Strategi Pelibatan Orang Tua dalam Pendidikan

Pada postingan terdahulu penulis telah jelaskan alasan kenapa melibatkan orang tua dalam proses pendidikan di sekolah itu sangat penting. Hal ini bahkan telah menjadi pemikiran Ki Hajar Dewantara seperti termuat dalam tulisan-tulisannya di era awal-awal kemerdekaan Indonesia. Hal tersebut relevan sekali di zaman itu. Kalau kita lihat kondisi sekarang, walau zaman telah berubah tetapi hal tersebut masih sangat relevan. Mungkin untuk lebih jelasnya pembaca yang budiman dapat kembali menyimak apa yang telah saya paparkan sebelumnya di sini.

Istilah pelibatan orang tua gampang diucapkan tetapi perlu pemikiran dan perencanaan yang matang untuk dilaksanakan. Seperti dikemukakan sebelumnya banyak faktor yang harus dicermati seperti 1. bagaimana karakteristik orang tua; 2. bagaimana kondisi lingkungan sekolah; 3. bagaimana sumberdaya manusia sekolah; 4. bagaimana potensi siswa. Dengan mempertimbangkan hal tersebut maka langkah kita dalam mengambil tindakan pelibatan orang tua akan menjadi lebih bermakna dalam hal efektifitas program dengan sasaran utama program adalah pemberdayaan orang tua untuk sebesar-besarnya bermanfaat bagi peningkatan kompetensi siswa secara utuh dan menyeluruh.

Beberapa hal yang bisa dijadikan pilihan dalam menggali ide program pelaksanaan pelibatan orang tua adalah dapat dipandang dari beberapa sisi yang dapat dianggap sebagai pendekatan yaitu:

1) Pendekatan Administrasi

Ini hanya pandangan penulis, kalau pembaca meragukannya bisa mencari referensi hasil penelitian para ahli terkait hal ini. Administrasi adalah suatu cara pencatatan kejadian atau peristiwa sehingga kita memiliki acuan untuk mengambil tindakan ketika terjadi hal yang sama di kemudian hari. Administrasi dapat disimpan dan biasanya sering ditagih oleh atasan kita untuk pelaporan. Atasan kitapun memperlakukan administrasi sesungguhnya adalah untuk mereview tentang tindakan yang telah kita ambil sehingga dapat menjadi feedback bagi pelaksanaan tindakan lanjutan di kemudian hari. Akan tetapi pelaksanaan pelaporan yang selama ini kita lakukan itu adalah sebagai bentuk kewajiban, yang apakah hal itu ditindak lanjuti untuk direview atau hanya sebagai berkas saja yang  disimpan di rak-rak.

Nah pembicaraan kita kembali ke pendekatan administrasi yang dapat kita gunakan dalam melakukan tindakan pelibatan orang tua. Adminstrasi biasanya diwujudkan dengan berkas dan pelaporan. Kegiatan administrasi biasanya dalam wujud catatan. Strategi pencatatan yang dibuat guru yang bertujuan untuk melibatkan orang tua dalam proses kegiatan. Sehingga, melalui catatan itu akan terdapat rekaman kegiatan anak dan orang tua selama beraktifitas di rumah yang dapat digunakan oleh guru sebagai rujuan refleksi kegiatan si-anak. Tentu kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan pembelajaran di rumahnya. Artinya melalui catatan itu guru maupun sekolah dapat memastikan setiap program pengembangan karakter, gerakan literasi, dan penuntasan program kurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler memang terjadi seperti harapan kita bersama.

Kegiatan riilnya adalah guru dapat memberi tugas kepada siswa untuk mencatat segala aktifitasnya di rumah, dengan pertama-tama meminta kesepakatan dengan orang tua. Mengajak orang tua sepakat dalam hal ini, tidaklah instan, karena ada prosesnya. Pertama kali kita akan dihadapkan dengan berbagai sanggahan dan perbedaan pendapat. Maka kita sebagai guru dapat menjelaskan secara lebih gamblang tentang tujuan kita mengadakan kesepakatan dengan orang tua siswa terkait pembuatan catatan harian siswa. Dengan upaya ini saja kita telah secara tidak sadar telah ikut melibatkan mereka. Bila perlu terkait format isian buku catatan, modelnya dan bagaimana itu diadakan, kita beri kesempatan orang tua untuk memikirkannya. Sekali lagi kita sudah melempar bola panas ini kepada orang tua. Dengan strategi ini mereka akan berpikir, menunjukkan perhatian yang lebih, peduli dan bahkan mampu menyumbangkan saran. Akhirnya orang tua telah sepenuhnya diberdayakan, Pada akhir sesi kegiatan pertemuan kita sebagai guru yang memoderasi pertemuan tersebut, harus legowo untuk menyatakan suatu pernyataan bahwa “kegiatan ini adalah dari orang tua, oleh orang tua dan untuk siswa”.

Mulai dari proses perencanaan kita telah melibatkan mereka, dan mereka akan berkutat dengan emosi dan kemampuan kritisnya untuk menjadikan kegiatan ini menjadi sempurna, karena mereka tahu, hal ini adalah untuk kepentingan anak-anak mereka. Pada akhirnya merekalah yang mempunyai program ini, dan kita sebagai guru tidak usah pelit untuk menyampaikan sanjugan dan pujian atas jerih payah mereka.

Kegiatan selanjutnya adalah proses pengisian jurnal catatan harian siswa di rumahnya. Orang tua yang telah sepakat dengan bentuk format catatan harian siswa atau jurnal harian siswa, akan merasa memiliki dan sudah barang tentu mereka mimiliki motivasi untuk melaksanakan kegiatan ini secara serius, sekali lagi karena hal ini adalah untuk kepentingan anak-anak mereka. Coba kita bandingkan, jika kita sendiri yang membuat format, undang orang tua, atau surati mereka, minta mereka untuk membantu siswa dalam pengisian jurnal, maka jurnal itu hanya sebagai format di atas kertas yang rendah makna.

Penulis dalam hal ini hanya bermaksud untuk merangsang dan menggali ide apa yang relevan dilaksanakan sesuai uraian di atas. Hal ini sudah barang tentu sangat bervariasi untuk setiap sekolah. Karena setiap sekolah memiliki karakteristik berbeda baik dalam hubungannya dengan siswa maupun orang tua. Maka dari itu landasan berpikirnya pun juga berbeda. Masalah yang dihadapi oleh setiap sekolah tergantung situasi sosial lingkungannya, lokasinya, karakteristik siswanya, dan potensi sumberdaya sekolahnya. Walaupun pendekatannya sama yaitu dari sisi adminstratif, tetapi ide dan gagasannya akan berbeda. Terkait dengan hal ini, maka adalah sebuah tantangan bagi pembaca yang kebetulan adalah kepala sekolah dalam rangka menganalisis permasalahan sekolahnya dalam rangka pelibatan orang tua secara lebih kontekstual, sehingga outcome dan outputnya menjadi lebih bermakna baik bagi sekolah maupun siswa.

2) Pendekatan pelibatan psikis dan fisik

Pelibatan paling baik dalam kegiatan pelibatan orang tua adalah secara langsung ke sasaran aspek psikis dan fisik orang tua. Pelibatan fisik dapat dilakukan dengan mengadakan kegiatan langsung dengan orang tua. Selama ini orang tua biasanya sengaja diundang untuk hadir ke sekolah ketika hari kenaikan kelas dan pelulusan siswa. Pada kesempatan lain orang tua juga diundang ketika rapat-rapat pembicaraan mengenai perencanaan penggunaan dana BOS, dan kegiatan lain yang memerlukan keterlibatan orang tua. Fungsi dari pertemuan itu hanya sebatas membicarakan program yang hubungannya dengan kepentingan siswa sangat kecil. Bukan berarti hal tersebut tidak perlu, tetapi makna langsung yang diperoleh dari kegiatan itu sangat kecil. Biasanya hal ini terkait dengan bagaimana kepala sekolah dalam penyeleggaraan anggaran pendidikan dan penyelenggaraan sekolah lainnya, bukan menukik kepada bagaimana menyelenggarakan pembelajaran di sekolah yang manfaatnya langsung kepada siswa.
Kadang-kadang karena kompleksnya tugas kepala sekolah dalam mengelola sekolah, sering kita sendiri terjebak ke dalam kegiatan yang kurang esensial terkait fungsi dan tugas pokok kepala sekolah dalam hal ini sebagai pemimpin pembelajaran. Kita terkadang harus lebih mengerti bagaimana tagihan administrasi itu menjadi hal yang utama, sehingga menyita pekerjaan kita yang pokok. Sesungguhnya seperti penulis telah jelaskan di atas, administrasi hanyalah sebagai wujud tanggung jawab kepala sekolah dalam rangka pencatatan dokumen berikut pengarsipannya dengan tujuan sebagai sarana review dan refleksi bagi kebijakan kepala sekolah di masa yang akan datang. Akan tetapi justru hal itulah yang menjadi seakan-akan tugas pokok kita sebagai kepala sekolah, sehingga melupakan esensi kita sebagai kepala guru atau kepala sekolah, dalam rangka mengkondisikan sekolah menjadi suasana yang baik guna keberlangsungan proses pembelajaran. Maka dari itu perihal pelibatan orang tua ini, sesungguhnya adalah hal yang esensial, tetapi sering kalah oleh kepentingan kita selaku kepala sekolah dalam  hal mengurus administrasi.
Baiklah pembaca yang budiman, kita kembali ke pembicaraan bagaimana untuk menggali pemikiran kita sehingga muncul ide untuk mengupayakan keterlibatanya dalam upaya mendapatkan sebesar-besarnya manfaat bagi siswa secara langsung. Kebanyakan ide muncul dari permasalahan yang tidak dapat di tangani. Pada situasi normal dan situasi kondusif dimana masalah jarang terjadi, maka ide itu susah sekali di gali, hal ini terjadi karena kita tidak biasa menggali permasalahan. Sesungguhnya permasalahan di seputaran dunia pendidikan sangat banyak dan beragam. Untuk mengetahui ada masalah maka kita harus paham dan menyadari bahwa ada kesenjangan. Kesenjangan merupakan suatu keadaan yang berbeda dari apa yang kita harapkan atau seharusnya terjadi dengan apa yang telah terjadi.
Untuk memahami apa yang seharusnya terjadi kita harus kembali membuka catatan, buku, literatur terdahulu, atau bahkan hasil penelitian yang pernah dilakukan. Dalam bidang pendidikan yang semestinya terjadi adalah bagaimana mengupayakan pendidikan merupakan tanggungjawab keluarga, masyarakat dan pemerintah. Sedangkan faktanya keluarga kadang-kadang menyerahkan urusan pendidikan itu sepenuhnya kepada sekolah. Nah inilah yang disebut dengan kesenjangan.
Pemahaman awal tentang hal itu akan membawa imajinasi kita bahwa :”Bagaimana indahnya jika orang tua bekerjasama dengan sekolah dalam upaya memaksimalkan upaya pendidikan terhadap siswa.” Sampai di sana kita sudah mempunyai harapan. Nah sekarang muncul pertanyaan berikutnya. Caranya bagaimana? Sampai di sini, kira kira kita sudah sampai pada tahapan yang sangat penting dari proses mengidentifikasi masalah. Langkah selanjutnya adalah menemukan solusi dari permasalahan tersebut, yaitu bagaimana caranya melibatkan peran orang tua dalam pendidikan terutama dengan pendekatan fisik dan psikis.
Berbekal kemampuan kita memahami permasalahan dan penyebabnya adalah langkah baik untuk kita dapat menemukan solusi bagi pelibatan orang tua dalam pendidikan. Ide atau gagasan untuk memecahkan masalah itulah disebut solusi. Solusi yang bisa ditawarkan dengan pendekatan fisik dan psikis adalah bagaimana menjalin komunikasi dengan orang tua untuk terlibat dalam proses pendidikan secara langsung. Dimana hubungan emosional ketika kegiatan dilangsungkan, akan terjadi. Kepala sekolah, guru, siswa dan orang tua akan sama sama merasakan kegiatan ini adalah sangat penting karena mereka telah sadar dan termotivasi. Kesadaran dan motivasi akan timbul ketika kepala sekolah dan guru dapat mengkomunikasikan landasan berpikir tentang kesenjangan, masalah dan solusi kepada orang tua secara efektif.
Mengundang orang tua untuk membicarakan dan menyepakati kegiatan merupakan langkah paling baik untuk mengkondisikan hal ini. Dalam hal ini kepala sekolah dapat mengambil beberapa strategi hal ini disesuikan dengan kapasitas kepala sekolah itu sendiri terutama dalam hal pengalaman melaksanakan kegiatan sejenis dimasa yang lalu. Kepala sekolah bisa saja membuatkan salah satu contoh program pelibatan orang tua dengan pendekatan fisik dan psikis. Pilihan ke dua adalah membuat pertemuan dan saat itulah dibicarakan format apa kegiatan yang tepat dalam rangka program pelibatan orang tua di sekolah. Kedua pilihan tersebut memiliki konsekwensi yang dapat menguntungkan sekaligus menyulitkan kita. Biasanya pilihan pertama yang kita pilih dengan mempertimbangkan kecepatan proses dan integritas kepala sekolah akan lebih mapan dan dipercaya. Jika kemampuan tersebut tidak ada pada kepala sekolah dan guru dapat di ambil pilihan kedua tetapi terlebih dahulu kepala sekolah dan guru menghubungi pihak yang berkompeten untuk mamandu dan mengarahkan acara rapat, sebagai narasumber, sehingga jika terjadi kebuntuan, karena kepala  sekolah dan guru tidak siap dengan program bisa ditengahi oleh nara sumber, dalam hal ini yang relevan adalah pengawas atau kepala sekolah lain. Kelemahan strategi ini adalah kepala sekolah terkesan tidak siap dan terancamnya pertemuan tanpa menghasilkan keputusan apa-apa. Keunggulannya adalah rasa kepemilikan terhadap program nanti justru semakin besar dan lebih bermakna bagi orang tua. Tantangan kepala sekolah untuk belajar dan menggali sebanyak-banyaknya informasi dan masukan merupakan sisi penting dalam hal ini, dan tetap konsisten dengan semangat awal yaitu pelibatan orang tua adalah sebuah keharusan dalam rangka pembentukan karakter anak.
Program yang lahir baik berdasarkan program yang ditawarkan kepala sekolah atau guru atau program yang kita susun bersama orang tua yang menekankan aspek psikis dan fisik dapat dicontohkan seperti paguyuban orang tua, arisan orang tua, basar orang tua di sekolah, senam AWS bersama orang tua, regular parenting educations (atau pertemuan orang tua secara teratur), kelas parenting (pelibatan alumni), suka duka kelas, pesemetonan panglingsir kelas dan ide-ide lainnya yang secara kreatif teman-teman guru dapat munculkan. Sekali lagi setiap kegiatan yang dilaksanakan tanpa di dasari pemahaman terhadap masalah yang sedang terjadi, atau sekedar nyontek program sekolah lain, belum tentu akan berdampak bagi siswa secara bermakna.
Sekian dulu sedikit paparan dari penulis, penulis dalam hal ini bukan bermaksud menggurui pembaca yang budiman. Sebagian paparan di atas adalah hasil buah pemikiran sekaligus pengalaman penulis sendiri dalam melaksanakan program pelibatan orang tua dalam kerangka pendidikan keluarga. Semoga tulisan yang tidak terstruktur dengan baik ini dapat bermanfaat. Terimakasih

This entry was posted in Artikel, Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *