Ibu dosen/instruktur dapat mengembangkan sikap dan perilaku simpatik mahasiswa PPL dengan meminta mereka untuk membuka komunikasi yang intensif dengan siswa, dan bersedia mendengarkan berbagai curahan hati dari para siswanya. Dengan tindakan ini siswa akan merasa memiliki teman untuk berbagi di sekolah. Perasaan kedekatan tersebut akan membuat siswa tertarik dan kagum pribadi guru (mahasiswa PPL) tersebut.

10. Santun
Santun memiliki arti halus dan baik, kehalusan dan kebaikan tersebut mencakup dalam budi bahasa maupun tingkah lakunya (https://kbbi.web.id/santun). Santun juga merupakan aspek yang dapat membangun pesona seorang guru. Kesantunan akan tampak pada saat guru melakukan pergaulan dan menjalin komunikasi dengan berbagai pihak. Kehalusan dalam bertutur kata dan perilaku yang baik akan menjadikan guru menarik perhatian lingkungannya dan menjadikan dirinya mendapatkan citra diri positif.  Aspek kesantunan juga memegang peran penting dalam proses pembelajaran. Di media massa beberapa waktu lalu dapat kita peroleh informasi mengenai peristiwa negatif yang terjadi sebagai ekses dari permasalahan kesantunan dalam pembelajaran.

Misalnya siswa yang depresi karena diperingatkan guru dengan perkataan yang kasar dan keras, siswa yang berbalik menyerang guru karena dihukum dan diejek, hingga orang tua siswa yang menuntut guru secara hukum karena merasa anaknya diperlakukan tidak pantas. Terlepas dari siapa yang akhirnya diputus bersalah, dari
peristiwa tersebut dapat diambil hikmah yang penting bahwa kesantunan dalam berkomunikasi dan bertindak menjadi kunci penting untuk menjaga kehormatan guru.  Akan sulit bagi masyarakat untuk membayangkan seorang guru yang tidak dapat bertutur dan berlaku santun. Kesantunan adalah standar moral yang dituntut
masyarakat atas profesi guru. Guru yang santun bukan berarti guru yang harus bertutur dan bertindak lemah lembut yang dibuat-buat (artifisial). Bukan pula berarti guru yang harus selalu mengalah pada siswanya. Guru yang santun adalah guru yang selalu berusaha mengirimkan pesan kebaikan dengan cara yang baik dan penuh kelembutan hati. Kesungguhan hati untuk selalu menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik inilah yang menjadi daya pikat bagi para siswanya. Oleh karena itu, dalam kegiatan PPL PPG mahasiswa hendaknya dapat berlatih untuk membiasakan bertutur dan bertindak santun, baik saat berinteraksi dengan siswa maupun dengan kolega guru yang lain.

11. Berakhlak Baik
Sebagai teladan bagi siswanya seorang guru dituntut memiliki akhlak yang  baik. Akhlak secara etimologis memiliki makna budi pekerti atau perilaku. Jadi akhlak yang baik berarti perilaku yang terpuji. Guru yang berakhlak baik adalah guru yang berperilaku terpuji dan memiliki adab yang baik serta tidak melakukan tindakan yang buruk yang melanggar norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, hingga norma hukum. Akhlak baik seorang guru terlihat dari perilaku kesehariannya yang tidak menyimpang dari norma-norma tersebut. Bahkan guru dengan akhlak yang baik akan selalu menebarkan kebaikan dan mengajak lingkungannya untuk menjadi lebih baik. Tebaran dan ajakan kebaikan tersebut tidak saja muncul dalam perkataan sang guru, namun juga muncul dalam perilaku yang patut diteladani. Dalam keseharian, akhlak yang baik dapat dilihat dari cara guru menjalin keseimbangan hubungan dengan Sang Pencipta, dengan sesama manusia, dan dengan lingkungannya. Berbagai kebaikan yang terefleksikan dalam perilaku guru inilah yang berpotensi menarik perhatian dan mempesona siswa, sehingga para siswa berkeinginan mencontoh sang guru.  Salah satu hal yang penting ditekankan kepada mahasiswa PPL PPG adalah menampilkan akhlak yang baik di sekolah. Untuk itu Bapak/Ibu dosen/instruktur harus selalu mengingatkan mahasiswa PPL PPG agar berperilaku baik dan menjaga adab ketika berada di lingkungan sekolah. Langkah mendasar yang dapat dilakukan Bapak/Ibu dosen/instruktur yakni meminta mahasiswa PPL untuk mempelajari tata tertib dan norma lain yang ada di sekolah tersebut. Dengan berpedoman pada tata tertib dan aturan yang berlaku di sekolah, mahasisiwa PPL dapat menampilkan perilaku yang baik sesuai standar yang diinginkan sekolah tempat PPL. Dampak lanjutan dari kepatuhan tersebut adalah tampilnya perilaku yang baik dan dapat menjadi teladan bagi para siswa.

12. Arif dan Bijaksana
Arif dan bijaksana merupakan sikap yang selalu mengedepankan pertimbangan pemikiran untuk mengambil keputusan yang tepat sehingga mendatangkan kebaikan. Sikap ini penting untuk dikembangkan seorang guru agar segala keputusan yang diambil dapat berdampak baik. Dalam kegiatan mengajar maupun kegiatan di luar mengajar, seorang guru seringkali dihadapkan pada berbagai persoalan yang mengharuskan dirinya mengambil keputusan. Seorang guru yang arif dan bijaksana akan berhati-hati dalam mengambil setiap keputusan karena mempertimbangkan dampak dari keputusan tersebut. Dengan kebijaksanaan tersebut guru berusaha untuk menghadirkan dampak yang terbaik dari keputusannya.  Guru yang arif dan bijaksana akan memiliki daya tarik bagi siswanya, karena para siswa percaya bahwa setiap keputusan yang dibuat sang guru akan memberikan kebaikan dan memenuhi rasa keadilan. Siswa akan merasa nyaman bersama guru tersebut karena yakin hak mereka akan dihormati, dihargai, dan dilindungi. Kepercayaan ini akan membangun rasa tertarik dan kagum siswa terhadap gurunya. Sikap arif dan bijaksana yang ditampilkan guru adalah keteladanan yang baik untuk para siswa. Sebagai insan pembelajar siswa idealnya mendapatkan contoh menggunakan pertimbangan pemikiran dalam mengambil keputusan. Hal tersebut dapat dilatihkan pada diri siswa melalui aktivitas pengambilan keputusan yang partisipatif dan melibatkan keberagaman pandangan dari siswa. Melalui pelibatan siswa dalam berlatih mengambil keputusan bersama, para siswa akan merasa dihargai dan tumbuh daya tarik kepada sang guru.  Sikap arif dan bijaksana dalam diri seorang guru terbentuk melalui pembiasaan secara bertahap dan membutuhkan waktu yang panjang. Oleh karena itu, dalam kegiatan PPL PPG, sikap arif dan bijaksana tidak langsung dapat dibentuk dalam diri mahasisiwa. Diperlukan “jam terbang” di sekolah yang lebih panjang agar mahasiswa terbiasa mempertimbangkan berbagai hal untuk mengambil keputusan. Dosen/instruktur dapat memberikan motivasi dan selalu mengingatkan mahasiswa
agar mempertimbangkan berbagai variabel dan dampaknya pada saat akan mengambil keputusan. Artinya, pengembangan sikap arif dan bijaksana harus ditopang oleh keterampilan mahasiswa dalam berpikir prediktif dan kreatif.

13. Pribadi yang Mantap
Pembentukan guru yang memesona memiliki kaitan dengan kepribadian guru yang mantap. Pribadi yang mantap di sini memiliki arti bahwa keprofesian guru adalah benar-benar pilihan hidup baginya, yang didasarkan pada panggilan jiwa dan memiliki niatan tulus untuk mengabdikan diri untuk kemajuan pendidikan. Pribadi
yang mantab ini akan mendorong seorang guru menjalani profesinya dengan kesepenuh-hatian, dengan kesungguhan, sehingga merasa bertanggung jawab pada kualitas proses maupun hasil pendidikan yang dikelolanya.  Kesungguhan dan kesepenuhhatian guru akan mendorong dirinya menjalankan profesinya dengan penuh kebanggaan dan tanggung jawab. Ia tidak akan menjadikan profesi guru sebagai tugas sambilan atau merasa rendah diri dengan profesi tersebut. Kebanggan dan tanggung jawab tersebut diwujudkannya dalam bentuk memegang teguh prinsip-prinsip kebaikan dalam pembelajaran yang mendidik siswanya. Kebanggaan dan tanggung jawab inilah yang akhirnya membuat guru selalu berusaha menampilkan performa maksimal dalam mengajar karena ingin mencapai hasil terbaik. Usaha tersebut tentu saja berdampak pada kualitas pembelajaran yang selalu terjamin baik. Kualitas pembelajaran yang baik inilah yang akhirnya menjadikan guru tersebut selalu menarik dan mengagumkan di hadapan para siswanya.  Salah satu tujuan kegiatan PPL PPG adalah membentuk guru yang berpribadian mantap yang benar-benar meniatkan dirinya menjadi seorang pendidik dan memiliki kebanggan akan profesi tersebut. Tugas Dosen/instruktur adalah mendampingi dan memberikan motivasi kepada mahasiswa PPL PPG untuk semakin menguatkan niat menjadi guru sebagai sebuah panggilan jiwa. Motivasi dapat diberikan kepada mahasiswa dalam berbagai sesi kegiatan PPL, baik pada saat pra mengajar hingga saat refleksi setelah mengajar. Melalui motivasi tersebut mahasiswa diharapkan dapat sampai pada kesadaran diri bahwa menjadi guru adalah sebuah profesi mulia, yang mensyaratkan adanya niat yang tulus, serta berkonsekuensi pada tanggung jawab moral dan sosial. Dengan strategi pendampingan Bapak/Ibu dosen/instruktur yang tepat dan intensif diharapkan kemantaban diri mahasiswa untuk menjadi seorang guru dapat dirintis sejak dini.

14. Jujur
Guru yang menarik perhatian siswa salah satunya dibentuk oleh sifat dan  perilaku guru yang jujur. Jujur berarti miliki sifat yang lurus hati, tidak suka berbohong, dan berkata apa adanya. Siswa menyukai guru yang jujur karena dengan kejujuran tersebut siswa merasa mendapatkan jaminan bahwa segala informasi yang dikatakan oleh guru memiliki nilai kebenaran. Perilaku guru yang jujur juga terefleksikan dalam perilaku pada saat guru membuat janji selalu ditepatinya. Hal inilah yang membuat siswa senang karena tidak diberi harapan kosong oleh janji-janji guru. Misalnya saat proses pembelajaran berlangsung kadangkala guru menjanjikan reward atau hadiah dan sejenisnya. Bila hal tersebut ditepati ia tentu mendapat apresiasi dan perhatian dari siswanya. Namun bila guru mencederai janji reward tersebut, maka akan terbangun persepsi dalam diri siswa bahwa sang guru suka berbohong.

Berdasarkan kenyataan di atas, penting bagi seorang guru untuk membiasakan diri jujur dalam berinteraksi dengan berbagai pihak, khususnya dengan siswa. Siswa menganggap guru adalah sumber kebenaran, jadi jangan sampai informasi dan pengetahuan yang tidak terkonfirmasi kebenaranya disampaikan kepada siswa karena hal tersebut akan menyebabkan terjadinya salah konsep dan reproduksi kebohongan. Jika dalam suatu persitiwa pembelajran terdapat beberapa permasalahan atau pertanyaan siswa yang tidak dapat dipecahkan oleh guru, maka lebih baik guru jujur bahwa informasi tersebut belum diperoleh guru dan akan dijawab pada pertemuan berikutnya. Siswa akan merasa nyaman dan senang jika guru mengatakan sesuatu sesuai dengan situasi dan kondisi yang sebenarnya, terbuka, dan tidak menyimpan dusta.  Dalam membimbing mahasiswa PPL PPG agar menjadi pribadi guru yang jujur Dosen/instruktur dapat meminta mahasiswa untuk menyiapkan semua rujukan informasi yang digunakan dalam pembelajaran. Berbagai rujukan informasi tersebut idealnya dikaji kembali kebenaranya melalu perbandingan sumber sehingga diperoleh informasi yang valid untuk dijadikan materi pembelajaran. Strategi konfirmasi ini penting untuk memastikan bahwa informasi yang diterima siswa terjamin kebenarnnya dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, mahasiswa PPL juga diminta untuk konsekuen bila sudah menjanjikan sesuatu kepada siswa. Usahakan tidak membuat janji jika tidak mampu menepatinya.

15. Terampil Menggunakan Teknologi dalam Pembelajaran
Guru yang memesona berkaitan juga dengan kemampuan kreatifnya dalam memanfaatkan sumber belajar dan menggunakan media, sesuai dengan konteks lingkungannya. Guru dengan kesadaran lingkungan ini akan lebih menarik perhatian dan banyak dikenang oleh siswanya, karena menghadirkan dunia yang dekat dengan keseharian siswa. Oleh karena itu, dosen/instruktur pembimbing PPL harus lebih intensif mengajak mahasiswa memetakan elemen-elemen lingkungan yang dapat digunakan dan dimanfaatkan sebagai sumber maupun media belajar siswa.  Perkembangan teknologi informatika dan komputer (TIK) saat ini sudah menyentuh berbagai bidang kehidupan. Bahkan anak-anak Indonesia saat ini, terutama yang berada di wilayah perkotaan, lebih banyak menghabiskan waktunya
bersama gawai (gadget) berbentuk smartphone (telepon seluler pintar) yang merupakan perkembangan mutakhir dari TIK.

Berdasarkan kenyataan tersebut, proses pembelajaran di sekolah sebagai bagian dari kehidupan anak-anak akan dianggap membosankan dan tidak menarik bila tidak dapat menghadirkan media pembelajaran yang serupa dengan produk aplikasi dalam gadget tersebut.  Saat ini telah berkembang banyak produk media pembelajaran yang dapat mengaktivasi siswa untuk berinteraksi dengan perangkat TIK dalam proses belajar. Media pembelajaran ini menarik bagi siswa karena situasi dan kondisi belajarnya memiliki kemiripan dengan situasi dan kondisi bermain aplikasi dalam gawai. Teknologi media pembelajaran semacam ini disebut dengan multimedia interaktif. Oleh karena itu, untuk menjadi guru yang menarik saat ini diperlukan keterampilan dalam menguasai dan mengelola multimedia interaktif berbasis TIK tersebut.  Multimedia interaktif yang saat ini banyak digunakan dalam pembelajaran yaitu multimedia interaktif yang berbasis kecedasaan buatan (artificial intelligence/AI) dalam bentuk kenyataan semu (virtual reality/VR) dan kenyataan tiruan yang ditambahkan (augmented reality/AR). Media pembelajaran berbasis AR dan VR ini tidak semuanya berbayar, terdapat banyak media pembelajaran yang bersifat free (bebas biaya) bila digunakan untuk pembelajaran. Dengan melihat situasi di jaman sekarang, maka mahasiswa PPL PPG dapat disarankan untuk mengeksplorasi dunia daring (online) untuk dapat menemukan sumber-sumber penyedia media yang dapat digunakan dalam pembelajaran. Melalui penggunaan berbagai produk TIK maka pembelajaran menjadi lebih memiliki daya tarik bagi siswa sehingga mereka termotivasi untuk belajar.

Aktivitas Daring (online)
Sebagai penguatan penguasaan materi, Bapak/Ibu dosen/instruktur dapat melakukan aktivitas dalam jaringan salah satunya mengerjakan lembar (LK) kerja berikut ini untuk kemudian dikumpulkan sebagai bagian dari penugasan daring.

1. Lembar Kerja (LK) 3.1 Refleksi diri membangun pesona guru.  LK terlampir di akhir Kegiatan Belajar 3

Rangkuman

Kemampuan menarik perhatian siswa merupakan kompetensi penting dari seorang guru. Menjadi guru yang memesona tidak dapat dibentuk melalui proses yang instan, karena membutuhkan proses belajar yang panjang dan praktik intensif yang berkelanjutan dalam keprofesian guru. Berkaitan dengan hal tersebut, kemampuan ini dapat dipetakan menjadi beberapa aspek penampilan maupun kemampuan yang berpengaruh pada pembentukan guru yang memesona.

  1. Penampilan Diri: Sebagai seorang yang diteladani, akan sulit bagi guru untuk meminta siswanya menjaga kebersihan dan kerapian sementara dirinya  sendiri tidak memperlihatkan hal tersbut.
  2. Menguasai Materi Pembelajaran: Siswa menganggap guru lebih pandai dan lebih tahu dari orang tuanya. Oleh karena itu guru yang menguasai materi dengan baik dan dapat membimbing siswanya memecahkan berbagai masalah pembelajaran.
  3. Memahami Karakter Setiap Siswa: Guru yang mampu memahami karakteristik
    akan dianggap sebagai milik semua siswa karena dapat “melayani” keberagaman keinginan siswa dalam proses pembelajaran.
  4. Memfasilitasi Siswa Mengembangkan Diri: Kemauan guru untuk memfasilitasi
    siswanya mengembangkan diri.
  5. Terampil Berkomunikasi: Guru yang terampil memanfaatkan berbagai bentuk
    komunikasi dan melakukannya dengan gaya yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
  6. Mudah Bergaul: Guru yang mudah bergaul dengan berbagai kalangan akan banyak mudah dikenal oleh lingkungannya.
  7. Murah Hati: Guru yang memiliki sikap murah hati adalah guru yang penuh kasih sayang dan bersedia membantu siswanya yang sedang menghadapi permasalahan.
  8. Sabar: Guru yang sabar bermakna guru yang memiliki sifat tenang tidak mudah marah dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan berbagai tindakan.
  9. Simpatik: Berusaha untuk ikut merasakan apa yang dirasakan siswanya.
  10. Santun: kehalusan dan kebaikan mencakup dalam budi bahasa maupun tingkah  lakunya
  11. Berakhlak Baik: Berperilaku terpuji dan memiliki adab yang baik serta tidak
    melakukan tindakan yang buruk.
  12. Arif dan Bijaksana: Mengedepankan pertimbangan dan pemikiran untuk mengambil  keputusan yang tepat sehingga mendatangkan kebaikan
  13. Mantab: Kesungguhan guru dalam menjalankan profesinya dengan penuh
    kebanggaan dan tanggung jawab.
  14. Jujur: Menjamin bahwa segala informasi yang dikatakan oleh guru memiliki nilai kebenaran.
  15. Terampil dalam Menggunakan Teknologi dalam Pembelajaran: kemampuan
    kreatifnya dalam memanfaatkan sumber belajar dan menggunakan media, sesuai dengan konteks lingkungannya dan memenuhi kebutuhan sesuai perkembangan jaman.

Tes Formatif
Silahkan kerjakan soal di bawah ini untuk mengevaluasi diri apakah materi yang diuraikan dan dipelajari sudah dapat Bapak/Ibu kuasai. Pilihlah satu jawaban yang dianggap paling tepat dengan memberikan tanda lingkaran (O) pada opsi jawaban
yang dianggap benar.

1. Dalam pengembangan diri mahasiswa menjadi guru yang memesona, aspek  penampilan diri merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap pembentukan daya tarik dan pesona seorang guru. Aspek penampilan diri ditopang oleh unsur-unsur di bawah ini, yaitu…

a. Kekinian, kesopanan, kesamaptaan
b. Kerapihan, kekinian, kebersihan
c. Kesopanan, kekinian, kesamaptaan
d. Kebersihan, Kerapihan Kesopanan

2. Menjadi guru yang murah hati merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh  terhadap pembentukan daya tarik dan pesona seorang guru. Unsur perilaku yang kurang tepat berkaitan dengan dengan sifat murah hati seorang guru adalah….

a. Gemar menolong siswa yang sedang menghadapi permasalahan
b. Penuh kasih sayang sehingga bersedia membantu siswanya
c. Menggunakan tutur kata yang lebut dan mudah dipahami siswanya
d. Memiliki kepekaan dalam menangkap masalah di sekitarnya

3. Pribadi yang arif dan bijaksana merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh  terhadap pembentukan daya tarik dan pesona seorang guru. Sikap dan perilaku yang bukan merupakan pencerminan dari pribadi arif dan bijaksana guru adalah….

a. Mengedepankan pertimbangan pemikiran untuk mengambil keputusan
b. Penuh kasih sayang sehingga bersedia membantu siswanya
c. Segala keputusan yang diambil diusahakan dapat berdampak baik
d. Berhati-hati dalam mengambil setiap keputusan

4. Pribadi yang mantab merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap pembentukan daya tarik dan pesona seorang guru. Ekspresi perilaku yang bukan merupakan pencerminan dari pribadi guru yang mantab adalah….

a. Pribadi yang mantab meyakini bahwa keprofesian guru adalah benar-benar
pilihan hidup baginya
b. Memiliki niatan tulus untuk mengabdikan diri dalam rangka kemajuan
pendidikan
c. Merasa bertanggungjawab pada kualitas proses maupun hasil pendidikan          yang dikelolanya
d. Mengusahakan segala keputusan yang diambil dapat berdampak baik bagi         semua pihak

5. Pribadi yang sabar merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap pembentukan daya tarik dan pesona seorang guru. Guru yang sabar disukai dan dicintai siswanya karena….

a. Siswa dapat memberikan pendapat pada guru tanpa akut nilainya dikurangi
b. Siswa dapat mengekspresikan seluruh keinginannya kepada guru
c. Siswa merasa mendapatkan perlindungan dan rasa aman dari guru
d. Siswa merasa mendapatkan orang tua ke dua di sekolah untuk tempat bermanja

Refleksi

  1. Menurut Bapak/Ibu dosen/instruktur indikator pesona guru yang mana yang      paling sulit dikembangkan dalam diri mahasiswa PPL?
  2. Bagaimana pengembangan diri yang efektif bagi agar menjadi guru                  memesona?

ppg33

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

6 Responses to Menjadi Guru Mempesona

  1. Pingback: Refleksi – SDN 7 SUBAGAN

  2. Pingback: Peer Teaching – SDN 7 SUBAGAN

  3. Pingback: Evaluasi Pembelajaran – SDN 7 SUBAGAN

  4. Pingback: Merancang Langkah Pembelajaran – SDN 7 SUBAGAN

  5. Pingback: Laporan Diklat Dosen/Instruktur PPG| Hari II ~ 12 Mei 2020 Kelas 22 – SDN 7 SUBAGAN

  6. Pingback: Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Mengajar – SDN 7 SUBAGAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *