Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Mengajar

Penyegaran Calon Dosen/Instruktur PPG |Unit 2. Pembimbingan PPL

Fasilitator : Ahmad, PhD, dan Pamujo, M. Pd (Kemdikbud Dirjen GTK)

Daftar Isi Unit 2

  1. KB 1 Strategi Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Mengajar
  2. KB 2 Strategi Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Non Mengajar
  3. KB 3 Menjadi Guru Mempesona
  4. KB 4 Pengembangan Leadership Skill Guru Pemula
  5. KB 5 Manfaat Feedback Pembelajaran dari Siswa
  6. KB 6 Refleksi Pembelajaran di Kelas
  7. KB 7 Refleksi Pembelajaran Bersama
  8. KB 8 Menyusun Jurnal Refleksi Pembelajaran

KB 1. Membimbing Mahasiswa Praktik Keprofesionalan Mengajar

Tujuan umum dari kegiatan praktik mengajar  di sekolah agar mahasiswa PPG memiliki pengalaman nyata dan kontekstual dalam menerapkan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dapat menunjang tercapainya penguasaan kompetensi sosial, keperibadian, pedagogi, profesional. Implementasi kegiatan PPL menerapkan supervisi klinis dan tindakan reflektif dengan prinsip berkelanjutan, terstruktur dan relevan dengan perangkat pembelajaran. Supervisi klinis adalah bentuk yang relevan untuk membimbing peserta PPG. Prinsip umum dari supervisi klinis adalah sesuai dengan kebutuhan peserta atas kelemahan dan kekuarangan ketika mengadakan real teaching, untuk dapat ditingkatkan dalam rangka menjamin profesionalitasnya bahwa peserta pantas menyandang predikat sebagai guru.

Baca Juga

  1. Strategi Penyusunan Kisi-Kisi Instrumen
  2. Strategi Refleksi Pembelajaran
  3. Manfaat Feedback Pembelajaran dari Siswa
  4. Pengembangan Leadership Skill Guru Pemula
  5. Menjadi Guru Mempesona
  6. Penyusunan Perangkat Pembelajaran Berbasis TPACK
  7. Strategi Perencanaan Refleksi
  8. Peer Teaching
  9. Konsep Evaluasi Pembelajaran
  10. Mengembangkan Bahan Ajar
  11. Merancang Langkah Pembelajaran
  12. Mengembangkan Indikator dan Tujuan Pembelajaran
  13. Praktik Keprofessionalan Mengajar
  14. Praktik Keprofessionalan Non Mengajar
  15. Platform LMS Moodle & Big Blue Button

Langkah-langkah dalam supervisi klinis yaitu 1) pengamatan kinerja oleh guru pamong dan dosen pembimbing; 2) mahasiswa menilai kinerja sendiri (self assessment), 3) diskusi dengan guru pamong dan dosen pembimbing dan 4) merencanakan perbaikan. Pada kegiatan PPL dosen/instruktur memiliki peran penting dalam proses pembimbingan. Setiap mahasiswa PPL akan dibimbing oleh seorang guru pamong dan seorang dosen pembimbing. Desain PPG dosen pembimbing dan guru pamong berperan aktif dalam hal pendampingan peserta PPG meliputi aktivitas membimbing, mengarahkan, mengevaluasi, memfasilitasi, dan memberikan motivasi kepada mahasiswa PPG pada saat PPL.

Capaian pembelajaran yang diharapkan dari Kegiatan Belajar 1 adalah :

  1. Mengidentifikasi keterampilan dasar mengajar
  2. Menilai kinerja mahasiswa PPL PPG dalam praktik mengajar
  3. Mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan mahasiswa PPL PPG dalam mengajar
  4. Menyusun rekomendasi/saran untuk mahasiswa PPL agar dapat melaksanakan pembelajaran yang mendidik

Eksplore Lebih Lanjut

  1. Unit 1 tentang Penyusunan Perangkat Pembelajaran
  2. Unit 2 tentang Pembimbingan PPL
  3. Unit 3 tentang Pembimbingan Penilaian Pembelajaran
  4. Unit 4 tentang Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan

Materi

Peserta PPG diperbolehkan melaksanakan PPL setelah 1) mengikuti kuliah penyusunan dan pengembangan perangkat pembelajaran; 2) telah mengikuti ujian komprehensip.

Lngkah-langkah kegiatan PPL PPG tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Pertama, Penyelesaian perangkat pembelajaran, proposal penelitian tindakan kelas, dan telah lulus ujian komprehensip. Perangkat pembelajaran dan proposal PTK tersebut dikembangkan berdasarkan kegiatan observasi awal.
  2. Kedua, Mahasiswa melaksanakan PPL di sekolah dengan kegiatan a) mengajar berdasarkan perangkat pembelajaran yang telah disusun, b) melakukan kegiatan non mengajar, c) menerapkan tindakan dalam siklus pembelajaran sesuai rancangan penelitian tindakan kelas
  3. Ketiga, Mahasiswa kembali ke kampus untuk melaksanakan focus group discussion (FGD) bersama guru pamong dan instruktur. Di dalam FGD dibahas kelebihan dan kekurangan dalam praktik mengajar serta non mengajar. Kegiatan FGD juga sekaligus menjadi kegiatan refleksi PTK dari siklus pertama yang sudah dilakukan
  4. Keempat, Mahasiswa kembali ke sekolah untuk menerapkan rencana perbaikan pembelajaran sekaligus merencanakan perbaikan tindakan dalam siklus berikutnya dan merencanakan perbaikan kegiatan non mengajar
  5. Kelima, mahasiswa kembali ke sekolah untuk menerapkan rencana perbaikan pembelajaran sekaligus sebagai siklus kedua penerapan penelitian tindakan kelas (PTK)
  6. Keenam, mahasiswa kembali ke kampus untuk menyusun laporan PTK

Berdasarkan rangkaian kegiatan di atas terdapat dua hal pokok yaitu 1) keterampilan mahasiswa PPL dalam mengajar; 2) menerapkan penelitian tindakan perbaikan sebagai bagian dari pelaksanaan PTK.

Keterampilan Mengajar

Kajian mengenai pembelajaran merupakan proses interaksi di mana seorang yang berperan sebagai pengajar (guru) melakukan tindakan untuk mendapatkan respon (balikan) dari siswa atau orang yang dibelajarkan. Lebih spesifik lagi tentang prinsip dasar kegiatan mengajar yaitu sebuah tindakan yang dilakukan seorang individu (guru) dengan fokus memfasilitasi individu lain untuk belajar (Mustofa, 2015). Definisi lain menjelaskan mengajar dipandang sebagai rangkaian kegiatan yang dirancang untuk mendukung proses pembelajaran secara internal (Sequere, 2012:3). Merujuk Concise Oxford English Dictionary Jarvis (2002) meringkas konsep mengajar sebagai aktivitas 1) memberikan informasi sistematis kepada seseorang (tentang subjek atau keterampilan), 2) mempraktikkan diri secara proporsional, 3) memungkinkan seseorang melakukan sesuatu dengan instruksi dan pelatihan, 4) menjadi pelindung prinsip moral, 5) berkomunikasi, memberi petunjuk prinsip moral, 6) membujuk seseorang melalui contoh atau hukuman untuk tidak melakukan suatu hal, 7) membuat seseorang untuk tidak melakukan sesuatu.  Jarvis (2002:17-18) juga merujuk Collins Dictionary yang menyajikan batasan konsep mengajar sebagai aktivitas 1) membantu belajar; 2) memberi petunjuk atau informasi, 3) merekayasa untuk belajar atau memahami sesuatu, 4) mengajari seseorang sebuah materi ajar.

Berdasarkan konstruksi definisi di atas, dapat diidentifikasi bahwa aktivitas mengajar berada di dalam proses pembelajaran. Elemen yang terlibat di dalam proses tersebut yaitu pengajar sebagai elemen yang memberi petunjuk, membantu merekayasa atau mengajari sebuah mata ajar, sering disebut sebagai pengajar atau guru. Selain pengajar, elemen lain dalam proses pembelajaran adalah pihak yang diajari, sering disebut sebagai siswa atau peserta didik. Dengan demikian telah terjadi relasi antar dua elemen yang terlibat secara interaktif di dalam proses pembelajaran.

Rujukan hukum yang menjadi landasan pelaksanaan kegiatan mengajar pada Pendidikan Profesi Guru secara komprehensip tertuang dalam Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Di dalam landasan hukum tersebut guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Berdasarkan rujukan hukum tersebut, maka mahasiswa pendidikan profesi guru (PPG) yang disiapkan untuk menjadi guru tentunya harus dapat menguasai kemampuan yang berkaitan dengan tugas utama guru. Oleh karena itu di dalam kegiatan PPL PPG, dosen/instruktur diharapkan dapat membimbing dan memastikan bahwa mahasiswa dapat menguasai kemampuan yang berkaitan dengan tugas utama guru tersebut.

Di dalam kegiatan PPL PPG, tugas utama keprofesian guru yang dilatihkan pada mahasiswa adalah kemampuan mengajar. Dalam praktik mengajar di PPL, mahasiswa PPG diminta menerapkan rencana pembelajaran dalam perangkat yang sudah disusun pada saat lokakarya. Tugas dosen/instruktur adalah memantau dan membimbing keterlaksanaan perencanaan pembelajaran dan ketercapaian penguasan keterampilan mengajar mahasiswa. Keterampilan mengajar adalah kemampuan yang mutlak dikuasai mahasiswa PPL PPG sebagai seorang calon guru. Keterampilan mengajar memiliki fungsi penting dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran.

Dalam perkembangan teknologi pendidikan, peserta diklat ini yaitu dosen/instruktur tentunya sudah mengenal konsep keterampilan dasar mengajar (KDM) atau generic teaching skills. Agar lebih menyegarkan kembali pemahaman kita pada konsep tersebut, mari kita kaji kembali sepuluh keterampilan dasar mengajar yang idealnya dikuasai oleh pengajar, termasuk oleh mahasiswa PPL PPG sebagai calon guru.

1. Keterampilan Menyusun Skenario Pembelajaran

Skenario pembelajaran diartikan sebagai sebuah rencana praktis pembelajaran yang disusun oleh guru agar pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. Keterampilan menyusun skenario pembelajaran mencakup: 1) kemampuan untuk menyusun tahapan atau langkah-langkah pembelajaran dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup, 2) kemampuan menguraikan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan, 3) kemampuan memilih dan menentukan alat dan media yang akan digunakan dalam pembelajaran baik alat yang digunakan guru maupun media yang akan diakses oleh siswa, 4) kemampuan menentukan atau memprediksikan waktu pembelajaran.

Berdasarkan cakupan kemampuan tersebut, maka untuk melihat keterampilan menyusun skenario pembelajaran dapat dilihat secara lebih rinci dari komponen: 1) tahapan atau langkah-langkah pembelajaran yang disusun, 2) rencana aktivitas pembelajaran baik aktivitas yang dilakukan guru maupun yang dilakukan siswa, 3) penggunaan metode dan strategi, 4) rencana pola interaksi pembelajaran, 5) pengelolaan kelas agar memotivasi siswa, misalnya dengan penerapan model project basel learning (PjBL), problem based learning (PBL), discovery learning, inquiry learning, dan model lain yang menumbuhkan pemikiran HOTS, 6) pengorganisasian kelas secara klasikal, individu, maupun kelompok, dan 7) penetapan waktu/durasi pembelajaran secara rinci pada kegiatan awal, inti, dan penutup.

Keterampilan peserta PPG dalam menyusun skenario pembelajaran dapat dilihat dari rencana pembelajaran yang dibuat berdasarkan kajian melalui kegiatan observasi awal terhadap suatu kelas atau sekolah tempat PPL. Kelengkapan elemen skenario pembelajaran yang secara logis mampu dilaksanakan oleh mahasiswa PPG  dengan pertimbangan kritis yang dapat diberikan seperti 1) kesesuaian skenario dengan kompetensi yang akan dilatihkan pada siswa, 2) kesesuaian skenario dengan jenis materi/pengetahuan apakah berupa fakta, konsep, prinsip atau prosedur, 3) kesesusuaian skenario dengan kondisi kelas atau sekolah dalam hal sarana dan 4) kesesuaian skenario dengan kemampuan guru.

2. Keterampilan Membuka dan Menutup Pembelajaran

Kegiatan membuka pembelajaran mempunyai tujuan untuk memusatkan perhatian dan menumbuhkan motivasi siswa agar berpartisipasi dalam aktivitas belajar yang akan berlangsung. Di dalamnya terdapat kegiatan

  1. menginformasikan materi yang akan dipelajari berupa apersepsi,
  2. menjelaskan tujuan mempelajari materi tersebut,
  3. menjelaskan berbagai kegiatan yang akan dilakukan dalam pembelajaran,
  4. menguhubungkan pengetahuan siswa dengan materi yang akan dipelajari,
  5. memberi motivasi pada siswa agar bersemangat untuk mempelajari materi; dan
  6. pengelolaan kelas.

Menutup pembelajaran merupakan muara akhir dari keseluruhan aktivitas belajar di kelas. Kegiatan menutup pembelajaran berisi aktivitas antara lain:

  1. menyimpulkan pembelajaran dapat berupa rangkuman pembelajaran,
  2. melakukan evaluasi pembelajaran,
  3. merefleksi pembelajaran, dan
  4. merumuskan tindak lanjut.

Keempat aktivitas tersebut membutuhkan keterampilan guru untuk melaksanakannya, agar di akhir pembelajaran siswa dapat menemukan makna dari pengetahuan yang telah dipelajari atau kompetensi yang telah dimilikinya.

Chittenden (1994) mengungkapkan salah satu hal penting yang harus dilaksanakan pada kegiatan menutup pelajaran adalah melaksanakan evaluasi hasil belajar siswa dengan tujuan :

  1. Keeping Track, sebagai kegiatan konfirmasi antara ketercapaian hasil dengan tujuann yang telah ditetapkan
  2. Checking-up, memeriksa capaian kompetensi siswa dalam proses pembelajaran
  3. Finding-out, menemukan kelebihan dan kekurangan untuk sesegera mungkin diperbaiki
  4. Summing-up, menyimpulkan tingkat penguasaan siswa terhadap penguasaan kompetensi yang ditetapkan

3. Keterampilan Menjelaskan

Keterampilan menjelaskan merupakan kemampuan guru dalam memberikan pemahaman mengenai suatu konsep, fakta, prosedur, atau proses kepada siswanya. Menurut Yusuf (2014) keterampilan menjelaskan mengkaitkan antara kemampuan guru secara verbal dan non-verbal. Pada saat mengajar, seorang guru harus memiliki strategi agar penjelasan materi kepada siswa efektif. Penjelasan yang efektif idealnya bersifat sederhana, jelas, ringkas, dan menarik. Sederhana berarti bahwa penjelasan guru harus dapat memudahkan siswa memahami materi yang rumit. Jelas artinya penjelasan guru tidak menimbulkan multitafsir atau salah konsep. Ringkas berarti penjelasan harus terwujud dalam fomulasi yang padat. Jika memang memerlukan penjelasan tambahan tidak menggunakan multifrase kalimat. Menarik artinya penjelasan guru menimbulkan minat siswa untuk memperhatikan. Misalnya pada saat mengajar sekolah dasar (SD) maka dapat ditambahkan media yang operasional konkret sesuai dengan perkembangan psikologi siswa. Penjelasan yang efektif memerlukan perencanaan yang hati-hati dan sensitif, selain itu juga memerlukan sejumlah karakteristik yang mendasar.

Dalam membangun keterampilan mengajar, guru dapat berlatih dengan menggunakan dua pendekatan utama, yaitu pendekatan induktif dan pendekatan deduktif dalam menjelaskan materi. Perbedaan dari kedua pendekatan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

  1. Pendekatan induktif, guru terlebih dahulu menampilkan contoh-contoh atau premis-premis, atau melalui percobaan-percobaan. Setelah itu baru dirumuskan kesimpulan umum dari berbagai premis, contoh, atau hasil-hasil percobaan. Penjelasan dengan model induktif akan memfasiltasi siswa untuk menggunakan keterampilan dalam melihat keberagaman data atau informasi, dan selanjutnya menyusunnya dalam keterpaduan yang bermakna. Selain itu, penjelasan induktif juga mendorong siswa untuk memunculkan pemikiran kritis
  2. Pendekatan deduktif, guru memulai dari rumusan konseptual yang general atau umum dan selanjutnya diikuti oleh contoh-contoh atau bukti bukti. Pendekatan deduktif ini akan membangun fokus siswa di awal penjelasan, sehingga siswa berkonsentrasi pada rumusan konsep awal yang ditawarkan guru.

Keterampilan menjelaskan juga dapat dirintis oleh guru dengan memanfaatkan beberapa strategi alternatif yaitu :

  1. Menggunakan analogi, mengaktualkan fakta atau konsep yang besar atau terlalu kecil sehingga mudah diaktualisasikan oleh siswa
  2. Menggunakan komparasi, dalam strategi ini guru menjelaskan dengan cara membuat pembandingan antara dua fenomena (situasi, kondisi, bentuk, dan sebagainya). Dalam pembandingan tujuan guru adalah mengantarkan siswa pada pemahaman perihal persamaan atau perbedaan dari kedua fenomena tersebut;
  3. Menggunakan pemodelan: dalam strategi ini guru menjelaskan menggunakan perwujudan visual yang mudah dipahami. Misalnya mewujudkan daur air dalam gambar siklus yang bentuk lingkaran, mewujudkan pita DNA sel dalam gambar pita spiral berganda (double helix), dan sebagainya;
  4. Menggunakan alat belajar: dalam strategi ini guru menjelaskan menggunakan papan tulis, spidol, kertas plano, kertas post it, powerpoint, dan sebagainya. Tujuannya adalah memberikan penguatan informasi yang dijelaskan melalui peralatan tersebut
  5. Menggunakan buku dan sumber online: dalam strategi ini guru memanfaatkan buku dan sumber online sebagai sarana untuk menjelaskan informasi. Tujuannya agar siswa mengakses informasi secara terbimbing dan menemukan pemahaman secara mandiri. Dalam strategi ini maka guru perlu menyiapkan aktivitas pengumpulan materi yang harus dilakukan siswa misalnya menggunakan lembar kerja.

Mahasiswa perlu mengenal beberapa komponen-komponen aktivitas  pembelajaran yang dijelaskan oleh Yusuf (2014) diidentitikasi antara lain :

  1. Kejelasan, komponen ini meliputi a) pemilihan kosa kata, b) kelancaran menjelaskan dalam bahasa yang mengalir, tidak tersendat-sendat, dengan struktur kalimat yang dapat dimengerti siswa, dan menggunakan kata hubung yang sesuai, c) mendefinisikan istilah-istilah baru, dan d) menggunakan bahasa yang eksplisit untuk menghindari ketidakjelasan tafsir.
  2. Penekanan, yang termasuk di dalam komponen ini yaitu: a) penekanan suara dengan variasi durasi bicara dan dinamika suara/vokal, b) pengulangan poin-poin penting, c) penjedaan, d) pengulangan, dan e) isyarat verbal/kebahasaan
  3. Pengorganisasian, yang termasuk di dalam komponen ini yaitu: a) proses yang dibutuhkan menyajikan materi berdasarkan hierarki kerumitannya, b) logika urutan pengetahuan atau keterampilan, c) batasan mulai dan mengakhiri penjelasan, dan d) struktur penjelasan dalam pengenalan, elaborasi, dan rangkuman
  4. Umpan balik, yang termasuk di dalam komponen ini yaitu: a) pemberian kesempaan siswa untuk bertanya, b) pemahaman pada konsep-konsep, dan c) penjelasan proses.

Kegiatan menjelaskan dalam proses pembelajaran berkaitan dengan tiga bentuk kontak utama yaitu kontak emosi, kontak materi (content), dan kontak penyajian (delivery). Oleh karena itu, untuk mengembangkan keterampilan menjelaskan yang efektif, Yusuf (2014) menyarankan bebeberapa hal yang berkaitan dengan ketiga kontak tersebut yaitu:

  1. Kontak emosi: untuk dapat mengembangkan keterampilan menjelaskan maka guru dapat mengembangkan kontak emosi dengan cara: a) memposisikan diri di bawah siswa, artinya guru harus bersedia membangun kerendah hatian, bukan merasa lebih pintar dari siswa; b) memahami karakter siswa; c) membangun kepedulian siswa perihal apa yang akan dipelajari hari ini dengan pernyataan jelas di awal; d) menggunakaan kontak mata, e) Menggunakan bahasa formal (Bahasa Indonesia) dan bahasa informal (bahasa ibu setempat bila menguasai); f) menujukkan antuasiasme dan emosi yang sesuai dengan materi pembelajaran; g) menggunakan nada suara yang menujukkan optimisme (pernyataan yang positif), h) menyambut respon siswa yang menjawab berkaitan dengan materi, i) menunjukkan kepedulian pada semua siswa, j) mengaitkan konten/materi ajar dengan dunia siswa, k) menggunakan humor (lelucon) yang nyambung dengan dunia siswa, l) menggunakan humor yang memiliki hubungan jelas dengan materi dan tidak bersifat menyerang pribadi siswa, dan m) menggunakan anekdot (cerita lucu) dan kisah bermakna dari kehidupan guru.
  2. Kontak materi: untuk dapat mengembangkan keterampilan menjelaskan maka guru dapat mengembangkan kontak material dengan cara: a) mengembangkan pengetahuan mendalam mengenai materi pembelajaran, b) mengorganisasi materi sesuai dengan perkembangan diri siswa, c) memastikan keluasan dan kedalaman materi, d) tidak menyusun materi yang penuh hal-hal spesisifik, e) memecah materi ajar menjadi bagain-bagian atau unit-unit kecil, f) memecah sajian penjelasan juga menjadi bagian-bagian, g) memfokuskan bahasan pada satu masalah dan tidak beranjak sebelum diskusi mengenai masalah tersebut tuntas, h) meluangkan waktu untuk bertanya jawab dengan baik, i) menyiapkan panduan belajar dan materi ringkas pembelajaran, j) menggunakan bahan visual yang menunjang materi pembelajaran, k) Bahan visual harus disiapkan agar jelas dan mudah dilihat atau dibaca, dan l) menyiapkan berbagai penugasan dan penilaian yang akan digunakan dalam pembelajaran.
  3. Kontak penyajian: untuk dapat mengembangkan keterampilan menjelaskan maka guru dapat mengembangkan kontak penyajian pembelajaran dengan cara: a) berbicara dengan volume yang dapat didengar oleh seluruh bagian kelas, pastikan tempat duduk paling belakang dapat mendengar dengan jelas; b) berbicara dengan jelas dan menggunakan cara yang mudah dipahami; c) mengatur kecepatan berbicara agar tidak terlalu cepat atau lambat; d) menggunakan dinamika perubahan suara agar tidak monoton; e) menggunakan kata sambung dalam menjelaskan, seperti kata “jadi”, “oleh karena itu”, “karena”, “berdasarkan”, “sebagai hasil dari”, “agar”, “jika tidak” dan sebagainya; f) memilih kata yang tepat dalam menjelaskan obyek dan dalam menjelasakan persitiwa agar siswa tidak bingung; g) mengkoordinasikan kalimat dengan baik agar ide yang disampaikan tidak campur aduk; h) tidak memberikan penjelasan lain yang melenceng dari materi; i) berusaha tidak menampilkan gerakan atau perilaku yang mengganggu perhatian siswa; j) bergerak ke semua bagian kelas untuk membangun fokus semua siswa; k) usahakan tidak menghalangi pandangan siswa untuk melihat papan tulis atau layar LCD; l) usahakan tidak selalu membaca skenario atau rencana pembelajaran; m) menjaga penampilan diri baik terutama cara berpakaian; dan n) mengelola papan tulis dengan baik (menuliskan tanggal di awal pembelajajaran, menulis penjelasan dengan tidak menutupi tulisan, menghapus tulisan dengan meminta konfirmasi pada siswa)

4. Keterampilan Bertanya

Keterampilan guru dalam bertanya merupakan salah satu keterampilan dasar mengajar yang penting. Bahkan dalam dunia pendidikan dikenal kutipan yang menyatatakan bahwa “if you ask well you teach well”. Artinya, pengajar/guru yang baik adalah guru yang mampu memberikan pertanyaan yang baik untuk siswanya. Pertanyaan yang baik dalam pengertian ini adalah pertanyaan yang memotivasi dan menantang siswa untuk aktif berpikir dan berusaha mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Proses pencarian jawaban oleh siswa itulah yang kemudian dapat dilihat sebagai proses pembelajaran yang sesungguhnya.

Keterampilan bertanya dapat diartikan sebagai kemampuan guru menyampaikan pertanyaan dalam proses pembelajaran. Dalam mengajar, guru harus memiliki keterampilan dalam bertanya agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar dan kondusif, karena kegiatan bertanya adalah kegiatan membangun interaksi yang intensif dengan antara guru dengan siswa. Tujuan dari kegiatan bertanya dalam pembelajaran yaitu antara lain:

  1. membangkitkan minat dan rasa ingin tahu;
  2. memusatkan perhatian siswa;
  3. mengembangkan pembelajaran berpusat pada siswa,
  4. melibatkan siswa dalam diskusi materi pembelajaran;
  5. mengidentifikasi kesulitan belajar siswa;
  6. memfasilitasi siswa menyampaikan pendapatnya;
  7. memotivasi kemauan berpikir;
  8. membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran;
  9. memantapkan pengertian dan masalah yang telah diajarkan kepada siswa; dan
  10. memetakan capaian pembelajaran yang telah diraih oleh siswa.

Berdasarkan tingkat interaksi dalam menjawab, keterampilan bertanya dalam pembelajaran dibedakan menjadi dua yaitu keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjut. Dalam usaha menjadi guru yang ideal, maka mahasiswa PPL PPG perlu untuk dibimbing menguasai dua keterampilan bertanya tersebut. Untuk kembali menyegarkan pemahaman kita, berikut ini diuraikan kembali mengenai dua bentuk keterampilan bertanya beserta komponen kegiatan yang ada di dalamnya.

  1. Keterampilan Bertanya Dasar

Keterampilan bertanya dasar adalah kemampuan guru untuk menyajikan pertanyaan kepada siswa dengan tujuan membuka dan memetakan pemahaman awal siswa mengenai materi yang diajarkan. Pertanyaan dasar yang diajukan guru berfungsi membangun interaksi akademik awal antara guru dengan siswa. Komponen keterampilan bertanya dasar yaitu:

    • Penggunaan pertanyaan jelas dan singkat.
    • Pemberian acuan, terlebih dahulu guru memberikan pernyataan panduan sebelum bertanya
    • Pemindahan giliran, yaitu teknik memindahkan pertanyaan kepada invidu siswa yang lain karena siswa sebelumnya menjawab kurang tepat.
    • Pelibatan siswa yang ekstensif (diperluas).
    • Pemberian waktu berpikir. Artinya guru memberikan waktu sejenak bagi siswa untuk merumuskan jawaban dari pertanyaan yang diajukan guru.
    • Pemberian tuntunan. Artinya, guru memberikan panduan berupa kata kunci tertentu kepada siswa yang kesulitan memberikan jawaban agar siswa tersebut mampu menemukan jawaban sendiri.

2. Keterampilan Bertanya Lanjut

Keterampilan bertanya lanjut adalah kemampuan guru untuk menyajikan pertanyaan kepada siswa dengan tujuan memperdalam pemahaman atau penguasaan materi siswa. Komponen keterampilan dasar bertanya tingkat lanjut ini antara lain:

    • Pengubahan tuntunan tingkat kognisi dalam menjawab pertanyaan. Artinya, dalam mengajukan pertanyaan idealnya guru menyusunnya dengan urutan dari pertanyaan yang meminta jawaban tingkat kognisi rendah hingga tertinggi. Hierarki kognisi tersebut dari yang paling rendah menuju yang tertinggi adalah ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, evaluasi, dan kreasi.
    • Pengaturan urutan pertanyaan. Artinya, untuk mengembangkan hierarki kognisi dari level rendah ke level yang lebih tinggi dan kompleks, guru harus dapat mengatur urutan pertanyaan yang diajukan kepada siswa. Pertanyaan idealnya diurutkan dimulai dari yang mudah menuju yang sulit, tidak diacak dan bolak-balik dari mudah ke sukar kembali ke mudah dan seterusnya, karena hal tersebut akan membuat siswa kesulitan mengatur dan menata memori koginitifnya.
    • Penggunaan pertanyaan pelacak. Artinya pertanyaan yang digunakan guru untuk mencari jawaban yang lebih tepat, atau untuk meningkatkan kualitas jawaban siswa menjadi lebih sempurna. Terdapat 7 teknik mengembangkan pertanyaan pelacak yaitu dengan
      • klarifikasi,
      • meminta argumentasi,
      • meminta kesepakatan jawaban,
      • meminta ketepatan jawaban,
      • meminta jawaban yang lebih relevan,
      • meminta contoh, dan
      • meminta jawaban yang lebih kompleks.
    • Peningkatan terjadinya interaksi. Artinya adalah strategi guru untuk mengembangkan pertanyaan sebagai bahan diskusi agar interaksi di dalam kelas menjadi semakin intensif dan multiarah. Kondisi tersebut akan menjadi ideal jika guru berperan menjadi moderator yang mengatur dan mengantarkan pertanyaan dari setiap siswa atau kelompok siswa untuk dijawab siswa atau kelompok yang lain.

5. Keterampilan Memberikan Penguatan

Penguatan dalam pembelajaran (reinforcement) merupakan aktivitas yang dilakukan guru untuk memberikan respon atas pencapaian siswa baik pencapaian dalam bentuk perilaku, pengetahuan maupun keterampilan tertentu. Dalam teori belajar Skinner, penguatan pembelajaran terbagi menjadi dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku. Sementara penguatan negatif akan menyebabkan perilaku berkurang atau menghilang. Dari kedua bentuk penguatan tersebut, penguatan positif lebih disarankan dan lebih banyak digunakan dalam pembelajaran.

Penggunaan penguatan positif memiliki fungsi penting dalam pembelajaran karena efektif dalam mengubah perilaku siswa (Smith, 2017). Selain itu Maag (2001) juga menyatakan bahwa penguatan positif memenuhi prinsip universal karena terjadi berkaitan dengan perasaan alamiah manusia yang merasa bangga mendapatkan penguatan positif. Penguatan positif diberikan oleh guru agar siswa meningkat partisipasinya dalam pembelajaran, sehingga dia dapat mempertahankan atau meningkatkan pencapaian prestasinya. Dengan penguatan positif dalam pembelajaran siswa merasa dihargai dan mendapatkan apresiasi, sehingga motivasi belajarnya akan meningkat.

Tujuan guru memberikan penguatan positif menurut Suwarna dkk. (2013) adalah untuk:

  1. Menumbuhkan perhatian peserta didik. Dengan penguatan yang diberikan maka fokus perhatian peserta didik akan semakin intens dalam pembelajaran karena merasa bangga dan berharap mendapatkan perhatian dan mearasa dihargai;
  2. Memotivasi peserta didik dalam mencapai kompetensi. Dengan mendapatkan penguatan, siswa akan lebih bersemangat mengikuti pembelajaran dan termotivasi meraih kompetensi yang ditetapkan oleh guru;
  3. Mengendalikan berkembangnya perilaku negatif dan mendorong tumbuhnya perilaku positif dan produktif. Dengan penguatan maka siswa akan mengendalikan perilaku negatif dalam dirinya karena berkompetisi mendapatkan penguatan positif dari gurunya. Dengan berkompetisi untuk mendapatkan penguatan positif maka siswa akan terbiasa menampilkan perilaku positif dan produktif untuk meraih prestasi;
  4. Menumbuhkan rasa percaya diri siswa. Dengan mendapatkan penguatan positif, siswa akan tumbuh rasa percaya dirinya karena merasa apa yang dilakukan sudah benar dan dianggap baik oleh gurunya;
  5. Mendorong siswa meningkatkan prestasi belajarnya. Dengan penguatan positif siswa dapat mengembangkan semangat untuk meraih prestasi belajar yang terbaik

Penguatan positif dalam pembelajaran dapat diwujudkan ke dalam berbagai bentuk ungkapan. Guru dapat memilih menggunakan berbagai bentuk ungkapan tersebut. Di bawah ini disajikan beberapa bentuk penguatan positif yang dapat dilakukan oleh seorang guru, yaitu:

  1. Penguatan secara verbal, yaitu penguatan yang diungkapkan dalam bentuk kata dan kalimat pujian atau kalimat poenghargaan;
  2. Penguatan secara nonverbal, yaitu penguatan yang diungkapkan dalam bentuk
    gerakan badan, atau mimik wajah;
  3. Penguatan menggunakan aktivitas yang menyenangkan seperti nyanyian, tepuk tangan dan yel-yel;
  4. Penguatan menggunakan simbol atau benda seperti emoticon, katu bintang, kartu token dan sebagainya.

6. Keterampilan Menggunakan Media dan Alat

Dalam pelaksanaan pembelajaran, seorang guru harus memiliki keterampilan menggunakan media pembelajaran. Media pembelajaran mutlak diperlukan dalam pembelajaran sebagai sarana mempermudah pembentukan pengetahuan maupun keterampilan dari oleh guru kepada siswanya. Berdasarkan kenyataan tersebut maka mahasiswa PPL PPG sebagai calon guru profesional diharapkan memiliki keterampilan dalam menggunakan media pembelajaran. Pengembangan keterampilan penggunaan media dapat secara intensif dilakukan pada saat kegiatan praktik mengajar dalam PPL. Terminologi “media” berasal dari bahasa latin yang berarti perantara atau penghantar pesan dalam proses komunikasi (Sadiman, 2006). Proses pembelajaran sebagai aktivitas interaktif komunikatif tentunya juga memanfaatkan media, yang secara khusus disebut media pembelajaran. Telah banyak definisi operasional mengenai konsep media pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan. Berikut ini dapat kita rujuk beberapa pendapat mengenai media pembelajaran. Gagne (1970) menyatakan bahwa media pembelajaran dalam dunia pendidikan adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat memicu dan memotivasi siswa untuk berpikir. Sementara Briggs (1970) menjelaskan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar (Sadiman, 2006). Secara lebih spesifik Latuheru merumuskan konsep media pembelajaran sebagai bahan, alat, atau teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, yang bertujuan agar proses interaksi komunikasi edukasi antara guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna (1988: 14).

Dari beberapa pendapat tersebut dapat dirumuskan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan pembelajaran dari guru kepada siswanya, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.  Perkembangan teknologi pendidikan saat ini memberikan perhatian lebih pada pengguanaan media dalam pembelajaran (Smaldino, 2014). Perhatian tersebut disebabkan adanya berbagai manfaat yang dapat dieproleh dari penggunaan media.
Manfaat tersebut antara lain:

  1. Memungkinkan adanya reproduksi peristiwa atau prosedur lebih mudah;
  2. Menyediakan akses visual pada materi yang berbentuk  proses atau teknik;
  3. Menyediakan pengalaman umum yang dapat menjangkau banyak siswa;
  4. Menyajikan ilusi atas kenyataan;
  5. Menarik perhatian dan menjaga perhatian siswa;
  6. Dapat memfokuskan pembelajaran pada topik-topik utama;
  7. Menghemat waktu dan menghindari penjelasan yang verbalik;
  8. Menimbulkan dampak atau kesan pada siswa;
  9. Memfasilitasi pemahaman pada konsep yang abstrak;
  10. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif;
  11. Durasi waktu pembelajaran menjadi lebih efisien;
  12. Proses pembelajaran terjadi di berbagai tempat, waktu yang fleksibel.

Anderson (1976) membuat pengelompokan media pembelajaran seperti yang  dapat dilihat pada tabel 1 berikut.

ppg25ppg25

Berdasarkan tabel di atas, media pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam empat rumpun utama berdasarkan kontennya, yaitu:

  1. Media auditif: yaitu media pembelajaran yang kontennya berupa suara yang hanya dapat diamati dengan indera pendengaran;
  2. Media visual: yaitu media pembelajaran yang kontennya berupa gambar yang  dapat diamati dengan indera pengelihatan;
  3. Media audio-visual: yaitu media pembelajaran yang kontennya berupa suara dan  gambar yang dapat diamati dengan indera pendengaran dan indera pengelihatan;
  4. Multimedia: yaitu media pembelajaran yang kontennya menggabungkan antara  teks, gambar, suara, video, dan aktivitas interaktif.

Dari tiga rumpun tersebut dapat diklasifikasi ke dalam pengelompokkan yang lebih rinci misalnya media visual dua dimensi dan tiga dimensi. Perkembangan zaman saat ini yang ditopang oleh perkembangan teknolgi informatika dan komputer memungkinkan hadirnya rumpun baru media pembelajaran audio-visual yang lebih interaktif karena memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI), Virtual Reality (kenyataan maya) dan Augmented Reality (AR) yang dapat mewujudkan nyatakan realitas dalam bentuk tiruan.

Dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran seorang guru harus mempertimbangkan berbagai hal agar penggunaan media dapat menunjangoptimalisasi proses pembelajaran. Pertimbangan tersebut antara lain didasarkan pada:

  1. Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai;
  2. Karaktersitik siswa;
  3. Jenis stimulasi belajar yang diinginkan misalnya berupa gambar diam (still foto), audio, video, atau multimedia;
  4. Ketersediaan sumber media;
  5. Pertimbangan aspek produksi media (apakah harus diproduksi sendiri atau sudah  tersedia);
  6. Tingkat kepraktisan dan ketahanan/keawetan media;
  7. Efisiensi biaya yang harus dikeluarkan untuk penyediaan media.

7. Keterampilan Mengadakan Variasi

Keterampilan mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran di sini maksudnya adalah perubahan yang dilakukan guru pada saat pembelajaran meliputikeragaman penggunaan gaya mengajar, media pembelajaran, pola interaksi dan stimulasi. Variasi pembelajaran digunakan guru dengan tujuan agar pembelajran tidak bersifat monoton. Jika guru selalu menggunakan gaya dan pola mengajar yang sama
maka siswa akan menjadi bosan dan minatnya terhadap pembelajaran menjadi menurun. Keterampilan mengadakan variasi secara garis besar dapat dilakukan dalam tiga aspek pembelajaran yaitu:

  1. Variasi dalam gaya mengajar mencakup variasi suara, variasi pemusatan perhatian, penggunaan kesenyapan, penggunaan kontak pandang, gerakan badan, dan pergantian posisi guru di dalam kelas.
  2. Variasi media pembelajaran mencakup penggunaan ragam media yang digunakan dalam pembelajaran, misalnya bergantian antara media audio, visual, audio visual dan bila memungkinan dapat menggunakan multimedia interaktif terkini yang memanfaatkan perkembangan teknologi.
  3. Variasi interaksi pembelajaran dilakukan dengan menggunakan dan menerapkan ragam model pembelajaran. Selain itu dapat juga dikembangkan dengan variasi penguatan dan motivasi yang digunakan.

8. Keterampilan Membimbing Diskusi

Dalam mendefinisikan konsep diskusi, Brown (1991) merumuskan sebagai kegiatan perbincangan dengan tujuan tertentu. Diskusi merupakan proses interaksi  dan komunikasi dengan menggunakan bahasa verbal antara dua orang atau lebih yang saling bertukar pendapat untuk membahas suatu masalah atau topik tertentu. Di alam kegiatan pembelajaran diskusi sering digunakan sebagai metode pembelajaran karena efektif. Dengan metode ini, guru memfasilitasi siswa untuk saling bertukar pendapat dan mencari pemecahan masalah yang disajikan oleh guru.

Seorang guru harus memiliki keterampilan dalam membimbing diskusi kelompok siswa. Keterampilan membimbing diskusi penting dikuasai guru agar dapat memfasilitasi dan mengarahkan kegiatan diskusi siswa sehingga dapat berlangsung
dengann kondusif, efektif, dan efisien. Keberhasilan diskusi kelompok akan menghantarkan siswa pada pencapaian tujuan pembelajaran berupa penguasaan konsep, fakta, prosedur, dan keterampilan. Keterampilan membimbing siswa dalam diskusi dapat diwujudkan dalam kegiatan antara lain:

  1. Mendampingi siswa pada saat diskusi berlangsung;
  2. Memusatkan perhatian siswa pada saat diskusi, yang didalamnya berisi kegiatan merumuskan tujuan diskusi, merumuskan masalah, menandai hal-hal yang penting (relevan) dan yang kurang penting;
  3. Memperjelas masalah jika siswa mengalami disorientasi dalam urun gagasan;
  4. Menganalisis pendapat siswa, terutama dalam hal persetujuan dan ketidaksetujuan dengan memperhatikan alasan peserta didik;
  5. Meningkatkan partisipasi berpendapat, yang dapat dilakukan dengan memunculkan pertanyaan, membuat contoh, mengangkat topik yang sedang menarik diperbincangkan, menunggu setiap siswa berpendapat, dan memberikan penguatan positif;
  6. Membagikan kesempatan berpartisipasi dalam urun gagasan, yang dilakukan dengan cara meneliti pandangan siswa, membatasi pendapat yang berlebihan, dan mengatur kesempatan agar tidak terjadi dominasi;
  7. Menutup diskusi, dengan melakukan kegiatan merangkum, menilai, dan membuat simpulan;
  8. Menumbuhkan minat dan kegiatan belajar, oleh karena itu agar diskusi dapat berjalan menarik dan dapat mencapai tujuan pembelajaran, maka topik diskusi harus dipersiapkan dengan baik oleh guru.

9. Keterampilan Melakukan Penilaian Pembelajaran

Menurut Arifin (2013) penilaian (assesment) dalam pembelajaran merupakan proses atau kegiatan sistematis serta berkesinambungan yang bertujuan mengumpulkan informasi mengenai proses dan hasil belajar siswa dalam rangka membuat keputusan-keputusan berdasarkan kriteria dan pertimbangan tertentu. Pandangan tersebut bersesuaian dengan definisi konsep penilaian yang dirumuskan dalam Permendikbud No. 23 tahun 2016 BAB I pasal 1 yang menyatakan bahwa penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Bila merujuk pada Permendikbud tersebut, pada pasal dan bab selanjutnya dijelaskan norma-norma mengenai lingkup penilaian, tujuan penilaian, prinsip penilaian, bentuk penilaian, mekanisme penilaian, prosedur penilaian, hingga instrumen penilaian.

Mahasiswa PPL PPG sebagai calon guru profesional yang nantinya mengajar pada satuan pendidikan yang ada di Indonesia, perlu untuk mempelajari dan merujuk berbagai norma penilaian yang sudah disusun oleh pemerintah Indonesia. Salah satu norma hukum penilaian pembelajaran dapat dilihat dalam Permendikbud No. 23/2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah. Dengan memahami standar penilaian yang yang sudah ditetapkan, maka dalam pembelajaran nantinya proses dan produk penilaian dapat berada dalam posisi yang ideal yakni sesuai secara hukum dan tepat secara akademis. Berdasarkan hal tersebut, maka dosen/instruktur yang akan membimbing mahasisiwa PPL PPG kiranya perlu juga untuk mencermati dan memahami kembali berbagai aspek dan norma penilaian yang diharapkan pemerintah di dalam Permendikbud No. 23/2016 tersebut. Dengan pemahaman atas standar penilaian tersebut, maka dalam membimbing dan mengembangkan keterampilan dasar mengajar mahasiswa PPL PPG, khususnya dalam hal penilaian, dosen/instruktur dapat menyesuaikannya dengan standar yang sudah ditetapkan pemerintah Indonesia. Berikut ini mari kita kaji secara ringkas berbagai norma dalam standar penilaian pendidikan dalam Permendikbud No.23/2016 tersebut

a. Lingkup Penilaian
Penilaian pendidikan khususnya pada pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: 1) penilaian hasil belajar oleh pendidik, 2) penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, dan 3) penilaian hasil belajar oleh pemerintah. Penilaian tersebut hendaknya meliputi penilaian aspek kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan. Penilaian sikap merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk memperoleh informasi deskriptif mengenai perilaku peserta didik. Penilaian pengetahuan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur penguasaan pengetahuan peserta didik. Penilaian keterampilan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengukur kemampuan peserta didik menerapkan pengetahuan dalam melakukan tugas tertentu. Untuk penilaian pengetahuan dan keterampilan dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan, dan/atau Pemerintah.
Berdasarkan uraian di atas maka mahasiswa PPL PPG sebagai calon pendidik tentunya harus memiliki keterampilan untuk melakukan penilaian aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan dari peserta didik. Perencanaan penilaian tentunya sudah disusun mahasiswa PPL PPG pada saat lokakarya perancangan  perangkat pembelajaran. Dalam kegiatan pembimbingan PPL, Dosen/instruktur dapat memonitor dan memastikan bahwa penilaian yang dilakukan mahasiswa sudah mencakup ketiga aspek tersebut.

b. Tujuan Penilaian
Dalam Permendikbud No. 23/2016, penilaian hasil belajar oleh pendidik bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan bertujuan untuk menilai pencapaian Standar Kompetensi Lulusan untuk semua mata pelajaran. Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu. Dengan melihat pada ketentuan di atas, mahasiswa PPL PPG dapat diberikan pemahaman dan diarahakan untuk melakukan penilaian dengan tujuan
memantau dan mengevaluasi proses pembelajaran, memantau kemajuan belajar, dan menggunakannya sebagai strategi memperbaiki hasil belajar peserta didik  secara berkesinambungan. Hasil penilaian menjadi bahan refleksi guru untuk  meningkatkan kinerja proses pembelajaran sehingga tercapai ketuntasan belajar kelas yang optimal.

c. Prinsip Penilaian
Dalam melaksanakan penilaian pembelajaran, seorang guru harus memahami  prinsip-prinsip penilaian agar tindakan penilaian yang dilakukannya ideal. Batasan prinsip-prinsip penilaian pembelajaran yang termaktub dalam Permendikbud No.23/2016 yaitu: 1) Sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur. 2) Objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai. 3) Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik  karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.  4) Terpadu, berarti penilaian merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.  5) Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan.  6) Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau dan menilai perkembangan kemampuan peserta didik. 7) Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku. 8) Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan. 9) Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi mekanisme, prosedur, teknik, maupun hasilnya Dalam pembimbingan praktik mengajar mahasiswa PPL PPG, dosen/instruktur dapat mencermati kembali apakah penilaian yang dilakukan
mahasiswa sudah memenuhi prinsip-prinsip di atas.

d. Bentuk Penilaian
Sesuai Permendikbud No. 23/2016, penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan dalam bentuk ulangan, pengamatan, penugasan, dan/atau bentuk lain yang diperlukan. Berdasarkan ketentuan ini, mahasiswa PPL PPG dapat diminta untuk mengembangkan bentuk-bentuk penilaian yang beragam. Bentuk penilaian tersebut misalnya mengembangkan instrumen ujian formatif berupa tes tertulis (obyektif dan subyektif) maupun tes lisan. Dosen/instruktur perlu juga untuk memberikan penugasan kepada mahasiswa PPL PPG untuk menyusun lembar kerja siswa maupun pedoman penugasan atau proyek.

e. Mekanisme Penilaian

Mekanisme penilaian hasil belajar oleh pendidik dalam Permendikbud No.23/2016 termaktub pada Pasal 9 ayat 1 yang isinya menyatakan bahwa:

  1. Perancangan strategi penilaian oleh pendidik dilakukan pada saat penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berdasarkan silabus;
  2. Penilaian aspek sikap dilakukan melalui observasi/pengamatan dan teknik penilaian lain yang relevan, dan pelaporannya menjadi tanggung jawab wali kelas atau guru kelas.
  3. Penilaian aspek pengetahuan dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan sesuai dengan kompetensi yang dinilai;
  4. Penilaian keterampilan dilakukan melalui praktik, produk, proyek, portofolio, dan/atau teknik lain sesuai dengan kompetensi yang dinilai;
  5. Peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) satuan pendidikan harus mengikuti pembelajaran remedi;
  6. Hasil penilaian pencapaian pengetahuan dan keterampilan peserta didik disampaikan dalam bentuk angka dan/atau deskripsi.

Berdasarkan ketentuan tersebut, hal yang penting untuk digarisbawahi  bahwa mahasiswa PPL PPG, khususnya PPG SD adalah calon guru kelas, sehingga mereka kelak juga akan bertanggungjawab pada pelaporan penilaian aspek sikap. Selain itu, penilaian pencapaian pengetahuan dan keterampilan tidak hanya terdiri dari angka sebagai simbol nilai, namun harus dilengkapi dengan deskripsi atas simbol angka tersebut.

f. Prosedur Penilaian

Prosedur penilaian pembelajaran sudah diatur secara lebih terinci pada pasal 12 dan 13 Permendikbud No. 23/2016. Prosedur tersebut dapat dicermati dalam uraian di bawah ini:

  1. Penilaian aspek sikap dilakukan melalui tahapan: (a) mengamati perilaku peserta didik selama pembelajaran; (b) mencatat perilaku peserta didik dengan menggunakan lembar observasi/pengamatan; (c) menindaklanjuti hasil pengamatan; dan (d) mendeskripsikan perilaku peserta didik.
  2. Penilaian aspek pengetahuan dilakukan melalui tahapan: (a) menyusun  perencanaan penilaian; (b) mengembangkan instrumen penilaian; (c)  melaksanakan penilaian; (d) memanfaatkan hasil penilaian; dan (e) melaporkan hasil penilaian dalam bentuk angka dengan skala 0-100 dan deskripsi.
  3. Penilaian aspek keterampilan dilakukan melalui tahapan: (a) menyusun perencanaan penilaian; (b) mengembangkan instrumen penilaian; (c) melaksanakan penilaian; (d) memanfaatkan hasil penilaian; dan (e) melaporkan hasil penilaian dalam bentuk angka dengan skala 0-100 dan deskripsi
  4. Prosedur penilaian proses belajar dan hasil belajar oleh pendidik dilakukan dengan urutan: (a) menetapkan tujuan penilaian dengan mengacu pada RPP yang telah disusun; (b) menyusun kisi-kisi penilaian; (c) membuat instrumen penilaian berikut pedoman penilaian; (d) melakukan analisis kualitas instrumen; (e) melakukan penilaian; (f) mengolah, menganalisis, dan menginterpretasikan hasil penilaian; (g) melaporkan hasil penilaian; dan (h) memanfaatkan laporan hasil penilaian.

g. Instrumen Penilaian
Pembahasan mengenai instrumen penilaian dalam Permendikbud No. 23/2016  menjelaskan bahwa instrumen yang digunakan oleh pendidik dalam penilaian dapat berbentuk tes, pengamatan, penugasan perseorangan atau kelompok, dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik. Perihal sistem penilaian ini sudah diatur dalam pedoman penilaian yang diterbitkan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan. Dalam Modul Instruktur PPG tahun 2020 ini kegiatan pembimbingan evaluasi dan penilaian akan dihadirkan dalam modul tersendiri yaitu di Modul 3.

10. Keterampilan Mengelola Kelas

Tantangan yang dihadapi guru pada saat mengajar adalah mengelola kelas menjadi lingkungan yang kondusif untuk proses pembelajaran. Tantangan ini tidak saja dihadapi oleh guru pemula, bahkan guru yang sudah lama mengajar di kelas yang sama pun memiliki potensi mengalami masalah dalam mengelola kelas. Hal tersebut
terjadi karena kelas berisi satuan komunitas siswa yang setiap hari mengalami dinamika yang disebabkan perubahan situasi dan kondisi sekolah, dinamika motivasi belajar belajar siswa, dan faktor eksternal lainnya.  Berdasarkan kenyataan di atas, mahasiswa PPL PPG dalam praktik mengajar harus menguasai keterampilan mengelola kelas. Kenyataan yang selama ini muncul dalam praktik mengajar mahasiswa PPL adalah kemampuan mengelola kelas yang lemah. Kelemahan tersebut pada umumnya disebabkan pengenalan karakteristik siswa dan karakteristik kelas yang kurang intensif. Hal ini menjadikan mahasiswa PPL kurang dapat mengendalikan kelas, nervous, gugup, dan pada akhirnya tidak jarang memunculkan dampak yang kurang baik seperti merasa minder di tengah siswa atau bahkan emosional dan menjadi temperamental untuk dapat segera mengkondusifkan kelas. Kelemahan pengelolaan kelas tersebut akhinrya menyebabkan rencana pembelajaran yang sudah tersusun dengan baik tidak dapat diterapkan di kelas. Rencana pembelajaran yang tidak terlaksana dengan baik tentunya berdampak pada capaian performa mengajar mahasiswa PPL yang tidak maksimal. Keterampilan mengelola kelas adalah kemampuan guru dalam menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal. Dengan pengelolaan kelas yang baik maka akan tercipta kondisi belajar yang kondusif sehingga siswa mampu mencapai kompetensi yang menjadi tujuan pembelajaran (Suwarna, 2013: 225). Merujuk pada identifikasi Suwarna (2013), komponen-komponen keterampilan mengelola kelas  yang penting dikuasai oleh guru yaitu:

  1. Memberikan petunjukan yang jelas pada setiap pembelajaran
  2. Mengarahkan perilaku siswa pada pencapaian kompetensi secara optimal;
  3. Mengelola kelompok siswa baik dalam kelompok kecil, kelompok sedang, maupun kelompok besar;
  4. Menuntut tanggung jawab siswa secara individual maupun kelompok;
  5. Membagi perhatian secara merata ke seluruh kelas;
  6. Menunjukkan sikap tanggap terhadap permasalahan peserta didik;
  7. Memberikan teguran pada siswa yang berperilaku negatif;
  8. Memberikan penguatan (reinforcement) bagi siswa yang berhasil menunjukkan perilaku atau capaian positif;
  9. Menemukan dan memecahkan perilaku siswa yang menimbulkan masalah

Pembimbingan Praktik Mengajar dalam PPL PPG

Dengan menyegarkan kembali pemahaman mengenai keterampilan dasar mengajar, Dosen/instruktur dapat menjadikan aspek-aspek keterampilan tersebut sebagai bingkai dalam membimbing dan mengembangkan keterampilan mengajar mahasiswa pada saat PPL. Seperti dijelaskan di pendahuluan bahwa kegiatan PPL adalah kegiatan yang dilandasi oleh pendekatan supervisi klinis. Oleh karena itu, kegiatan praktik mengajar mahasiswa menjadi aktivitas utama dalam PPL untuk diamati, dinilai, dan selanjutnya diberikan tindak lanjut berupa saran perbaikan oleh dosen/instruktur. Dalam kegiatan mengamati dan menilai kegiatan mengajar ini, dosen/instruktur bekerja sama dengan guru pamong. Sinergi kegiatan antara mahasiswa PPL, dosen/instruktur, dan guru pamong dalam kegiatan praktik mengajar dapat dilihat dalam skema pada di bawah ini :

ppg27

Dari skema tersebut dapat dilihat bahwa pada tahap pertama praktik mengajar, mahasiswa diminta menerapkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang sudah dibuat dalam lokakarya. Selanjutnya setelah praktik mengajar selesai, mahasiswa bersama dengan guru pamong dan dosen/instruktur melakukan refleksi bersama. Pada saat refleksi bersama tersebut mahasiswa menyampaikan penilaian diri (refleksi) atas kinerjanya dalam mengajar (self assessment). Dosen/instruktur dan guru pamong kemudian menyampaikan hasil pengamatan dan penilaian kinerja mengajar. Hasil penilaian diri mahasiswa dan penilaian oleh dosen/instruktur dan guru pamong didiskusikan untuk diidentifikasi kelebihan dan kelemahan mahasiswa dalam mengajar. Selanjutnya mahasiswa merencanakan perbaikan rencana pembelajaran dan merencanakan perbaikan keterampilan dalam mengajar. Hasil rencana perbaikan dikonsultasikan kembali kepada dosen/instruktur dan guru pamong untuk disetujui atau tidak disetujui dengan saran perbaikan lagi. Setelah rencana perbaikan disetujui maka mahasiswa menerapkan rencana perbaikan dalam praktik mengajar berikutnya.

Aktivitas Daring (online)
Sebagai penguatan penguasaan materi, Bapak/Ibu dosen/instruktur dapat melakukan aktivitas dalam jaringan salah satunya mengerjakan lembar (LK) kerja berikut ini untuk kemudian dikumpulkan sebagai bagian dari penugasan daring.

LK 1.1 Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran dan identifikasi kelemahan pembelajaran  (LK terlampir di akhir Kegiatan Belajar 1).

Aktivitas belajar lanjutan dari Kegiatan Belajar 1 adalah mengerjakan soal formatif  yang terdiri dari  5 soal pilihan ganda.

Kegiatan refleksi dari KB 1 adalah :

  1. Menurut Anda apakah faktor penyebab munculnya kelemahan dalam pembelajaran mahasiswa praktikan PPL? ‘
  2. Menurut Anda apa faktor penyebab munculnya kelebihan dalam pembelajaran mahasiswa praktikan PPL?
  3. Menurut Anda, dari keterampilan dasar mengajar keterampilan mana yang akan paling sulit dilaksanakan mahasiswa? Mengapa?

ppg28ppg29ppg30

 

 

This entry was posted in Artikel, Pembelajaran, Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Mengajar

  1. Pingback: Refleksi – SDN 7 SUBAGAN

  2. Pingback: Peer Teaching – SDN 7 SUBAGAN

  3. Pingback: Evaluasi Pembelajaran – SDN 7 SUBAGAN

  4. Pingback: Merancang Langkah Pembelajaran – SDN 7 SUBAGAN

  5. Pingback: Mengembangkan Tujuan dan Indikator Pembelajaran – SDN 7 SUBAGAN

  6. Pingback: Laporan Diklat Dosen/Instruktur PPG| Hari II ~ 12 Mei 2020 Kelas 22 – SDN 7 SUBAGAN

  7. Pingback: Pembimbingan Praktik Keprofesionalan Non Mengajar – SDN 7 SUBAGAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *