Menjadi Guru yang Radikal

BAGIAN I

Kembali ke Pemikiran Awal

Suka duka menjadi guru ibarat gelombang laut yang mengalami pasang dan surut. Terkadang guru merasa diperlukan dan terkadang lagi guru merasa diabaikan. Isu kekinian yang sedang hangat dibicarakan adalah tentang kekurangan guru. Pembicaraan ini merambah mulai dari perbincangan sehari-hari hingga percakapan formal di tempat-tempat berkumpulnya para guru maupun para pemerhati guru. Sudah bukan tabu lagi jika pembicaraan tentang nasib guru menjadi tranding topik dari para penulis blog gratisan hingga para wartawan profesional. Isu ini sangat menarik untuk dibicarakan baik oleh orang kebanyakan sampai kalangan praktisi politik. Pembicaraan tentang guru terombang-ambing di antara fakta nyata permsalahan guru dengan fakta ideal sosok guru sebagai profesi mulia dalam upaya mencerdaskan bangsa.

Sejak dulu guru menempati posisi yang terhormat dan menjadi sosok panutan. Di pundak seorang guru dibebankan tanggungjawab yang sangat mulia. Generasi demi generasi yang telah membawa peradabannya masing-masing berkat kehadiran seorang guru. Sejak jaman dulu para guru telah berhasil menjadi jembatan penghubung antar generasi. Kemajuan peradaban manusia saat ini tidak terlepas dari peran seorang guru. Berbagai peradaban di dunia ini telah mengalami kemajuan pesat karena hadirnya seorang guru.

Peradaban-peradaban awal soerang guru mungkin tidak seperti yang kita bayangkan saat ini. Peradaban manusia yang terus berubah dari zaman ke zaman berikutnya, terjadi karena perubahan pola pikir seorang guru. Guru di awal peradaban manusia mungkin hanya sekedar berkeinginan mengajarkan dan mewariskan cara berburu, cara membuat senjata dan cara bertahan hidup. Penemuan api dan senjata di mata seorang guru harus diajarkan kepada keturunannya. Si Anak yang terlahir ke dunia sejak awal menemukan sosok ibu dan bapak kandung sebagai orang terdekat. Mereka secara otomatis menjadi guru pertama bagi Si Anak, karena mereka adalah orang terdekatnya. Kebutuhan manusia untuk tetap bekerjasama dengan manusia lainnya untuk mampu bertahan hidup dalam melestarikan jenisnya juga memerlukan sosok seseorang di dekatnya. Orang terdekat Si Anak yang didaulat sebagai guru utama dan pertamnya adalah orang tua. Demikian pula sebagian yang lainnya juga berpotensi kelak menjad guru baginya.

Lingkungan hidup Si Anak merupakan sumber dan media pembelajaran baginya. Kepentingan manusia sebagai mahluk hidup untuk selalu menyesuaikan diri dengan lingkungannya membuat manusia terus belajar dari rahasia alam. Si Anak mulai dikenalkan dengan alam sekitar begitu ia dilahirkan. Orang tua dan orang-orang terdekatnya yang berperan sebagai guru selalu siap membimbingnya. Kehidupan sosial di atara kelompok manusia juga menjadi sumber dan media belajar bagi Si Anak. Interaksi antar sesama manusia baik anak-anak maupun dewasa selanjutnya membentuk dan mematangkan karakter Si Anak untuk dapat menjalani aktivitas kehidupannya. Kepentingan manusia sebagai mahluk hidup untuk senantiasa belajar dari lingkungan alam dan sosialnya terus berlangsung dari awal peradaban manusia hingga kini.

Kepentingan manusia untuk selalu bekerjasama bahu-membahu dalam menangkap buruan merupakan aktivitas manusia pada awal-awal peradabannya. Tidak jarang upaya kerjasama tersebut berbuntut persaingan. Persaingan merebut hewan buruan, persaingan memperebutkan wilayah tempat berburu yang tak jarang menimbulkan pertengkaran hingga peperangan. Persaingan yang mengakibatkan gesekan baik antar individu maupun kelompok akhirnya melahirkan sosok panutan. Orang-orang terpilih yang dianggap panutan biasanya merujuk pada orang-orang dengan fisik yang kuat. Proses lahirnya pemimpin bersasal dari seleksi yang alami, dimana pada zaman itu, kepintaran bukan menjadi hal yang sangat utama. Keterampilan dan kecekatan seseorang yang layak ditauladani pada suatu kelompok manusia telah melahirkan seorang pemimpin. Baik secara langsung maupun tidak anak-anak yang usiannya lebih muda dari akhirnya takluk dan mengikuti jejak langkah Si Pemimpin. Peran ketauladanan telah menjadi ciri dan karakter manusia yang terus belajar meniru perilaku dari pemimpinnya. Pemimpin yang hadir dari kelompok manusia perimitif telah mampu memberi pelajaran berarti bagi anggota dan anak-anak kecil saat itu untuk mampu bertahan. Para pemimpin kelompok itu sesungguhnya adalah seorang guru yang telah memberi pelajaran berarti bagi anggota dan anak-anaknya untuk mampu bertahan hidup.

Semua peradaban besar manusia yang hingga kini masih tetap dikaji sebagai rujukan sejarah selalu menghadirkan sosok pemimpin. Pemimpin-pemimpin besar tersebut telah mampu mengantarkan manusia untuk selalu berkembang menjadi peradaban yang lebih unggul. Para pemimpin-pemimpin itu adalah guru yang selalu menjadi sumber inspirasi bagi rakyat atau pengikutnya. Salah satu contoh pemimpin besar yang telah mengantarkan Bangsa Mongol menjadi penguasa sebagian daratan benua Asia yaitu Jengis Khan. Pada sisi lain benua Eropa muncup peradaban Yunani dan Romawi yang telah melahirkan peradaban unggul yang masih dijadikan rujukan karena dasar-dasar filsafatnya seperti Aristotes, Plato, Archimedes, Galileo Galilei, hingga Pascal. Mereka adalah guru sesungguhnya yang telah meletakkan dasar-dasar peradaban manusia yang digunakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita saksikan kini.

Anak Benua India telah melahirkan peradaban Hindu yang tetap dikaji dan dijadikan rujukan sejarah untuk memahami peradaban manusia. Lahirnya peradaban Hindu tak lepas dari peran guru yang diposisikan pada tataran yang sangat mulia. Wiracarita Maha Barata bahkan telah mencontohkan sosok-sosok guru yang menjadi panutan bagi segenap Wangsa Kuru yang dilanda perang saudara. Kisah yang mampu diceritakan dengan apik oleh Baghawan Byasa menuturkan bagaimana Rsi Bisma dan Drona merupakan sosok guru dengan segenap wejangan-wejangannya. Keterampilan Arjuna menggunakan panah, Prabu Karna dalam berperang, Bima dalam menggunakan gada lahir dari sosok-sosok guru. Sejak zaman itu guru telah menempati posisi yang sangat mulia dan dihormati. Mungkin saat itu kalau kita bertanya kepada Rsi Bisma dan Rsi Drona tentang gaji, sertifikasi dan jaminan kesejahteraan guru lainnya, mereka akan bingung menjawabnya. Hal tersebut sangat kontras perbedaannya dengan guru di jaman sekarang. Sosok guru zaman itu lahir dari sebuah kesadaran yaitu bagaiman menurunkan kemampuannya kepada orang-orang terdekatnya dengan tanpa mengharapkan imbalan. Sementara saat ini, semua orang mencari pekerjaan karena mengharapkan imbalan termasuk guru.

Para Brahmana pada peradaban Hindu menempati posisi strategis sebagai guru yang sering bergelar Rsi, Bhagawan, Àcàrya, Adhyàpaka, Upàdhyàya dan Siva. Gelar-gelar tesebut tentu sangat jauh berbeda dengan gelar akademik saat ini seprti Profesor, Doktor dan lain-lain. Perolehan gelar pada zaman dulu, karena pengaruh seorang guru, yang telah mampu merubah sudut pandang masyarakatnya menjadi lebih baik dan bijaksana. Mungkin saja para Rsi, Acarya dan Bhgawan tidak pernah diminta dengan sengaja. Sangat jauh berbeda dengan peradaban hari ini, dimana jika seseorang memperoleh gelar tertentu harus mengikuti seleksi ketat dengan persaratan yang banyak. Walaupun kita bisa mengatakan zaman telah berkembang dan berubah, pada hakekatnya semangat dan spirit yang menjiwai kepakaran Acarya dengan Profesor adalah sama kadarnya. Mereka sama-sama mengabdi untuk kepentingan ilmu dan perguruan dalam rangka menciptakan generasi penerus yang mampu bertahan hidup. Tetapi melihat dari kurun waktu, tentu saja zamannya Profesor dapat eksis hingga kini tidak terlepas dari pengaruh sistem perguruan zaman dulu yang telah membesarkan nama-nama Rshi pada zamannya.

Perbedaan zaman dan peradaban dipandang dari persepktif waktu, antara zaman dulu dan sekarang terkait guru sebagai tokoh yang dimuliakan, berbeda dengan guru masa kini yang keberadaannya dimotivasi oleh gaji dan penghasilan. Guru masa kini sangat terikat oleh jam kerja, yang tidak mungkin sama dengan semangat dan keperibadian era pada Rshi. Pengabdian guru masa kini dihargai dengan uang, yang sangat berbeda jauh dengan pengabdian para Bhagawan dalam rangka menjalankan swadarma para Brahmana dalam memberikan petunjuk kepada umat yang sedang mencari kebenaran. Pandangan masyarakat tentang guru dulu dan kini telah sangat berubah. Masyarakat zaman dulu sangat memulyakan para guru, sehingga dalam Hindu mewajibkan umatnya menyelenggarakan Rshi Yadnya dalam upaya memulyakan guru. Para Brahmana memiliki murid abadi lengkap dengan segenap keturunannya, yang tetap mengabdikan diri dan selalu minta petunjuk beliau. Akan sangat jauh berbeda jika kita bandingkan dengan guru masa kini, dimana memulyakan guru hanya sebatas tenggang masa kontrak saja. Artinya ketika masih menjadi guru, selalu hormat dan mengatakan “Selamat Pagi, Siang, Sore dimanapun bertemu, dan itu akan berakhir ketika masa pensiun.

Pemahaman tentang guru dari perspektif filosofis zaman dulu dan sekarang telah berkembang.  Seperti tertuang dalam salah satu sastra Hindu yaitu Pancasiksa, yang mengatakan :

“Guru ngaranya, wang awreddha, tapowreddha, jñànawreddha.Wang awreddha ngaran sang matuha matuha ring wayah, kadyangganing bapa, ibu. Pengajian, nguniweh sang sumangàskàra rikita. Tapowreddha ngaran sang matuha ring brata, Jñànawreddha ngaran sang matuha ring aji” .

Terjemahanya adalah :

Yang disebut guru adalah orang yang sudah Awreddha, Tapo-wreddha, Jñànawreddha. Orang Awreddha adalah orang yang sudah lanjut usianya seperti bapa, ibu, orang yang mendidik (mengajar/Pengajian), lebih lebih orang yang mentasbihkan (mensucikan/sumangàskàra) engkau.Tapowreddha disebut bagi orang matang di dalam pelaksanaan brata. Jñànawreddha adalah orang yang ahli di dalam ilmu pengetahuan (spiritual).

Coba bandingkan dengan pengertian guru dari Undang-undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen seperti di bawah ini:

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

Melihat pengertian di atas, sosok guru yang profesional berorientasi pada cara memperoleh penghasilan yang dilakukan berdasarkan keahlian tertentu. Sementara orientasi pekerjaan guru secara profesional adalah dalam rangka memberi layanan kepada siswa untuk belajar.

Dalam rangka memberi jaminan pelaksanaan tugas secara efektif dan efisien dalam konteks sebagai pekerja profesional dalam melayani siswa, pengertian di atas akan berdampak kepada peningkatan layanan pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan dari sisi kepentingan pemerintah. Pendekatan layanan tersebut sesuai dengan hakekat pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Seiring kemajuan zaman dimana tuntuan semakin banyak dalam hal untuk memperoleh layanan, sehingga terkesan profesi guru adalah pelayan. Pandangan masyarakat dalam memandang guru sebagai pelayan berdampak kepada kurang dihargainya guru sebagai sosok yang telah memberi perubahan nilai pada siswa dari aspek sikap.

Pandangan terhadap guru pada zaman dulu berbeda. Sosok guru selalu dipandang lebih tua dalam artian saat ini adalah lebih dewasa secara pengetahuan dan sikapnya. Maka dari itu sosok seorang guru harus diteladani, dan sejak zaman itu, guru selalu dianggap orang yang hadir menyuarakan kebenaran. Hadirnya seorang ibu dan ayah bagi anak-anaknya merupakan sosok guru yang menurut Hindu disebut u Rupaka. Hadirnya seseorang yang sengaja melaksanakan pengajaran kepada anak-anak diistilahkan dengan Guru Pengajian. Hadirnya sosok pemimpin yang selalu layak untuk diteladani, disebut dengan Guru Wisesa. Sementara Tuhan sebagai pencipta alam semesta beserta isinya merupakan guru dari segala guru, yang memiliki otoritas tunggal dari segala rahasia pengetahuan yang menantang kita sebagai manusia untuk secara terus menerus belajar untuk mencari kebenaran itu.

Pergeseran peran seorang guru justru semakin terasa ketika zaman mengalami kemajuan yang pesat. Tuntutan untuk belajar, seiring pesatnya kemajuan zaman, bukan lagi hanya keinginan guru. Masyarakat moderen memandang guru dan pendidikan yang diselenggarakan oleh guru merupakan kebutuhan. Tempat belajar yang awalnya hanya sebagai tempat untuk mempertemukan guru dengan muridnya pada tempat-tempat tertentu yang diistilahkan dengan padepokan dan pasraman, bergeser menjadi tempat formal. Kemajuan zaman telah merubah persepsi perguruan sebagai sebuah persekolahan. Sekolah dianggap sebagai tempat mendapat pelayanan belajar, dimana pemerintah memiliki kewajiban untuk hadir dalam rangka mempercepat proses transfer ilmu, dengan menyediakan sarana belajar dan guru.

Melihat uraian di atas, bukan berarti penulis mengajak pembaca untuk melihat perkembangan pendidikan  yang dikaitkan dengan perilaku masyarakat yang sangat jauh dari kata memulyakan guru. Esensinya tidak demikian, sesungguhnya penulis ingin memberi gambaran perbedaan tersebut sesuai zamannya. Kalau meninjau teori maslow tentang hirarkis kebutuhan, dimana aktualisasi merupakan hal paling puncak yang dibutuhkan seseorang terbukti berlaku dalam hal ini. Banyak peristiwa membuktikan bahwa pekerjaan sebagai guru saat ini, ketika yang bersangkutan pensiun, atau berhenti dari pekerjaannya otomatis merupakan hal  yang sangat mengkawatirkan. Kita tentu tahu, bagaimana jabatan Profesor dipensiunkan pada umur 70 tahun. Demikian pula dengan guru yang mampu mencapai golongan IV/d akan pensiun pada umur 65 tahun. Hal ini tidak akan mampu dicapai oleh semua guru tentunya. Dosen atau guru yang mampu mencapai ini dapat dikatakan telah menemukan masa yang disebut Maslow dengan “Aktualisasi Diri”. Sementara yang lainnya banyak berpaling dari kegiatan sebagai guru. Mereka telah merencanakan kegiatan apa yang akan dilaksanakan ketika pensiun, misalnya, mengurus cucu, berkebun, beternak, jalan-jalan, dan lain-lain. Selanjutnya capaian Aktualisasi Diri seperti dikatakan oleh Maslow dimanakah? Justru banyak guru-guru ketika pensiun keadaannya semakin memburuk, ketakutan, trauma dan sebagainya. Makanya pemerintah sebelumnya telah memikirkan masa-masa yang disebut MPP (Masa Persiapan Pensiun), yang memberi kesempatan kepada guru untuk menyesuaikan diri ketika menjelang pensiun.

Jika dibandingkan dengan para Brahmana tempo dulu, dimana pensiun belum dikenal, mereka tetap menjalankan pengabdiannya selaku guru. Hebatnya lagi pengikutnya semakin bertambah mengiringi usianya yang semakin uzur. Tahapan ini, “Aktualisasi Diri”  menurut Maslow telah dirasakan oleh para guru zaman itu. Hal ini tentu sangat jauh berbeda dengan guru-guru masa kini yang keberadaan profesinya terikat sepenuhnya dengna tenggang waktu, maka karena tenggang waktu itulah yang justru memangkas potensi kreatifitas guru yang masih beruur 60 tahun untuk mewujudkan tataran atas dari teori kebutuhan Maslow yaitu Aktualisasi Diri.

Mari kita coba ulas tentang spirit dan semangat kerja guru baik zaman dulu maupun kini. Guru kekinian oleh karena pekerjaannya dihargai dengan uang, maka semangatnya untuk mengabdikan diri pada profesi guru sejalan dengan besarnya penghasilan. Bahkan seketika jiwa keguruannya akan berkurang drastis ketika pensiun tiba. Hal ini sangat kontras dengan spirit dan motivasi para guru zaman dulu, yang tetap mampu mengabdikan diri sampai mereka wafat, karena tidak tergantung dengan penghasilan ataupun gaji.

Berikut adalah bagan hubungan guru zaman dulu dan masa kini  seperti gambar di bawah ini

Melihat paparan di atas, kemulyaan guru sesungguhnya terletak pada sisi spirit dan motivasinya. Semakin menyatu jiwa keguruannya dengan peribadi sehingga tercermin dari tingkah lakunya maka gaji dan uang bukan segalanya bagi mereka. Guru kekinian yang selalu mendasarkan diri atas semangat para guru tempo dulu dalam hal pengabdian, dengan tidak memandang besarnya penghasilan akan sejalan dengan upaya menumbuhkan aktualisasi diri. Asumsinya adalah guru yang defisit spirit pengadiannya dalam menjalani profesi keguruan maka tataran Aktualisasi diri seperti dikemukakan Maslow akan semakin jauh dan bahkan tidak pernah dialaminya.

Bersambung….

This entry was posted in Artikel, Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *