Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Non Mengajar

Penyegaran Calon Dosen/Instruktur PPG |Unit 2. Pembimbingan PPL

Fasilitator : Ahmad, PhD, dan Pamujo, M. Pd (Kemdikbud Dirjen GTK)

Daftar Isi Unit 2

  1. KB 1 Strategi Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Mengajar
  2. KB 2 Strategi Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Non Mengajar
  3. KB 3 Menjadi Guru Mempesona
  4. KB 4 Pengembangan Leadership Skill Guru Pemula
  5. KB 5 Manfaat Feedback Pembelajaran dari Siswa
  6. KB 6 Refleksi Pembelajaran di Kelas
  7. KB 7 Refleksi Pembelajaran Bersama
  8. KB 8 Menyusun Jurnal Refleksi Pembelajaran

KB 2. Membimbing Mahasiswa Praktik Keprofesionalan Non Mengajar

Selain kegiatan mengajar di kelas sebagai tugas pokok guru, di dalam kegiatan PPLmahasiswa PPG juga diminta untuk aktif dalam kegiatan keprofesionalan nonmengajar. Tujuan khusus dari kewajiban melaksanakan kegiatan praktik nonmengajar di sekolah adalah agar mahasiswa PPL PPG dapat mendalami, berpartisipasi, dan/atau mempraktikkan kegiatan-kegiatan nonmengajar. Kegiatan praktik nonmengajar tersebut di antaranya: mengerjakan administrasi sekolah, membiasakan diri dalam kultur sekolah, membina ekstrakurikuler, menghadiri rapat-rapat manajemen sekolah, serta melaksanakan layanan bimbingan dan konseling bagi siswa.

Baca Juga

  1. Strategi Penyusunan Kisi-Kisi Instrumen
  2. Strategi Refleksi Pembelajaran
  3. Manfaat Feedback Pembelajaran dari Siswa
  4. Pengembangan Leadership Skill Guru Pemula
  5. Menjadi Guru Mempesona
  6. Penyusunan Perangkat Pembelajaran Berbasis TPACK
  7. Strategi Perencanaan Refleksi
  8. Peer Teaching
  9. Konsep Evaluasi Pembelajaran
  10. Mengembangkan Bahan Ajar
  11. Merancang Langkah Pembelajaran
  12. Mengembangkan Indikator dan Tujuan Pembelajaran
  13. Praktik Keprofessionalan Mengajar
  14. Praktik Keprofessionalan Non Mengajar
  15. Platform LMS Moodle & Big Blue Button

Berbagai kegiatan nonmengajar tersebut penting dilatihkan dan dibiasakaan kepada mahasiswa PPL PPG dengan pertimbangan bahwa kelak pada saat mereka menjadi guru sesungguhnya tugas mereka di sekolah tidak hanya mengajar. Selain itu, dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengelola kegiatan nonmengajar, mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan diri (softskill) secara lebih fleksibel seperti kemampuan kepemimpinan, kemampuan kerjasama, kemampuan komunikasi, dan kemampuan lainnya. Kegiatan nonmengajar juga dapat memberikan kesempatan kepada mahasiswa PPL untuk menjalin hubungan lebih intensif dengan civitas akademik sekolah seperti dengan siswa, guru, staff sekolah, dan kepala sekolah.

Dalam pelaksanakan kegiatan praktik nonmengajar tersebut, Bapak/Ibu dosen/instruktur diharapakan dapat aktif melakukan pembimbingan kepada mahasiswa. Pada saat proses pembimbingan, dosen/instruktur dapat memberikan fasilitasi kepada mahasiswa berupa ruang dan waktu untuk berdiskusi mengenai perencanaan kegiatan yang akan dilakukan, memantau perkembangan kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa, dan memberikan motivasi pada saat mahasiswa melaksanakan berbagai kegiatan tersebut. Hal penting dari proses pembimbingan kegiatan nonmengajar yaitu adanya kerja sama dan komunikasi antara dosen/instruktur, kepala sekolah dan guru pamong. Kerja sama dan komunikasi penting agar ketiga elemen ini dapat saling memastikan bahwa mahasiswa melaksanakan kegiatan nonmengajar dan dapat memantau perkembangan kegiatan yang dilakukan mahasiswa PPL.

Eksplore Lebih Lanjut

  1. Unit 1 tentang Penyusunan Perangkat Pembelajaran
  2. Unit 2 tentang Pembimbingan PPL
  3. Unit 3 tentang Pembimbingan Penilaian Pembelajaran
  4. Unit 4 tentang Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan

Capain Pembelajaran yang diharapkan pada Kegiatan Belajar 2 ini :

  1. Memahami kegiatan nonmengajar mahasiswa PPL PPG di sekolah.
  2. Menganalisis kegiatan nonmengajar mahasiswa PPL PPG di sekolah.
  3. Menyusun strategi pembimbingan kegiatan nonmengajar mahasiswa PPL PPG.

Materi

Kegiatan Nonmengajar di Sekolah

Kegiatan nonmengajar yang dapat dilakukan mahasiswa PPL PPG melekat dalam keseluruhan kegiatan penyelenggaraan sekolah. Oleh karena itu, mahasiswa PPL diharapkan untuk dapat aktif berkoordinasi dengan guru pamong dan kepala sekolah mengenai kegiatan non-mengajar yang dapat dikerjakan oleh mahasiswa.
Untuk menyegarkan kembali wawasan mengenai kegiatan non-mengajar di sekolah, berikut ini diuraikan kegiatan-kegiatan tersebut dengan tujuan Bapak/Ibu
Dosen/Instruktur dapat mengembangkan strategi pembimbingan dan pemantauan pada saat mahasiswa melaksanakannya.

1. Mengerjakan Administrasi Sekolah

Di satuan pendidikan seperti sekolah menengah pertama maupun sekolah menengah biasanya sudah ada petugas khusus yang mengerjakan administrasi sekolah. Namun di lingkup satuan pendidikan sekolah dasar (SD) tidak semua sekolah memiliki staff yang khusus bertugas mengerjakan administrasi sekolah. Oleh karena itu dalam kegiatan PPL mahasiswa PPG, utamanya di SD, mahasiswa PPL dapat membantu menyiapkan dan membuat berbagai berkas yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah.

Berkas penting yang berkaitan dengan administrasi pendidikan di sekolah adalah program tahunan (prota) dan program semester (prosem). Prota adalah rencana pelaksanakan pembelajaran yang ditetapkan dalam alokasi waktu satu tahun untuk mencapai tujuan dari kompetensi dasar yang sudah ditetapkan. Penetapan alokasi waktu diperlukan untuk merancang dan memastikan bahwa semua kompetensi dasar dapat dikuasai siswa dalam waktu satu tahun. Prota harus disiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahun pelajaran dimulai, karena prota merupakan pedoman bagi guru untuk mengembangkan program-program
turunannya yaitu Program Semester (prosem), Silabus, dan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran.

Dalam menyusun Prota untuk tingkat sekolah dasar kegiatan yang dapat dilakukan antara lain:

  • Mengidentifikasi jumlah tema dan subtema pada suatu tingkat kelas;
  • Menghitung jumlah Minggu Belajar Efektif (MBE) dalam satu tahun;
  • Membagi alokasi waktu minggu belajar efektif (MBE) ke dalam subtema. Penyusunan program tahunan (prota) berisi komponen yaitu: Identitas yang mencakup tingkat kelas, muatan pembelajaran dan tahun pelajaran; dan formulir isian yang terdiri dari tema, subtema, dan alokasi waktu.

Turunan dari prota adalah Prosem yang merupakan perancangan program pembelajaran dalam satu semester. Untuk menyusun prosem dapat dilakukan langkah-langkah antara lain:

  • Mengkaji kalender pendidikan dan ciri khas satuan pendidikan berdasarkan kebutuhan tingkat kelas dalam satuan pendidikan;
  • Mengidentifikasi hari-hari libur, permulaan tahun pelajaran, minggu pembelajaran efektif, dan waktu pembelajaran efektif (untuk setiap minggu). Hari-hari libur yang dimaksud mencakup: Jeda tengah semester, jeda antarsemester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus;
  • Menentukan jumlah Hari Belajar Efektif (HBE) dan Jam Belajar Efektif (JBE) untuk setiap bulan dan untuk setiap semester dalam satu tahun;
  • Membagikan alokasi waktu yang tersedia untuk suatu subtema dan mempertimbangkan waktu untuk ulangan serta review materi.

Prosem berisikan garis besar mengenai tindakan yang hendak dilaksanakan dan tujuan yang akan dicapai dalam semester. Pada umumnya prosem terdiri dari:

  • Identitas yang mencakup nama satuan pendidikan, nama mata pelajaran, kelas/semester, tahun pelajaran;
  • Formulir isian yang terdiri dari tema, sub tema, urutan pembelajran, alokasi waktu, dan bulan yang terinci untuk setiap minggu, serta keterangan mengenai kapan pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan. Teknik pengisian prosem sama dengan prota. Beberapa komponen yang telah ada di dalam prota dapat dipindahkan ke prosem seperti tema dan subtema.

Selain menyusun prota dan prosem, mahasiswa PPL PPG juga dapat mengerjakan administrasi sekolah dengan kegiatan membantu menyusun database yang diperlukan sekolah seperti data siswa, data latar belakang sosial siswa, data barang inventaris, data buku peralatan, sarana dan prasarana, serta data lain yang
sebenarnya diperlukan sekolah namun belum terdata dengan rapi. Mahasiswa PPL PPG juga dapat melakukan kegiatan administrasi sekolah dengan membantu menyusun berbagai laporan pendidikan. Laporan tersebut misalnya dapat berupa
laporan pembangunan di sekolah dan laporan pelaksanaan program pembelajaran. Dengan terbiasa membantu melaksanakan kegiatan administrasi sekolah ini mahasiswa PPL PPG dapat belajar mengenai bagaimana sekolah dikelola dan bagaimana wujud pertanggungjawaban pengelolaan tersebut dalam bentuk laporan.

2. Beradaptasi dalam Kultur Sekolah
Setiap satuan pendidikan memiliki kebiasaan dan budaya yang khas dalam pengelolaannya, yang dapat berbeda antara satu dengan lainnya. Kebiasaan dan budaya yang khas tersebut dibentuk oleh banyak faktor, salah satunya faktor lingkungan sosial daerah setempat. Namun demikian, dari berbagai perbedaan tersebut, pengelolaan satuan pendidikan dimanapun memiliki tujuan yang sama yaitu melaksanakan program pendidikan yang efektif dan efisien. Dengan kondisi kultur sekolah yang beragam maka dalam kegiatan PPL PPG mahasiswa diharapkan dapat berlatih beradaptasi dengan ragam budaya sekolah tersebut. Proses pembudayaan (enkulturasi) mahasiswa dapat memulai dengan mengenal struktur dan organisasi di sekolah tersebut. Pada struktur dan organisasi sekolah ini dapat dikenali kedudukan dan peran warga sekolah, utamanya kedudukan para guru dan staf dalam relasinya dengan kepala sekolah sebagai pemimpin di satuan pendidikan tersebut. Dari proses memahami organisasi sekolah inilah nantinya mahasiswa PPL dapat mengembangkan pola interaksi dan komunikasi yang tepat sehingga hubungan sosial di sekolah dapat terbangun lebih cepat dan harmonis.

Selain beradaptasi dengan pola interaksi antar warga sekolah, mahasisiwa PPL PPG juga harus mampu beradaptasi dengan budaya dan kebiasaan pengelolaan sekolah. Kemampuan adaptasi pada budaya positif yang dikembangkan di sekolah akan berdampak pada pengembangan positif sikap dan kepribadian mahasiswa. Kedisiplinan merupakan salah satu kebiasaan universal yang ada di sekolah. Pengelolaan sekolah yang dibatasi oleh durasi pembelajaran berkonsekuensi pada pemanfaatan waktu yang harus efektif dan efisien. Oleh karena itu budaya menghargai waktu harus dibiasakan dalam diri mahasiswa PPL. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan hadir tepat waktu dalam berbagai kegiatan baik mengajar maupun non mengajar, dan menyelesaikan berbagai tugas sesuai rencana.

Selain kedisiplinan, pembudayaan penting lain dalam kegiatan mengelola sekolah adalah budaya tanggung jawab. Guru merupakan orang tua dari para siswa ketika berada di sekolah. Dengan demikian, dalam keseharian pengelolaan sekolah mahasiswa PPL PPG harus mengembangkan budaya bertanggung jawab. Pengembangan tersebut dapat dilakukan dengan berusaha menyelesaikan berbagai tugas yang diberikan oleh guru pamong maupun kepala sekolah. Penyelesaian tugas yang bertanggung jawab ini tentunya penyelesaian yang berorientasi pada kualitas, dan bukan asal menyelesaikan saja.

Pada saat mahasiswa memulai PPL di sekolah, harus diberikan wawasan dan pemahaman untuk menganggap sekolah tersebut seolah-olah sebagai tempat mengabdi menjadi guru yang sesesungguhnya. Dengan kesadaran tersebut, mahasiswa PPL diminta belajar berperan sebagai guru, sebagaimana para guru di
sekolah tersebut menampilkan sosoknya di depan siswa dalam aktivitas keseharian. Dalam kaitan dengan hal tersebut maka mahasiswa harus berusaha menyesuaikan diri dengan budaya berpenampilan di sekolah misalnya dalam hal berbusana, bertindak, dan bertutur kata. Selain itu, mahasiswa PPL harus melaksanakan berbagai ketentuan dan norma yang diberlakukan di sekolah yang umumnya diwujudkan dalam tata tertib sekolah.

3. Ekstrakurikuler
Kegiatan nonmengajar lain yang menjadi tugas mahasisiwa PPL PPG adalah membina kegiatan ekstrakurikuler. Aktivitas mahasisiwa PPL PPG dalam membina berbagai kegiatan ekstrakurikuler ini dapat menjadi wahana mengembangkan kompetensi sosial dan kepribadian. Kegiatan ekstrakurikuler pada umumnya dilakukan di lingkungan sekolah dengan waktu pelaksanaan di luar jam pembelajaran. Terdapat banyak kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang
dikelompokkan dalam unit-unit kegiatan sekolah. Untuk jenjang pendidikan sekolah dasar (SD) kegiatan ekstrakurikuler yang umumnya ada yaitu kegiatan Pramuka, kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), kegiatan olah raga, kegiatan seni, dan kegiatan cinta lingkungan sekolah.

a. Membina Kegiatan Pramuka

Membina pramuka di sekolah merupakan kegiatan yang dapat membentuk kepribadian, kecakapan hidup (softskill), dan akhlak mulia mahasiswa PPL karena di dalamnya berlangsung proses penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kepramukaan. Di jenjang pendidikan SD, keanggotaan pramuka siswa berada dalam rentang kelompok yang disebut dengan Siaga (usia 7 sd 10 tahun) dan Penggalang (11 sd 15 tahun). Dengan demikian mahasiswa PPL PPG untuk calon guru SD akan membina kegiatan pramuka untuk kelompok Siaga dan Penggalang. Kegiatan yang dapat dilakukan mahasiswa dalam membina Pramuka antara yaitu: (1) Membentuk gugus depan baru atau membina gugus depan yang sudah ada di sekolah; (2) Membina Pramuka mahir di sekolah sehingga dapat mengemban sistem nilai gerakan pramuka; (3) mengikuti atau menyelenggarakan kegiatan perkemahan di sekolah atau di wilayah lingkungan sekolah.  Kegiatan membina pramuka yang dilakukan mahasiswa PPL berada dalam pengawasan pembina pramuka sekolah. Oleh karena itu dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan kegiatan, dosen/instruktur dapat meminta mahasiswa PPL untuk selalu berkonsultasi dan berkoordinasi dengan pembina pramuka di sekolah. Perencanaan dan pelaksanaan kegiatan juga harus diberitahukan kepada kepala sekolah sebagai pemegang otoritas tertinggi di sekolah. Jangan sampai kegiatan yang dilakukan tidak diketahui oleh pimpinan sekolah maupun pembina pramuka sekolah.

Hal penting yang harus dilakukan mahasisiwa PPL PPG pada saat melaksanakan kegiatan membina pramuka adalah menyiapkan pemetaan dan manajemen risiko kegiatan. Pada beberapa kenyataan, kegiatan yang melibatkan aktivitas interaktif kelompok siswa dengan menggunakan lokasi di luar ruangan (outdoor) memiliki potensi risiko atau tingkat ancaman bahaya bagi pesertanya. Mempertimbangkan kenyataan tersebut maka manajemen resiko menjadi penting agar potensi risiko bahaya dalam kegiatan dapat dihindari sejak awal. Perencanaan kegiatan dan manajemen risiko kegiatan idealnya juga harus dikonsultasikan kepada dosen/instruktur pembimbing PPL, kepala sekolah, guru pamong, dan pembina pramuka di sekolah.

Pemantauan kegiatan mahasiswa PPL membina Pramuka dilakukan dosen/instruktur dengan cara meminta draft perencanaan kegiatan sebelum
pelaksanaan dan laporan kegiatan setelah pelaksanaan berakhir. Pihak yang
berwenang memberikan penilaian kegiatan membina pramuka yaitu pembina pramuka sekolah dan dosen/instruktur. Penilaian pada kegiatan ini difokuskan pada kompetensi mahasiswa dalam membina gugus depan sekolah, kompetensi dalam melaksanakan kegiatan perkemahan, dan kualitas laporan akhir kegiatan.

b. Membina Kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)

Kegiatan nonmengajar lain yang dapat dilakukan mahasiswa PPL PPG adalah mengelola Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). UKS merupakan upaya membina dan mengembangkan kebiasaan hidup sehat secara terpadu melalui program pendidikan dan pelayanan kesehatan di sekolah, dalam rangka pembinaan dan pemeliharaan kesehatan di lingkungan sekolah. UKS termasuk ke dalam usaha kesehatan masyarakat yang dijalankan di sekolah-sekolah dengan sasaran utama para siswa beserta lingkungan hidupnya. UKS dalam praktiknya merupakan kegiatan sekaligus ruang untuk meningkatkan kemauan dan kemampuan hidup sehat, membentuk perilaku hidup sehat, serta menghasilkan kondisi kesehatan yang optimal. Di bawah ini disarikan penjelasan mengenai UKS, untuk pembahasan lengkapnya dapat dirujuk pada sumber daring (online) dengan alamat link: https://www.padamu.net/usahakesehatan-sekolah-uks.’

Dalam kegiatan operasionalnya, UKS sesungguhnya merupakan bagian dari usaha kesehatan pokok yang menjadi tanggung jawab puskesmas, yang ditujukan untuk siswa sekolah beserta lingkungan hidupnya, dengan tujuan mencapai kondisi kesehatan kesehatan siswa yang terjamin sehingga prestasi belajar anak dapat diraih. Dalam sejarahnya, UKS mulai dirintis tahun 1956 melalui program percontohan di Jakarta dan Bekasi, sebagai bentuk kerja sama lintas kementrian antara Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, serta Departemen Dalam Negeri. Pada tahun 1980, kerjasama tersebut ditingkatkan menjadi Keputusan Bersama antara Depdikbud dan Depkes tentang kelompok kerja UKS. Dasar kebijakan pelaksanaan UKS yaitu Undang-Undang Nomor 4 tahun 1979 tentang Pembinaan Anak Sekolah. Pola pembinaan UKS dalam pembinaan kesehatan anak, dibagi menjadi 2 (dua) kelompok yaitu: (1) Pembinaan bayi, balita dan anak pra sekolah (umur 0 – 6 tahun), dan (2) Pembinaan kesehatan anak usia sekolah (umur 7 – 21 tahun), yang dibagi lagi menjadi 3 kelompok usia yaitu: (a) Pra remaja (umur 7 – 12 tahun); (b) Remaja (13 — 21 tahun); dan (c) Dewasa muda (19 – 21 tahun). Dengan demikian pola pembinaan UKS didasarkan pada kebutuhan dan permasalahan kesehatan sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan anak.

Kegiatan UKS penting diselenggarakan di sekolah dengan berdasarkan pada pertimbangan antara lain:

    • Anak usia sekolah merupakan kelompok umur yang rawan terhadap masalah kesehatan;
    • Usia sekolah sangat peka untuk menanamkan pengertian dan kebiasaan  hidup sehat;
    • Sekolah merupakan institusi masyarakat yang terorganisasi dengan baik;
    • Keadaan kesehatan anak sekolah akan sangat berpengaruh terhadap prestasi  belajar yang  apai;
    • Anak sekolah merupakan kelompok terbesar dari kelompok usia anak-nak  yang menerapkan wajib belajar;
    • Pendidikan kesehatan melalui anak-anak sekolah sangat efektif untuk merubah perilaku dan kebisaan hidup sehat umumnya.

Tujuan UKS diselenggarakan di sekolah yaitu untuk memupuk kebiasaan hidup sehat dan meningkatkan derajat kesehatan peserta didik yang mencakup:

    • Menurunkan angka kesakitan anak sekolah;
    • Meningkatkan kesehatan peserta didik baik fisik, mental maupun sosial;
    • Agar peserta didik memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk melaksanakan prinsip-prinsip hidup sehat serta berpartisipasi aktif dalam usaha peningkatan kesehatan di sekolah;
    • Meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan terhadap anak sekolah;
    • Meningkatkan daya tangkal dan daya hayat terhadap pengaruh buruk narkotika, rokok, alkohol dan obat berbahaya lainnya.

c. Membina Kegiatan Pengembangan Minat dan Bakat Siswa
Kegiatan pengembangan minat dan bakat siswa di sekolah, pada umumnya terdiri dari kegiatan di bidang seni dan olah raga. Dalam kegiatan dibidang seni, ada beberapa sekolah yang memiliki sanggar seni sekolah yang dikelola oleh guru khusus dan mendatangkan pelatih seni khusus. Sanggar sekolah tersebut intensif mengembangkan minat dan bakat seni siswa, misalnya tari, seni musik, dan seni rupa. Namun demikian, ada juga sekolah yang karena berbagai keterbatasan akhirnya tidak menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler di bidang seni. Banyak faktor yang menyebabkannya, salah satunya karena pelatih seni tidak mudah dihadirkan.

Mahasiswa PPL PPG dapat mengambil peran dalam pembimbingan minat dan bakat siswa. Dalam kegiatan seni yang sudah ada sanggar dan pelatihnya, maka mahasiswa dapat ikut terlibat menjadi asisten pelatih. Dengan melibatkan diri dalam proses latihan, mahasiswa akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus yaitu: (1) dapat menyerap keterampilan seni maupun strategi melatih sehingga dapat memperkaya khasanah metode mengajar, dan (2) dapat ikut mengekspresikan perasaan estetik bersama siswa. Selain menjadi asisten, mahasiswa PPL PPG juga dapat berperan sebagai event organizer yang mengorganisasikan kegiatan pementasan seni di sekolah.  Dalam kodisi di mana sekolah belum memiliki sanggar atau kegiatan seni, mahasiswa dapat merintis keberadaan sanggar tersebut. Jika mahasiswa PPL PPG merasa memiliki bakat dan mampu melatih salah satu bidang seni, mahasiswa dapat menjadi pelatih sekaligus event organizer. Namun jika memang tidak memiliki kemampuan di bidang seni, mahasiswa PPL PPG dapat memberikan masukan kepada kepala sekolah untuk merintis pengembangan minat dan bakat seni dalam bentuk rancangan program pembentukan sanggar. Sebagaimana di dalam bidang minat dan bakat seni, mahasisiwa PPL PPG juga dapat mengambil peran dalam kegiatan pengembangan minat dan bakat siswa di bidang olahraga. Untuk jenjang sekolah dasar, pengembangan minat dan bakat olahraga misalnya pada cabang olah raga seperti sepak bola (futsal), badminton, tenis meja, renang, dan catur. Berkembangnya minat dan bakat untuk beberapa cabang olah raga tersebut karena hingga saat ini sarana dan prasarana untuk cabang olah raga tersebut lebih banyak tersedia dan lebih mudah diakses. Selain itu, cabang olah raga tersebut dapat dilakukan oleh siswa usia anak-anak dan biasanya menjadi cabang olah raga yang dipertandingkan dalam pekan olah raga dan seni (porseni) siswa sekolah dasar.

Mahasiswa PPL PPG dapat berperan sebagai pembina atau pelatih jika memang memiliki keterampilan dalam salah satu cabang olah raga. Mahasiswa dapat berkonsultasi dengan guru olah raga untuk dapat berpartisipasi aktif dalam pembinaan minat dan bakat olah raga di sekolah. Dalam kondisi tertentu, jika memang mahasiswa PPL PPG memiliki waktu luang dalam jeda kalender pendidikan, dapat merintis penyelenggaraan berbagai lomba olah raga di sekolah.
Dalam setiap kegiatan pembimbingan minat dan bakat di sekolah, mahasisiwa PPL PPG diminta untuk selalu berkonsultasi dengan dosen/instruktur. Konsultasi berkaitan dengan aspek perencanaan kegiatan dan analisis dampak kegiatan. Kedua hal tersebut perlu didiskusikan agar dalam pelaksanaannya tidak menimbulkan akibat negatif baik bagi mahasiswa PPL maupun bagi siswa dan sekolah. Dengan komunikasi yang intensif pada saat konsultasi program, berbagai kegiatan pembimbingan minat dan bakat diharapkan dapat terlaksana tanpa mengganggu jadwal dan kegiatan lain dalam PPL.

d. Mengikuti Rapat Manajemen Sekolah
Dalam kegiatan PPL, mahasiswa sudah dianggap sebagai bagaian dari sivitas akademik sekolah. Dengan demikian mahasiswa dapat diundang untuk hadir pada beberapa kesempatan rapat pengelolaan sekolah yang dilaksanakan oleh kepala sekolah bersama dewan guru. Kegiatan rapat tersebut merupakan momen penting bagi mahasiswa PPL untuk mempelajari berbagai hal yang terkait dengan pengelolaan sekolah. Oleh karena itu, mahasiswa PPL diharapkan dapat berperan aktif pada saat menghadiri rapat manajemen sekolah tersebut. Peran aktif yang dapat dilakukan mahasiswa pada pelaksanaan rapat manajemen sekolah yaitu membantu penyiapan pelaksanaan rapat. Mahasiswa misalnya dapat berkonsultasi dengan kepala sekolah mengenai berbagai berkas yang mungkin bisa dibantu untuk disiapkan oleh mahasiswa sebagai bahan rapat seperti tayangan slide (powerpoint), handout dan sebagainya. Pada saat rapat berlangsung mahasiswa dapat berperan aktif menjadi notulen yang mencatat berbagai pendapat dan membuat rumusan hasil akhri dari rapat tersebut.  Manfaat penting yang diperoleh mahasiswa dengan mengikuti rapat manajemen sekolah antara lain:

  • pemahaman mengenai situasi sekolah dan masalah yang dihadapi sekolah;
  • pemahaman mengenai pola dan proses interaksi antara guru dan kepala sekolah pada saat diskusi memecahkan masalah; dan
  • pemahaman mengenai pentingnya kerjasama tim untuk memecahkan masalah bersama.

e. Bimbingan dan Konseling Siswa
Di dalam Undang-Undang No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dinyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Di dalam pernyataan tersebut terdapat salah satu tugas utama guru yaitu membimbing peserta didik dari jenjang pendidikan usia dini hingga pendidikan menengah. Artinya, guru pada jenjang pendidikan dasar seperti sekolah dasar (SD) juga memiliki tugas membimbing siswanya.  Kegiatan pembimbingan yang dilakukan guru tersebut secara spesifik dijelaskan lagi dalam pasal 13 Permen PAN-RB No.16 Tahun 2009 ditetapkan rincian kegiatan Guru Kelas SD sebanyak 15 butir. Pada butir (i) terumuskan pernyataan bahwa guru kelas bertugas melaksanakan bimbingan dan konseling di kelas yang menjadi tanggung jawabnya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pelaksana program Bimbingan dan Konseling (BK) di SD menjadi tugas guru kelas. Namun ketentuan tersebut telah mengalami perubahan dengan adanya ketentuan hukum terbaru tentang penyelenggara layanan BK di SD yaitu pada Permendikbud no.111 tahun 2014 yang menyatakan bahwa penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling pada jenjang SD/MI atau yang sederajat dilakukan oleh Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling.

Dengan terbitnya Permendikbud No.111/2014 tersebut maka saat ini guru kelas SD tidak lagi berwenang melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Konseling karena hal tersebut menjadi kewenangan guru BK. Kegiatan bimbingan yang dapat dilakukan guru kelas SD yaitu sebatas pada mengidentifikasi dan mendeteksi kesulitan belajar siswa yang disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Selanjutnya hasil dari identifikasi tersebut diserahkan kepada kepala sekolah untuk selanjutnya kepala sekolah memprogramkan bimbingan dan konseling dengan mendatangkan konselor atau guru BK dalam rangka memberikan layanan dan konseling kepada siswa.

Pemantauan Kegiatan Nonmengajar
Strategi pembimbingan yang dapat dilakukan oleh dosen/instruktur pembimbing PPL untuk memberikan bimbingan praktik nonmengajar adalah dengan meminta mahasiswa membuat perencanaan mengenai kegiatan yang akan dilakukan. Rencana tersebut dikonsultasikan mahasiswa kepada dosen/instruktur. Setelah pelaksanaan kegiatan, mahasiswa membuat jurnal kegiatan nonmengajar yang telah dilaksanakan. Jurnal nantinya dapat disusun dalam bentuk laporan ringkas yang menginformasikan nama kegiatan, tanggal dan tempat kegiatan, jumlah peserta, proses kegiatan, hasil kegiatan dan refleksi kegiatan.  Dengan tujuan mendapatkan gambaran yang komprehensip mengenai kegiatan nonmengajar mahasiswa PPL PPG ini, maka dosen/instruktur dapat menguji silang antara laporan mahasiswa dengan keterangan dari guru pamong atau kepala sekolah pada saat kunjungan. Seandainya laporan mahasiswa dan keterangan dari pihak sekolah bersesuaian, maka tindak lanjut yang dilakukan dosen/instruktur dapat berupa pemberian motivasi untuk mengerjakan kegiatan nonmengajar lainnya. Namun sekiranya tidak ada persesuaian antara laporan mahasiswa dan informasi dari pihak sekolah, maka dosen/instruktur dapat bertemu dengan mahasiswa untuk mendiskusikan persoalan dan kendala.

Aktivitas Daring (online)
Sebagai penguatan penguasaan materi, Bapak/Ibu dosen/instruktur dapat melakukan aktivitas dalam jaringan salah satunya mengerjakan lembar (LK) kerja berikut ini untuk kemudian dikumpulkan sebagai bagian dari penugasan daring.

  1. LK.2.1 Matrik Pemetaan Kegiatan nonmengajar Mahasiswa PPL.
  2. LK.2.2 Matrik Pemantauan Kegiatan nonmengajar Mahasiswa PPL
    LK terlampir di akhir Kegiatan Belajar 2

Rangkuman
Kegiatan nonmengajar dalam kegiatan PPL PPG merupakan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan untuk membina kompetensi kepribadian dan sosial mahasiswa agar kelak pada saat mereka menjadi guru sesungguhnya tugas mereka di sekolah mahasiswa sudah terbiasa melakukannya. Kegiatan nonmengajar tersebut antara lain:

  1. Mengerjakan Administrasi Sekolah: pada satuan pendidikan sekolah dasar (SD) tidak semua sekolah memiliki staff yang khusus bertugas mengerjakan administrasi sekolah. Semua administrasi mulai dari administrasi kelas, pengelolaan data pokok pendidikan (DAPODIK), data beasiswa, data sekolah dan data sarana prasarana sekolah.
  2. Beradaptasi Dengan Kultur Sekolah: menganggap sekolah tersebut seolah-olah sebagai tempat mengabdi menjadi guru yang sesesungguhnya dan berusaha menyesuaikan diri dengan budaya sekitar.
  3. Ekstrakurikuler: melaksanakan kegiatan di luar jam pelajaran seperti Pramuka, UKS, dan pengembangan minat bakat siswa.
  4. Mengikuti Rapat Manajemen Sekolah: menghadiri beberapa kesempatan rapat pengelolaan sekolah yang dilaksanakan oleh Kepala Sekolah bersama dewan guru.
  5. Bimbingan dan Konseling Siswa: mengidentifikasi dan mendeteksi kesulitan
    belajar siswa yang disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal.

Tes Formatif
Silakan kerjakan soal di bawah ini untuk mengevaluasi diri apakah materi yang diuraikan dan dipelajari sudah dapat Bapak/Ibu kuasai. Pilihlah satu jawaban yang Bapak/Ibu anggap paling tepat dengan memberikan tanda lingkaran (O) pada opsi jawaban yang anggap benar.

1. Dalam kegiatan PPL mahasiswa diminta melaksanakan kegiatan nonmengajar, salah satunya membantu menyusun administrasi sekolah dalam bentuk program semeseter (prosem). Di bawah ini aspek yang tidak memiliki kesesuaian dengan prosem adalah…

a. Prosem mencakup kalender pendidikan dan ciri khas satuan pendidikan
berdasarkan kebutuhan tingkat kelas dalam satuan pendidikan
b. Prosem memuat minggu pembelajaran efektif, dan waktu pembelajaran              efektif (untuk setiap minggu)
c. Prosem merupakan dasar menyusun prota (program tahunan)
d. Prosem berisi alokasi waktu yang tersedia untuk suatu subtema

2. Dalam kegiatan PPL mahasiswa diminta melaksanakan kegiatan nonmengajar, salah satunya membantu menyusun administrasi sekolah dalam bentuk program tahunan (prota). Di bawah ini aspek yang tidak memiliki kesesuaian dengan prota adalah…

a. Prota mencakup jumlah tema dan subtema pada suatu tingkat kelas
b. Prota memuat jumlah minggu belajar efektif dalam setahun
c. Prota berisi identitas tingkat kelas, muatan pembelajaran, dan tahun                    pelajaran
d. Prota diturunkan dari program semester (prosem)

3. Kegiatan membimbing pramuka di sekolah adalah kegiatan nonmengajar yang penting dalam rangkaian kegiatan PPL. Kelemahan penggunaan foto saja dalam pemantauan pengelolaan kegiatan pramuka mahasiswa PPL adalah

a. Dalam beberapa segi foto tidak dapat menjelaskan rincian aktivitas
b. Foto lebih banyak digunakan dalam aktivitas media sosial mahasiswa
c. Dalam kaitan dengan pramuka foto-foto yang dibuat cenderung subjektif
d. Untuk memproduksi foto diperlukan peralatan yang tidak murah

4. Kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) untuk jenjang SD salah satunya  diprioritaskan pada Kelas I, hal tersebut didasari pertimbangan logis yaitu….

a. Siswa kelas I kemungkinan kontak dengan berbagai penyebab penyakit lebih  besar  karena ketidaktahuan dan ketidak  mengertian tentangkesehatan.
b. Kelas I tidak mendapatkan kaegiatan ekstra Pramuka di SD oleh karena itu  kegiatan utamanya adalah UKS
c. Kelas I merupakan kelas paling rendah di SD yang memerlukan kasih sayang yang lebih dibanding dengan kelas di atasnya
d. Kelas I merupakan fase lanjutan bagi anak untuk mengembangkan diri pada jenjang pendidikan selanjutnya.

5. Dengan turut serta mengelola kegiatan pengembangan minat dan bakat olah raga di sekolah mahasiswa PPL dapat memetik manfaat atau keuntungan sebagai bagian dari kegiatan nonmengajar yaitu….

a. Mahasiswa dapat mengadopsi strategi pembelajaran olah raga dari pelatih
b.Mahasiswa dapat berlatih menjadi penyelenggara kegiatan industri olah raga
c. Mahasiswa dapat mengekspresikan perasaan estetiknya bersama siswa
d. Mahasiswa dapat berprestasi dalam bidang olah raga di sekolah

Refeksi

  1. Menurut Bapak/Ibu dosen/instruktur apakah pelaksanaan kegiatan nonmengajar perlu diawali dengan analisis risiko? Apa alasannya?
  2. Menurut Bapak/Ibu dosen/instruktur apakah kegiatan nonmengajar tersebut
    bermanfaat nantinya bagi mahasiswa PPL? Apa alasannya?
  3. Menurut Bapak/Ibu dosen/instruktur jenis asemen apa yang mudah dilakukan untuk menilai kinerja nonmengajar mahasiswa PPL? Apa alasannya?

ppg31

ppg32

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

22 Responses to Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Non Mengajar

  1. Pingback: Laporan Diklat Dosen/Instruktur PPG| Hari V ~ 15 Mei 2020 Kelas 22 – SDN 7 SUBAGAN

  2. Pingback: Tips Belajar Agar Cepat Memahami Materi Diklat – SDN 7 SUBAGAN

  3. Pingback: Laporan Diklat Dosen/Instruktur PPG |Hari IV ~ 14 Mei 2020 Kelas 22 – SDN 7 SUBAGAN

  4. Pingback: Laporan Diklat Dosen/Instruktur PPG| Hari III ~ 13 Mei 2020 Kelas 22 – SDN 7 SUBAGAN

  5. Pingback: Penyusunan Kisi-Kisi Instrumen – SDN 7 SUBAGAN

  6. Pingback: Lomba Sekolah Serangkaian Menyambut Hardiknas dan Harkitnas 2020 – SDN 7 SUBAGAN

  7. Pingback: Laporan Diklat Dosen/Instruktur PPG| Hari II ~ 12 Mei 2020 Kelas 22 – SDN 7 SUBAGAN

  8. Pingback: Refleksi Pembelajaran – SDN 7 SUBAGAN

  9. Pingback: Penyusunan Perangkat Pembelajaran – SDN 7 SUBAGAN

  10. Pingback: Manfaat Feedback Pembelajaran dari Siswa – SDN 7 SUBAGAN

  11. Pingback: Menjadi Guru Mempesona – SDN 7 SUBAGAN

  12. Pingback: Refleksi – SDN 7 SUBAGAN

  13. Pingback: Peer Teaching – SDN 7 SUBAGAN

  14. Pingback: Evaluasi Pembelajaran – SDN 7 SUBAGAN

  15. Pingback: Mengembangkan Bahan Ajar – SDN 7 SUBAGAN

  16. Pingback: Merancang Langkah Pembelajaran – SDN 7 SUBAGAN

  17. Pingback: Pembimbingan Mengakses Sumber Belajar – SDN 7 SUBAGAN

  18. Pingback: Pelaksanaan Pembimbingan Penelitian Tindakan Kelas – SDN 7 SUBAGAN

  19. Pingback: Laporan Diklat Dosen/Instruktur PPG |Hari I ~ 11 Mei 2020 Kelas 22 – SDN 7 SUBAGAN

  20. Pingback: Mengembangkan Tujuan dan Indikator Pembelajaran – SDN 7 SUBAGAN

  21. Pingback: Merancang Pelaksanaan Observasi – SDN 7 SUBAGAN

  22. Pingback: Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Mengajar – SDN 7 SUBAGAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *